Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN

LEUKOREA (FLUOR ALBUS)

A. Definisi keputihan
Keputihan atau Fluor Albus merupakan sekresi vaginal abnormal pada wanita
( Wijayanti, 2009). Keputihan adalah semacam slim yang keluar terlalu banyak,
warnanya putih seperti sagu kental dan agak kekuning-kuningan. Jika slim atau
lendir ini tidak terlalu banyak, tidak menjadi persoalan (Sasmiyanti &
Handayani, 2008). Keputihan adalah nama gejala yang diberikan kepada cairan
yang di keluarkan dari alat–alat genital yang tidak berupa darah (Sarwono, 2005).

B. Klasifikasi Keputihan
Ada dua jenis keputihan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan
tidak normal (patologis).
1. Keputihan normal (fisiologis)
Keputihan fisiologis terdiri atas cairan yang kadang-kadang berupa
mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit yang jarang,
keputihan fisiologis ditemukan pada:
- Bayi yang baru lahir sampai umur kira-kira 10 hari, disini sebabnya ialah
pengaruh estrogen dari plasenta terhadap uterus dan vagina janin.
- Waktu di sekitar menarche karena mulai terdapat pengaruh estrogen
keputihan disini hilang sendiri, akan tetapi dapat menimbulkan keresahan
pada orang tuanya.
- Wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan pada waktu koitus,
disebabkan oleh pengeluaran transudasi dari dinding vagina.
- Waktu di sekitar ovulasi, dengan sekret dari kelenjar-kelenjar serviks
uteri menjadi lebih encer.

1
- Pengeluaran sekret dari kelenjar-kelenjar serviks uteri juga bertambah
pada wanita dengan penyakit menahun, dengan neurosis, dan pada wanita
dengan ektropion porsionis uteri (Sarwono, 2005)

Menurut Wijayanti (2009) keputihan normal ciri-cirinya ialah : warnanya


kuning, kadang-kadang putih kental, tidak berbau tanpa disertai keluhan
(misalnya gatal, nyeri, rasa terbakar, dsb), keluar pada saat menjelang dan
sesudah menstruasi atau pada saat stres dan kelelahan.

Keputihan tidak selalu mendatangkan kerugian, jika keputihan ini wajar


dan tidak menunjukan bahaya lain. Sebenarnya, cairan yang disebut
keputihan ini berfungsi sebagai sistem pelindung alami saat terjadi gesekan di
dinding vagina saat anda berjalan dan saat anda melakukan hubungan
seksual.

Keputihan ini merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh dari


bakteri yang menjaga kadar keasaman pH wanita. Cairan ini selalu berada di
dalam alat genital tersebut. Keasaman pada vagina wanita harus berkisar
antara 3,8 sampai 4,2, maka sebagian besar bakteri yang ada adalah bakteri
menguntungkan. Bakteri menguntungkan ini hampir mencapai 95%
sedangkan yang lain adalah bakteri merugikan dan menimbulkan penyakit
(patogen).

Jika keadaan ekosistem seimbang, artinya wanita tidak mengalami


keadaan yang membuat keasaman tersebut bertambah dan berkurang, maka
bakteri yang menimbulkan penyakit tersebut tidak akan mengganggu (Iswati,
2010).

2. Keputihan tidak normal (patologis)


Penyebab paling penting dari keputihan patologi ialah infeksi. Disini
cairan mengandung banyak leukosit dan warnanya agak kekuning-kuningan
sampai hijau, seringkali lebih kental dan berbau (Sarwono, 2005).

2
Keputihan yang tidak normal ialah keputihan dengan ciri-ciri : jumlahnya
banyak, timbul terus menerus, warnanya berubah (misalnya kuning, hijau,
abu-abu, menyerupai susu/yoghurt) disertai adanya keluhan (seperti gatal,
panas, nyeri) serta berbau (apek, amis, dsb) (Wijayanti, 2009).
Keputihan yang disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa
gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Yang sering
menimbulkan keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur, atau juga parasit.
Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing,
sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kencing
(Wijayanti, 2009). Menurut Boyke (2009), hampir semua wanita di Indonesia
pernah mengalami keputihan patologis seumur hidupnya minimal satu
sampai dua kali. Oleh karena itu di dalam bukunya, Iswati (2010)
mengatakan bahwa wanita perlu mengenal lebih jauh tentang keputihan
tersebut, yaitu:
- Keputihan yang cair dan berbusa, berwarna kuning kehijauan atau
keputih-putihan, berbau busuk dengan rasa gatal. Keputihan semacam ini
akan memberi dampak bagi tubuh wanita, diantaranya wanita akan
merasa seperti terbakar di daerah kemaluan saat buang air kecil. Jika tidak
cepat ditangani, lambat laun kemaluan akan terasa sakit dan
membengkak.
- Cairan keputihan yang berwarna putih seperti keju lembut dan berbau
seperti jamur atau ragi roti. Keadaan ini menunjukan adanya infeksi yang
disebabkan jamur atau ragi yang di kemaluan seorang wanita. Penderita
akan merasakan efek gatal yang hebat. Bibir kemaluan sering terlihat
merah terang dan terasa sangat sakit. Selain itu, saat buang air kecil terasa
seperti terbakar. Hal yang harus dicegah adalah menggunakan antibiotik
untuk mengobati infeksi ini. Antibiotik sebenarnya akan membuat infeksi
jamur semakin parah. Penderita pun jangan mamakai pil KB. Jika sedang
menggunakan pil KB, hentikan secepatnya.

