Anda di halaman 1dari 47

BAB II

TINJAUAN DAN PUSTAKA

A. Rumah Sakit
1. Pengertian Rumah Sakit

Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia


No.340/MENKES/PER/III/2010, Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan
pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat, (MENKES RI, 2010).
Menurut WHO, rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan
kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif),
penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat.
Rumah sakit juga merupakan pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan dan pusat penelitian
medik.

2. Fungsi Rumah Sakit

Rumah Sakit Umum mempunyai misi memberikan pelayanan kesehatan yang


bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat. Tugas rumah sakit umum adalah melaksanakan upaya pelayanan kesehatan
secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan penyembuhan dan
pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan peningkatan dan
pencegahan serta pelaksanaan upaya rujukan.
Menurut undang-undang No. 44 tahun 2009 tentang rumah sakit, fungsi rumah sakit
adalah :
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan seuai dengan
standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan kesehatan
yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaaan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam rangka
peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatn.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi bidang
kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan memperhatikan
etika ilmu pengetahan bidang kesehatan

3. Tujuan Rumah Sakit

Tujuan Rumah Sakit menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 44 tahun 2009
tentang rumah sakit adalah ( UU RI NO 44, 2004)
a. Mempermudah akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
b. Memberikan perlindungan terhadap keselamatan pasien, masyarakat, lingkungan
rumah sakit dan sumber daya manusia di rumah sakit.
c. Meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit.
d. Memberikan kepastian hukum kepada pasien, masyarakat, sumber daya manusia
rumah sakit, dan Rumah Sakit

B. Rekam Medis
1. Pengertian Rekam Medis
Menurut PERMENKES No: 269/MENKES/PER/III/2008 yang dimaksud rekam
medis adalah berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil
pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang
telah diberikan kepada pasien. Catatan merupakan tulisan-tulisan yang dibuat oleh dokter
atau dokter gigi mengenai tindakan-tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka
palayanan kesehatan, (Permenkes No. 269, 2008).
Menurut SK Dirjen Yanmed No. 78 tahun 1991 rekam medis yaitu berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas, anamnesis, pemeriksaan, diagnosis,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang diberikan kepada seorang pasien selama
dirawat di rumah sakit yang dilakukan di unit-unit rawat jalan termasuk unit gawat
darurat dan unit rawat inap. (SK Dirjen yanmed, 1991)
Sedangkan menurut Gemala Hatta, Rekam medis yaitu kumpulan fakta tentang
kehidupan seseorang dan riwayat penyakitnya termasuk keadaan sakit, pengobatan
saat ini dan saat lampau yang ditulis oleh para praktisi kesehatan dalam upaya mereka
memberikan pelayanan kesehatn kepada pasien. (Hatta, 2008).
2. Tujuan pelayanan Rekam Medis

Tujuan rekam medis adalah untuk menunjang tercapainya tertib administrasi dalam
rangka upaya peningkatan pelayanan kesehatan di RSUD Ambarawa Kabupaten
Seamarang. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan rekam medis yang baik dan benar,
tidak akan tercipta tertib administrasi rumah sakit sebagaimana yang diharapkan.
Sedangkan tertib adiministrasi merupakan salah satu faktor yang menentukan di dalam
upaya pelayanan kesehatan di rumah sakit, (DEPKES RI, 2006).

3. Jenis Rekam Medis


a. Rekam Medis Konfensional
Rekam medis konvensional adalah rekam medis yang terbuat dan berbentuk
lembaran-lembaran kertas yang diisi dengan tulisan tangan atau ketikan komputer
yang telah diprint.

b. Rekam Medis Elektronik


Rekam Medis Elektronik adalah setiap catatan, pernyataan, maupun interpretasi
yang dibuat oleh dokter atau petugas kesehatan lain dalam rangka diagnosis dan
penanganan pasien yang dimasukkan dan disimpan dalam bentuk penyimpanan
elektronik (digital) melalui sistem computer.
Computerized Patient Record (CPR) atau komputerisasi rekaman pasien
diperkenalkan di tahun 1991. Institute of Medicine (IOM) sebagai pelopor CPR
mendefiniskan rekam kesehatan berbasis komputer (1991) adalah rekaman pasien
yang dikerjakan secara elektronis dan bernaung dalam sistem yang dirancang secara
khusus guna mendukung pengguna dalam mengakses data secara lengkap dan akurat,
yakni dengan memberikan tanda peringatan, waspada dan sistem pendukung
pengambilan keputusan klinis yang merujuk data kepada sumber pengetahuan medis
dan sarana bantuan lainnya
CPR bertujuan untuk menghilangkan hambatan yang biasa terdapat pada DRM
format kertas. Sebelum CPR , dikenal Electronic Medical Record (EMR) , bedanya
EMR menyimpan semua berkas dan bukan berdasarkan satuan data elemen individu
pasien. EMR adalah versi elektronis rekaman yang terbuat dari kertas.
4. Kegunaan Rekam Medis

Kegunaan rekam medis dapat dilihat dari beberapa aspek, (Depkes RI, 2006) yaitu :
a. Aspek Administrasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai administrasi, karena isinya menyangkut
tindakan berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga medis dan
paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan kesehatan.
b. Aspek Hukum
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai hukum, karena isinya menyangkut
masalah adanya jaminan kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka usaha
menegakkan hukum serta penyediaan bahan tanda bukti untuk menegakkan keadilan.
c. Aspek Keuangan
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai keuangan karena isinya dapat dijadikan
sebagai bahan untuk menetapkan biaya pembayaran pelayanan di rumah sakit.
d. Aspek Penelitian
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai penelitian, karena isinya mengandung
data/ informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan di bidang rekam medis.
e. Aspek Pendidikan
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut
data/ informasi tentang perkembangan kronologis dan kegiatan pelayanan medik
yang diberikan pada pasien, informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai
bahan/referensi pengajaran dibidang profesi si pemakai.
f. Aspek Dokumentasi
Suatu berkas rekam medis mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut
sumber ingatan yang harus didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan
pertanggungjawaban dan laporan rumah sakit.

Dengan melihat dari berbagai aspek tersebut di atas, rekam medis mempunyai
kegunaan yang sangat luas, karena tidak hanya menyangkut antara pasien dengan
pemberi pelayanan saja.
Kegunaan rekam medis secara umum adalah :
a. Sebagai alat komunikasi antara dokter dan tenaga ahli lainnya yang ikut ambil bagian
didalam memberikan pelayanan, pengobatan, perawatan kepada pasien.
b. Sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan/ perawatan yang harus diberikan
kepada pasien.
c. Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan, perkembangan penyakit dan
pengobatan selama pasien berkunjung/ dirawat di rumah sakit.
d. Sebagai bahan yang berguna untuk analisa, penelitian, dan evaluasi terhadap kualitas
pelayanan yang diberikan kepada pasien.
e. Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit maupun dokter dan tenaga
kesehatan lainnya.
f. Menyediakan data-data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitan dan
pendidikan.
g. Sebagai dasar didalam perhitungan biaya pembayaran pelayanan medik pasien.
h. Menjadi sumber ingatan yang harus didokumentasikan, serta sebagai bahan
pertanggungjawaban laporan.

5. Isi Rekam Medis

Isi Rekam Medis merupakan catatan keadaan tubuh dan kesehatan, termasuk data
tentang identitas dan data medis seorang pasien. Secara umum isi Rekam Medis berisi
dua jenis data, yaitu :

a. Data Administratif
Data administratif mencakup data demografi dan keuangan disamping data
tentang informasi lain yang berhubungan dengan pasien, seperti data yang terdapat
pada beragam izin (consent), pada lembaran hak kuasa (otorisasi) untuk kepentingan
pelayanan kesehatan dan dalam penanganan informasi konfidensial pasien. Isi data
demografi bersifat permanen (kekal) dan setidaknya mencakup informasi tentang,
(Hatta, 2008):
1) Nama lengkap
2) Nomor rekam kesehatan pasien dan nomor identitas lain (asuransi)
3) Alamat lengkap pasien
4) Tanggal lahir pasien dan kota tempat kelahiran
5) Jenis kelamin
6) Status pernikahan
7) Nama dan alamat keluarga terdekat yang sewaktu-waktu dapat dihubungi
8) Tanggal dan waktu terdaftar di tempat penerimaan pasien rawat inap/rawat
jalan/gawat darurat
9) Nama rumah sakit (tertera pada kop formulir : nama, alamat, telepon, kota)
Umumnya data administratif adalah data identifikasi yang dapat dihubugkan
dengan pasien yang digunakan bagi kepentingan administratif, regulasi, operasional
pelayanan kesehatan dan penggantian biaya pengobatan. Contoh data administratif
yaitu (Indradi, 2014).
1) Lembaran pengesahan untuk melepaskan informasi
2) Formulir pengesahan (otorisasi) pelaksanaan pelayanan
3) Formulir pemberian izin (consent)
4) Lembar hak kuasa
5) Lembar pulang paksa
6) Sertifikat kelahiran atau kematian
7) Formulir pembebasan sarana pelayanan kesehatan dari tuntutan kehilangan atau
kerusakan barang pribadi pasien
8) Korespondensi yang berkaitan dengan permintaan rekaman
9) Kejadian tentang riwayat atau audit
10) Klaim yang dapat dihubungkan dengan pasien
11) Menelaah kualitas data yang dapat dihubungkan dengan pasien
12) Tanda identitas pasien
13) Protokol klinis, clinical pathway, pedoman praktik dan pengetahuan lain yang
tidak melekat dengan data pasien.
b. Data Klinis
Data klinis dapat diartikan sebagai data hasil pemeriksaan, pengobatan,
perawatan dan tindakan yang dilakukan oleh praktisi kesehatan dan penunjang medis
terhadap pasien baik pasien rawat inap, rawat jalan, maupun rawat darurat. Data
yang bersifat rahasia (confidential) tidak dapat dibuka kepada pihak ketiga tanpa izin
dari pasien yang bersangkutan kecuali jika ada alasan lain berdasarkan peraturan atau
perundang-undangan yang memaksa dibukanya informasi tersebut.
Data atau informasi klinis yang terakumulasi dalam rekam medis sehingga
menjadi basis data seperti yang dijelaskan oleh Rhodes, Hjort & Dou gherty dalam
Jhon (2002) seperti yang dikutip oleh Hatta (2008) sebagai berikut :
1) Pendaftaran
2) Riwayat penyakit
3) Riwayat pemeriksaan fisik
4) Observasi klinis
5) Perintah dokter
6) Laporan dan hasil prosedur diagnostik dan terapeutik
7) Laporan konsultasi
8) Ringkasan riwayat pulang
9) Instruksi untuk pasien
Semua keluaran dari formulir pemeriksaan mengahsilkan data klinis. Setiap
masukan data/informasi klinis wajib mencantumkan nama lengkap tenaga kesehatan
dan penunjang medis terkait serta tanggal pemberian pelayanan kesehatan terhadap
pasien, (Hatta, 2008)

Berdasarkan Permenkes Nomor 269/ MENKES/ PER/ III/ 200 isi rekam medis
untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan kesehatan sekurang-kurangnya
memuat :
1) Identitas pasien;
2) Tanggal dan waktu;
3) Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat
penyakit;
4) Hasil Pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang;
5) Diagnosis;
6) Rencana Penatalaksanaan;
7) Pengobatan dan/atau tindakan;
8) Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien;
9) Untuk kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik
10) Persetujuan tindakan (bila diperlukan).

