Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pembangunan dan Persebaran Industri di Indonesia


Pembangunan industri merupakan bagian dari pelaksanaan Garis-garis
Besar Haluan Negara (GBHN) dalam mencapai sasaran Pembangunan Jangka
Panjang yang bertujuan membangun industri, sehingga bangsa Indonesia mampu
tumbuh dan berkembang atas kekuatan sendiri berdasarkan Pancasila dan UUD
1945.
Menurut departemen perindustrian, industri nasional Indonesia
dikelompokkan
menjadi 3 kelompok besar, yaitu:
1. Industri Dasar yang meliputi kelompok industri mesin dan logam dasar
(IMLD) dan kelompok kimia dasar (IKD). Yang termasuk dalam IMLD
antara lain: industri mesin pertanian, elektronika kereta api, pesawat
terbang, kendaraan bermotor, besi baja, aluminium, tembaga dan
sebagainya. Sedangkan yang termasuk dalam IKD antara lain: industri
pengolahan kayu dan karet alam, industri pestisida, industri pupuk, industri
semen, industri batubara dan sebagainya. Industri dasar mempunyai misi
untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, membantu penjualan struktur
industri dan bersifat padat modal. Teknologi tepat guna yang digunakan
adalah teknologi maju, teruji dan tidak padat karya, namun dapat
mendorong terciptanya lapangan kerja baru secara besar sejajar dengan
tumbuhnya industri hilir dan kegiatan ekonomi lainnya.
2. Industri Kecil yang meliputi antara lain industri pangan, industri sandang
dan kulit, industri kimia dan bahan bangunan, industri galian bukan logam
dan industri logam. Kelompok industri kecil ini mempunyai misi
melaksanrakan pemerataan. Teknologi yang digunakan teknologi
menengah atau sederhana dan padat karya. Pengembangan industri kecil ini
diharapkan dapat menambah kesempatan kerja dan meningkatkan nilai

1
tambah dengan memanfaatkan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri
(ekspor).
3. Industri Hilir yaitu kelompok Aneka Industri (AI) yang meliputi antara lain:
industri yang mengolah sumberdaya hutan, industri yang mengolah hasil
pertambangan, industri yang mengolah sumberdaya pertanian secara luas
dan lain-lain. Kelompok AI ini mempunyai misi meningkatkan
pertumbuhan ekonomi dan atau pemerataan, memperluas kesempatan kerja,
tidak padat modal dan teknologi yang digunakan adalah teknologi
menengah dan atau teknologi maju.
Sedangkan menurut Biro Pusat Statistik (BPS), berdasarkan jumlah tenaga kerja
yang dipekerjakan, industri dibedakan menjadi 4 yaitu:
1. Perusahaan/industri besar jika mempekerjakan 100 orang atau lebih;
2. Perusahaan/industri sedang jika mempekerjakan 20-99 orang;
3. Perusahaan/industri kecil jika mempekerjakan 5-19 orang;
4. Industri kerajinan rumah tangga jika mempekerjakan kurang dari 3 orang
(termasuk tenaga kerja yang tidak dibayar).
Dari segi kesempatan kerja yang diciptakan, maka industri kerajinan rumah
tangga adalah yang paling penting. Sedangkan dari segi nilai tambah yang
dihasilkan maka perusahaan-perusahaan industri besar atau sedang yang paling
menonjol. Keragaman sektor industri di Indonesia telah menghadapkan para
perencana ekonomi Indonesia pada suatu dilema. Bila tujuan yang diutamakan
adalah penciptaan lapangan kerja dan penghapusan kemiskinan, maka sumber-
sumber ekonomi yang tersedia harus disalurkan pada usaha-usaha yang membantu
sektor kerajinan rumah tangga yang tidak produktif dan tidak banyak diketahui ini.
Bila tujuan yang diutamakan adalah pertumbuhan ekonomi maka sumber-sumber
tersebut haruslah diarahkan kepada usaha-usaha pengembangan perusahaan-
perusahaan industri besar.
Dalam operasionalisasi yang paling tampak, setidaknya selama ini terdapat tiga
pemikiran strategi industrialisasi yang berkembang di Indonesia, di mana ketiganya
pernah diaplikasikan secara tersendiri maupun bersama-sama. Pertama, strategi
industrialisasi yang mengembangkan industri-industri yang berspektrum luas

