Anda di halaman 1dari 37

PORTOFOLIO

TBC

Disusun oleh :

dr. Dian Muflikhy Putri

Pendamping:

dr. Nunung Indriastutik

dr. Tontowi Jauhari

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA

RUMAHSAKIT BINA SEHAT JEMBER

PERIODE 6 Juni2017 - 5JUNI 2018


DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL ........................................................................................ i
DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii
BAB 1. PENDAHULUAN .................................................................................. 1
BAB 2. LAPORAN KASUS ............................................................................... 2
2.1 Identitas Pasien ........................................................................... 2
2.2 Anamnesis .................................................................................... 2
2.2.1 Keluhan Utama ................................................................. 2
2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang .............................................. 2
2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu ................................................. 3
2.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga ............................................... 3
2.2.5 Riwayat Pengobatan.......................................................... 3
2.2.7 Riwayat Sosial Lingkungan Ekonomi .............................. 3
2.2.7 Riwayat Gizi ..................................................................... 4
2.2.8 Anamnesis Sistem ............................................................. 4
2.3 Pemeriksaan Fisik ....................................................................... 4
2.3.1 Pemerksaan Umum ............................................................ 4
2.3.2 Pemeriksaan Khusus .......................................................... 5
2.4 Pemeriksaan Penunjang ............................................................. 8
2.4.1 Laboratorium ..................................................................... 8
2.4.2 Foto Thorax ....................................................................... 9
2.5 Resume ......................................................................................... 10
2.6 Diagnosis Kerja............................................................................ 10
2.7 Penatalaksanaan .......................................................................... 10
2.8 Prognosis ...................................................................................... 11
BAB 3. PEMBAHASAN ................................................................................... 11
3.1 Definisi ......................................................................................... 13
3.2 Cara Penularan ........................................................................... 13
3.3 Morfologi Bakteri ...................................................................... 14
3.4 Patogenesis ................................................................................... 14

ii
3.5 Klasifikasi .................................................................................... 17
3.6 Manifestasi Klinis........................................................................ 19
3.7 Pemeriksaan Fisik ...................................................................... 20
3.8 Pemeriksaan Penunjang ............................................................. 21
3.9 Penatalaksanaan ......................................................................... 25
3.10 Pencegahan .................................................................................. 30
3.11 Komplikasi ................................................................................... 32
3.12 Prognosis ...................................................................................... 32
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 33

iii
BAB 1. PENDAHULUAN

Tuberkulosis paru (TB) merupakan suatu penyakit infeksi saluran


pernapasan yang disebabkan oleh infeksi Mycobacterium Tuberculosis. TB
dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang penting karena kurang lebih 1/3
penduduk dunia terinfeksi. Sebagian besar dari kasus TB ini (95%) dan
kematiannya (98%) terjadi di negara berkembang. Alasan utama meningkatnya
beban TB global ini antara lain disebabkan oleh kemiskinan penduduk baik pada
negara yang sedang berkembang maupun pada penduduk perkotaan tertentu di
negara maju, adanya perubahan demografi dengan meningkatnya penduduk dunia
dan perubahan struktur usia manusia yang hidup, perlindungan kesehatan yang
tidak mencukupi pada kelompok yang rentan terutama di negeri-negeri miskin,
tidak memadainya pendidikan mengenai TB di antara para dokter, terlantar dan
kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostik, dan pengawasan kasus TB serta
adanya epidemi HIV terutama di Asia dan Afrika.
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara
ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan
kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada
kehilangan pendapatan tahunan rumah tangga sekitar 20-30%. Selain merugikan
secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma
bahkan dikucilkan oleh masyarakat.
Indonesia merupakan negara dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia
setelah Cina dan India. Pada tahun 1998 diperkirakan TB di Cina, India, dan
Indonesia berturut-turut 1.828.000, 1.414.000, dan 591.000 kasus. Berdasarkan
survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survai kesehatan nasional 2001,
prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. TB menempati rangking
nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia setelah penyakit
kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan serta dari golongan penyakit
infeksi TB merupakan penyebab kematian nomor satu.

1
2

BAB 2. LAPORAN KASUS

2.1 Identitas Pasien


Nama : Ny. F
Umur : 23 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Bangsalsari, Jember
Status : Menikah
Pendidikan : SMA
Suku : Jawa
Agama : Islam
Tanggal MRS : 18 Maret 2018
Tanggal pemeriksaan : 19 Maret 2018
Tanggal KRS : 20 Maret 2018

2.2 Anamnesis
Autoanamnesis dan heteroanamnesis dilakukan kepada pasien dan
keluarga pasien pada tanggal 19 Maret 2018
2.2.1 Keluhan Utama
Batuk sejak 6 bulan yang lalu

2.2.2 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien mengeluhkan mengalami batuk sejak 6 bulan ini. Batuk terkadang
disertai dahak kental berwarna kuning dan 3 bulan yang lalu batuk juga
disertai bercak darah segar. Pasien juga mengeluhkan mengalami sesak nafas
dan nyeri dada yang memberat apabila sedang batuk, pasien tidak memiliki
riwayat sesak sebelumnya. Pada malam hari pasien sering mengalami keringat
dingin, badan meriang dan nyeri otot. Dalam 6 bulan ini pasien merasakan
penurunan berat badan yang signifikan dan nafsu makan pasien juga turut
berkurang. Pasien mengaku tidak pernah mengalami demam yang hilang
timbul. Pasien belum pernah mendapat pengobatan untuk batuk sebelumnya.
2.2.3 Riwayat Penyakit Dahulu
Dari riwayat penyakit dahulu didapatkan pasien sering mengalami batuk
yang sering.

2.2.4 Riwayat Penyakit Keluarga


Dari riwayat keluarga tidak didapatkan keluarga yang memiliki riwayat
batuk lama.

2.2.5 Riwayat Pengobatan


Selama ini pasien tidak pernah memeriksakan diri ke dokter dan tidak
pernah minum obat batuk.

