Anda di halaman 1dari 18

TUGAS FARMAKOTERAPI I

STUDI KASUS II (OSTEOARTHRITIS)

OLEH:
KELOMPOK III

Kadek Dian Adnyani 1508505023


Ni Made Riza Angelita Monica Samba 1508505028
Ni Nyoman Fabby Sukarmini 1508505029
Ni Kadek Santi Lestari 1508505031
Ni Komang Cahyaningsih 1508505032
Putu Ayu Indra Apsari Siaka 1508505053
Made Budi Oka Rastini 1508505061
Luh Wulan Eka Lestari 1508505062
Heny Prabowo 1508505064

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 DESKRIPSI KASUS


Seorang pasien pria usia 70 tahun didiagnosis mengalami Osteoarthritis pada
pinggul dan lututnya. Pasien sudah rutin mengkonsumsi obat selama 3 bulan.
Pasien menerima resep: piroksikam 2 x 10 mg per hari, suplemen
glukosaminkondroitin 1 x 1 kapsul per hari. Pasien mengeluhkan masih merasa
ada kekakuan dalam bergerak walaupun sudah minum obat.

1.2 URAIAN KASUS


Osteoarthritis atau OA merupakan penyakit sendi degeneratif yang berkaitan
dengan kerusakan kartilago sendi. Bagian tubuh yang paling sering mengalami
kerusakan adalah vertebra, panggul, lutut, dan pergelangan kaki. Pasien OA
umumnya mengalami keluhan nyeri pada waktu melakukan aktivitas atau jika ada
pembebanan pada sendi yang terkena (Soeroso, dkk., 2009).
OA merupakan penyakit gangguan homeostasis dari metabolism kartilago
dengan kerusakan struktur proteoglikan kartilago. Jejas mekanis dan kimiawi
yang diperkirakan antara lain karena factor usia, stress mekanis atau penggunaan
sendi berlebihan, obesitas, genetik, dan humoral. Pasien yang menderita OA
biasanya mengeluh mengalami nyeri sendi, hambatan gerakan sendi, kaku pagi,
krepitasi, perubahan bentuk sendi (deformitas) permanen, perubahan gaya
berjalan bila OA menyeran bagian lutut, send paha, dan tulang belakang (Soeroso,
dkk., 2009).
Berdasarkan etiopatogenesisnya OA dibagi menjadi dua, yaitu OA primer
dan OA sekunder. OA primer disebut juga OA idiopatik yang mana penyebabnya
tidak diketahui dan tidak ada hubunganya dengan penyakit sistemik, inflamasi
ataupun perubahan lokal pada sendi, sedangkan OA sekunder merupakan OA
yang ditengarai oleh faktor-faktor seperti penggunaan sendi yang berlebihan
dalam aktifitas kerja, olahraga berat, adanya cedera sebelumnya, penyakit
sistemik, inflamasi. OA primer lebih banyak ditemukan daripada OA sekunder
(Davey, 2006).
Terapi OA umumnya bersifat simptomatik, misalnya dengan pengendalian
faktor-faktor resiko, latihan, interversi fisioterapi, dan terapi farmakologis, pada
OA fase lanjut sering dilakukan pembedahan. Untuk mengurangi rasa nyeri, bias
anya digunakan analgetika atau obat anti-inflamasinon steroid (OAINS) yang
biasanya berlangsung lama dan progresif sehingga tidak jarang menimbulkan
masalah (Soeroso, dkk., 2009).
BAB II
ANALISIS SOAP

2.1. SUBYEKTIF
Pasien berjenis kelamin laki-laki dengan usia 70 tahun. Pasien sudah rutin
mengkonsumsi obat selam 3 bulan teatapi pasien masih merasa ada kekakuan
dalam bergerak. Pasien menerima resep: piroksikam 10mg per hari, suplemen
glukosamin kondroitin 1x1 kapsul per hari.

