Anda di halaman 1dari 40

Laporan Kasus

Demam Berdarah Dengue (DBD)

Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat dalam Menjalani


Kepaniteraan Klinik Senior pada Bagian / SMF Ilmu Kesehatan Anak
Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Abulyatama
Rumah Sakit Umum Daerah Meuraxa Banda Aceh

Oleh :

Tiara Sundari
NIMP : 16174204

Pembimbing :

dr. Eka Yunita Amna, Sp. A

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABULYATAMA
RUMAH SAKIT UMUMDAERAH MEURAXA
BANDA ACEH
2018

1
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................................... i

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI ........................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. iv

DAFTAR TABEL ................................................................................................... v

BAB I LAPORAN KASUS ............................................................................... 1

BAB II ANALISIS KASUS ................................................................................ 13

2.1 Definisi .......................................................................................... 13


2.2 Epidemiologi ................................................................................. 14
2.3 Etiologi .......................................................................................... 16
2.4 Patofisiologi .................................................................................. 17
2.5 Perjalanan Penyakit ....................................................................... 19
2.6 Anamnesis ..................................................................................... 22
2.7 Pemeriksaan Fisik ......................................................................... 23
2.8 Pemeriksaan Penunjang ................................................................ 24
2.9 Diagnosa........................................................................................ 26
2.10 Diagnosa Banding ......................................................................... 29
2.11 Penatalaksanaan ............................................................................ 29
2.12 Komplikasi ..................................................................................... 33
2.13 Pencegahan ..................................................................................... 33
2.14 Prognosa .......................................................................................... 34
BAB III KESIMPULAN ................................................................................... 36

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ 37

2
BAB I
KASUS

1.1 IDENTITAS PASIEN

Nama : MA

Jenis Kelamin : Laki-laki

No CM : 07 31 09

Umur/Tgl Lahir : 11 tahun 1 bulan / 09 September 2007

Agama : Islam

Alamat : Punie – Darul Imarah, Aceh Besar

Masuk Perawatan : 12/10/2018

1.2 ANAMNESIS

A. Keluhan Utama

Demam sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.


B. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke IGD RSUD Meuraxa dibawa oleh keluarganya


dengan keluhan demam sejak 3 hari yang lalu. Demam tinggi timbul
mendadak dirasakan naik turun tidak tentu waktu. Demam dirasakan
cenderung naik pada malam hari dan turun pada pagi hari. Keluhan
demam disertai dengan keringat dingin (+), menggigil, badan terasa lemas
(+), sakit kepala (+), nyeri belakang mata (+), nyeri otot dan sendi, mual
(+), muntah (+) nyeri ulu hati (+), nafsu makan dan minum pasien
menurun. Keluhan gusi berdarah dan bibir pecah-pecah juga dirasakan
pasien. BAK dan BAB dalam batas normal.

Pasien sudah minum obat parasetamol, namun demam hanya turun


sebentar dan naik kembali. Riwayat anggota keluarga di rumah dan

3
tetangga dekat rumah yang mengalami sakit yang sama disangkal. Uji
tuorniquet (+).

C. Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

D. Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien.

E. Riwayat Kehamilan Ibu

Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit tertentu, tidak

meminum obat atau jamu selama kehamilan. Antenatal care teratur, periksa di

puskesmas, keguguran tidak pernah.BBL : 3100 gram.

F. Riwayat Kelahiran

Cukup bulan, lahir spontan pervaginam, ditolong bidan menangis spontan

dengan BBL : 3100 gram.

G. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Merangkak umur ± 6 bulan, duduk umur ± 9 bulan, berdiri umur ±

11bulan, berjalan umur ± 11 bulan, berbicara lancar umur ± 1 tahun 5 bulan.

H. Riwayat Imunisasi

BCG 1x, polio 4x, campak 1x, hepatitis B 3x, DPT 4x

Kesimpulan : riwayat imunisasi dasar anak lengkap, tetapi ibu lupa waktunya.

I. Riwayat Nutrisi

Pasien mendapatkan ASI eksklusif sampai 6 bulan, kemudian dilanjutkan

dengan susu formula. Sesuai dengan peraturan pemerintah Republik Indonesia

nomor 33 tahun 2012 tentang pemberian air susu ibu dalam pasal 1 ayat 2, bahwa

4
ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada bayi sejak dilahirkan selama 6

bulan, kemudian ibu pasien melanjutkan dengan susu formula. Tidak ada alergi

dan tidak ada diare saat peralihan ASI ke susu formula. Saat ini pasien makan tiga

kali sehari sesuai menu keluarga.

1.3 PEMERIKSAAN FISIK

A. Status Umum

- Keadaan umum : Tampak sakit sedang

- Kesadaran : Compos mentis.

B. Vital Sign

- Frekuensi Nadi : 100 kali/menit, reguler, kuat angkat, isi cukup.

- Pernafasan : 22 kali/menit, retraksi interkostal (-), simetris

dextra : sinistra.

- Suhu : 37,7oC (diukur pada aksila)

- TD : 118/73 mmhg

C. Status Gizi

Antropometri

- Tinggi badan : 145 cm (persentil >50)

- Berat badan : 39 kg (persentil >50)

- BB/U : 39/36 x 100% = 108% (Gizi Lebih)

- TB/U : 145/143 x 100% = 101% (Normal)

- BB/TB : 39/37 x 100% = 108,3% (Normal)

5
D. Status Generalisata

- Kepala :
o Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-).
o Wajah : Edema (-).
- Leher : Pembesaran KGB (-).
- Mulut : Hiperemis pharing (-), tonsil (T1/T1), lidah kotor (+).
- Telinga : Hiperemis (-/-), sekret (-/-), nyeri (-/-).
- Hidung : Hiperemis (-), sekret (+).
- Kulit : Sianosis (-).
- Jantung
o Inspeksi : Iktus kordis (-).
o Palpasi : Iktus kordis teraba, nyeri tekan (-).
o Perkusi : Batas jantung normal.
o Auskultasi : BJ 1 > BJ 2, murmur (-).
- Paru
o Inspeksi :Thoraks mengembang simetris, retraksi
intercostal(-).
o Palpasi : Fremitus takstil simetris.
o Perkusi : Sonor di kedua lapangan paru.
o Auskultasi : Vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-).
- Abdomen :
o Inspeksi : Distensi(-).
o Auskultasi : Peristaltik (+).
o Palpasi : Soepel, nyeri tekan epigastrium (+), hepar dan
lien tidak teraba.
o Perkusi : Timpani di seluruh lapangan perut.
- Ekstremitas : Akral hangat, edem tungkai (-).

