Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami
kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri secara
mandiri.
Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk kenyamanan individu,
keamanan, dan kesehatan. Seperti pada orang sehat dapat memenuhi kebutuhan
personal hygienenya sendiri. Cara perawatan diri menjadi rumit dikarenakan kondisi
fisik atau keadaan emosional klien. Selain itu,beragam faktor pribadi dan sosial budaya
mempengaruhi praktik hygiene klien.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan rumusan
masalah sebagai berikut :
1. Apa yang di maksud dari defisit perawatan diri ?
2. Apa saja jenis-jenis dari defisit perawatan diri ?
3. Apa saja etiologi dari defisit perawatan diri ?
4. Apa saja manifestasi kinis dari defisit perawatan diri ?
5. Bagaimana pohon masalah dari defisit perawatan diri ?
6. Bagaimana mekanisme koping dari defisit perawatan diri ?
7. Bagaimana rentang repon kognitif dari defisit perawatan diri ?
8. Bagaimana asuhan keperawatan secara teori dari defisit perawatan diri ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari defisit perawatan diri
2. Untuk mengetahui jenis-jenis dari defisit perawatan diri
3. Untuk mengetahui etiologi dari defisit perawatan diri
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis dari defisit perawatan diri
5. Untuk mengetahui pohon masalah dari defisit perawatan diri
6. Untuk mengetahui mekanisme koping dari defisit perawatan diri
7. Untuk mengetahui rentang repon kognitif dari defisit perawatan diri
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan secara teori dari defisit perawatan diri
1
1.4 Manfaat
Adapun manfaatnya adalah dapat bermanfaat bagi:
1. Mahasiswa: Sebagai tambahan ilmu pengetahuan
2. Perguruan Tinggi (Akademi Keperawatan): Sebagai tambahn literatur
3. Masyarakat: Sebagai tambahan wawasan

2
BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai
dengan kondisi kesehatannya. Klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika
tidak dapat melakukan perawatan diri. (Depkes 2000)
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting). (Nurjannah, 2004)
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk
memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis,
kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan
perawatan diri. Defisit Perawatan Diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang
mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan/melewati aktivitas perawatan diri
secara mandiri.
Defisit perawatan diri adalah suatu keadaan seseorang mengalami kelainan dalam
kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktifitas kehidupan sehari-hari secara
mandiri (Yusuf, DKK, 2015).
2.2 JENIS-JENIS
1. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan aktivitas mandi/kebersihan diri.
2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian / berhias
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan
memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
3. Kurang perawatan diri : Makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk
menunjukkan aktivitas makan.
4. Kurang perawatan diri : Toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk
melakukan atau menyelesaikan aktivitas toileting sendiri (Nurjannah : 2004, 79)

3
2.3 ETIOLOGI
1. Menurut Tarwoto dan Wartonah (2000) penyebab kurang perawatan diri adalah
sebagai berikut :
a. Kelelahan fisik
b. Penurunan kesadaran.
2. Menurut Depkes (2002:20), penyebab kurang perawatan diri adalah :
a. Faktor predisposisi:
 Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga
perkembangan inisiatif terganggu.
 Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan
perawatan diri.
 Kemampuan realistis turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang
menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan
diri.
 Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri
lingkungannya situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan
dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presipitasi deficit perawatan diri adalah kurang
penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah / lemah
yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu
melakukan perawatan diri.
3. Menurut Depkes (2000 : 59) faktor – faktor yang mempengaruhi personal hygiene
adalah :
a. Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri,
misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan
kebersihan dirinya.