3
- Cairan keputihan yang kental seperti susu dengan bau yang amis/anyir.
Keadaan ini dimungkinkan karena infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Hemophilus. Diperlukan pemeriksaan khusus untuk membedakannya
dengan infeksi trichomonas.
- Cairan keputihan yang encer seperti air, berwarna coklat atau keabu-
abuan dengan bercak-bercak darah, dan berbau busuk. Hal ini merupakan
tanda-tanda infeksi yang lebih parah, dapat kanker atau penyakit menular
seksual lainnya.

Keputihan penyakit, apapun penyebabnya, perlu diobati sebelum hari


perkawinan, agar tidak menulari pasangan hidup nantinya. Selain itu,
komplikasi yang mungkin akan timbul, bisa buruk dampaknya terhadap
kesuburan. Bisa jadi infeksi akan menjalar sampai ke bagian organ
reproduksi yang lebih atas, yakni ke rahim dan saluran telur.

Jika masih juga keputihan saat memasuki hari perkawinan, sering lebih
sukar menyembuhkannya sebab kemungkinan akan terjadi apa yang disebut
sebagai “fenomena pingpong”. Artinya setelah diobati, dan pihak istri
sembuh, namun bila suami tak diobati, sewaktu berhubungan seks, suami
yang sudah tertular istri akan menulari kembali istri yang sudah diobati dan
sembuh. Dan begitu juga seterusnya sehingga keputihan istri tak kunjung
selesai sembuh.

Maka, jika istri kedapatan keputihan, suami pun sekaligus perlu diobati
juga kalu terbukti positif. Gejala keputihan pada pria tidak senyata pada
wanita. Mungkin hanya titik lendir, dan keluhan gatal di ujung lian kemih
saja. Dengan cara pemeriksaan lendir yang mungkin keluar dari liang kemih
kemaluan, dapat dipastikan apakah memang sudah terjadi penularan
keputihan pada pihak suami.

Selama istri dalam pengobatan keputihan, dianjurkan tidak bersetubuh


dulu sampai keduanya betul-betul sudah dinyatakan sembuh. Tandanya

4
keputihan sudah sembuh, keluhan dan gejala keputihannya sudah mereda dan
selain lendirnya sudah kering sama sekali.

Seringnya keputihan kambuh, lantaran pengobatan belum tuntas sama


sekali sedang obat sudah di hentikan. Mestinya obat belum boleh dihentikan
selama keputihannya masih ada sebagaimana mungkin tampak masih keluar
lendir abnormalnya yang mungkin membercak di pakaian dalam, selain
masih ada keluhan gatal dan berbau.

Keputihan jenis penyakit yang dibiarkan tanpa pengobatan akan


berkembang semakin hebat. Keputihan membuat vagina lebih masam. Jika
dibiarkan dapat menjalar terus ke organ reproduksi.

Pada wanita yang belum pernah menikah, belum pernah berhubungan


seks, obat keputihan hanya dalam bentuk obat minum saja. Sedang untuk
wanita yang sudah menikah, bisa juga diberikan obat yang dimasukan ke
liang vagina (vaginal suppositoria) selain obat minum.

Penyakit kelamin kencing nanah pun gejalanya mirip keputihan juga.


Mungkin menyerupai keputihan yang disebabkan oleh jamur atau parasit,
namun tidak gatal, dan tidak pula berbau. Keputihan kencing nanah muncul
pagi hari pada pria. Namun, pada wanita sering samar-samar, dan baru
kelihatan jika dilakukan pemeriksaan dalam oleh dokter.

