Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Keselamatan Pasien dan Adverse Event


Keselamatan pasien menurut KKP-RS adalah suatu sistem yang disebabkan oleh
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan yang
seharusnya diambil (Yahya,2006). Keselamatan pasien menurut Sunaryo (2009) adalah
ada tidak adanya kesalahan atau bebas dari cedera karena kecelakaan.Keselamatan pasien
perlu dikembangkan menjadi suatu budaya kerja dalam rumah sakit bukan hanya suatu
ketentuan atau aturan. Nursalam berpendapat bahwa keselamatan pasien (patient safety)
merupakan suatu variabel untuk mengukur dan mengevaluasi kualitas pelayanan
keperawatan yang berdampak terhadap pelayanan kesehatan (Triwibowo, 2013).
Adverse Event atau KTD adalah suatu peristiwa yang menyebabkan, atau memiliki
potensi yang dapat menyebabkan, atau menyebabkan hal yang terduga atau tidak
diinginkan sehingga membahayakan keselamatan pengguna alat kesehatan (termasuk
pasien) atau orang lain (Reporting Adverse Incidents and Disseminating Medical Device
Alerts, MHRA). Sedangkan London Health Science Health berpendapat adverse event
adalah kejadian tak terduga atau tidak diinginkan sebagai akibat negatif dari manajemen
di bidang kesehatan, tidak terkait dengan perkembangan alamiah penyakit atau
komplikasi penyakit yang mungkin terjadi. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia No 11 Tahun 2017 Tentang Keselamatan Pasien Pasal 14 Ayat 5,
KTD merupakan insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien.

2.2 Tujuan Keselamatan Pasien


Tujuan keselamatan pasien di rumah sakit adalah (Depkes RI, 2008) :
1. Terciptanya budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
2. Meningkatnya akuntabilitas rumah sakit terhadap pasien dan masyarakat.
3. Menurunnya KTD di rumah sakit.
4. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi penggulangan
KTD

2.3 Identifikasi Pasien


Menurut Suharsono dalam Fendhi (2012) identifikasi adalah proses pengenalan,
menempatkan obyek atau individu dalam suatu kelas sesuai dengan karakteristik
tertentu. Poerwadarminta (2007) berpendapat bahwa identifikasi adalah penentuan atau
penetapan identitas seseorang atau benda. Identifikasi merupakan penerapan atau

3
penentu ciri-ciri atau keterangan lengkap seseorang (Hamzah, 2008). Menurut
Sudarsono (1999) identifikasi memiliki tiga arti, yaitu : bukti diri 1). penentuan atau
penerapan seseorang, benda, dan sebagainya, 2). Proses secara kejiwaan yang terjadi
pada seseorang karena secara tidak sadar membayangkan dirinya seperti orang lain
yang dikaguminya, 3). Penentu seseorang berdasarkan bukti-bukti sebagai petunjuknya.
Menurut Hardawinati (2003) identifikasi adalah 1).Tanda kenal diri, 2).Penentu
atau penetapan identitas seseorang, 3).Pengenalan tanda-tanda atau karakteristik suatu
hal berdasarkan pada tanda pengenal. Proses identifikasi terjadi apabila individu meniru
perilaku seseorang atau sikap kelompok lain dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan
apa yang dianggapnya sebagai bentuk hubungan yang menyenangkan antara dia dengan
pihak lain termaksud. Azwar (2005) menjelaskan pada dasarnya proses identifikasi
merupakan sarana atau cara untuk memelihara hubungan yang diinginkan dengan orang
atau kelompok lain dan cara untuk menopang pengertiannya sendiri mengenai
hubungan tersebut.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa
identifikasi adalah penempatan atau penentu identitas seseorang atau benda pada suatu
saat tertentu.Salah satu alat yang digunakan di rumah sakit terkait identifikasi berupa
gelang identitas.Identifikasi pasien adalah suatu proses pemberian tanda atau pembeda
yang mencakup nomor rekam medis dan identitas pasien dengan tujuan agar dapat
membedakan antara pasien satu dengan pasien yang lainnya guna ketepatan pemberian
pelayanan, pengobatan dan tindakan atau prosedur kepada pasien.Gelang identitas
adalah suatu alat berupa gelang identifikasi yang dipasangkan kepada pasien secara
individual yang digunakan sebagai identitas pasien selama dirawat di rumah sakit.Ada
beberapa tindakan/ prosedur yang membutuhkan identifikasi pasien, yaitu pemberian
obat-obatan, prosedur pemeriksaan radiologi, intervensi pembedahan dan prosedur
invasif lainnya, tranfusi darah, pengambilan sampel, transfer pasien, dan konfirmasi
kematian (Anggraini, 2014). Macam-macam gelang identifikasi menurut Angraini, 2014
adalah: Gelang identifikasi ini dibedakan dalam beberapa warna dengan tujuan yang
berbeda-beda, yaitu :
1) Gelang warna merah muda/ pink : pasien dengan jenis kelamin perempuan.
2) Gelang warna biru : pasien dengan jenis kelamin laki-laki.
3) Gelang warna merah : semua pasien yang memiliki alergi obat tertentu.
4) Gelang warna kuning : semua pasien dengan risiko jatuh.

