Anda di halaman 1dari 8

Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815

Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

KONDISI TERKINI PERKEMBANGAN PELAKSANAAN E-GOVERNMENT DI


INDONESIA : ANALISIS WEBSITE
Novi Prisma Yunita1, Rudi Dwi Aprianto2
Magister Teknik Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Islam Indonesia
Jl. Kaliurang Km. 14.5 Sleman Yogyakarta 555584
E-mail: 15917221@students.uii.ac.id, 15917224@students.uii.ac.id

ABSTRAKS
Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 adalah pintu gerbang perkembangan e-government di Indonesia. Evaluasi
untuk mengetahui kondisi terkini e-government menggunakan website dilakukan oleh banyak akademisi dengan
konteks berbeda di seluruh dunia. Peneliti mencoba menjawab pertanyaan “bagaimana kondisi terkini
perkembangan e-government di Indonesia?” dengan melakukan assessing ke sejumlah 543 website pemerintah
daerah, hasilnya kemudian dipetakan ke dalam model-model tahapan e-government sesuai Instruksi Presiden
No 3 Tahun 2003. Hasil assessing menunjukkan bahwa sejumlah 83 pemerintah daerah masih dalam tahap
pertama (persiapan), 341 dalam tahap kedua (pematangan), 115 dalam tahap ketiga (pemantapan), dan hanya 4
pemerintah daerah yang telah masuk ke dalam tahap keempat (pemanfaatan).
Kata Kunci:e-government, website, evaluasi, Indonesia

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan e-government
adalah manifestasi keseriusan pemerintah dalam penyelenggaraan fungsi pemerintahan dengan memanfaatkan
infrastruktur teknologi informasi (TI). Melalui Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 pemerintah
menginstruksikan kepada beberapa pejabat lembaga pemerintahan termasuk gubernur dan bupati/walikota untuk
mengambil langkah-langkah demi terlaksananya e-government secara nasional, merumuskan dan melaksanakan
rencana tindak lanjut dan berkordinasi dengan Menteri Negara Komunikasi dan Informasi, dan melaksanakan
instruksi dengan sebaik-baiknya (Instruksi Presiden, 2003). Menyusul Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003,
pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informasi mengeluarkan beberapa dokumen terkait
pelaksanaan e-government antara lain : (1) Dokumen berisi cetak biru (blueprint) sistem aplikasi e-government
bagi pemerintah daerah; (2) Panduan penyusunan rencana induk pengembangan e-government lembaga; (3)
Panduan pembangunan infrastruktur portal pemerintah; dan lain-lain.
Produk e-government yang dikembangkan oleh pemerintah daerah beragam. Keragaman ini dapat
diklasifikasikan ke dalam beberapa indikator seperti : platform, target pengguna, tujuan pembuatan, dan
indikator lainnya. Website adalah salah satu produk e-government sebagai media untuk meningkatkan minat dan
kesempatan kepada masyarakat dalam menyediakan pelayanan publik dan umpan balik dari masyarakat (Satriya,
2006). Sehingga tercapai penyelenggaraan pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan efektif. Melalui
website, pemerintah dapat memberikan sejumlah informasi yang ditujukan kepada masyarakat, bisnis, dan/atau
kepada sesama pemerintahan. Website adalah muara dari seluruh kekayaan informasi yang dimiliki oleh
pemerintah daerah yang digunakan sebagai penunjang pengembangan dan pelaksanaan e-government.
Evaluasi e-government di Indonesia dilakukan secara berkala oleh Direktorat e-Government Kemkominfo
melalui Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI). Evaluasi PeGI tingkat provinsi tidak diikuti oleh
seluruh pemerintah provinsi. Pada 2011 diikuti oleh 26 provinsi (Hernikawati, 2013), diikuti oleh 24 provinsi
pada 2012, diikuti oleh 21 provinsi pada 2013, diikuti oleh 22 provinsi pada 2014, dan 20 provinsi pada 2015
(Kemkominfo). Hasil rata-rata evaluasi juga menunjukkan pola yang fluktuatif. E-government dinilai ‘kurang’
pada 2012, ‘baik’ pada 2013, ‘kurang’ pada 2014, dan ‘baik’ pada 2015. Dari fakta ini diketahui bahwa tidak
semua pemerintah provinsi mengikuti evaluasi, ini berarti bahwa evaluasi PeGI bersifat opsional, pemerintah
daerah memiliki kewenangan untuk mengikuti atau tidak. Meskipun selalu diikuti oleh lebih dari setengah
jumlah provinsi di Indonesia, ketidakikutsertaan beberapa provinsi dalam PeGI menjadikan hasil evaluasi tidak
menunjukkan kondisi nasional seperti tujuan awal evaluasi PeGI.
Siau & Long (2005) memaparkan beberapa model tahapan perkembangan e-government yang diusulkan oleh
beberapa peneliti. Gartner (2000) mengajukan model 4 tahapan yaitu : web presence, interaction, transaction,
dan tranformation. Deloitte (2001) mengajukan model 6 tahapan yaitu : information publishing, official two way
transaction, multi-purpose portals, portal personalization, clustering of common services, dan full integration
and enterprise transaction. Berdasarkan konteks United States, Layne & Lee (2001) mengajukan model 4
tahapan perkembangan e-government yaitu : cataloguing, transaction, vertical integration, dan horizontal
integration. Model-model lain seperti yang diajukan oleh United Nation (2001), Hiller and Belanger (2001),
(Moon (2002) juga dipaparkan dalam Siau & Long (2005).

