Anda di halaman 1dari 5

Patofisiologi Leukemia Limfoblastik Akut

Syahrul Nur F Amrullah, 201470038

A. Pendahuluan
Leukemia merupakan tumor ganas yang pada umumnya terjadi pada anak atau dengan kata
lain, sekitar 31% dari semua keganasan yang terjadi pada anak (<15 tahun) adalah karena leukemia.
Leukemia limfoblastik akut atau acute lymphoblastic leukemia (ALL) merupakan keganasan hematologi
(leukemia) yang tersering pada anak. Kasus ALL sekitar 77% dari semua leukemia pada anak. Pada ALL,
gejala yang terjadi (patofisiologi) diakibatkan gangguan fungsi sumsum tulang sehingga muncul berbagai
manifestasi.1 Oleh karena itu, pada LTM PBL 2 Modul Hemato-Onko ini, membahas tentang patofisiologi
leukemia limfoblastik akut yang terjadi pada pasien (anemia, perdarahan gusi dan ptekiae, demam,
hepato-splenomegali dan perbesaran kelenjar getah bening/KGB, serta nyeri).

B. Tinjauan Pustaka
B.1. Patofisiologi anemia, perdarahan gusi dan ptekiae pada leukemia limfoblastik akut
Pada leukemia ini, akan terjadi peningkatan proliferasi (hematopoeisis) yang abnormal dari sel
progenitor sel limfosit. Pada akhirnya, terjadi peningkatan jumlah yang abnormal sel yang belum matang
(immature) atau dikenal dengan sel Blas. Proses peningkatan tersebut mengakibatkan terakumulasi sel
blas di sumsum tulang sehingga menekan dan menghambat proliferasi sel dari jalur lain (selain jalur
limfosit). Penekanan pada jalur lain (eritrosit, trombosit, neutrofil dan sebagainya) mengakibatkan
penurunan komponen sel darah pada jalur tersebut (pansitopenia). Penurunan komponen sel darah
tersebut yang akan mengakibatkan manifestasi klinis. Penurunan komponen sel darah merah akan
mengakibatkan parameter hemoglobin ataupun hematoktrit dibawah batas nilai normal. Oleh karena
itu, akan muncul manifestasi dari anemia, seperti pucat, pusing, mudah lelah, lesu dan lain-lain sebagai
akibat hipoksia atau mekanisme kompensasi terhadap hipoksia tersebut (Gambar 1). 2,3
Selain itu, anemia juga terjadi sebagai akibat sitokin proinflamasi. Sitokin proinflamasi
diantaranya ialah TNF (tumor necrosis factor), IFN ϒ (interferon ϒ), IL-1 (Interleukin 1) yang akan
menekan produksi eritropoetin (EPO) dan proliferasi progenitor eritroid (BFU/CFU-E) atau dapat dilihat
pada Gambar 2. keadaan tersebut akan mengakibatkan pembentukan sel darah merah menjadi
menurun, sehingga akan muncul manifestasi klinis sebagai anemia. 4
Gambar 1. Perkembangan dan manifestasi anemia.2

Gambar 2. Penekanan Eritropoetin oleh sitokin inflamasi.4


Kemudian untuk perdarahan gusi dan ptekiae juga sebagai akibat penurunan komponen sel
darah karena supresi dari sel blas sehingga fungsi sumsum tulang tertekan. Hal tersebut mengakibatkan
penurunan trombosit (trombositopenia) di sirkulasi. Keadaan ini akan mengakibatkan gangguan fungsi
yang diperankan trombosit dalam hemostatis normal menjadi terganggu, sehingga mudah terjadi
perdarahan, seperti ptekiae, ekimosis, epistaksis dan perdarahan gusi. 2,3,5
B.2. Patofisiologi demam pada leukemia limfoblastik akut
Demam adalah suatu tanda awal dan biasanya disertai dengan kedinginan. Demam pada ALL
terjadi bisa karena infeksi sebagai akibat neutropenia (sistem imun menurun) atau proliferasi dan
hipermetabolisme dari sel leukemia. Pada jumlah neutrofil < 500 sel/µL akan meningkatkan resiko
terjadinya infeksi. Biasanyanya tempat predileksi infeksi pada rongga mulut, tenggorokan, saluran
pernapasan, kolon bawah, saluran urinary atau kulit.2,3
B.3. Patofisiologi hepato-splenomegali dan perbesaran KGB pada leukemia limfoblastik akut
Peningkatan dari sel blas pada sumsum tulang pada akhirnya sel yang berlebih akan masuk ke
sirkulasi dan menyebar ke berbagai organ. Sel-sel tersebut akan dapat menginfiltrasi dan terakumulasi
pada beberapa organ, seperti pada hati, limpa, nodus limfatik ataupun organ lainnya. Keaadaan tersebut
mengakibatkan organ-organ tersebut mengalami pembesaran organ (hepatomegali, splenomegali,
pembesaran KGB) sebagai akibat infiltrasi dan akumulasi dari sel-sel blas tersebut ke dalam oragan-
organ tersebut. Kelenjar getah bening merupakan salah satu organ limfoid perifer dan merupakan
tempat reaksi imun adaptif berkembang. Organ limfoid perifer diantaranya ialah KGB, limpa dan
jaringan limfoid mukosa dan kulit (Gambar 3) dan jika ada infiltrasi akan terlihat pada Gambar 4. 2,3,5