Apabila merasa punya riwayat pernah berhubungan seks dengan pria lain
sebelum menikah, lalu muncul keputihan beberapa hari kemudian,
waspadalah siapa tahu benar sudah tertular kencing nanah GO (gonorrhoe).
Untuk memastikan betul kalau itu kencing nanah, lendir keputihannya di
ambil di laboratorium untuk dibiak. Kalau hasilnya ternyata positif GO,
sebaiknya diobati sampai tuntas sebelum malam pengantin.

Kencing nanah yang tidak diobati bisa berkomplikasi sampai kedalam


kelenjar yang berada di sekitar vagina (bisul vagina) selain kemungkinan
menembus memasuki organ reproduksi bagian yang lebih atas, memasuki

5
saluran telur, seperti yang sering menjadi akibat penyakit menular seksual
lain (oleh kuman chlamydia). Kedua penyebab itu sama-sama 16 bisa
berakhir dengan kemandulan juga (Nadesul, 2009).

C. Etiologi Keputihan
Menurut Wijayanti (2009) dengan memperhatikan cairan yang keluar,
terkadang dapat diketahui penyebab keputihan. Penyebab keputihan tersebut
antara lain:
1. Infeksi Gonore, misalnya, menghasilkan cairan kental, bernanah dan
berwarna kuning kehijauan.
2. Parasit Trichomonas Vaginalis menghasilkan banyak cairan, berupa cairan
encer berwarna kuning kelabu.
3. Keputihan yang disertai bau busuk dapat disebabkan oleh kanker.
4. Kelelahan yang sangat.

Didalam bukunya, Hendrik (2006) menjelaskan bahwa keluhan keputihan dari


seorang wanita menjelang terjadinya haid secara statistik cenderung dapat
menyebabkan keadaan daerah kemaluan (terutama vagina, uterus, dan vulva)
menjadi mudah terjangkit suatu penyakit dan menularkannya ke tubuhnya sendiri
atau ketubuh orang lain yang melakukan persetubuhan dengannya. Hal ini
disebabkan oleh hal-hal berikut:

1. Banyaknya bakteri-bakteri yang senantiasa berada di dalamnya (flora


normal), yang telah berubah sifatnya menjadi bakteri-bakteri patogen
disamping adanya mikroorganisme lainnya yang bersifat patogen potensial.
2. Adanya perubahan pengaruh hormon-hormon seks steroid, terutama hormon
estrogen dan progesteron, secara fluktuatif menjelang terjadinya perdarahan
haid akan menimbulkan kerentanan pada dinding vagina terhadap terjadinya
infeksi, terutama infeksi Candida sp.
3. Adanya hubungan langsung yang dekat dengan lingkungan luar tubuh yang
dapat memungkinkan masuknya bakteri dan mikroorganisme lainnya yang
bersifat patogen potensial ke vagina.

6
4. Kurangnya perhatian hygiene (kebersihan) di daerah kemaluan.
5. Terjadinya benturan atau gesekan di daerah vaginanya ketika melakukan
persetubuhan sebelumnya.
6. Adanya infeksi lain atau proses lainnya berupa keganasan di dalam tubuh.

Menurut Maulana (2008) keputihan yang keluar dari mulut rahim dikenal
dengan serviks sensitis atau radang mulut rahim. Hal ini sering menyerang
wanita usia reproduktif dan biasanya diakibatkan oleh :

1. Jamur (candidiasis), biasanya bukan karena ditularkan oleh hubungan


seksual, meskipun hal itu bisa saja terjadi. Seringnya, hal itu disebabkan
karena ketidakseimbangan flora di vagina. Normalnya, vagina terdiri atas
sedikit jamur dan bakteri perusak. Namun, jika keduanya tidak seimbang,
akan menyebabkan peradangan vagina (vaginistis). Keputihan yang
disebabkan oleh jamur ini terlihat agak tebal dan kental atau bisa juga terlihat
lebih tipis dan seperti susu putih yang basi. Keputihan ini bisa jadi kehijauan,
jika yang bersangkutan telah menderita infeksi sekunder. Ini juga bisa
menimbulkan gatal. Kemaluan bisa berwarna kemerahan dan bengkak. Kulit
mungkin juga sensitif untuk disentuh dan wanita biasanya akan merasakan
sakit saat berhubungan seks.
2. Bakteri (vaginosis), gejala bakterial vaginosis biasanya dicirikan dengan
adanya noda (keputihan) hingga kekuningan dengan bau kurang sedap. Noda
ini hampir selalu ada dan lebih nyata saat setelah berhubungan seksual.
Wanita pun mungkin akan merasa gatal di sekitar kemaluan.
3. Parasit (trikomoniasis), keputihan karena parasit seperti Trichomonas
vaginalis bisa menyerang wanita maupun pria. Trichomonas biasanya
berpindah melalui hubungan seksual, juga dapat berpindah, jika seseorang
bergantian menggunakan handuk, underwear, atau benda basah/lembab
lainnya. Biasanya keputihan terlihat seperti busa dan berbau tidak sedap.
Mungkin ada sedikit rasa gatal dan kemerahan di sekitar vagina. Kasus
keputihan yang tak kunjung menyembuh kendati sudah berkali-kali diobati,