Setiap masukan data atau informasi klinis wajib mencakup nama lengkap tenaga
kesehatan, dan penunjang medis terkait serta tanggal pemberian pelayanan kesehatan
terhadap pasien, (Hatta, 2008). Penjelasan diatas merupakan rangkaian isi dari rekam
medis rawat inap. Berdasarkan Permenkes Nomor 269/Menkes/Per/III/2008, isi
rekam medis untuk pasien rawat inap dan perawatan satu hari, sekurang-kurangnya
memuat :
1) Identitas pasien;
2) Tanggal dan waktu;
3) Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat
penyakit;
4) Hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang;
5) Diagnosis;
6) Rencana Penatalaksanaan;
7) Pengobatan dan/atau tindakan;
8) Persetujuan tindakan (bila diperlukan);
9) Catatan observasi klinis dan hasil pengobatan;
10) Ringkasan pulang;
11) Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu
yang memberikan pelayanan kesehatan;
12) Pelayanan lain yang dilakukan oleh tenaga kesehatan tertentu;
13) Untuk kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik.

Isi rekam medis untuk pasien gawat darurat, sekurang-kurangnya memuat :


1) Identitas pasien;
2) Kondisi pasien saat tiba;
3) Identitas pengantar pasien;
4) Tanggal dan waktu;
5) Hasil anamnesis, mencakup sekurang-kurangnya keluhan dan riwayat
penyakit;
6) Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medik;
7) Diagnosis;
8) Pengobatan dan/ atau tindakan;
9) Ringkasan kondisi pasien sebelum meninggalkan pelayanan unit gawat
darurat rencana tindak lanjut;
10) Nama dan tanda tangan dokter, dokter gigi, atau tenaga kesehatan tertentu
yang memberikan pelayanan kesehatan;
11) Sarana transportasi yang digunakan bagi pasien yang akan dipindahkan ke
sarana pelayanan kesehatan lain; Pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien.

C. Formulir Rekam Medis

1. Pengertian Formulir
Pengertian Formulir Menurut Rama dan Jones (2008), formulir adalah dokumen
terpola yang berisi file kosong yang dapat diisi pengguna dengan data. Menurut
Puspitawati (2011), formulir didefinisikan sebagai secarik kertas atau media yang
memiliki ruang untuk diisi dengan berbagai informasi sebagai dasar pencatatan dalam
suatu organisasi. Secara umum dapat simpulkan bahwa formulir adalah secarik kertas
yang memiliki ruang yang terformat dan diisi oleh penggunanya.
Formulir berisi informasi yang telah tercetak, misalnya nomor urut formulir dan
nama formulir. Formulir yang dapat digunakan untuk semua pasien yaitu :
a. Lembaran Umum, diantaranya:
1) Indeks Ringkasan Diagnosa
2) Ringkasan Masuk & Keluar
3) Riwayat & Pemeriksaan Fisik
4) Instruksi Dokter
5) Catatan Perawat/Bidan
6) Hasil Pemeriksaan Laboratorium/Radiologi
7) Resume/Ikhtisar waktu pulang
8) Lembaran Persetujuan, dsb
b. Lembaran Khusus, diantaranya:
1) Laporan Operasi
2) Laporan Anesthesi
3) Lembaran Kontrol Istimewa
4) Riwayat Kehamilan
5) Catatan/Laporan Persalinan
6) Identifikasi Bayi
7) Lembaran Persetujuan Operasi
8) Lembaran Permintaan & Jawaban Konsul

2. Desain Formulir Rekam Medis

Desain formulir adalah kegiatan merancang farmulir berdasarkan kebutuhan


pencatatan transaksi pelayanan atau pembuatan pelayanan atau pembuatan laporan
organisasi (Wahono,2010). Rekam medis dihasilkan dari suatu upaya pelayanan
kesehatan pasien yang diberikan oleh tenaga kesehatan yang terdiri dari berbagai disiplin
ilmu. Sehingga desain formulir rekam medis harus melibatkan setiap unsur utama yang
terlibat dalam pelayanan kepada pasien. Unsur utama tersebut minimal terdiri dari dokter,
perawat, perekam medis, atau tenaga kesehatan lain yang terkait dengan pelayanan
kepada pasien (radiologi, laboratorium, fisioterapi). Semua unsur utama tersebut dibentuk
dalam sebuah wadah yang dinamakan Panitia Rekam Medis. Dalam dinamikanya, Panitia
Rekam Medis harus dapat mengidentifikasi kebutuhan data maupun memastikan
bagaimana cara pemenuhan kebutuhan datanya, dengan tetap memperhatikan tujuan
akhirnya, yaitu untuk memberikan pelayanan yang berkualitas kepada setiap pasien.

a. Tujuan dan Manfaat Desain Formulir Rekam Medis :


1) Untuk mengurangi kesibukan mengutip atau menyalin kembali keterangan yang
sama berulang-ulang
2) Untuk keseragaman atau pembakuan kerja
3) Untuk mempermudah dalam pengklasifikasian data
4) Untuk mempermudah prosedur kerja
5) Sebagai alat perencanaan
6) Sebagai alat untuk pengawasan dan evaluasi
7) Sebagai alat penting untuk menjalankan organisasi rumah sakit.
8) Untuk merekam data transaksi sebagai bukti proses pelayanan kepada pasien.
9) Untuk mengurangi kemungkinan kesalahan dengan cara menjalankan semua
kejadian dalam bentuk tulisan.
10) Sebagai bukti bahwa transaksi pelayanan telah dilaksanakan.
11) Sebagai alat komunikasi yaitu menyampaikan informasi pokok dari orang satu
ke orang lain di dalam unit kerja yang sama atau ke unit kerja lain (Noor Riyadi,
1999).

b. Dasar Hukum Perancangan Formulir RM


1) Pernenkes 269/MENKES/PER/III/2008 tentang rekam medis
2) SE Dirjen Yanmed RI Nomor HK.00.06.1.5.01160 tahun 1995, tentang petunjuk
teknis pengadaan formulir rekam medis dasar
dan pemusnahan arsip rekam medis
Perancangan formulir merupakan refleksi dari perancangan sistem, oleh karena
itu sebagai perancang kita harus mengenal tujuan tersebut, fungsi-fungsi yang terkait
serta syarat terselenggaranya sistem tersebut. Perancangan formulir dapat efektif bila
disertai kebijakan pengontrolan formulir yang mengenai, sehingga dapat dilakukan
penghematan dalam berbagai hal antara lain :
1) Jumlah tenaga yang mengisi formulir tersebut.
2) Frekwensi kesalahan dalam melengkapi isi formulir.
3) Data atau informasi yang tidak penting atau tidak diperlukan yang perlu
dihilangkan.
4) Pencetakan dan kertas yang digunakan.
Dalam mendesain sebuah dokumen rekam medis harus memperhatikan kepada
siapa dokumen tersebut akan ditujukan,kepentingannya, berapa sering dokumen
tersebut digunakan, ditulis cetak atau ditulis tangan,yang didalammya harus memuat
komponen, Heading, Introduction, Instruction, Body, Close.
c. Cara Mendesain Formulir Rekam Medis
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain formulir rekam medis
(Huffman, 1994 : 249)
1) Pelajari tujuan dan penggunaan formulir dan buat desain formulir sesuai dengan
apa yang dikehendaki oleh pengguna (user)
2) Desain form sesederhana mungkin. Buang data atau informasi yang tidak
diperlukan
3) Gunakan istilah baku / standar untuk setiap elemen data, atau sediakan definisi
jika diperlukan
4) Sediakan petunjuk / pedoman yang diperlukan untuk memastikan konsistensi
pengumpulan data atau interpretasi data
5) Urutkan item data secara logika, dalam kaitannya dengan dokumen sumber atau
sesuai kebiasaan yang ada; sajikan informasi dengan cara yang menarik
perhatian
d. Prinsip Desain Formulir (Ahima, 2002)
1) Formulir harus mudah diisi/dilengkapi
2) Tercantum instruksi pengisian dan penggunaan formulir tersebut
3) Pada formulir harus terdapat heading yang mencakup judul dan tujuan secara
jelas
4) Nama dan alamat rumah sakit (faskes) harus tercantum pada setiap halaman
formulir
5) Nama, nomor RM dan informasi lain tentang pasien seharusnya tercantum pada
setiap halaman formulir (bar coding)
6) Bar coding juga mencakup indeks formulir
7) Nama dan tanggal revisi formulir dicantumkan agar dapat dipastikan
penggunaan formulir terkini
8) Mengurangi penggunaan formulir yang tidak terpakai lagi (outdated)
9) Layout formulir secara fisik harus logis
10) Data pribadi dan alamat serta informasi lain yang terkait satu dengan yang
lainnya dikelompokkan menjadi satu kesatuan
11) Seleksi jenis huruf yang terstandar. Beberapa pakar menyarankan semua dengan
huruf kapital
12) Margin (batas tepi) disediakan cukup untuk kepentingan hole punches
13) Garis digunakan untuk memudahkan entri data dan memisahkan area pada
formulir
14) Shading digunakan untuk memisahkan dan penekanan area-area formulir
15) Check boxes digunakan untuk menyediakan ruang pengumpulan data
e. Tim Pendesain Formulir Rekam Medis
Rekam medis dihasilkan dari suatu upaya pelayanan kesehatan pasien yang
diberikan oleh tenaga kesehatan yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Sehingga
desain formulir rekam medis harus melibatkan setiap unsur utama yang terlibat
dalam pelayanan kepada pasien. Unsur utama tersebut minimal terdiri dari dokter,
perawat, dan praktisi rekam medis atau dapat ditambahkan juga tenaga kesehatan
lainnya yang erat kaitannya dengan pelayanan kepada pasien.
Semua unsur utama tersebut di bentuk dalam sebuah wadah yang dinamakan
Panitia Rekam Medis. Dalam dinamikanya, Panitia Rekam Medis harus dapat
mengidentifikasi kebutuhan data maupun memastikan bagaimana cara pemenuhan
kebutuhan datanya, dengan tepat memperhatikan tujuan akhirnya, yaitu untuk
memberikan pelayanan yang berkualitas kepada setiap pasien.

