Anda di halaman 1dari 8

Anyar With Her Love

Ini merupakan hadiah yang terindah buatku. Disaat yang lain mengucapkan selamat dan
doa yang baik, dia mengucapkan selamat tinggal dan doa untuk kebaikanku tanpanya. Ya aku
hanya bisa mengucapkan terima kasih padanya, dan akan aku kenang dan mungkin akan ku
ceritakan nanti kelak kepada istri dan anak-anakku, itu pun jika bukan dia yang menjadi istriku.

“maaf yaa mat”

“gapapa pit, demi kebaikanmu juga kok ini hehe”

Akhirnya hening yang mulai bicara diantara kita. Hingga setengah jam hening bicara dan
akhirnya Pipit pamit untuk pulang

Kunyalakan mesin dan menuju kontrakan teman yang ada di Palm Hills, karena jika aku
pulang ke rumah yang ada hanya memikirkan hal ini saja. Jika bersama teman mungkin aku
memikirkan hal yang lain.

Aku datang disaat yang tepat. Itu yang dikatakan Udin, karena mereka sedang
membicarakan acara tahun baruan, padahal UAS dua minggu akan dilaksanakan.

“kita disana jual terompet?” tanyaku kepada mereka

“iyalaah biar beda haha” jawab Udin

Bingung dua minggu lagi mau UAS, tapi sekelompok orang-orangan ini malah
membicarakan hal-hal yang kurang berguna begini. Tapi tetap saja ini melupakan sejenak
kejadian 2 jam yang lalu, terima kasih kawan.

Aku masih belum bisa melupakan kejadian malam itu, karena baru dua minggu. Meski
ada UAS yang bisa membuatku fokus untuk berfikir, tapi tetap saja tidak bisa, karena kita masih
sering berjumpa dalam kelas/ruangan yang sama saat ujian. Kami pun masih sering sms-an, tapi
tidak seintensif dulu. Dan ketika bertemu pun kami hanya saling tegur sapa nama layaknya
teman-teman yang lain.
Setelah selesai UAS aku langsung mempersiapkan acara tahun baru, karena akibat UAS
aku ingin mengistirahatkan pikiran ini, setidaknya pikiranku terkuras kepada hal yang positif.

“waah ini dia orang terakhir yang di tunggu-tunggu”ucap Udin yang sepertinya kesal
dengan kedatanganku yang telat.

Aku melihat disekitar, yang ikut ada 12 orang termasuk aku, dan aku lihat disana ada
Pipit sedang mengobrol bersama Tatu dan Mutia.Aku duduk bersama Pipit selama perjalanan dan
rasa campur aduk kini mulai terasa, namun aku tak ingin memikirkan hal ini. Dan kami
meninggalkan kampus setelah semuanya siap

Senangnya aku ke Anyar, karena perjalanannya yang luar biasa.Pertama kita disajikan
oleh daerah yang biasa-biasa saja, seperti sebuah kampung yang banyak perumahan reot dan
pabrik-pabrik besi dan baja seperti pabrik yang tidak terurus.

Selanjutnya setelah melewati rel kereta api, kita disajikan pemandangan yang begitu
modern, sebuah pabrik-pabrik besar di kanan dan kiri dengan tata cahaya lampu yang begitu
indah, hingga tidak ada satupun dari kita yang melihat lurus ke depan, melengok ke kanan dan
kiri.Melihat pabrik-pabrik ini seakan sedang membuat sebuah pertunjukan yang begitu mewah
dan meriah karena pencahayaan yang membuatku kagum, serta arsitektur bangunan yang terlihat
elegan.Aku membayangkan bisa berhenti sebentar dan mengambil foto untuk menjadikannya
sebuah motivasi untuk lulus 4 tahun.