329
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

Dalam konteks Indonesia, Instruksi Presiden memaparkan 4 model tahapan pelaksanaan e-government.
Dijelaskan dalam Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2003 bahwa pengembangan e-government dilakukan melalui 4
tingkatan : (1) persiapan, (2) pematangan, (3) pemantapan, dan (4) pemanfaatan. Dijelaskan pula kondisi e-
government pada saat Instruksi Presiden dikeluarkan adalah bahwa e-government di Indonesia sebagian besar
masih dalam tahapan pertama (persiapan), hanya sebagian kecil yang sudah mencapai tingkat kedua
(pematangan), dan belum ada satu pun yang mencapai tingkat ketiga (pemantapan) dan/atau tingkat keempat
(pemanfaatan). Saat ini sudah 14 tahun sejak dirilisnya Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003. Meskipun evaluasi
e-government di Indonesia dilakukan secara resmi oleh Kemkominfo, hingga saat ini belum ada penelitian yang
memetakan perkembangan pelaksaaan e-government dengan memperhatikan 4 tahapan yang dibahas dalam
Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003.
Website digunakan sebagai sumber utama untuk evaluasi (Nurdin, 2012) yang dapat dijadikan media untuk
memahami dan menyimpulkan status terkini e-government (Panoupoulo, Tambouris, & Tarabanis, 2008; Wang,
Bretschneider, & Gant, 2005), antara lain : digunakan oleh United Nations (2008) untuk mengevaluasi
perkembangan e-government di seluruh dunia (Nurdin, 2012); oleh Nurdin (2012) untuk mengetahui kondisi
terkini adopsi e-government di Indonesia; oleh Makoza (2013) dengan tujuan yang sama di negara Malawi; dan
oleh Alfarraj, dkk (2011) dengan tujuan mengetahui kemajuan perkembangan pembangunan website di Saudi
Arabia, dan beberapa penelitian lain.
Melalui penelitian ini, peneliti mencoba menggunakan website resmi pemerintah daerah sebagai objek untuk
dianalisa, mengansumsikan bahwa website adalah representasi perkembangan e-government di daerah dan
difungsikan sebagai media informasi publik yang memuat seluruh kekayaan informasi daerah. Evaluasi
dilakukan dengan melakukan assessing terhadap seluruh website pemerintah daerah (provinsi dan kabupaten)
kemudian memetakan hasilnya ke dalam model 4 tahapan e-government sesuai paparan di Instruksi Presiden No
3 Tahun 2003, untuk menjawab pertanyaan : bagaimana kondisi terkini perkembangan e-government di
Indonesia ?

1.2 Rumusan Masalah


Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 ditujukan kepada beberapa lembaga pemerintahan termasuk gubernur
dan bupati/walikota sehingga kedudukan pemerintah provinsi (pemrov) dan pemerintah kabupaten/kota
(pemkab) dalam implementasi e-government adalah sama, baik pemprov maupun pemkab memiliki kewenangan
untuk membangun aplikasi/sistem e-government sesuai aturan yang tertera dalam Undang-undang No 32 Tahun
2004 tentang Pemerintah Daerah. Indonesia terdiri dari 34 provinsi dan 514 kabupaten, artinya diasumsikan
terdapat 548 website pemprov dan pemkab yang akan dianalisis. Analisis terhadap seluruh website pemprov dan
pemkab adalah untuk menjawab pertanyaan berikut ini :
 Bagaimana kondisi nasional penerapan e-government di Indonesia ?
 Sejauh mana perkembangan penerapan e-government di Indonesia jika dipetakan ke dalam 4 tingkatan yang
dibahas dalam Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 ?