3. Aspek yang dipertimbangan dalam desain formulir rekam medis


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendesain formulir rekam medis
berbentuk kertas/hardcopy (Huffman,1994:262). Menurut Shofari dan Eny (2008) ada
beberapa aspek desain formulir rekam medis yang perlu diperhatikan, antara lain:
a. Aspek Anatomi

1) Heading (kepala)
Heading (kepala) berperan sebagai tempat pemberian judul dan
mengandung informasi tentang formulir, seperti nama dan alamat organisasi,
nama dan nomor formulir, tanggal penerbitan dan halaman. Biasanya judul
terletak pada bagian tengah atas. Hal ini untuk menunjukan jenis dan
kegunaannya. Judul dibuat sesingkat mungkin tetapi jelas. Nomor dapat
digunakan untuk meenunjukan keunikan. Dapat diletakkan di pojok kiri bawah
atau kanan bawah. Nomor formulir ini dapat juga digunakan untuk menunjukan
sumber dan jenisnya. Jika formulir terdiri lebih dari satu halaman, maka tiap-
tiap halaman harus diberi nomor dan jumlah halaman, supaya bila ada halaman
yang hilang dapat diketahui. Nomor dan jumlah halaman ini biasanya
diletakkan pada sebelah kanan atas.

2) Introduction (Pendahuluan)
Pendahuluan (introduction) memuat informasi pokok yang menjelaskan
tujuan dari penggunaan formulir yang bersangkutan. Kadang-kadang tujuan
ditunjukan oleh judul. Kalau penjelasan lebih lanjut diperlukan, pernyataan
yang jelas bias dimasukkan kedalam formulir untuk menjelaskan tujuan.
Pengantar yang menyatakan secara eksplisit tujuan pengisian form mungkin
perlu dicantumkan
3) Instruction (Perintah)
Perintah (instruction) adalah menjelaskan cara pengisian formulir.
Intruksi harus dibuat sesingkat mungkin, perintah yang dimaksud adalah
keterangan agar user dapat dengan segera mengetahui berapa lembar salinan
yang diperlukan, siapa yang harus menyerahkan/mengirimkan formulir, kepada
siapa lembar salinan dikirimkan, berapa kopiform yang harus diisi, siapa yg hrs
menandatangani dan semacamnya. Intruksi tidak boleh diletakkan diantara
ruang-ruang atau entry, karena hal ini membuat formulir terkesan berantakan
dan mempersulit pengisisan. Formulir yang baik harus bersifat self instruction,
artinya harus berisi intruksi- intruksi yang jelas bagi pengisi untuk menuliskan
data tanpa harus bertanya lagi.

4) Body (Badan)
Badan (body) merupakan bagian dari badan formulir yang disediakan
khusus untuk pekerjaan substantive formulir yang sesungguhnya dalam
menyusun urut-urutan data harus logis, sistematis, konsisten, sehingga mudah
untuk dibaca dan dipahami.
Pertimbangan lain yang harus diperhatikan dalam satu badan formulir
meliputi:
a) Margin
Punggung (samping kiri): 2 cm (untuk lubang)
Atas : 2,5 cm (untuk nama dan logo)
Samping : 2 cm beri warna
Bawah :1,5 – 2 cm (kode file, nomor, tahun pembuatan)
b) Spacing
1) Horizontal spacing disediakan 1/12” untuk huruf “elite”,1/10 untuk
huruf “pica”.
2) Vertical spacing terdapat enam garis vertical setiap inci pada mesin
ketik standart, elite atau pica. Berikan 1/16” atau kelipatannya, untuk
setiap baris pengetikan.
3) Untuk spasi yang dibuat dengan tulisan tangan, berikan horizontal
spacing 1/10” sampai 1/12” perkarakter verticalvertical spacing ¼” ¼”
sampai 1/3”. Spasi antar baris dan spasi antar karakter pada formulir
sampai 1/3”. Spasi antar baris dan spasi antar karakter pada formulir
harus diperhatikan, terutama bila formulir akan diisi dengan data yang
dicetak dengan mesin.
c) Rules atau garis
Rules adalah sebuah garis vertical atau horizontal. Garis ini bisa
langsung, terputus-putus atau paralel berdekatan yang melayani berbagai
tujuan.
d) Type style atau jenis huruf
Jenis huruf penting dalam hal keterbacaan dan penonjolan untuk
satu formulir yang paling baik adalah menggunakan sedikit mungkin jenis
dan ukuran huruf. Item-item dengan tingkat kepentingan yang sama
hendaknya dicetak dengan huruf yang sama disemua bagian formulir.
e) Cara pencatatan
Cara pencatatan dapat dilakukan dengan tulisan tangan, atau computer.
5) Penutup (close)
Komponen utama terakhir formulir kertas adalah ”close” atau penutup,
merupakan ruangan yang disediakan untuk tanda tangan otentikasi dan ketik
persetujuan.

b. Aspek Fisik

1) Warna
Pertimbangan harus diberikan kepada pengguna warna dan jenis tinta yang
disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan dalam merancang desain
formulir. Penggunaan warna membantu mengidentifikasi dengan cepat
formulir yang dipergunakan. Warna yang baik adalah warna yang datanya
mudah dibaca, terutama bila menggunakan karbon. Warna yang baik adalah
warna yang cerah.

2) Bahan
Yang harus diperhatikan dalam penelitian bahan adalah berat kertas dan
kualitas kertas yang berkaitan dengan permanency atau penyimpanan.

3) Ukuran
Ukuran yang digunakan adalah ukuran praktis yang disediakan dengan
kebutuhan isi formulir. Usahakan ukuran kertas yang digunakan berupa ukuran
kertas standar dan banyak dijual. Jika kertas tidak standar, sebaiknya dibuat
ukuran yang merupakan kelipatan yang tidak membuang kertas, seperti ukuran
standar dibagi 2,3,4 dst.

4) Bentuk
Menyatakan bentuk (vertikal, horizontal, dan persegi panjang). Beberapa
faktor harus dipertimbangkan di dalam pemilihan kertas yang akan digunakan,
yaitu :
a) Lama formulir akan disimpan
b) Penampilan dari formulir
c) Banyak formulir tersebut ditangan
d) Bagaimana penanganannya (halus, kasar, dilipat, atau dibawa-bawa oleh
pemakainya)
e) Kemudahan untuk digunakan
f) Tahan lamanya untuk pengisian yang lama
g) Lingkungan (minyak, kotor, panas, dingin, lembab, dll)
h) Metode untuk pengisian data di formulir (tulis tangan, mesin)
i) Keamanan terhadap pudarnya data semakin lama formulir akan disimpan,
formulir tersebut harus semakin baik. Semakin sering digunakan, kelas
kertas harus semakin baik pula.

c. Aspek Isi
Analisis berdasarkan aspek isi dilihat dari isi data pada formulir rekam medis
tersebut. Menurut Huffman (1994) bagian isi formulir terdiri dari item, istilah,
singkatan, dan simbul yang digunakan dalam formulir rekam medis tersebut. Untuk
penjelasan selanjutnya ada di bawah ini:

1) Kelengkapan Item atau Butir Data Item

Item-item yang tercantum pada formulir harus selengkap-lengkapnya agar


informasi yang dibutuhkan dapat terpenuhi. Item ini menyesuaikan pada struktur
data atau isi data rekam medis yang telah ditentukan. Misalnya struktur data
rekam medis rawat jalan adalah UACDS, ataukah kombinasi dengan dasar
hukum terkait dengan isi rekam medis rawat jalan seperti yang ada pada
Permenkes 269 tahun 2008.

2) Terminologi Data
Ada tidaknya istilah bahasa medis yang tidak diketahui oleh orang awam yang
perlu diberi keterangan dalam Bahasa Indonesia dan dengan bahasa yang mudah
dimengerti.

3) Singkatan
Demikian juga dengan singkatan, penggunaan singkatan dalam desain formulir
harus meggunakan singkatan yang standar. Singkatan tersebut harus disepakati
dan dipahami oleh seluruh sumber daya di rumah sakit. Beberapa contoh
singkatan yang sering digunakan untuk membuat formulir atau ketika mengisi
formulir rekam medis adalah: Lk (Laki-Laki), Pr (Perempuan), Tgl (tanggal),
CKR (cidera Kepala ringan), dan lain-lain.
4) Simbol
Penggunaan simbol dalam formulir rekam medis harus sesuai dengan standar
yang ada, masing-masing rumah sakit memiliki stardar masing-masing untuk
simbol yang digunakan dalam formulir. Untuk menyeragamkan adanya simbol
memerlukan surat keputusan mengenai penggunaan simbol yang ada.

4. Pengendalian dokumen rekam medis


Didalam desain formulir rekam medis kertas, pengendalian formulir mencakup 4 hal,
yaitu :

a. Inventarisasi Formulir
Langkah pertama dalam penerapan kontrol formulir adalah mendapatkan inventory
semua formulir. Inventarisasi ini kemudian harus dijaga supaya selalu up to date.
Sebuah inventarisasi berisi file riwayat formulir dan file subjek/judul formulir.

b. Identifikasi Formulir
Pemberian nomor pada setiap penerbitan formulir. Identifikasi formulir dapat dilihat
pada master formulir.
Selain pemberian kode identifikasi tersebut, pada kegiatan identifikasi formulir ini
dilakukan dengan pembuatan register yang berisi item:
1) Nomor Formulir
2) Judul Formulir
3) Ukuran Formulir
4) Tanggal Penerbitan Formulir
5) Tanggal Revisi Formulir
6) Unit/Instalasi yang Mengeluarkan Formulir

c. Analisis Formulir
Menurut Huffman (1994) analisis formulir terdiri dari review dan revisi
formulir, konfirmasi data, dan menantang formulir dengan membuat pengguna
memikirkan keperluan dan biaya-biaya masing-masing item. Kegatan analisis
formulir ini dapat dibuktikan dengan lembar evaluasi formulir rekam medis.
d. Pembelian
Menurut Huffman (1994) bagian pembelian dan percetakan harus bekerja
dengan prinsip yang sama yaitu bahwa tidak satupun formulir boleh dipesan, dipesan
ulang, atau diubah tanpa persetujuan pimpinan komite formulir yang sesuai atau yang
mewakilkannya.