Gambar 3. Jaringan limfoid.3 Gambar 4. Limpadenopati.2


B.4. Patofisiologi nyeri pada leukemia limfoblastik akut
Rasa sakit ataupun nyeri, biasanya pada tulang. Hal tersebut sebagai akibat infiltrasi sel blas
yang akan mengakibatkan ekspansi atau peragangan di periosteum. Peregangan tersebut yang memicu
rasa sakit ataupun nyeri.2,5

Berikut secara garis besar patofisiologi dari pucat, mudah lelah, lesu, perdarahan gusi, ptekiae,
demam, hepato-splenomegali dan perbesaran kelenjar getah bening/KGB, serta nyeri pada leukemia,
khususnya limfoblastik akut yang tertera pada tabel 1.
Tabel 1. Manifestasi klinis dan patologi dasarnya pada leukemia.3

C. Kesimpulan
Jadi pada kasus PBL 2 ini, pasien mengalami berbagai manifestasi klinis diakibatkan oleh
proliferasi abnormal sel progenitor (sel blas), tertekannya hematopoesis dan infiltrasi organ oleh sel
leukemia (sel blas) pada leukemia limfoblastik akut. Proliferasi tersebut berdampak pada metabolisme
tubuh, yang mana akan terjadi peningkatan metabolisme dan pada akhirnya hasil metabolismenya salah
satunya akan menghasilkan energi panas (suhu tubuh meningkat/demam). Selain itu, demam dapat
terjadi sebagai akibat tanda awal dari infeksi. Infeksi dapat terjadi sebagai akibat efek dari penekanan
sumsum tulang oleh sel blas. Hal tersebut mengakibatkan hematopoesis dalam sumsum tersebut
terganggu, yang akan mengakibatkan penurunan produk sel darah, salah satunya neutrofil
(neutropenia). Penurunan tersebut mengakibatkan tubuh mudah terkena infeksi, yang seperti kita
ketahui neutrofil berperan dalam sistem imun kita. Hematopoesis yang terganggu tersebut juga akan
mengakibatkan penurunan sel darah merah (eritrosit) dan keeping darah (trombosit). Penurunan
eritrosit akan bermanifestasi sebagai anemia, sedangkan penurunan trombosit akan bermanifestasi
sebagai perdarahan gusi ataupun ptekiae. Kemudian infiltrasi ke organ-organ tertentu oleh sel blas akan
mengakibatkan perbesaran organ (organomegali) dan dapat mengakibatkan peregangan pada
periosteum yang akan bermanifestasi sebagai rasa sakit/nyeri.
Daftar Pustaka:
1. Tubergen DG, Bleyer A, Ritchey AK. The leukemias. In: Kliegman RM, Stanton BF, Schor NF,
Geme JWS, Behrman RE. Nelson textbook of pediatrics. Ed 19th. Philadelphia: Elsevier Saunders;
2011. p. 1732-4
2. KL, Huether SE. The biologic basis for disease in adults and children. Ed 7th. Brashers VL, Rote NS,
Editors. Missouri: Elsevier Mosby; 2014. p. 982-7; 1009-21.
3. Grosman SC, Porth CM. Porth’s pathophysiology consepts of altered health states . Ed 9th.
Philadelphia: Wolters Kluwer | Lippincott Williams & Wilkins; 2011. p. 689-94; 702-4.
4. Longo DL. Harrison’s hematology and oncology. Ed 2nd. Longo DL, Kasper DL, Jameson JL, Fauci
AS, Hauser SL, Loscalzo J, Editors. New York: McGraw-Hill Education; 2013. p. 77-8; 191.
5. Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Buku ajar patologi robbins. Ed 9th. Nasar IM, Cornain S, Editor
bahasa Indonesia. Singapore: Elsevier Saunders; 2013. p. 100; 422-7.