7
bisa jadi sebab keputihan yang komplit (disebabkan oleh lebih dari satu dari
ketiga penyebab), namun tidak diberi obat yang komplit untuk membasmi
lebih dari satu jenis penyebabnya. Atau mungkin juga karena masa
pemberian obatnya belum tuntas menumpas bibit penyakitnya, selain karena
pilihan obatnya tidak sesuai dengan jenis penyebab keputihannya (Nadesul,
2009).

D. Patofisiologi
Meskipun banyak variasi warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina
bisa dikatakan suatu yang normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan
penderita sebagai suatu infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa
perempuan pun mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam kondisi
normal, cairan yang keluar dari vagina mengandung sekret vagina, sel-sel vagina
yang terlepas dan mucus serviks, yang akan bervariasi karena umur, siklus
menstruasi, kehamilan, penggunaan pil KB.
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang
dinamis antara Lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain, estrogen,
glikogen, pH vagina dan hasil metabolit lain. Lactobacillus acidophilus
menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri pathogen. Karena
aksi dari estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen, lactobacillus
(Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH vagina yang rendah
sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri lain.
Kandidiasis vaginalis merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh
Candida sp. terutama C. albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan
kondisi vagina. Sel ragi akan berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi
kandidiasis. Hal-hal yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah penggunaan
antibiotik yang berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang
tinggi, kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian pakaian ketat,
pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi. Perubahan lingkungan
vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat kehamilan atau peningkatan

8
hormon esterogen dan progesterone karena kontrasepsi oral menyebabkan
perlekatan Candida albicans pada sel epitel vagina dan merupakan media bagi
prtumbuhan jamur. Candida albicans berkembang dengan baik pada lingkungan
pH 5-6,5. Perubahan ini bisa asimtomatis atau sampai sampai menimbulkan
gejala infeksi. Penggunaan obat immunosupresan juga menajdi faktor
predisposisi kandidiasis vaginalis.
Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar estrogen dan
progesterone menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar glikogen sehingga
berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari Trichomonas vaginalis.
Vaginitis sering disebabkan karena flora normal vagina berubah karena
pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari lingkungan vagina
sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi. Antibiotik kontrasepsi,
hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah lingkungan vagina tersebut
dan memacu pertumbuhan bakteri patogen. Pada vaginosis bacterial, diyakini
bahwa faktor-faktor itu dapat menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang
dihasilkan oleh Lactobacillus acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan
memacu pertumbuhan Gardnerella vaginalis, Mycoplasma hominis dan
Mobiluncus yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan
produk metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan
pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau pada
flour albus pada vaginosis bacterial.
Flour albus mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita
tuberculosis, anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada
perempuan dengan keadaan umum yang jelek , higiene yang buruk dan pada
perempuan yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat
(Amiruddin, 2003).

9
E. Pathway

Faktor resiko: gangguan hormon, infeksi (jamur, bakteri, parasit), kanker, kurang
perhatian hygiene alat kelamin

Terganggunya keseimbangan ekosistem dalam vagina

Tumbuh jamur & kuman (patogen)

Tingkat keasaman dalam vagina terganggu

Flora normal dalam vagina mati

Timbul keputihan abnormal: leukorea patologis Ansietas

Cairan keputihan berbau Gatal pada kemaluan

Gangguan rasa nyaman


Iritasi pada kulit Resiko Pola istirahat
infeksi terganggu
Tidak mengetahui cara
perawatannya Kerusakan
integritas kulit Gangguan
pola tidur
Defisiensi
pengetahuan

10
F. Manifestasi Klinis
Segala perubahan yang menyangkut warna dan jumlah dari sekret vagina
merupakan suatu tanda infeksi vagina. Infeksi vagina adalah sesuatu yang sering
kali muncul dan sebagian besar perempuan pernah mengalaminya dan akan
memberikan beberapa gejala fluor albus (Wiknjosastro, 1999):
- Keputihan yang disertai rasa gatal, ruam kulit dan nyeri.
- Sekret vagina yang bertambah banyak
- Rasa panas saat kencing
- Sekret vagina berwarna putih dan menggumpal
- Berwarna putih kerabu-abuan atau kuning dengan bau yang menusuk
- Vaginosis bacterial Sekret vagina yang keruh, encer, putih abu-abu hingga
kekuning-kuningan dengan bau busuk atau amis. Bau semakin bertambah
setelah hubungan seksual
- Trikomoniasis Sekret vagina biasanya sangat banyak kuning kehijauan,
berbusa dan berbau amis.
- Kandidiasis Sekret vagina menggumpal putih kental. Gatal dari sedang
hingga berat dan rasa terbakar kemerahan dan bengkak didaerah genital
Tidak ada komplikasi yang serius
- Infeksi klamidia biasanya tidak bergejala. Sekret vagina yang berwarna
kuning seperti pus. Sering kencing dan terdapat perdarahan vagina yang
abnormal.

G. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan :
1. Pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan biokimia dan urinalisis.
2. Kultur urin untuk menyingkirkan infeksi bakteri pada traktus urinarius
3. Sitologi vagina
4. Kultur sekret vagina
5. Radiologi untuk memeriksa uterus dan pelvis
6. Ultrasonografi (USG) abdomen

11
7. Vaginoskopi
8. Sitologi dan biopsy jaringan abnormal
9. Tes serologis untuk Brucellosis dan herpes
10. Pemeriksaan PH vagina.
11. Penilaian swab untuk pemeriksaan dengan larutan garam fisiologis dan KOH
10 % .
12. Pulasan dengan pewarnaan gram .
13. Pap smear.
14. Biopsi.
15. Test biru metilen. (Manoe, 1999)

H. Penatalaksanaan
Untuk menghindari komplikasi yang serius dari keputihan (fluor albus),
sebaiknya penatalaksanaan dilakukan sedini mungkin sekaligus untuk
menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab lain seperti kanker leher rahim
yang juga memberikan gejala keputihan berupa sekret encer, berwarna merah
muda, coklat mengandung darah atau hitam serta berbau busuk.
Penatalaksanan keputihan tergantung dari penyebab infeksi seperti jamur,
bakteri atau parasit. Umumnya diberikan obat-obatan untuk mengatasi keluhan
dan menghentikan proses infeksi sesuai dengan penyebabnya. Obat-obatan yang
digunakan dalam mengatasi keputihan biasanya berasal dari golongan flukonazol
untuk mengatasi infeksi candida dan golongan metronidazol untuk mengatasi
infeksi bakteri dan parasit. Sediaan obat dapat berupa sediaan oral (tablet,
kapsul), topikal seperti krem yang dioleskan dan uvula yang dimasukkan
langsung ke dalam liang vagina. Untuk keputihan yang ditularkan melalui
hubungan seksual, terapi juga diberikan kepada pasangan seksual dan dianjurkan
untuk tidak berhubungan seksual selama masih dalam pengobatan. Selain itu,
dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan daerah intim sebagai tindakan
pencegahan sekaligus mencegah berulangnya keputihan.

12
Tujuan pengobatan:
- Menghilangkan gejala
- Memberantas penyebabrnya
- Mencegah terjadinya infeksi ulang
- Pasangan diikutkan dalam pengobatan

Berikut ini adalah pengobatan dari penyebab paling sering :


1. Candida albicans
a. Topikal
- Nistatin tablet vagina 2 x sehari selama 2 minggu
- Klotrimazol 1% vaginal krim 1 x sehari selama 7 hari
- Mikonazol nitrat 2% 1 x ssehari selama 7 – 14 hari
b. Sistemik
- Nistatin tablet 4 x 1 tablet selama 14 hari
- Ketokonazol oral 2 x 200 mg selama 7 hari
- Nimorazol 2 gram dosis tunggal
- Ornidazol 1,5 gram dosis tunggal
2. Chlamidia trachomatis
- Metronidazole 600 mg/hari 4-7 hari
- Tetrasiklin 4 x 500mg selama 10-14 hari oral
- Eritromisin 4 x 500 mg oral selama 10-14 hari bila
- Minosiklin dosis 1200mg di lanjutkan 2 x 100 mg/hari selama 14hari
- Doksisiklin 2 x 200 mg/hari selama 14 hari
- Kotrimoksazole sama dengan dosis minosiklin 2 x 2 tablet/hari selama 10
hari
3. Gardnerella vaginalis
- Metronidazole 2 x 500 mg
- Metronidazole 2 gram dosis tunggal
- Ampisillin 4 x 500 mg oral sehari selama 7 hari

13
4. Neisseria gonorhoeae
- Penicillin prokain 4,8 juta unit im atau
- Amoksisiklin 3 gr im
- Ampisiillin 3,5 gram im
5. Untuk Neisseria gonorhoeae penghasil Penisilinase
- Seftriaxon 250 mg im atau
- Spektinomisin 2 mg im atau
- Ciprofloksasin 500 mg oral
6. Virus herpeks simpleks
- Belum ada obat yang dapat memberikan kesembuhan secara tuntas
- Asiklovir krim dioleskan 4 x sehari
- Asiklovir 5 x 200 mg oral selama 5 hari
- Povidone iododine bisa digunakan untuk mencegah timbulnya infeksi
sekunder
7. Penyebab lain :
Vulvovaginitis psikosomatik dengan pendekatan psikologi. Desquamative
inflammatory vaginitis diberikan antibiotik, kortikosteroid dan estrogen.

