Anda di halaman 1dari 5
PAROTITIS SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman : PUSKESMAS I SUMPIUH

PAROTITIS

SOP

No. Dokumen :

No. Revisi

:

Tanggal Terbit:

Halaman

:

SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman : PUSKESMAS I SUMPIUH   DR.

PUSKESMAS I SUMPIUH

 

DR. DRI KUSRINI

NIP 19720112 200212 2 004

1. Pengertian

No. ICPC-2 : D71. Mumps / D99. Disease digestive system, other No. ICD-10 : B26. Mumps Tingkat Kemampuan 4A

Parotitis adalah peradangan pada kelenjar parotis. Parotitis dapat disebabkan oleh infeksi virus, infeksi bakteri, atau kelainan autoimun, dengan derajat kelainan yang bervariasi dari ringan hingga berat. Salah satu infeksi virus pada kelenjar parotis, yaitu parotitis mumps (gondongan) sering ditemui pada layanan tingkat pertama dan berpotensi menimbulkan epidemi di komunitas.

Dokter di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama dapat berperan menanggulangi parotitis mumps dengan melakukan diagnosis dan tatalaksana yang adekuat serta meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap imunisasi, khususnya MMR.

2. Tujuan

Sebagai

acuan

penerapan

langkah-langkah

untuk

penatalaksanaan Parotitis

 

3. Kebijakan

SK Nomor : ……………. Tentang

 

4. Referensi

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/514/2015 TENTANG PANDUAN PRAKTIK KLINIS BAGI DOKTER DI FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN TINGKAT PERTAMA

5. Prosedur

Hasil Anamnesis (Subjective)

 

Keluhan 1. Parotitis mumps

 

a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

b. Bengkak berlangsung tiba-tiba

 

c. Rasa nyeri pada area yang bengkak

d. Onset akut, biasanya < 7 hari

e. Gejala konstitusional: malaise, anoreksia, demam

f. Biasanya bilateral, namun dapat pula unilateral

PAROTITIS SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman :   2. Parotitis

PAROTITIS

SOP

No. Dokumen :

No. Revisi

:

Tanggal Terbit:

Halaman

:

SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman :   2. Parotitis bakterial akut
 

2.

Parotitis bakterial akut

 

a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

b. Bengkak berlangsung progresif

c. Onset akut, biasanya < 7 hari

d. Demam

e. Rasa nyeri saat mengunyah

 

3. Parotitis HIV

 

a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

b. Tidak disertai rasa nyeri

c. Dapat pula bersifat asimtomatik

 

4. Parotitis tuberkulosis

 

a. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

b. Onset kronik

c. Tidak disertai rasa nyeri

d. Disertai gejala-gejala tuberkulosis lainnya

e. Parotitis autoimun (Sjogren syndrome)

f. Pembengkakan pada area di depan telinga hingga rahang bawah

g. Onset kronik atau rekurens

h. Tidak disertai rasa nyeri

i. Dapat unilateral atau bilateral

j. Gejala-gejala Sjogren syndrome, misalnya mulut

kering, mata kering

k. Penyebab parotitis lain telah disingkirkan

Faktor Risiko

1. Anak berusia 212 tahun merupakan kelompok tersering menderita parotitis mumps

2. Belum diimunisasi MMR

3. Pada kasus parotitis mumps, terdapat riwayat adanya

 

penderita yang sama sebelumnya di sekitar pasien

   

PAROTITIS

 
    PAROTITIS  
  No. Dokumen :  
 

No. Dokumen :

 

SOP

No. Revisi

:

Tanggal Terbit:

 
 

Halaman

:

   

4.

Kondisi imunodefisiensi

 

Hasil

Pemeriksaan

Fisik

dan

Penunjang

Sederhana

(Objective)

 

Pemeriksaan Fisik

 
 

1.

Keadaan umum dapat bervariasi dari tampak sakit ringan hingga berat

2.