6
1.4 DIAGNOSA BANDING

Febris ec dd 1. Demam Dengue

2. Demam Berdarah Dengue

3. Chikungunya

1.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG

Darah rutin tanggal 12/10/2018

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 3.7 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 4.94 10^/uL 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 13.7 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 39.9% (H) 34-39%
Trombosit 115 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL

1.6 ANJURAN PEMERIKSAAN PENUNJANG

IgG dan IgM anti-dengue

1.7 DIAGNOSA

Demam Berdarah Dengue

1.8 PENATALAKSANAAN

a. Terapi suportif.

- Bed rest.

- Periksa darah rutin 2x/hari.

- Edukasi untuk banyak minum.

7
b. Medikamentosa.

- IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

- Drip Paracetamol 500 mg jika >38.5oC

- Iv. Ondancetron 1 Amp/8 jam.

- Iv. Ranitidin 1 Amp/12 jam.

1.9 PROGNOSIS

Dubia ad Bonam

1.10 FOLLOW UP

(H+2) 13/10/2018

S: Demam (+), nafsu makan tidak ada, mual (+), muntah (+), Perdarahan gusi

(-), nyeri kepala (+), nyeri otot dan sendi (+), keringat dingin (+), mengigil (+),

nyeri ulu hati (+) BAK (+) BAB (+).

O: Nadi : 88x/menit

Pernafasan : 23 x/menit

Temperature : 38,6oC

Faring Hiperemis (+), Lidah Kotor (+)

A: Demam Berdarah Dengue

P: - IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

- Iv. Paracetamol 500 mg jika Temp 38.50C

- Iv. Ondancetron 1 Amp/8 jam.

8
- Iv. Ranitidin 1 Amp/12 jam.

Darah rutin tanggal 13/10/2018

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 4.7 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 6.13 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 16.7 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 48.6% (H) 34-39%
Trombosit 102 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL

IMUNOSEROLOGI HASIL NILAI RUJUKAN

Anti Dengue IgG Positif Negatif


Anti Dengue IgM Positif Negatif

(H+3) 14/10/2018

S: Demam (+), nafsu makan tidak ada, mual (-), muntah (+), Perdarahan gusi

(-), nyeri kepala (+), nyeri otot dan sendi (+), keringat dingin (+), mengigil (+),

nyeri ulu hati (+), gelisah (+), BAK (-) BAB (-).

O: Nadi : 110 x/menit

Pernafasan : 26 x/menit

Temperature : 38,9oC

A: Demam Berdarah Dengue

P: - IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

9
- Iv. Paracetamol 500 mg jika Temp 38.50C

- Iv. Ondancetron 1 Amp/8 jam.

- Iv. Ranitidin 1 Amp/12 jam.

Darah rutin tanggal 14/10/2018 Jam 06:30 WIB

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 3.0 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 6.04 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 16.5 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 48.5% (H) 34-39%
Trombosit 28 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL
Darah rutin tanggal 14/10/2018 Jam 12:30 WIB

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 3.4 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 6.17 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 16.6 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 48.6% (H) 34-39%
Trombosit 23 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL
Darah rutin tanggal 14/10/2018 Jam 23:30 WIB

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 3.6 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 6.08 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 16.7 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 48.1% (H) 34-39%
Trombosit 19 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL

10
Intruksi :

Guyur RL 450 cc

Transfusi TC 3 unit

PINDAH PICU !!

(H+4) 15/10/2018

S: Demam (-), nafsu makan tidak ada, mual (+), muntah (-), Perdarahan gusi

(-), nyeri kepala (+), nyeri otot dan sendi (+), keringat dingin (+), mengigil (+),

nyeri ulu hati (-) BAK (+) BAB (+).

O: Nadi : 90 x/menit

Pernafasan : 20 x/menit

Temperature : 37,2oC

A: Demam Berdarah Dengue

P: - IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

- Iv. Paracetamol 500 mg jika Temp 38.50C

- Iv. Ondancetron 1 Amp/8 jam.

- Iv. Ranitidin 1 Amp/12 jam.

11
Darah rutin tanggal 15/10/2018 Jam 23:30 WIB

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 4.2 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 5.88 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 16.0 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 46.5% (H) 34-39%
Trombosit 42 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL

(H+5) 16/10/2018

S: Demam (-), nafsu makan ada walaupun sedikit, mual (-), muntah (-),

Perdarahan gusi (-), nyeri kepala (↓), nyeri otot dan sendi (↓), keringat dingin (-),

mengigil (-), nyeri ulu hati (-) BAK (+) BAB (+).timbul ruam kemerahan pada

kaki dan tangan.

O: Nadi : 90 x/menit

Pernafasan : 20 x/menit

Temperature : 37,7oC

A: Demam Berdarah Dengue

P: - IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

- Iv. Paracetamol 500 mg jika Temp 38.50

- Iv. Ranitidin 1 Amp/12 jam.

12
(H+6) 17/10/2018

S: Demam (-), nafsu makan ada walaupun sedikit, mual (-), muntah (-),

Perdarahan gusi (-), nyeri kepala (↓), nyeri otot dan sendi (↓), keringat dingin (-),

mengigil (-), nyeri ulu hati (-) BAK (+) BAB (+), ruam kemerahan (+).

