Anda di halaman 1dari 23

PENDIDIKAN HOMESCHOOLING

SATRIANI
1612441005
Pendidikan Fisika ICP

A. Pendahuluan
Pendidikan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia, baik dalam
proses berpikir, bersikap, bertindak maupun berprilaku. Begitu pentingnya
pendidikan sehingga kemajuan bangsapun ditentukan oleh kualitas pendidikan.
Untuk mencapai keberhasilan suatu bangsa, pendidikan dituntut untuk terus
melakukan perbaikan-perbaikan dari berbagai segi, baik dalam hal sarana dan
prasarana, kurikulum, media pembelajaran, kualitas siswa maupun pengajar dan
hal-hal yang berkaitan dengan keberlangsungan pendidikan. Pendidikan diharapkan
mampu membentuk manusia yang berkualiatas serta mampu mengembangkan
potensi diri dan keterampilan sehingga menjadi warga negara yang baik dan
berkualitas.

Di era globalisasi semua bergerak dan berubah semakin cepat dan kompetitif.
Semua bidang mengalami pergeseran dan tantangan, termasuk lembaga pendidikan.
Lembaga pendidikan menghadapi tantangan serius untuk mampu mengikuti
sekaligus berada di garda depan perubahan global tersebut. Dengan demikian jika
ingin survive dan memenangkan kompetisi terbuka, maka lembaga pendidikan
harus memiliki terobosan-terobosan progresif, di samping adanya teamwork yang
solid dan profesional, sistem manajemen yang efektif, dan kader-kader andal
pengisi dan penggerak masa depan yang dipersiapkan sedini mungkin. Dalam
rangka upaya menciptakan terobosan di bidang pendidikan, maka muncullah
pendidikan alternatif yang beragam bentuknya. Salah satu di antaranya adalah
homeschooling.

1
Setiap orang tua menghendaki anak-anaknya mendapat pendidikan bermutu,
nilai-nilai iman dan moral yang tertanam baik, dan suasana belajar anak yang
menyenangkan. Kerapkali hal-hal tersebut tidak ditemukan para orangtua di
sekolah umum. Oleh karena itu muncullah ide orangtua untuk “menyekolahkan”
anak-anaknya di rumah. Dalam perkembangannya, berdirilah lembaga sekolah
yang disebut sekolah-rumah (homeschooling) atau dikenal juga dengan istilah
sekolah mandiri, atau home education atau home based learning.
Banyaknya orangtua yang tidak puas dengan hasil sekolah formal mendorong
orangtua mendidik anaknya di rumah. Kerapkali sekolah formal berorientasi pada
nilai rapor (kepentingan sekolah), bukannya mengedepankan keterampilan hidup
dan bersosial (nilai-nilai iman dan moral). Di sekolah, banyak murid mengejar nilai
rapor dengan mencontek atau membeli ijazah palsu. Selain itu, perhatian secara
personal pada anak, kurang diperhatikan. Ditambah lagi, identitas anak
distigmatisasi dan ditentukan oleh teman-temannya yang lebih pintar, lebih unggul
atau lebih “cerdas”. Keadaan demikian menambah suasana sekolah menjadi tidak
menyenangkan. Ketidakpuasan tersebut semakin memicu orangtua memilih
mendidik anak-anaknya di rumah, dengan resiko menyediakan banyak waktu dan
tenaga. Homeschooling menjadi tempat harapan orang tua untuk meningkatkan
mutu pendidikan anak-anak, mengembangkan nilai-nilai iman/ agama dan moral
serta mendapatkan suasana belajar yang menyenangkan.
Dilatar belakangi oleh asumsi pendidikan keluarga, dimana keluarga sebagai
lembaga pendidikan yang pertama dan utama bagi anak. Maka sebagai wadah perlu
mengakomodasi serta menyesuaikan minat utama setiap individu anak. Melalui
jalur pendidikan informal, yaitu model pendidikan Homeschooling, seyogyanya
menjadi sebuah pilihan unuk memenuhi hak asasi manusia atas pendidikan dalam
proses pembelajaran. Homeschooling menganut filosofis belajar dapat dilakukan
kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja. Diharapkan anak mampu belajar
mandiri dibawah bimbingan orang tua. Pasal-pasal dalam UUSPN Nomor 20 tahun
2003, terutama tentang hak terhadap pendidikan yang berkualitas dan dan adanya
jalur formal, nonformal, dan informal. Telah meningkatkan aspirasi untuk
meningkatkan untuk melaksanakan sekolah yang berbasis lingkungan keluarga atau

2
sekolah rumah yang sering disebut Homeschooling. Dalam sistem Pendidikan
Nasional Homeschooling adalah perwujudan dari penyelenggaraan pendidikan
pada jalur informal yang diakui eksistensinya di dalam UUSPN.

B. Pengertian Pendidikan
Homeschooling
Secara bahasa homeschooling berasal dari bahasa Inggris yang berarti sekolah
rumah. Menurut Satmoko Budi Santoso secara substansi makna homeschooling
pada aspek kemandirian dalam menyelenggarakan pendidikan di lingkungan
keluarga.1 Pendidikan semacam ini sudah ada di dalam sistem pendidikan Islam,
dimana ibu adalah madrasah utama dan pertama bagi anak-anaknya. Kemunculan
homeschooling mulai marak terjadi di Amerika Serikat pada kurun 1960-an oleh
John Caldwell Holt. Dasar pemikiran Holt mengandung misi pembebasan cara
berpikir instruktif seperti yang dikembangkan melalui sekolah. Sejak itu ide untuk
merealisasikan homeschooling terus bergulir dari waktu ke waktu. Dan masyarakat
pun mulai ikut mengkritisi pendidikan formal di sekolah yang stagnan. Terlebih-
lebih setelah terjadi kapitalisasi pendidikan di mana pendidikan dijadikan sebagai
projek . Demikian pula para pemerhati pendidikan mulai menilai bahwa
homeschooling ternyata jauh lebih efektif dibandingkan dengan
lembaga regular (formal). Maka perkembangan homeschooling terus meluas.
Hingga pada tahun 1996, di Amerika sudah lebih dari 1,2 juta anak homeshooler
dengan pertumbuhan 15% setiap tahunnya.2
Homeschooling adalah praktik pendidikan yang sepenuhnya diawasi oleh
orang tua di sekolah reguler dan berlangsung pada hari yang sama dengan sekolah
umum (Ebinezar, 2008; Ray, 2000; Whitehead & Bird, 1984). Pendidikan
homeschooling juga diakui sebagai home education atau home based school.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang
mempengaruhi pilihan pendidikan 'homeschooling' oleh orang tua (Barratt-Merak,
1997; Beirne, 1994; Broadhurst, 1999; Baugus, 2009) walaupun sebagian besar