4
b. Praktik sosial
Pada anak – anak selalu dimanja dalam kebersihan diri maka kemungkinan
akan terjadi perubahan pada personal hygiene.
c. Status sosial ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, shampoo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya.
d. Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang
baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien diabetes mellitus ia
harus menjaga kebersihan kakinya.
e. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
f. Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan
diri seperti penggunaan sabun, shampoo dan lain – lain.
g. Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang
dan perlu bantuan untuk melakukannya.
4. Dampak yang sering timbul pada masalah Personal Hygiene :
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak
terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering
terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membrane mukosa mulut,
infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah
kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri,
aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.
2.4 MANIFESTASI KLINIS
Menurut Depkes (2000: 20). Tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri
adalah :

5
1. Fisik
a. Badan bau, pakaian kotor.
b. Rambut dan kulit kotor.
c. Kuku panjang dan kotor.
d. Gigi kotor disertai mulut bau.
e. Penampilan tidak rapi.
2. Psikologis
a. Malas, tidak ada inisiatif.
b. Menarik diri, isolasi diri.
c. Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina.
3. Sosial
a. Interaksi kurang.
b. Kegiatan kurang
c. Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
d. Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan
mandi tidak mampu mandiri.
Menurut Budi Ana Keliat dalam buku manajemen keperawatan psikososial dan
kader kesehatan jiwa 2011. Tanda dan gejala defisit perawatan diri yaitu :
1. Kurang merawat kebersihan diri :
Rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki, bau, kuku panjang/ kotor.
2. Tidak mampu berhias :
Rambut acak-acakan, pakaian kotor, tidak rapih, tidak sesuai, pria tidak bercukur,
wanita tidak berdandan.
3. Tidak mampu makan sendiri :
Tidak mampu mengambi makan sendiri, makan berceceran, makan tidak pada
tempatnya.
4. Tidak mampu BAB dan BAK :
BAB/BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihan diri setelah BAB/BAK.

6
2.5 POHON MASALAH

Kurangnya dukungan dari Tidak mampu merawat diri


lingkungan sekitar

Mekanisme koping tidak


efektif

Gangguan jiwa

Realistis menurun

Tidak ada kemauan


merawat diri

Badan bau Rambut, kulit, Cara makan BAB/BAK


pakaian kotor tidak teratur sembarangan

Defisit perawatan diri

7
2.6 MEKANISME KOPING
1. Regresi
2. Penyangkalan
3. Isolasi diri, menarik diri
4. Intelektualisasi
2.7 RENTANG RESPON KOGNITIF
Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat merawat diri
sendiri adalah :
1. Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri
a. Bina hubungan saling percaya.
b. Bicarakan tentang pentingnya kebersihan.
c. Kuatkan kemampuan klien merawat diri.
2. Membimbing dan menolong klien merawat diri.
a. Bantu klien merawat diri
b. Ajarkan ketrampilan secara bertahap
c. Buatkan jadwal kegiatan setiap hari
3. Ciptakan lingkungan yang mendukung
a. Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi.
b. Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien.
c. Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien misalnya, kamar mandi
yang dekat dan tertutup.

8
BAB 3
ASKEP SECARA TEORI

3.1 PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan pada saat datang ke RS pasien mengeluuh sulit merawat
dirinya, sulit berpakaian, dan merasa depresi. pasien mengatakan sulit untuk berfikir
dan bertingkah seperti orang yang depresi. tidak mau mandi selama 3 hari, badan bau
dan tampak kotor, tidak sikatt gigi, rambut acak-acakan
1. PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Klien
Nama klien, Umur, Jenis kelamin, Agama, Alamat
b. Penanggung jawab
Nama klien, Umur, Jenis kelamin, Agam, Alamat, Hubungan dengan
klien
c. Identitas rumah sakit
Tanggal masuk, Ruang, DX. Medis, No. RM
2. Alasan masuk
Keluarga klien mengatakan pasien pendiam, terlihat depresi, sulit
berpakaian, tidak mau mandi selama 3 hari, badan bau.
3. Faktor predisposisi
a. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengeluuh sulit merawat dirinya, sulit berpakaian, dan merasa
depresi. pasien mengatakan sulit untuk berfikir dan bertingkah seperti orang
yang depresi. tidak mau mandi selama 3 hari, badan bau dan tampak kotor.
b. Riwayat penyakit dahulu
Keluarga klien mengatakan klien pernah mengalami gangguan jiwa saat
klien kelas 3 SMA
c. Riwayat penyakit keluarga
Keluarga klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang mengalami
gangguan jiwa.