O: Nadi : 90 x/menit

Pernafasan : 20 x/menit

Temperature : 36,1oC

A: Demam Berdarah Dengue

P: - IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

- Iv. Paracetamol 500 mg jika Temp 38.50C

- Iv. Ranitidin 1 Amp/12 jam.

Darah rutin tanggal 17/10/2018

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 5.2 10^/uL 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 5.82 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 15.8 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 46.3% (H) 34-39%
Trombosit 36 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL

13
(H+7) 18/10/2018

S: Demam (-), nafsu makan ada walaupun sedikit, mual (-), muntah (-),

Perdarahan gusi (-), nyeri kepala (↓), nyeri otot dan sendi (↓), keringat dingin (-),

mengigil (-), nyeri ulu hati (-) BAK (+) BAB (+). Ruam kemerahan mulai (↓)

O: Nadi : 80 x/menit

Pernafasan : 20 x/menit

Temperature : 36,7oC

A: Demam Berdarah Dengue

P: - IUFD RL 20 Tpm.

- Paracetamol 3 x 500 mg PO.

- Vit B Comp 2x1

Darah rutin tanggal 18/10/2018

PEMERIKSAAN HASIL NILAI RUJUKAN

Leukosit 4.3 10^/uL (L) 5.0 – 14.5 10^/uL


Eritrosit 5.72 10^/uL (H) 3.90 – 5.00 10^/uL
Hemoglobin 15.5 g/dL (H) 10.5 – 13.0 g/dL
Hematokrit 44.8% (H) 34-39%
Trombosit 72 10^3/uL (L) 156 – 408 10^3/uL

14
BAB II

ANALISA KASUS

Pada kasus ini diagnosis pasien adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Jadi, untuk menegakkan diagnosis DBD tersebut perlu dilakukan pemeriksaan

dimulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.

2.1 DEFINISI

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut yang

disebabkan oleh virus dengue yang sekarang lebih dikenal sebagai genus

Flavivirus. Virus ini memiliki empat jenis serotipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3,

dan DEN-4. Antibodi yang terbentuk dari infeksi salah satu jenis serotipe tidak

memberikan perlindungan yang memadai untuk serotipe lain. Serotipe DEN-3

merupakan serotipe yang dominan dan paling banyak menimbulkan manifestasi

klinis yang berat.1,2

Virus dengue ditularkan kepada manusia terutama melalui gigitan nyamuk

Aedes aegypti. Nyamuk aedes dapat mengandung virus dengue pada saat

menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yakni dua hari sebelum

panas hingga 5 hari setelah demam timbul. Virus yang terdapat pada kelenjar liur

kemudian berkembang biak dalam waktu 8-10 hari dan selanjutnya dapat

ditularkan kepada manusia lain melalui gigitan. Sekali virus masuk dan

berkembang biak dalam tubuh nyamuk, nyamuk tersebut dapat menularkan virus

(infektif) sepanjang hidupnya.2,3

15
2.2 EPIDEMIOLOGI

Pada tahun 1950an, hanya sembilan negara yang dilaporkan merupakan

endemi infeksi dengue, saat ini endemi dengue dilaporkan terjadi di 112 negara di

seluruh dunia. World Health Organization (WHO) memperkirakan lebih dari 2,5

milyar penduduk berisiko menderita infeksi dengue. Setiap tahunnya dilaporkan

terjadi 100 juta kasus demam dengue dan setengah juta kasus demam berdarah

dengue terjadi di seluruh dunia dan 90% penderita demam berdarah dengue ini

adalah anak-anak dibawah usia 15 tahun.

Angka Insidensi (AI) Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia

cenderung mengalami peningkatan, berturut-turut pada tahun 2010-2012 adalah

sebesar 28%; 27,8%; 37,3% dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 45,9%.

Penderita DBD pada tahun 2011 sebanyak 65.725 kasus dengan jumlah

meninggal sebanyak 597 orang tersebar pada 31 provinsi, pada tahun 2012

meningkat menjadi 90.245 kasus dengan jumlah meninggal sebanyak 816 orang

tersebar pada 33 provinsi dan pada tahun 2013 jumlah kasus sebanyak 86.547

dengan jumlah meninggal sebanyak 647 orang tersebar pada semua provinsi

diIndonesia.7

Angka Insidensi DBD di Provinsi Aceh pada tahun 2012-2014 berturut-

turut 51%, menurun 29%, dan meningkat kembali 45%. Data surveilans Dinas

Kesehatan Provinsi Aceh menunjukkan kasus DBD berfluktuasi di berbagai

wilayah tiap tahunnya. Pada tahun 2012 – 2014 daerah endemis DBD di provinsi

Aceh yaitu Kota Lhokseumawe, Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar tahun

2012-2014 berturut-turut sebagai berikut: Kota Lhokseumawe 300, 258, 128; Kota

16
Banda Aceh 506, 258, 128 dan Kabupaten Aceh Besar 376, 156, 261. Angka

Bebas Jentik (ABJ) tahun 2012-2014 Kota Banda Aceh 75,9%, 74,5% dan 70,8%;

Kota Lhokseumawe 74,1%, 84,4% dan 82,6%; Kabupaten Aceh Besar 73,3%,

70,6% dan 85%.2 Penderita DBD dilaporkan sebanyak 1.510 kasus di Provinsi

Aceh pada tahun 2015, dengan jumlah kematian sebanyak 6 orang. Meningkat

pada tahun 2016 yaitu sebanyak 2.651 dengan jumlah kematian sebanyak 26

Kasus.8

Gambar 2.1 Jumlah kasus DBD berdasarkan puskesmas di Kabupaten Aceh

Besar Tahun 2013

Pada kasus ini pasien tinggal di Punie Darul Imarah Kabupaten Aceh

Besar, yang merupakan salah satu daerah endemis DBD pada Provinsi Aceh.