“keren yaa, lampu-lampunya sama bangunannya terlihat keren di sore hari”

“iiyaa keren banget”. Ya benar kata orang dulu, jodoh itu bisa terlihat dari kesamaan-
kesamaan yang dibangun atas ketidaksengajaan yang terbentuk. Aku sering terlihat sama
pemikiran dengan dia, bukan maksud modus atau hanya sekedar PDKT, ketika sebelum, dan saat
jadian memang kita jadi banyak persamaan, tapi ketika sudah tidak bersama inilah kesamaan
yang membuat aku berfikir, apakah dia jodohku?

Memang betul juga orang dulu, jodoh itu tidak harus satu persamaan, yang penting bisa
saling mengerti antar perbedaan, itu juga dibilang jodoh.Terlepas yang mana yang benar dari
kedua orang dulu tersebut, perasaan ini masih ada untuknya.
Dan yang terakhir, ini bagian yang paling aku suka, setelah melewati bangunan-bangunan
yang tinggi dan penerangan yang mengalahkan lampu jalan, kini perjalanan kita diiringi dengan
pantai sepanjang jalan Anyar ini.Meski mulai gelap, tapi kita bisa merasakan suara ombak pantai
dan kicauan pohon kelapa jelas memanggil manggil untuk langsung menuju kesana. Ditambah
lagi sunset yang memadukan warna merah dan jingga membuat semua orang yang melihat pasti
akan berhenti dan sejenak melihatnya, bahkan waktu pun ikut terhenti. Aku pun ingin berhenti
sebentar, namun kuurungi niat ini, karena takut nanti terkena macet.

Rombongan ini mengikuti motor udin yang ada di depan. Kulihat motor udin masuk-
keluar jalan kecil, kampong dan selokan. Aku engga percaya bakalan ada pantai di balik jalan-
jalan kecil ini. Dan ternyata

“brum…brum..bruuuum…bruuuuum…..”

Aku melihat sebuah pantai yang tak terlihat karena sinar bulan tidak bisa meneranginya.
Aku takjub bukan karena pantainya, tapi karena bising suara motor yang digas sampai full.

“din ini pantai apa tempat balapan”

“udah digelar aja tikernya, lagian udah jam 8, kalo mau nyari pantai yang lain udah ga
keburu, lagian bakalan sama aja kok dengan pantai yang lainnya”

Kita pun mencari tempat yang masih kosong, dan untungnya masih dapat dan tepat di
depan kita hamparan ombak yang masih bergerak secara kodratnya maju dan mundur, pergi dan
kembali, bangkit dan jatuh. Di saat malam pun ombak masih saja seperti ini dan sejenak aku
terdiam, menutup mata dan merasakan angin malam yang dipersembahkan oleh pantai kepada
bulu kuduku hingga aku merasa sangat nyaman berada dalam keadaan ini. Cukup lama aku
merasakan kenyamanan ini, hingga teman-temanku menganggap aku sedang tertidur

“mad jangan tidur aja bantuin nih” ucap Ade yang sedang membakar arang

“bukan tidur gua, gua lagi merasakan angin pantai yang sedang membuat gua melayang-
layang seakan ingin terbang”

“terbang apaan,tuh mata luh udah sayup pengen tidur”


Mereka pun semua tertawa, dan aku hanya menyaksikan tertawa mereka, tak terkecuali
pipit yang hanya memberikan senyum yang masih sama kepadaku.

“yaudah, ayuk langsung ke bisnis penjualan. Jadi masing-masing dari kita berkeliling
pantai buat menjual terompet.Harga terserah kita, tapi minimal kita jual dua ribu. Nah nanti
sekitar jam 10 udah di tempat”

“kita jualannya sendiri-sendiri din”

“engga kelompok yang bawa motor aja udah 2-2, tapi gua jaga tempat, nah si Maya nanti
ikut pipit sama amad”

“waah curang loh din engga ikut ngejual”

“laah gua kan bosnya hahaha”

Akhirnya dengan berat hati kami langsung menjajakan terompet ini.Masing-masing dari
kita mendapat 10 terompet. Aku, pipit dan maya mulai mencoba menawarkan kepada orang-
orang yang ada disini