2.2. OBYEKTIF
Tidak ada data klinis maupun laboratorium yang tertera.

2.3. ASSESMENT
1) PIROKSIKAM
a. Tepat Indikasi
Piroksikam merupakan obat golongan anti inflamasi non steroid (OAINS)
yang merupakan turunan benzothiazin, dimana piroksikam ini mempunyai
aktivitas analgesik, antipiretik, dan antiinflamasi yang kuat (Tjay dan Rahardja,
2007). Sesuai pustaka pada Informatorium Obat Nasional Indonesia,
piroksikam diindikasikan untuk terapi simtomatik pada rematoid arthritis,
osteoarthritis, ankilosing spondilitis, gangguan muskulosketal akut dan gout
akut (BPOM RI, 2017). Piroksikam merupakan OAINS dengan mekanisme
kerja menghambat sintesis prostaglandin dengan menghambat siklooksigenase
(COX-1 dan COX-2) (Tjay dan Rahardja, 2000). Berdasarkan hal tersebut
dapat dikatakan bahwa penggunaan piroksikam untuk kasus osteoarthritis pada
pasien pria tersebut sudah tepat indikasi.

b. Tepat Pasien
Berdasarkan kasus diatas telah dijelaskan bahwa, pasien menderita
osteoatritis dan mendapatkan terapi obat piroksikam. Piroksikam merupakan
obat golongan OAINS yang memiliki kontraindikasi terhadap pasien dengan
tukak lambung atau pendarahan lambung, pasien bronkospasme, polip hidung,
angiodema, dan urtikaria apabila diberikan asetosal atau obat-obatan OAINS
lainnya (BPOM RI, 2017).
Pada kasus tersebut, tidak ada dijelaskan bahwa pasien memiliki riwayat
alergi terhadap obat tertentu, ataupun penyakit penyerta kronis yang
berkontraindikasi terhadap obat piroksikam, sehingga penggunaan piroksikam
yang telah diresepkan pada pasien pria usia 70 tahun tersebut sudah tepat
pasien.

c. Tepat Pemilihan Obat


Berdasarkan kasus tersebut, pemilihan obat piroksikam yang diberikan telah
tepat karena piroksikam merupakan salah satu obat golongan anti inflamasi
non steroid (OAINS) untuk terapi penyakit osteoarthritis yang mampu
mengatasi nyeri dan inflamasi yang dialami pasien tersebut (Tim ISFI, 2013).
Sesuai dengan tatalaksana terapi osteoatritis yaitu sebagai berikut :
Gambar 2.3.1.. Tatalaksana Terapi Osteoarthritis (Tim ISFI, 2013).

Dalam kasus tersebut pasien masih mengeluhkan adanya rasa kaku dan sulit
bergerak setelah pemakaian obat selama 3 bulan, namun tidak ada disebutkan
bahwa pasien masih merasakan nyeri ataupun inflamasi setelah penggunaan
obat piroksikam. Sehingga penggunaan OAINS tersebut dianggap sudah tepat
dipilihkan karena telah mampu mengurangi rasa nyeri dan inflamasi yang di
alami oleh pasien tersebut. Kecuali jika pasien masih mengeluhkan nyeri
selama 1 sampai 2 minggu, dan selama 2 sampai 4 minggu masih terdapat
inflamasi setelah penggunaan obat piroksikam, barulah dapat dilakukan
peninjauan kembali sesuai dengan tatalaksana terapi Osteoarthritis untuk
mengganti dengan penggunaan OAINS lainnya (BPOM RI, 2017)
d. Tepat Dosis, Cara Pemberian, Interval Waktu Pemberian, dan Lama
Pemberian
 Tepat Dosis
Pada terapi osteoatritis untuk pasien dewasa, dosis awal piroksikam
yaitu 20 mg sebagai dosis tunggal. Dosis pemeliharaan pada umumnya
20 mg sehari atau jika diperlukan dapat diberikan 10 mg-30 mg dalam
dosis tunggal atau terbagi. Dosis lebih dari 20 mg sehari dapat
meningkatkan efek samping pada gastrointestinal (BPOM RI, 2017).
Dalam kasus ini dosis piroksikam yang diterima pasien yaitu 2 x 10 mg
per hari. Pemberian dosis piroksikam pada pasien dalam kasus ini sudah
tepat dosis sesuai dengan pustaka. Karena pasien sudah menerima dosis
piroksikam sebanyak 20 mg sehari dalam dosis terbagi.
 Tepat Cara Pemberian
Pada kasus dapat dilihat bahwa jenis sediaan yang diberikan berupa
sediaan yang diberikan secara per oral sehingga cara pemberian
piroksikam pada pasien tersebut sudah tepat , namun dalam kasus tidak
dicantumkan apakah obat ini hendaknya diminum sebelum, saat, atau
sesudah makan. Menurut pustaka, piroksikam diminum saat makan atau
sesudah makan. Hal tersebut dikarenakan piroksikam termasuk golongan
OAINS yang mempunyai efek samping dapat mengiritasi lambung (Tjay
dan Rahardja, 2007).
 Tepat Interval Waktu Pemberian
Interval waktu pemerian piroksikam dalam kasus ini adalah 12 jam
yaitu diminum dua kali sehari 10 mg. Hal tersebut sudah tepat interval
waktu pemberian sesuai dengan pustaka, dimana dosis yang diberikan 20
mg sehari dalam dosis terbagi yaitu diminum dua kali sehari 10 mg
(BPOM RI, 2017).
 Tepat Lama Pemberian
Piroksikam merupakan obat golongan OAINS yang digunakan pada
terapi osteoatritis, sesuai dengan tatalaksana terapi osteoarthritis perlu
dilakukan pemantauan selama 1-2 minggu untuk efek analgesik dan
pemantauan selama 2-4 minggu untuk efek anti inflamasi yang dirasakan.
Obat piroksikam juga merupakan obat simptomatis dimana obat ini
sebaiknya dihentikan penggunaannya jika gejala nyeri atau inflamasi
yang dirasakan sudah hilang (Tim ISFI, 2013). Pada kasus hanya
disebutkan bahwa pasien telah mengkonsumsi obat selama 3 bulan,
namun tidak disebutkan bahwa apakah obat piroksikam ini diminum
secara rutin atau tidak selama 3 bulan tersebut. Apabila pasien
mengonsumsi piroksikam selama 3 bulan secara rutin maka dapat
dikatakan bahwa penggunaannya selama 3 bulan kurang tepat, karena
obat-obatan golongan OAINS jika dikonsumsi dalam jangka panjang
dapat menyebabkan toksisitas pada liver, saluran pencernaan dan ginjal
(Gilman, 2007).

