Anda di halaman 1dari 6

1.

Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengadaan tanah berdasarkan Pasal 1 angka 3
Perpres No. 65 Tahun 2006?

Untuk menjelaskan pertanyaan berikut, maka wajib membuka kembali PP No. 36 tahun
2005. Pasal 1 angka 3 sebelum diubah berbunyi,

“Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara
memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan,
tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak
atas tanah.”

Dalam PP No. 65 Tahun 2006 diubah menjadi,


“Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara
memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah, bangunan,
tanaman, dan benda-benda yang berkaitan dengan tanah.”

Dimana dihilangkan kata-kata “atau dengan pencabutan hak atas tanah” yang berarti, bila
sebelumnya pengadaan atas tanah dilakukan dengan ganti kerugian, pelepasan hak atas
tanah dan dapat mencabut hak atas tanah, dengan perubahan tersebut, pengadaan atas
tanah dilakukan dengan ganti kerugian dan pelepasan hak atas tanah.
Hal tersebut dapat dilihat dari sejarah munculnya peraturan ini. Pasal 18 UUPA
menyatakan:
“Untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan Negara serta kepentingan
bersama dari rakyat, hak-hak atas tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian
yang layak dan menurut cara yang diatur dengan Undang-undang”.
Sederhananya dapat dikatakan bahwa demi kepentingan umum, maka hak-hak atas tanah
dapat dicabut oleh negara dengan memberikan ganti rugi. Terkait dengan hak milik,
sebenarnya telah dinyatakan dalam definisi hak milik yang dengan tegas dinyatakan
bahwa semua hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.
Sehingga atas dasar fungsi sosial itulah, Negara berwenang untuk mencabut hak atas
tanah yang dimiliki oleh warga masyarakat. Payung hukum atau ketentuan yang
mendasari dilakukannya pencabutan hak atas tanah ini dahulunya diatur dengan
Staatsblad 1920 Nomor 574, atau dikenal dengan sebutan “Onteigening-sordonnantie”.
Ordonansi tersebut telah beberapa kali diubah dan ditambah, yang terakhir dengan
Staatsblad 1947 Nomor 96, dengan maksud untuk menyesuaikannya dengan perubahan
keadaan dan keperluan. Akan tetapi, biarpun demikian Onteigening-sordonnantie tetap
tidak sesuai lagi dengan keperluan dewasa ini. Peraturan tersebut disusun atas dasar
pengertian hak “eigendom” sebagaimana yang termuat dalam Pasal 570 BW yaitu hak
perseorangan yang tertinggi menurut hukum barat dan mutlak serta tidak dapat diganggu
gugat. Oleh karena itu Onteigening-sordonnantie memuat ketentuan-ketentuan yang
memberi perlindungan yang terlalu berlebihan atas hak-hak perseorangan. Berhubung
dengan itu maka untuk mengadakan pencabutan hak menurut ordonansi tersebut harus
dilalui proses yang panjang dan diperlukan waktu yang cukup lama, sebab harus melalui
beragam instansi, baik itu instansi legislatif, eksekutif maupun pengadilan.
Memang benar, bahwa berdasarkan ordonansi tersebut, maka dalam keadaan tertentu
seperti keadaan darurat dan guna pembangunan perumahan rakyat, proses pencabutan
hak atas tanah dapat dilakukan dengan cara yang lebih singkat, namun secara
keseluruhan, semangat yang ada dalam ordonansi tersebut sudah tidak sama dengan
semangat yang dikedepankan dalam UUPA.
Sebab semangat individualisme dan kekuasaan mutla atas tanah sebagaimana yang
digariskan dalam pengertian hak eigendom berdasarkan hukum barat (Pasal 570 BW)
tidak lagi sama dengan semangat kebersamaan dan gotong royong yang dianut di dalam
UUPA yang tentunya lebih mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan
pribadi. Atas dasar itulah sehingga ordonansi tersebut dicabut kemudian diterbitkanlah
Undang-Undang No. 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah Dan Benda-
Benda Yang Ada Di Atasnya.
Dalam pelaksanaannya UU No. 20 Tahun 1961 ini ditunjang dengan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1973 Tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh
Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda
Yang Ada Di Atasnya, dan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1973
Tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada Di
Atasnya.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, harus diakui bahwasanya ketiga ketentuan
di atas tidak lagi sesuai dengan keadaan masyarakat yang berada dalam alam demokrasi.
Karena kekuasaan pemerintah dalam mencabut hak atas tanah yang dimiliki oleh warga
masyarakat begitu besar, sementara kekuasaan tersebut tidak dibarengi dengan
tersedianya ruang yang cukup untuk pihak yang dirugikan dalam memperjuangkan hak-
haknya.
Sehingga perlahan-lahan ketentuan tersebut diperlunak dengan diterbitkannya
peraturan-peraturan yang mengatur tentang pengadaan tanah untuk kepentingan umum.
Adapun peraturan-peraturan yang pernah diterbitkan dan sebagian masih berlaku
berkaitan dengan pengaddaan tanah untuk kepentingan umum, antara lain:

