Anda di halaman 1dari 5

V.

Penatalaksanaan Medikamentosa
Penanganan leukemia meliputi kuratif dan suportif. Penanganan suportif meliputi
pengobatan penyakit lain yang menyertai leukemia dan pengobatan komplikasi antara lain
berupa pemberian transfusi darah atau trombosit, pemberian antibiotik, pemberian obat untuk
meningkatkan granulosit, obat anti jamur, pemberian nutrisi yang baik, dan pendekatan aspek
psikososial. 1,2,4,5,9

Terapi kuratif atau spesifik bertujuan untuk menyembuhkan leukemianya berupa


kemoterapi yang meliputi induksi remisi, intensifikasi, profilaksis susuan saraf pusat dan
rumatan. Klasifikasi risiko normal atau risiko tinggi akan menentukan protokol kemoterapi.
Saat ini di Indonesia sudah ada 2 protokol pengobatan yang lazim digunakan untuk pasien LLA
yaitu protokol Nasional (Jakarta) dan protokol WK-ALL 2000.1

Terapi induksi berlangsung 4-6 minggu dengan dasar 3-4 obat yang berbeda
(deksametason, vinkristin, L-asparaginase dan atau antrasiklin). Kemungkinan hasil yang dapat
dicapai remisi komplit, remisi parsial, atau gagal. Intensifikasi merupakan kemoterapi intensif
tambahan setelah remisi komplit dan untuk profilaksis leukemia pada susunan saraf pusat.
Hasil yang diharapkan adalah tercapainya perpanjangan remisi dan meningkatkan
kesembuhan. Pada pasien risiko sedang dan tinggi, induksi diintensifkan guna memperbaiki
kualitas remisi. Lebih dari 95% pasien akan mendapatkan remisi pada fase ini. Terapi SSP
yaitu secara langsung diberikan melalui injeksi intratekal dengan obat metotreksat, sering
dikombinasi dengan infus berulang metotreksat dosis sedang (500 mg/m2) atau dosis tinggi
pusat pengobatan (3-5 gr/m2). Di beberapa pasien risiko tinggi dengan umur >5 tahun mungkin
lebih efektif dengan memberikan radiasi cranial 18-24 Gy) disamping pemakaian kemoterapi
sistemik dosis tinggi.1,2,4,5,9

Terapi lanjutan rumatan dengan menggunakan obat merkeptopurin tiap hari dan
metotreksat sekali seminggu, secara oral dengan sitostatika lain selama perawatan tahun
pertama. Lamanya terapi rumatan ini pada kebanyakan studi adalah 2 – 2,5 tahun dan tidak ada
keuntungan jika perawatan sampai dengan 3 tahun. Dosis sitostatika secara individual dipantau
dengan melihat leukosit atau monitor konsentrasi obat selama terapi rumatan.1

Pasien dinyatakan remisi komplit apabila tidak ada keluhan dan bebas gejala klinis
leukemia, pada aspirasi sumsum tulang didapatkan jumlah sel blas kurang 5% dari sel berinti,
hemoglobin lebih dari 12g/dL tanpa transfusi, jumlah leukosit lebih dari 3000/µL dengan
hitung jenis leukosit normal, jumlah granulosit lebih dari 2000/µL, jumlah trombosit lebih dari
100000/µL, dan pemeriksaan cairan serebrospinal normal.1

Dengan terapi intensif modern, remisi akan tercapai pada 98% pasien, 2-3% dari pasien
anak akan meninggal dalam CCR (continuous complete remission) dan 25-30% akan kambuh.
Sebab utama kegagalan terapi adalah kambuhnya penyakit. Relaps sumsun tulang yang terjadi
(dalam 18 bulan sesudah diagnosis) memperburuk prognosis (10-20% long-term survival)
sementara relaps yang terjadi kemudian setelah penghentian terapi mempunyai prognosis yang
lebih baik, khususnya relaps testis dimana long-term survival 50-60%. Tetapi relaps harus lebih
agresif untuk mengatasi resistensi obat.1