17
2.3 ETIOLOGI

Virus dengue termasuk group B anthropod-borne virus (arboviruses) dan

sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, famili Flaviviridae, yang mempunyai 4

jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Serotipe utama selama

beberapa tahun terakhir adalah DEN-2 dan DEN-3. Infeksi dari satu serotipe

memberikan imunitas seumur hidup terhadap serotipe tertentu tapi hanya beberapa

bulan imunitas terhadap serotipe lain. Seseorang yang tinggal di daerah endemis

dengue dapat terinfeksi dengan 3 atau bahkan 4 serotipe selama hidupnya.

Keempat jenis serotipe virus dengue dapat ditemukan di berbagai daerah di

Indonesia.1,4,5

Di Indonesia, pengamatan virus dengue yang dilakukan sejak tahun 1975

di beberapa rumah sakit menunjukkan bahwa keempat serotipe ditemukan dan

bersirkulasi sepanjang tahun. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan

dan banyak berhubungan dengan kasus berat. Vektor dari virus dengue adalah

nyamuk Aedes aegypti and Aedes albopictus. Hostnya adalah manusia yang

digigit oleh nyamuk betina dan masa inkubasinya selama 4-10 hari. Aedes aegypty

merupakan vektor epidemik yang paling penting disamping spesies lainnya seperti

Aedes albopictus, Aedes polynesiensis yang merupakan vektor sekunder dan

epidemi yang ditimbulkannya tidak seberat yang diakibatkan Aedes aegypty.1,2

18
2.4 PATOFISIOLOGI

Gigitan nyamuk Aedes menyebabkan infeksi di sel langerhans di

epidermis dan keratinosit. Kemudian menginfeksi sel - sel lainnya seperti

monosit, sel dendritik, makrofrag, sel endotelial dan hepatosit. Monosit dan sel

dendritik yang terinfeksi memproduksi banyak sitokin proinflammatori dan

kemokin yang selanjutnya mengaktivasi sel T yang diperkirakan menyebabkan

disfungsi endotelial. Disfungsi endotelial menyebabkan peningkatkan

permeabilitas pembuluh yang kemudian menyebabkan perembesan cairan di

pleura, rongga peritonium, dan syok. Sel endotelial juga dirangsang untuk

menimbulkan respons imun yang mengakibatkan permeabilitas vaskular

meningkat. 1,6

Patogenesis DHF belum jelas namun terdapat hipotesis yang mendukung

seperti heterologous infection hypothesis atau the sequential infection hypothesis

yang menyatakan bahwa DBD dapat terjadi apabila seseorang setelah terinfeksi

virus dengue pertama kali mendapatkan infeksi kedua dengan virus dengue

serotipe lain dalam jarak waktu 6 bulan sampai 5 tahun. Banyak para ahli

sependapat bahwa infeksi sekunder adalah penyebab beratnya manifestasi klinis

pada penderita DBD.1,4,6

19
Gambar 2.2 Hipotesis secondary heterologus infection.

Menurut hipotesis infeksi sekunder, sebagai akibat infeksi sekunder oleh

tipe virus dengue yang berbeda, respon antibodi anamnestik pasien akan terpicu,

menyebabkan proliferasi dan transformasi limfosit dan menghasilkan titer tinggi

IgG antidengue. Karena bertempat di limfosit, proliferasi limfosit juga

menyebabkan tingginya angka replikasi virus dengue. Hal ini mengakibatkan

terbentuknya kompleks virus-antibodi yang selanjutnya mengaktivasi sistem

komplemen. Pelepasan C3a dan C5a menyebabkan peningkatan permeabilitas

dinding pembuluh darah dan merembesnya cairan ke ekstravaskular. Hal ini

terbukti dengan peningkatan kadar hematokrit, penurunan natrium dan

terdapatnya cairan dalam rongga serosa.1,2

Infeksi sekuensial dengan serotipe dengue berbeda lebih rentan menjadi

bentuk penyakit lebih berat (demam berdarah dengue/sindrom syok dengue). Hal

ini dijelaskan dengan pembentukan kaskade cross-reactive antibodi heterolog

nonnetralisasi yang diperkuat, sitokin (seperti interferon gamma yang diproduksi

20
o lek sel T spesifik) dan aktivasi komplemen yang menyebabkan disfungsi

endotel, destruksi trombosit, dan koagulopati konsumtif.1,4

Pada kasus ini terjadi peningkatan kadar hematokrit yang sesuai

dengan teori patogenesis dari DBD. Akibat pelepasan C3a dan C5a

menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan

merembesnya cairan ke ekstravaskular.

2.5 PERJALANAN PENYAKIT

A. Fase Demam

Demam akut yang berlangsung 2-7 hari dan sering disertai muka

kemerahan, eritema kulit, nyeri seluruh badan, mialgia, atralgia dan sakit kepala.

Beberapa pasien dapat memiliki gejala sakit tenggorokan, faring hiperemis dan

injeksi konjungtiva. Anoreksia, mual dan muntah sering terjadi dan dapat sulit

dibedakan dengan demam non dengeu pada fase awal. Uji torniquet positif pada

fase ini meningkatkan kepastian dari dengue. Manifestasi perdarahan ringan

seperti petekie dan perdarahan membran mukosa (misal hidung dan gusi) dapat

terlihat. Gejala tidak khas seperti perdarahan vagina dan perdarahan

gastrointestinal dapat terjadi. Hati dapat membesar dan terasa sakit pada beberapa

hari sewaktu demam. Penurunan sel darah putih dapat memberikan tanda sebagai

infeksi dengue. Tanda dan gejala ini kurang dapat membedakan antara severe dan

non severe dengeu sehingga perlu monitoring lebih untuk berhati-hati dalam

menilai fase perkembangan ke fase kritis.2,4

21
Pada kasus ini fase demam terjadi pada hari rawatan pertama dan

kedua, pasien datang ke IGD RS Meuraxa pada hari demam yang ke empat

yang berarti fase demam terjadi ketika pasien telah mengalami demam selama

5 hari. Uji turniquet (+) dan terdapat gejala tidak nafsu makan, nyeri kepala,

nyeri otot dan sendi, mual muntah. Yang sesuai teori dari fase demam pada

DBD.

