Anda di halaman 1dari 8

IJCER Mariana Fitria et al

Pengembangan ethnoscience Berbasis Kimia Pengayaan


Buku sebagai Ilmu Melek Sumber Siswa

Mariana Fitria Sebuah,*, Asih Widi Wisudawati Sebuah

Sebuah Departemen Pendidikan Kimia, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
* penulis yang sesuai: marf jika saya tria @ gmai l.com

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menguji karakteristik dan kualitas buku pengayaan kimia berdasarkan ethnosciences sebagai sumber
peserta didik melek ilmu pengetahuan. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan. pengumpulan data
menggunakan metode kuesioner. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian adalah dalam bentuk buku pengayaan
kimia berdasarkan ethnoscience dengan karakteristik: (1) Media A5 cetak, (2) mengangkat 4 tema budaya Jawa khususnya daerah Yogyakarta
yang terdiri dari Batik, Wayang Kulit, Merapi, dan tema Dagger, ( 3) tema secara umum, transformasi ilmu dari ilmu pengetahuan adat untuk
ilmu pengetahuan ilmiah, dan langkah-langkah pembaharuan yang dapat dibuat berdasarkan fakta-fakta lingkungan atau sosial yang ada dalam
tema, (4) yang dikembangkan oleh mengandung afektif, kognitif, dan psikomotorik domain. Penilaian dilakukan dengan menggunakan
instrumen penilaian yang mengacu pada instrumen B1 dari Pusat Kurikulum dan Pembukuan. Penilaian oleh ahli materi, ahli media, ahli
budaya, guru kimia, dan tanggapan siswa yang 83,33%, 90,9%, 60%, 84,30%, dan 90%, masing-masing, dengan kategori baik (B), Sangat baik
(SB), cukup (C), Sangat baik (SB), dan Baik (B), sehingga buku pengayaan kimia ini layak untuk menjadi sumber literasi sains siswa

Kata kunci: pengembangan, buku pengayaan, ethnoscience, budaya Jawa, ilmu pengetahuan melek

PENGANTAR
Indonesia adalah negara kepulauan dengan keragaman multikultural yang harus dilestarikan dengan mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa
Indonesia [1]. Salah satu upaya untuk melestarikan keragaman multikultural dapat dilakukan melalui dunia pendidikan karena menjadi fungsi dan tujuan
pendidikan nasional, yaitu pendidikan adalah proses untuk mengembangkan potensi siswa melalui transfer nilai-nilai dan keunggulan budaya lokal
sehingga siswa dapat menjadi ahli waris dan pengembang budaya bangsa [2]. Pendidikan di sekolah-sekolah mengajarkan berbagai mata pelajaran yang
sesuai dengan kurikulum yang berlaku. Salah satu subjek tersebut adalah kimia. belajar kimia bertujuan untuk memperoleh pemahaman tentang
fakta-fakta, kemampuan untuk memecahkan masalah, memiliki keterampilan dalam menggunakan laboratorium, dan mampu menjadi ilmiah dalam
kehidupan sehari-hari [3]. Sementara itu, dalam praktek kimia cenderung lebih menekankan pada ilmu pengetahuan ilmiah yang membuat siswa kurang
mampu melihat ilmu pengetahuan sebagai satu kesatuan yang terintegrasi dengan lingkungan, teknologi, dan masyarakat [4]. Dalam hal ini, sebuah
penelitian menjelaskan bahwa pembelajaran berorientasi budaya adalah fundamental dalam pendidikan. pembelajaran ini berorientasi budaya disebut
ethnoscience, seperti yang dijelaskan oleh Suastra, yang ethnoscience adalah studi dari sistem pengetahuan terorganisir dari budaya dan kegiatan yang
terkait dengan alam semesta yang terkandung dalam masyarakat [5]. pembelajaran kimia yang menghubungkan ilmu asli dengan budaya masyarakat
dan berubah menjadi ilmu ilmiah (berorientasi pada konsep ethnoscience) dinilai untuk meningkatkan siswa melek ilmu [6].