9
3.2 PEMERIKSAAN FISIK
1. Survei umum
a. Tanda - tanda vital :
b. Berat badan, tinggi badan
2. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala, leher
Kepala : Bagaimana keadaan rambutnya, apakah ada benjolan dan luka.
Leher : Apakah terdapat pembesaran vena jugularis, dan nyeri tekan.
b. Mata
Apakah bentuk mata simetris, penglihatan baik, memakai alat bantu penglihatan.
c. Telinga
Apakah bentuk simetris, bagaimana keadaan dan kondisi telinganya.
d. Hidung
Apakah simetris, ada luka dan ada polip
e. Mulut
Bagaimana keadaan gigi, lidah dan mulut bagian dalam, apakah bau mulut dan
ada kelainan.
f. Integumen
Bagaimana warna kulit, apakah bersih atau tidak, apakah ada luka atau benjolan
g. Dada
Simetris, tidak ada kelainan bentuk, tidak ada sesak nafas
h. Abdomen
Apakah ada nyeri tekan, asietas, benjolan, luka
i. Ekstremitas:
Apakah ada nyeri saat di gerakkan. Apakah berfungsi dengan baik
j. Genetalia
Bersih tidak ada kelainan dibuktikan tidak terpasang kateter.
3. Psikososial
a. Genogram
b. Pola istirahat dan tidur
Apakah pasien mengalami gangguan kualitas dalam tidurnya. Berapa jam dalam
sehari pasien tidur

10
c. Pola Persepsi dan Kognitif
Apakah pendengaran dan pengelihatan pasien mengalami gangguan, apakah
pasien mampu berkomunikasi dengan lancar.
d. Pola persepsi dan konsep diri
Apakah pasien mengalami gangguan persepsi sensori ilusi dan halusinasi, baik
itu halusinasi pendengaran, penglihatan, perabaan, pengecapan, dan
pengendusan.
e. Pola Peran dan Hubungan
Apa peran pasien dalam keluarganya
f. Pola reproduksi dan seksual
Pernikahan dan apakah ada gangguan dalam hubungan seksualitas
g. Pola Kooping Terhadap Strees
Bagaimana sikap pasien dalam menghadapi masalah
h. Pola Tata Nilai dan Kepercayaan
Apakah agama pasien. Dan bagaimana pasien memenuhi kebutuhan
spiritualnya.
4. Status Mental
a. Penampilan
Bagaimana enampilan klien
b. Pembicaraan
Apakah omongan klien dapat di mengerti, terputu-putus
c. Aktivitas motorik
Apakah klien tampak lemas, lesu, sering tidur, menyendiri
d. Afek dan Emosi
Apakah klien memiliki emosi yang meledak-ledak
e. Interaksi selama wawancara
Bagaimana respon klien saat di ajak berkomunikasi, bagaimana tingkat
kosentrasi klien
f. Alam perasaan
Apa yang tengak klien rasakan.
g. Tingkat kesadaran
Bagaimana tingkat kesadaran klien