2.2.6 Riwayat Sosial Lingkungan Ekonomi


Dari riwayat sosial, tidak didapatkan tetangga dan teman sekerja yang
memiliki riwayat batuk lama. Pasien mengenyam pendidikan terakhir di bangku
Sekolah Menengah Atas (SMA), dan pasien bekerja sebagai pegawai salon.
Pasien tinggal serumah bersama suaminya yang bekerja sebagai pekerja honorer
di kantor desa. Pasien dikenal baik dan ramah oleh keluarga, kerabat maupun
tetangga. Kerabat dan tetangga disekitar rumah kerap berkunjung dan cukup
memperhatikan pasien dan keluarga.
Dari riwayat lingkungan, Rumah pasien berukuran 6 m x 9 m, berlantai
keramik, bertembok batu bata, dengan 2 kamar tidur, ruang tamu dan dapur.
Setiap ruangan dirumah pasien memiliki jendela sehingga sinar matahari dapat
masuk ke setiap ruangan di rumah tersebut. Pasien dan kedua anaknya
menggunakan air pompa untuk memenuhi kebutuhan mandi, cuci serta sebagai air
untuk dikonsumsi. Air minum sehari-hari yang berasal dari air pompa yang selalu
dimasak hingga mendidih sebelum dikonsumsi.
Dari riwayat ekonomi untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga pasien
mengandalkan penghasilan dari gaji pasien bekerja di salon dan gaji dari suami
pasien. Penghasilan perbulan pasien paling besar Rp 2.000.000,00
Kesan : Riwayat sosial lingkungan dan ekonomi cukup baik.
2.2.7 Riwayat Gizi
Pasien makan 3 kali sehari. Menu setiap harinya nasi, tempe, tahu, kadang-
kadang sayur dan jarang sekali makan buah dan daging. Pasien tidak pernah
mengkonsumsi ikan karena pasien alergi ikan laut. Saat sakit pasien suka
mengkonsumsi lauk daging.
BB: 53 kg
TB: 170 cm
BMI = Berat Badan (Kg) = 53
Tinggi Badan(m)2 (1,7)2
BMI = 18,34 (kurang dari normal)
Kesan : Riwayat gizi kurang baik.

2.2.8 Anamnesis Sistem


- Sistem serebrospinal : nyeri kepala (-), penurunan kesadaran (-)
- Sistem kardiovaskular : berdebar-debar (-)
- Sistem pernapasan : sesak (+), batuk (+), mengi (-)
- Sistem gastrointestinal : mual (-), muntah (-), diare (-), nafsu
makan menurun (+), nyeri perut (-), BAB tidak ada keluhan
- Sistem urogenital : BAK lancar, kuning jernih dan jumlah
500cc
- Sistem integumentum : turgor kulit normal, purpura (-), ptekie (-)
- Sistem muskuloskeletal : odema (-), atrofi (-), deformitas (-)

2.3 Pemeriksaan Fisik


2.3.1 Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : cukup
Kesadaran : compos mentis, GCS 4-5-6
Vital Sign : TD : 110/60 mmHg
Nadi : 80 x/menit, regular, kuat angkat
RR : 28 x/menit
Suhu Aksila : 36,5o C
Pernapasan : sesak (+), batuk berdahak (+), mengi (-)
Kulit : turgor kulit normal, purpura (-), ptekie (-)
Kelenjar limfe : pembesaran KGB (-), pembesaran kelenjar tiroid (-)
Otot : edema (-), atrofi (-)
Tulang : deformitas (-)
Status gizi : BB : 41 kg
TB : 162 cm
IMT : 15,6

2.3.2 Pemeriksaan Khusus


a. Kepala
- Bentuk : bulat lonjong, simetris
- Rambut : hitam keputihan, lurus
- Mata : konjungtiva anemis : +/+
sklera ikterus : -/-
oedem palpebra : -/-
refleks cahaya : +/+
- Hidung : sekret (-), bau (-), pernapasan cuping hidung (-)
- Telinga : sekret (-), bau (-), perdarahan (-)
- Mulut : sianosis (-), bau (-)
b. Leher
- KGB : tidak ada pembesaran
- Tiroid : tidak membesar
- JVP : tidak meningkat
c. Thorax
1. Cor :
- Inspeksi : ictus cordis tidak tampak
- Palpasi : ictus cordis tidak teraba
- Perkusi : redup di ICS IV PSL D s/d ICS V MCL S
- Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, suara tambahan (-)
2. Pulmo :
Anterior Posterior
Inspeksi: Inspeksi:
 Simetris  Simetris
 Retraksi -/-  Retraksi -/-
 Ketinggalan gerak -/-  Ketinggalan gerak -/-

Palpasi: P: Palpasi:
 Fremitus raba  Fremitus raba
N N N N
N N N N
N N N N
Perkusi : Perkusi :
S S S S
S S S S
S S S S
R S S S R S S S
R S R S
Auskultasi : Auskultasi :
SD SD
BV BV BV BV
BV BV BV BV
V V V V
↓V V V V ↓V V V V
↓V V ↓V V

RH RH
- - - -
- - - -
- - - -
- - - - - - - -
- - - - - -

WH WH
- - - -
- - - -
- - - -
- - - - - - - -
- - - - - -

d. Abdomen
- Inspeksi : flat
- Auskultasi : bising usus (+), 16x menit
- Palpasi : soepel, H/L/R dbn, nyeri tekan (-), nyeri ketok ginjal (-)
- Perkusi : timpani
e. Ekstremitas
- Superior : akral hangat +/+, odema -/-
- Inferior : akral hangat +/+, odema -/-
Status Psikiatri Singkat
1. Emosi dan afek : adekuat
2. Proses berpikir
Bentuk : realistic
Arus : koheren
Isi : waham (-)
3. Kecerdasan : dalam batas normal
4. Kemauan : dalam batas normal
5. Psikomotor : dalam batas normal
6. Ingatan : dalam batas normal

