Anda di halaman 1dari 3

INDONESIA di TENGAH KEKUATAN EKONOMI AMERIKA dan CHINA

Putra Rizki, Yolanda Nia Tri Loreza and Bambang Hermanto

Faculty of Economy, Andalas University


Kampus Limau Manis Padang. 25163 West Sumatra-Indonesia
e-mail: putrarizky9713@gmail.com

ANALISIS DAMPAK PERGEJOLAKAN EKONOMI AMERIKA DAN CHINA


TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA

China merupakan salah satu perekonomian dengan pertumbuhan tercepat di


dunia. Produk domestik bruto (PDB) melebihi 12 triliun dolar per tahun. Lebih dari 2
triliun dolar barang dan jasa buatan China diekspor ke negara-negara lain setiap tahunnya.
Pendapatan ekspor China yang besar membantu ekonomi tumbuh. Di dalam negeri, China
juga memiliki pasar yang sangat besar dengan lebih dari 1,3 miliar konsumen. China
mulai mengubah kebijakan ekonominya pada tahun 1978. Di bawah komunisme, negara
memiliki dan mengendalikan sumber ekonomi China, seperti perusahaan, tanah, dan
sumber daya alam. Mulai tahun 1979, China mengizinkan kepemilikan dan investasi
swasta di beberapa sektor ekonomi. Negara ini juga mulai menggeser ekonominya dari
basis pertanian ke industri. Sejak tahun 1979 perekonomian China telah mengalami
pertumbuhan tahunan rata-rata lebih dari 9,5 persen, pertumbuhan yang sangat tinggi
menurut standar dunia. Rata-rata orang di China sekarang memiliki pendapatan lebih
banyak; dan lebih sedikit orang yang miskin.

Dengan menerapkan sistem ekonomi campuran, ini membuktikan bahwa China


mulai memberikan kebebasan bagi individu bersaing di dalam perekonomian. Meskipun
peran negara masih kuat dalam hal penyempurnaan sistem pokok ekonomi, sebagai
bagian dari paham sosialis yang mereka anut.

Perekonomian China telah mengalami perkembangan pesat seiring dengan


perekonomian yang menjadi lebih terbuka. Berdasarkan data dari Wikipedia, pada tahun
2010 Republik Rakyat China atau RRC telah menjadi negara dengan perekonomian
terbesar kedua di dunia dari segi GDP dan keseimbangan belanja setelah Amerika Serikat.
Dengan demikian China secara perlahan telah menggeser posisi Jerman di peringkat
ketiga dan Jepang di peringkat kedua.
Pesatnya perkembangan ekonomi China ditopang dengan pertumbuhan ekonomi
nya yang merupakan tertinggi di dunia dengan pertumbuhan rata-rata 10% dalam 30
tahun terakhir. Selain itu, China juga merupakan negara kreditur terbesar di dunia dan
memiliki kira-kira 20,8% dari kepemilikan asing obligasi pemerintah Amerika Serikat.
Dan banyak lembaga internasional seperti IMF, World Bank, dan Standard Chartered
Bank yang memprediksi perekonomian China akan menyamai Amerika Serikat pada
tahun 2020.

Pertumbuhan dan pembangunan ekonomi yang pesat, diiringi denga reformasi


politik China yang telah berlansung tiga kali pasca tahun 1978 menjadi sebuah proses
gambaran bagimana China mengalami proses transisi internal yang membawa China
kepada posisi yang semakin kuat dalam sistem dan tatanan internasional, khususnya pada
bidang ekonomi. Namun, hingga pada saat ini, pertumbuhan dan pembangunan China
yang pesat masih terlalu dini untuk diperkirakan dampak akhirnya terhadap kondisi
sistem dan tatanan internasional, serta melihat pada posisi AS sebgai dominan, karena
pertumbuhan China masih terus berjalan. China pada saat ini memiliki kekuatan ekonomi
yang melesat dan menguat dan telah menjadi salah satu kekuatan dunia baru. Hal ini
terlihat dimana pada tahun 2010, china berhasil menyalip jepang sebagai negara kedua
terbesar skala GDP, dan telah menjadi negara perdagangan terbesar di dunia, terlihat dari
nilai total perdagangan yang pada tahun 2012 mencapai 2 triliun US dollar. Hal ini
menjadikan China masuk dalam kategori negara great power, negara yang kuat namun
tidak sekuat negara dominan.