2
(broad-based industry). Pada kenyataannya, strategi ini lebih menekankan
pengembangan industriindustri berbasis impor (footlose industry) industri negara
lain. Misalnya industri elektronik, tekstil, otomotif dan lain-lain. Kedua, strategi
industrialisasi yang mengutamakan industriindustri berteknologi canggih berbasis
impor (hi-tech industry), seperti industri pesawat terbang, industri peralatan dan
senjata militer, industri kapal dan lain-lain. Ketiga, industri hasil pertanian
(agroindustry) berbasis dalam negeri dan merupakan kelanjutan pembangunan
pertanian. Ketiga pemikiran tersebut mendapatkan legitimasi yang samasama kuat
mengingat terdapat argumentasi-argumentasi rasionalitasnya (Hakim, 2009)

Persebaran Industri di Indonesia


Dalam perkembangannya, pertumbuhan sektor industri manufaktur di
Indonesia mengalami ketimpangan secara wilayah atau ketimpangan spasial.
Konsentrasi dan ketimpangan merupakan ciri yang paling mencolok dari aktivitas
ekonomi secara geografis. Konsentrasi aktivitas ekonomi secara spasial
menunjukkan bahwa industrialisasi merupakan suatu proses yang selektif, dan
hanya terjadi pada kasus tertentu bila dipandang dari segi geografis (Kuncoro,
Analisis Spasial dan Regional Studi Aglomerasi dan Klusrer Industri Indonesia,
2002). Hal ini dapat dipahami, karena aktivitas ekonomi di satu wilayah akan sangat
dipengaruhi oleh kondisi geografis dari wilayah tersebut, industri pengolahan
terkonsentrasi secara spasial di Jawa sejak tahun 1970-an, meskipun pada akhir
1980-an mengalami pergeseran ke Sumatera dan Bali (Kuncoro, Industri Indonesia
di Persimpangan Jalan, 2005)
Industri yang terkonsentrasi secara spasial terutama industri besar dan
menengah. Hal ini disebabkan serangkaian deregulasi dan liberalisai pada
pertengahan 1980. Selain itu, pemutusan secara spasial ini juga disebabkan karena
lengkapnya infrastruktur dan tenaga kerja yang terakumulasi di beberapa wilayah,
terutama Pulau Jawa (Wahyudin, 2004). Jumlah populasi penduduk dan
ketersediaan aksesibilitas akan berpengaruh terhadap konsentrasi spasial (Fujita,
2005) Pernyataan Fujita mengenai pengaruh jumlah penduduk didukung oleh
Todaro. Pentingnya keberadaan aksesibilitas terhadap konsentrasi spasial,

3
sebagaimana dinyatakan oleh fujita ditegaskan oleh Kuchiki. Yaitu keberadaan
infrastruktur mempunyai peran penting dalam mendorong terjadinya konsentrasi
spasial (Kuchiki, 2005)

2.2 Pertumbuhan dan Persebaran Industri di Dunia


Persebaran industri di negara maju (development countries) atau disebut
negara-negara G7 (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Italia, dan
Jepang) berbeda dengan negara yang sedang berkembang (developing countries).
Pada umumnya, negara-negara yang ini industrinya juga dikenal dengan sebutan
industri padat modal. Sebaliknya, bagi negara-neg berkembang, sebagian industri
yang dimilikinya merupakan industri dengan sebutan “berdiri di atas dua kaki”
(walk on two legs). Maksudnya, padat modal juga dikembangkan, sedangkan padat
karya tetap dipertahankan mengingat biasanya di negara berkembang berpenduduk
padat.
Indonesia merupakan salah satu negara berkembang dengan jumlah
penduduk yang besar. Pembangunan industri di Indonesia dilakukan untuk
membuka lapangan pekerjaan baru, memenuhi kebutuhan dalam negeri dan untuk
kegiatan ekspor. Untuk memacu pertumbuhan industri modern seperti industri di
negara maju tidaklah mudah. Jika industri betgeser ke padat modal, maka dalam
proses produksinya digunakan mesin-mesin canggih sehingga banyak orang akan
kehilangan pekerjaan.
Adapun perbandingan industri di Indonesia dengan industri di negara maju
dapat dilihat di bawah ini :
1. Aspek mesin yang digunakan
Indonesia : Sebagian besar sederhana dan memerlukan tenaga manusia yang
banyak.
Negara Maju : Teknologi modern, serta otomatis dan sedikit memerlukan tenaga
manusia.