1. Undang-Undang No. 20 Tahun 1961 Tentang Pencabutan Hak-Hak Atas


Tanah Dan Benda-Benda Yang Ada Di Atasnya;
2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1973 Tentang
Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan
Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada Di
Atasnya;
4. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1973 Tentang
Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda Yang Ada
Di Atasnya;
5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1993 Tentang
Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum,
yang telah dicabut dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia
Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, kemudian diubah dengan Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2006 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah
Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum, selanjutnya
dicabut dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun
2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum, yang kemudian diubah dengan Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2014 Tentang Perubahan
Atas Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan
Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum;
6. Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor 1 Tahun 1994 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Keputusan Presiden
Republik Indonesia Nomor 55 Tahun 1993 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Dicabut dengan
Peraturan Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor
3 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor
36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan
Untuk Kepentingan Umum Sebagaimana Telah Diubah Dengan Peraturan
Presiden Nomor 65 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Peraturan
Presiden Nomor 36 Tahun 2005 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Yang selanjutnya
dicabut dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun
2012 Tentang Penyelenggaraan Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum;
7. Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaan Nomor
PER-31/PB/2008 Tentang Mekanisme Pembayaran Biaya Pengadaan Tanah
Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Yang Dananya
Bersumber Dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;
8. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 58/PMK.02/2008 Tentang Biaya
Panitia Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk
Kepentingan Umum;

Sehingga di alam demokarsi ini, maka pencabutan hak atas tanah, tidak lagi berdasarkan
semangat otoriter, namun hak pribadi/individu atas tanah semakin diperhatikan negara,
namun fungsi sosial akan tanah untuk kepentingan umum juga diutamakan.

Sumber:
PP No. 36 Tahun 2005
PP No. 65 Tahun 2006
PP No.71 Tahun 2012
http://professionaladvocate.blogspot.com/2014/12/pencabutan-hak-atas-tanah.html
http://syukran-lubis.blogspot.com/2012/02/pengadaan-tanah-bagi-kepentingan.html
https://mardalli.wordpress.com/2009/07/15/bandingan-perpres-55-1993perpres-36-
2005kepres-65-2006-tentang-pengadaan-tanah-untuk-kepentingan-umum/
https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt574ee9e0b6653/3-aspek-hukum-terkait-
pengadaan-tanah-untuk-infrastruktur