D. Sistem Pelaporan Dan Statistik Rumah Sakit

1. Sistem Pelaporan Rumah Sakit


Sistem pelaporan rumah sakit merupakan bagian dari sistem informasi rumah
sakit berbagai data tentang kegiatan rumah sakit dikumpulkan untuk mewujudkan
sistem ini. Data tersebut dikumpulkan melalui berbagai formulir standart sesuai dengan
frekuensi dan periodenya.
Menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No 691 A /Menkes/SK/XII/84
tentang pembakuan sistem pelaporan rumah sakit merupakan landasan di dalam upaya
memantapkan sistem informasi rumah sakit, karena salah satu modal utama untuk
menunjang kelancaran informasi adalah tersedianya data dasar dari unit pelapor.

2. Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS Online)


Informasi adalah data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti.Data
merupakan sumber informasi.Data adalah kenyataan yang menggambarkan suatu
kejadian-kejadian (even) dan kesatuan nyata (fact and entity).Kualitas suatu informasi
tergantung pada empat hal, yaitu informasi yang akurat (accurate), tepat pada waktunya
(timely basic), relevan (relevance) dan lengkap.
Sistem menurut Jogianto (2005:2) adalah sekumpulan elemen – elemen yang
berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan, yang menggambarkan suatuvkejadian –
kejadian yang nyata, seperti tempat, benda, dan orang – orang yang betul – betul ada
dan terjadi. Sedangkan menurut Indrajit (2001:2), sistem adalah kumpulan – kumpulan
dari komponen – komponen yang memiliki unsur keterkaitan satu sama lain.
Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) adalah suatu proses pengumpulan,
pengolahan dan penyajian data rumah sakit se-Indonesia. Sistem Informasi ini
mencakup semua Rumah Sakit umum maupun khusus, baik yang dikelola secara publik
maupun privat sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit. SIRS yang berlaku saat ini adalah SIRS revisi 6
tahun 2011. Rangkaian Proses Data Pelaporan Rumah Sakit dikirimkan dari Rumah
Sakit ke Dinas Kesehatan Provinsi & Dinas Kesehatan Kabupaten atau Kota. Selain itu
juga dibutuhkan pelaporan dari Rumah Sakit ke Kementrian Kesehatan RI.
Aplikasi SIRS berbasis Online, untuk itu setiap rumah sakit harus terlebih dahulu
melakukan registrasi di situs resmi Direktorat Jendral Bina Upaya Kesehatan dari
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui alamat http://buk.depkes.go.id/
a. Sifat Pelaporan Sistem Informasi Rumah Sakit
Sifat pelaporan SIRS ditetapkan oleh Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan,
yaitu sebagai berikut :

1) Pelaporan yang bersifat terbaru.


Pelaporan yang bersifat terbaru yaitu pelaporan yang dilakukan setiap saat
(updated), ini ditetapkan berdasarkan kebutuhan informasi untuk pengembangan
program dan kebijakan dalam bidang perumahsakitan.

2) Pelaporan yang bersifat periodic


Pelaporan yang bersifat periodic yakni pelaporan yang dilakukan dua kali dalam
satu tahun yang terdiri dari laporan tahunan dan rekapitulasi laporan bulanan
(otomatis).

b. Jenis Pelaporan Sistem Informasi Rumah Sakit


Jenis laporan yang dibuat rumah sakit dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Laporan intern rumah sakit yaitu laporan yang dibuat sebagai masukan untuk
menyusun konsep Rancangan Dasar Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit,
Indikasi laporan adalah Sensus Harian, meliputi : Pasien masuk rumah sakit,
pasien keluar rumah sakit, pasien meninggal di rumah sakit, lamanya pasien
dirawat, hari perawatan, prosentase pemakaian TT, kegiatan persalinan, kegiatan
pembedahan dan tindakan medis lainnya, kegiatan rawat jalan penunjang

2) Laporan ekstern rumah sakit yaitu pelaporan yang wajib dibuat oleh rumah sakit
sesuai dengan peraturan yang berlaku, ditunjukkan kepada Departemen
Kesehatan RI, Kanwil Depkes RI (sekarang , Dinkes Propinsi, Dinkes
Kabupaten/kota Pelaporan yang dibuat sesuai kebutuhan Depkes RI, meliputi :
a) Data dasar rumah sakit (RL 1)
b) Data ketenagaan rumah sakit (RL 2)
c) Data kegiatan pelayanan rumah sakit (RL 3)
d) Data morbiditas dan mortalitas pasien (RL 4)
e) Data kunjungan dan 10 besar penyakit (RL 5)

3. Rekapitulasi Laporan (RL) Rumah Sakit


a. RL.1 (Data dasar rumah sakit)
1) RL1.1 (Data dasar rumah sakit)
adalah formulir untuk data dasar rumah sakit yang dilaporkan setiap waktu
apabila ada perubahan data rumah sakit. Pengisian dapat dilakukan di aplikasi
RS Online. Untuk data yang tidak ada tetap diisi dengan angka 0 (nol).
2) RL 1.2 (Indikator Pelayanan Rumah Sakit)
Pada formulir RL 1.2, yang harus diisi adalah BOR, LOS, BTO, TOI, NDR,
GDR dan Rata-rata kunjungan perhari selama 1 (satu) tahun serta rata-rata tiap
indikator.
3) RL 1.3 (Fasilitas Tempat Tidur Rawat Inap)
a) Yang dimaksud dengan jumlah tempat tidur adalah jumlah tempat tidur
yang tersedia pada ruang rawat inap. Jumlah tempat tidur ini bukanlah
kapasitas tempat tidur. Data tempat tidur diisi dengan jumlah TT
keseluruhan dan di kelompokkan berdasarkan perincian tempat tidur per-
kelas (VVIP, VIP, I,II,III dan Kelas Khusus) sesuai dengan jenis
pelayanan.
b) Untuk Data Tempat tidur, bagi Rumah Sakit yang tidak bisa
mengelompokkan jumlah tempat tidur per pelayanan rawat inap, maka
jumlah tempat tidur tersebut diletakkan pada jenis pelayanan umum.
c) Pelayanan rawat inap perinatologi adalah pelayanan rawat inap yang
khusus disediakan bagi bayi baru lahir.
d) Setiap Rumah Sakit Umum, minimal mempunyai ruang rawat inap umum,
obstetri dan perinatologi dengan jumlah tempat tidur tersendiri, oleh
karena itu setiap rumah sakit umum minimal mengisi jumlah tempat tidur
untuk pelayanan rawat inap umum, obstetri dan perinatologi.
e) Kecuali bagi Rumah Sakit Umum yang tidak mempunyai ruang rawat
obstetri tersendiri (tempat tidur untuk pasien obstetri digabung pada ruang
rawat inap umum) maka pada Rumah Sakit Umum tersebut hanya mengisi
alokasi tempat tidur pada Umum dan Perinatologi saja.
f) Yang dimaksud dengan jumlah tempat tidur adalah jumlah tempat tidur
yang tersedia pada ruang rawat inap. Jumlah tempat tidur ini bukanlah
kapasitas tempat tidur.
g) Jumlah tempat tidur tersebut tidak termasuk tempat tidur yang
dipergunakan untuk bersalin, kamar pemulihan (RR), kamar tindakan,
untuk pemeriksaan pada unit rawat jalan (Umum, Spesialisasi dan
subspesialisasi serta unit rawat jalan gigi) dan klinik unit rawat darurat.
h) Jumlah tempat tidur untuk jenis pelayanan ICU, ICCU dan NICU/PICU
diisi jika Rumah Sakit tersebut sudah mempunyai ruang rawat inap
tersendiri dengan tempat tidur dan peralatan khusus untuk pelayanan ICU,
ICCU dan NICU/PICU tersebut.
i) Untuk Rumah Sakit Khusus yang hanya melayani satu jenis pelayanan
spesialisasi, jumlah tempat tidur dilaporkan pada masing-masing ruang
rawat inap yang sesuai dengan spesialisasinya.

b. Formulir Data Ketenagaan (Formulir RL 2):


Formulir RL 2 merupakan data rekapitulasi semua tenaga yang ditetapkan
resmi bekerja di suatu rumah sakit (full time) berdasarkanmjenis kelamin sesuai
dengan keadaan, kebutuhan dan kekurangan dalam rumah sakit tersebut, dan
dilaporkan satu kali dalam setahun paling lambat tanggal 15 bulan Januari tahun
setelah tahun periode pelaporan. Yang dimaksud dengan tenaga rumah sakit adalah
semua jenis tenaga yang bekerja di rumah sakit baik tenaga kesehatan seperti :
tenaga medis, kefarmasian, kesehatan masyarakat, gizi, keterapian fisik, keteknisian
medis maupun tenaga non kesehatan.

c. Formulir RL 3 (Pelayanan Rumah Sakit)


Formulir RL3 adalah formulir yang berisikan data kegiatan pelayanan rumah sakit,
yang dilaporkan satu kali dalam setahun, paling lambat tanggal 15 bulan Januari
tahun setelah tahun periode pelaporan.
1) Formulir Data Kegiatan Pelayanan Rawat Inap (Formulir RL 3.1)
Beberapa hal yang harus diketahui dalam pengisian formulir RL3 sebagai
berikut :
a) Jenis pelayanan rawat inap disuatu Rumah Sakit diisi sesuai dengan jenis
pelayanan yang diberikan pada pasien.
b) Untuk Rumah Sakit yang mempunyai ruangan sesuai spesialisasinya, harus
mengisi jenis pelayanan sesuai dengan ruangan tersebut, sedangkan untuk
Rumah Sakit yang mempunyai satu ruangan dengan berbagai jenis
pelayanan maka mengisikan data pada jenis pelayanan umum.
c) Untuk Rumah Sakit Khusus yang hanya memiliki satu jenis pelayanan
spesialisasi (rumah sakit Jiwa, rumah sakit Mata, rumah sakit Kusta, rumah
sakit Tuberkulosa Paru dsb.), kegiatan rawat inap dilaporkan pada masing-
masing ruang rawat inap yang sesuai dengan spesialisasinya.
d) Pelayanan rawat inap disuatu Rumah Sakit mempunyai tingkatan pelayanan
yang diperinci menurut kelas perawatan. Kelas perawatan tersebut
ditentukan oleh masing-masing Rumah Sakit dan untuk standarisasi
berbagai kelas telah diadakan pengelompokan kelas perawatan.
e) Kelas Perawatan ruang rawat inap yang ada disuatu Rumah Sakit harus
tercermin pada pengisian RL3 halaman 1. Pengisian kelas perawatan pada
formulir RL3 harus sesuai dengan kelas perawatan yang dinyatakan pada
RL1.
f) Untuk beberapa jenis pelayanan rawat jalan tertentu antara lain KB, Jiwa,
Gigi dan Mulut, Radiologi, Unit Darurat, Rehabilitasi Medik harus
tercermin pula perincian kegiatannya pada paragraf yang relevan dihalaman
berikutnya dari formulir RL3 tersebut.