4
Ada 3 hal yang wajib ada pada gelang pengenal pasien (biru dan pink) untuk
mengidentifikasi pasien, yaitu: nama lengkap pasien, tanggal lahir, dan nomor rekam
medis. Sedangkan untuk gelang alergi (merah) ada 4 hal yang wajib dicantumkan, yaitu :
nama lengkap, umur, nomor rekam medis, dan jenis alergi pasien (Anggraini, 2014).
Keadaan yang dapat mengarahkan terjadinya error/kesalahan dalam mengidentifikasi
pasien:

1. Pasien yang dalam keadaan terbius / tersedasi mengalami disorientasi, atau tidak
sadar sepenuhnya
2. Pasien yang mungkin bertukar tempat tidur, kamar, lokasi di dalam fasilitas
pelayanan kesehatan
3. Pasien yang mungkin mengalami disabilitas sensori.

2.4 Komunikasi Efektif


Komunikasi sangatlah penting dalam setiap melaksanakan tugas dalam hal ini adalah
melaksanakan asuhan keperawatan pada pasien. Komunikasi yang baik dan benar perlu
dilakukan untuk mengkoordinasikan asuhan keperawatan yang melibatkan banyak
profesi selain profesi perawat. Komuniasi dalam praktek keperawatan merupakan elemen
penting bagi perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan untuk mendapatkan hasil
yang optimal. Perawat memiliki peran yang paling dominan dalam mencegah terjadinya
kesalahan dalam pengobatan, termasuk pelaporan insiden, mendidik diri sendiri dan
perawat lain tentang penting komunikasi, memberikan rekomendasi untuk perubahan
prosedur dan kebijakan serta keterlibatan dalam melakukan identifikasi permasalahan.
Kesalahan medis jarang disebabkan oleh faktor kesalahan manusia secara individual,
tetapi lebih karena kesalahan pada sistem komunikasi yang menyebabkan terputusnya
rantai dalam sistem tersebut. Hal ini menunjukkan pentingnya menjalin komunikasi
dengan baik agar informasi yang disampaikan tidak terputus dan mengakibatkan kerugian
pada pasien. Sistem dan interaksi manusia mengacu pada sistem dimana dua sistem
berinteraksi atau berkomunikasi dalam ruang lingkup sistem tersebut. Informasi tentang
keselamatan passions perlu diketahui oleh semua perawat yang memberikan asuhan
keperwatan hal tersebut berfungsi untuk mencegah perawat melakukan tindakan yang
dapat menyebabkan cidera pada pasien. Komunikasi adalah kunci sukses berinteraksi
dalam kehidupan berorganisasi. Ketika komuniksai efektif, arus informasi dalam
organisasi yang dinamis akan berjalan lancar sehingga mempercepat proses tercapainya

5
tujuan organisasi. Komunikasi yang mudah terjadi kesalahan yang lain adalah pelaporan
kembali hasil pemeriksaan kritis, seperti melaporkan hasil laboratorium klinik cito
melalui telepon ke unit pelayanan. Kegiatan yang dilaksanakan dalam komunikasi
efektif:
1. Pasien diidentifikasi menggunakan dua identitas pasien, tidak boleh menggunakan
nomor kamar atau lokasi pasien.

2. Pasien diidentifikasi sebelum pemberian obat, darah, atau produk darah.

3. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan
klinis Pasien diidentifikasi sebelum pemberian pengobatan dan tindakan / prosedur.

4. Kebijakan dan prosedur mengarahkan pelaksanaan identifikasi yang konsisten pada


semua situasi dan lokasi.

2.5 Kesalahan Yang Sering Terjadi Dalam Identifikasi Pasien


Kesalahan karena keliru dalam mengidentifikasi pasien dapat terjadi di hampir semua
aspek diagnosis dan pengobatan.Kesalahan identifikasi pasien bisa terjadi pada pasien
yang dalam keadaan terbius, mengalami disorientasi, tidak sadar, bertukar tempat
tidur/kamar/lokasi di rumah sakit, dan adanya kelainan sensori. Sasaran ini dimaksudkan
untuk melakukan dua kali pengecekan yaitu: pertama untuk identifikasi pasien sebagai
individu yang akan menerima pelayanan atau pengobatan dan kedua untuk kesesuaian
pelayanan atau pengobatan terhadap individu tersebut.