1.3 Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi nasional penerapan e-government dan
mengetahui sejauh mana perkembangan penerapan e-government di Indonesia sesuai 4 tingkatan dalam Instruksi
Presiden No 3 Tahun 2003. Bagi pemerintah pusat, pengetahuan ini dapat menjadi pertimbangan untuk membuat
keputusan terkait e-government di masa depan. Bagi pemerintah daerah, dapat mengetahui seberapa jauh
pencapaian penerapan e-government. Sedang bagi peneliti, penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk melakukan
penelitia lanjutan yang relevan.

1.4 Tinjauan Pustaka


a. Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003
Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 membahas tentang kebijakan dan strategi nasional pengembangan e-
government di Indonesia. Dijelaskan bahwa terdapat 4 tingkatan dalam implementasi e-government yang
masing-masing tingkatannya dapat dicapai secara bertahap, tingkatan tersebut :
1. Persiapan, meliputi : pembuatan situs informasi di setiap lembaga, penyiapan SDM, penyiapan sarana akses
yang mudah, sosialisasi situs informasi internal dan publik.
2. Pematangan, meliputi : pembuatan situs informasi publik interaktif, dan pembuatan antarmuka
keterhubungan dengan lembaga lain.
3. Pemantapan, meliputi : pembuatan situs transaksi pelayanan publik, dan pembuatan interoperabilitas aplikasi
maupun data dengan lembaga lain
4. Pemanfaatan, meliputi : pembuatan aplikasi untuk pelayanan yang bersifat G2G, G2B, dan G2C yang
terintegrasi.

330
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

Dijelaskan bahwa pada saat Instruksi Presiden dirilis, sebagian besar aplikasi e-government baru pada tingkat
pertama (persiapan), sebagian kecil pada tingkatan kedua (pematangan), sedang tidak ada yang telah mencapai
ketiga (pemantapan) dan keempat (pemanfaatan) (Instruksi Presiden No 3, 2003).
Menyusul Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003, pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan Informatika
mengeluarkan beberapa lampiran, salah satunya adalah lampiran berisi cetak biru (blueprint) sistem aplikasi e-
government bagi pemerintah lokal (provinsi, kabupaten/kota), cetak biru ini digunakan sebagai pedoman baku
dan standarisasi implementasi sistem aplikasi e-government (Depkominfo, 2003). Adapun kaitannya dengan
pengadaan website, standarisasi penamaan website diatur dalam Permen Kominfo No 28 Tahun 2006, yang
kemudian dicabut dan disempurnakan dalam Permen Kominfo No 5 Tahun 2015.

b. Kondisi e-government di Indonesia


Sejak dirilisnya Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003, ada peningkatan signifikan terhadap keberadaan
domain pemerintah. Domain go.id pertama kali didaftarkan pada 2001, pada Juli 2003 sudah ada sejumlah 247
domain go.id (Fathul, 2004), jumlahnya terus meningkat hingga per Oktober 2017 tercatat 3.882 jumlah domain
go.id (www.pandi.id//statistik).
Sejalan dengan kondisi e-government yang dijelaskan dalam Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003, (Fathul,
2004) memaparkan bahwa e-government di Indonesia masih di level emerging dan enhance presence, hanya
sebagian kecil yang sudah mengimplementasikan interactive stage. Level emerging adalah level terendah dalam
adopsi e-government di mana pemerintah telah memiliki website tetapi informasi yang disediakan terbatas dan
statis, enhanced berarti bahwa konten dan informasi yang disediakan dalam website selalu diperbarui secara
berkala, sedangkan interactive stage berarti bahwa website sudah menyediakan fitur pengunduhan formulir,
kontak resmi, dan memungkinkan user untuk melakukan interaksi dengan pemerintah melalui website.
Dikatakan pula bahwa sebagian besar inisiatif e-government masih di tahap web present meskipun ada beberapa
yang telah mencapai tahapan transaction (Fathul, 2004; Rozy da Zoeltom, 2004a). Mengacu pada penelitian
terbaru, Nurdin (2012) yang melakukan evaluasi website untuk mengetahui kondisi terkini perkembangan e-
government di Indonesia menggunakan model 5 tahapan dari United Nations (2008) mengemukakan bahwa
sejumlah 55% pemerintah daerah masih berada dalam tahap pertama yaitu emerging stage, 28% sudah mencapai
enhanced stage, dan 17% sudah di tahap interactive stage, dan hanya satu pemerintah daerah yang mencapai
transaction stage.