B. Fase Kritis

Pada tahap ini, demam masih berlangsung pada hari ke 3-7 namun

temperature sedikit menurun yaitu 37,5-380C atau lebih rendah dan juga

menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dengan level hematokrit yang

meningkat. Periode kebocoran plasma berlangsung selama 24-48 jam. Leukopenia

parah diikuti dengan penurunan hitung trombosit mengindikasikan terjadinya

kebocoran plasma. Pada pasien dengan tidak diikuti peningkatan permeabilitas

kapiler akan membaik namun pasien yang memiliki keadaan tersebut akan

bertambah parah dengan kehilangan volume plasma. Efusi pleura dan asites dapat

terdeteksi tergantung dari tingkat keparahan kebocoran plasma tersebut. Maka

foto thorax dan USG abdomen dapat digunakan sebagai alat bantu diagnosa.

Kadar hematokrit yang melebihi batas normal dapat digunakan sebagai acuan

melihat derajat keparahan kebocoran plasma. Syok dapat terjadi jika volume

plasma berkurang hingga titik kritis dan sering didahului oleh warning sign. Syok

yang berlangsung lama, menyebabkan hipoperfusi organ sehingga dapat

22
mengakibatkan gangguan organ, metabolik asidosis dan Disseminated

Intravascular Coagulan (DIC).1,2,4

Pada kasus ini fase kritis dimulai pada hari rawatan ke 3 sampai ke 4

atau hari demam ke 6 sampai ke 7, terjadi peningkatan hematokrit, leukopeni

dan terjadi penurunan trombosit yang berturut turut 28 10^3/uL, 23 10^3/uL, 19

10^3/uL pada jam 06:30 WIB, 12:30 WIB, 23:30 WIB. Yang sesuai teori pada

fase kristis DBD.

C. Fase Penyembuhan (Recovery)

Pasien yang melewati fase kritis akan memasuki fase recovery dimana

terjadi reabsorpsi cairan extravaskular dalam 48-72 jam, dimana keadaan umum

akan membaik, nafsu makan bertambah, gejala gastrointestinal berkurang, status

hemodinamik stabil, dan diuresis terjadi. Ruam, pruritus, bradikardi dapat terjadi

pada fase ini. Hematokrit dapat kembali stabil atau menurun akibat efek

pengenceran dari absorpsi cairan. Sel darah putih perlahan mengalami

peningkatan setelah suhu tubuh menurun diikuti dengan peningkatan trombosit.

Respiratory distres akibat efusi pleura masif dan asites dapat terjadi akibat dari

terapi cairan IV yang berlebih sewaktu fase kritis ataupun fase recovery yang

dapat dikaitkan dengan edema paru atau gagal jantung kongestif.

Pada kasus ini fase penyembuhan mulai terjadi pada hari rawatan ke 5

atau hari demam ke 8. Pada pasien terjadi peningkatan trombosit, peningkatan

hematokrit, nafsu makan pasien mulai membaik serta terdapat ruam

kemerahan pada kaki dan tangan pasien.

23
Gambar 2.3 Kurva Perjalanan Penyakit Infeksi Virus Dengue

2.6 ANAMNESIS

Demam dengue ialah demam akut selama 2-7 hari. Demam dengan suhu

tubuh biasanya mencapai 39oC sampai 40oC dan demam bersifat bifasik. Awal

sakit biasanya bersifat mendadak. Gejala prodorma meliputi nyeri kepala, nyer

berbagai bagian tubuh, anoreksia, menggigil dan malaise. Pada umumnya

ditemukan sindrom trias yaitu demam tinggi, nyeri pada anggota badan dan

timbulnya ruam. Ruam biasanya timbul 5-12 jam sebelum naiknya suhu pertama

kali, yaitu pada hari ketiga sampai hari kelima dan biasanya berlangsung selama

3-4 hari. Ruam bersifat makulopapular yang menghilang pada tekanan. Ruam

mula-mula dilihat di dada, tubuh serta abdomen dan menyebar ke anggota gerak

dan muka. Pada sebagian penderita terdapat nyeri kepala hebat, nyeri dibelakang

24
bola mata, punggung, otot dan sendi disertai rasa menggigil. Manifestasi

perdarahan seperti perdarahan mukosa mulut, perdarahan gusi, epistaksis,

hematemesis serta melena jarang dijumpai pada awal penyakit.1,3

Pada kasus ini, pasien datang dengan keluhan demam sejak 3 hari yang

timbul mendadak diserta keringat dingin dan menggigil. Gejala lain yang di

keluhkan pasien adalah nyeri kepala, nyeri belakang mata, nyeri otot dan sendi.