Analisis melek ilmu yang telah dilakukan oleh PISA tahun 2015 tentang nilai literasi sains siswa di Indonesia, menunjukkan nilai rata-rata siswa di Indonesia adalah 403 jika dibandingkan

dengan rata-rata internasional dari 493, dapat dikatakan bahwa hasil siswa melek ilmu pengetahuan di Indonesia masih jauh tertinggal. Sebuah prestasi yang sangat rendah di bawah rata-rata

internasional, menurut Toharudin, dapat dikatakan bahwa kemampuan ilmu mahasiswa Indonesia yang baru untuk mengenali sejumlah fakta dasar, tetapi belum mampu untuk berkomunikasi

dan menghubungkan berbagai topik ilmu pengetahuan, apalagi menerapkan konsep yang kompleks dan abstrak. Oleh karena itu, penting bagi ilmu pengetahuan belajar untuk berpartisipasi

dalam menggabungkan unsur-unsur linguistik seperti aspek menulis, berbicara dan membaca, karena aspek linguistik ini adalah kunci untuk literasi sains [7]. Sehubungan dengan pernyataan

di atas, Kemendikbud telah menciptakan sebuah program baru untuk meningkatkan budaya dan minat baca yang disebut program keaksaraan yang telah berjalan sejak tahun 2015.

Berdasarkan wawancara yang peneliti telah dilakukan terkait dengan kegiatan keaksaraan, beberapa sekolah telah menerapkan program keaksaraan dengan membaca buku 15 menit

sebelum proses belajar dimulai. kegiatan keaksaraan telah dilaksanakan sejak tahun 2015, sementara buku-buku yang siswa membaca non-fiksi jenis buku seperti novel, cerita pendek dan

beberapa sekolah telah menerapkan program keaksaraan dengan membaca buku 15 menit sebelum proses belajar dimulai. kegiatan keaksaraan telah dilaksanakan sejak tahun 2015,

sementara buku-buku yang siswa membaca non-fiksi jenis buku seperti novel, cerita pendek dan beberapa sekolah telah menerapkan program keaksaraan dengan membaca buku 15 menit

sebelum proses belajar dimulai. kegiatan keaksaraan telah dilaksanakan sejak tahun 2015, sementara buku-buku yang siswa membaca non-fiksi jenis buku seperti novel, cerita pendek dan

50 International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Feb 201


IJCER Mariana Fitria et al

beberapa buku pengetahuan umum, sementara buku-buku pengayaan yang dapat meningkatkan wawasan mahasiswa jarang baca diberikan
ketersediaan di sekolah juga masih kecil. Pengamatan bahwa para peneliti telah dilakukan di beberapa toko buku di kota Yogyakarta terkait
dengan ketersediaan buku pengayaan, bahwa jumlah buku pengayaan tidak sebanyak buku pelajaran, buku pengayaan yang hadir kekayaan
budaya lokal juga tidak tersedia secara luas.

Berdasarkan analisis kebutuhan di atas, peneliti ingin mengembangkan sumber belajar mandiri dalam bentuk buku pengayaan kimia
berdasarkan ethnoscience sebagai sumber literasi sains siswa. Buku pengayaan ini dikembangkan dengan alasan bahwa (1) kebutuhan untuk
sumber belajar dalam bentuk buku pengayaan yang mengangkat budaya lokal sebagai bentuk cinta budaya bangsa dan kemudian belajar dari
sisi ilmu pengetahuan sebagai sumber siswa melek ilmu pengetahuan, (2) tidak tersedianya buku pengayaan berbasis kimia berdasarkan
ethnoscience umum di masyarakat, sehingga dengan buku pengayaan diharapkan siswa dapat mengetahui penerapan kimia dalam kehidupan
sehari-hari terutama dalam budaya masyarakat di Indonesia.

TINJAUAN PUSTAKA
pengayaan Buku
Buku pengayaan adalah sebuah buku yang berisi bahan-bahan yang dapat memperkaya dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, keterampilan, dan membentuk kepribadian siswa, pendidik, manajer pendidikan, dan pembaca lainnya. Buku-buku pengayaan tidak untuk
siswa hanya [8]. Menurut Permendiknas Nomor 2 Tahun 2008, buku pengayaan mengandung bahan yang dapat memperkaya buku-buku pelajaran
dasar pendidikan, pendidikan menengah, dan perguruan tinggi.

