Anda di halaman 1dari 29

1.

Tes Sondir

Tes sondir merupakan salah satu tes dalam bidang teknik sipil yang berfungsi
untuk mengetahui letak kedalaman tanah keras, yang nantinya dapat diperkirakan
seberapa kuat tanah tersebut dalam menahan beban yang didirikan di atasnya. Tes ini
biasa dilakukan sebelum membangun pondasi tiang pancang, atau pondasi-pondasi
dalam lainnya. Data yang didapatkan dari tes ini nantinya berupa besaran gaya
perlawanan dari tanah terhadap konus, serta hambatan pelekat dari tanah yang
dimaksud. Hambatan pelekat adalah perlawanan geser dari tanah tersebut yang
bekerja pada selubung bikonus alat sondir dalam gaya per satuan panjang.

1.1 Dasar Teori

Metoda sounding/sondir terdiri dari penekanan suatu tiang pancang untuk meneliti
penetrasi atau tahanan gesernya. Alat pancang dapat berupa suatu tiang bulat atau
pipa bulat tertutup dengan ujung yang berbentuk kerucut dan atau suatu tabung
pengambil contoh tanah, sehingga dapat diperkirakan (diestimasi) sifat-sifat fisis pada
strata dan lokasi dengan variasi tahanan pada waktu pemancangan alat pancang itu.
Metoda ini berfungsi untuk eksplorasi dan pengujian di lapangan. Uji ini dilakukan
untuk mengetahui elevasi lapisan “keras” (Hard Layer) dan homogenitas tanah dalam
arah lateral. Hasil Cone Penetration Test disajikan dalam bentuk diagram sondir yang
mencatat nilai tahanan konus dan friksi selubung, kemudian digunakan untuk
menghitung daya dukung pondasi yang diletakkan pada tanah tersebut.

Di Indonesia alat sondir sebagai alat tes di lapangan yang sangat terkenal karena
di negara ini banyak dijumpai tanah lembek (misalnya lempung) hingga kedalaman
yang cukup besar sehingga mudah ditembus dengan alat sondir. Di dunia penggunaan
Sondir ini semakin populer terutama dalam menggantikan SPT untuk test yang
dilakukan pada jenis tanah liat yang lunak dan untuk tanah pasir halus sampai tanah
pasir sedang/kasar. Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk mengetahui perlawanan
penetrasi konus (qc), hambatan lekat (fs) tanah dan friction ratio (rf) untuk
memperkirakan jenis tanah yang diselidiki.

1.2 Refrensi

Standar ini merupakan revisi dari SNI 03-2827-1992, Metode Pengujian Lapangan
dengan alat sondir, menetapkan cara uji penetrasi lapangan dengan alat sondir, untuk
memperoleh parameter-parameter perlawanan penetrasi lapisan tanah di lapangan,
dengan alat sondir (penetrasi quasi statik). Parameter berupa perlawanan konus (qc),
perlawanan geser (fs), angka banding geser (Rf), dan geseran total tanah (Tf), yang
dapat digunakan untuk interpretasi perlapisan tanah yang merupakan bagian dari
desain fondasi. Cara uji ini berlaku baik untuk alat penetrasi konus tunggal maupun
ganda yang ditekan secara mekanik (hidraulik). Untuk pengujian, peralatan
penetrometer konus termasuki konus, selimut (bidang) geser, pipa dorong, batang
dalam, dan mesin pembeban hidraulik harus memenuhi persyaratan yang ditentukan.
Dipersyaratkan ketelitian peralatan ukur dengan koreksi sekitar 5 %; dan semua alat
ukur harus dikalibrasi minimum 1 kali dalam 3 tahun dan pada saat diperlukan.
Pengujian dilakukan dengan tahapan-tahapan yang ditentukan meliputi persiapan
pengujian, prosedur pengujian, pengujian penetrasi konus, pembacaan hasil
pengujian, pengulangan langkah-langkah pengujian, dan penyelesaian pengujian.

1.3 Langkah Kerja

a) Menentukan lokasi yang permukaannya datar


b) Memasang empat buah angker ke dalam tanah dengan memutarnya
menggunkan kunci pemutar angker (kunci T). kemudian memasang 2 pelat
persegi yng memanjang di saming angker. Jarak antar angker dan jarak kedua
pelat disesuaikan dengan ukuran mesin sondir.
c) Memasang mesin sondir tegak lurus dan perlengkapannya pada lokasi
pengujian, yang diperkuat dengan pelat besi pendek untuk menjepit mesin dan
diperkuat dengan mor pengunci angker yang dipasang ke dalam tanah.
d) Memasang Traker,tekan stang dalam. Pada penekanan pertama ujung konus
akan bergerak ke bawah sedalam 4 cm, kemudian manometer dibaca yang
menyatakan perlawanan ujung. Pada penekanan berikutnya konus dan
mantelnya bergerak 4cm. Nilai pada manometer yang terbaca adalah nilai
tekanan ujung dan perlawanan lekat.
e) Menekan stang luar sampai kedalaman baru, penekanan stang dilakukan
sampai setiap kedalaman tambahan sebanyak 20 cm.
f) Melakukan hal yang sama dengan langkah kerja di atas sampai pembacaan
manometer tiga kali berturut-turut menunjukkan nilai ≥150 kg/cm2 dan jika
penekanan mesin sondir sudah mencapai maksimalnya atau dirasa telah
mencapai tanah keras, maka pengujian ini dapat dihentikan.