Ibu pasien juga mengatakan selama sakit anaknya tidak mau makan dan

minum. Pasien juga mengeluhkan terdapat perdarahan pada gusi ketika pasien

menyikat gigi. Keluhan yang di katakan pasien sesuai dengan teori dari

anamnesis untuk demam berdarah dengue

2.7 PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisik terdapat perdarahan kulit, uji tornikuet positif,

memar dan perdarahan pada tempat pengambilan darah vena. Petekia halus

tersebar di anggota gerak, muka, aksila sering kali ditemukan pada masa dini

demam. Epistaksis dan perdarahan gusi jarang dijumpai sedangkan perdarahan

saluran pencernaan hebat lebih jarang lagi dan biasanya timbul setelah renjatan

tidak dapat diatasi.1 Hepar biasanya teraba sejak awal fase demam, bervariasi

mulai dari teraba 2-4 cm dibawah tepi rusuk kanan. Pembesaran hati tidak

berhubungan dengan keparahan penyakit tetapi hepatomegali sering ditemukan

dalam kasus-kasus syok. Nyeri tekan hepar terasa tetapi biasanya tidak ikterik.2

25
Pada kasus ini, didapati pada pasien uji turnikuet yang positif, terdapat

ptekie atau ruam-ruam kemerahan pada anggota gerak, muka dan abdomen

pasien. Pada pasien ini juga ditemukan perdarahan gusi

2.8 PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Pemeriksaan laboratorium

Trombositopeni dan hemokonsentrasi merupakan kelainan yang selalu

ditemukan pada DBD. Penurunan jumlah trombosit < 100.000/pl biasa ditemukan

pada hari ke-3 sampai ke-8 sakit, sering terjadi sebelum atau bersamaan dengan

perubahan nilai hematokrit. Hemokonsentrasi yang disebabkan oleh kebocoran

plasma dinilai dari peningkatan nilai hematokrit. Penurunan nilai trombosit yang

disertai atau segera disusul dengan peningkatan nilai hematokrit sangat unik untuk

DBD, kedua hal tersebut biasanya terjadi pada saat suhu turun atau sebelum syok

terjadi.1,6

Perlu diketahui bahwa nilai hematokrit dapat dipengaruhi oleh pemberian

cairan atau oleh perdarahan. Jumlah leukosit bisa menurun (leukopenia) atau

leukositosis, limfositosis relatif dengan limfosit atipik sering ditemukan pada saat

sebelum suhu turun atau syok. Hipoproteinemi akibat kebocoran plasma biasa

ditemukan. Adanya fibrinolisis dan ganggungan koagulasi tampak pada

pengurangan fibrinogen, protrombin, faktor VIII, faktor XII, dan antitrombin III.

PTT dan PT memanjang pada sepertiga sampai setengah kasus DBD.5

26
B. Pemeriksaan Radiologi

Pada foto toraks (DBD derajat III/IV dan sebagian besar derajat II)

didapatkan efusi pleura, terutama di hemitoraks sebelah kanan. Pemeriksaan foto

toraks sebaiknya dilakukan dalam posisi lateral dekubitus kanan. Asites dan efusi

pleura dapat pula dideteksi dengan pemeriksaan USG.6

C. Pemeriksaan Antigen dan Antibodi Virus

Untuk membuktikan etiologi DBD, dapat dilakukan uji diagnostik melalui

pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi atau biologi molekular. Di antara

tiga jenis uji etiologi, yang dianggap sebagai baku emas adalah metode isolasi

virus. Namun, metode ini membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu

yang lama (lebih dari 1–2 minggu), serta biaya yang relatif mahal. Pemeriksaan

yang saat ini banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi, yaitu dengan

mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue.1,6

Pada infeksi primer, antibodi IgM dapat terdeteksi pada hari kelima setelah

onset penyakit, yakni setelah jumlah virus dalam darah berkurang. Kadar IgM

meningkat dengan cepat dan mencapai puncaknya dalam 2 minggu dan menurun

hingga tak terdeteksi lagi setelah 2-3 bulan. Antibodi IgG muncul beberapa hari

setelah IgM dan pada infeksi primer, produksi IgG lebih rendah dibandingkan

IgM, namun dapat bertahan beberapa tahun dalam sirkulasi, bahkan seumur hidup.

Sedangkan pada infeksi sekunder, kadar IgG meningkat lebih banyak

dibandingkan IgM dan muncul sebelum atau bersamaan dengan IgM. IgG

merupakan antibodi predominan pada infeksi sekunder.6

27
Salah satu metode pemeriksaan terbaru adalah pemeriksaan antigen

spesifik virus dengue, yaitu antigen nonstructural protein 1 (NS1). Dengan

metode ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari

pertama sampai hari ke 12 demam pada infeksi primer dengue atau sampai hari ke

5 pada infeksi sekunder dengue. Pemeriksaan ini juga dikatakan memiliki

sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%). Oleh karena itu, WHO

menyebutkan pemeriksaan deteksi antigen NS1 sebagai uji dini terbaik untuk

pelayanan primer.6

Pada kasus ini, didapati nilai trombosit yang terus menurun,

peningkatan dari pada hematokrit dan leukopenia. Pemeriksaan IgG dan IgM

anti dengue juga dilakukan dengan hasil positif.

2.9 DIAGNOSIS

Diagnosis DBD dapat ditegakkan secara klinis dan laboratoris.

Berdasarkan kriteria WHO, diagnosis DBD secara klinis dapat ditegakkan bila

semua hal di bawah ini terpenuhi:1,2,3

A. Klinis

- Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas, berlangsung terus

menerus selama 2-7 hari.

- Terdapat manifestasi perdarahan di tandai dengan uji bendung positif,

Ptekie, ekimosis, purpura, perdarahan mukosa, epistaksi, perdarahan gusi,

hematemesis dan atau melena.

- Pembesaran hati

28
- Syok, ditandai nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan

tekanan nadi (≤ 20 mmHg), hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan

tangan dingin, kulit lembab, capillary refil time memanjang (> 2 detik) dan

pasien tampak gelisah.

B. Laboratorium

- Trombositopenia(100.000/ml atau kurang).

- Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler,

dengan manifestasi sebagai berikut ; Peningkatan hematokrit ≥ 20% dari

nilai standar, penurunan hematokrit ≥ 20% setelah mendapat terapi cairan

dan efusi pleura/perikardial, asites, hipoproteinemia.