“terompet…terompet…murah-murah dua ribu satu, lima ribu dapet tiga”ucapku dengan


iringan bunyi PREEEEETTT. Pipit dan maya hanya tertawa mendengar aku berteriak

“heeh mad kok dijual segitu”

“udah santai aja may, biar cepet abis”

Aku pun tersenyum kepada mereka berdua, dan yang hanya balas ya pasti yang punya
senyum termanis dihidupku.Dan akhirnya pembeli pertama jatuh pada sosok anak kecil yang dari
tadi menangis karena tidak dibelikan terompet oleh kedua orang tuanya.Kita senang sekali,
hingga kita bersemangat untuk menjualnya.Dan kali ini aku tidak sendiri yang berteriak, mereka
juga meneriaki barang dagangannya dan bahkan dengan kami bertiga berteriak masih belum bisa
mengalahkan teriakan motor-motor bodong itu.

Jam menunjukkan jam 10, tanda kita harus balik ke tempat tikar berada. Terompet kami
masih tersisa tiga sedangkan yang lain masih tersisa lebih dari tiga. Kita merasa bangga karena
kita yang terjualnya lebih banyak, namun kelompoknya mutia bersama aul yang lebih bangga,
karena dagangannya yang terjual habis

“yaudah ayuk bakar-bakar”

Udin yang menempati tempat ini sudah mempersiapkan ayam dan ikan yang ingin
dibakar.Tempat bakarnya pun sudah dibuat.Bumbu-bumbunya telah dipersiapkan. Tinggal asap-
asap saja yang akan kami buat disini mengalahkan asap motor butut di tengah lapang sana.

“ayo tinggal 10 menit lagi menuju 2014” ucap deden yang semakin cepat mengibaskan
kipas ke ikan yang sedang dibakar ini. Dan akhirnya selesai juga semua ayam dan ikan dibakar.

“pegang satu-satu terompetnya” ajakan pipit disambut meriah oleh kita semua. Si deden
dan syahri berhenti kipas-kipas, tatu dan maya menaruh garpu dan sendoknya dan kami pun siap
berteriak

“HAPPY NEW YEAR….SELAMAT TAHUN BARU 2014”

“PREEET….PRETT…PRETT….”

“BRUUUM….BRUM….BRUUUUMMM….”

Suara terompet dan motor saling beradu, kini kami tidak sendirian melawan geng motor
bersuara bising itu. Bersama orang-orang yang membawa terompet kami suarakan PREET dan
BRUUUM suara motor tidak juga mengalah. Hingga 5 menit berlangsung suara itu meneriaki
kuping-kuping kami hingga kami tidak memperdulikan sejenak gendang telinga yang mungkin
sudah ingin pecah.

Kita semua tertawa, kita semua bahagia dan kita semua merasakan kehangatan dalam
kombinasi yang tidak wajar.Kami semua tidak terpengaruh lagi oleh bisingnya segala macam
suara, kami focus dengan satu hal sekarang, yakni makan.Sejak berangkat kami sengaja tidak
makan hanya untuk memakan ayam bakar dan ikan bakar. Nasi 2 rice cooker habis dilahap.
Ayam tiga ekor tersisa tulang saja. Ikan mas pun hanya kami makan sebagian, karena yang
dimakan ikan lele dan kawanannya.
Hingga pukul satu kami masih ada di pantai ini, melepas sejenak ingatan tentang ujian di
kuliah. Melihat bintang-bintang yang baru terlihat sekarang, karena dari tadi kita hanya melihat
kepulan asap dari kenalpot butut punya motor-motor kusut. Kami semua merasa nyaman di
tempat yang kami kira memberikan kenyamanan.Hingga waktu pun yang membangunkan kita
untuk berpamitan dengan pantai.