11
h. Memori
Apakah klien mengalami gangguan pada ingatannya (jangka pendek ataupun
jangka panjang)
i. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Apakah klien mampu untuk berkonsentrasi penuh, dan apakah klien mampu
berhitung sederhana dengan menyebutkan perhitungan dari 1-10 dan sebaliknya
dari 10-1.
j. Kemampuan penilaian
Klien tidak ada masalah pada kemampuan penilaian, terbukti dengan pada saat
diberi pilihan mau makan setelah mandi atau mandi setelah makan, klien
memilih makan setelah mandi.
k. Daya tilik diri
Klien mengatakan ia tidak tahu sedang sakit apa, ia bertanya-tanya mengapa
saya diberi obat yang efek sampingnya membuat saya mengantuk dan lemah.
3.3 DIAGNOSA KPERAWATAN
Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri, berdandan, makan, BAB/BAK.
3.4 RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan :
Defisit Perawatan Diri : kebersihan diri, berdandan, makan, BAB/BAK
A. Tindakan keperawatan pada pasien :
Tujuan :
1. Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri
2. Pasien mampu melakukan berhias secara baik
3. Pasien mampu melakukan makan dengan baik
4. Pasien mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri
Tindakan Keperawatan :
a. Melatih pasien cara perawatan kebersihan diri
Untuk melatih pasien dalam menjaga kebersihan diri, anda dapat
melakukan tahapan tindakan berikut :
1. Menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan diri
2. Menjelaskan alat untuk menjaga kebersihan diri
3. Menjelaskan cara melakukan kebersihan diri
4. Melatih pasien mempraktikan cara menjaga kebersihan diri

12
b. Melatih pasien berdandan
Anda sebagai perawat dapat melatih pasien berdandan, untuk pasien laki-
laki tentu harus dibedakan dengan wanita
1. Untuk pasien laki-laki, latihan meliputi :
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Bercukur.
2. Untuk pasien wanita, latihan meliputi :
a) Berpakaian
b) Menyisir rambut
c) Berhias.
c. Melatih pasien makan secara mandiri
Untuk melatih makan pasien, anda dapat melakukan tahapan sebagai berikut :
1. Menjelaskan cara mempersiapkan makan
2. Menjelaskan cara makan yang tertib
3. Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan
4. Praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik
d. Pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
Anda dapat melatih pasien untuk BAB/BAK mandiri sesuai tahapan berikut :
1. Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
2. Menjelaskan cara membersikan diri setelah BAB/BAK
3. Menjelaskan cara membersikan tempat setelah BAB/BAK
(Yusuf, DKK 2015).
SP 1 pasien :
Mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara-cara merawat diri dan melatih
pasien tentang cara perawatan kebersihan diri.
Contoh komunikasi :
1. ORIENTASI
“Selamat pagi, kenalkan saya suster R”
”Namanya siapa, senang dipanggil siapa?”
”Saya dinas pagi di ruangan ini pk. 07.00-14.00. Selama di rumah sakit ini saya
yang akan merawat T?”
“Dari tadi suster lihat T menggaruk-garuk badannya, gatal ya?”
” Bagaimana kalau kita bicara tentang kebersihan diri ? ”
13
” Berapa lama kita berbicara ?. 20 menit ya...?. Mau dimana...?. disini aja ya. ”
2. KERJA
“Berapa kali T mandi dalam sehari? Apakah T sudah mandi hari ini? Menurut T apa
kegunaannya mandi ?Apa alasan T sehingga tidak bisa merawat diri? Menurut T
apa manfaatnya kalau kita menjaga kebersihan diri? Kira-kira tanda-tanda orang
yang tidak merawat diri dengan baik seperti apa ya...?, badan gatal, mulut bau, apa
lagi...? Kalau kita tidak teratur menjaga kebersihan diri masalah apa menurut T
yang bisa muncul ?” Betul ada kudis, kutu...dsb.
“Apa yang T lakukan untuk merawat rambut dan muka? Kapan saja T menyisir
rambut? Bagaimana dengan bedakan? Apa maksud atau tujuan sisiran dan
berdandan?”
(Contoh untuk pasien laki-laki)
“Berapa kali T cukuran dalam seminggu? Kapan T cukuran terakhir? Apa gunanya
cukuran? Apa alat-alat yang diperlukan?”. Iya... sebaiknya cukuran 2x perminggu,
dan ada alat cukurnya?”. Nanti bisa minta ke perawat ya.
“Berapa kali T makan sehari?
”Apa pula yang dilakukan setelah makan?” Betul, kita harus sikat gigi setelah
makan.”
“Di mana biasanya T berak/kencing? Bagaimana membersihkannya?”. Iya... kita
kencing dan berak harus di WC, Nach... itu WC di ruangan ini, lalu jangan lupa
membersihkan pakai air dan sabun”.
“Menurut T kalau mandi itu kita harus bagaimana ? Sebelum mandi apa yang perlu
kita persiapkan? Benar sekali..T perlu menyiapkan pakaian ganti, handuk, sikat gigi,
shampo dan sabun serta sisir”.
”Bagaimana kalau sekarang kita ke kamar mandi, suster akan membimbing T
melakukannya. Sekarang T siram seluruh tubuh T termasuk rambut lalu ambil
shampoo gosokkan pada kepala T sampai berbusa lalu bilas sampai bersih.. bagus
sekali.. Selanjutnya ambil sabun, gosokkan di seluruh tubuh secara merata lalu
siram dengan air sampai bersih, jangan lupa sikat gigi pakai odol.. giginya disikat
mulai dari arah atas ke bawah. Gosok seluruh gigi T mulai dari depan sampai
belakang. Bagus, lalu kumur-kumur sampai bersih. Terakhir siram lagi seluruh
tubuh T sampai bersih lalu keringkan dengan handuk. T bagus sekali melakukannya.
Selanjutnya T pakai baju dan sisir rambutnya dengan baik.”