Buku pengayaan milik jenis buku non-teks, buku yaitu yang tidak digunakan secara langsung sebagai buku sumber atau sebagai referensi
dari satu bidang studi tertentu di sebuah lembaga pendidikan. Pada dasarnya dalam proses mempersiapkan buku pengayaan tidak harus terikat
dengan kurikulum secara langsung, namun harus tetap sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Ciri-ciri fitur pengayaan adalah sebagai
berikut [8]:
Sebuah. Buku yang dapat digunakan dalam lembaga sekolah atau pendidikan tapi bukan buku referensi wajib digunakan dalam proses pembelajaran.

b. Buku yang menyediakan bahan yang lebih luas untuk buku teks yang berisi informasi yang luas dan mendalam ilmu pengetahuan dan
teknologi, atau bisa menjadi buku pegangan.
c. buku non-mengajar tidak diterbitkan dalam seri berdasarkan kelas atau tingkat pendidikan.
d. buku non-mengajar yang mengandung bahan yang tidak terkait langsung dengan beberapa atau salah satu Standar Kompetensi Dasar atau
Kompetensi yang terkandung dalam isi, tetapi memiliki keterkaitan untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional.

e. Materi buku non-teks dapat dibaca oleh pembaca semua tingkat pendidikan atau oleh pembaca umum.

f. Penyajian pelajaran buku non-teks longgar, kreatif, dan inovatif sehingga tidak terikat oleh ketentuan-ketentuan proses dan pembelajaran
yang sistematis, yang ditentukan berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengajaran.

ethnoscience
Ethnoscience berasal dari kata "ethnos" dari bahasa Yunani bangsa dan kata "scientia" dari pengetahuan bahasa Latin yang berarti. Ethnoscience adalah studi
tentang sistem pengetahuan berdasarkan budaya dan kegiatan yang terkait dengan alam semesta ditemukan dalam masyarakat [5]. Ethnoscience juga dapat
dikatakan sebagai seperangkat pengetahuan yang diperoleh dengan metode tertentu berdasarkan tradisi atau budaya dalam masyarakat yang kebenarannya
dapat dinyatakan ilmiah [9]. Oleh karena itu, pembelajaran berbasis ethnoscience adalah sebuah komunitas belajar ilmu-berorientasi kemudian menjelaskan
melalui ilmu pengetahuan ilmiah.

Ada tiga studi topikal dalam studi ethnoscience menurut Ahimsa, yang pertama adalah studi tentang ethnoscience yang berfokus pada
budaya dalam hal klasifikasi lingkungan atau situasi sosial. Tujuannya adalah untuk mengetahui judul dianggap penting oleh masyarakat dan
untuk menemukan prinsip-prinsip yang digunakan orang untuk memahami gejala pada lingkungan. Kedua, studi ethnoscience yang berfokus
pada budaya dalam hal perilaku masyarakat terkait dengan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat, tentang apakah atau
tidak sesuatu yang dilakukan. Adapun studi ketiga ethnoscience yang berfokus pada budaya dalam hal prinsip-prinsip terjadinya suatu peristiwa
dalam masyarakat [10].

International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Fe 201 51


IJCER Mariana Fitria et al

Ilmu ilmiah
literasi sains didefinisikan oleh PISA sebagai kapasitas untuk melakukan tindakan ilmiah dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan ini berkisar
dari menggunakan pengetahuan ilmiah dan kemampuan, mengidentifikasi pertanyaan, menarik kesimpulan berdasarkan bukti dan data yang
telah diperoleh untuk memahami alam semesta, dan membuat keputusan perubahan yang terjadi karena interaksi manusia dengan alam
semesta [11]. Kemampuan 21 st abad keaksaraan ilmiah yang harus dimiliki mencakup kemampuan untuk membaca, menulis, menghitung,
memanfaatkan fungsi teknologi, untuk memahami berbagai jenis media dan penyampaian informasi, mampu belajar pembelajaran jarak jauh
dan E-learning, dan juga memiliki kesadaran akan dampak positif negatif dalam hal penggunaan informasi modern dan teknologi komunikasi
[12].