2.4 Pemeriksaan Penunjang


2.4.1 Laboratorium
JENIS PERIKSA 11 Maret 17 Maret 18 Maret NORMAL
HEMATOLOGI
Hemoglobin 8,2 8,2 10,8 11,4-15,1 gr/dl
Eritrosit 4,82 3,8-5,2 juta/mikroliter
MCV 50,8 80 – 100 fL
MCH 17 26 – 34 pg
MCHC 13,5 32 – 36 g/dL
RDW 23,8 11,5 – 14,5 %
Lekosit 15,4 11,4 11,1 4,3-10,3x109/L
Hitung Jenis 3/-/-/70/19/8 0-4/0-1/3-5/54-62/25-33/3-5
Eos/Bas/Stab/Seg?Lim?MOno
Hematokrit 24,5 25 31,7 38-42 %
Trombosit 701 772 565 150-450 x109/L
LED 98 77/98 77/98 0-25 mm/jam
FAAL HATI
SGOT 12 10-35 U/L
SGPT 11 9-43 U/L
FAAL GINJAL
Kreatinin Serum 0,6 0,51 - 0,95 mg/dL
BUN 5,8 6-20 mg/dL
Asam Urat 4,1 2,4-5,7 mg/dL
Sputun BTA (+)
2.4.2 Foto thorax

Gambar 2.1 Foto Thorax PA tanggal 11 Maret 2018

Gambar 2.2 Foto Thorax Lateral Dextra tanggal 17 Maret 2018


2.5 Resume
Ny F 23 tahun mengeluhkan mengalami batuk sejak 6 bulan ini. Batuk
terkadang disertai dahak kuning kental dan 3 bulan yang lalu batuk disertai bercak
darah segar. Pasien juga mengeluhkan mengalami sesak nafas dan nyeri dada
yang memberat apabila sedang batuk, pasien tidak memiliki riwayat sesak
sebelumnya. Pada malam hari pasien sering mengalami keringat dingin, badan
meriang dan nyeri otot. Dalam 6 bulan ini pasien merasakan penurunan berat
badan yang signifikan dan nafsu makan pasien juga turut berkurang. Pasien
mengaku tidak pernah mengalami demam yang hilang timbul. Pasien belum
pernah mendapat pengobatan untuk batuk sebelumnya. Keluarga pasien tidak ada
yang pernah mengalami penyakit yang sama dengan pasien. Riwayat sosial baik
dan ekonomi cukup. Riwayat sanitasi lingkungan cukup baik. Riwayat gizi kurang
baik.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya keluhan batuk berdahak, sesak
nafas, nafsu makan menurun, dan berat badan underweight. Pada pemeriksaan
fisik thorak didapatkan perkusi redup pada pulmo dextra. Pada pemeriksaan
abdomen dalam batas normal. Pada pemeriksaan laboratorium didaptkan anemia,
hemokonsentrasi, leukositosis, trombositosis, kadar LED meningkat dan sputum
BTA (+). Pada hasil foto thorax terdapat kesan TB paru aktif dan fluido thorax
posterior dextra.

2.6 Diagnosis Kerja


TB Paru

2.7 Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
 Edukasi kepada pasien dan keluarga pasien mengenai penyakit yang
diderita
 Tirah baring
Medikamentosa
 O2 nasal pronk 2-4 lpm
 Inf RL 20 tpm
 Ambroksol 3 x 500 mg
 INH 1 x 300mg
 Rifampicin 1 x 450 mg
 Pirazinamid 1 x 1000mg
 Etambutol 1 x 1000mg
 Transfusi PRC 1 kolf/hari s.d. Hb > 10 g/dL

Planning Terapi
- Diet TKTP
- Fisioterapi dada

Planning Diagnostik
- BGA
- Uji Resistensi OAT

2.8 Prognosis
Dubia ad bonam
11

BAB 3. PEMBAHASAN

Textbook Pasien

Anamnesis

Gejala respiratorik
+
- Batuk ≥ 2 minggu
+
- Batuk darah
+
- Sesak nafas
- Nyeri dada +

Gejala sistemik
-
- Demam
+
- Malaise
- Keringat malam +

- Anoreksia +
- Berat badan menurun +

Pemeriksaan Fisik

Paru
-
- Inspeksi: ketertinggalan gerak
-
- Auskultasi: ronkhi
+
- Perkusi: redup
Pembesaran KGB
-
- Leher, ketiak, inguinal
Pemeriksaan Bakteriologik
+
- Sputum BTA
Pemeriksaan Radiologis
12

Foto Rontgen

Lesi aktif

- Bayangan berawan/nodular di
-
segmen apikal dan posterior
lobus superior paru dan
segemen superior lobus inferior
- Kavitas (lebih dari 1 dikelilingi
bayangan opak berawan) -
- Bercak milier +
- Efusi pleura uni/bilateral
+
Lesi inaktif

- Fibrotik -
- Kalsifikasi -
- Schwarte (penebalan pleura)
-

Diagonis
-
1. Hasil BTA (+ + +/+ + -)
2. Hasil BTA (+ - -) + Foto thorax +

TB paru aktif
3. Hasil BTA (+ - -)  Hasil -
ulang BTA (+ + +/+ + -/+ - -)
4. Hasil BTA (- - -)  Antibiotik
-
non OAT 2  tidak ada
perbaikan  Hasil ulang BTA
(+ + +/+ + -/+ - -)
5. Hasil BTA (- - -)  Antibiotik -
non OAT 2  tidak ada
perbaikan  Hasil BTA (- - -)
 Foto thorax TB paru aktif
13

Tatalaksana
+
1. Rawat inap
2. 2HRZE/4H3R3 atau Isonoazid 1 x 300 mg

2HRZE/6HE atau 2HRZE/4RH Rifampicin 1 x 450 mg


Pirazinamid 1 x 1000 mg
Etambutol 1 x 1000 mg
Ambroxol 3 x 500 mg
3. Simptomatis

3.1 Definisi
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB
menyerang paru tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