2. Jelaskan maksud dilakukannya kegiatan pengadaan tanah!

Pengertian Pengadaan Tanah dalam UU Pengadaan Tanah adalah kegiatan


menyediakan tanah dengan cara memberi ganti kerugian yang layak dan adil kepada
Pihak yang Berhak, yakni kepada pihak yang menguasai atau memiliki Objek
pengadaan tanah, dengan penggantian yang layak dan adil dalam proses pengadaan
tanah. Lebih lanjut dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan Objek pengadaan tanah
adalah tanah, ruang atas tanah dan bawah tanah, bangunan, tanaman, benda yang
berkaitan dengan tanah, atau lainnya yang dapat dinilai.
Dalam proses pengadaan tanah tersebut, Pihak yang Berhak wajib melepaskan
tanahnya pada saat pelaksanaan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum setelah
pemberian Ganti Kerugian atau berdasarkan putusan pengadilan yang telah
memperoleh kekuatan hukum tetap. Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum
tersebut diselenggarakan sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah, Rencana
Pembangunan Nasional/Daerah, Rencana Strategis dan Rencana Kerja setiap Instansi
yang memerlukan tanah, dengan melibatkan pengampu kepentingan seperti pemuka
adat dan tokoh agama dan pemangku kepentingan yaitu orang atau pihak yang memiliki
kepentingan terhadap objek pelepasan tanah, seperti halnya Pihak yang Berhak,
pemerintah dan masyarakat. Penyelenggaraan Pengadaan Tanah untuk Kepentingan
Umum harus memperhatikan keseimbangan antara kepentingan pembangunan dan
kepentingan masyarakat sesuai Pasal 2 huruf (c) UU Pengadaan Tanah, yakni
pengadaan tersebut harus memberikan manfaat secara luas secara seimbang serta
sejalan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri sesuai dengan asas manfaat dan asas
keselarasan.

Tujuan Pembangunan Pengadaan Tanah

1. Pertahanan dan keamanan nasional


2. Jalan umum, jalan tol, terowongan, jalur kereta api, stasiun kereta api, dan
fasilitas operasi kereta api
3. Waduk, bendungan, bendung, irigasi, saluran air minum, saluran pembuangan
air dan sanitasi, dan bangunan pengairan lainnya
4. Pelabuhan, bandar udara, dan terminal
5. Infrastruktur minyak, gas, dan panas bumi
6. Pembangkit, transmisi, gardu, jaringan, dan distribusi tenaga listrik
7. Jaringan telekomunikasi dan informatika pemerintah
8. Tempat pembuangan dan pengolahan sampah
9. Rumah sakit pemerintah/pemerintah daerah
10. Fasilitas keselamatan umum
11. Tempat pemakaman umum Pemerintah/Pemerintah Daerah
12. Fasilitas sosial, fasilitas umum, dan ruang terbuka hijau publik
13. Cagar alam dan cagar budaya
14. Kantor Pemerintah/Pemerintah Daerah/desa
15. Penataan permukiman kumuh perkotaan dan/atau konsolidasi tanah, serta
perumahan untuk masyarakat berpenghasilan rendah dengan status sewa
16. Prasarana pendidikan atau sekolah Pemerintah/Pemerintah Daerah
17. Prasarana olahraga Pemerintah/Pemerintah Daerah
18. Pasar umum dan lapangan parkir umum

Sumber:

http://www.ercolaw.com/index.php?option=com_content&view=article&id=70:pengadaan-
tanah-untuk-kepentingan-umum-dan-proses-konsinyasi&catid=29:the-cms&Itemid=50
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan peralihan hak!

Pengertian Pengalihan Hak

Berdasarkan pasal 20 tentang pengertian hak milik adalah hak atas tanah yang turun
temurun, artinya tidak terbatas jangka waktu penguasaannya dan jika pemiliknya
meninggal dunia akan dilanjutkan oleh ahli warisnya. Selain dapat di warisi oleh ahli
warisnya, hak milik juga dapat dialihkan (dalam arti di pindahkan) kepada pihak yang lain,
misalnya melalui jual beli, tukar menukar, hibah, hibah wasiat, pemasukan dalam
perusahaan.
Hak milik juga diartikan hak terkuat dan terpenuh, artinya terkuat adalah hak milik atas
tanah lebih kuat bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain. Tidak mempunyai
batas waktu tertentu, mudah dipertahankan dari gangguan pihak lain, dan tidak mudah di
hapus. Terpenuh artinya hak milik atas tanah member wewenang pada pemiliknya paling
luas bila dibandingkan dengan hak atas tanah yang lain, dan penggunaan tanahnya lebih
luas jika dibandingkan hak atas tanah yang lain. Misalnya, peraturan-peraturan tentang Hak
milik adat.
Peralihan Hak atas tanah adalah sesuatu hal yang menyebabkan Hak atas tanah berpindah
atau beralih dari seseorang atau badan Hukum kepada orang lain atau badan Hukum. Hal
tersebut bisa terjadi karena; Perbuatan Hukum dan Peristiwa Hukum.