2.6 Prosedur Identifikasi Pasien


Prosedur yang dapat dilakukan untuk identifikasi pasien :

1. Menuliskan (atau memasukkan ke komputer) perintah secara lengkap atau hasil


pemeriksaan oleh penerima informasi;
2. Penerima membacakan kembali (read back) perintah atau hasil pemeriksaan;
3. Mengkonfirmasi bahwa apa yang sudah dituliskan dan dibacakan ulang dengan
akurat.
4. Untuk obat-obat yang termasuk obat NORUM/LASA dilakukan eja ulang.

Kegiatan yang dilaksanakan pada komunikasi efektif:


1. Perintah lisan dan yang melalui telepon ataupun hasil pemeriksaan dituliskan secara
lengkap oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.

6
2. Perintah lisan dan melalui telpon atau hasil pemeriksaan secara lengkap dibacakan
kembali oleh penerima perintah atau hasil pemeriksaan tersebut.

3. Perintah atau hasil pemeriksaan dikonfirmasi oleh individu yang memberi perintah
atau hasil pemeriksaan tersebut

4. Kebijakan dan prosedur mendukung praktek yang konsisten dalam melakukan


verifikasi terhadap akurasi dari komunikasi lisan melalui telepon.

2.7.Standar penilaian identifikasi pasien


Standar penilaian identifikasi pasien yaitu:
1. Rumah sakit harus menetapkan metode ketepatan identifikasi pasien
2. Minimal 2 ( dua ) cara identifikasi pasien
a. Nama pasien
b. Nomer rekam medis/ tanggal , bulan, dan tahun lahir.
3. Nomer kamar dan tempat tidur pasien tidak boleh digunakan
4. Gelang identitas
a. Gender
Laki : biru
Wanita: pink
Dengan stiker identitas pasien
b. Alergy
c. Risiko jatuh
d. DNR
5. Memastikan tidak salah identifikasi
a. Pasien tidak sadar/disorientasi
b. Pindah kamar
c. Pindah tempat tidur
d. Pindah lokasi di rumah sakit
6. Identifikasi pasien yang penting yaitu:
a. Memberikan obat
b. Pemeriksaan laboratorium
c. Tindakan

7
d. Operasi
e. Transfusi darah
7. Yang perlu diperhatikan dalam identifikasi pasien yaitu:
a. Pasien rawat inap yang tidak mempunyai masalah komunikasi
b. Pasien rawat inap yang untuk sementara tidak dapat berkomunikasi karena
obat/ ALAT
c. Pasien rawat inap yang tidak bisa berkomunikasi karena : umur, hambatan
bahasa,
d. Pasien di ruang emergency: tidak dapat berkomunikasi.
e. Pasien Rawat jalan ( pemberian obat/ pengambilan darah , dll )
8. Identifikasi Pasif
a. Staf menyebutkan nama pasien
b. Tidak direkomendasikan untuk metode identifikasi pasien
9. Monitoring dan evaluasi
Dengan cara audit
a. Kuesioner kepada staf
b. Observasi pelaksanaan
c. Kuesioner kepada pasien
Cara Audit Indikator Pengukuran Kriteria sukses
Nomerator Denominator
Koesioner Jumlah kuesioner Jumlah kuesioner Tidak ada
Pasien yang dijawab yang dijawab oleh kuesioner yang
TIDAK oleh pasien pasien dijawab TIDAK
oleh pasien (0%)
Observasi Total staf yang Total staf yang Semua staf yang
Pelaksanaan diaudit mampu diaudit diaudit mampu
melakukan proses melakukan proses
identifikasi pasien identifikasi pasien
secara lengkap dan secara lengkap dan
benar benar (100%)
Kuesioner Jumlah kuesioner Jumlah kuesioner Tidak ada
Pasien yang dijawab yang dijawab oleh kuesioner yang
TIDAK oleh pasien pasien dijawab TIDAK
oleh pasien (0%)

8
2.8. Area yang wajib melakukan identifikasi pasien
Area yang wajib melakukan identifikasi pasien yaitu:
1. Keperawatan
a. Rawat inap
b. Rawat jalan
c. IGD
2. Bagian Registrasi Pasien
3. Rekam Medis
4. Dokter
5. Farmasi
6. Rehab medik
7. Penunjang Medik (Laboratorium Radiologi/Diagnostik)