c. Goverment Function Framework


Menyusul keluarnya Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003, pemerintah melalui Departemen Komunikasi dan
Informasi mengeluarkan lampiran berisi cetak biru (blueprint) sistem aplikasi e-government bagi pemerintah
daerah (provinsi, kabupaten/kota). Cetak biru dibuat sebagai acuan agar tercipta perencanaan pengembangan
aplikasi yang bersifat mandatory secara seragam, dapat menjadi standarisasi fungsi sistem aplikasi e-
government, dan sebagai landasan berpikir bagi pengembang sistem aplikasi yang bersifat komprehensif, efisien,
dan efektif (Depkominfo, 2003). Cetak biru didesain dengan prinsip fleksibilitas dan standarisasi, prinsip ini
menjadikan cetak biru tidak tergantung pada struktur organisasi di lingkungan pemerintah daerah, tidak rentan
terhadap perubahan kebijakan, dan secara bersamaan memberikan kebebasan terhadap pemerintah daerah dalam
mengadaptasi dan menerjemahkan cetak biru.
Beberapa contoh fungsi kepemerintahan yang penyelenggaraannya dapat dibantu sistem eletronik adalah
pelayanan masyarakat, kepegawaian, keuangan daerah, dan pengelolaan aset. Adapun, kewenangan pemerintah
provinsi dan kabupaten/kota kaitannya dengan pelayanan adalah mengelola pelayanan bidang ketenagakerjaan,
pertahanan, kependudukan dan catatan sipil, administrasi umum pemerintahan, dan pelayanan administrasi
penanaman modal. Orientasi pelayanan ini terbagi menjadi 3 yaitu internal pemerintahan, masyarakat, dan bisnis
(Depkominfo, 2003).
Government Function Framework adalah kerangka yang menggambarkan pengelompokan fungsi
pemerintahan berdasarkan blok-blok fungsi dasar umum. Dalam framework ini, terdapat 6 blok fungsi dasar
umum : pelayanan, administrasi dan manajemen, legislasi, pembangunan, keuangan, dan kepegawaian. Blok
fungsi dasar pelayanan terdiri dari fungsi kependudukan, perpajakan dan retribusi, pendaftaran dan perijinan,
bisnis dan investasi, pengaduan masyarakat, dan publikasi info umum dan kepemerintahan; blok fungsi dasar
administrasi dan manajemen terdiri dari fungsi surat elektronik, sistem dokumen elektronik, sistem pendukung
keputusan, kolaborasi dan koordinasi, dan manajemen pelaporan pemerintahan; selengkapnya tertuang sesuai
Gambar 1.

331
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

Gambar 1. Kerangka Fungsional Sistem Kepemerintahan

Selain enam blok fungsi di atas, ada beberapa blok fungsi lain yang tergabung dalam kedinasan dan
kelembagaan yaitu : kepemerintahan, kewilayahan, kemasyarakatan, dan sarana & prasana. Blok ini tidak akan
dijelaskan lebih dalam.