e. Waspada Terhadap Efek Samping Obat


Efek samping penggunaan piroksikam antara lain : gangguan
gastrointestinal seperti stomatitis, anoreksia, epigastric distress, mual,
konstipasi, rasa tidak nyaman pada abdomen, kembung, diare, nyeri abdomen,
perdarahan lambung, perforasi dan tukak lambung, edema, pusing, sakit
kepala, ruam kulit, pruritus, somnolence, penurunan hemoglobin, hematokrit
(BPOM RI, 2017).

f. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa obat piroksikam telah
tepat indikasi diberikan untuk pasien osteoarthritis, tepat pasien diberikan pada
pasien geriatri dengan usia 70 tahun tanpa alergi obat ataupun penyakit
penyerta kronis yang berkontraindikasi dengan piroksikam, sudah tepat
pemilihan obat karena telah sesuai dengan tatalaksana terapi Osteoarthritis, dan
telah tepat dosis yaitu 20 mg perhari dalam dosis terbagi, tepat cara pemberian
yaitu melalui rute per oral, tepat interval pemberian yaitu diminum dua kali
sehari 10 mg setiap 12 jam dan tidak tepat lama pemberian jika dikonsumsi
secara rutin selama 3 bulan karena dapat menyebabkan toksisitas pada liver,
saluran cerna dan ginjal (piroksikam juga termasuk obat simtomatik, dimana
sebaiknya dikonsumsi hanya jika merasakan gejala nyeri ataupun terjadi
inflamasi saja).

2) GLUKOSAMIN KONDROITIN
a. Tepat Indikasi
Sesuai dengan kasus yang diperoleh, diketahui bahwa pasien menderita
osteoatritis dan mendapatkan terapi tambahan berupa suplemen glukosamin
kondroitin. Glukosamin kondroitin merupakan gabungan dari glukosamin
sulfat dan kondroitin sulfat (Sherman et al, 2012).
Glukosamin merupakan amino monisakarida larut air yang berfungsi untuk
meningkatkan sintesis glikosaminoglikan dan merangsang sel-sel tulang rawan
untuk memperbaiki proteoglikan dan kolagen untuk memperbaiki fungsi
persendian dan mencegah dekstruksi tulang rawan yang disebabkan oleh
Osteoarthritis (Isbagio, 2009).
Kondroitin sulfat merupakan glikosaminoglikan tersulfitasi yang biasa
ditemukan terikat pada protein sebagai bagian dari proteoglikan. Kondroitin
sulfat dapat menghambat sejumlah enzim yang berperan dalam degradasi
tulang rawan, serta membantu membangun kembali jaringan tulang rawan yang
rusak (Herowati, 2014).
Berdasarkan pustaka Pharmacoteraphy A Pathopysiologic Aproacch
Seventh Edition, kombinasi kondroitin sulfat dan glukosamin sulfat memang
digunakan untuk pengobatan osteoatritis karena dapat dapat menggurangi
penyempitan ruang sendi dan meningkatkan mobilitas sendi sebesar 20%-25%.
Dengan diberikannya suplemen ini, diharapkan mampu menjaga tulang pasien
agar osteoarthritis yang dialami pasien tidak semakin bertambah parah.
Sehingga penggunaan suplemen glukosamin kondroitin pada kasus tersebut
dapat dikatakan sudah tepat indikasi (Dipiro et al, 2008)

b. Tepat Pasien
Pada kasus tersebut, tidak ada dijelaskan bahwa pasien memiliki riwayat
alergi terhadap makanan (kerang) ataupun obat tertentu, sehingga penggunaan
suplemen glukosamin kordroitin yang telah diresepkan pada pasien pria usia
70 tahun tersebut sudah tepat pasien.

c. Tepat Pemilihan Obat


Berdasarkan kasus tersebut, obat glukosamin kondroitin yang dipilihkan
sudah tepat. Osteroartriris merupakan penyakit sendi yang mengenai kartilago
(tulang rawan). Berdasarkan mekanisme kerjanya, glukosamin kondroitin
mampu meningkatkan sintesis glikosaminoglikan dan merangsang sel-sel
tulang rawan untuk mencegah dekstruksi tulang rawan sehingga pemilihan
suplemen tersebut sudah tepat untuk pasien osteoarthritis (Isbagio, 2009).

d. Tepat Dosis, Cara Pemberian, Interval Waktu Pemberian, dan Lama


Pemberian
 Tepat Dosis
Dosis penggunaan glukosamin dan kondroitin untuk terapi
Osteoarthritis yaitu:
- Glukosamin sulfat 1.500 mg/hari dibagi dalam 3 kali minum
- Kondroitin sulfat 1.200 mg/hari dibagi dalam 3 kali minum
(Wells et al, 2009).
Dalam kasus ini suplemen glukosamin kondroitin diberikan 1 x 1
kapsul per hari. Berdasarkan sediaan , suplemen glukosamin kondroitin
yang ada di pasaran umunya dalam satu kapsul mengandung glukosamin
500 mg dan kondroitin 400 mg. Dalam sehari pasien menerima dosis
suplemen glukosamin sebanyak 500 mg dan kondroitin sebanyak 400
mg, dengan demikian dosis yang diterima pasien yang masih kurang dan
masih belum tepat dosis. Untuk dapat memenuhi dosis glukosamin dan
kondroitin yang dianjurkan, maka pasein dapat meminum kapsul
suplemen yang mengandung glukosamin 500 mg dan kondroitin 400 mg
tiga kali sehari. Sehingga dapat dikatakan bahwa pasien tidak tepat dosis
dalam mengonsumsi suplemen glukosamin kondroitin tersebut.
 Tepat Cara Pemberian
Suplemen glukosamin kondroitin yang diberikan secara per oral sudah
tepat. Suplemen glukosamin kondroitin diminum 1 jam setelah makan
untuk mengurangi gangguan pada saluran pencernaan (Foltz-Gray,
2005).
 Tepat Interval Waktu Pemberian
Pada kasus interval waktu pemberian suplemen glukosamin kondroitin
adalah 24 jam dimana suplemen diminum 1 kapsul per hari. Berdasarkan
sediaan suplemen glukosamin kondroitin yang ada di pasaran umumnya
dalam satu kapsul mengandung glukosamin 500 mg dan kondroitin 400
mg. Untuk dapat memenuhi dosis glukosamin dan kondroitin yang
dianjurkan, maka interval waktu pemberian menjadi 8 jam untuk
suplemen yang mengandung glukosamin 500 mg dan kondroitin 400 mg
(Wells et al, 2009).
 Tepat Lama Pemberian
Pasien perlu mengonsumsi suplemen glukosamin kondroitin selama
minimal empat hingga enam minggu hingga dapat memberikan
perbaikan klinis berupa pengurangan nyeri dan perbaikan fungsi tulang
pada pasien osteoatritis dan dapat dikonsumsi lebih lama lagi untuk
memberikan efek perlindungan pada tulang yang lebih maksimal (Foltz-
Gray, 2005). Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan suplemen
glukosamin kondroitin sudah tepat diberikan selama 3 bulan.

e. Waspada Terhadap Efek Samping Obat


- Glukosamin: sakit kepala ringan, perut kembung, meningkatnya gas pada
saluran pencernaan, dan keram. Tidak boleh diberikan pada pasien
dengan alergi kerang.
- Kondroitin: mual.
(Wells et al., 2009).

f. Kesimpulan
Berdasarkan uraian di atas, dapat dikatakan bahwa suplemen glukosamin
kondoitin telah tepat indikasi diberikan untuk pasien osteoarthritis, tepat pasien
diberikan pada pasien geriatri dengan usia 70 tahun tanpa alergi obat ataupun
penyakit penyerta kronis yang berkontraindikasi dengan suplemen glukosamin
kondoirin, sudah tepat pemilihan obat karena telah sesuai dengan tatalaksana
terapi Osteoarthritis, namun tidak tepat dosis, dimana jika ditinjau dari sediaan
yang beredar dipasaran untuk satu kapletnya hanya mengandung 500 mg
glukosamin dan 400 mg kondoitin, dosis tersebut berada dibawah dosis yang
seharusnya yaitu 1500 mg glukosamin dan 1200 mg kondroitin. Suplemen
glukosamin kondoitin sudah tepat cara pemberian yaitu melalui rute per oral,
interval pemberiannya belum tepat yang mana seharusnya diberikan setiap 8
jam untuk suplemen yang mengandung glukosamin 500 mg dan kondroitin 400
mg dan lama penggunaannya sudah tepat yaitu minimal 4 sampai 6 minggu
untuk mendapatkan perbaikan klinis yang berarti.

2.4. PLAN
2.4.1. TERAPI FARMAKOLOGI
1. Sesuai dengan assestmentyang telah dilakukan, maka penggunaan piroksikam
pada pasien OA yang berusia 70 tahun tersebuttelah sesuai dengan tatalaksana
terapi osteoarthritis, sehingga jika terdapat kekambuhan nyeri pada pasien,
terapi dengan piroksikam dapat tetap dilanjutkan tanpa harus mengganti ke
NSID lain.
2. Berkaitan dengan dosis kapsul glukosinamin dipasaran 500 mg dan kondroitin
400 mg, aturan pakai glukosinamin dan kondroitin yang semula 1 kali sehari
di ganti menjadi 3 kali sehari dengan interval 8 jam untuk mencapai dosis
penggunan yang dianjurkan sesuai pustaka yaitu glukosamin sulfat 1.500
mg/hari dibagi dalam 3 kali minum dan kondroitin sulfat 1.200 mg/hari dibagi
dalam 3 kali minum untuk memaksimalkan indikasinya dalam menggurangi
penyempitan ruang sendi dan meningkatkan mobilitas sendi (Dipiro et al,
2008).
3. Perlu digali informasi lebih lanjut terkait cara pasien dalam menggunakan obat
untuk mengetahui ketepatan pasien dalam penggunaan obat. Pasien diberikan
edukasi agar piroksikam hendaknya diminum saat makan atau 1 jam sesudah
makan untuk menghindari efek samping NSID yang dapat mengiritasi
lambung. Begitu pula suplemen glukosamin kondroitin diminum 1 jam setelah
makan untuk mengurangi gangguan pada saluran pencernaan (Tjay dan
Rahardja, 2007; (Foltz-Gray, 2005). Perlu juga di gali informasi dari pasien
apakah pasien merasakan efek samping dari penggunan NSID seperti tukak
lambung, sehingga dapat diketahui apakah pasien memerlukan terapi
tambahan untuk mengatasi efek samping NSID tersebut. Penggunaan OAINS
(piroksikam) yang dapat menginduksi terjadinya gangguan pada saluran
gastrointestinal dapat diatasi dengan menggunakan acid-suppressing agent
seperti PPIs (Proton Pump Inhibitors). Beberapa penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan PPIs paling efektif dibandingkan H2 blockers dan
misoprostol dalam mencegah dan mengatasi gangguan pada saluran GI
(Veerapen, 2002).

2.4.2. TERAPI NON-FARMAKOLOGI


Terapi pada pasien dengan osteoarthritis bertujuan untuk menghilangkan
keluhan, mengoptimalkan fungsi sendi, meningkatkan kualitas hidup,
menghambat progresivitas penyakit dan mencegah komplikasi. Terapi non-
farmakologi yang dapat diberikan kepada pasien meliputi edukasi, terapi fisik,
diet atau penurunan berat badan,
a. Edukasi
Edukasi yang tepat sangat penting diberikan kepada pasien osteoarthritis
beserta keluarga tentang bagaimana mengatasi nyeri dan disabilitas. Melalui
pemberian edukasi (KIE) pada pasien dan keluarga diharapkan pengetahuan
mengenai penyakit osteoarthritis menjadi meningkat dan pengobatan menjadi
lebih mudah serta dapat diajak bersama-sama untuk mencegah kerusakan organ
sendi lebih lanjut. Edukasi yang diberikan ini yaitu memberikan pengertian bahwa
osteoarthritis adalah penyakit yang kronik dan berkaitan dengan usia, sehingga
perlu dipahami bahwa mungkin dalam derajat tertentu akan tetap ada rasa nyeri,
kaku dan keterbatasan gerak serta fungsi.
Pemahaman tentang penyakit ini juga penting, bahwa hal tersebut perlu
dipahami dan disadari sebagai bagian dari realitas kehidupannya. Agar rasa nyeri
dapat berkurang, maka pasien dapat mengurangi aktivitas/pekerjaannya sehingga
tidak terlalu banyak menggunakan sendi lutut dan lebih banyak beristirahat.
Ditinjau dari tujuan terapi yaitu untuk mengatasi nyeri maka pasien atau keluarga
pasien diberikan edukasi bahwa pengobatan dengan OAINS (mengatasi nyeri)
bersifat simptomatis. Terapi OAINS bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri
sehingga pada suatu keadaan tertentu (derajat penyakit) kekakuan akan tetap
muncul. Pasien juga harus mengetahui efek samping yang paling umum terjadi
akibat terapi pengobatan yang diberikan. Pasien juga disarankan untuk kontrol
kembali sehingga dapat diketahui apakah penyakitnya sudah membaik atau
ternyata ada efek samping akibat obat yang diberikan (Rezende et al., 2013).

b. Terapi Fisik
Terapi fisik bertujuan untuk melatih pasien agar persendiannya tetap dapat
dipakai dan melatih pasien untuk melindungi sendi yang sakit. Manfaat
melakukan latihan fisik yang ringan pada pasien antara lain dapat meningkatkan
mobilitas sendi, memperkuat otot yang menyokong dan melindungi sendi,
mengurangi nyeri dan kekakuan sendi serta mengurangi inflamasi
(pembengkakan). Terapi fisik yang dapat dianjurkan adalah olahraga ringan yang
tidak memperberat kerja sendi. Lari atau jogging perlu dihindari dikarenakan
dapat menambah inflamasi, meningkatkan tekanan intraartikular bila ada efusi
sendi dan bahkan bisa dapat menyebabkan robekan kapsul sendi. Untuk mencegah
risiko terjadinya kecacatan pada sendi, sebaiknya dilakukan olah raga peregangan
otot ringan, senam aerobic low impact/intensitas rendah tanpa membebani tubuh
selama 30 menit sehari tiga kali seminggu, senam lantai yang dapat dilakukan
dengan cara mengambil posisi terlentang sambil meregangkan lututnya, dengan
cara mengangkat kaki dan secara perlahan menekuk dan meluruskan lututnya
(Rahman, 2010).

c. Diet atau penurunan berat badan


Orang dengan berat badan berlebih beresiko terkena osteoarthritis yang
lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki berat badan normal. Selain itu
obesitas juga dapat meningkatkan risiko progresifitas dari OA Diet atau
penurunan berat badan bertujuan untuk meringankan beban sendi dalam
menopang tubuh terutama pinggul dan lutut. Penurunan berat badan seringkali
dapat mengurangi keluhan dan peradangan. Pada pasien OA disarankan untuk
mengurangi berat badan dengan mengatur diet rendah kalori sampai mungkin
mendekati berat badan ideal. Dimana prinsipnya adalah mengurangi kalori yang
masuk dibawah energi yang dibutuhkan. Pada kasus ini yang tidak disebutkan
berat badan dan tinggi pasien, sehingga perlu melakukan pengukuran indeks
massa tubuh. Pasien dengan indeks massa tubuh lebih dari 25 kg/m2 dianjurkan
agar menurunkan berat badan (Lespasio et al., 2017).
BAB III
KESIMPULAN

Osteoarthritis atau OA merupakan penyakit sendi degeneratif yang


berkaitan dengan kerusakan kartilago sendi. Faktor-faktor yang memengaruhi
Osteoarthritis antara lain usia, stress mekanis atau penggunaan sendi
berlebihan, obesitas, genetik, dan humoral. Subyek kali ini merupakan laki-laki
dengan usia 70 tahun mengalami Osteoarthritis dengan terapi menggunakan
piroksikam dan glukosamin kondroitin. Menurut analisa SOAP yang
dilakukan, dosis piroksikam yang diberikan sudah tepat secara oral, namun
tidak tepat lama pemberian jika dikonsumsi secara rutin selama 3 bulan karena
dapat menyebabkan toksisitas pada liver, saluran cerna dan ginjal sebaiknya
dikonsumsi hanya jika nyeri. Sedangkan untuk obat glukosamin kondroitin,
tidak tepat dosis, sediaan yang beredar dipasaran untuk satu kapletnya hanya
mengandung 500 mg glukosamin dan 400 mg kondoitin, dosis tersebut berada
dibawah dosis yang seharusnya yaitu 1500 mg glukosamin dan 1200 mg
kondroitin.
Plan yang akan dilakukan untuk menaanggulangi masalah tersebut terbagi
secara 2, yaitu plan secara farmakologi dan non farmakologi. Secara
farmakologi, piroksikam udah tepat dan terapi dengan piroksisam dapat
dilanjutkan, sedangkan untuk kondroitin glukosamin diperlukan perbaikan
dosis lebih lanjut. Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan dan informasi pasien
dan profil lambungnya. Sedangkan plan non-farmakologisnya adalah terapi
fisik, terapi diet, dan edukasi (KIE).
DAFTAR PUSTAKA

BPOM. 2017. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas


Obat dan Makanan Republik Indonesia.

Davey, Patrick. 2006. At a Glance Medicine.Jakarta :Erlangga.

Dipiro, J. T., R. L. Talbert, G. C. Yee, G. R. Matzke, B. G. Wells, and L. M.


Posey. 2008. Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach. Seventh
Edition. New York: The McGraw-Hill Companies.

Foltz-Gray, D. 2005. Alternative treatments for arthritis: An A-Z. Atlanta:


Arthritis Foundation of America.

Gilman, A.G. 2007. Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi,


diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB, Edisi X.
Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Herowati, Rina. 2014. Obat dan Suplemen untuk Osteoarthritis. Journal


Pharmacy. Vol.11, No.1.

Isbagio, H. 2009. Struktur dan Biokimia Tulang Rawan Sendi. Jakarta: Interna
Publishing.

Lespasio, M.J., N.S. Piuzzi, M.E. Husni, A.J. Guarino. 2017. Knee Osteoarthritis:
A Primer. Perm Journal. 21(16):183.

Rahman Ashraf E. 2010. Exercise for People with Hip or Knee Osteoarthritis: A
Comparison of land-based and Aquatic Intervention. Open Acces Journal
Sport Med. 1(123):35.

Rezende Musumeci, G. Campos, A. Pailo. 2013. A Current Concepts in


Osteoarthritis. Acta Ortopedia Brasil. 21(2):120-122.

Sherman, A. L., Ojeda-Correal, G., Mena, J. 2012. Use of Glucosamine and


Chondroitin in Person with Osteoarthritis. Journal Pharmacy. Vol.4.

Soeroso, J., H. Isbagyo, A.W. Sudoyo, B. Setiyohadi, I. Alwi, dan S. Setiati. 2009.
Buku Ajar Ilmu Penyaki tDalam, Jilid IIIEdisi V. Jakarta:
InternaPublishing.
Tim ISFI. 2013. ISO Farmakoterapi. Jakarta : Penerbit ISFI.

Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan


Efef-Efek Samping. Jakarta: PT Gramedia.
Veerapen, K. 2002. Clinical Practices Guidelines on the Management of
Osteoarthritis. Malaysia: Malaysian Society of Rheumatology.

Wells, B.G., J.T. Dipiro, T.L. Schwinghammer, and C.V. Dipiro. 2009.
Pharmacotherapy Handbook 7th Edition. USA: The McGraw-Hill
Companies.