14
3. TERMINASI
“Bagaimana perasaan T setelah mandi dan mengganti pakaian ? Coba T
sebutkan lagi apa saja cara-cara mandi yang baik yang sudah T lakukan tadi ?”.
”Bagaimana perasaan Tina setelah kita mendiskusikan tentang pentingnya
kebersihan diri tadi ? Sekarang coba Tina ulangi lagi tanda-tanda bersih dan rapi”
”Bagus sekali mau berapa kali T mandi dan sikat gigi...?dua kali pagi dan sore,
Mari...kita masukkan dalam jadual aktivitas harian. Nach... lakukan ya T..., dan beri
tanda kalau sudah dilakukan Spt M ( mandiri ) kalau dilakukan tanpa disuruh, B (
bantuan ) kalau diingatkan baru dilakukan dan T ( tidak ) tidak melakukani? Baik
besok lagi kita latihan berdandan. Oke?” Pagi-pagi sehabis makan.
SP 2 pasien :
Melatih pasien laki-laki dalam berpakaian, menyisir rambut dan bercukur.
SP 3 pasien :
Melatih pasien perempuan dalam berpakaian, menyisir rambut dan berhias.
Contoh Percakapan untuk SP 2 dan 3 :
1. ORIENTASI
“Selamat pagi Pak Tono?
“Bagaimana perasaan bpk hari ini? Bagaimana mandinya?”sudah dilakukan? Sudah
ditandai di jadual hariannya?
“Hari ini kita akan latihan berdandan, mau dimana latihannya. Bagaimana kalau di
ruang tamu ? lebih kurang setengah jam”.
2. KERJA
“Apa yang T lakukan setelah selesai mandi ?”apa T sudah ganti baju?
“Untuk berpakaian, pilihlah pakaian yang bersih dan kering. Berganti pakaian yang
bersih 2x/hari. Sekarang coba bapak ganti baju.. Ya, bagus seperti itu”.
“Apakah T menyisir rambut ? Bagaimana cara bersisir ?”Coba kita praktekkan, lihat
ke cermin, bagus…sekali!
“Apakah T suka bercukur ?Berapa hari sekali bercukur ?” betul 2 kali perminggu
“Tampaknya kumis dan janggut bapak sudah panjang. Mari Pak dirapikan ! Ya,
Bagus !” (catatan: janggut dirapihkan bila pasien tidak memelihara janggut)
3. TERMINASI
“Bagaimana perasaan bapak setelah berdandan”.
“Coba pak, sebutkan cara berdandan yang baik sekali lagi”..