1.5 Metodologi Penelitian


Dalam penelitian ini, pengumpulan data dilakukan dengan dokumentasi dan kepustakaan. Dokumentasi
dilakukan dengan melakukan penyimpanan data alamat website resmi pemerintah provinsi dan kabupaten/kota.
Sedangkan kepustakaan dilakukan dengan mengunjungi situs-situs website di internet guna menyempurnakan
data hasil dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan sejak minggu keempat bulan November 2017 sampai
minggu pertama bulan Desember 2017. Sedangkan assessing dilakukan selama minggu kedua bulan Desember
2017 sampai minggu kedua Januari 2018, dan terus dilakukan pengecekan untuk mendapatkan informasi terkini.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di seluruh Indonesia,
yaitu sejumlah 548 yang terdiri dari 34 pemerintah provinsi dan 514 pemerintah kabupaten. Untuk mengetahui
kondisi terkini perkembangan e-government di Indonesia, peneliti berpendapat bahwa seluruh populasi harus
diikutsertakan agar hasil evaluasi lebih akurat.
Assessing dilakukan dengan melakukan analisis konten terhadap seluruh populasi, mengklasifikasikan hasil
assessing ke dalam model 4 tahapan e-government sesuai Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 dengan
representasi indikator sebagai berikut : pemerintah terkait masuk ke klasifikasi tahap pertama (persiapan) jika
memiliki website; diklasifikasikan ke tahap kedua (pematangan) jika website menyediakan link ke situs-situs
lembaga/aplikasi lain yang terkait dan memiliki sedikitnya satu media interaksi publik, secara vertikal dengan
menyediakan email, nomor telepon, formulir masukan, dan atau polling, dan secara horizontal dengan
menyediakan forum diskusi, chat, dan atau sms; diklasifikasikan ke tahap ketiga (pemantapan) jika website
memiliki sedikitnya satu aplikasi layanan publik elektronik yaitu yang berkaitan dengan kependudukan,
perpajakan dan retribusi, pendaftaran dan perijinan, bisnis dan investasi, dan pengaduan masyarakat; dan terakhir
diklasifikasikan ke tahap keempat (pemanfaatan) jika website memiliki langkah konkrit penerapan integrasi
dalam setiap layanan, dalam hal ini ditandai dengan adanya Government Resource Management System (GRMS)
dan atau sistem aplikasi satu pintu/satu atap. Di tahapan ketiga, peneliti hanya menggunakan blok fungsi
pelayanan. Kerangka fungsional sistem keperintahan yang digunakan adalah blok fungsi pelayanan, blok fungsi
ini digunakan untuk memudahkan indikator pemetaan di tahapan ketiga. Artinya, aplikasi pemerintahan selain
dari kategori blok fungsi pelayanan tidak dipertimbangkan dalam assessing.
Langkah-langkah evaluasi dilakukan sebagai berikut : (1) data alamat website dikumpulkan melalui
dokumentasi dan kepustakaan; (2) peneliti mengevaluasi status website (dapat diakses atau tidak); (3) peneliti
melakukan kunjungan ke website untuk menemukan seluruh indikator yang ada dan mencatat hasilnya ke dalam
tabel; (4) peneliti mengklasifikasikan hasil kunjungan ke dalam model 4 tahapan. Di samping itu, dilakukan
pengecekan ulang terhadap website-website yang saat kunjungan tidak dapat diakses dengan berbagai alasan,
tujuannya adalah agar hasil evaluasi lebih lengkap dan maksimal.

332
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

2. PEMBAHASAN
Dari sejumlah 548 pemerintah provinsi dan kabupaten/kota yang tercatat, 543 tercatat memiliki website
resmi. Sejumlah 483 website dapat diakses, 60 sisanya tidak dapat diakses sebab berbagai alasan. Artinya sekitar
88% website pemerintah provinsi dan kabupaten/kota sudah memiliki website yang dapat diakses pada saat
assessing. Selengkapnya di tabel berikut ini :

Tabel 1. Persebaran jumlah dan status website pemerintah provinsi dan kabupaten
Status Jumlah Website Prosentase
Dapat diakses 483 88%
Tidak dapat diakses 60 11%
Tidak memiliki website 5 1%
Total 548 100%

Persentase website yang dapat diakses sebesar 88% meningkat jika dibandingkan Fathul (2003) yang
menemukan bahwa 87% atau 304 website dapat diakses dari total 350 website. Jumlah ini juga meningkat jika
jika dibandingkan Nurdin (2012) yang menyebutkan bahwa 83% atau 353 website dapat diakses dari total 424
website. Perbandingan selengkapnya dirangkum dalam tabel 2 di bawah ini.

Tabel 2. Perbandingan status website


Fathul (2003) Nurdin (2012) 2018
Status
Jumlah Website % Jumlah Website % Jumlah Website %
Dapat diakses 305 87% 353 83% 483 88%
Tidak dapat diakses 45 13% 71 17% 60 11%
Tidak memiliki website 88 20% 62 13% 5 1%
Total website 350 100% 424 100% 543 100%
Total 438 489 548

Hasil klasifikasi 543 website ke dalam model 4 tahapan e-government menunjukkan bahwa 83 pemerintah
daerah masih dalam tahap pertama (persiapan), 341 dalam tahap kedua (pematangan), 115 dalam tahap ketiga
(pemantapan), dan hanya 4 pemerintah daerah yang telah masuk ke dalam tahap keempat (pemanfaatan). Hasil
klasifikasi berupa tabel panjang terdiri dari masing-masing website di tingkat pemerintah provinsi, dipaparkan
dalam tabel 3.
Berdasarkan hasil assessing pada tabel 3, berikut ini pembahasan untuk masing-masing tahapan :
Persiapan
Tahapan persiapan dikategorikan untuk pemerintah daerah yang setidaknya memiliki website, ini
ditunjukkan dengan adanya alamat website serta tidak mempertimbangkan apakah website tersebut dapat diakses
atau tidak. Sejumlah 83 atau 15% pemerintah daerah di Indonesia masih berada pada tahapan ini. Dari total 83
tersebut, sebanyak 60 website tidak dapat diakses antara lain disebabkan oleh alasan berikut : sedang
dikonstruksi, hacked, gagal koneksi ke basisdata, suspended karena masa sewa domain habis, server error, dan
lain-lain. Adapun 13 sisanya dapat diakses tetapi tidak menyediakan media interaksi untuk berkomunikasi
dengan masyarakat.