1
Satmoko Budi Santoso, Sekolah Alternatif, Mengapa tidak?, Yogyakarta: Penerbit Diva Press, 2010, h.71
2
Satmoko Budi Santoso, Sekolah Alternatif Mengapa Tidak? (Jogyakarta : Penerbit Diva Press, 2010), h.68

3
negara di dunia telah menerapkan Bertindak Wajib dan Pendidikan Bebas sesuai
dengan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (UNDHR, 1948) dan Konvensi
Hak-hak Anak (CROC, 1990).3
Homeschooling adalah pendidikan yang dilakukan secara mandiri oleh
keluarga, dimana materi-materinya dipilih dan disesuaikan dengan kebutuhan
anak.4 Homeschooling memiliki asumsi dasar bahwa setiap keluarga memiliki hak
untuk bersikap kritis terhadap definisi dan sistem eksternal yang ditawarkan kepada
keluarga.5 Kekhasan dan kekuatan homeschooling paling besar adalah customized
education, yakni pendidikan yang disesuaikan dengan potensi anak dan lingkungan
yang ada disekitar. Dalam homeschooling keragaman anak dihargai dan seorang
anak tidak dituntut untuk seragam dan serupa.6
Menurut Dr. Arief Rachman, M.Pd. dalam pengantarnya pada sebuah buku
tentang home schooling terbitan kompas, home schooling selain mengakomodasi
potensi kecerdasan anak secara lebih maksimal, juga menjadi alternatif lain untuk
menghindari pengaruh lingkungan yang negatif yang mungkin akan dihadapi oleh
anak dalam sekolah-sekolah umum ketika menimba ilmu. Dikatakannya bahwa
pergaulan bebas, tawuran, rokok, dan obat-obat terlarang menjadi momok yang
terus menghantui para orang tua, sementara mereka tak dapat mengawasi putra-
putrinya sepanjang waktu, terutama ketika mereka berada di sekolah dan di luar
rumah yang berhubungan dengan kegiatan sekolah. Karena itulah home schooling
memberikan kebebasan dan keleluasaan waktu bagi orang tua untuk mengawasi
anak mereka, karena kegiatan pembelajaran dilakukan di rumah.7

3
The Malaysian Online Journal of Educational Technology Volume 1, Issue 3
4
Maria Magdalena, Anakku Tidak Mau Sekolah Jangan Takut Cobalah Home Schooling, (Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama, 2010), 8.
5
Sumardiono, Apa Itu Homeschooling?(JaKarta:Panda Median,2014), 6.
6
Sumardiono, Apa Itu Homeschooling?, 26.
7
Dr. Arief Rachman, M.Pd Home Schooling: Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku. Jakarta: PT Kompas Media
Nusantara.

4
C. Sejarah Pendidikan Homeschooling
Filosofi berdirinya sekolah rumah ditulis John Cadlwel Holt dalam
bukunya yang berjudul How Children Fail pada tahun 1964. Filosofi
tersebut adalah “manusia pada dasarnya makhluk belajar dan senang
belajar; kita tidak perlu ditunjukkan bagaimana cara belajar. Yang
membunuh kesenangan belajar adalah orang-orang yang berusaha
menyelak, mengatur, atau mengontrolnya”. Dipicu oleh filosof tersebut,
pada tahun 1960-an terjadilah perbincangan dan perdebatan luas mengenai
pendidikan sekolah dan sistem sekolah. Sebagai guru dan pengamat anak
dan pendidikan, Holt mengatakan bahwa kegagalan akademis pada siswa
tidak ditentukan oleh kurangnya usaha pada sistem sekolah, tetapi
disebabkan oleh sistem sekolah itu sendiri.8 Setelah pemikirannya tentang
kegagalan sistem sekolah mendapat tanggapan luas, Holt sendiri
kemudian menerbitkan karyanya yang lain Instead of Education; Ways to
Help People Do Things Better, pada tahun 1976 dan pada tahun 1977, Holt
menerbitkan majalah untuk pendidikan di rumah yang diberi nama:
Growing Without Schooling.9
Pada waktu yang hampir bersamaan, akhir tahun 1960-an dan awal
tahun 1970-an, Ray dan Dorothy Moore melakukan penelitian mengenai
kecenderungan orang tua menyekolahkan anak lebih awal (early
childhood education). Penelitian mereka menunjukkan bahwa masuknya
anak-anak pada sekolah formal sebelum usia 8-12 tahun bukan hanya tak
efektif, tetapi sesungguhnya juga berakibat buruk bagi anak-anak,
khususnya anak-anak laki-laki karena keterlambatan kedewasaan mereka.
Serupa dengan Holt, Ray dan Dorothy Moore kemudian menjadi
pendukung dan konsultan penting homeschooling. Setelah itu,

8http://homeschoolingyoo.blogspot.co.id/ diakses pada tanggal 18 Juni 2017 Pukul 20.00


9Homeschoolingyoo“Sejarah Homeschooling,” Desember 2012. diakses tanggal 18 Juni 2017
http://homeschoolingyoo.blogspot.co.id/

5
homeschooling terus berkembang dengan berbagai alasan.10
Perkembangan homeschooling terus meluas hingga pada tahun 1996, di
Amerika sudah lebih dari 1,2 juta anak homeshooler dengan pertumbuhan
15% setiap tahunnya. Dan pertumbuhan homeschooling juga terus meluas
di Eropa dan Asia.11
Di negeri kita konsep sekolah rumah sudah diterapkan lama oleh sebagian
kecil masyarakat kita. Hal ini dapat dilihat di pondok-pondok pesantren para Kiai
secara khusus telah mendidik anak-anaknya sendiri karena merasa lebih mengena
dan puas bisa mengajarkan ilmu pada putra sendiri daripada sekadar
mempercayakan pada orang lain. Tokoh-tokoh terkenal seperti KH Agus Salim, Ki
Hajar Dewantoro atau Buya Hamka juga mengembangkan cara belajar dengan
sistem persekolahan di rumah ini. Metode ini dijalankan bukan sekedar agar anak
didik lulus ujian kemudian mendapatkan ijazah, namun agar lebih mencintai dan
punya semangat yang tinggi dalam mengembangkan ilmu yang dipelajari.12
Di Indonesia, homeschooling sudah lama terjadi jauh sebelum Indonesia
merdeka. Hanya saja dahulu belum memakai istilaah homeschooling tetapi lebih
terkenal dengan belajar otodidak. Ini dapat diketahui dari Bapak Pendidikan
Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara yang ternyata keberhasilannya didapat tanpa
menjalani pendidikan formal. Homeschooling di Indonesia mulai marak terjadi
pada tahun 2005. Kehadirannya lebih dilatarbelakangi sebagai upaya
mengantisipasi keberadaan sekolah regular (pendidikan formal) yang tidak merata
ditiap-tiap daerah. Selain itu ada pula motivasi untuk memperkaya bentuk dan
ragam pelaksanaan pendidikan khususnya anak berbakat / memiliki potensi khusus.
Seiring merebaknya homeschooling di Indonesia semakin antusias pula minat orang
tua menyekolahkan anaknya di homeschooling. Bahkan saat ini homeschooling
telah menjadi tren di kota-kota besar di Indonesia. Dari fenomena tersebut dapat
diperkirakan bahwa homeschooling semakin dibutuhkan masyarakat. Setidak-