Dua kriteria klinis pertama ditambah satu kriteria laboratorium (atau hanya

peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan diagnosis kerja demam

berdarah dengue. Derajat penyakit DBD diklasifikasikan dalam 4 derajat (pada

setiap serajat sudah ditemukan trombositopenia dan hemokonsentrasi):

Derajat 1 Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi


perdarahan ialah uji bendung.
Derajat 2 Seperti derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau
perdarahan lain.
Derajat 3 Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat,
tekanan nadi menurun (≤ 20 mmHg), atau hipotensi, sianosis di
sekitar mulut, kulit dingin dan lembab, dan anak tampak gelisah.
Derajat 4 Syok berat (profound shock), nadi tidak teraba, tekanan darah
tidak terukur.
Tabel 2.1 Derajat Penyakit Demam Berdarah Dengue

29
Kewaspadaan dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya syok pada

penderita DBD yaitu dengan mengenal tanda dan gejala yang mendahului syok

(warning sign).

Kriteria Gejala
Klinis Demam turun tetapi keadaan anak memburuk
Nyeri perut dan nyeri tekan abdomen
Muntah yang menetap
Letargi, Gelisah
Perdarahan mukosa
Pembesaran hati
Akumulasi cairan
Oligouria
Laboratorium Peningkatan hematokrit bersamaan dengan penurunan cepat
jumlah trombosit
Hematokrit awal tinggi
Tabel 2.2 Tanda Bahaya/Warning Sign DBD

Dikatakan demam berdarah dengue syok ketika telah memenuhi kriteria

demam berdarah dengue dan ditemukan tanda dan gejala syok hipovolemik baik

yang terkompensasi maupun yang dekompensasi.

Pada pasien ini ditemukan 2 tanda klinis yaitu demam mendadak sejak

3 hari SMRS dan terdapat manifestasi perdarahan gusi. Ditemukan 1 tanda

laboratorium yaitu trombositopenia. Yang sesuai dengan teori diagnosis dari

demam berdarah dengeu derajat 2.

30
2.10 DIAGNOSIS BANDING

Pada balita, anak-anak dan dewasa yang pertama kali terinfeksi virus

dengue (misal infeksi dengue primer) akan menimbulkan gejala demam yang

tidak dapat dibedakan dari infeksi virus lainnya. Gejala ISPA dan gastrointestinal

sangat umum terjadi pada penderita ini. Lelah, sakit pada retro orbital, mialgia dan

atralgia juga dirasakan pada penderita DBD. Diagnosis banding demam pada fase

akut mencakup spektrum infeksi bakteri dan virus yang luas.1,4

Pada hari-hari pertam DBD sulit dibedakan dari morbili dan immune

Trombrochytopenic Purpura (ITP) yang disertai demam. Diagnosis banding DBD

juga dapat dilihat terhadap kesesuaian klinis dengan demam tifoid, campak,

influenza, chikungunya dan leptospirosis. Selain itu demam dengue manifestasi

klinisnya sama seperti demam berdarah dengue. Fenomen patofisiologi utama

yang menentukan berat penyakit dan membedakan demam berdarah dengue dari

demam berdarah yaitu kebocoran plasma yang ditandai dengan hematocrit ≥ 20%

dan adanya efusi pada rongga pleura atau peritoneum. 1,4

2.8 PENATALAKSANAAN

A. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue tanpa syok

- Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air tajin, air sirup,

susu, untuk mengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma,

demam, muntah/diare.

31
- Berikan paracetamol bila demam, jangan berikan asetosal atau ibuprofen

karena obat-obatan ini dapat merangsang terjadinya perdarahan.

- Berikan infus sesuai dengan dehidrasi sedang:

 Berikan hanya larutan istonik seperti ringer laktat/asetat.

 Kebutuhan cairan parental

Berat badan < 15 kg : 7 ml/kgBB/jam

Berat badan 15-40 kg : 5 ml/kgBB/jam

Berat badan > 40 kg : 3 ml/kgBB/jam

 Pantau tanda vital dan diuresis setiap jam, serta periksa laboratorium

(hematokrit, trombosit, leukosit dan hemoglobin) tiap 6 jam.

 Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik, turunkan

jumlah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil. Cairan intravena

biasanya hanya memerlukan waktu 24-48 jam sejak kebocoran

pembuluh kapiler spontan setelah pemberian cairan.

- Apabila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksana sesuai dengan

tatalaksana syok terkompensasi.

B. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue dengan syok

- Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat, berikan oksigen 2-4 L/menit

secara nasal.

- Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti ringer laktat/asetat secepatnya.

- Jika tidak menunjukan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20

ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pemberian

koloid 10-20 mg/kgBB/24 jam.

32
- Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menurun

pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi; berikan transfusi

darah/komponen.

- Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer mulai

membaik, tekanan nadi melebar) jumlah cairan dikurang hingga 10

ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam

sesuai kondisi klinis dan laboratorium.

- Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam.

Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalu

banyak daripada pemberian yang terlalu sedikit.

Gambar 2.4 Sindrom syok dengue terkompensasi

33
C. Tatalaksana Komplikasi Peradarahan

Jika terjadi perdarahan berat segera beri darah bila mungkin. Bila tidak,

beri koloid dan segera rujuk. Kelebihan cairan merupakan komplikasi penting

dalam penanganan syok. Hal ini dapat terjadi karena:

- Kelebihan dan/atau pemberian cairan yang terlalu cepat

- Penggunaan jenis cairan yang hipotonik

- Pemberian cairan intravena yang terlalu lama

- Pemberian cairan intravena yang jumlahnya terlalu banyak dengan

kebocoran yang hebat.

Tanda awal napas cepat, tarikan dinding dada ke dalam, efusi pleura yang

luas, asites dan edema peri-orbital atau jaringan lunak. Tanda-tanda labjut

kelebihan cairan yang berat adalah edema paru, sianosis dan syok ireversibel.

Tatalaksana penanganan kelebihan cairan berbeda tergantung pada keadaan

apakah klinis masih menunjukan syook atau tidak:

- Anak yang masih syok dan menunjukan tanda kelebihan cairan yang berat

sangat sulit untuk ditangai dan berada pada risiko kematian yang tinggi.