15
“Selanjutnya bapak setiap hari setelah mandi berdandan dan pakai baju seperti tadi
ya! Mari kita masukan pada jadual kegiatan harian, pagi jam berapa, lalu sore jam
berap ?
“Nanti siang kita latihan makan yang baik. Diruang makan bersama dengan pasien
yang lain.
SP 4 pasien :
Melatih pasien makan secara mandiri (menjelaskan cara mempersiapkan makan,
menjelaskan cara makan yang tertib, menjelaskan cara merapihkan peralatan makan
setelah makan, praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik).
Contoh Percakapan :
1. ORIENTASI
“Selamat siang T,”
” Wow...masih rapi dech T”.
“Siang ini kita akan latihan bagaimana cara makan yang baik. Kita latihan langsung
di ruang makan ya..!” Mari...itu sudah datang makanan.“
2. KERJA
“Bagaimana kebiasaan sebelum, saat, maupun setelah makan? Dimana T makan?”
“Sebelum makan kita harus cuci tangan memakai sabun. Ya, mari kita praktekkan!
“Bagus! Setelah itu kita duduk dan ambil makanan. Sebelum disantap kita berdoa
dulu. Silakan T yang pimpin!. Bagus..
“Mari kita makan.. saat makan kita harus menyuap makanan satu-satu dengan
pelan-pelan. Ya, Ayo...sayurnya dimakanya.”“Setelah makan kita bereskan
piring,dan gelas yang kotor. Ya betul.. dan kita akhiri dengan cuci tangan. Ya
bagus!” Itu Suster Ani sedang bagi obat, coba...T minta sendiri obatnya.”
3. TERMINASI
“Bagaimana perasaan T setelah kita makan bersama-sama”.
”Apa saja yang harus kita lakukan pada saat makan, ( cuci tangan, duduk yang baik,
ambil makanan, berdoa, makan yang baik, cuci piring dan gelas, lalu cuci tangan.)”
” Nach... coba T lakukan seperti tadi setiap makan, mau kita masukkan dalam
jadual?.Besok kita ketemu lagi untuk latihan BAB / BAK yang baik, bagaiman
kalau jam 10.00 disini saja ya...!”

16
SP 5 pasien :
Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri (menjelaskan tempat
BAB/BAK yang sesuai, menjelaskan cara membersihan diri setelah BAB/BAK,
menjelaskan cara membersihkan tempat setelah BAB/BAK).
Contoh Percakapan :
1. Orientasi
“Selamat pagi T ? Bagaimana perasaan T hari ini ?” Baik..! sudah dijalankan jadual
kegiatannya..?”
“Kita akan membicarakan tentang cara berak dan kencing yang baik?
“ Kira-kira 20 menit ya...T. dan dimana kita duduk? Baik disana dech...!
2. Kerja
Untuk pasien pria:
“Dimana biasanya Tono berak dan kencing?” “Benar Tono, berak atau kencing
yang baik itu di WC/kakus, kamar mandi atau tempat lain yang tertutup dan ada
saluran pembuangan kotorannya. Jadi kita tidak berak/kencing di sembarang tempat
ya.....”
“Sekarang, coba Tono jelaskan kepada saya bagaimana cara Tono cebok?”
“Sudah bagus ya Tono, yang perlu diingat saat Tono cebok adalah Tono
membersihkan anus atau kemaluan dengan air yang bersih dan pastikan tidak ada
tinja/air kencing yang masih tersisa di tubuh Tono”. “Setelah Tono selesai cebok,
jangan lupa tinja/air kencing yang ada di kakus/WC dibersihkan. Caranya siram
tinja/air kencing tersebut dengan air secukupnya sampai tinja/air kencing itu tidak
tersisa di kakus/ WC. Jika Tono membersihkan tinja/air kencing seperti ini, berarti
Tono ikut mencegah menyebarnya kuman yang berbahaya yang ada pada kotoran/
air kencing”
“Setelah selesai membersihan tinja/air kencing, Tono perlu merapihkan kembali
pakaian sebelum keluar dari WC/kakus/kamar mandi. Pastikan resleting celana telah
tertutup rapi , lalu cuci tangan dengan menggunakan sabun.”