2) Formulir Pelayanan Rawat Darurat (RL 3.2)


a) Kasus-kasus Instalasi Rawat Darurat terdiri dari Kasus Bedah, Kasus Non
Bedah dan kasus kebidanan, kasus Psikiatrik, kasus Anak.
b) Total pasien untuk masing-masing kasus dibedakan, apakah pasien tersebut
pasien rujukan atau non rujukan.
c) Yang dimaksud “Rujukan” adalah jumlah banyaknya penderita yang datang
ke Instalasi Rawat Darurat melalui Rujukan dari instansikesehatan, petugas
kesehatan, polisi dan hukum.
d) Yang dimaksud dengan “Non Rujukan” adalah orang yang datang ke
Rumah Sakit atas kemauan sendiri/keluarga.
e) Tindak lanjut pelayanan pada pasien yang berkunjung ke Instalasi Rawat
Darurat disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya kemungkinan perlu
untuk dirawat, dirujuk ke Rumah Sakit lain atau pulang, atau kemungkinan
mati di Instalasi rawat Darurat (mati sebelum dirawat) atau mati di dalam
perjalanan (DOA/Death On Arrival).
f) Yang dimaksud dengan "Dirawat" adalah jumlah banyaknya penderita yang
setelah diperiksa memerlukan perawatan lebih lanjut pada satu tahun yang
bersangkutan.
g) Yang dimaksud dengan "Dirujuk" adalah jumlah penderita yang setelah
diperiksa perlu dirujuk ke rumah sakit yang lebih mampu pada satu tahun
yang bersangkutan.
h) Yang dimaksud dengan "Pulang" adalah jumlah banyaknya penderita yang
boleh pulang setelah diperiksa/diobati dalam satu tahun yang bersangkutan.
i) Yang dimaksud dengan "Mati di UGD" adalah jumlah penderita yang mati
sewaktu masih dalam pengawasan atau pemeriksaan unit rawat darurat
dalam satu tahun yang bersangkutan.
j) Yang dimaksud dengan "DOA (Death on Arrival)" adalah jumlah penderita
yang mati sewaktu masih dalam perjalanan ke Rumah Sakit dalam satu
tahun yang bersangkutan. Bagi Rumah Sakit yangtidak dapat memilah dan
menentukan jenis pelayanan pasien DOA,maka dimasukkan ke dalam jenis
pelayanan Non Bedah.
k) Total Pasien (Rujukan dan Non Rujukan) harus sama dengan Tindak Lanjut
Pelayanan (Dirawat + Dirujuk + Pulang + Mati di UGD + DOA).
l) Setelah masing-masing kolom diisi dengan lengkap maka
b) dijumlahkan kebawah untuk setiap kolom.
3) Formulir Kegiatan Kesehatan Gigi Dan Mulut (RL 3.3)

4) Formulir Kegiatan Kebidanan (RL 3.4)


Untuk kegiatan kebidanan, asal pasien dibedakan menjadi rujukan dan non-
rujukan. Untuk Rujukan dirinci menjadi Rujukan Medis yang terdiri dari
(Rujukan Medis Rumah Sakit, Bidan, Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan
Lainnya ) dan Rujukan Non Medis yang masing-masing dirinci menjadi jumlah
pasien dan jumlah yang mati. Untuk pasien yang tidak bisa dilayani rumah
sakit yang bersangkutan, jelaskan berapa pasien yang dirujuk keatas. Formulir
Kegiatan Kebidanan ini mencatat banyaknya kegiatan yang dilaksanakan dan
bukan pada jumlah pasien, maka dapat dipastikan terjadinya double counting
pasien kebidanan.
a) Persalinan
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan di rumah
sakit selama satu satu tahun. Jumlah persalinan harus sama dengan Jumlah
Persalinan Normal ditambah dengan Persalinan Komplikasi ditambah
dengan Sectio Cesarea.
i. Persalinan normal
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan normal
pervaginam di rumah sakit selama satu satu tahun baik spontan,
forceps maupun vakum ekstraksi, dengan atau tanpa komplikasi.
ii. Sectio Caesaria
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan dengan
sectio caesaria dengan komplikasi di rumah sakit selama satu satu
tahun.
iii. Persalinan dengan komplikasi
Diisi dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan dengan
komplikasi di rumah sakit selama satu satu tahun berjalan, baik
pervaginam ataupun dengan sectio caesaria.
b) Persalinan dengan komplikasi
Jumlah persalinan dengan komplikasi harus sama dengan
penjumlahan dari perdarahan sebelum persalinan sampai dengan lain-lain,
terdiri dari :
i. Perdarahan sebelum persalinan
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan
dengan perdarahan sebelum persalinan di rumah sakit selama satu
satu tahun.
ii. Perdarahan sesudah persalinan
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan
dengan perdarahan sesudah persalinan.
ii. Pre eclampsi
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan
dengan komplikasi pre eclampsi.
iii. Eclampsi
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan
dengan komplikasi eclampsi.
iv. Infeksi
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan
dengan komplikasi infeksi.
v. Lain-lain
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang melahirkan
dengan komplikasi lainnya.
c) Abortus
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya orang yang mengalami
keguguran di rumah sakit selama 1 satu tahun
d) Immunisasi terdiri dari TT1 dan TT2
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya kegiatan immunisasi yang
dilakukan selama satu satu tahun yang dirinci menurut jenis imunisasi
yaitu TT1 dan TT2 baik yang berasal dari rujukan maupun non rujukan.

5) Formulir Kegiatan Perinatologi (RL 3.5)


a) Bayi Lahir Hidup, diisi sesuai dengan jumlah banyaknya bayi lahir hidup
di rumah sakit selama satu satu tahun dengan kelahiran bayi :
i. < 2500 gr, diisi sesuai dengan jumlah banyaknya bayi lahir hidup
dengan berat badan kurang dari 2500 gr yang berasal dari rujukan
medis dan non medis, maupun non rujukan serta jumlah yang mati.
ii. ≥ 2500 gr, diisi sesuai dengan jumlah banyaknya bayi lahir hidup
dengan berat badan sama atau lebih dari 2500 gr yang berasal dari
rujukan medis dan non medis, maupun non rujukan serta jumlah
yang mati.
b) Kematian Perinatal
Diisi dengan jumlah banyaknya kematian perinatal di rumah sakit selama
satu satu tahun yang terdiri dari :
i. Kelahiran mati, diisi sesuai dengan jumlah banyaknya bayi lahir
mati yang berasal dari rujukan maupun non rujukan
ii. Mati Neonatal < 7 hari, diisi sesuai dengan jumlah banyaknya bayi
lahir mati neonatal < 7 hari yang berasal dari rujukan maupun non
rujukan.
c) Sebab Kematian Perinatal
Diisi sesuai dengan jumlah banyaknya kematian perinatal yang berasal
dari rujukan maupun non rujukan dengan jumlah sebab kematian sebagai
berikut :
i. Asphyxia
ii. Trauma Kelahiran
iii. BBLR
iv. Tetanus neonatorum
v. Kelainan Kongenital
vi. ISPA
vii. Diare
viii. Lain-Lain

6) Formulir Kegiatan Pembedahan (RL 3.6)


Kegiatan yang dilaporkan meliputi tindakan operasi menurut golongan
operasi dan spesialisasi. Untuk golongan operasi dibedakan menjadi 4 kategori
yaitu operasi khusus, operasi besar, operasi sedang dan operasi kecil.
Penentuan golongan operasi disesuaikan dengan kebijakan di Rumah Sakit
masing-masing. Spesialisasi yang dilaporkan diperinci sebagai berikut:
i. Bedah
ii. Bedah Anak
iii. Obstetrik dan Ginekologi
iv. Kardiovaskuler
v. Bedah Saraf
vi. Bedah Orthopedi
vii. THT
viii. Thorak
ix. Mata
x. Digestive
xi. Kulit dan Kelamin
xii. Urologi
xiii. Gigi dan Mulut
xiv. Lain-lain

7) Formulir Kegiatan Radiologi (RL 3.7)


Yang dimaksud dengan Kegiatan Radiologi adalah semua kegiatan
Radiodiagnostik, Radiotherapi, Kedokteran Nuklir dan Imaging/Pencitraan
yang dilakukan oleh Rumah Sakit, tidak terbatas pada kegiatan yang dilakukan
pada Bagian Radiologi saja tapi juga termasuk kegiatan seperti tersebut diatas
yang dilakukan di bagian lain dilingkungan Rumah Sakit yang bersangkutan.

8) Formulir Pemeriksaan Laboratorium (RL 3.8)


Kegiatan pemeriksaan Patologi Klinik terdiri dari:
a) Pemeriksaan Hematologi (antara lain : Sitologi Sel Darah, Sitokimia
Darah, Analisa Hb, Perbankan Darah, Hemostasis dan Kelompok
pemeriksaan lain)
b) Pemeriksaan Kimia Klinik (antara lain : Protein dan NPN, Karbohidrat,
Lipid, Lipoprotein, Apoprotein, Enzim, Mikronutrient dan Monitoring
kadar terapi obat, Elektrolit, Fungsi Organ, Hormon dan Fungsi Endokrin
serta Kelompok pemeriksaan lain), 2 s/d 2.9.14

Untuk pemeriksaan laboratorium Patologi Klinik meliputi semua kegiatan


pemeriksaan laboratorium Patologi Klinik di Rumah Sakit yang total
kegiatannya akan terlihat pada lajur 99 Pengisian Formulir Pemeriksaan
Laboratorium harus sesuai antara jumlah di setiap point dengan jumlah sub
point dan jumlah sub sub point.

9) FormuFormulir Pelayanan Rehabilitasi Medik (RL 3.9)


Pelayanan Rehabilitasi Medik biasanya dilakukan pada Rumah Sakit Umum,
Rumah Sakit Orthopedi dan Prothese serta Rumah Sakit Jiwa dan Ruma Sakit
Kusta.