Perkembangan ekonomi yang besar tidak terlepas dari perubahan kebijakan


ekonomi pemerintah China yang secara progresif memberi kekuatan besar kepada
kekuatan pasar. Kekuatan ekonomi besar tersebut tidak hanya menjadi tembok kekuatan
perekonomian China, namun mulai memberikan dampak pengaruhnya kepada
perkembangan perekonomian global. Negara-negara di dunia mulai merasakan dampak
yang besar atas kemajuan yang berhasil dicapai oleh China. Pada pertengahan 1990an,
produk china telah memasuki hampir seluruh pasar didunia. Istilah “made in china” juga
menjadi hal yang tidak dapat disangkal dan milai umum ditemui pada barang impor
diberbagai dunia, serta dikenal sebagai barang “cheap but well made”. Selain itu, negara
negara besar seperti amerika serikar dan negara di eropa telah mengalami kemerosotan
perekonomian akibat krisis yang menimpanya, China bertahan sebagai kekuatan yang
memperlihatkan pembangunan yang stabil, terlihat dari total perdagangan dan GDP yang
terus mengalami peningkatan tiap tahunnya.

Sama halnya dengan Cina, Amerika Serikat tercatat sebagai negara dengan
pendapatan domestik bruto (PDB) tertinggi didunia. Tingkat perekonomian AS memang
tidak perlu diragukan lagi. Negara ini memang sudah menjadi panutan banyak negara dari
segala aspek. Perekonomian US$ 19,42 triliun adalah 25 persen dari produk dunia bruto.
Amerika Serikat adalah negara adidaya ekonomi yang sangat maju dalam hal teknologi
dan infrastruktur dan memiliki sumber daya alam yang melimpah.

Perkembangan politik di asia tenggara dewasa ini telah melahirkan tantangan,


tekanan dan sekaligus peluang-peluang baru bagi China dan Amerika. Dalam perubahan
strategis dan ekonomi di kawasan asia tenggara, China dan Amerika menunjukan sikap
yang fleksibel. Kedua negara menjadi aktif dalam perkembangan reguionalisme ekonomi
dan keamanan. Sikap ini membuat membuat menjadi lebih di terima di kawasan dan
mempunyai posisi lebih kuat dalam persaingannya dengan kekuatan-kekuatan regional
lainnya. Sementara itu, bagi Indonesia yang merupakan salah satu anggota organisasi
regional dari negara-negara asia tenggara (ASEAN) menganggap kebangkitan china tidak
dapat dihindari, hal ini jelas berdampak terhadap perekonomian di Indonesia. Data
menunjukan bahwa 27,87 % pangsa pasar non migas Indonesia dikuasai oleh china dan
31,23 % lainnya dikuasai oleh Amerika Serikat. Tak sedikit para pekerja asing (China)
yang ada di Indonesia, bahkan sebagian besar diantara mereka turut andil dalam
mengendalikan jalannya perekonomian di Indonesia. Dominasi perekonomian Amerika
juga turut andil dalam mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia, contoh
kecilnya saja, kenaikan harga dollar yang semakin tajam, mengindikasikan bahwa utang
luar negeri Indonesia akan semakin bertambah. Maka Jalan terbaik bagi Indonesia adalah
mengembangkan pendekatan-pendekatan bilateral dan multirateral untuk mencegah
dominasi China dan Amerika di kawasan asia tenggara. Berbagi analisa tentang china
sepakat bahwa saat ini china telah menjadi kekuatan dunia dan makin percaya diri dalam
politik luar negerinya untuk mempengaruhi multirateralisme di kawasan asia tenggara
timur, khususnya Indonesia.