3.2 Cara Penularan


- TB ditularkan melalui udara (melalui percikan dahak penderita TB).
- Ketika penderita TB batuk, bersin, berbicara atau meludah, mereka
memercikkan kuman TB atau bacilli ke udara. Seseorang dapat terpapar
dengan TB hanya dengan menghirup sejumlah kecil kuman TB.
- Penderita TB dengan status TB BTA (Basil Tahan Asam) positif dapat
menularkan sekurang-kurangnya kepada 10-15 orang lain setiap tahunnya.
Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB.
- Seseorang yang tertular dengan kuman TB belum tentu menjadi sakit TB.
Kuman TB dapat menjadi tidak aktif (dormant) selama bertahun-tahun
dengan membentuk suatu dinding sel berupa lapisan lilin yang tebal. Bila
sistem kekebalan tubuh seseorang menurun, kemungkinan menjadi sakit
TB menjadi lebih besar.
14

3.3 Morfologi Bakteri


Tuberkulosis disebabkan oleh infeksi Mycobacterium tuberculosis
terutama tipe humanus. Bakteri ini berbentuk batang dengan ukuran 0,2-0,4 x 1-4
um dan tahan tehadap asam pada pewarnaan (Basil Tahan Asam, BTA). Sebagian
besar dinding kuman terdiri dari atas asam lemak (lipid), peptidoglikan dan
arabinomannan. Bakteri ini tidak tahan panas, akan mati pada 6°C selama 15-20
menit. Biakan dapat mati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam. Dalam
dahak dapat bertahan 20-30 jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat
bertahan hidup 8-10 hari. Biakan basil ini dalam suhu kamar dapat hidup 6-8
bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu 20°C selama 2 tahun.
Mycobacterium tuberculosis tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektan
antara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%. Basil ini
dihancurkan oleh jodium tinctur dalam 5 menit, dengan alkohol 80 % akan hancur
dalam 2-10 menit. Sifat lain bakteri ini adalah aaerob yang menunjukkan bahwa
kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigen yaitu pada
bagian apikal paru-paru lebih tinggi dari bagian lain sehingga bagian apikal ini
merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis.

Gambar 3.1 M tuberculosis

3.4 Patogenesis
1. Tuberkulosis Primer
Kuman yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru
sehingga akan terbentuk suatu sarang pneumoni yang disebut sarang
primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana
saja dalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer ini
15

akan kelihatan peradangan saluran getah bening menuju hilus (limfangitis


lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening
di hilus (limfadenitis regional). Afek primer bersama-sama dengan
limfangitis regional dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer
ini akan mengalami salah satu nasib sebagai berikut:
- Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad
integrum)
- Sembuh dengan sedikit meninggalkan bekas (antara lain sarang Ghon,
garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus)
- Menyebar dengan cara:
a. Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya
b. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke
paru sebelahnya atau tertelan
c. Penyebaran secara hematogen dan limfogen. Penyebaran ini
berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah dan virulensi kuman.
Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetapi
bila tidak terdapat imuniti yang adekuat, penyebaran ini akan
menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier,
meningitis tuberkulosis, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini
juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuh lainnya,
misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia, dan sebagainya.
Komplikasi dan penyebaran ini mungkin berakhir dengan:
- Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan
terbelakang pada anak setelah mendapat ensefalomeningitis,
tuberkuloma), atau
- Meninggal
Semua kejadian di atas adalah perjalan tuberkulosis primer
2. Tuberkulosis Pasca Primer
Tuberkulosis pasca primer akan muncul bertahun-tahun kemudian setelah
tuberkulosis primer, biasanya terjadi pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis
pasca primer mempunyai nama yang bermacam-macam yaitu tuberkulosis
16

bentuk dewasa, localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan


sebagainya. Bentuk tuberkulosis inilah yang menjadi masalah kesehatan
masyarakat, karena dapat menjadi sumber penularan. Tuberkulosis pasca
primer dimulai dengan sarang dini, yang umumnya terletak di segmen
apikal lobus superior maupun lobus inferior. Sarang dini ini awalnya
berbentuk suatu sarang pneumoni kecil. Sarang pneumoni kecil ini akan
mengikuti salah satu jalan sebagai berikut:
- Diresorpsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
- Sarang tersebut akan segera meluas dan segera terjadi proses
penyembuhan dengan penyebukkan jaringan fibrosis. Selanjutnya akan
terjadi pengapuran dan akan sembuh dalam bentuk pengapuran. Sarang
tersebut dapat menjadi aktif kembali dengan membentuk jaringan keju
dan menimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar.
- Sarang pneumoni meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa).
Kaviti akan mencul dengan dibatukkannya jaringan keju keluar. Kaviti
awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya menjadi tebal (kaviti
sklerotik). Sklerotik tersebut akan menjadi:
a. Meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumoni baru. Sarang
pneumoni ini akan mengikuti pola perjalanan seperti yang
disebutkan di atas
b. Memadat dan membungkus diri (enkapsulasi), dan disebut
tuberkuloma. Tuberkuloma dapat mengapur dan menyembuh tetapi
mungkin pula aktif kembali, mencair lagi, dan dapat menjadi kaviti
lagi.
c. Bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity atau kaviti
menyembuh dengan membungkus diri dan akhirnya mengecil.
Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus dan menciut
sehingga kelihatan seperti bintang (stellate sharped).
17

3.5 Klasifikasi
a. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA):
- Pasien dengan sputum BTA positif:
1. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis
ditemukan BTA, sekurang-kurangnya pada 2 kali pemeriksaan
2. Satu sediaan sputumnya positif disertai kelainan radiologis yang
sesuai dengan gambaran TB aktif
3. Satu sediaan sputumnya positif disertai biakan yang positif
- Pasien dengan sputum BTA negatif:
1. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sedikitnya pada 2 kali pemeriksaan tetapi gambaran
radiologis sesuai dengan TB aktif
2. Pasien yang pada pemeriksaan sputumnya secara mikroskopis tidak
ditemukan BTA sama sekali tetapi pada biakannya positif
b. Berdasarka tipe pasien:
1. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT
atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan
2. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap,
kemudian kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA
positif atau biakan positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologi
dicurigai lesi aktif/perburukan dan terdapat gejala klinis maka harus
dipikirkan beberapa kemungkinan:
- Lesi nontuberkulosis (pneumonia, bronkiektasis, jamur, keganasan,
dan lain-lain)
- TB paru kambuh yang ditentukan oleh dokter spesialis yang
berkompeten menangani kasus tuberkulosis
3. Kasus defaulted atau drop out
18