Peraturan Hak milik atas tanah diatur dalam pasal 20 ayat (2) UUPA, yaitu Hak milik dapat
beralih dan di alihkan pada pihak lain. Dua bentuk peralihan Hak Milik atas tanah dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Beralih
Beralih artinya berpindahnya Hak Milik atas tanah dari pemiliknya kepada pihak lain
dikarenakan suatu peristiwa Hukum. Contoh peristiwa hukum adalah meninggal
dunianya seseorang, dengan meninggalnya pemilik tanah maka Hak Miliknya secara
Hukum berpindah kepada ahli warisnya sepanjang ahli waris memenuhi syarat sebagai
subyek Hak Milik. Prosedur pendaftaran peralihan hak karena beralihnya Hak Milik
atas tanah diatur dalam pasal 42 peraturan pemerintah No. 24 Tahun 1997 Tentang
Pendaftaran Tanah. pasal 111 dan pasal 112 Permen Agraria/Kepala BPN No. 3 Tahun
1997 tentang ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentang pendaftaran tanah.
2. Dialihkan
Dialihkan artinya berpindahnya Hak Milik atas tanah dari pemegang hak atas tanah
kepada pihak lain dikarenakan adanya suatu perbuatan Hukum. Contoh perbuatan
hukum yaitu jual beli, tukar menukar, hibah, pernyertaan dalam modal perusahaan
(inbreng), lelang.
Perpindahan Hak Milik atas tanah karena adanya suatu perbuatan hukum harus
dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh dan dihadapan pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT) kecuali lelang dibuktikan dengan Berita Acara atau Risalah Lelang yang dibuat
oleh pejabat dari kantor lelang. Berpindahnya Hak Milik atas tanah ini harus
didaftarkan ke kantor pertanahan kabupatan atau kota setempat untuk dicatat dalam
buku tanah dan di lakukan perubahan nama dalam sertifikat dari pemilik tanah lama
kepada pemilik tanah yang baru. Prosedur pemindahan Hak Milik atas tanah karena
jual beli, tukar menukar, hibah, penyertaan (pemasukan) dalam modal perusahaan
diatur dalam pasal 37 sampai dengan pasal 40 peraturan pemerintah No. 24 Tahun 1997.
Pasal 97 sampai dengan pasal 106 permen / kepala BPN No. 3 Tahun 1997.
Peralihan Hak Milik atas tanah baik secara langsung maupun tidak langsung kepada
orang asing, kepada seseorang yang mempunyai dua kewarganegaraan / kepada badan
hukum yang tidak ditunjuk oleh pemerintah adalah batal karena Hukum dan tanahnya
jatuh kepada Negara, artinya tanahnya kembali jadi pada tanah yang dikuasai langsung
oleh Negara.

Sumber:
Power Point Inisiasi 7
http://anastasiasihombing.blogspot.com/2015/03/peralihan-hak-atas-tanah.html
https://perpuskhoi.blogspot.com/2017/05/peralihan-hak-atas-tanah.html
http://fakultasilmuhukum.blogspot.com/2016/04/mekanisme-peralihan-hak-atas-
tanah.html
https://ramadhanmuawad.wordpress.com/2015/10/28/hak-atas-tanah-dan-peralihan-
hak-atas-tanah-dalam-hukum-tanah-nasional-2/