1.4 Gambar Pelaksanaan

Gambar 1 . Pelaksanaan Tes Sondir


Gambar 1.1. Pelaksanaan Tes Sondir

1.5 Gambar Alat dan Bahan

Alat:

1. Mesin sondir
2. Satu set batang sondir lengkap dengan stang dalam yang panjangnya 1 meter
3. Manometer 2 buah

Kapasitas 0-50 kg/cm²

Kapasitas 0-250 kg/cm²


4. Satu buah Bikonus dan satu buah paten konus.

5. Pelat persegi 2 batang


6. Satu set (2) buah angker

Bahan :

1. Minyak Hidrlolik
2. Tanah
1.6 Daftar Pustaka

 SNI Sondir
http://infolpk.bsn.go.id/index.php?/sni_main/sni/detail_sni/10184

 Dasar Teori
https://tekniksipil006.wordpress.com/2014/10/12/makalah-penyelidikan-
tanah-dengan-sondir/

2. Boring

Sebelum mendirikan suatu konstuksi bangunan, terlebih dahulu harus diteliti


keadaan tanah dimana konstruksi itu akan diadakan. Perlunya penelitian ini tidak lain
untuk keamanan konstruksi, karena faktor tanah ini sangat menentukan untuk
perencanaan kestabilan konstruksi. Untuk itu diperlukan berbagai upaya strategis
untuk meningkatkan pengerjaan ilmu Mekanika Tanah.
Penyelidikan sifat tanah pada umumnya dilakukan dengan cara mengambil
contoh tanah dari lapangan untuk kemudian diselidiki di laboratorium. Penyelidikan
sifat tanah akan dikerjakan dalam percobaan lain sebagai kelanjutan dari percobaan
ini. Diharapkan agar sifat yang diselidiki di laboratorium mencerminkan sifat-sifat
tanah tersebut dilapangan, maka contoh tanah yang diselidiki harus berada pada
kondisi aslinya dilapangan (tidak terganggu).
Metode pemboran tangan (hand auger boring) termasuk metode pengamatan
yang banyak digunakan untuk eksplorasi geoteknik dangkal dari jenis tanah lunak
dan kenyal. Dengan pemboran tangan dapat dilakukan pengambilan sampel tanah
terganggu (disturbed sample) maupun sampel tanah tak terganggu (undisturbed
sample).

2.1 Dasar Teori

Mesin boring adalah suatu mesin perkakas yang berfungsi untuk membuat
pembesaran lubang sesuai dengan ukuran yang ditentukan. Mesin boring juga
berfungsi untuk menghaluskan dinding silinder lubang yang telah dibesarkan. Ada
beberapa jenis mesin boring, sesuai dengan kemampuan/kapasitas mesin tersebut
untuk melakukan pembesaran lubang. Mesin boring terdiri dari beberapa bagian
mesin dimana bagian tiap bagian memiliki keterkaitan dengan bagian lain untuk
melakukan operasi boring.

2.2 Refrensi
Dalam desain struktur tanah fondasi sering dilakukan analisis stabilitas dan
perhitungan desain fondasi suatu bangunan dengan menggunakan parameter tanah
baik tegangan total maupun tegangan efektif, dan identifikasi tanah. Dalam
melakukan uji penetrasi lapangan dengan SPTini digunakan metode pengujian
penetrasi dengan SPT (SNI 03-4153-1996) yang dapat berlaku untuk tanah.
Peralatan uji penetrasi ini antara lain terdiri atas peralatan penetrasi dengan SPT,
bahan penunjang uji, dan perlengkapan lainnya. Mengingat diperlukannya
parameter perlawanan penetrasi lapisan tanah di lapangan untuk keperluan
identifikasi perlapisan tanah yang merupakan bagian dari desain fondasi suatu
bangunan

2.3 Langkah Kerja

Adapun langkah kerja dalam kegiatan praktek boring adalah sebagai berikut :

1. Lakukan penyetelan terhadap benda kerja yang akan diboring dan lakukan
penyetelan terhadap silinder yang akan diboring, senter pahat yang akan
digunakan sesuai dengan nomor dan diameter dari silinder yang akan diboring.
2. Setelah benda kerja senter, lakukan penguncian sampai kuat.
3. Lakukan penyetelan mata pisau boring dengan jarak sesuai diameter
pembesaran lubang yang telah ditentukan.
4. Lakukan penyetelan jarak main pisau sampai batas yang sama.
5. Hidupkan motor penggerak dan lakukan pemakanan sampai batas ukuran yang
telah ditentukan, dapat dilakukan dengan gerakan otomatis atau manual.

2.4 Gambar Pelaksanaan


Gambar 2. Pelaksanaan Boring

Gambar 2.1. Pelaksanaan Boring

2.5 Gambar Alat dan Bahan

 Kunci Inggris
 Tabung 2 Buah
 Hammer

 Oli
 Auger iwan (Bila Manual)
 1 Buah Kepala Pemutar
 Batang Pemegang

 Socket
 Kantong Plastik
 Cangkul
2.6 Daftar Pustaka
 SNI Boring
http://www.ngekul.com/wp-content/uploads/2016/06/SNI-4153-2008.pdf
 Dasar Teori
https://id.scribd.com/doc/100270103/Boring

3. SPT

(SPT = Standard penetration test) adalah suatu percobaan dinamis yang


berasal dari Amerika Serikat. Percobaan dinamis (dynamic penetrometer) yaitu
suatu pengujian yang ujungnya (dapat berupa konus) dimasukan ke dalam tanah
dengan menjatuhkan beban dengan tinggi jatuh tertentu , dan jumlah pukulan yang
diperlukan untuk mendorong ujung tersebut menembus jarak tertentu dikir pula
(misalnya dalam jumlah pukulan per satuan meter). SPT ini merupakan suatu
metode uji yang dilaksanakan bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui
kekuatan tanah maupun pengambilan contoh terganggu.
3.1 Dasar Teori

SPT (Standard penetration test) adalah salah satu jenis uji tanah yang sering
digunakan untuk mengetahui daya dukung tanah selain CPT. SPT dilaksanakan
bersamaan dengan pengeboran untuk mengetahui baik perlawanan dinamik tanah
maupun pengambilan contoh terganggu dengan teknik penumbukan. Uji SPT
terdiri atas uji pemukulan tabung belah dinding tebal ke dalam tanah dan disertai
pengukuran jumlah pukulan untuk memasukkan tabung belah sedalam 300 mm (1
ft) vertikal. dilakukan dengan memukul sebuah tabung standar kedalam lubang
bor sedalam 450 mm menggunakan palu 63,5 kg yang jatuh bebas dari ketinggian
760 mm, Yang dihitung adalah jumlah pukulan untuk melakukan penetrasi
sedalam 150 mm. Jumlah pukulan yang digunakan adalah pada penetrasi sedalam
300 mm terakhir. Sewaktu melakukan pengeboran inti, jika kedalaman
pengeboran telah mencapai lapisan tanah yang akan diuji, mata bor dilepas dan
diganti dengan alat yang disebut tabung belah standar (Standar Split barrel
sampler). Setelah tabung ini dipasang, bersama-sama dengan pipa bor, alat
diturunkan sampai ujungnya menumpu lapisan tanah dasar, dan kemudian dipukul
dari atas.

3.2 Refrensi

Standar tentang ‘Cara uji penetrasi lapangan dengan SPT’ merupakan revisi dari
SNI 03-4153-1996), Metode Pengujian Penetrasi Dengan Alat SPT, yang
mengacu pada ASTM D
1586-84 “Standard penetration test and split barrel sampling of soils” dengan
perubahan pada judul, penambahan acuan normatif, penambahan istilah dan
definisi, penambahan dan revisi beberapa materi mengenai persyaratan dan
ketentuan serta cara pengujian,
penjelasan rumus, pembuatan bagan alir, perbaikan gambar dan pembuatan contoh
formulir. Standar ini disusun oleh Panitia Teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan
Rekayasa Sipil pada Sub Panitia Teknk Bidang Sumber Daya Air. Tata cara
penulisan disusun mengikuti Pedoman Standardisasi Nasional 08:2007 dan
dibahas pada forum rapat konsensus pada tanggal 16 November 2006 di Bandung
dengan melibatkan para nara sumber, pakar dan lembaga terkait.
3.3 Langkah Kerja

Persiapan pengujian
a) Lakukan persiapan pengujian SPT di lapangan dengan tahapan sebagai
berikut:
b) Pasang blok penahan (knocking block) pada pipa bor
c) Beri tanda pada ketinggian sekitar 75 cm pada pipa bor yang berada di atas
penahan
d) Bersihkan lubang bor pada kedalaman yang akan dilakukan pengujian dari
bekas-bekas pengeboran
e) Pasang split barrel samplerpada pipa bor, dan pada ujung lainnya
disambungkan dengan pipa bor yang telah dipasangi blok penahan
f) Masukkan peralatan uji SPT ke dalam dasar lubang bor atau sampai
kedalaman pengujian yang diinginkan
g) Beri tanda pada batang bor mulai dari muka tanah sampai ketinggian 15 cm,
30 cm dan 45 cm
Persiapan pengujian
a) Lakukan pengujian dengan tahapan sebagai berikut
b) Lakukan pengujian pada setiap perubahan lapisan tanah atau pada interval
sekitar 1,50 m s.d 2,00 m atau sesuai keperluan
c) Tarik tali pengikat palu (hammer) sampai pada tanda yang telah dibuat
sebelumnya (kira-kira 75 cm);
d) Lepaskan tali sehingga palu jatuh bebas menimpa penahan
e) Ulangi 2) dan 3) berkali-kali sampai mencapai penetrasi 15 cm
f) Hitung jumlah pukulan atau tumbukan N pada penetrasi 15 cm yang pertama
g) Ulangi 2), 3), 4) dan 5) sampai pada penetrasi 15 cm yang ke-dua dan ke-tiga
h) Catat jumlah pukulan N pada setiap penetrasi 15 cm:
- 15 cm pertama dicatat N1
- 15 cm ke-dua dicatat N2
- 15 cm ke-tiga dicatat N3
Jumlah pukulan yang dihitung adalah N2+ N3. Nilai N1 tidak diperhitungkan
karena masih kotor bekas pengeboran
i) Bila nilai N lebih besar daripada 50 pukulan, hentikan pengujian dan tambah
pengujian sampai minimum 6 meter
j) Catat jumlah pukulan pada setiap penetrasi 5 cm untuk jenis tanah batuan

3.4 Gambar Pelaksanaan

Gambar 3. Pelaksanaan SPT (Standard penetration test)

Gambar 3.1 Pelaksanaan SPT (Standard penetration test)


3.5 Gambar Alat dan Bahan

3.6 Daftar Pustaka

 SNI Boring
http://www.ngekul.com/wp-content/uploads/2016/06/SNI-4153-2008.pdf

 Dasar Teori
https://geezaliori20.blogspot.com/2017/03/standart-penetration-
testspt.html

4. Bor Listrik

Mesin bor adalah suatu jenis mesin gerakanya memutarkan alat pemotong yang
arah pemakanan mata bor hanya pada sumbu mesin tersebut (pengerjaan pelubangan).
Sedangkan Pengeboran adalah operasi menghasilkan lubang berbentuk bulat dalam
lembaran-kerja dengan menggunakan pemotong berputar yang disebut BOR.

4.1 Dasar Teori

Bor listrik sangat memudahkan pekerjaan manusia dalam kehidupan sehari-hari


maupun dalam industri. Jadi secara umum dalam pelaksanaan pengeboran suatu
lubang pada benda kerja diperlukan suatu mesin bor yang bekerja baik dan teliti.
Mesin dapat mengebor benda kerja secara terus menerus dan mempunyai kecepatan
poros yang dapat disetel menurut kebutuhannya dan dapat dilakukan bermacam-
macam pengeboran yang sesuai kebutuhan.

Bagian utama Mesin Bor

Bagian utama mesin bor adalah sebagai berikut :

1. Base(Dudukan)
Base ini merupakan penopang dari semua komponen mesin bor. Base terletak
paling bawah menempel pada lantai, biasanya dibaut. Pemasangannya harus kuat
karena akan mempengaruhi keakuratan pengeboran akibat dari getaran yang
terjadi.
2. Column(Tiang)
Bagian dari mesin bor yang digunakan untuk menyangga bagian-bagian yang
digunakan untuk proses pengeboran. Kolom berbentuk silinder yang mempunyai
alur atau rel untuk jalur gerak vertikal dari meja
3. Table(Meja)
Bagian yang digunakan untuk meletakkan benda kerja yang akan di bor. Meja
kerja dapat disesuaikan secara vertikal untuk mengakomodasi ketinggian
pekerjaan yang berbeda atau bisa berputar ke kiri dan ke kanan dengan sumbu
poros pada ujung yang melekat pada tiang (column). Untuk meja yang berbentuk
lingkaran bisa diputar 3600 dengan poros ditengah-tengah meja. Kesemuanya itu
dilengkapi pengunci (table clamp) untuk menjaga agar posisi meja sesuai dengan
yang dibutuhkan. Untuk menjepit benda kerja agar diam menggunakan ragum
yang diletakkan di atas meja.
4. Drill(MataBor)
Adalah suatu alat pembuat lubang atau alur yang efisien. Mata bor yang paling
sering digunakan adalah bor spiral, karena daya hantarnya yang baik, penyaluran
serpih (geram) yang baik karena alur-alurnya yang berbentuk sekrup, sudut-sudut
sayat yang menguntungkan dan bidang potong dapat diasah tanpa mengubah
diameter bor. Bidang–bidang potong bor spiral tidak radial tetapi digeser sehingga
membentuk garis-garis singgung pada lingkaran kecil yang merupakan hati bor.
5. Spindle
Bagian yang menggerakkan chuck atau pencekam, yang memegang / mencekam
mata bor.
6. Spindle Head
Merupakan rumah dari konstruksi spindle yang digerakkan oleh motor dengan
sambungan berupa belt dan diatur oleh drill feed handle untuk proses
pemakananya.
7. Drill Feed Handle
Handel untuk menurunkan atau menekankan spindle dan mata bor ke benda kerja
( memakankan)
8. Kelistrikan
Penggerak utama dari mesin bor adalah motor listrik, untuk kelengkapanya mulai
dari kabel power dan kabel penghubung , fuse / sekring, lampu indicator, saklar on
/ off dan saklar pengatur kecepatan.

4.2 Refrensi

Standar Nasional Indonesia (SNI) tentang ‘Tata cara pencatatan dan identifikasi
hasil pengeboran inti’ merupakan revisi dari SNI 03-2436-1991, Metode Pencatatan dan
Interpretasi Hasil Pemboran Inti. Adapun perbedaan dengan SNI lama adalah penambahan
dan revisi beberapa materi mengenai Persyaratan dan Ketentuan serta Cara Pengujian, pembuatan
Bagan Alir, perbaikan Gambar dan pembuatan Contoh Formulir. Standar ini disusun oleh Panitia
teknis Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Gugus Kerja Pendayagunaan
Sumber Daya Air Bidang Bahan dan Geoteknik pada Subpanitia teknis Sumber Daya Air.
Tata cara penulisan disususn mengikuti Pedoman Standadisasi Nasional 08:2007 dan dibahas dalam
forum rapat konsensus yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 28 September 2006 oleh di
Subpanitia teknis Sumber Daya Air dengan melibatkan para narasumber dan pakar dari
berbagai instansi terkait.

4.3 Langkah Kerja

1 Kenakan pakaian yang mendukung keamanan Anda meliputi pelindung


muka dan sarung tangan. Pastikan sarung tangan yang dipakai memiliki
ukuran yang pas sehingga tidak berisiko tersangkut di mesin bor.
2 Tentukan posisi titik yang akan dibor. Jika perlu, Anda harus
mengukurnya menggunakan penggaris untuk mendapatkan posisi yang
pas. Berikan tanda pada titik tersebut berupa tanda silang.
3 Lakukan persiapan awal dengan memeriksa bahwa mesin dalam kondisi
yang normal. Periksa power source untuk memastikannya telah terpasang
dengan benar. Cek juga apakah tegangan listrik sudah sesuai dengan
kebutuhan mesin atau belum.
4 Pasanglah mata bor pada kedudukannya. Jangan lupa untuk
mengencangkannya menggunakan kunci khusus/kunci yacob yang
biasanya sudah turut disertakan sepaket dengan produk bor tangan
tersebut.
5 Agar posisi benda yang akan dibor tidak goyah, Anda bisa menjepit
posisinya pada vice/ragum. Bila Anda ingin melubangi keramik dinding,
maka langkah ini tentu tidak perlu dilakukan mengingat posisi dinding
sudah stabil.
6 Buatlah lubang awal sebagai tumpuan mata bor agar tidak mudah meleset
dari titik yang diinginkan. Caranya adalah Anda bisa mengetukkan drip
(alat pembuat titik) tepat pada titik bidang yang akan dibor. Tidak perlu
terlalu dalam, cukup sekiranya bisa digunakan sebagai tumpuan mata bor.
7 Setiap lubang yang ingin Anda buat, mulailah dengan memakai mata bor
yang berukuran kecil terlebih dahulu kemudian ukurannya meningkat
sedikit demi sedikit. Misalnya pada saat permulaan, Anda bisa
mengandalkan mata bor yang berdiameter 2-4 mm.
8 Posisi arah mesin bor selama proses pengeboran berlangsung harus benar-
benar tegak lurus dengan bidang yang ingin dibor. Tujuannya tentu saja
agar lubang yang dihasilkan lebih rapi dan mata bor tidak akan patah.
9 Cobalah nyalakan mesin bor tangan Anda. Atur kecepatan perputarannya
sesuai dengan keinginan. Silakan arahkan mesin tersebut untuk membuat
lubang pada bidang yang dikehendaki.
10 Setelah dirasakan lubang yang dibuat sudah memiliki kedalaman dan
diameter sesuai keinginan, Anda bisa mematikan mesin bor tersebut.
Tunggu selama beberapa saat supaya perputaran pada mata bor berhenti
terlebih dahulu.
11 Lakukan pengecekan terhadap hasil pekerjaan Anda. Apabila lubang yang
terbentuk masih belum sempurna, Anda bisa merapikannya kembali.
12 Setelah yakin pekerjaan Anda sudah selesai, simpanlah mesin bor ini di
tempatnya semula. Buka mata bor terlebih dahulu. Kemudian cabut juga
bagian power source-nya.
13 Jagalah kebersihan area kerja dan semua peralatan kerja yang Anda miliki.

4.4 Gambar Pelaksanaan


gambar pemasangan bor listrik
tatang

4.5 Gambar Alat dan Bahan


1. bor tangan

2. Bor Cordless
3. bor core

4. bor duduk

5. bor impact

6. bor magnet
4.6 Daftar Pustaka

 SNI Bor Listrik https://id.scribd.com/doc/291957183/SNI-CORING-2436-


2008-pdf
 Dasar teori https://www.klikteknik.com/blog/mengenal-lebih-dekat-mesin-
bor.html

5. CBR (California Bearing Ratio)

5.1 Dasar Teori

CBR (California Bearing Ratio) adalah percobaan daya dukung tanah yang
dikembangkan oleh California State Highway Departement. Prinsip pengujian ini
adalah pengujian penetrasi dengan menusukkan benda ke dalam benda uji. Dengan
cara ini dapat dinilai kekuatan tanah dasar atau bahan lain yang dipergunakan untuk
membuat perkerasan.
Nilai CBR adalah perbandingan (dalam persen) antara tekanan yang diperlukan
untuk menembus tanah dengan piston berpenampang bulat seluas 3 inch2 dengan
kecepatan 0,05 inch/menit terhadap tekanan yang diperlukan untuk menembus bahan
standard tertentu. Tujuan dilakukan pengujian CBR ini adalah untuk mengetahui nilai
CBR pada variasi kadar air pemadatan. Untuk menentukan kekuatan lapisan tanah
dasar dengan cara percobaan CBR diperoleh nilai yang kemudian dipakai untuk
menentukan tebal perkerasan yang diperlukan di atas lapisan yang nilai CBRnya
tertentu (Wesley,1977) Dalam menguji nilai CBR tanah dapat dilakukan di
laboratorium. Tanah dasar (Subgrade) pada kontruksi jalan baru merupakan tanah
asli, tanah timbunan, atau tanah galian yang sudah dipadatkan sampai mencapai
kepadatan 95% dari kepadatan maksimum. Dengan demikian daya dukung tanah
dasar tersebut merupakan nilai kemampuan lapisan tanah memikul beban setelah
tersebut tanah dipadatkan. CBR ini disebut CBR rencana titik dan karena disiapkan di
laboratorium, disebut CBR laborataorium. Makin tinggi nilai CBR tanah (subgrade)
maka lapisan perkerasan diatasnya akan semakin tipis dan semakin kecil nilai CBR
(daya dukung tanah rendah), maka akan semakin tebal lapisan perkerasan di atasnya
sesuai beban yang akan dipikulnya.

5.2 Refrensi

Kekuatan tanah diuji dengan uji CBR sesuai dengan SNI-1744-1989. Nilai
kekuatan tanah tersebut digunakan sebagai acuan perlu tidaknya distabilisasi setelah
dibandingkan dengan yang disyaratkan dalam spesifikasinya.
Pengujian CBR adalah perbandingan antara beban penetrasi suatu bahan
terhadap bahan standar dengan kedalaman dan kecepatan penetrasi yang sama. Nilai
CBR dihitung pada penetrasi sebesar 0.1 inci dan penetrasi sebesar 0.2 inci dan
selanjutnya hasil kedua perhitungan tersebut dibandingkan sesuai dengan SNI 03-
1744-1989 diambil hasil terbesar.

5.3 Langkah Kerja

5.3.1 Persiapan Lokasi Pengujian :

1. Tanah diratakan permukaannya atau digali sampai lapisan yang dikehendaki


dan diratakan (luas galian kira-kira 60 cm x 60 cm)
2. Permukaan tanah yang akan diuji harus rata levelnya dan tidak ada kemiringan
: cek dengan waterpass
3. Dipastikan bahwa di permukaan yang akan diuji (sub grade, sub base, base
course, dsb) tidak ada butiran lepas : bersihkan semua debu, pasir, kerikil yang
lepas/berserakan
4. Untuk tanah dasar yang belum ada perkerasan dan pemadatan, cukup
dibersihkan akar rumput dan bahan organik lain (biasanya sampai kedalaman
30-50 cm)
5. Selama pemasangan alat-alat, permukaan tanah atau permukaan yang sudah
dibersihkan harus dijaga supaya tidak kelembabannya tidak berubah dari
kondisi awal, jika perlu ditutup dengan plastik apabila cuaca sangat panas
6. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin sesudah persiapan selesai
7. Apabila dibutuhkan, dapat dilakukan pemeriksaan kadar air dan berat isi
bahan setempat.

5.3.2 Peralatan Pengujian CBR Lapangan :

1. Dongkrak CBR mekanis dengan kapasitas 10 ton, dilengkapi dengan “swivel


head”.
2. Cincin penguji (proving ring) dengan kapasitas : 1,5 ton (3000 lbs), 3 ton
(6000 lbs), 5 ton (10.000 lbs), atau sesuai dengan kebutuhan.
3. Piston/torak penetrasi dan pipa-pipa penyambung.
4. Arloji penunjuk (dial) penetrasi untuk mengukur penetrasi dengan ketelitian
0,01 mm (0,001”) dilengkapi dengan balok penyokong dari besi propil
sepanjang lebih kurang 2,5 meter.
5. Keping beban (plat besi) yang bergaris tengah 25 cm (10”) berlubang di
tengah dengan berat +/- 5 Kg (10 Pound) dan beban-beban tambahan seberat
2,5 Kg (5 Pound) yang dapat ditambahkan bilamana perlu.
6. Sebuah truck yang dibebani sesuai dengan kebutuhan atau alat-alat berat
lainnya (vibro, excavator, buldozer, dll) yang dibawahnya dapat dipasang
sebuah dongkrak CBR mekanis.
7. Dua dongkrak truck, alat-alat penggali, alat-alat penumbuk, alat-alat perata,
waterpas.

5.3.3 Pemasangan Alat :

1. Truk/alat berat lainnya ditempatkan sedemikan rupa sehingga dapat


dipasang dongkrak CBR mekanis tepat diatas lubang pemeriksaan.
2. As roda belakang diatur sejajar dengan muka jalan yang diperiksa.
3. Truk/alat berat didongkrak supaya berat sendirinya tidak ditahan lagi oleh per
kendaraan (jika tertahan per maka pembacaan akan tidak tepat karena
terpengaruh pengenduran gaya oleh per kendaraan)
4. Dongkrak CBR mekanis dan peralatan lain dirangkai, supaya piston penetrasi
berada 1 atau 2 cm dari permukaan yang akan diperiksa.
5. Cincin penguji (proving ring) diatur sehingga piston dalam keadaan vertikal.
6. Pastikan semua peralatan uji dalan kondisi stabil, vertikal, sentris (segaris dan
tidak melenting/melendut) dan kokoh serta tepat pada posisi yang disyaratkan
7. Keping beban/plat baja setebal 25 cm (10”) diletakkan sentris dibawah torak
penetrasi sehingga piston penetrasi tepat masuk kedalam lubang keping beban
tersebut.
8. Arloji/dial pengukur penetrasi dipasang pada piston penetrasi, sedemikian
rupa sehingga jarum pada dial penetrasi menempel pada keping beban/plat
baja

5.3.4 Pembacaan Waktu dan Penetrasi :

1. Piston penetrasi diturunkan sehingga memberikan beban permulaan sebesar 5


Kg (10 Lbs) – jika diperlukan, dapat gunakan beban-beban tambahan
2. Arloji cincin penguji (proving ring) dan arloji penunjuk penetrasi (dial
penetrasi) diatur sehingga menunjuk pada angka nol.
3. Pembebanan ditambah dengan teratur, agar kecepatan penetrasinya
mendekati kecepatan tetap 1,25 mm (0,05”) per menit – penambahan
pembebanan ini yang sering terlupa atau tidak terlaksana dengan baik
konsistensi kecepatan penetrasi per menitnya
4. Pembacaan beban dicatat pada penetrasi (angka di belakang = angka tabel SNI
yang direvisi):

 0,3128 mm (0,0125”) 0,32 mm [15 detik]


 0,6200 mm (0,0250”) 0,64 mm [30 detik]
 1,2500 mm (0,0500”) 1,27 mm [60 detik / 1 menit]
 1,8700 mm (0,0750”) 1,91 mm [1 menit 30 detik]
 2,5400 mm (0,1000”) 2,54 mm [2 menit]
 3,7500 mm (0,1500”) 3,81 mm [3 menit]
 5,0800 mm (0,2000”) 5,08 mm [4 menit]
 7,5000 mm (0,3000”) 7,62 mm [6 menit]
 10,1600 mm (0,4000”) 10,16 mm [8 menit]
 12,5000 mm (0,5000”) 12,70 mm [10 menit]

9.3.5 Perhitungan Nilai CBR Lapangan :

1. Tentukan beban yang bekerja pada torak


2. Hitung tegangan di tiap kenaikan penetrasi
3. Plotkan hasilnya pada grafik dan buat kurvanya
4. Cek kurva apakah perlu koreksi atau tidak (lihat contoh di samping) – pada
keadaan tertentu, kurva penetrasi dapat berbentuk lengkung ke atas sehingga
perlu dikoreksi dan titik inisial bergeser dari titik nol
5. Gunakan hasil tegangan yang terkoreksi untuk analisa hitungan berikutnya
6. Ambil nilai tegangan pada penetrasi : 0,1 inchi/2,54 mm dan 0,2 inchi/5,08
mm
7. Hitung CBR dengan pembagian terhadap tegangan standar :

 0,71kg/mm2 (100Psi) (untuk penetraso 0,1 inch dan 2,54 mm)


 1,06 kg/mm2 (1500 Psi) (untuk penetrasi 0,2 inch atau 5,08 mm)

5.4 Gambar Pelaksanaan

5.5 Gambar Alat dan Bahan


5.6 Daftar Pustaka

 Dasar Teori https://www.ilmutekniksipil.com/perkerasan-jalan-raya/cbr-


california-bearing-ratio
 Langkah Kerja https://lauwtjunnji.weebly.com/cbr-lapangan.html