Adalah pasien yang telah menjalani pengobatan > 1 bulan dan tidak
mengambil obat 2 bulan berturut atau lebih sebelum masa pengobatan
selesai
4. Kasus gagal
Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali
menjadi positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum aklir
pengobatan) atau akhir pengobatan
5. Kasus kronik
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah
selesai pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang baik
6. Kasus bekas TB
- Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau
foto serial menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat
pengobatan OAT adekuat akan lebih mendukung
- Pada kasus dengan gambaran radiologi meragukan dan telah
mendapat pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang
tidak ada perubahan gambaran radiologi
c. Berdasarkan organ tubuh yang terkena
1. Tuberkulosis paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru tidak
termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus
2. Tuberkulosis ekstra paru
Adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh selian paru, misalnya
pleura, selaput otak, selaput jantung (perikardium), kelenjar limfe,
tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan
lain-lain.
19

3.6 Manifestasi Klinis


Keluhan yang dirasakan pasein tuberkulosis dapat bermacam-macam atau
malah banyak pasien ditemukan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Keluhan yang terbanyak adalah
1. Demam
Biasanya subfebril menyerupai demam influenza. Tetapi kadang-
kadang panas badan dapat mencapai 40-41o C. Serangan pertama dapat sembuh
sebentar tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitu seterusnya hilang
timbulnya demam influenza sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari
serangan demam influenza. Keadaan ini sangat dipengaruhi oleh daya tahan
tubuh pasien dan berat ringannya infeksi kuman tuberkulosis yang masuk.
2. Batuk/batuk darah
Batuk terjadi karena iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk
membuang produk-produk radang keluar. Karena terlibatnya bronkus pada
setiap penyakit tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit
berkembang dalam jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau
berbulan-bulan peradangan bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering
(non-produktif) kemudian setalah timbul peradangan menjadi produktif
(menghasilkan sputum). Keadaan yang lanjut adalah berupa batuk darah pada
tuberkulosis terjadi pada kavitas tetapi dapt juga terjadi pada ulkus dinding
bronkus.
3. Sesak napas
Pada penyakit yang ringan (baru tumbuh) belum dirasakan sesak napas.
Sesak napas akan ditemukan pada penyakit yang sudah lanjut, yang
infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru.
4. Nyeri dada
Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada timbul bila infiltrasi
radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan pleuritis. Terjadi
gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik/melepaskan napasnya.
20

5. Malaise
Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Gejala malaise
sering ditemukan berupa anoreksia (tidak nafsu makan), badan makin kurus
(berat badan turun), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dan lain-
lain. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul
secara tidak teratur.

3.7 Pemeriksaan Fisik


Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan
konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu badan subfebris,
badan kurus atau berat daban menurun.
Pada pemeriksaan fisik pasien sering tidak menunjukkan suatu
kelainanpun terutama pada kasus-kasus dini atau yang sudah terinfiltrasi secara
asimtomatik. Demikian juga bila sarang penyakit terletak di dalam, akan sulit
menemukan kelainan pada pemeriksaan fisik, karena hantaran getaran/suara yang
lebih dari 4 cm ke dalam paru sulit dinilai secara palpasi, perkusi dan auskultasi.
Secara anamnesis dan pemeriksaan fisik, TB paru sulit dibedakan dengan
pneumonia biasa.
Tempat kelainan lesi TB paru yang paling dicurigai adalah bagian apeks
(puncak) paru. Bila dicurigai adanya infiltrat yang agak luas, maka didapatkan
perkusi yang redup dan auskultasi suara napas bronkial. Akan didapatkan juga
suara napas tambahan berupa ronki basah, kasar, dan nyaring. Tetapi bila infiltrat
ini diliputi oleh penebalan pleura, suara napasnya jadi vesikular melemah. Bila
terdapat kavitas yang cukup besar, perkusi memberikan suara hipersonor atau
timpani dan auskultasi memberikan suara amforik.
Pada tuberkulosis paru yang lanjut dengan fibrosis yang luas sering
ditemukan atrofi dan retraksi otot-otot interkostal. Bagian paru yang sakit jadi
menciut dan menarik isi mediastinum atau paru lainnya. Paru yang sehat menjadi
lebih hiperinflasi. Bila jaringan fibrotik amat luas yakni lebih dari setengah
jumlah jaringan paru-paru, akan terjadi pengecilan daerah aliran darah paru dan
selanjutnya meningkatkan tekanan arteri pulmonalis (hipertensi pulmonal) diikuti
21

terjadinya kor pulmonal dengan gagal jantung kanan seperti takipnea, sianosis,
right ventricular lift, right atrial gallop, murmur Graham-Steel, bunyi P2 yang
mengeras, tekanan vena jugularis yang meningkat, hepatomegali, asites, dan
edema.
Bila tuberkulosis mengenai pleura, sering terbentuk efusi pleura. Paru
yang sakit terlibat agak tertinggal dalam pernapasan. Perkusi memberikan suara
pekak. Auskultasi memberikan suara napas yang lemah sampai tidak terdengar
sama sekali.
Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimtomatik dan penyakit baru
dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin
atau uji tuberkulin yang positf.