4
2. Aspek Tenaga Kerja
Indonesia : (a) Sedikit tenaga ahli. (b) Sebagian besar tenaga ahli dari luar negeri.
(c) Banyak memakai tenaga manusia kurang produktif. (d) Mudah mendapatkan
tenaga kerja.
Negara Maju : (a) Banyak tenaga ahli. (b) Pada umumnya tenaga ahli berasal dari
negaranya sendiri. (c) Sedikit memakai tenaga manusia namun produktivitasnya
tinggi. (d) Sulit mendapatkan tenaga kerja.
3. Aspek Modal
Indonesia : Masih memerlukan bantuan modal dari luar negeri, misalnya dari Bank
Dunia, Bank Asia dan negara maju.
Negara Maju : Sebagian PMDN (penanaman modal dalam negeri)atau modal
sendiri.
4. Aspek Bahan baku
Indonesia : (a) Mudah didapat (b) Banyak tersedia baik bahan-bahan organik
maupun anorganik.
Negara Maju : Sebagian besar harus diimpordari negara lain.
5. Aspek Pemasaran
Indonesia : (a) Diutamakan pemasaran untuk kebutuhan dalam negeri. (b)
Pemasaran di luar negeri mendapat saingan ketat dari produksi negara maju.
Negara Maju : (a) Diutamakan untuk ekspor karena kebutuhan dalam negeri sudah
cukup. (b) Karena mutu dan kualitas baik mudah dipasarkan.

Persebaran Industri di Dunia


Manufaktur jadi industri yang penting dalam mendukung kemajuan
perekonomian sebuah negara. Tahun ini, World Economic Forum (WEF) kembali
mengeluarkan daftar negara dengan daya saing manufaktur terbaik di dunia. Daftar
negara tersebut dirangkum dalam laporan Readiness for The Future of Production
Report.
Laporan tersebut mengukur kesiapan 100 negara di bidang manufaktur. Ada
dua penilaian besar yang menjadi indikator yakni struktur produksi dan faktor-
faktor penunjang produksi.

5
1. Swedia
Skor: 7,5
Dari strukturnya, ekonomi Swedia dikarakterisasikan pada sektor
manufaktur yang berorientasi pada ekspor berbasis pengetahuan, sektor jasa bisnis,
dan sektor pelayanan publik. Perusahaan besar, baik manufaktur dan jasa,
mendominasi ekonomi Swedia. Manufaktur teknologi di tingkat medium dan tinggi
menyumbang 9,9 persen PDB negara ini.
2. Amerika Serikat
Skor: 7,8
Aktivitas manufaktur Amerika Serikat (AS) pada September berkembang
dengan laju tercepat sejak Mei 2004. Situasi dan kondisi itu memberikan dukungan
terhadap pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga tahun ini.
Indeks manufaktur, yang juga dikenal sebagai indeks manajer pembelian
(Purchasing Manager Index/PMI), tercatat 60,8, naik dari pembacaan Agustus yang
hanya sebesar 58,8 dan yang tertinggi sejak Mei 2004.
3. Republik Ceko
Skor: 7,9
Industri otomotif merupakan industri yang jadi penyumbang terbesar ke
hampir 24 persen pendapatan manufaktur Republik Ceko. Pada tahun 2010,
Republik Ceko menghasilkan lebih dari satu juta mobil untuk pertama kalinya.
Lebih 80 persen produks tersebut disalurkan untuk ekspor.
4. China
Skor: 8,2
Kegiatan ekonomi nasional China terus menunjukkan pertumbuhan. Indeks
pembelian manajer manufaktur (PMI) China berhasil mencapai level 51,6 pada
Desember tahun lalu atau berekspansi. Aktivitas ekspor manufaktur juga
mencatatkan rekor pada akhir tahun, dengan tumbuh ke level tertinggi selama enam
bulan terakhir.
5. Swiss
Skor: 8,4