 Kemoterapi
Pengobatan umumnya terjadi secara bertahap, meskipun tidak semua fase yang
digunakan untuk semua orang.
a. Tahap 1 (terapi induksi)
Tujuan dari tahap pertama pengobatan adalah untuk membunuh sebagian besar sel-sel
leukemia di dalam darah dan sumsum tulang. Terapi induksi kemoterapi biasanya memerlukan
perawatan di rumah sakit yang panjang karena obat menghancurkan banyak sel darah normal
dalam proses membunuh sel leukemia. Pada tahap ini dengan memberikan kemoterapi
kombinasi yaitu daunorubisin, vincristin, prednison dan asparaginase.
b. Tahap 2 (terapi konsolidasi/ intensifikasi)
Setelah mencapai remisi komplit, segera dilakukan terapi intensifikasi yang bertujuan
untuk mengeliminasi sel leukemia residual untuk mencegah relaps dan juga timbulnya sel yang
resisten terhadap obat. Terapi ini dilakukan setelah 6 bulan kemudian.
c. Tahap 3 ( profilaksis SSP)
Profilaksis SSP diberikan untuk mencegah kekambuhan pada SSP. Perawatan yang
digunakan dalam tahap ini sering diberikan pada dosis yang lebih rendah. Pada tahap ini
menggunakan obat kemoterapi yang berbeda, kadang-kadang dikombinasikan dengan terapi
radiasi, untuk mencegah leukemia memasuki otak dan sistem saraf pusat.
d. Tahap 4 (pemeliharaan jangka panjang)
Pada tahap ini dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi. Tahap ini biasanya
memerlukan waktu 2-3 tahun.
Angka harapan hidup yang membaik dengan pengobatan sangat dramatis. Tidak hanya 95%
anak dapat mencapai remisi penuh, tetapi 60% menjadi sembuh. Sekitar 80% orang dewasa
mencapai remisi lengkap dan sepertiganya mengalami harapan hidup jangka panjang, yang
dicapai dengan kemoterapi agresif yang diarahkan pada sumsum tulang dan SSP.

