Anda di halaman 1dari 3

Etika (Filsafat Moral)

Posted on 7 November 2008 by Asep Sofyan

Tentang Istilah

Etika berasal dari bahasa Yunani ethos, yang berarti tempat tinggal yang biasa,
padang rumpt, kandang; kebiasaan, adat; watak; perasaan, sikap, cara berpikir.
dalam bentuk jamak ta etha artinya adat kebiasaan. Dalam arti terakhir inilah
terbentuknya istilah etika yang oleh Aristoteles dipakai untuk menunjukkan
filsafat moral. Etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu
tentang adat kebiasaan. Ada juga kata moral dari bahasa Latin yang artinya
sama dengan etika.

Secara istilah etika memunyai tiga arti: pertama, nilai-nilai dan norma-norma
moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah lakunya. Arti ini bisa disebut sistem nilai. Misalnya etika
Protestan, etika Islam, etika suku Indoan. Kedua, etika berarti kumpulan asas
atau nilai moral (kode etik). Misalnya kode etik kedokteran, kode etik peneliti, dll.
Ketiga, etika berati ilmu tentang yang baik atau buruk. Etika menjadi ilmu bila
kemungkinan-kemungkinan etis menjadi bahan refleksi bagi suau penelitian
sistematis dan metodis. Di sini sama artinya dengan filsafat moral.

Amoral berarti tidak berkaitan dengan moral, netral etis. Immoral berarti tidak
bermoral, tidak etis. Etika berbeda dengan etiket. Yang terakhir ini berasal dari
kata Inggris etiquette, yang berarti sopan santun. Perbedaan keduanya cukup
tajam, antara lain: etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan,
etika menunjukkan norma tentang perbuatan itu. Etiket hanya berlaku dalam
pergaulan, etika berlaku baik baik saat sendiri maupun dalam kaitannya dengan
lingkup sosial. etiket bersifat relatif, tergantung pada kebudayaan, etika lebih
absolut. Etiket hanya berkaitan dengan segi lahiriyah, etika menyangkut segi
batiniah.

Moralitas merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal, menjadi ciri


yang membedakan manusia dari binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran
tentang baik dan buruk, yang boleh dan yang dilarang, tentang yang harus dan
tidak pantas dilakukan. Keharusan memunyai dua macam arti: keharusan
alamiah (terjadi dengan sendirinya sesuai hukum alam) dan keharusan moral
(hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu).

Macam-macam etika

a. Etika deskriptif

Hanya melukiskan tingkah laku moral dalam arti luas, misalnya adat kebiasaan
suatu kelompok, tanpa memberikan penilaian. Etika deskriptif memelajari
moralitas yang terdapat pada kebudayaan tertentu, dalam periode tertentu. Etika
ini dijalankan oleh ilmu-ilmu sosial: antropologi, sosiologi, psikologi, dll, jadi
termasuk ilmu empiris, bukan filsafat.

b. Etika normatif

Etika yang tidak hanya melukiskan, melainkan melakukan penilaian (preskriptif:


memerintahkan). Untuk itu ia mengadakan argumentasi, alasan-alasan mengapa
sesuatu dianggap baik atau buruk. Etika normatif dibagi menjadi dua, etika
umum yang memermasalahkan tema-tema umum, dan etika khusus yang
menerapkan prinsip-prinsip etis ke dalam wilayah manusia yang khusus,
misalnya masalah kedokteran, penelitian. Etika khusus disebut juga etika
terapan.

c. Metaetika

Meta berati melampaui atau melebihi. Yang dibahas bukanlah moralitas secara
langsung, melainkan ucapan-ucapan kita di bidang moralitas. Metaetika bergerak
pada tataran bahasa, atau memelajari logika khusus dari ucapan-ucapan etis.
Metaetika dapat ditempatkan dalam wilayah filsafat analitis, dengan pelopornya
antara lain filsuf Inggris George Moore (1873-1958). Filsafat analitis
menganggap analisis bahasa sebagai bagian terpenting, bahkan satu-satunya,
tugas filsafat.

Salah satu masalah yang ramai dibicarakan dalam metaetika adalah the is/ought
question, yaitu apakah ucapan normatif dapat diturunkan dari ucapan faktual.
Kalau sesuatu merupakan kenyataan (is), apakah dari situ dapat disimpulkan
bahwa sesuatu harus atau boleh dilakukan (ought).

Dalam dunia modern terdapat terutama tiga situasi etis yang menonjol. Pertama,
pluralisme moral, yang timbul berkat globalisasi dan teknologi komunikasi.
Bagaimana seseorang dari suatu kebudayaan harus berperilaku dalam
kebudayaan lain. ini menyangkut lingkup pribadi. Kedua, masalah etis baru yang
dulu tidak terduga, terutama yang dibangkitkan oleh adanya temuan-temuan
dalam teknologi, misalnya dalam biomedis. Ketiga, adanya kepedulian etis yang
universal, misalnya dengan dideklarasikannya HAM oleh PBB pada 10
Desember 1948.

Moral dan Hukum

Hukum dijiwai oleh moralitas. Dalam kekaisaran Roma terdapat pepatah quid
leges sine moribus (apa arti undang-undang tanpa moralitas?). Moral juga
membutuhkan hukum agar tidak mengawang-awang saja dan agar berakar kuat
dalam kehidupan masyarakat.

Sedikitnya ada empat perbedaan antara moral dan hukum. Pertama, hukum
lebih dikodifikasi daripada moralitas, artinya dituliskan dan secara sistematis
disusun dalam undang-undang. Karena itu hukum memunyai kepastian lebih
besar dan lebih objektif. Sebaliknya, moral lebih subjektif dan perlu banyak
diskusi untuk menentukan etis tidaknya suatu perbuatan. Kedua, hukum
membatasi diri pada tingkah laku lahiriah, sedangkan moral menyangkut juga
aspek batiniah. Ketiga, sanksi dalam hukum dapat dipaksakan, misalnya orang
yang mencuri dipenjara. Sedangkan moral sanksinya lebih bersifat ke dalam,
misalnya hati nurani yang tidak tenang, biarpun perbuatan itu tidak diketahui oleh
orang lain. Kalau perbuatan tidak baik itu diketahui umum, sanksinya akan lebih
berat, misalnya rasa malu. Keempat, hukum dapat diputuskan atas kehendak
masyarakat dan akhirnya atas kehendak negara. Tetapi moralitas tidak dapat
diputuskan baik-buruknya oleh masyarakat. Moral menilai hukum dan bukan
sebaliknya.

[Disarikan dari K. Bertens, Etika, Jakarta: Gramedia, 2000, h. 3-45]