10) Formulir Kegiatan Pelayanan Khusus (RL 3.10)

11) Formulir Kegiatan Kesehatan Jiwa (RL 3.11)


Kegiatan yang termasuk didalamnya adalah kegiatan-kegiatan yang dilakukan
di poliklinik Psikiatri Rumah Sakit.
Data yang dilaporkan adalah jumlah kunjungan dari penderita-penderita yang
datang ke poliklinik Psikiatri tersebut untuk berbagai jenis terapi yaitu:
a) Psikotes, Konsultasi, Terapi Medikamentosa, Elektro Medik, Psikoterapi,
Playtherapy, Rehabilitasi Medik Psikiatrik.
b) Jika penderita hanya menerima satu jenis terapi maka catatlah jumlah
kunjungan tersebut pada salah satu jenis terapi yang dimaksud; tetapi jika
penderita dalam satu kunjungan memperoleh terapi lebih dari satu
macam, maka kunjungan tersebut dicatat pada terapi utama yang diterima
penderita tersebut pada saat kunjungan tsb.
12) Formulir Kegiatan Keluarga Berencana (RL 3.12)
Kegiatan Keluarga Berencana terdiri dari Konseling, KB Baru dengan Cara
Masuk, KB Baru dengan Kondisi, Kunjungan Ulang dan Keluhan Efek
Samping.
a) Konseling antara lain dilaksanakan pada saat Ante Natal Care (ANC),
Selama Persalinan, Pasca Persalinan.
b) KB Baru dengan cara masuk : bukan rujukan, rujukan rawat inap
danrujukan rawat jalan berdasarkan metoda kontrasepsi yang dipakai.
Catatan : Pengertian rujukan pada kegiatan Keluarga Berencana,termasuk
rujukan yang berasal dari rumah sakit itu sendiri (rawat inapmaupun
rujukan rawat jalan).
c) KB Baru dengan kondisi
Diisi jumlah peserta KB Baru dengan kondisi Pasca Persalinan, Abortus
dan lainnya berdasarkan metoda kontrasepsi yang dipakai.
d) Kunjungan Ulang
Diisi jumlah kunjungan ulang berdasarkan metoda kontrasepsi yang
dipakai.
e) Keluhan Efek Samping
Diisi jumlah keluhan efek samping dan keluhan efek samping yangn
dirujuk keatas, berdasarkan metoda kontrasepsi yang dipakai.
13) Formulir Kegiatan Obat, Penulisan Dan Pelayanan Resep (RL 3.13)
a) Pengadaan Obat
Data yang dilaporkan adalah jumlah item obat yang masuk dalam daftar
formularium dan jumlah item obat yang tersedia di rumah sakit.
 Golongan obat
Dibagi menjadi 3 golongan yaitu Obat Generik (mencakup
generik formularium dan generik non formularium), Obat Non-
Generik Formularium dan Obat Non Generik Non Formularium.
Penentuan Formularium disesuaikan dengan kebijakan Rumah Sakit
yang bersangkutan; jika Rumah Sakit yang bersangkutan tidak
memiliki Formularium maka dapat mengacu kepada Formularium di
Kementerian Kesehatan.
 Jumlah item obat
Diisi dengan jumlah item obat sesuai dengan kebutuhan rumah sakit.
 Jumlah item obat yang tersedia di rumah sakit
Adalah jumlah item obat yang saat laporan ini dibuat masih menjadi
stok rumah sakit.
 Jumlah item obat formularium tersedia di rumah sakit
Adalah jumlah item obat formularium yang saat laporan ini dibuat
masih menjadi stok rumah sakit.
b) Penulisan dan Pelayanan Resep
Data yang dilaporkan berdasarkan Asal Resep yang dirinci menjadi 3
yaitu :
 Resep dari Pasien rawat Jalan
 Resep dari IGD
 Resep dari Pasien rawat Inap, untuk resep yang diberikan secara
individual.

14) Formulir Kegiatan Rujukan (RL 3.14)

Kegiatan Rujukan untuk pengobatan/perawatan penderita akan tercermin


dalam pola pengiriman penderita dari suatu unit kepada unit yang lebih
mampu dan sebaliknya. Untuk dapat memperoleh informasi tentang pola
pengiriman penderita tersebut maka pada bab ini dimintakan data tentang
penderita rujukan dan penderita dirujuk.

a) Penderita rujukan artinya penderita yang diterima dari unit-unit yang


kurang mampu untuk mendapat pelayanan yang lebih baik pada unit
tersebut dan setelah selesai pengobatan dikirim kembali ke unit-unit
yang mengirim.
b) Penderita dirujuk artinya penderita yang dikirim dari suatu unit kepada
unit yang lebih mampu untuk mendapatkan pelayanan yang lebih
sempurna dan setelah
15) Formulir Cara Pembayaran (RL 3.15)
Diisi sesuai dengan Cara Pembayaran Pasien terdiri dari:
a) Membayar sendiri
Keluarga pasien membayar sendiri baik dengan tunai maupun non tunai
tanpa adanya peran serta dari pihak ke-3
b) Asuransi
 Pemerintah
 Swasta
c) Keringanan (cost sharing)
d) Gratis

d. Data Morbiditas Dan Mortalitas (RL 4)


Formulir RL 4 dibuat 2 kali dalam setahun, data yang dilaporkan sesuai dengan
keadaan pada tanggal 30 Juni dan tanggal 31 Desember serta dilaporkan setiap
tanggal 15 Juli dan 15 Januari kepada Ditjen Yanmed, Dinkes Propinsi Kesehatan
Kabupaten/Kota.

1) Data individual ketenagaan Rumah Sakit (RL 4a)


Formulir RL4a hanya untuk RS vertikal Depkes, dibuat satu kali dalam
setahun data yang dilaporkan sesuai dengan keadaan pada tanggal 31
Desember serta dilaporkan setiap tanggal 15 Januari kepada Ditjen Yanmed.

2) Formulir Data Keadaan Morbiditas Pasien Rawat Jalan rumah sakit (Formulir
RL 4b)
a) Formulir RL4b adalah formulir standar untuk data keadaan morbiditas
pasien rawat jalan yang merupakan formulir rekapitulasi dari jumlah
kasus baru dan jumlah kunjungan yang terdapat pada unit rawat jalan
Rumah Sakit untuk Tahunan.
b) Data dikumpulkan dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember
setiap tahunnya. Untuk semua kasus baru yang ada pada tanggal 1
Januari sampai dengan 31 Desember, dibuatkan rekapitulasinya dan
dilaporkan dengan mengisi formulir RL4b.
c) Pengelompokan jenis penyakit yang terdapat pada formulir RL4b disusun
menurut pengelompokan jenis penyakit sesuai dengan Daftar Tabulasi
d) Dasar KIP/10 dan penambahan kelompok DTD pada Gabungan Sebab
Sakit. Terdapat 19
e. Data Kegiatan Pelayanan Rumah Sakit (Formulir RL 5)
1) Formulir Pengunjung Rumah Sakit (Formulir RL 5.1)
a) Pengunjung Baru
Pengunjung Baru adalah pengunjung yang baru pertama kali datang ke
Rumah Sakit dan mendapatkan nomor rekam medis baru. Nomor rekam
medis diberikan hanya sekali seumur hidup. Pengunjung baru dapat
melakukan kunjungan di beberapa Poliklinik atau IGD sebagai
kunjungan baru dengan kasus baru.
b) Pengunjung Lama
Pengunjung Lama adalah pengunjung yang datang untuk kedua kali dan
seterusnya, yang datang ke poliklinik yang sama atau berbeda sebagai
kunjungan lama atau kunjungan baru dengan kasus lama dan kasus baru.
Pengunjung lama tidak mendapat Nomor Rekam Medis lagi.

2) Formulir Kunjungan Rawat Jalan (Formulir 5.2)


a) Kunjungan Rawat Jalan
Kunjungan rawat jalan adalah jumlah kunjungan baru dan kunjungan
lama di Rawat jalan
b) Kunjungan Baru
Adalah pasien yang pertama kali datang ke salah satu jenis
pelayanan rawat jalan, pada tahun yang sedang berjalan.
c) Kunjungan Lama
Adalah kunjungan berikutnya dari suatu kunjungan baru, padatahun yang
berjalan.
d) Jika suatu Rumah Sakit Umum hanya mempunyai satu poliklinik, maka
poliklinik tersebut dikategorikan sebagai unit rawat jalan UMUM dan
isilah dengan banyaknya kunjungan baru dan kunjungan ulang selama
satu tahun
e) Jika suatu Rumah Sakit Umum mempunyai unit rawat jalan UMUM dan
satu atau lebih unit rawat jalan (poliklinik) tertentu lainnya maka isilah
jumlah kunjungan baru dan jumlah kunjungan ulang masing-masing jenis
unit rawat jalan yang ada.
f) Untuk Rumah Sakit Khusus isilah jumlah kunjungan baru dan jumlah
kunjungan ulang pada jenis unit rawat jalan yang cocok untuk jenis
Rumah Sakitnya.
g) Jika suatu Rumah Sakit mempunyai pelayanan rawat jalan sub
spesialisasi maka dimasukkan dalam spesialisasinya.
h) Untuk pelayanan rawat jalan "DAY CARE" isilah sesuai dengan jumlah
pasien rawat siang yang datang ke Rumah Sakit dalam satu satu tahun
yang bersangkutan. Untuk pasien yang berkunjung ini biasanya diberikan
satu kali makan siang akan tetapi bukan merupakan pasien rawat inap
karena pasien tersebut datang pagi dan pulang di sore hari.

3) Formulir Daftar 10 Besar Penyakit Rawat Inap (Formulir 5.3)


Formulir RL 5.3 adalah formulir untuk data 10 besar penyakit rawat inap
rekapitulasi dari jumlah pasien keluar Rumah Sakit (hidup dan mati) untuk satu
tahun. Data dikumpulkan dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember
setiap

4) Formulir Daftar 10 Besar Penyakit Rawat Jalan (Formulir 5.4)


Formulir RL 5.4 adalah formulir untuk data 10 besar penyakit rawat jalan
rekapitulasi dari jumlah banyaknya kasus baru pada unit rawat jalan untuk satu
tahun. Data dikumpulkan dari tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember
setiap tahunnya.
4. Indikator-Indikator Pelaporan Di Pelayanan Kesehatan

a. BOR (Bed Occupancy Ratio)


BOR adalah angka penggunaan tempat tidur.Sedangkan menurut Depkes RI
(2005), BOR adalah presentase pemakaian tempat tidur pada satuan waktu
tertentu.Indikator ini memberikan gambaran tinggi rendahnya tingkat
pemanfaatan tempat tidur rumah sakit.Nilai parameter BOR yang ideal adalah
antara 60-85% (Depkes RI, 2005).