I. Pencegahan Keputihan
Menurut Wijayanti (2009) bila ingin terhindar dari keputihan, anda mesti
menjaga kebersihan daerah sensitif itu. Kebersihan organ kewanitaan hendaknya
sejak bangun tidur dan mandi pagi. Berikut tip yang dapat dilakukan :
1. Bersihkan organ intim dengan pembersih yang tidak menggangu kestabilan
pH di sekitar vagina. Salah satunya produk pembersih yang terbuat dari
bahan dasar susu. Produk seperti ini mampu menjaga keseimbangan pH
sekaligus meningkatkan pertumbuhan flora normal dan menekan
pertumbuhan bakteri yang tak bersahabat. Sabun antiseptik biasa umumnya

14
bersifat keras dan terdapat flora normal di vagina. Ini tidak menguntungkan
bagi kesehatan vagina dalam jangka panjang.
2. Hindari pemakaian bedak pada organ kewanitaan dengan tujuan agar vagina
harum dan kering sepanjang hari. Bedak memiliki partikel-partikel halus
yang mudah terselip di sana sini dan akhirnya mengundang jamur dan bakteri
bersarang di tempat itu.
3. Selalu keringkan bagian vagina sebelum berpakaian.
4. Gunakan celana dalam yang kering. Seandainya basah atau lembab, usahakan
cepat mengganti dengan yang bersih dan belum dipakai. Tak ada salahnya
anda membawa cadangan celana dalam untuk berjaga-jaga manakala perlu
menggantinya.
5. Gunakan celana dalam yang bahannya menyerap keringat, seperti katun.
Celana dari bahan satin atau bahan sintetik lain membuat suasana di sekitar
organ intim panas dan lembab.
6. Pakaian luar juga diperhatikan. Celana jeans tidak dianjurkan karena pori-
porinya sangat rapat. Pilihlah seperti rok atau celana bahan non jeans agar
sirkulasi udara di sekitar organ intim bergerak leluasa.
7. Ketika haid sering-seringlah berganti pembalut.
8. Gunakan panty liner di saat perlu saja. Jangan terlalu lama. Misalkan saat
bepergian ke luar rumah dan lepaskan sekembalinya anda di rumah.

Selain itu untuk mencegah keputihan, wanita pun harus selalu menjaga
kebersihan dan kesehatan daerah kewanitaannya. Antara lain adalah :

1. Selalu cuci daerah kewanitaan dengan air bersih setelah buang air, jangan
hanya di seka dengan tisu. Membersihkannya pun musti dilakukan dengan
cara yang benar yaitu dari depan ke belakang, agar kotoran dari anus tidak
masuk ke vagina. Hindari pemakaian sabun vagina berlebihan karena justru
dapat mengganggu keseimbangan flora normal vagina.
2. Jaga daerah kewanitaan tetap kering. Hal ini karena kelembapan dapat
memicu tumbuhnya bakteri dan jamur. Selalu keringkan daerah tersebut

15
dengan tisu atau handuk bersih setelah dibersihkan. Karena tidak semua toilet
menyediakan tisu, bawalah tisu kemana pun anda pergi. Selain itu buatlah
celana dalam yang terbuat dari katun agar dapat menyerap keringat dan
gantilah secara teratur untuk menjaga kebersihan.
3. Bila sedang mengalami keputihan atau menstruasi tinggal sedikit, boleh saja
menggunakan pelapis celana panty liner. Tetapi sebaiknya tidak digunakan
setiap hari. Panty liner justru dapat memicu kelembapan karena bagian
dasarnya terbuat dari plastik. Pilih panty liner yang tidk mengandung parfum,
terutama buat yang berkulit sensitif.
4. Hindari bertukar celana dalam dan handuk dengan teman atau bahkan saudara
kita sendiri karena berganti-ganti celana bisa menularkan penyakit.
5. Bulu yang tumbuh di daerah kemaluan bisa menjadi sarang kuman bila
dibiarkan terlalu panjang. Untuk menjaga kebersihan, potonglah secara
berkala bulu di sekitar kemaluan dengan gunting atau mencukurnya dengan
hati-hati (Salika, 2010).

J. Prognosis
Biasanya kondisi-kondisi yang menyebabkan fluor albus memberikan respon
terhadap pengobatan dalam beberapa hari. Kadang-kadang infeksi akan berulang.
Dengan perawatan kesehatan akan menentukan pengobatan yang lebih efektif.

16
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Usia
Harus dipikirkan kaitannya dengan pengaruh estrogen. Bayi wanita atau
wanita dewasa, fluor albus yang terjadi mungkin karena kadar estrogen yang
tinggi dan merupakan fluor albus yang fisiologis. Wanita dalam usia
reproduksi harus dipikirkan kemungkinan suatu penyakit hubungan seksual
(PHS) dan penyakit infeksi lainnya. Pada wanita yang usianya lebih tua harus
dipikirkan kemungkinan terjadinya keganasan terutama kanker serviks.
2. Metode kontrasepsi yang dipakai
Pada penggunaan kontrasepsi hormonal dapat meningkatkan sekresi kelenjar
serviks. Keadaan ini dapat diperberat dengan adanya infeksi jamur.
Pemakaian IUD juga dapat menyebabkan infeksi atau iritasi pada serviks
menjadi meningkat.
3. Kontak seksual
Untuk mengantipasi fluor albus akibat PHS seperti Gonorea, Kondiloma
Akuminata, Herpes Genitalis dan sebagainya. Hal yang perlu ditanyakan
kontak seksual terakhir dan dengan siapa melakukan.
4. Perilaku
Pasien yang tinggal di asrama atau bersama temannya kemungkinan tertular
penyakit infeksi yang menyebabkan terjadinya fluor albus cukup besar.
Contoh: kebiasan yang kurang baik tukar menukar alat mandi atau handuk.
5. Sifat fluor albus
Hal yang harus ditanya adalah jumlah, bau, warna, dan konsistensinya,
keruh/jernih, ada/tidaknya darah, frekuensinya dan sudah berapa lama
kejadian tersebut berlangsung. Hal ini perlu ditanyakan secara detail karena
dengan mengetahui hal-hal tersebut dapat diperkirakan kemungkinan
etiologinya.

17
6. Hamil atau menstruasi
Menanyakan kepada pasien kemungkinan hamil atau menstruasi, karena pada
keadaan ini fluor albus yang terjadi adalah fisiologis.
7. Masa inkubasi
Bila fluor albus timbulnya akut dapat diduga akibat infeksi atau pengaruh
rangsangan fisik:
a. Penyakit yang diderita
b. Penggunaan obat antibiotik atau kortikosteroid.
8. Pemeriksaan Fisik dan Genital
Pemeriksaan fisik secara umum harus dilakukan untuk mendeteksi adanya
kemungkinan penyakit kronis, gagal ginjal, ISK, dan infeksi lainnya yang
mungkin berkaitan dengan fluor albus.
Pemeriksaan khusus yang juga harus dilakukan adalah pemeriksaan genetalia
yaitu meliputi:
- Inspeksi dan palpasi genitalia eksterna
- Pemeriksaan spekulum untuk melihat vagina dan serviks
- Pemeriksaan pelvis bimanual
Untuk menilai cairan dinding vagina, hindari kontaminasi dengan lendir
vagina. Dan dapat disesuaikan dari gambaran klinis sehingga dapat diketahui
kemungkinan penyebabnya.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi dengan faktor resiko invasi kuman sekunder terhadap
pembedahan
2. Ansietas b.d. kurang pengetahuan terhadap penyakit
3. Defisiensi pengetahuan b.d. kurang terpapar informasi.
4. Kerusakan integritas kulit b.d. adanya lesi.

18
C. Intervensi Keperawatan
1. Resiko infeksi dengan faktor resiko invasi kuman sekunder terhadap
pembedahan
Tujuan : Tidak terjadi infeksi.
Kriteria hasil :
a. Tidak ada tanda-tanda infeksi
b. TTV normal
c. Tidak ada peningkatan leukosit
Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda infeksi dan monitor TTV
Rasional :mengetahui keadaan umum pasien dan memantau ada
tidaknya tanda-tanda infeksi
b. Gunakan tehnik antiseptik dalam merawat pasien
Rasional :teknik aseptik dapat meminimalisir terjadinya infeksi pada
pasien
c. Isolasikan dan instruksikan individu dan keluarga untuk mencuci
tangan sebelum mendekati pasien
Rasional : teknik isolasi dan cuci tangan dapat memutus mata rantai
proses terjadinya infeksi
d. Berikan penjelasan tentang perawatan organ reproduksi
Rasional : agar pasien dapat menjaga kebersihan reproduksi secara
mandiri
e. Berikan terapi antibiotik sesuai program dokter
Rasional : terapi antibiotik merupakan terapi farmakologi untuk
mencegah terjadinya infeksi pada pasien