3.8 Pemeriksaan Penunjang


1. Pemeriksaan radiologis
Pada saat ini pemeriksaan radiologis dada merupakan cara yang paling
praktis untuk menemukan lesi tuberkulosis. Pada pemeriksaan foto toraks,
tuberkulosis dapat memberikan gambaran bermacam-macam bentuk
(multiform).
Gambaran radiologi yang dicurigai sebagai lesi TB aktif:
 Bayangan berawan/nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru
dan segmen superior lobus bawah
 Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan
atau nodular
 Bayangan bercak milier
 Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang)
22

Gambar 3.2 Paru: apeks lobus superior dan apeks lobus inferior

Gambaran radiologi yang dicurigai lesi TB inaktif


 Fibrotik
 Kalsifikasi
 Schwarte atau penebalan pleura
Luluh paru (destroyed lung):
 Gambaran radiologi yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat,
biasanya secara klinis disebut luluh paru. Gambaran radiologi luluh paru
terdiri dari atelektasis, ektasis/multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulit
untuk menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran
radiologi tersebut.
 Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologi untuk memastikan aktiviti proses
penyakit.
Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentigan pengobatan dapat
dinyatakan sebagai berikut (terutama pada kasus BTA negatif):
 Lesi minimal, bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan
luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang terletak di atas
chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosus dari
vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai
kaviti
 Lesi luas, bila proses lebih luas dari lesi minimal
23

2. Pemeriksaan histopatologi
Bahan histopatologi dapat diperoleh melalui biopsi dari paru, pleura,
kelenjar, dan organ lain. Diagnosis TB diketahui dengan didapatkannya
granuloma dengan perkejuan dan sel datia.
3. Pemeriksaan laboratorium
a. Darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang
spesifik untuk tuberkulosis. Laju Endap Darah (LED) jam pertama dan
kedua dapat digunakan sebagai indikator penyembuhan pasien. LED sering
meningkat pada proses aktif tetapi LED yang normal tidak menyingkirka
tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.
b. Sputum
Semua tersangka penderita diperiksa spesimen dahak dalam waktu 2
hari berturut-turut: dahak sewaktu periksa, dahak pagi hari esoknya dan
sewaktu menyerahkan dahak di tempat pemeriksaan (SPS: Sewaktu Pagi
Sewaktu). Pemeriksaan mikroskopis dilakukan dengan pewarnaan Ziehl-
Neelsen (ZN), Kinyoun Gabbett atau Tan Thiam Hok (TTH). Pemeriksaan
dengan mikroskop fluoresen dengan pewarnaan auramin rhodamin.
Diagnosis TB paru dipastikan bila sedikitnya dua dari spesimen SPS
dinyatakan BTA positif.
Interpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali pemeriksaan adalah bila:
1. 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negatif  BTA positif
2. 1 kali positif, 2 kali negatif  ulang BTA 3 kali, kemudian:
- Bila 1 kali positif, 2 kali negatif  BTA positif
- Bila 3 kali positif  BTA negatif
Pembacaan hasil pemeriksaan sediaan dahak dilakukan dengan
menggunakan skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis
and Lung Diseases):
1. Tak ditemukan BTA dalam 100 lapangan pandang, disebut negatif
2. Ada 1-9 BTA dalam 100 lapangan pandang, ditulis jumlah kuman yang
ditemukan
24

3. Ada 10-99 BTA per 100 lapangan pandang, disebut + atau 1+


4. Ada 1-10 BTA per lapangan pandang, disebut ++ atau 2+
5. Ada > 10 BTA per lapangan pandang, disebut +++ atau 3+
Pemeriksaan biakan kuman
Pemeriksaan biakan M. Tuberculosis dengan metode konvensional
ialah dengan cara:
- Egg base media: Lowestein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh
- Agar base media: Middle brook
Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti,
dan dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga
Mycobacterium other than tuberculosis (MOTT). Untuk mendeteksi
MOTT dapat digunakan beberapa cara baik dengan melihat cepatnya
pertumbuhan, menggunakan uji nikotinamid, uji niasin maupun
pencampuran dengan cyanogen bromide serta melihat pigmen yang
timbul.
c. Tes tuberkulin (Tes Mantoux)
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan
diagnosis tuberkulosis terutama pada anak-anak (balita). Tes tuberkulin
hanya menyatakan apakah seseorang sedang atau pernah mengalami infeksi
M tuberculosae, M bovis, vaksinasi BCG, dan Mycobacteria patogen
lainnya. Dasar tes tuberkulin ini adalah reaksi alergi tipe lambat. Pada
penularn dengan kuman patogen baik yang virulen ataupun tidak
(Mycobacterium tuberculosae atau BCG) tubuh manusia akan mengadakan
reaksi imunologi dengan dibentuknya antibodi selular pada permulaan
kemudian diikuti oleh pembentukan antibodi humoral yang dalam perannya
akan menekankan antibodi selular.
Bila pembentukan antibodi selular cukup misalnya pada penularan
dengan kuman yang sangat virulen dan jumlah kuman sangat besar atau
pada keadaan di mana pembentukan antibodi humoral amat berkurang
(pada hipogama-globulinemia), maka akan mudah terjadi penyakit sesudah
penularan.
25

Setelah 48-72 jam tuberkulin disuntikkan, akan timbul reaksi berupa


indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi
persenyawaan antara antibodi selular dan antigen tuberkulin. Banyak
sedikitnya reaksi persenyawaan antara antibodi selular dan antigen
tuberkulin amat dipengaruhi oleh antibodi humoral, makin besar pengaruh
antibodi humoral, makin kecil indurasi yang ditimbulkan.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, hasil tes mantoux ini dibagi
dalam:
1. Indurasi 0-5 mm (diameternya): mantoux negatif=golongan no
sensitivity, peran antibodi humoral paling menonjol
2. Indurasi 6-9 mm: hasil meragukan=golongan low grade sensitivity,
peran antibodi humoral masih menonjol
3. Indurasi 10-15 mm: mantoux positif=golongan normal sensitivity,
peran kedua antibodi seimbang
4. Indurasi lebih dari 15 mm: mantoux positif kuat=golongan
hipersensitivity, peran antibodi selular paling menonjol

3.9 Penatalaksanaan
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3
bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari
paduan obat utama dan tambahan.
Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
1. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam
jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan
gunakan OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Fixed Dose
Combination (OAT-FDC) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan.
2. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan
langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas
Menelan Obat (PMO).
3. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu
26

- Tahap awal (intensif)


1. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
2. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya
pasien menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
3. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi)
dalam 2 bulan.
- Tahap Lanjutan
1. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama
2. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga
mencegah terjadinya kekambuhan

Obat Anti Tuberkulosis (OAT)


1. Jenis obat utama (lini 1)
- INH (H)
- Rifampisin (R)
- Pirazinamid (Z)
- Streptomisin (S)
- Etambutol (E)
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
- Kanamisin
- Amikasin
- Kuinolon
- Obat lain masih dalam penelitian yaitu makrolid dan amoksilin + asam
klavulanat
- Beberapa obat berikut ini belum tersedia di Indonesia antara lain :
a. Kapreomisin
b. Sikloserino
c. PAS (dulu tersedia)
d. Derivat rifampisin dan INH
27

e. Thioamides (ethionamide dan prothionamide)

Kemasan
- Obat tunggal
Obat disajikan secara terpisah, masing-masing INH, rifampisin, pirazinamid
dan etambutol
- Obat kombinasi dosis tetap (Fixed Dose Combination-FDC)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari 3 atau 4 obat dalam satu tablet

Dosis OAT

Tabel 3.1 Jenis dan dosis OAT


Obat Dosis Dosis yg dianjurkan Dosis Dosis (mg) / berat
(Mg/Kg Maks badan (kg)
BB/Hari) Harian Intermitten (mg) < 40 40- >60
(mg/ (mg/Kg/BB/kali) 60
kgBB /
hari)
R 8-12 10 10 600 300 450 600
H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500
E 15-20 15 30 750 1000 1500
Sesuai
S 15-18 15 15 1000 750 1000
BB

Tabel 3.2 Dosis obat antituberkulosis kombinasi dosis tetap


Fase intensif Fase lanjutan
2 bulan 4 bulan
BB Harian Harian 3x/minggu Harian 3x/minggu
RHZE RHZ RHZ RH RH
150/75/400/275 150/75/400 150/150/500 150/75 150/150
30-37 2 2 2 2 2
38-54 3 3 3 3 3
55-70 4 4 4 4 4
>71 5 5 5 5 5

Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang dosis
yang telah ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih
termasuk dalam batas dosis terapi dan non toksik.
28

Pada kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami
efek samping serius harus dirujuk ke rumah sakit/dokter spesialis paru/fasiliti
yang mampu menanganinya.

Paduan Obat Anti Tuberkulosis


Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi:
- TB paru (kasus baru), BTA positif atau pada foto toraks: lesi luas
Paduan obat yang dianjurkan: 2 RHZE/4 RH atau 2 RHZE/6HE atau 2
RHZE/4R3H3

Paduan ini dianjurkan untuk


a. TB paru BTA (+), kasus baru
b. TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologi lesi luas (termasuk luluh paru)
Bila ada fasiliti biakan dan uji resistensi, pengobatan disesuaikan dengan hasil
uji resistensi
- TB Paru (kasus baru), BTA negatif, pada foto toraks: lesi minimal
Paduan obat yang dianjurkan: 2 RHZE/4 RH atau 6 RHE atau 2 RHZE/4 R3H3
- TB paru kasus kambuh
Sebelum ada hasil uji resistensi dapat diberikan 2 RHZES/1 RHZE. Fase
lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi. Bila tidak terdapat hasil uji
resistensi dapat diberikan obat RHE selama 5 bulan.
- TB Paru kasus gagal pengobatan
Sebelum ada hasil uji resistensi seharusnya diberikan obat lini 2 (contoh
paduan: 3-6 bulan kanamisin, ofloksasin, etionamid, sikloserin dilanjutkan 15-
18 bulan ofloksasin, etionamid, sikloserin). Dalam keadaan tidak
memungkinkan pada fase awal dapat diberikan 2 RHZES / 1 RHZE. Fase
lanjutan sesuai dengan hasil uji resistensi. Bila tidak terdapat hasil uji
resistensi dapat diberikan obat RHE selama 5 bulan.
a. Dapat pula dipertimbangkan tindakan bedah untuk mendapatkan hasil yang
optimal
b. Sebaiknya kasus gagal pengobatan dirujuk ke dokter spesialis paru
29

- TB Paru kasus putus berobat


Pasien TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali sesuai
dengan kriteria sebagai berikut:
a. Berobat > 4 bulan
1. BTA saat ini negatif
Klinis dan radiologi tidak aktif atau ada perbaikan maka pengobatan
OAT dihentikan. Bila gambaran radiologi aktif, lakukan analisis lebih
lanjut untuk memastikan diagnosis TB dengan mempertimbangkan juga
kemungkinan penyakit paru lain. Bila terbukti TB maka pengobatan
dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu
pengobatan yang lebih lama.
2. BTA saat ini positif
Pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat dan
jangka waktu pengobatan yang lebih lama
b. Berobat < 4 bulan
1. Bila BTA positif, pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama
2. Bila BTA negatif, gambaran foto toraks positif TB aktif pengobatan
diteruskan
Jika memungkinkan seharusnya diperiksa uji resistensi terhadap OAT.
- TB Paru kasus kronik
a. Pengobatan TB paru kasus kronik, jika belum ada hasil uji resistensi,
berikan RHZES. Jika telah ada hasil uji resistensi, sesuaikan dengan hasil
uji resistensi (minimal terdapat 4 macam OAT yang masih sensitif)
ditambah dengan obat lini 2 seperti kuinolon, betalaktam, makrolid dan lain-
lain. Pengobatan minimal 18 bulan.
b. Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup
c. Pertimbangkan pembedahan untuk meningkatkan kemungkinan
penyembuhan
d. Kasus TB paru kronik perlu dirujuk ke dokter spesialis paru
30