Rumus:

b. AvLOS (Average Length Of Stay)


AvLOS adalah rata-rata lamanya pasien dirawat.Sedangkan menurut Depkes RI
(2005), AVLOS adalah rata-rata lama rawat seorang pasien.Indikator ini
disamping memberikan gambaran mutu pelayanan, apabila diterapkan pada
diagnosis tertentu dapat dijadikan hal yang perlu pengamatan yang lebih
lanjut.Secara umum, nilai AVLOS yang ideal antara 6-9 hari (Depkes, 2005).
Rumus:

c. TOI (Turn Over Interval)


TOI menurut Depkes RI (2005) adalah rata-rata hari dimana tempat tidur tidak
ditempati dari telah diisi ke saat terisi berikutnya.Indikator ini memberikan
gambaran tingkat efisiensi penggunaan tempat tidur.Idealnya tempat tidur kosong
tidak terisi pada kisaran 1-3 hari.
Rumus :

d. BTO (Bed Turn Over)


BTO adalah angka perputaran tempat tidur. Menurut Depkes RI (2005), BTO
adalah frekuensi pemakaian tempat tidur pada satu periode, berapa kali tempat
tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu.Idealnya dalam satu tahun, satu
tempat tidur rata-rata dipakai 40-50 kali.
Rumus:

e. NDR (Net Death Rate)


NDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian 48 jam setelah dirawat
untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar.Indikator ini memberikan gambaran mutu
pelayanan di rumah sakit.Angka dianjurkan kurang dari 25 per 1000 penderita
keluar.
Rumus:

f. GDR (Gross Death Rate)


GDR menurut Depkes RI (2005) adalah angka kematian umum untuk setiap 1000
penderita keluar.Angka dianjurkan kurang dari 45 per 1000.
Rumus:

5. Grafik Barber Johnson


Barry Barber, MA, PhD, Finst P, AFIMA dan David Johnson, MSc pada tahun
1973 berhasil menciptakan suatu grafik yang secara visual dapat menyajikan dengan
jelas tingkat efisiensi baik dilihat dari sudut pandang medis maupun ekonomi. Sudut
pandang medis dimaksudkan, terkait dengan mutu pelayanan medis dan sudut pandang
ekonomi, yaitu terkait dengan pendayagunaan sarana yang ada.
Penciptaan ini merupakan suatu usaha untuk mendayagunakan statistik rumah sakit
dalam rangka memenuhi kebutuhan pihak manajemen akan indikator efisiensi
pengelolaan rumah sakit. Barber dan Johnson menjelaskan bagaimana pemakaian
empat parameter sebagai salah satu indikator efisiensi pengelolaan rumah sakit dan ke
empat parameter tersebut dapat digambarkan dalam satu grafik secara bersamaan.
Adapun ke empat parameter tersebut adalah:
a) Lamanya rata-rata pasien dirawat / lengh of stay / average length of stay (LOS/
AvLOS)
b) Lamanya rata-rata tempat tidur tidak terisi (kosong) / turn over interval (TOI)
c) Persentase tempat tidur yang terisi atau percentage bed occupancy (BTO)
d) Pasien dirawat yang keluar dalam keadaan hidup dan yang meninggal (discharges)
per tempat tidur (yang siap pakai) selama setahun atau bed turn over rate atau
throughput. (BOR)\

Makna Grafik Barber Johnson

a) Semakin dekat titik/ garis percentage bed occupancy dengan sumbu Y, maka
percentage bed occupancy semakin tinggi.
b) Semakin dekat garis throughput dengan perpotongan sumbu X dan Y, maka
menunjukkan bahwa discharges dan deaths per available bed (throughput)
semakin tinggi jumlahnya.
c) Jika rata-rata turn over interval tetap, tetapi length of stay berkurang, maka
percentage bed occupancy-nya akan menurun (Benjamin dan Perkins, 1961).
d) Bila mana turn over interval tinggi, kemungkinan disebabkan karena organisasi
yang kurang baik, kurangnya permintaan (demand) akan tempat tidur atau
kebutuhan tempat tidur darurat (the level and pattern of emergency bed
requirements). Turn over interval yang tinggi dapat diturunkan dengan
mengadakan perbaikan informasi, tanpa mempengaruhi length of stay.
e) Bertambahnya length of stay disebabkan karena kelambanan administrasi
(administrative delays) di rumah sakit, kurang baiknya perencanaan dalam
memberikan pelayanan kepada pasien (patient scheduling) atau kebijaksanaan di
bidang medis ( medis policy).
f) Daerah efisien adalah daerah yang dibatasi oleh nilai:
 Turn over interval antara 1 s/d 3 hari
 Percentage bed occupancy minimal 75 %

Penggunaan Grafik Barber Johnson

Grafik Barber Johnson sangat bermanfaat untuk mengadakan perbandingan atau


dapat digunakan sebagai alat untuk membantu menganalisis, menyajikan, dan
mengambil keputusan mengenai:
a) Perbandingan dalam kurun waktu
Pergerakan ke empat parameter secara trend dalam periode waktu tertentu.
b) Memonitor kegiatan
Memonitor kecenderungan perkembangan kegiatan di dalam rumah sakit.
c) Perbandingan antar rumah sakit
d) Meneliti akibat perubahan kebijaksanaan
e) Mengecek kesalahan laporan

Nilai-nilai dari ke empat parameter saling terkait. Sehingga apabila ada nilai yang
salah di antara keempatnya, maka akan berdampak pada visualisasi pada grafik Barber
Johnson yang janggal/keliru

E. Konsep Dasar Statistik Pelayanan Kesehatan


1. Statistik Kesehatan
Statistik berasal dari bahasa latin yaitu “status” atau “state” yang artinya adalah
negara. Pada awalnya statistik hanya digunakan untuk kepentingan negara, misalnya
statistik jumlah tenaga kerja, statistik kependudukan dan lain sebagainya. Statistik pada
awalnya hanya mencakup angka-angka yang kadang-kadang membosankan. Tetapi
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi, statistik tidak hanya terkait
dengan angka-angka, tetapi sudah merupakan suatu konsep atau metode untuk
mengumpulkan dan menginterpretasikan data. Beberapa pengertian statistika, yaitu :
a. Statistika merupakan kumpulan angka yang dihasilkan dari pengukuran dan atau
perhitungan yang disebut data
b. Dapat pula diartikan sebagai statistik sampel
c. Merupakan sekumpulan konsep dan metode yang digunakan utk mengumpulkan
dan menginterpretasikan data tentang bidang kegiatan tertentu dan mengambil
kesimpulan dalam situasi dimana ada kepastian dan variasi.
Statistik kesehatan adalah data atau informasi yang berkaitan dengan masalah
kesehatan. Statistik kesehatan sangat bermanfaat untuk kepentingan administratif,
seperti merencanakan program pelayanan kesehatan, menentukan alternatif
penyelesaian masalah kesehatan, dan melakukan analisis tentang berbagai penyakit
selama periode waktu tertentu. Statistik kesehatan dikenal dengan istilah “Biostatistik”.
Biostatistik terdiri dari dua kata dasar yaitu bio dan statistik. Bio berarti hidup,
sedangkan statistik adalah kumpulan angka-angka. Sehingga secara harfiah biostatistik
adalah kumpulan angka-angka tentang kehidupan.

2. Pembagian Statistik
Statistik secara umum dibagi menjadi dua yaitu statistic deskriptif dan statistik
inferensial.
a. Statistik Deskriptif
Kegiatan mulai dari pengumpulan data, pengolahan, sampai mendapatkan
informasi dengan jalan menyajikan dan analisis data yang telah terkumpul. Tujuan
dari statistik deskriptif adalah memberikan gambaran tentang keadaan yang
berkaitan dengan penyakit atau masalah kesehatan berdasarkan data yang telah
dikumpulkan. Untuk data numerik informasi yang diberikan berupa perhitungan
nilai tengah (mean, median, modus), nilai variasi. Sedangkan untuk data kategori
informasinya adalah nilai proporsi/persentase.
b. Statistik Inferensial /Statistik Induktif
Tujuan dari statistik inferensial adalah untuk menarik kesimpulan cirri-ciri
populasi berdasarkan data yang diperoleh melalui sampel. Statistik inferensial
merupakan kumpulan cara atau metode yang dapat mengeneralisasikan nilai-nilai
dari sampel dikumpulkan menjadi nilai populasi. Hal ini dilakukan dengan
menggunakan uji hipotesis atau teori estimasi.

3. Sumber Data Statistik Rumah Sakit


a. Tempat Penerimaan Pasien Rawat Jalan
1) Register pendaftaran pasien
2) KIUP
b. Unit rawat jalan
1) Register rwat jalan
2) Sensus harian rawat jalan
3) Regsiter / catatan tindakan pelayanan
4) Rekapitulasi bulanan rawat jalan
c. Unit gawat darurat
1) Register pasien Gawat Darurat
2) Sensus harian Gawat Darurat
3) Register / catatan tindakan Gawat Darurat
d. TPPRI
1) Buku register pendaftaran rawat inap
2) Catatan penggunaan tempat tidur
e. Unit rawat inap
1) Sensus harian Rawat Inap
2) Buku register pasien rawat inap
3) Buku register persalinan dan abortus
4) Buku register tindakan medis
5) Rekapitulasi bulanan sensus rawat inap.
f. Instalasi pemeriksaan penunjang (IPP)
1) Register penerimaan specimen
2) Register pemeriksaan penunjang
3) Sensus harian pemeriksaan penunjang
g. Assembling
1) Catatan pengunaan formulir
2) Kartu kendali
h. Filling
1) Buku catatan peminjaman dok RM
2) Tracer
i. Koding indeksing
1) Indeks penyakit
2) Indeks kematian
3) Indeks operasi
4) Indeks dokter
5) Indeks bayi
6) Indeks kebidanan

4. Peran Statistik Kesehatan


a. Statistik kesehatan sangat bermanfaat untuk kepentingan administratif, seperti
merencanakan program pelayanan kesehatan, menentukan alternatif penyelesaian
masalah kesehatan dan melakukan analisis tentang berbagai penyakit selama periode
waktu tertentu. (time series analysis)
b. Statistik berperan untuk mengukur/menggambarkan status kesehatan
c. Untuk mengetahui besarnya masalah kesehatan
d. Sebagai Alat untuk melakukan monitoring dan evaluasi program kesehatan, yaitu
dengan melakukan analisa perbandingan dan analisa kecenderungan. Analisa
perbandingan dapat dilihat antar waktu dan antar tempat. Sedangkan analisa
kecenderungan dapat dilihat antar waktu. Misalnya kita ingin mengetahui berapa
jumlah kunjungan pasien ke rumah sakit X selama satu tahun.