2. Ansietas b.d. kurang pengetahuan terhadap penyakit


Tujuan : ansietas dapat berkurang atau hilang

19
Kriteria hasil :
a. Mengungkapkan perasaan ansietas
b. Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun
c. Kelihatan rileks, dapat tidur / istirahat dengan benar
Intervensi :
a. Kaji faktor presipitasi dan predisposisi ansietas pasien
Rasional : menentukan intervensi yang tepat bagi pasien
b. Berikan kesempatan pada klien dan klien mengungkapkan persaannya
Rasional : mengetahui apa yang sedang dirasakan pasien saat ini
c. Dorong keberadaan atau partisipasi pasangan
Rasional : memberikan dukungan emosional dapat mendorong
mengungkapkan masalah.
d. Bantu pasien atau pasangan dalam mengidentifikasi mekanisme
koping yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika
dibutuhkan
Rasional : membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap
peran baru, mengurangi perasaan ansietas
e. Memberikan informasi yang akurat tentang keadaan pasien saat ini
Rasional : khayalan yang disebabkan informasi atau kesalalah
pahaman dapat meningkatkan tingkat ansieta
3. Defisiensi pengetahuan b.d. kurang terpapar informasi
Tujuan : pasien paham tentang penyakit keputihan dan rencana pengobatan
Kriteria hasil:
a. Pasien mampu mengungkap kembali tentang penyakit keputihan dan
rencana pengobatan
b. Pasien berpartisipasi dalam perawatan
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan pasien
Rasional : Menentukan kebu-tuhan pengetahuan yang diperlukan
pasien

20
b. Jelaskan kepada pasien tentang penyakit keputihan dan rencana
pengobatan dengan bahasa yang sederhana
Rasional : Bahasa sederhana memudahkan pasien dalam menginterpre-
asikan informasi yang diterima
c. Diskusikan dengan pasien tentang hal-hal yang belum diketahui
Rasional : Menggali hal-hal yang belum diketahui pasien
d. Berikan reinforcement positif dari pertisipasi aktif paien
Rasional : Meningkatkan rasa percaya diri dan partisipasi pasien.
4. Kerusakan integritas kulit b.d. adanya lesi.
Tujuan : kerusakan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :
a. Bercak/warna kemerahan pada vagina berkurang/hilang
b. Tidak ada lesi pada daerah vagina
Intervensi :
a. Pertahankan kebersihan, kekeringan, dan kelembaban kulit, gunakan
air hangat saat mandi.
Rasional : untuk menjaga keutuhan dan menghindari kondisi kulit
yang teriritasi semakin buruk.
b. Pastikan intake nutrisi adekuat.
Rasional : Untuk meningkatkan penyembuhan lesi dan mencegah
infeksi semakin memburuk.
c. Edukasi pasien dan keluarga untuk menjaga pasien terhindar dari
bahan kimia seperti detergen dan tidak menggunakan sabun serta
pelembab kulit yang mengandung alcohol, serta menjaga kebersihan
vagina.
Rasional : untuk menghindari iritasi yang semakin membusuk
kondisi vagina yang bersih dan tidak lembab dapat mempercepat
penyembuhan luka.
d. Kolaborasi pemberian antibiotik.
Rasional : untuk mencegah infeksi.

21
DAFTAR PUSTAKA

Amiruddin, D. 2003. Fluor Albus in Penyakit Menular Seksual. Yogyakarta : LKIS.


Kata Hati.

Manoe, I.. M.S. M, Rauf, S, Usmany,H. 1999. Pedoman Diagnosis dan Terapi
Obstetri dan Ginekologi. Ujung Pandang : Bagian/SMF Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Unhas RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo.

Maulana. 2008. Buku Pegangan Ibu Panduan Lengkap Kehamilan. Yogyakarta :

Sarwono. 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.

Widi Sischa, 09 Maret 2017. https://www.scribd.com/document/341371008/Laporan-


Pendahuluan-Fluor-Albus. Diakses pada hari Selasa, 08 Agustus 2017.

Wijayanti. 2009. Fakta Penting Seputar Kesehatan Reproduksi Wanita. Yogyakarta :


Book Marks.

Wiknjosastro, H, Saifuddin, B, Rachimhadi, Trijatmo. 1999. Radang dan Beberapa


penyakit lain pada alat genital wanita in Ilmu Kandungan. Edisi kedua ,
Cetakan Ketiga. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirodihardjo.

22