Suhu meningkat pada kasus parotitis infeksi

 

3.

Pada area preaurikuler (lokasi kelenjar parotis), terdapat:

 

a. Edema

b. Eritema

c. Nyeri tekan (tidak ada pada kasus parotitis HIV, tuberkulosis, dan autoimun)

 

4.

Pada

kasus parotitis bakterial akut, bila dilakukan

 

masase kelanjar parotis dari arah posterior ke anterior, nampak saliva purulen keluar dari duktur parotis.

Pemeriksaan Penunjang Pada kebanyakan kasus parotitis, pemeriksaan penunjang biasanya tidak diperlukan. Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan untuk menentukan etiologi pada kasus parotitis bakterial atau parotitis akibat penyakit sistemik tertentu, misalnya HIV, Sjogren syndrome, tuberculosis

Penegakan Diagnostik (Assessment)

 

Diagnosis Klinis Diagnosis parotitis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.

Komplikasi

 
 

1.

Parotitis mumps dapat menimbulkan komplikasi berupa:

Epididimitis, Orkitis, atau atrofi testis (pada laki-laki), Oovaritis (pada perempuan), ketulian, Miokarditis, Tiroiditis, Pankreatitis, Ensefalitis, Neuritis 2. Kerusakan permanen kelenjar parotis yang menyebabkan gangguan fungsi sekresi saliva dan

PAROTITIS SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman :   selanjutnya meningkatkan

PAROTITIS

SOP

No. Dokumen :

No. Revisi

:

Tanggal Terbit:

Halaman

:

SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman :   selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya
 

selanjutnya meningkatkan risiko terjadinya infeksi dan karies gigi.

3.

Parotitis autoimun berhubungan dengan peningkatan insiden limfoma.

Penatalaksanaan Komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

1. Parotitis mumps

 

a. Nonmedikamentosa

• Pasien perlu cukup beristirahat

• Hidrasi yang cukup

• Asupan nutrisi yang bergizi

b. Medikamentosa Pengobatan bersifat simtomatik (antipiretik, analgetik)

2. Parotitis bakterial akut

 

a. Nonmedikamentosa

• Pasien perlu cukup beristirahat

• Hidrasi yang cukup

• Asupan nutrisi yang bergizi

b. Medikamentosa

• Antibiotik

• Simtomatik (antipiretik, analgetik)

3. Parotitis akibat penyakit sistemik (HIV, tuberkulosis, Sjogren syndrome)

 

Tidak dijelaskan dalam bagian ini.

Konseling dan Edukasi

1. Penjelasan mengenai diagnosis, penyebab, dan rencana

 

tatalaksana.

2. Penjelasan mengenai pentingnya menjaga kecukupan hidrasi dan higiene oral.

3. Masyarakat perlu mendapatkan informasi yang adekuat mengenai pentingnya imunisasi MMR untuk mencegah

 

epidemi parotitis mumps.

Kriteria Rujukan

PAROTITIS SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman : 6. Diagram Alur

PAROTITIS

SOP

No. Dokumen :

No. Revisi

:

Tanggal Terbit:

Halaman

:

SOP No. Dokumen : No. Revisi : Tanggal Terbit: Halaman : 6. Diagram Alur 7. Unit
6. Diagram Alur 7. Unit terkait 8.Rekaman Historis Perubahan 1. Parotitis dengan komplikasi 2. Parotitis

6. Diagram Alur

7. Unit terkait

8.Rekaman

Historis

Perubahan

1. Parotitis dengan komplikasi 2. Parotitis akibat kelainan sistemik, seperti HIV, tuberkulosis, dan Sjogren syndrome.

Prognosis

1. Ad vitam : Bonam

2. Ad functionam : Bonam

3. Ad sanationam : Bonam

Peralatan

1. Termometer

2. Kaca mulut

-

Balai Pengobatan

No

Yang diubah

Isi Perubahan

Tanggal mulai

diberlakukan