2.9 Hand Off Communications


Hand Off Communication adalah metode komunikasi serah terima informasi
kesehatan pasien yang mana terjadi kapanpun pada saat ada pengalihan tanggung jawab
pasien dari satu tenaga kesehatan ke tenaga kesehatan yang lain.
Tujuan Hand Off Communication adalah
1. Menyediakan informasi secara akurat
2. Tepat waktu tentang rencana keperawatan, pengobatan , dan kondisi terkini dan
informasi perubahan kondisi pasien yang baru saja terjadi atau yang dapat diprediksi
selanjutnya
Dokter dan perawat memiliki cara komunikasi yang berbeda perbedaan komunikasis
tersebut dapat menimbulkan kebingungan. Faktor yang mempengaruhi timbulnya
miskomunikasi antara dokter dan perawat adalah
1. Perbedaan jenis kelamin
2. Perbedaan budaya
3. Banyaknya tugas
4. Keterbatasan daya ingat jangka pendek
5. Kelelahan
6. Stress
7. Bekerja dilingkungan intensif
8. Intimidasi karena sistem hirarki organisasi unit kerja
9
Dengan adanya hal tersebut maka dibutuhkan pendekatan sistematik untuk memperbaiki
komunikasi antara tenaga kesehatan yaitu dengan menggunakan teknik SBAR.
SBAR merupakan kerangka acuan dalam pelaporan kondisi pasien yang memerlukan
perhatian atau tindakan segera.
Situation meliputi kondisi terkini yang terjadi pada pasien
 Diagnosa medis dan masalah keperawatan
Background meliputi informasi penting apa yang berhubungan dengan kondisi terkini
 Data subjektif dan Data Objektif
Asessment meliputi hasil pengkajian kondisi pasien terkini
 Analisa data dari background sesuai masalah keperawatan
 Mengacu kepada tujuan dan kriteria hasil dari diagnosa keperawatan
Recommendation meliputi apa yang harus dilakukan masalah pasien saat ini
 Intervensi mandiri /kolaborasi yang prioritas dikerjakan
 Hal-hal kusus yang menjadi perhatian

2.10. Identifikasi Masalah Komunikasi Yang Menyebabkan Error


Identifikasi masalah komunikasi yang menyebabkan eror dengan mengetahui SWOT
(Strong, Weakness, Opportunity, Threat) yaitu dengan mengidentifikasikan adanya
kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.
Sebagai contoh dalam mengidentifikasi masalah komunikasi yang menyebabkan error
yaitu
1. Aspek Pelanggan
Permasalahan Penyebab
a. Banyaknya keluhan atas lambatnya a. Evaluasi sistem pelayanan kurang.
pelayanan Apotek.
b. Belum ada mekanisme pemantauan
b. Waktu pelayanan di beberapa unit kualitas pelayanan.
masih dirasakan lama.
c. Sistem dan prosedur pelayanan belum
c. Antrian tidak teratur. sepenuhnya dipatuhi.
d. Petugas tidak memberikan informasi d. Pemeliharaan fasilitas masih bersifat
dengan jelas. pasif.
e. Dokter terlalu singkat mengunjungi e. Kurangnya inovasi pelayanan terhadap
pasien. pasien.
f. Kebersihan toilet kurang.

10
g. Fasilitas parkir kurang memadai.
h. Prosedur IRNA berbelit-belit.
i. Biaya mahal.
j. Menu makan IRNA kurang menarik

2. Bisnis Internal yang berkaitan dengan pelayanan

Permasalahan Penyebab
a. Belum ada sistem pencegahan infeksi a. Belum tercipta sistem pengendalian
nosokomial mutu.
b. Bangunan RS belum memenuhi syarat b. Belum dilakukannya evaluasi
K3. persyaratan fasilitas RS.
c. Keterampilan perawat masih kurang c. Belum terciptanya sistem pemeliharaan
fasilitas RS.
d. Fasilitas tidak berfungsi sebagaimana
mestinya. d. Pelayanan belum sepenuhnya berfokus
kepada pelanggan.
e. Jumlah ambulan masih kurang.
e. Belum terciptanya sistem penyegaran
skill, knowledge dan attitude SDM.
f. Keterbatasan anggaran untuk
pengadaan transportasi

3. Pembelajaran dan Pertumbuhan SDM


Permasalahan Penyebab
a. Keramahan petugas masih kurang a. Belum optimalnya proses pembelajaran
organisasi
b. Petugas kurang tanggap
b. Budaya kerja yang belum berfokus
kepada pelanggan
c. Budaya kerja yang masih belum
berorientasi kompetisi
d. Belum berjalannya siste reward dan
punishment yang jelas dan tegas untuk
individu maupun unit.

11