5. Statistika Data Administrasi

a. Sensus Harian Pasien Rawat Jalan


Sensus harian bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai identitas pasien,
cara kunjungan, asal pasien, keadaan pasien, cara pembayaran dari setiap pasien
rawat jalan yang dilaani di masing-masing unit pelayanan. Kegunaan sensus harian
rawat jalan antara lain untuk mengetahui jumlah kunjungan, pasien keluar rumah
sakit, diagnosis penyakit dan menghitung penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sensus harian bertujuan memperoleh semua data pasien yang masuk dan keluar
rumah sakit selama 24 jam (Dirjen YanMed DepKes, 1989).
Mekanisme pengisian sensus harian rawat jalan berdasarkan buku pedoman
kegiatan pelayanan rumah sakit di indonesia tahun 1994:
a) Sensus harian diidi pada saat pasien datang di poliklinik untuk pemeriksaan.
b) Sensus harian untuk setiap hari ditutup pada pukul 13.30 WIB dan dibuat
laporan sensus harian yang bersangkutan, jika terdapat pasien yang masuk di
rumah sakit melewati jam tersebut maka dicatat pada sensus harian berikutnya.

b. Sensus Harian Pasien Rawat Inap


a) Definisi Sensus Harian Pasien Rawat Inap
Sensus harian rawat inap adalah jumlah pasien rawat inap yang ada pada
saat pengambilan sensus setiap harinya ditambah dengan pasien rawat inap yang
masuk dan keluar pada hari yang sama. Kegunaan sensus harian rawat inap
untuk mengetahui jumlah pasien yang sedang dirawat di rumah sakit, sarana
untuk mengontrol jumlah pasien masuk dan keluar, sumber data untuk pelaporan
rumah sakit. Berikut ini periode pengambilan sensus harian rawat inap (SHRI) :
1) Terhitung mulai jam 00.00 s/d 24.00
2) SHRI dibuat oleh perawat ruang rawat inap, bukan petugas rekam medis.
3) SHRI dikirim ke unit kerja rekam medis atau diambil oleh petugas rekam
medis pada jam 07.00
4) SHRI memuat informasi tentang jumlah pasien masuk, pindahan, keluar
hidup atau dirujuk, pasien meninggal.

b) Pengolahan Data Rekapitulasi Sensus Harian Rawat Inap


Rekapitulasi sensus harian rawat inap adalah formulir perantara untuk
menghitung dan merekap pasien rawat inap setiap hari yang diterima dari
masing-masing ruang rawat inap. Tujuannya adalah untuk memperoleh
informasi semua pasien yang dirawat inap di rumah sakit secara keseluruhan
maupun pada masing-masing ruang rawat inap dalam menunjang perencanaan,
pengawasan dan evaluasi (Depkes, 1994).
Kegunaan dari rekapitulasi sensus harian rawat inap menurut Depkes (1994)
adalah untuk :
1) Mengetahui jumlah pasien dirawat pada hari yang bersangkutan.
2) Mengetahui tingkat penggunaan tempat tidur.
3) Merupakan data dasar mengenai pasien dirawat pada hari yang
bersangkutan yang harus segera dikirim kepada Direktur Rumah Sakit,
Bidang Perawatan dan unit lain yang membutuhkan.
Dari pengolahan sensus harian rawat inap ini akan didapatkan nilai dari
indikator-indikator pelayanan rumah sakit. Indikator ini dapat dipakai untuk
mengetahui tingkat pemanfaatan, mutu, dan efisiensi pelayanan rumah sakit.

F. Sistem Pengkodean

Koding ICD-10 merupakan salah satu bagian dalam unit rekam medis yang bertugas
sebagai mencatat dan meneliti kode penyakit dan tindakan menggunakan ICD 10 dan ICD 9
CM. Dokumen rekam medis yang di berikan untuk di koding adalah dokumen yang sudah
lengkap.
Koding adalah pemberian penetapan kode dengan menggunakan huruf atau angka atau
kombinasi huruf dan angka yang mewakili komponen data. (DepKes, 1997)
Tugas pokok dari koding yakni mencatat dan meneliti kode penyakit dari diagnosis
yang ditulis dokter, kode operasi dari tindakan medis yang ditulis dokter atau petugas
kesehatan lainnya dan kode sebab kematian dari sebab kematian yang ditetapkan dokter.
Dalam menentukan kode diagnosis petugas rekam medis menggunakn ICD 10 untuk
menentukan kode diagnosis dan ICD 9 CM untuk menentukan kode tindakan.

Tata Cara Pengodean Penyakit pada Dokumen Rekam Medis

a. Tentukan tipe pernyataan yang akan dikode, dan buka volume 3 Alphabetical
Index (kamus). Bila pernyataan berkaitan denganistilah.
b. Penyakit atau cedera atau kondisi lain yang terdapat pada Bab I-XIX dan XXI (Vol.
1), gunakanlah ia sebagai “Lead Term” untuk dimanfaatkan sebagai panduan
menelusuri istilah yang dicari pada seksi I indeks (Volume 3). Bila pernyataan
berkaitan dengan penyebab luar (ExternalCause) dari cedera (bukan nama penyakit)
yang ada di bab XX (Vol. 1), lihat dan cari kodenya pada seksi II di indeks (Vol. 3).
c. “Lead term” (kata panduan) untuk penyakit dan cedera biasanya merupakan kata
benda yang memaparkan kondisi patologinya. Sebaiknya jangan menggunakan istilah
kata benda anatomi, kata sifat atau kata keterangan sebagai panduan. Namun
terkadang ada beberapa kondisi yang diekspresikan sebagai kata sifat atau Eponim
(menggunakan nama penemunya) sebagai “Lead Term”.
d. Baca dan ikuti petunjuk catatan yang muncul di bawah istilah yang akan dipilih pada
Volume 3.
e. Baca istilah yang terdapat dalam tanda kurung “( )” sesudah LeadTerm (kata dalam
kurung tidak akan mempengaruhi kode), demikian juga setiap istilah yang ada pada
baris indentasi di bawah Lead Term, sampai semua kata dalam diagnosis dicakup.
f. Ikuti secara hati-hati setiap rujukan silang (Cross References) dan perintah
”see”dan”see also” yang terdapat dalam indeks.
g. Rujuk ke Tabular List (Volume 1) untuk verifikasi ketepatan nomor kode yang
dipilih. Perhatikan juga perintah untuk membubuhi kode tambahan (Additional Code)
serta aturan cara penulisan dan pemanfaatannya dalam pengembangan indeks penyakit
dan dalam sistem pelaporan morbiditas dan mortalitas.
h. Ikuti pedoman/petunjuk istilah inklusi (Inclusion) dan eksklusi (Exclusion) di bawah
kode yang dipilih atau di bawah bab (Chapter), blok, kategori, atau subkategori.
i. Tentukan kode yang dipilih, kemudian cocokkan ke ICD-10 Volume 1 dengan
memperhatikan semua perintah, keterangan, Includes, Excluce, UseAdditionalCode
dan lain-lain yang menyertainya.

G. Sistem INA-CBG’s

Menurut Perpres No.12 Pasal 39 tahun 2013 mengenai Jaminan Kesehatan yaitu pola
pembayaran pada fasilitas lanjutan dengan INA-CBG’s. INA-CBG’s merupakan sistem
casemix yang diimlementasikan di Indonesia saat ini dasar pengelompokan dengan
menggunakan 14.500 kode ICD-10 untuk diagnosa dan 7.500 kode ICD-9 CM untuk
prosedur/tindakan.
Indonesia Case base groups merupakan tarifpaket, meliputi seluruh komponen biaya
rumah sakit yang berbasis pada data costing dan data coding penyakit. Besaran tarif dan
sistem secara periodic disesuaikan dam diperbaiki. Sistem ini sudah digunakan untuk pola
pembayaran program Jamkesmas dandigunakanpadaPelaksanaan JKN mulai 1 Januari 2014
meliputitarif CBGs kelas 1, II dankelas III. Sistem pembayaran pelayanan kesehatan secara
prospective dimana pembayaran/biaya ditentukan sebelum pelayanan diberikan. Tarif INA-
CBG’s merupakan tarif paket yang meliputi seluruh komponen sumber daya rumah sakit
yang digunakan dalam pelayanan baik medis maupun non-medis. Untuk rumah sakit yang
belum memiliki kelas, maka tarif INA-CBG’s yang digunakan setara dengan tarif rumah
sakit kelas D sesuai regionalisasi masing-masing. Penghitungan tarif INA-CBG’s berbasis
pada data costing dan data koding rumah sakit. Data costing didapat dari rumah sakit terpilih
representasi dari kelas rumah sakit, jenis rumah sakit maupun kepemilikan rumah sakit
(swasta/pemerintah) meliputi seluruh biaya yang dikeluarkan rumah sakit, tidak termasuk
obat yang sumber biayanya dari pemerintah (HIV, TB, dan yang lainnya). Data koding
diperoleh dari data koding rumah sakit.
Untuk mendapatkan hasil grouper yang benar diperlukan kerjasama antara dokter dan
koder. Kelengkapan rekam medis yang ditulis oleh dokter akan sangat membantu koder
dalam memberikan kode diagnosis dan tindakan/prosedur yang tepat (Kemenkes, 2014).
Dalam menjalankan sistem INA-CBG’s pihak rumah sakit harus membangun komunikasi
yang baik antara tim dokter dengan manajemen untuk mengurangi variasi pelayanan dan
pilih layanan yang paling cost efective dengan membuat dan menjalankan clinical pathway
serta mengedepankan kendali mutu dan kendali biaya, untuk menghasilkan pelayanan yang
bermutu, efisien dan cost effective (Kemenkes, 2014).
Tarif INA-CBG’s dalam program JKN berbasis pada data costing 137 RS Pemerintah
dan RS Swasta serta data coding 6 juta kasus penyakit. Ada sejumlah aspek yang
mempengaruhi besaran biaya INA-CBG’s, yaitu diagnosa utama, adanya diagnosa sekunder
berupa penyerta (comorbidity) atau penyulit (complication), tingkat keparahan, bentuk
intervensi, serta umur pasien. Tarif INA-CBG’s dibayarkan per-episode pelayanan
kesehatan, yaitu suatu rangkaian perawatan pasien sampai selesai. Dengan pola INA-CBG’s,
paket pembayaran sudah termasuk: konsultasi dokter, pemeriksaan penunjang (laboratorium,
radiologo, dll), obat Formularium Nasional (Fornas) maupun obat bukan Fornas, bahan dan
alat medis habis pakai, akomodasi atau kamar perawatan, biaya lainnya yang berhubungan
dengan pelayanan kesehatan pasien. Komponen biaya yang sudah termasuk ke dalam paket
INA-CBG’s, tidak dibebankan kepada pasien.