“ayuk udah mau pagi, beres-beres yang cowok ambilin sampah-sampah kalau yang
perempuannya ngeberesin tikar sama makanan yang masih tersisa”

“siap kaapteen”

Kita semua terlihat bersemangat untuk membersihkan pantai ini, karena kita sudah
makan.Hanya membutuhkan waktu sebentar untuk membersihkan segala sampah yang kita telah
ciptakan.Dan sebelum pulang, ada sesi foto-foto yang tidak mungkin dilewatkan. Memang dari
awal sudah ada yang mencuri foto-foto, namun tetap saja inilah waktunya bersenang ria dengan
camera 360. Dan ketika momen ini, aku dan pipit selalu berdampingan saat difoto, walau kami
tidak pernah berfoto bersama, tapi inilah momen terbahagia pertama aku dengan dia saat kita
tidak bersama.Disaat itu aku merasa kalau aku tidak bisa terlepas olehnya, layaknya sebuah
pohon yang sudah sangat besar, dan ingin ditebang.Butuh sebuah bulldozer untuk
menumbangkannya.Tapi itu hanya sebuah harapan yang mungkin saja terkabul, mungkin juga
tidak.

Akhirnya kami pulang menuju rumah udin, kami istirahat disana hingga pukul 9 kami
baru bangun dari tidur yang cukup singkat ini.

“mamahnya udin, kita pamit dulu yaa, makasih udah mau direpotin” ucap kita semua
sambil dibarengi oleh menyalami mamahnya udin beserta neneknya. Dan kami pun pamit
pulang, sedangkan udin mengantar maya pulang hingga ke kostan.

Di sepanjang perjalanan pulang, aku dan pipit tidak pernah membiarkan hening duduk
diantara kita. Mulai dari bakar-bakar hingga foto-foto kami bicarakan kembali sebagai
pembicaraan kita di atas motor. Kami menyadari, mungkin benih-benih cinta mulai tumbuh
kembali diantara kita
“makasih ya mad, hari ini aku seneng banget masih bisa deket sama kamu, masih bisa
berduaan sama kamu dan masih bisa duduk dibelakang kamu”

“i..iyaa pit sama-sama, aku juga seneng banget untuk hari ini” dalam fikiranku semoga
untuk selamanya

Tangannya pun memelukku dengan erat, dan merebahkan badannya ke arah depan.

“pinjam punggunya sebentar boleh”

“bo..boleh kok, kalau perlu bungkus aja buat di kostan” candaku yang langsung dicubit
pinggangku olehnya.

Aku telah sampai di kostan pipit.Setelah ucapan makasih dan basa-basi lainnya akhirnya
aku pamitan dengan pipit.

Salah satu kenangan terindah tercipta diatas hubungan yang telah rapuh. Kita mencoba
membangun kembali apa yang telah kita gali ini. Kita mencoba untuk saling memahami dan
mencoba saling mengenali antara satu dengan yang lain. Hari ini aku diajari oleh sebuah pantai
bagaimana sebuah hubungan bisa terjalin kembali dengan keharmonian yang dibangun atas
dasar-dasar yang tidak saling berhubungan.Namun dengan satu hal, dasar-dasar itu bisa menjadi
harmoni, yakni sebuah kehangatan yang dihadirkan oleh rasa nyaman. Namun demikian…

‘iya dit malam ini gua seneng banget pokoknya’ sms yang aku terima dari sosok yang
sedang hangat dibicarakan dalam nurani

‘salah kirim sms ya pit’ Tanya aku

‘eh maaf yaa mat, hehe aku lagi sms’an sama dodit, sahabatku yang selalu mendengarkan
aku dan menjadi tempat buat aku curhat hehe’

HAAH….?
BIODATA

Nama Peserta : Ahmad Imanuddin

Status / Pekerjaan : Pelajar / Mahasiswa

No. HP : 083819478704

Alamat Domisili : Pegantungan Lama, Cilegon, Banten

Alamat Rumah : Jl Kp Bugis RT: 007/03 No 14, Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta