Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kemampuan pemecahan masalah merupkan hal yang disoroti dalam belajar

siswa serta dipandang sebagai bagian fundamental dari pembelajaran sains di sekolah.

Hal ini di karenakan sains khususnya fisika erat hubungannya dengan kehidupan

sehari-hari yang cakupan topiknya berbasis masalah. Kemampuan pemecahan

masalah membantu siswa untuk berpikir kemudian memecahkan masalah

berdasarkan berdasarkan teori dan konsep yang relevan. Pemecahan masalah fisika

secara efektif menuntut siswa mengidentifikasi, menentukan dan memecahkan

masalah dengan menggunakan logika, pemikiran literan dan kreatif. Kemampuan

pemecahan masalah mengharuskan siswa menghubungkan pengetahuan yagn telah

dimilikinya untuk menyelesaikan atau menemukan solusi dari suatu permasalahan

yang ada. Untuk memecahkan suatu permaslahan dibutuhkan suatu solusi dengan

menggunakan pengetahuan, kemahiran, dan pemahaman yang diperoleh mendalam

tentang bidang topik, konstruksi pengetahuan, pemahaman yang mendalam tentang

bidang topik, konstruksi pengetahuan, pemahaman barudan mampu membuat

keputusan.

Materi fluida statis berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari. Materi ini

mengajarkan siswa untuk berpikir menemukan maslah dalam keseharian dan

memecahkannya berdasrkan teori dan konsep yang relevan. Materi ini cukup mudah

1
diterapkan karena sering dijumpai dalam kehidupan nyata, namun proses fisinya perlu

dipelajari secara mendasar.

Materi fisika pada topik fluida statis merupakan salah satu materi fisika yang

sulit, dikarenakan oleh konsep-konsep yang ada pada materi fluida statis. Ada

beberapa topik materi fluida statis yang sering siswa mengalami konsepsi yang salah

sehingga sulit menerapkan konsep yang telah miliki untuk memecahkan masalah,

salah satunya yaitu pada tekanan hidrostatis. Siswa menganggap tekanan hidrostatis

memiliki tekanan yang lebih besar pada tempat yang sempit, siswa juga percaya

bahwa tekanan hidrostatis pada lubang yang lebih luas maka tekanan hidrostatis lebih

besar pada pipa yang tertutup dari pada pipa yang tidak tertutup. Selain itu banyak

siswa mengalami kesulitan mengidentifikasi gaya yang bekerja pada suatu cairan

yang berkaitan dengan kekuatan tekanan pada suatu zat cair.

Siswa tidak hanya diharapkan untuk menguasi konsep tapi juga menerapkan

kosep yang telah mereka pahami dalam menyelesaikan masalah fisika. Namun,

pembelajaran dalam kelas cenderung menekankan pada penguasan konsep dan

mengesampingkan kemamnpuan pemecahan masalah fisika siswa. Siswa mengalami

kesulitan karena strategi yang di ajarkan dalam pembelajaran hanya untuk

menyelesaikan masalah yang membutuhkan perhitungan matematis semata. Padahal,

salah satu tujuan pembelajaran fisika adalah menciptakan manusia yang dapat

memecahkan masalah kompleks dengan cara menerapkan pengetahuan dan

pemahaman mereka pada situasi sehari-hari.

2
Pembelajaran fisika yang bertujuan mengembangkan kemampuan pemecahan

masalah sebaiknya berdasarkan teori konstruktivistik pengetahuan tidak

disampaikkan begitu saja dari guru ke siswa namun perlu dikonstruksi oleh siswa.

Siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan bantuan guru dan siswa sudah memiliki

pengetahuan awal saat sedang belajar. Siswa kebanyakan menggunakan level konsep

dasar yang telah diperoleh sebelumnya. Pembelajran fisika yang konstruktivis

diharapkan membuat siswa terlibat aktif serta menjadi pusat kegiatan belajar dan

pembelajaran dengan bantuan dari guru. Siswa dalam pembelajaran yang

konstruktivis mencoba memahami pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah

ada melalui kegiatan mental aktif. Siswa mengenali, menyusun, mengembangkang

kembali dan mengubah pengetahuan awal melalui interaksi antar lingkungan,

kegiatan kelas dan pengalamn serta interaksi dengan siswa lain.pendidikan yang

demikian diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran fisika.

Kurikulum 2013 dirancang utuk mengembangkan kompetensi pengetahuan, sikap

dan keterampilan secara terpadu (Bahan Uji Publik Kurikulum 2013). Data TIMSS

(2011) menunjukkan kualitas prestasi siswa mengalami penurunan dari tahun 2007 ke

tahun 2011. Data tersebut menunjukkan siswa Indonesia berada pada kemampuan

menghafal. Walau data TIMSS adalah tingkat SMP, namun tingkat SMP adalah

landasan pada tingkat SMA. Dengan latar belakang tersebut dirancang Kurikulum

2013. Walaupun telah ada perubahan proses pembelajaran teacher centered menjadi

student centered, namun kondisi saat ini masih menjukkan proses pembelajaran

3
berpusat pada guru. Selain itu proses pembelajaran yang masih berorientasi pada

buku teks yang akhirnya pembelajaran menekankan pada materi saja. Keadaan

semacam ini mengakibatkan siswa menjadi fokus pada aspek kognitif dan

mengesampingkan aspek psikomotor dan afektif. Pembelajaran fisika yang hanya

menekankan pada aspek kognitif akan mereduksi hakikat aspek fisika sebagai proses,

produk, dan sikap. Pembelajaran fisika yang hanya menekankan proses teacher

centered, belum kontekstual, berorintasi hanya pada materi menjadikan siswa

memiliki kemampuan tinggi pada aspek kognitif, rendah dan lemah pada kemampuan

berpikir tingkat tinggi. Salah satu kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah

kemampuan pemecahan masalah.

Salah satu model pembelajaran konstruktivistik yang dapat digunakan untuk

mengembangkan kemampuan pemecahan masalah adalah Modeling Instruction.

Modeling Instruction merupakan pembelaran yang melibatkan siswa untuk

mengkonstruksi model fisika dalam pembelajaran. Model fisika digunakan dalam

pemecahan masalah fisika berdasarkan pengetahua yang dimiliki siswa. Siswa

melakukan konstruksi pengetahuan melalui kegiatan ilmiah yang meliputi konstruksi

model fisika, mengecek kebenaran model, dan melakukan revisi. Siswa memecahkan

masalah fisika menggunakan model fisika yang telah di konstruksi. Modeling

Instructional dilakasanakan melalaui dua tahap yaitu dengan model development

melalui kegiatan praktikum dan diskusi, selanjutnya menerapkan model yang

diperoleh utuk menyelesaikan masalah dengan model deployment.

4
Berdasarkan latar belakang di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian yang berjudul “Implementasi Modeling Instruction Untuk

Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Dan Hasil Belajar Siswa Pada

Materi Fluida Statis”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi beberapa masalah

sebagai berikut:

1. Peserta didik masih berada pada kemampuan menghafal.

2. Pada saat kegiatan pembelajaran guru biasanya cenderung menggunakan

metode ceramah

3. Kurangnya kemampuan pemecahan masalah peserta didik.

4. Pembelajaran masih berpusat pada guru.

5. Pembelajaran masih berorientasi pada buku teks.

1.3. Rumusan Masalah

Dari hasil identifikasi tersebut diperoleh sebuah rumusan masalah secara

umum yang membatasi fokus penilitian yakni apakah ada perbedaan kemampuan

pemecahan masalah fisika antara sebelum siswa belajar dengan modeling instruction

dengan setelah siswa belajar dengan modeling instruction

1.4. Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah :

5
1. Mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah fisika antara sebelum

siswa belajar dengan Modeling Intructional dengan setelah siswa belajar

dengan modeling instructional.

1.5. Manfaat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam berbagai aspek

diantaranya, dapat dijadikan sebagai gambaran oleh guru dalam membuat variasi baru

dalam pembelajaran, dan dapat memberikan masukan agar memicu kreativitas guru

dalam membantu siswa belajar memecahkan masalah.