Pematangan
Tahapan pematangan dikategorikan untuk website yang menyediakan setidaknya satu media interaksi
pemerintah dengan pengunjung situs serta menyediakan link ke lembaga-lembaga lain. Bentuk media interaksi
antara lain : email, nomor telepon, formulir masukan, polling, forum diskusi, sms, dan atau chat. Hasil assessing
menunjukkan sejumlah 341 website berada di tahapan ini, jumlah ini adalah yang dominan di antara semua
tahapan yang ada, yaitu sekitar 63% dari jumlah populasi. Berdasarkan hasil assessing, ditemukan keragaman
penyediaan media interaksi di website pemerintah daerah. Sebagian menyediakan hampir seluruh media
interaksi, sebagian yang lain hanya menyediakan beberapa saja. Media interaksi email dan nomor telepon adalah
yang paling banyak disediakan, sedangkan forum diskusi dan chat adalah media yang paling jarang ada di
website pemerintah daerah. Seluruh website sudah menyediakan link ke sejumlah lembaga-lembaga lain
termasuk lembaga di bawah pemerintah daerah terkait atau pun link ke lembaga di pemerintahan pusat.
Meskipun sejumlah website pemerintah daerah telah masuk pada tahapan ini, permasalahan klise berkaitan
dengan teknis masih ditemukan di sejumlah website pemerintah daerah. Permasalahan tersebut antara lain :
munculnya kode-kode pemrograman di beberapa halaman di website, forum chat tidak dapat digunakan karena
error, halaman-halaman di website pemerintah daerah masih dalam bentuk template artinya website pemerintah
daerah sudah di hosting tanpa memperhatikan kesiapan website yang dibangun tersebut. Peneliti berpendapat
bahwa masalah-masalah demikian dapat mengurangi kesan kompetensi dan kesiapan pemerintah daerah serta
mempertanyakan prosedur pemilihan developer dalam pembangunan website.

333
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

Pemantapan
Tahapan pemantapan dikategorikan untuk website yang menyediakan setidaknya satu layanan elektronik
berupa website atau aplikasi untuk layanan publik. Website atau aplikasi tidak diharuskan terintegrasi satu
dengan yang lain, cukup dengan memungkinkan masyarakat sebagai pengguna untuk menyelesaikan urusan
pemerintahan dengan cepat dan efektif. Website atau aplikasi yang dimaksud dapat berupa formulir pendaftaran
ijin online, yang dapat memperpendek prosedur ijin. Website atau aplikasi yang bersifat mandatory (perintah
dari atasan) seperti e-procurement online (LPSE), JDIH, PPID, SAKIP, transaksi anggaran, dan beberapa
aplikasi serupa lain tidak dimasukkan dalam kategori ini, tetapi hanya dimasukan dalam daftar aplikasi
mandatory serta tidak mempertimbangan aplikasi tersebut untuk pengklasifikasian tahapan. Jumlah website yang
masuk dalam kategori pemantapan adalah 115 website atau 21% dari jumlah populasi. Yang menarik adalah
bahwa aplikasi pengaduan masyarakat (salah satu indikator tahapan pemantapan) sudah disediakan oleh sebagian
besar website yang masuk dalam tahapan ini. Untuk membedakan aplikasi pengaduan msyarakat dengan media
interaksi di tahapan pematangan, peneliti hanya mengkategorikan aplikasi pengaduan yang bersifat dua arah dan
menampilkan draft seluruh pengaduan di website, dua arah artinya ada hubungan responsif antara pemerintah
dan pengadu. Ini ditandai dengan adanya respon terhadap pengaduan yang dikirimkan oleh masyarakat misalnya
dengan menjawab aduan dan atau memberikan perkembangan terhadap respon aduan tersebut.