10
Homeschoolingyoo “Sejarah Homeschooling,” Desember 2012. diakses tanggal 18 Juni 2017
http://homeschoolingyoo.blogspot.co.id/
11
Diyah Yuli Sugiarti, Mengenal Homescholling Sebagai Lembaga Pendidikan Alternatif. Jurnal Edukasi
Vo.5 No.2.(September 2016),14.
12
Abu Dira Syifa “Sejarah Munculnya Homeschooling” Juli 2008. diakses tanggal 18 Juni 2017
https://abudira.wordpress.com/2008/07/19/sejarah-munculnya-homeschooling

6
tidaknya keberadaan homeschooling akan memenuhi sekitar 10% dari total jumlah
anak di Indonesia.13
Penting bagi kesuksesan akademis, homeschooling telah menjadi fenomena
pendidikan yang berkembang di seluruh dunia. Tampak bahwa, dalam pengajaran
dan pembelajaran homeschooling, masukan dan hasil akademis 'nyata' bagi orang
tua dalam menyesuaikan kebutuhan anak mereka dalam belajar. Sebuah
homeschooling terstruktur telah terbukti efektif dalam meningkatkan keberhasilan
akademis (Cogan, 2010; Harding, 2013; Rudner, 1999). Namun, banyak peneliti
berpendapat dasar klaim ini. Badan sastra saat ini tampaknya menderita basis
pengetahuan empiris yang buruk dan bukti-bukti dalam membenarkan keefektifan
homeschooling. Murphy (2014) merangkum bahwa studi tentang keseluruhan
dampak homeschooling masih kurang.14
Dari pembentukan sistem pendidikan publik dan swasta berskala besar di
Amerika Serikat di abad ke 19 sampai akhir 1970-an, hampir semua orang Amerika
anak-anak mendapat pendidikan formal di sekolah. Tapi mulai akhir 1970-an dan
terus meningkat sejak saat itu, rumah tersebut telah menjadi tempat pendidikan
yang populer untuk jumlah keluarga yang terus berkembang di wilayah populasi
A.S. yang semakin meluas. Peningkatan ini sering dijuluki "gerakan
homeschooling", karena banyak keluarga yang terlibat terlibat dalam tindakan
politik dan hukum yang agresif dan terpadu untuk mempermudah anak-anak di
rumah selama hari sekolah (Gaither, 2008). Meskipun hitungan yang akurat tidak
mungkin, Pusat Statistik Pendidikan Nasional memperkirakan bahwa pada tahun
2007 sekitar 1,5 juta anak-anak, atau 2,9% dari populasi usia sekolah, adalah
homeschooling. Ini adalah kenaikan 36 persen dari perkiraan 2003 organisasi yang
sama (Planty et al., 2009). Tidak mengherankan, pertumbuhan fenomena yang luar
biasa (dan sifatnya yang bermuatan politis) telah terjadi memicu literatur ilmiah
yang kuat jika meluas (Lawrence, 2007; Nemer, 2002;
Ray, 1999).15

13
Imas Kurniasih, Homeschooling (Jogyakarta : Penerbit Cakrawala, 2009) h. 8
14
TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology – July 2015, volume 14 issue 3
15
Other Education: The Journal of Educational Alternatives ISSN 2049-2162 Volume 2(2013), Issue 1 · pp. 4
59

7
D. Model Pendidikan Homeschooling
Model konsep pendidikan yang banyak mendasari pelaksanaan pendidikan,
minimal dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu pendidikan klasik,
pendidikan pribadi, pendidikan interaksional dan teknologi pendidikan. Dari
keempat model konsep pendidikan tersebut, dalam tulisan ini hanya akan
difokuskan pada konsep pendidikan pribadi. Hal ini dikarenakan konsep pendidikan
inilah yang menurut penulis lebih relevan untuk dijadikan dasar teoritik paradigma
persekolahan di rumah (home schooling) yang populer akhir-akhir ini. Konsep
pendidikan pribadi, dalam realitasnya jarang terjadi dan sulit diterapkan dalam
sekolah formal secara komprehensif. Pendidikan pribadi mungkin akan lebih sukses
penerapannya melalui model pendidikan homeschooling.16
Urutan pengalaman mengajar yang digunakan di banyak institusi mencakup
(1) pengajaran (yaitu, mengajarkan pelajaran kepada sekelompok teman kuliah), (2)
pengalaman di lapangan awal (yaitu, mengamati dan mengajar bersama dengan
guru mentor), dan ( 3) pengajaran siswa (yaitu, pengajaran langsung di bawah
bimbingan seorang guru mentor dan atasan universitas). Meskipun model ini
memberi siswa perkembangan pengajaran yang dapat diandalkan, namun dapat
diperkuat dengan menambahkan tingkat pengajaran homeschooling ke dalam
rangkaian. Tingkat pengalaman tambahan ini dapat menjembatani kesenjangan
antara pengajaran sebaya dan pengalaman lapangan awal dengan memberi siswa
keterpaparan pada anak-anak K-12 di bawah bimbingan langsung fakultas
universitas. Pengalaman homeschool adalah salah satu contoh bagaimana program
pendidikan guru dapat menambahkan tingkat praktis ke dalam rangkaian
pengajaran saat ini.17
Berbagai gaya dan motivasi untuk pendidikan berbasis rumah tidak dapat
tercakup dalam cakupan makalah ini dan diakui bahwa metode ini sendiri tidak
akan memenuhi beragam kebutuhan penduduk Aborigin. Namun, mungkin untuk
secara singkat menunjukkan bahwa tujuan pendidikan bagi orang Aborigin, seperti

16
Nana Syaodih Sukmadinata, (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: Yayasan
Kesuma Karya.
17
Journal of Physical Education, Recreation & Dance; Mar 2015; 86, 3; Arts & Humanities Database pg. 37