6
Produk unggulan negara Swiss adalah berupa jam tangan atau arloji yang
memiliki desain yang sangat mewah dengan harga yang cukup tinggi. Selain itu
Swiss juga memiliki produk cokelat yang sangat terkenal dan di gemari oleh
masyarakat diseluruh dunia. Bahkan Dari segi nilainya, Swiss menguasai setengah
nilai produksi jam tangan dunia.
6. Jerman
Skor: 8,7
Di Jerman, lembaga-lembaga riset berperan mendorong ekspor produk
manufaktur berteknologi tinggi. Cerita kesuksesan Jerman membangun industri
manufakturnya sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari peran jejaring lembaga-
lembaga atau institut penelitian (research institutions) di negara ini. Salah satunya
adalah Frauhofer Society.
Jaringan lembaga riset dan inovasi ini telah banyak membantu Jerman
hingga menjadikannya eksportir terdepan produk-produk manufaktur berteknologi
tinggi, walaupun upah tenaga kerja dan regulasi di negara ini termasuk tinggi dan
ketat.
7. Korea Selatan
Skor: 8,9
Daya saing bidang manufaktur Korea Selatan cukup tinggi. Sebagai
perbandingan, peran manufaktur dalam ekonomi pada negara-negara Asia Timur
dan Pasifik kebanyakan melebihi Indonesia. Peran manufaktur terhadap ekonomi
Tiongkok dan Korea Selatan mencapai 29,7 persen.
8. Jepang
Skor: 9,0
Aktivitas manufaktur Jepang pada Desember 2017 berkembang pada laju
tercepat dalam hampir empat tahun. Hal ini dikarenakan pesanan baru meningkat,
sebuah survei yang direvisi menunjukkan pada hari ini sebagai sebuah tanda
pertumbuhan ekonomi yang stabil akan berlanjut tahun ini.
Seperti dikutip dari Reuters, Indeks Pembelian Manajer Manufaktur
Markit/Nikkei Japan Manufacturing (PMI) pada Desember sebesar 54,0, sedikit di

7
bawah pembacaan awal sebesar 54,2 namun masih di atas pembacaan akhir 53,6
pada November (Muliana, 2018)

2.3 Relokasi Industri


Sektor industri merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan
penting dalam tumbuh kembangnya perekonomian suatu negara. Beberapa
kendala banyak terjadi atau dialami suatu kawasanindustri salah satunya adalah
permasalahan relokasi industri yang terjadi di Indonesia. Relokasi industri sendiri
merupakan perpindahan atau pemindahan suatu industri dari lokasi yang lama ke
lokasi yang baru.
Apabila permasalahan yang dialami suatu kawasan industri sudah terlalu
kompleks atau rumit sehingga tidak dapat lagi dibenahi lagi, maka satu-satunya
solusi untuk menghentikan masalah atau dampak yang berkelanjutan tersebut
ialah dilakukannya relokasi industri. Memindahkan suatu kawasan industri dari
tempat yang lama ke tempat yang baru tidaklah semudahyang dibayangkan.
Banyak aspek yang harus dipertimbangkan sebelum hingga setelah lokasi
suatu industri berpindah ketempat yang baru. Relokasi tersebut
mempertimbangkan beberapa aspek, antara lain aspek sosial, ekonomi dan
lingkungan (lokasi). Aspek sosial diantaranyadapat mempertimbangkan
penyerapan tenaga kerja dilokasi relokasi, contohnyaupah buruh yang jauh lebih
murah dari lokasi sebelumnya atau melihat banyaknya tenaga kerja dilokasi
relokasi yang berpotensi untuk diserap sebagai tenaga kerja. Sistematika relokasi
industri di Indonesia yang biasanya dilakukan yakni dengan memindahkan
sekaligus lokasi produksi dan pemasarannya, namun mengenai tenaga kerja
biasanya diatur berdasarkan kebijakan pemilikindustri tersebut.
Teori lokasi merupakan teori dasar yang sangat penting dalam analisa
spasial dimana tata ruang dan lokasi kegiatan ekonomi merupakan unsur utama.
Menurut Teori Weber (1929) berkaitan dengan industri pengolahan, lokasi
yang optimal adalah lokasi yangmemiliki biaya angkut minimal. Sementara
pada Teori Losch (1944) berpendapat bahwa analisa suatu lokasi didasarkan
pada luasan pasar yang dikuasai dan kompetensi antar tempat. Sehingga ketika