Tabel 3.3 Ringkasan Paduan Obat


Kategori Kasus Paduan obat yang diajurkan Keterangan
I TB paru BTA (+), 2 RHZE/4 RH atau
BTA (-), lesi 2 RHZE/6 HE
luas *2RHZE/4R3H3
II - Kambuh -RHZES/1RHZE/sesuai hasil Bila
uji resistensi atau
streptomisin
2RHZES/1RHZE/5 RHE
- Gagal -3-6 kanamisin, ofloksasin, alergi, dapat
pengobatan etionamid, sikloserin/15-18
diganti
ofloksasin, etionamid,
sikloserin atau 2RHZE kanamisin
/1RHZE/5RHE
II TB paru putus Sesuai lama pengobatan
berobat sebelumnya, lama berhenti
minum obat dan keadaan
klinis, bakteriologi dan
radiologi saat ini (lihat
uraiannya) atau
*2RHZES/1RHZE/5R3H3E3
III TB paru BTA (-) 2 RHZE/4 RH atau
lesi minimal 6 RHE atau
*2RHZE/4 R3H3
IV Kronik RHZES/sesuai hasil uji
resistensi (minimal OAT
yang sensitif) + obat lini 2
(pengobatan minimal 18
bulan)
IV MDR TB Sesuai uji resistensi + OAT
lini 2 atau H seumur hidup
Catatan : * Obat yang disediakan oleh Program Nasional TB

3.10 Pencegahan
1. Vaksinasi BCG
Vaksinasi yang dilakukan pada anak-anak selama ini hanya memberikan daya
proteksi sebagian saja, yakni 0-80%. Tetapi BCG masih tetap dipakai karena
ia dapat mengurangi kemungkinan terhadap tuberkulosis berat (meningitis,
tuberkulosis milier, dan lain-lain) dan tuberkulosis ekstra paru lainnya.
2. Kemoprofilaksis
31

Kemoprofilaksis terhadap tuberkulosis merupakan masalah tersendiri dalam


penanggulangan tuberkulosis paru di samping diagnosis yang cepat dan
pengobatan yang adekuat. Isoniazid banyak dipakai selama ini karena
harganya murah dan efek sampingnya sedikit (terbanyak hepatitis dengan
frekuensi 1% sedangkan yang berusia lebih 50 tahun adalah 2%).
Obat alternatif lain setelah isoniazid adalah rifampisin. Beberapa peneliti
pada I DAT (International Union Against Tuberculosis) menyatakan bahwa
profilaksis dengan INH diberikan selama 1 tahun, dapat menurunkan insidens
tuberkulosis sampai 55-83%, dan yang kepatuhan minum obatnya cukup baik
dapat mencapai penurunan 90%. Yang minum obatnya tidak teratur
(intermittent), efektivitasnya masih cukup baik.
Lama profilaksis yang optimal belum diketahui tetapi banyak peneliti
menganjurkan waktu antara 6-12 bulan, antara lain dari American Thoracic
Society dan US Centers for Diseases Control terhadap tersangka dengan uji
tuberkulin yang diameternya lebih dari 5-10 mm. Yang mendapat profilaksis
12 bulan adalah pasien HIV positif dan pasien dengan kelainan radiologis
dada. Yang lainnya seperti kontak tuberkulosis dan sebagiannya cukup 6
bulan saja. Pada negara-negara dengan populasi tuberkulosis tinggi sebaiknya
profilaksis diberikan terhadap semua pasien HIV positif dan pasien yang
mendapat terapi imunosupresi.
3. Makan cukup gizi setiap hari
4. Bekerja tidak terlalu berat
5. Istirahat cukup dan teratur
6. Kebersihan ruangan dalam rumah terjaga terutama kamar tidur
7. Setiap ruangan dilengkapi jendela yang cukup untuk pencahayaan alami dan
ventilasi untuk pertukaran udara
8. Menjemur kasur, bantal secara teratur
9. Luas rumah sebanding dengan jumlah penghuni
32

3.11 Komplikasi
Penyakit tuberkulosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan
komplikasi. Komplikasi dibagi atas komplikasi dini dan komplikasi lanjut.
- Komplikasi dini: pleuritis, efusi pleura, empiema, laringitis, usus, Poncet’s
arthropathy
- Komplikasi lanjut: obstruksi jalan napas  SOFT (Sindrom Obstruksi Pasca
Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat  SOPT/fibrosis paru, kor pulmonal,
amiloidosis, karsinoma paru, sindroma gagal napas dewasa (ARDS), sering
terjadi pada TB milier dan kavitas TB.

3.12 Prognosis
Hasil Pengobatan Pasien TB BTA positif:
1. Sembuh
Pasien telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap dan pemeriksaan
ulang dahak (follow-up) hasilnya negatif pada AP dan pada satu pemeriksaan
follow-up sebelumnya.
2. Pengobatan Lengkap
Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap tetapi
tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.
3. Meninggal
Adalah pasien yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab apapun.
4. Pindah
Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain
dan hasil pengobatannya tidak diketahui.
5. Default (Putus berobat)
Adalah pasien yang tidak berobat 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum
masa pengobatannya selesai.
6. Gagal
Pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi
positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan.
33

DAFTAR PUSTAKA

Abiyoso. 2003. Tuberkulosis Praktis. Malang: Program Study Paru RSU Dr.
Saiful Anwar FK Unibraw.

Aditama, T. Y., Soedarsono, dan Thabrani, Z., et al. 2006. Tuberkulosis. Jakarta:
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia.

Aditama, T. Y., Kamso, S., Basri, C., dan Surya, A. 2007. Pedoman Nasional
Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.

Alsagaff, H.,Wibisono, M. H., dan Winariani. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Paru. Surabaya: Lab/SMF Ilmu Penyakit Paru dan Saluran Napas FK
Unair-RSUD Dr. Soetomo.

Price, S. A. dan Wilson, L. M. 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses


Penyakit. Jakarta: EGC.

Sub Direktorat TB Departemen Kesehatan RI dan World Health Organization.


2008. Lembar Fakta Tuberkulosis Hari TB Sedunia-24 Maret 2008.
Artikel.

Sudoyo, A. W. 2007. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta:
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI.

Masniari, L., Priyanti, Z. S., dan Aditama, T. Y. 2005. Faktor-Faktor Yang


Mempengaruhi Kesembuhan Penderita TB Paru. Artikel. Jakarta:
Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RSUP
Persahabatan.