Rujuk segera.

- Jika syok sudah pulih namun anak masih sukar bernapas atau bernapas

cepat dan mengalami efusi luas, berikan obat minum atau furosemid

intravena 1 mg/kgBB/dosis sekali atau dua kali sehari selama 24 jam dan

terapi oksigen.

34
- Jika syok sudah pulih dan anak stabil, hentikan pemberian cairan intravena

dan jaga anak agar tetap istirahat di tempat tidur selama 24-48 jam.

Kelebihan cairan akan diserap kembali dan hilang melalui diuresis.

2.12 KOMPLIKASI

Pada umumnya infeksi primer dapat sembuh sendiri dan tidak berbahaya.

Komplikasi pada bayi dan anak usia muda biasanya berupa kehilangan cairan dan

elektrolit, hiperpireksia, dan kejang demam. Pada usia 1 – 4 tahun wajib

diwaspadai ensefalopati dengue karena merupakan golongan usia tersering

terjadinya kejang demam. Kegagalan dalam melakukan tatalaksana komplikasi

ini, dapat memberikan jalan menuju DSS (Dengue Shock Syndome) dengan tanda

kegagalan sirkulasi, hipotensi dan syok.4

2.13 PENCEGAHAN

Menurut WHO deteksi dini gejala DBD dapat mengurangi penyebaran

penyakit DBB melalui pemeriksaan laboratorium dan tanda adanya demam tinggi

disertai ruam pada kulit. Vaksin untuk DBD sampai saat ini belum tersedia

sehingga dilakukan tindakan pencegahan berupa pengendalian vektor nyamuk

Aedes sp.. Ada beberapa cara yang dianjurkan WHO untuk mengurangi terjadinya

kasus DBD seperti penggunaan alat pelindung diri, penggunaan insektisida

aerosol, jaga sanitasi air, pengurangan sampah di sekitar wilayah rumah ataupun

di dalam rumah. Depkes sendiri telah menetapkan 5 kegiatan pokok sebagai

35
kebijakan dalam pengendalian penyakit DBD yaitu menemukan kasus secepatnya

dan mengobati sesuai protap, memutuskan mata rantai penularan dengan

pemberantasan vektor (nyamuk dewasa dan jentik – jentiknya), kemitraan dalam

wadah POKJANAL DBD (Kelompok Kerja Operasional DBD), pemberdayaan

masyarakat dalam gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN 3M Plus) dan

peningkatan profesionalisme pelaksana program. Kegiatan yang paling utama

dalam menanggulangi peningkatan kasus adalah program Pemberantasan Sarang

Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M (Menguras – Menutup – Mengubur).

Program ini kemudian berkembang menjadi PSN 3M Plus yaitu dengan

digunakan larvasida, memelihara ikan dan mencegah gigitan nyamuk.2,3

2.14 PROGNOSIS

Prognosis demam dengue berhubungan dengan antibodi yang didapat atau

infeksi awal dengan virus yang menyebabkan terjadinya DBD. Keparahan terlihat

dari usia dan infeksi awal terhadap serotipe dengue virus yang lain sehingga dapat

mengakibatkan komplikasi hemoragik yang parah. Prognosis ditentukan juga oleh

lamanya penanganan terhadap terjadinya syok pada sindrom syok dengue (SSD).

Prognosis baik jika diatasi maksimal 90 menit dan buruk jika melebihi 90

menit.1,5 Kriteria memulangkan pasien DBD:

- Tidak demam minimal 24 jam tanpa pemberian antipiretik

- Nafsu makan membaik

- Perbaikan klinis yang jelas

- Jumlah urin cukup

36
- Minimal 2-3 hari setelah syok teratasi

- Tidak tampak distres pernapasan yang disebabkan efusi pleura/asites

- Jumlah trombosit > 50.000/mm3

37
BAB III

KESIMPULAN

Infeksi virus dengue merupakan salah satu penyakit dengan vektor


nyamuk yang paling penting di seluruh dunia terutama di daerah tropis dan
subtropis. Penyakit ini mempunyai spektrum klinis dari asimptomatis,
undifferentiated febrile illness, demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue
(DBD), mencakup manifestasi paling berat yaitu sindrom syok dengue (dengue
shock syndrome/DSS).

Dalam menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan yang tepat,


pemahaman mengenai perjalanan infeksi virus dengue harus dikuasai dengan
baik. Pemantauan klinis dan laboratoris berkala merupakan kunci tatalaksanan
DBD. Akhirnya dalam menegakkan diagnosis dan memberikan pengobatan pada
kasus DBD perlu disesuaikan dengan kondisi pasien. Penanganan yang cepat tepat
dan akurat akan dapat memberikan prognosis yang lebih baik.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Hasan Rusepno, Husein A. Ilmu Kesehatan Anak: Infeksi Virus Dengue.

Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak FK UI, 2007

2. Word Health Organization (WHO). Buku Saku Pelanan Kesehatan Anak di

Rumah Sakit. Departtement of Child and Adelescent Healt and Development

(CAH), 2009

3. Widoyono. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Penegahan &

Pemberantasan: Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Erlangga Medical Series,

2011

4. Hadinegoro SRH, Soegijanto S, Wuryadi S, Suroso T. Tata Laksana Demam

Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta: Depkes RI Dirjen Pemberantasan

Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, 2004.

5. Buku pedoman diagnosis dan tatalaksana infeksi virus dengue pada anak

oleh IDAI 2004

6. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention, and Control. World

Health Organization, 2009. Diunduh dari

http://whqlibdoc.who.int/publications/2009/9789241547871_eng.pdf

7. Kementerian Kesehatan. Data kasus DBD berdasarkan kabupaten/kota di

Indonesia tahun 2011-2013. Laporan Program Subdit Arbivirosis.

Jakarta,2013.

8. Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. Profil kesehatan Provinsi Aceh. Banda

Aceh,2015.

39
40