6. Bor Dalam

6.1 Dasar Teori


Sand cone test adalah pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan dengan
menggunakan pasir Ottawa sebagai parameter kepadatan tanah yang mempunyai sifat
kering, bersih, keras, tidak memiliki bahan pengikat sehingga dapat mengalir bebas.
Pasir Ottawa yang digunakan adalah lolos saringan no.10 dan tertahan di saringan
no.200. Metode ini hanya terbatas untuk lapisan atas tanah yaitu antara 10 – 15 cm.
Sand cone adalah untuk pemeriksaan kepadatan tanah di lapangan pada lapisan tanah
atau lapisan perkerasan yang telah dipadatkan. Pengujian yang diuraikan hanya
berlaku terbatas pada ukuran butiran tanah dan batuan tidak lebih dari 5 cm
diameternya.Yang dimaksud dengan kepadatan lapangan adalah berat kering per
satuan isi.
Pemadatan dapat dikatakan sebagai proses pengeluaran udara dari pori-pori
tanah dengan salah satu cara mekanis. Cara mekanis yang digunakan di lapangan
biasanya dengan menggilas, sedangkan dilaboratorim dengan cara menumbuk atau
memukul. Daya pemadatan ini tergantung pada kadar air, meskipun digunakan energi
yang sama, nilai kepadatan yang akan diperoleh akan berbeda-beda. Pada kadar air
yang cukup rendah tanah sukar dipadatkan, sedangkan pada kadar air yanag cukup
tinggi nilai kepadatannya akan menurun, sampai suatu kadar air tinggi sekali sehingga
air tidak dapat dikeluarkan dengan pemadatan. Pada pemadatan dengan kadar air
yanag berbeda-beda akan didapat nilai kepadatan yang berbeda pula. Sehingga kadar
air tertentu akan didapat keadaan yang paling padat (angka pori yang paling rendah).
Kadar air dimana tanah mencapai keadaan yang paling padat disebut kadat air
optimum. Untuk menentukan kadar air optimum ini biasanya dibuat grafik hubungan
antara kadar air dan berat isi kering. Berat isi kering ini digunakan untuk menentukan
kadar air optimium dimana mencapai keadaan paling padat, dapat dilakukan
percobaan pemadatan di lapanga dan percobaan pemadatan di laboratorium.Dengan
nilai kadar air yang optimum yang didapat dari percobaan ini, maka kita dapat
memadatkan tanah sehingga tanah tersebut akan mempunyai:
a) Kekuatan yang lebih besar
b) Kompresibilitas dan daya rembesan yang lebih kecil
c) Ketahanan yang relatif lebih besar terhadap pengaruh air
Prosedur atau langkah dalam pemeriksaan sand cone yaitu:
1) Pemeriksaan Berat Volume Uji
2) Pemeriksaan Volume Kerucut
3) Pemeriksaan Kepadatan Tanah di Lapangan

6.2 Refrensi

 Diktat “Teori Soal dan Penyelesaian MEKANIKA TANAH”,


Ir Gunawan.T & Ir. Margaret.S
 Mekanika Tanah, L.D. Wesley
 Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis Tanah, Joseph E. Bowles
 Soil Mechanic, MJ. Smith & Ir. Elly Madyayanti

6.3 Langkah Kerja

1. Mencari Volume Corong

a Timbang berat corong logam dan sebagai perlengkapannya


b Letakan corong dengan logam diatas dan buka krannya
c Isi dengan air sampai keluar dari keran
d Tutup kerannya dan buang air yang kelebihan
e Timbang corong logam dan perlengkapannya yang sudah terisi air.
f Berat air = volume botol (W2 –W1)

2. Mencari berat air pasir sebagai berikut

a Letakan corong logam dengan lubang diatasnya


b Tutup keran dan isi corong dengan pasir
c Buka keran dan juga supaya corong selalu terisi pasir minimal
setengahnya dan isi sampai corong logam terisi penuh.
d Titup keran dan buang kelebihan pasir
e Timbang alat dan pasir (W3)
f Berat pasir (W3 – W1)
g Berat isi pasir

3. Tentukan jumlah pasir yang dibutuhkan untuk mengisi corong dengan penuh
sebagai berikut:1) Timbang botol dan pasir (W4)

a Isi alat dengan pasir sampai penuh, sampai pasir berhenti mengalir
b Tutup keran dan timbang botol dan sisa pasir (W5)
c Pasir yang dibutuhkan untuk mengisi corong dengan penuh (W4 –W5)
Siapkan permukaan tanah yang akan diuji dengan membuat rata permukaaan
tanah setempat.
d Tempatkan alat diatas permukaan yang sudah rata dan beri tanda
padalubang pelat.

4. Angkat lat tersebut dan buat lubang pada tanda dengan hati – hati.

5. Tempatkan lagi alat pada tempat semula dan buka keran dan birkan pasir
mengalir samapi berhenti, kemudian tutup kerannya.

6. Timbang berat tanah hasil galian (W7).

7. Timbang berat alat dan pasir (W6)

6.4 Gambar Pelaksanaan


6.5 Gambar Alat dan Bahan

6.6 Daftar Pustaka

 Dasar Teori https://geezaliori20.blogspot.com/2017/04/sand-cone-test.html


 Langkah Kerja http://adepratamaerdi.blogspot.com/2011/10/contoh-laporan-
pengujian-dengan.html

7. Bor Dalam

7.1 Dasar Teori

7.2 Refrensi

7.3 Langkah Kerja


7.4 Gambar Pelaksanaan

7.5 Gambar Alat dan Bahan

7.6 Daftar Pustaka