8
relokasi industri akan dilakukan, beberapa faktor seperti lokasi yang telah
dikuatkan oleh teori-teori tersebut hendaknya dapat dipertimbangakan dalam
pemilihannya. Dengan perkembangannnya teori lokasi, aspek tata ruang dan lokasi
kegiatan ekonomi dapat dimasukkan ke dalam analisa ekonomi secara lebih
kongkrit. Sehingga pada tahun limapuluhan banyak ahli yang melakukan
kombinasi antara Teori Lokasi dengan Teori Ekonomi, baik mikro maupun
makro. Selain itu sumber daya alam lokasi baru harus dapatmendukung
produksi, tanpa menimbulkan kerusakan-kerusakan lingkungan yang baru
ditempat relokasi. Maka dari itu perencanaan pembangunan suatu kawasan
industri harus mengedepankan lingkungan sehingga dapat berkelanjutan.
Berdasarkan darisegi ekonomi terdapat enam faktor penentu lokasi
(Sjafrizal, 2008) diantaranya ongkos angkut, perbedaan upah antar wilayah,
keuntungan aglomerasi, konsentrasi permintaan, kompetensi antar wilayah serta
harga dan sewa tanah. Ongkos angkut berkaitan dengan biaya produksi yaitu
mempertimbangkan berat ringannya produk. Perbedaan upah antar wilayah
berperan penting karena upah dapat menekan biaya produksi. Keuntungan
aglomerasi muncul bila kegiatan ekonomi yang saling terkait satu sama lainnya
terkonsentrasi pada suatu tempat tertentu. Konsentrasi permintaan dimaksudkan
apabila kita akan melakukan pemilihan lokasi, pasti cenderung menuju
tempat dimana terdapat konsentrasi permintaan yang cukup besar. Kompetisi
antar wilayah yaitu tingkat persaingan antar wilayah yang dihadapi oleh
perusahaan dalam memasarkan hasil produksinya. Faktor yang keenam
dimaksudkan bahwa dalam rangka memaksimalkan keuntungan, perusahaan
akan cenderung memilih lokasi dimana harga atau sewa tanah lebih rendah
(Octavira, 2013)

9
DAFTAR PUSTAKA

Fujita. (2005). Transport Development and The Evolution of Economic Geography.


Discussion Paper No. 21. Retrieved from
http://ide.go.jp/english/publish/dp/pdf/021fujita.pdf.
Hakim, M. A. (2009). Industrialisasi di Indonesia : Menuju Kemitraan yang Islami.
Jurnal Hukum Islam Vol 11, 5-6.
Kuchiki, A. (2005). Theory of Flowchart Approach to Industrial Cluster Policy.
Discussion Paper No. 36.
Kuncoro, M. (2002). Analisis Spasial dan Regional Studi Aglomerasi dan Klusrer
Industri Indonesia. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Kuncoro, M. (2005, Februari 19). Industri Indonesia di Persimpangan Jalan.
Kompas Indonesia.
Muliana, V. A. (2018, Januari 18). 8 Negara dengan Industri Manufaktur Terbesar
di Dunia. Retrieved from Liputan 6:
https://www.liputan6.com/bisnis/read/3229350/8-negara-dengan-industri-
manufaktur-terbesar-di-dunia
Octavira, D. K. (2013). Relokasi Industri terhadap Perkembangan Ekonomi
Wilayah. Paper Ekonomi Regional.
Sadono, S. (1995). Pengantar Teori Ekonomi Mikro, Edisi Kedua. Jakarta: PT
Karya Grafindo Persada.
Wahyudin. (2004). Industri dan Orientasi Ekspor Dinamika dan Analisis Spasial.
Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta.
Wignjosoebroto, S. (2003). Pengantar Teknik dan Manajemen Industri. Jakarta :
Penerbit Guna Widya.

10