Pemanfaatan
Kategori paling tinggi dalam model 4 tahapan adalah pemanfaatan. Website dikategorikan ke tahapan ini jika
memiliki aplikasi yang menekankan pada integrasi layanan G2G, G2B, dan G2C. Peneliti menerjemahkan
indikator tersebut dengan mensyaratkan website telah memiliki inisiatif terkait integrasi misalnya dengan
menyediakan layanan terpadu untuk G2G dan G2B melalui sistem terintegrasi Government Rosurce
Management System (GRMS) dan atau menyediakan layanan satu pintu di mana untuk G2C di mana masyarakat
cukup berkunjung ke satu halaman untuk mendapatkan seluruh layanan publik.
Hasil assessing menunjukkan bahwa empat pemerintah daerah sudah sampai pada tahapan ini, terdiri dari 1
pemerintah provinsi dan 3 pemerintah kabupaten/kota. Pemerintah daerah tersebut adalah Provinsi Jawa Tengah,
Kabupaten Karanganyar, Kabupaten Gresik, dan Kota Surabaya. Empat pemerintah daerah tersebut seluruhnya
telah menyediakan GRMS, dan dua pemerintah daerah yaitu Surabaya dan Gresik telah menyediakan pula
layanan satu pintu Surabaya Single Window dan Gresik Single Window. Berdasarkan analisa dari desain website,
peneliti berpendapat bahwa aplikasi terintegrasi ini dikerjakan oleh developer yang sama dan penerapannya di
pemerintah daerah lain karena adanya studi banding atau alasan lain.
Hal yang perlu digaris bawahi dalam penelitian ini adalah bahwa peneliti menggunakan perspektif masyarakat,
artinya peneliti memiliki keterbatasan akses di luar website sehingga peneliti hanya mengukur indikator yang
dapat ditemukan di website. Indikator bersifat internal dalam tiap-tiap tahapan, misalnya penyiapan SDM di
tahap persiapan; tidak dianalisa oleh peneliti.

Tabel 3. Tabel kalsifikasi status terkini perkembangan e-government di Indonesia berdasarkan provinsi
Tahapan
Jumlah
No Provinsi
Pemerintah Persiapan Pematangan Pemantapan Pemanfaatan
Daerah
1 Aceh 24 23 1
2 Bali 10 1 3 6
3 Banten 9 1 5 3
4 Bengkulu 11 3 7 1
5 DI Yogyakarta 6 4 2
6 DKI Jakarta 7 1 5 1
7 Gorontalo 7 4 3
8 Jambi 12 2 8 2
9 Jawa Barat 28 2 17 9
10 Jawa Tengah 36 2 15 17 2
11 Jawa Timur 39 6 16 15 2
12 Kalimantan Barat 15 5 10
13 Kalimantan Selatan 14 4 7 3
14 Kalimantan Tengah 15 2 10 3
15 Kalimantan Timur 11 2 4 5
16 Kalimantan Utara 6 1 4 1
17 Kep. Bangka Belitung 8 3 4 1
18 Kepulauan Riau 8 1 5 2
19 Lampung 16 2 11 3
20 Maluku 12 2 10
21 Maluku Utara 11 4 4 1
22 Nusa Tenggara Barat 11 3 6 2
23 Nusa Tenggara Timur 23 6 14 3

334
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

Lanjutan Tabel 3. Tabel kalsifikasi status terkini perkembangan e-government di Indonesia berdasarkan
provinsi
Tahapan
Jumlah
No Provinsi
Pemerintah Persiapan Pematangan Pemantapan Pemanfaatan
Daerah
24 Papua 30 4 22 4
25 Papua Barat 14 3 11
26 Riau 13 1 5 7
27 Sulawesi Barat 7 1 6
28 Sulawesi Selatan 25 2 20 3
29 Sulawesi Tengah 14 3 10 1
30 Sulawesi Tenggara 18 1 15 1
31 Sulawesi Utara 16 4 10 2
32 Sumatera Barat 20 3 10 7
33 Sumatera Selatan 18 2 14 2
34 Sumatera Utara 34 2 23 7
548 83 341 115 4

Inisiatif dan keterlibatan pemerintah daerah dalam pelaksanaan e-government di Indonesia tentu perlu
diapresiasi. Tetapi menyadari fakta bahwa mandat pengembangan e-government sudah ada sejak 14 tahun yang
lalu, maka pergerakan e-government dari satu tahapan ke tahapan lain dapat dinilai sangat lambat. Kelambatan
ini tentu dilatarbelakangi oleh berbagai alasan kontekstual : infrastruktur, biaya, peran pemerintah, keterlibatan
pihak-pihak terkait, dan lain-lain, harus dipertanyakan.
Pemerintah pusat yang memiliki kewenangan sebaiknya mengambil tindakan atau langkah konkrit sebagai
respon dari fakta lambatnya perkembangan e-government di Indonesia, seperti mengevaluasi ulang kebijakan-
kebijakan sehingga bisa diterapkan secara serempak oleh pemerintah daerah, memberikan penekanan pentingnya
implementasi e-government di daerah, memikirkan solusi ketidakmerataan infrastruktur, dan atau mengevaluasi
dimensi-dimensi yang digunakan dalam evaluasi Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI), dan lain-lain.

3. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil assessing website yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sudah ada pemerintah
daerah yang mencapai masing-masing tahapan sesuai Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003. Tahapan kedua
(pematangan) adalah tahapan yang paling banyak dicapai yaitu sejumlah 341 website pemerintah daerah.
Tahapan keempat (pemanfaatan) adalah tahapan dengan populasi paling sedikit yaitu hanya 4 website
pemerintah daerah.
Dengan mempertimbangkan bahwa Instruksi Presiden No 3 Tahun 2003 yang notabenenya adalah cikal bakal
pengembangan e-government di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa Indonesia tergolong lambat dalam
perkembangan e-government. Dengan begitu, ada ruang bagi akademisi dan pemerintah untuk mempelajari
faktor-faktor lambatnya perkembangan e-government di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan website sebagai sumber utama dan mengasumsikan bahwa seluruh kekayaan
informasi daerah telah disampaikan selengkapnya di website. Asumsi ini menjadikan peneliti memiliki
keterbatasan dalam mengeksekusi indikator, indikator yang bersifat internal dan teknis tidak dapat dilakukan.
Sehingga, hasil penelitian ini dapat dipertimbangkan hanya sebagai pengetahuan sekunder yang mendukung
fakta-fakta yang sudah ada terlebih dahulu kaitannya dalam pengambilan keputusan oleh pihak-pihak
berwenang.

PUSTAKA
Alfarraj, O., Drew, S., & AlGhamdi, RA. 2011. E-government Stage Model : Evaluating the Rate of Web
Develompment Progress of Government Websites in Saudi Arabia. International Journal of Advanced
Computer Science and Aplications, Vol 2, No 9.
Depkominfo. Cetak Biru (Blueprint) Sistem Aplikasi e-government bagi Lembaga Pemerintah Daerah. 2003
Hernikawati, Dewi. (2013). Kajian Implementasi e-government Tingkat Provinsi di Indonesia. Tugas Akhir :
Fasilkom Hernikawati, Dewi. (2013). Kajian Implementasi e-government Tingkat Provinsi di Indonesia.
Tugas Akhir : Fasilkom
Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan e-
government. 2003
Kemkominfo. Panduan Pengambungan Infrastruktur Portal Pemerintah. 2003
Layne, K., & Lee, J. 2001. Developing Fully Functional e-government : A Four Stage Model. Government
Information Quarterly, 18 (2), 122-136.
Makoza, Frank. 2013. The level of e-government Implementation : Case of Malawi. Electronic Journal of e-
government, Volume 11, Issue 2, (pp268-279)

335
Seminar Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi 2018 (SENTIKA 2018) ISSN: 2089-9815
Yogyakarta, 23-24 Maret 2018

Nurdin. 2012. Benchmarking Indonesian Local e-Government. PACIS Conference in Ho Chi Minh Vietnam,
paper 61
Panoupoulo, E., Tambouris, E., & Tarabanis, K. (2008). A Framework For Evaluating Web Sites of Public
Authorities. Aslib Proceedings: New Information Perspectives, 60(5), 517-546.
Satriya, E. 2006. Pentingnya Revitalisasi e-Government. Konferensi Nasional Teknologi Informasi &
Komunikasi untuk Indonesia, 38–43.
Siau, K., & Long, Y. 2005. Synthesizing e-Government stage models – a meta-synthesis based on meta-
ethnography approach. Industrial Management & Data Systems, 105 (4), 443-458
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tentang Pemerintah Daerah. 2004
Wahid, Fathul. 2004. Lesson from e-Government Initiatives in Indonesia. Media Informatika : Vol. 2, No. 2,
December 2004, 13-21.
Wahid, Fathul. 2008. Evaluating Focus and Quality of Indonesian e-Government Websites. Seminar Nasional
Teknologi Informasi (SNATI), H : 39-43.
Wang, L., Bretschneider, S., & Gant, J. (2005). Evaluating Web-based e-Government Services with a Citizens-
Centric Approach. Proceedings of 38th Hawaii International Conference on System Science, 1-10.

336