8
yang didefinisikan oleh Persaudaraan India Nasional, dapat dipenuhi di lingkungan
belajar berbasis rumah jauh lebih mudah daripada di lingkungan berbasis sekolah.
Calliou mengutip kesimpulan Persaudaraan India Nasional tahun 1973 bahwa:
"(seorang anak harus belajar) tentang kekuatan yang membentuknya (dia); sejarah
orang-orangnya, nilai dan adat istiadat mereka, bahasa mereka, karena tanpa
pengetahuan ini , Dia (dia) bisa menjadi cukup terasing untuk tidak mencapai
sepenuhnya potensi dirinya sendiri (Calliou 1999, 160). Pendidik berbasis rumah
berbagi tujuan utama untuk memastikan bahwa nilai dan budaya mereka diteruskan
kepada anak-anak mereka: "Mengajar pelajaran akademis anak-anak Anda sendiri
serta kepercayaan religius, spiritual, budaya, moral, dan etika Anda adalah hati dan
jiwa Homeschooling hari ini "(Leppert dan Leppert 1999, 3).18
Mengingat konteks makan pada tengah hari pengajaran ini, jelas dan jelas
bahwa pengajaran dan pembelajaran tidak sama bagi mereka yang homeschool atau
bagi mereka yang belajar di rumah. Seperti dicatat dalam sebuah buku tentang
homeschooling Kristen konservatif: Homeschooling menawarkan fleksibilitas yang
sangat besar dalam penjadwalan, kurikulum, dan metode pengajaran. Hal ini
memungkinkan orang tua untuk memperlakukan pembelajaran sebagai usaha yang
jauh lebih luas dan lebih holistik daripada sekolah umum, yang biasanya dibatasi
oleh standar tetap, teks yang dimandatkan, dan permintaan yang tidak mau
menyerah dari "cakupan kurikulum". (Kunzman, hal 53). Ada beberapa alasan
mengapa keluarga memilih homeschooling anak-anak mereka, dan dengan
demikian, dengan sengaja memasukkan makanan siang hari ke dalam palet
instruksional, atau tidak. Robert Kunzman meneliti homeschooler Kristen
konservatif, dan penalaran yang dia kutip merupakan ciri khas pandangan mereka:
Seorang ibu menggambarkan keputusasaan awalnya saat mulai di rumah-
sekolahnya yang berusia enam tahun: tantangan untuk memilih dan merencanakan
kurikulum, beralih dari pengasuh ke instruktur formal, dan terus mengelola
kehidupan keluarga lainnya terasa menakutkan, bahkan luar biasa. . "Lalu Tuhan
memberi saya cahaya," tulisnya. "Homeschooling bukan hanya tentang memenuhi

18
Rozon, G. (2001). Journal of Education for self-determination. The American Review of Canadian Studies,
31(1), 61-70.

9
hukum pendidikan negara kita atau melengkapi anak perempuan kita untuk
membaca, menulis, dan menghitung. Homeschooling adalah pertempuran spiritual
untuk jiwa anak sekolah kecil kita." (Kunzman, hal 213)19
Banyak ragam model homeschooling. Pilihan disesuaikan dengan gaya anak-
anak. Namun pada dasarnya homeschooling bersifat unique. Karena setiap keluarga
memiliki latar belakang yang berbeda. Model-model yang berkembang adalah:20
a. Unit Studies Approach
Adalah model pendidikan yang berbasis pada tema unit studi. Pendekatan
ini siswa mempelajari banyak mata pelajaran sekaligus melalui sebuah
tema yang dipelajari. Ini didasarkan pemikiran proses belajar seharusnya
teringegrasi, bukan terpecah
b. The Living Book Approach
Model ini memakai pengalaman dunia nyata, seperti berkunjung ke
museum. Model ini dikembangkan oleh Charlote Mason
c. The Classical Approach
Model ini menggunakan kurikulum yang terstruktur berdasarkan
perkembangan anak
d. The Waldorf Approach
Model ini kembangkan oleh Rudolph Steiner, ada banyak di Amerika,
yaitu berusaha menciptakan setingan sekolah yang mirip dengan keadaan
rumah.
e. The Montessori Approach
Model yang dikembangkan oleh Dr Maria Montessori. Pendekatan ini
mendorong penyiapan lingkungan pendukung yang nyata dan alami,
mengamati proses.
Memiliki pemahaman tentang karakteristik tertentu dapat membantu saat
merencanakan dan mengoperasikan program untuk anak-anak homeschooling.

19
Rud, A. G. (2013). Midday eating while learning: The school cafeteria, homeschooling, and the open
campus high school. Journal of Thought, 48(2), 78-88,129
20
Journal of Education, Vol. 1, No. 2, September 2009: 13 – 22

10
Pertimbangan yang dijelaskan di sini adalah wilayah perhatian yang paling dikenal
dari keluarga lokal yang terdaftar dalam program ini.21
1) Penghasilan Terbatas. Pada sebagian besar keluarga homeschooling, satu
orang tua tetap di rumah untuk mengajar, sehingga hanya membiarkan satu
orang tua bekerja sekuler (Ray, 2011). Variabel pendapatan tunggal ini,
ditambah dengan biaya (misalnya, buku teks dan buku kerja, teknologi,
perlengkapan umum) pendidikan rumah (Cooper & Sureau, 2007; Lips &
Feinberg, 2008) dapat membatasi jumlah uang yang dapat dihabiskan
keluarga pada masyarakat. Program berbasis Oleh karena itu, biaya
pendaftaran perlu masuk akal. Saat menentukan harga, program harus
memastikan bahwa biaya operasional (misalnya, gaji penjaga pantai,
peralatan, dan materi kurikuler) sepenuhnya tertutup namun tidak
meningkat sampai batas yang membatasi jumlah keluarga yang dapat
berpartisipasi.
2) Penjadwalan. Meskipun jadwal homeschooling agak fleksibel, hari dan
waktu program harus dipertimbangkan. Seperti disebutkan di atas, banyak
keluarga homeschooling termasuk dalam koperasi yang sering bertemu,
bahkan setiap minggu. Oleh karena itu, untuk menghindari persaingan
waktu, program harus bekerja secara langsung dengan kelompok-kelompok
ini untuk memilih hari dan waktu yang paling sesuai dengan anggotanya,
sehingga memudahkan merekrut keluarga. Menemukan waktu terbaik untuk
keluarga juga akan mempengaruhi partisipasi. Mungkin sebagian besar
keluarga lokal melakukan pendidikan formal di pagi hari, membiarkan sore
terbuka untuk kegiatan ekstrakurikuler. Sekali lagi, jenis informasi ini dapat
ditemukan dengan bekerja secara langsung dengan koperasi lokal dan
anggotanya.
3) Mengakomodasi Keluarga Besar. Pertimbangan lain saat mengembangkan
program adalah keluarga yang lebih besar (Ray, 2011). Karena program
pendidikan dirancang untuk populasi K-12 yang berusia lima tahun ke atas,

21
Journal of Physical Education, Recreation & Dance; Mar 2015; 86, 3; Arts & Humanities Database pg. 37

11
orang tua dengan anak-anak usia sekolah tidak sekolah mungkin
menghargai tempat untuk membawa mereka. Solusi mudah untuk
membantu mengakomodasi keluarga adalah menawarkan area yang
menyediakan aktivitas untuk anak-anak usia non-sekolah dan tempat bagi
orang tua untuk pergi selama program berlangsung. Ini bisa sesederhana
kamar yang nyaman dengan beberapa mainan dan tempat untuk orang tua
duduk, atau program paralel yang sebenarnya bekerja dengan anak berusia
dua sampai empat tahun. Cara lain untuk membuat program ini lebih
menarik bagi keluarga adalah memberi orang tua akses ke sumber tambahan
di gedung tersebut (mis., Pusat kebugaran atau lab komputer) sementara
anak-anak mereka terlibat dalam program ini. Merancang program dengan
fokus keluarga, dan tidak hanya untuk anak usia sekolah, umumnya akan
lebih menarik dan dapat memperkuat pendaftaran.
4) Keyakinan Sekolah. Salah satu pertimbangan terakhir saat mengembangkan
sebuah program adalah mengapa keluarga memilih homeschool di tempat
pertama. Alasan bahwa keluarga memilih homeschool mungkin termasuk
kurikulum dan keyakinan pendidikan, instruksi moral dan keyakinan
agama, kesejahteraan dan keamanan anak, dan kesatuan keluarga (Princiotta
& Bielick, 2006). Meskipun tujuan dari program ini adalah untuk memberi
para guru preservice pengalaman mengajar K-12, hal itu harus dilakukan
dengan beberapa pertimbangan. Jika sebuah program muncul terlalu mirip
dengan format sekolah umum, ini mungkin akan membuat beberapa
keluarga pergi. Misalnya, mencoba memasukkan pendidikan kesehatan atau
pengajaran berbasis kelas mungkin tidak menarik bagi keluarga tertentu.
Program yang dibahas dalam artikel ini juga menemukan bahwa beberapa
orang tua menyuarakan keprihatinan tentang aktivitas tertentu (mis., Yoga
berbasis spiritual, tarian tertentu, permainan aktif elektronik) yang
bertentangan dengan keyakinan agama atau instruksi moral mereka. Sekali
lagi, berkomunikasi dengan koperasi lokal mengenai kebutuhan dan
kepentingan anggotanya dapat membantu menetapkan kurikulum yang
sesuai untuk universitas dan keluarga lokal.

12
E. Faktor Pemicu dan Pendukung
Pendidik rumah juga berpartisipasi dalam kegiatan dan asosiasi yang lebih
formal baik lokal maupun nasional. Semua kecuali salah satu orang tua secara
teratur menghadiri konferensi sekolah rumah yang diadakan setiap tahun di kota
terdekat. Konferensi ini menyediakan berbagai kurikulum dan materi pelajaran
serta menawarkan seminar dan lokakarya yang dirancang untuk membantu para
pendidik di rumah memperbaiki keterampilan instruksional mereka. Perluasan
home schooling telah berkontribusi pada pertumbuhan keseluruhan industri yang
ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pendidik di rumah, yang telah memberi
mereka banyak sumber daya di ujung jari mereka. Keluarga Wheatland yang kami
wawancarai semua memanfaatkan berbagai pilihan yang tersedia bagi mereka,
karena mereka membuat keputusan tentang kurikulum, materi pendidikan, dan
layanan pendukung.22
a. Kurikulum, Bahan Pendidikan, dan Layanan Pendukung
Penerbit buku teks dan penilaian skala besar mendapat keuntungan dari
kecenderungan peningkatan kontrol negara dan nasional atas keputusan
pendidikan, yang telah menghasilkan penyempitan pilihan untuk kurikulum, buku
teks, dan penilaian (Spring, 2005). Alih-alih memiliki keputusan tentang
kurikulum, buku, dan bahan lain yang disodorkan kepada mereka oleh pembuat
kebijakan, birokrat pendidikan, atau penerbit buku teks, orang tua di rumah
memiliki akses terhadap beragam pilihan. Beberapa orang tua menyebutkan bahwa
mereka melakukan penelitian ekstensif untuk menemukan kurikulum yang paling
sesuai dengan kebutuhan pendidikan anak-anak mereka. Salah satu orang tua
menjelaskan bahwa masing-masing anak-anaknya "memiliki kurikulum yang
berbeda" dan bahwa dia dan istrinya "harus pergi dan melakukan penelitian untuk
setiap anak." Ledakan videoconference, teknologi komputer, internet, dan sekolah
virtual telah memfasilitasi pengajaran, terutama subjek di luar pengetahuan dan
keahlian orang tua. Orang tua menjelaskan bagaimana anak-anaknya mengikuti

22
Patterson, J. A., Gibson, I., Koenigs, A., Maurer, M., Ritterhouse, G., Stockton, C., & Taylor, M. J. (2007).
Resisting bureaucracy: A case study of home schooling. Journal of Thought, 42(3), 71-86,142-143

13
kursus pendidikan jarak jauh: "Siswa kami duduk di depan TV seperti mereka
berada tepat di kelas dengan guru berbicara kepada mereka seperti mereka berada
di kelas video."
Keluarga juga menggunakan jasa bisnis yang mengkhususkan diri dalam
menyediakan sekolah, kurikulum, transkrip nilai, dan diploma di rumah. Salah satu
orang tua menggambarkan kurikulum yang dia gunakan sebagai metode "mudah
diajarkan ... karena dikembangkan terutama untuk orang tua di rumah sekolah ....
Anda tahu apa tes yang harus dilakukan, apa yang harus dilakukan, dan itu mudah
diikuti." Orangtua juga menggunakan jasa perusahaan yang melayani sekolah
Kristen di rumah dan swasta. Selain menyediakan kurikulum dan materi, vendor ini
menyimpan catatan pengujian dan transkrip, dan menerbitkan ijazah SMA. Seorang
orangtua menyebutkan perusahaan apa yang dikontraknya dengan yang ditawarkan:
"Mereka menangani pengujian pencapaian, mereka mengurus tes penilaian, mereka
menyimpan transkrip kami, mereka menyimpan rapor kami, mereka menyimpan
semua jenis itu."
b. Struktur dan Jadwal Fleksibel
Orang tua di rumah sekolah berupaya menjaga keseimbangan antara
menyediakan rutinitas dan struktur anak-anak mereka sekaligus memungkinkan
jadwal harian mereka menjadi fleksibel dan adaptif. Mereka tidak
mengelompokkan hidup mereka ke sekolah dan rumah; Mereka tidak memisahkan
pelajaran akademis belajar dari kehidupan sehari-hari mereka, seperti yang
diungkapkan oleh seorang ibu, "Pendidikan di rumah lebih merupakan gaya hidup
daripada waktu yang ditentukan." Ibu lain menjelaskan, "Sulit untuk memisahkan
sekolah dan rumah, ini cara hidup kita ... Mereka tidak bersekolah hanya tiga atau
empat jam sehari, mereka selalu belajar sepanjang waktu." Seperti yang
diilustrasikan oleh komentar, banyak orang tua mengartikulasikan sebuah filsafat
pembelajaran yang cukup canggih sebagai "cara hidup kita," sesuatu yang sedang
terjadi "setiap saat," dan tidak hanya dalam batas-batas ruang kelas atau sejumlah
jam yang tetap merupakan hari sekolah karena pendidik orang tua ini menyadari
bahwa pendidikan diperluas melampaui batas kelas, mereka menyesuaikan jadwal
mereka untuk memanfaatkan kesempatan belajar saat mereka muncul. Salah satu

14
orang tua menjelaskan, "Sekadar memberi contoh, kami merencanakan sebuah
perjalanan misi melalui gereja kami pada musim semi ini pada bulan April dan
karena sekolah di rumah kami, kami dapat membawa anak-anak kami bersama
kami. Kami akan menghabiskan sedikit lebih dari seminggu di Chihuahua,
Meksiko. " Kunjungan lapangan dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam misi
misi yang disponsori gereja tidak akan mungkin terjadi dalam kalender sekolah
umum tradisional dan kemungkinan bahkan tidak akan dianggap sebagai
pendidikan.
c. Pedagogi responsif
Seperti yang terlihat di bagian sebelumnya, kebanyakan orang tua
mengekspresikan filsafat pedagogis yang berpusat pada anak. Mereka telah belajar
melalui pengalaman mereka sehingga memungkinkan anak mengejar minat mereka
membuat pengajaran menjadi lebih mudah dan belajar lebih menyenangkan. Orang
tua ini melihat secara langsung bagaimana anak-anak mereka mudah bosan dan
kehilangan minat terhadap kurikulum akademik dasar yang diajarkan dengan
menggunakan praktik pembelajaran tradisional. Mereka menyadari bahwa
menyesuaikan kurikulum dan strategi instruksional untuk kepentingan anak-anak
mendorong kesuksesan dan memanfaatkan motivasi intrinsik mereka. Seperti yang
dikatakan orang tua, "Kita membiarkan mereka unggul dalam apa yang mereka
minati. Dan kita tidak perlu mendorong mereka." Dia melanjutkan dengan
mengatakan, "Mereka melakukan lebih banyak lagi saat itu adalah gagasan
mereka." Orangtua lain berbagi bahwa pendekatannya terhadap pelajaran
perencanaan memerlukan, "Apapun proyek yang ingin dilakukan anak-anak."
Keluarga sekolah di rumah menemukan mereka sendiri, seperti yang dikatakan oleh
seorang ibu, "jika mereka tertarik padanya, Nak, mereka akan mempelajarinya dan
mengetahuinya dengan baik." Orangtua sekolah di rumah ini menginginkan anak-
anak mereka untuk mengejar kepentingan mereka sendiri, namun mereka juga
menyatakan bahwa anak-anak harus memiliki struktur dan disiplin dalam
kehidupan mereka. Keyakinan ini terbukti dalam pendekatan mereka terhadap tugas
sekolah. Salah satu orang tua berkomentar, "Kami ingin mengajarkannya disiplin -
kami memiliki jadwal yang ditetapkan." Yang lain berkata, "Mereka harus

15
mengerjakan pekerjaan rumah mereka sebelum mereka bisa melakukan hal-hal
tertentu." Tata kelola diri dan disiplin diri juga penting bagi pendidik orang tua ini,
seperti yang dikatakan, "Mereka sendiri untuk menyelesaikan pekerjaan mereka."
Ibu lain merujuk pada hari sekolah anaknya sebagai "self-directed."

F. Kurikulum Pendidikan
Homeschooling
Dalam pelaksanaan kurikulum, lembaga pendidikan diberikan otonomi atau
kewenangan untuk mengelola kurikulum secara mandiri yang disesuaikan dengan
kebutuhan dan ketercapaian visi dan misi lembaga pendidikan, tetapi dengan tidak
mengabaikan kebijakan nasional yang telah ditetapkan.23

Terdapat tiga jenis organisasi kurikulum yaitu:24

1) Kurikulum terpisah (sparated subject curriculum) dimana bahan-bahan


disajikan terpisah dan seolah-olah terdapat pembatas antara bidang yang satu
dengan yang lain.
2) Kurikulum berhubungan (correlated curriculum) yaitu kurikulum yang
menuntut adanya hubungan antara mata pelajaran yang satu dengan yang lain.
3) Kurikulum terpadu (integrated curriculum) yaitu kurikulum yang meniadakan
batas-batas antara berbagai bidang dan di dalam mata pelajaran tersebut
terdaoat keterpaduan mata pelajaran.
Home schooling melibatkan penggunaan kurikulum yang ditentukan sendiri.
Kurikulum dapat dibeli dari rak atau satu orang tua membangunnya dengan
menggabungkan yang terbaik dari silabus yang ada. Kurikulum dapat dipilih
berdasarkan kecenderungan religius atau alasan pedagogis (Basham, 2001).
Internet, komputer pribadi teknologi dan sumber daya yang tersedia termasuk
kelompok pendukung dan materi pendidikan telah membuat home schooling lebih
mudah (Aurini & Davies, 2005; Basham et al., 2007). Dengan internet dan chatting
online, orang tua homeschooling mampu membangun lingkaran mereka sendiri,

23
Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta:Rajawali Pers,2012) 4.
24
Syamsul Maarif,dkk, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam,37.

16
situs homeschooling, forum, dll. (Dia, 2012). Mereka berkumpul di Internet,
berbagi sumber daya homeschooling, mengatur diskusi online di antara orang tua.
Mereka juga menggelar kegiatan off-line untuk orang tua dan anak-anak
homeschooling. Namun, terlepas dari semua perkembangan homeschooling yang
menyenangkan ini, di China belum ada peraturan khusus untuk homeschooling,
atau organisasi resmi atau kelompok pendukung sejauh ini (Dia, 2012). Home
schooling memungkinkan pilihan pembelajaran yang inovatif. Di Alaska, para guru
di Juneau bekerja dengan siswa yang berada di seluruh negara bagian, tetap
berhubungan melalui surat, telepon, dan melalui kunjungan rumah sesekali. Di
California, anak-anak dapat mendaftar di sebuah program studi mandiri melalui
sekolah negeri kemudian mendasarkan studinya di rumah mereka sendiri.
Washington dan Iowa mewajibkan sekolah negeri untuk mendaftarkan anak-anak
secara paruh waktu jika mereka mendaftar (Lines, 1995).25

Beberapa pelajaran tentang hubungan antara perancangan pertumbuhan dan


kurikulum dapat dipelajari dari debat tahun 1930an antara John Dewey dan presiden
Universitas Chicago Robert Hutchins.13 Perselisihan mereka menyangkut manfaat
relatif dari cita-cita pendidikan progresif dan pendekatan Buku Besar sebagai
sarana untuk mempromosikan edukatif. pertumbuhan. Sementara Dewey
menekankan pembelajaran melalui pemecahan masalah secara praktis, dalam
perpaduan materi dan metode yang dinamis, Hutchins menekankan paparan dan
pembahasan setidaknya 100 teks utama di kanon Barat, dari Plato dan Aristoteles
hingga Ralph Waldo Emerson dan John Stuart Mill. Hutchins menolak apa yang
dia lihat sebagai dorongan pendidik progresif untuk mengubah akhir yang benar
dalam mendidik keseluruhan orang untuk melatih siswa untuk suatu panggilan
tertentu. Dewey, pada gilirannya, mengkritik desakan Hutchins bahwa ada "hierarki
kebenaran" dan bahwa pembelajaran yang lebih tinggi harus tetap bertentangan
dengan keprihatinan kehidupan sehari-hari [LW 11, 399). Selain debat Dewey-
Hutchins, teks Demokrasi dan Pendidikan juga mengungkapkan hubungan antara
materi pelajaran yang diajarkan dan kualitas pengalaman hidup: Materi pelajaran

25
International Education Studies; Vol. 8, No. 10; 2015 ISSN 1913-9020 E-ISSN 1913-9039 Published by
Canadian Center of Science and Education.

17
terorganisir [di sekolah] mewakili buah pengalaman yang matang seperti
pengalaman siswa mereka], pengalaman yang melibatkan dunia yang sama, dan
kekuatan dan kebutuhan yang serupa dengan kebutuhan mereka. Ini tidak mewakili
kesempurnaan atau kebijaksanaan yang tidak dapat salah, - tapi ini adalah perintah
terbaik untuk melanjutkan pengalaman baru yang setidaknya dapat melampaui
prestasi yang tercakup dalam pengetahuan dan karya seni yang ada. (MW 9, 190).
Bagi Dewey, isi kurikulum sekolah seharusnya tidak jauh dari isi pengalaman
sehari-hari. Keduanya harus terus berlanjut jika pendidik mengharapkan kemajuan
dalam pertanyaan epistemis dan estetika. Sementara keempat buku ini membahas
topik kurikulum sekolah, Penyelidikan Deweyan Johnston dan Fishman dan
Johnarth Dewey dan Filsafat dan Praktik Harapan secara khusus berkaitan dengan
bagaimana memilih materi pelajaran yang berhubungan dengan pengalaman biasa
dan memungkinkan pertumbuhan.26

G. Dampak dan Tujuan Pendidikan


Homeschooling
Secara teori, pilihan memberi lebih banyak pilihan kepada orang tua
minoritas dan / atau orang tua berpenghasilan rendah, yang dalam paradigma
penugasan sekolah tradisional lebih cenderung ditugaskan ke sekolah umum
berkualitas rendah. Dengan kata lain, pilihan sekolah meluas ke semua siswa
sebuah kesempatan istimewa yang hanya tersedia bagi mereka yang mampu tinggal
di daerah tangkapan air berpenghasilan tinggi, biasanya di pinggiran kota. Juga,
sejauh mana pilihan tersebut memaksakan lebih banyak (berbasis pasar)
akuntabilitas pada sistem sekolah umum, ada kemungkinan bahwa mereka yang
berada di sekolah dengan kinerja buruk, apakah mereka adalah "pemilih aktif" atau
tidak, dapat secara tidak proporsional mendapatkan keuntungan dari pilihan jika
ketidakefisienan adalah keluar dari sekolah umum sebagai hasilnya. Beberapa
berpendapat bahwa pilihan akan secara tidak proporsional memberi manfaat bagi
siswa minoritas karena program akademik dan praktik pendidikan di beberapa

26
Ralston, S. J. (2011). A MORE PRACTICAL PEDAGOGICAL IDEAL: SEARCHING FOR A
CRITERION OF DEWEYAN GROWTH. Educational Theory, 61(3), 351-364.

18
sekolah umum tradisional mungkin tidak sesuai untuk memenuhi kebutuhan para
siswa ini, sementara beberapa sekolah pilihan mungkin memiliki budaya, misi, atau
harapan yang Lebih kongruen dengan kebutuhan siswa ini. Sebagai contoh,
penelitian sering menunjukkan bahwa siswa minoritas di sekolah umum lebih
mungkin daripada siswa kulit putih yang salah dikategorikan ke dalam pendidikan
khusus (Patton, 1998), ditempatkan di kelas yang lebih rendah, dan bertahan di
kelas. Di sisi lain, beberapa penelitian menunjukkan bahwa sekolah Katolik
melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam memberikan inti akademis yang sama
bagi siswa dari semua kemampuan dan latar belakang ras / etnis, yang
mengendalikan status sosial ekonomi (Bryk, Lee, & Holland, 1993; Coleman &
Hoffer, 1987; Coleman et al., 1981). Yang lain menyarankan agar sekolah swasta
lebih baik melayani siswa minoritas melalui tingkat harapan yang lebih tinggi untuk
semua siswa (Hill & Celio, 1999).27
Tujuan dilaksanakannya homeschooling menurut Imas Kurniasih adalah:
a. Menjamin penyelesaian pendidikan dasar dan menengah yang bermutu bagi
untuk proses pembelajaran akademik dan kecakapan hidup.
b. Menjamin pemerataan dan kemudahan akses pendidikan bagi setiap individu
untuk proses. pembelajaran akademik dan kecakapan hidup.
c. Melayani peserta didik yang memerlukan pendidikan akademik dan
kecakapan secara fleksibel untuk meningkatkan mutu kehidupannya.28
Argumen terakhir mengapa pilihan dapat memberi manfaat bagi beberapa
siswa lebih dari yang lain adalah bahwa hal itu mungkin berdampak pada siswa
yang melampaui pengalaman akademis di sekolah mereka. Keluarga yang lebih
makmur memiliki kemampuan lebih besar daripada keluarga yang kurang makmur
untuk "memilih" sekolah mereka dengan menentukan tempat tinggalnya. Jadi,
dalam paradigma pilihan sekolah saat ini, kita mungkin mengharapkan keluarga
yang lebih makmur untuk dapat mencapai kecocokan yang lebih baik antara sekolah
anak-anak mereka dan preferensi pendidikan mereka (ini sering disebut sebagai

27
Goldhaber, D. D., & Eide, E. R. (2002). What do we know (and need to know) about the impact of school
choice reforms on disadvantaged students? Journal of Harvard Educational Review, 72(2), 157-176.
28
Imas Kurniasih, Homeschooling (Jogyakarta : Penerbit Cakrawala, 2009) h. 21

19
penyortiran "Tiebout"). Hal ini pada gilirannya dapat mempengaruhi tingkat
keterlibatan dan pengetahuan orang tua tentang sekolah anak-anak mereka,
meningkatkan modal sosial yang disebut di komunitas sekolah. Meskipun ada
sedikit bukti mengenai efek pilihan pada pembentukan modal sosial di sekolah-
sekolah minoritas, Schneider dan rekannya (Schneider, Teske, Marschall, Mintrom,
& Roch, 1997) menemukan bahwa "pemilih" di kota pinggiran kota dan pusat kota
Kabupaten lebih cenderung mempercayai guru dan terlibat dengan sekolah dengan
melibatkan kegiatan semacam Asisten Guru Orang Tua dan pekerjaan sukarela
langsung di acara sekolah. Pembentukan modal sosial mungkin memiliki implikasi
penting untuk jenis interaksi orang tua dan anak di rumah, dan juga untuk hubungan
mereka secara keseluruhan antara orang tua dan anak-anak. Misalnya, orang
mungkin membayangkan bahwa orang tua yang lebih banyak terlibat dengan
sekolah anak-anak mereka lebih mungkin untuk terlibat dengan sekolah mereka di
rumah. Schneider dkk. (1997) menemukan beberapa bukti adanya perbedaan
ukuran modal sosial oleh ras, namun tidak secara langsung menjawab pertanyaan
apakah keuntungan modal sosial pilihan berbeda menurut ras atau pendapatan, dan,
seperti yang kita jelaskan di bagian berikut, bukti Efek akademik langsung dari
berbagai bentuk pilihan beragam.29

29
Goldhaber, D. D., & Eide, E. R. (2002). What do we know (and need to know) about the impact of school
choice reforms on disadvantaged students? Journal of Harvard Educational Review, 72(2), 157-176.

20
H. Kesimpulan
Homeschooling memperkaya model pendidikan di Indonesia dan lembaga
alternatif yang keberadaannya menunjang tujuan pendidikan Nasional. Sementara
itu masyarakat Indonesia yang memiliki kekurangan atau kelebihan tertentu dan
tidak dapat digarap pada sekolah formal, sangat memerlukan solusi adanya lembaga
alternatif yang salah satunya adalah homeschooling. Maka dengan berpayung
hukum yang ada, homeschooling menjadi suatu yang penting untuk
dipertimbangkan. Dan karena keberadaannya dapat diharapkan menunjang tujuan
pendidikan nasional maka sudah sepantasnya homeschooling mendapat dukungan
dari pemerintah, khususnya Departemen Pendidikan atau Departemen Agama,
tokoh dan praktisi pada masing-masing bidang serta masyarakat Indonesia. Bagi
perintis atau pengelola harus memiliki energi, tekad dan motivasi yang tinggi,
mengingat homeschooling adalah lembaga nonformal yang masih terasa asing bagi
khalayak. Sebagai lembaga yang dihadapkan pada tantangan globalisasi, maka
dibutuhkan manajemen yang andal, kreatif dan inovatif dan yang tak kalah penting
untuk dilakukan adalah melegalisasikannya pada pejabat dan aturan yang berlaku.

I. Saran
Diharapkan dalam mengembangkan program homeschooling jangan sampai
menjadikannya sebagai bentuk pendidikan yang justru bertolak belakang dengan
hakikat pendidikan itu sendiri. Misalnya, karena alasan proteksi dari penyakit sosial
malah menjadikan si peserta didik menjadi orang yang terkucil (isolated) dari
lingkungan sosialnya dan tidak mampu mengembangkan keterampilan sosialnya.
Demikian, juga dengan alasan penanaman nilai malah menjadikan peserta didik
yang menjadi orang cenderung bertiindak fanatik dan ekstrem.

21
DAFTAR PUSTAKA
Abu Dira Syifa “Sejarah Munculnya Homeschooling” Juli 2008. diakses tanggal
18 Juni 2017 https://abudira.wordpress.com/2008/07/19/sejarah-munculnya-
homeschooling.

Alias, Norlidah,dkk. 2008. A Model of Homeschooling Based on


Technology in Malaysia. The Malaysian Online Journal of Educational
Technology Volume 1 Issue 3.
Goldhaber, D. D., & Eide, E. R. (2002). What do we know (and need to know)
about the impact of school choice reforms on disadvantaged students?
Journal of Harvard Educational Review, 72(2), 157-176.

Homeschoolingyoo“Sejarah Homeschooling,” Desember 2012. diakses tanggal 18


Juni 2017 http://homeschoolingyoo.blogspot.co.id/

Jamaludin, Khairul Azhar,dkk. 2015. Research and Trends in the Studies of


Homeschooling Practices: A Review on Selected
Journals. TOJET: The Turkish Online Journal of Educational Technology
volume 14 Issue 3.

Kunzman, Robert and Milton Gaither,dkk. 2013. Homeschooling: A


Comprehensive Survey of the Research. Other Education: The Journal of
Educational Alternatives ISSN 2049-2162 Volume 2(2013), Issue 1 · pp. 4-
59

Kurniasih, Imas. 2009. Home Schooling Kenapa Tidak?. Cakrawala: Yogyakarta.

Maarif, Syamsul, dkk. Manajemen Lembaga Pendidikan Islam. Pustaka Jaya:


Bandung.

Magdalena, Maria. 2010. Anakku Tidak Mau Sekolah Jangan Takut Cobalah

Home Schooling. PT Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.

22
Patterson, J. A., Gibson, I., Koenigs, A., Maurer, M., Ritterhouse, G., Stockton,
C., & Taylor, M. J. (2007). Resisting bureaucracy: A case study of home
schooling. Journal of Thought, 42(3), 71-86,142-143

Rachman, Arief. 2007.Home Schooling: Rumah Kelasku, Dunia Sekolahku. PT


Kompas Media Nusantara: Jakarta.

Rahman, Abdul dan Muhammad Ibrahim Bin Sulaiman. 2015. Homeschool in


Malaysia: A Foresight Study. International Education Studies; Vol. 8, No.
10; 2015 ISSN 1913-9020 E-ISSN 1913-9039.

Ralston, S. J. 2011. A MORE PRACTICAL PEDAGOGICAL IDEAL:


SEARCHING FOR A CRITERION OF DEWEYAN GROWTH.
Educational Theory, 61(3), 351-364.

Rozon, G. 2001. Journal of Education for self-determination. The American


Review of Canadian Studies, 31(1), 61-70.

Rud, A. G. 2013. Midday eating while learning: The school cafeteria,


homeschooling, and the open campus high school. Journal of Thought,
48(2), 78-88,129

Rusman. 2012. Manajemen Kurikulum. Rajawali Pers: Jakarta.

Santoso, Satmoko Budi. 2010. Sekolah Alternatif Mengapa Tidak?. Diva Press:
Yogyakarta.

Sugiarti, Diyah Yuli. 2009. Knowing Homeschooling As Alternative Education


Institutions. Journal of Education, Vol. 1, No. 2, September 2009: 13 – 22

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi.


Yayasan Kesuma Karya: Bandung.

Sumardiono.2014. Apa Itu Homeschooling?. Panda Median: Jakarta.

Wachob, David A. 2015. Starting a University-based Physical Educational


Program. Journal of Physical Education, Recreation & Dance; Mar 2015;
86, 3; Arts & Humanities Database pg. 37.

23