Untuk pasien wanita:


“Cara cebok yang bersih setelah T berak yaitu dengan menyiramkan air dari arah
depan ke belakang. Jangan terbalik ya, …… Cara seperti ini berguna untuk
mencegah masuknya kotoran/tinja yang ada di anus ke bagian kemaluan kita”

17
“Setelah Tono selesai cebok, jangan lupa tinja/air kencing yang ada di kakus/WC
dibersihkan. Caranya siram tinja/air kencing tersebut dengan air secukupnya sampai
tinja/air kencing itu tidak tersisa di kakus/ WC. Jika Tono membersihkan tinja/air
kencing seperti ini, berarti Tono ikut mencegah menyebarnya kuman yang
berbahaya yang ada pada kotoran/ air kencing”
“Jangan lupa merapikan kembali pakaian sebelum keluar dari WC/kakus, lalu cuci
tangan dengan menggunakan sabun.”
3. Terminasi
“Bagaimana perasaan T setelah kita membicarakan tentang cara berak/kencing yang
baik?”
“Coba T jelaskan ulang tentang cara BAB?BAK yang baik.” Bagus...!
“Untuk selanjutnya T bisa melakukan cara-cara yang telah dijelaskan tadi ”.
“ Nach...besok kita ketemu lagi, untuk melihat sudah sejauhmana T bisa melakukan
jadual kegiatannya.”
B. Tindakan Keperawatan Pada Keluarga :
Tujuan :
Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah defisit
perawatan diri.
Tindakan Keperawatan :
Untuk memantau kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan diri
yang baik, perawat harus melakukan tindakan agar keluarga dapat meneruskan
melatih dan mendukung pasien sehingga kemampuan pasien dalam perawatan diri
meningkat. Tindakan yang dapat perawat lakukan adalah sebagai berikut :
4. Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga dalam
merawat pasien
5. Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma
6. Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan
oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien
7. Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan membantu
mengingatkan pasien dalam merawat diri
8. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasien dalam
merawat diri
9. Bantu keluarga melatih cara merawat pasien defisit perawatan diri.
SP 1 keluarga :

18
Memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang masalah perawatan
diri dan cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalah defisit perawatan
diri.
SP 2 keluarga :
Melatih keluarga cara merawat pasien.
SP 3 keluarga :
Membuat perencanaan pulang bersama keluarga.
3.5 Evaluasi
1. Pasien dapat menyebutkan hal berikut :
a. Penyebab tidak merawat diri
b. Manfaat menjaga perawatan diri
c. Tanda-tanda bersih dan rapih
d. Gangguan yang dialami jika perawatan diri tidak diperhatikn
2. Pasien dapat melaksanakan perawatan diri secara mandiri dalam hal berikut :
a. Kebersihan diri
b. Berdandan
c. Makan
d. BAB/BAK
3. Keluarga memberikan dukungan dalam melakukan perawatan diri
a. Keluarga menyediakan alat-alat untuk perawatan diri
b. Keluarga ikut serta mendampingi pasien dalam perawatan diri

19
BAB 4
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan, dan kesejahteraan sesuai
dengan kondisi kesehatannya. Pemeliharaan hygiene perorangan diperlukan untuk
kenyamanan individu, keamanan, dan kesehatan. Seperti pada orang sehat dapat
memenuhi kebutuhan personal hygienenya sendiri. Cara perawatan diri menjadi rumit
dikarenakan kondisi fisik atau keadaan emosional klien.
4.2 Saran
Semoga makalah ini dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran
sangat diharapkan untuk pekerjaan berikutnya yang lebih baik.

20