 Radioterapi
Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk membunuh sel-sel leukemia.
Sinar berenergi tinggi ini ditujukan terhadap limpa atau bagian lain dalam tubuh tempat
menumpuknya sel leukemia. Energi ini bisa menjadi gelombang atau partikel seperti proton,
elektron, x-ray dan sinar gamma. Pengobatan dengan cara ini dapat diberikan jika terdapat
keluhan pendesakan karena pembengkakan kelenjar getah bening setempat.
 Transplantasi Sumsum Tulang
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk mengganti sumsum tulang yang rusak
dengan sumsum tulang yang sehat. Sumsum tulang yang rusak dapat disebabkan oleh dosis
tinggi kemoterapi atau terapi radiasi. Selain itu, transplantasi sumsum tulang juga berguna
untuk mengganti sel-sel darah yang rusak karena kanker. Pada penderita LMK, hasil terbaik
(70-80% angka keberhasilan) dicapai jika menjalani transplantasi dalam waktu 1 tahun setelah
terdiagnosis dengan donor Human Lymphocytic Antigen (HLA) yang sesuai. Pada penderita
LMA transplantasi bisa dilakukan pada penderita yang tidak memberikan respon terhadap
pengobatan dan pada penderita usia muda yang pada awalnya memberikan respon terhadap
pengobatan.
 Terapi Suportif
Terapi suportif berfungsi untuk mengatasi akibat-akibat yang ditimbulkan penyakit
leukemia dan mengatasi efek samping obat. Misalnya transfusi darah untuk penderita leukemia
dengan keluhan anemia, transfusi trombosit untuk mengatasi perdarahan dan antibiotik untuk
mengatasi infeksi.
Terapi acute lymphoblastic leukemia (ALL) bertujuan untuk menginduksi remisi,
yakni periode dimana tidak ditemukannya sel kanker di dalam tubuh (biasanya kurang dari
5% sel blast di sumsum tulang). Pengobatan acute lymphoblastic leukemia (ALL) meliputi
pemberian kemoterapi, terapi radiasi, serta transplantasi sumsum tulang.
Kemoterapi merupakan pilihan pertama pengobatan acute lymphoblastic leukemia
(ALL), sebagian besar pasien akan mendapatkan kombinasi terapi. Tidak ada pilihan untuk
pembedahan karena luasnya distribusi sel-sel ganas yang meluas di dalam tubuh. Kemoterapi
pada acute lymphoblastic leukemia (ALL) terdiri dari tahap remisi, induksi, intensifikasi, dan
pemeliharaan.
Tahap induksi remisi pada kemoterapi bertujuan untuk membunuh sebagian besar sel
tumor secara cepat sehingga pasien sampai pada tahap remisi. Obat yang digunakan pada
tahap kemoterapi ini adalah prednisolon atau deksametason, vinkristin, asparaginase
(ditoleransi lebih baik pada pasien pediatrik), dan daunorubisin (digunakan pada pasien
dewasa). Profilaksis sistem saraf pusat dilakukan melalui pemberian terapi iradiasi,
kombinasi obat sitarabin ditambah metotreksat, atau sitarabin liposomal.
Tahap konsolidasi/intensifikasi pada terapi acute lymphoblastic leukemia (ALL)
menggunakan dosis tinggi obat-obatan kemoterapi guna mengurangi sel-sel tumor lebih
lanjut. Oleh karena sel-sel ALL kadangkala menembus sistem saraf pusat, maka sebagian
besar protokol melibatkan pemberian kemoterapi pada cairan sistem saraf pusat, dikenal
dengan rute intratekal. Obat yang diberikan pada tahap ini meliputi vinkristin, siklofosfamid,
sitarabin, daunorubisin, etoposid, tioguanin, atau merkaptopurin.
Tahap pemeliharaan pada terapi acute lymphoblastic leukemia (ALL) bertujuan untuk
membunuh sisa sel tumor yang tidak terbunuh pada tahap kemoterapi sebelumnya. Meskipun
sel tersebut kecil namun dapat menimbulkan kekambuhan bila tidak dihilangkan. Obat yang
diberikan pada tahap pemeliharaan ini meliputi obat oral merkaptopurin harian, metotreksat
sekali seminggu, vinkristin setiap bulan secara intravena, dan kortikosteroid oral. Tahap
pemeliharaan memakan waktu 2-3 tahun.
Selain kemoterapi, acute lymphoblastic leukemia (ALL), juga dapat diterapi
menggunakan radiasi/radioterapi. Pada beberapa kasus ALL kambuhan, terapi menargetkan
target biologis seperti proteasom dikombinasikan dengan kemoterapi telah menunjukkan hasil
baik pada uji klinis. Obat terapi biologis yang sedang dujikan yakni blinatumomab (suatu
antibodi monoklonal).
Imumoterapi menggunakan CARs (chimeric antigen receptors) juga menunjukkan
hasil yang baik pada uji klinis. Pada imunoterapi, digunakan single chain variable fragment
(scFv) yang dirancang untuk mengenali penanda permukaan sel CD19. CD19 adalah molekul
yang ditemukan pada semua sel B dan dapat digunakan sebagai cara untuk membedakan
potensi populasi sel B ganas pada pasien, kemudian sel T akan dipacu untuk melakukan respon
sitotoksik.

Referensi:
Hsu LI, Chokkalingam AP, Briggs FB, et al. (2015). “Association of genetic variation in
IKZF1, ARID5B, and CEBPE and surrogates for early-life infections with the risk of acute
lymphoblastic leukemia in Hispanic children”. Cancer Causes Control. 26 (4): 609–19.