METODE
Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan yang dirancang untuk mengembangkan sumber belajar mandiri
dalam bentuk buku pengayaan kimia berdasarkan ethnoscience. Model pengembangan yang digunakan adalah metode Borg dan Gall yang
terbatas pada tahap kelima yaitu revisi tes awal yang meliputi tahapan sebagai berikut [13]:

1. Penelitian dan pengumpulan data (penelitian dan mengumpulkan informasi), yang terdiri dari: penilaian kebutuhan yang berguna untuk
mengetahui produk yang dibutuhkan dan akan dikembangkan, studi literatur terkait dengan pengembangan produk terutama dalam bentuk
buku pengayaan, dan konsep ethnoscience yang akan menjadi karakteristik dari buku pengayaan untuk dikembangkan, serta analisis
bahan yang terkait dengan budaya lokal (Jawa) yang dapat diterjemahkan secara ilmiah ilmu dengan bahan yang dipilih adalah batik,
wayang kulit, Merapi, dan belati.

2. Perencanaan, Koleksi referensi tentang batik, wayang kulit, Merapi dan belati, dan juga konsep ethnoscience dalam budaya.

3. pengembangan awal dari rancangan produk (mengembangkan bentuk awal dari produk) meliputi persiapan sistematika dan komponen yang
terkandung dalam pengayaan buku, penyusunan isi buku dan menentukan desain lay-out atau sampul buku, konsultasikan hasil produk
awal dengan supervisor, validasi produk, serta revisi produk.

4. pengujian awal lapangan (pendahuluan uji lapangan), yaitu dengan penilaian atas 3 guru kimia resensi SMA / MA, dan menanggapi
dengan 10 SMA / MA siswa program IPA.
5. Revisi hasil uji coba (revisi produk utama). Pada tahap ini perbaikan produk berdasarkan penilaian reviewer dan respon dari siswa SMA /
MA.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode wawancara dan kuesioner. metode wawancara
digunakan untuk analisis kebutuhan pada tahap awal, dan metode kuesioner digunakan untuk menentukan kualitas buku pengayaan kimia.
Data penilaian kualitas dikumpulkan dengan menggunakan instrumen penelitian mengacu B1 Kurikulum dan instrumen Pembukuan Pusat untuk
menentukan kualitas buku pengayaan dalam bentuk: (1) kualitas Kuesioner Penilaian dengan Skala Likert, (2) Lembar Mahasiswa Response
dengan ska Gutman. Analisis data untuk perhitungan analisis data yang berkualitas untuk penilaian kualitas dilakukan berdasarkan validasi ahli
dan guru penilaian serta berdasarkan respon siswa.

HASIL DAN DISKUSI


Pentingnya melek Ilmiah bagi siswa untuk membangun pemikiran dan kemampuan siswa telah didukung oleh kebijakan baru dalam pendidikan, pelaksanaan program keaksaraan di

sekolah-sekolah. Program keaksaraan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat dan budaya membaca bagi siswa yang menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan literasi ilmiah bagi

mahasiswa di Indonesia yang masih jauh di belakang negara-negara lain berdasarkan analisis yang dilakukan oleh PISA (Program for International Student Assessment). Namun, ketersediaan

sumber belajar yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan literasi ilmiah belum tersedia secara luas di masyarakat. Oleh karena itu, peneliti mengembangkan buku pengayaan kimia

berdasarkan ethnoscience yang dapat digunakan sebagai sumber literasi ilmiah bagi siswa sehingga siswa tidak hanya belajar konsep ilmu ilmiah saja, tetapi juga mampu menjelaskan konsep

ilmu adat yang berasal dari budaya masyarakat setempat di Yogyakarta. Kimia buku pengayaan dikembangkan adalah media cetak A5 berukuran. Bahan ini dikembangkan dengan mengambil

sumber daya Indonesia sesuai dengan kategori buku pengayaan pengetahuan di B1 Pusat Kurikulum dan kurikulum Books yang dikejar dalam budaya Jawa (Yogyakarta). Materi yang

disajikan dalam 4 tema budaya Jawa yaitu Batik, Wayang Kulit, Merapi, dan Belati. Tema-tema ini menjadi topik utama untuk mempelajari ilmu masyarakat di daerah Yogyakarta. Bahan ini

dikembangkan dengan mengambil sumber daya Indonesia sesuai dengan kategori buku pengayaan pengetahuan di B1 Pusat Kurikulum dan kurikulum Books yang dikejar dalam budaya Jawa

(Yogyakarta). Materi yang disajikan dalam 4 tema budaya Jawa yaitu Batik, Wayang Kulit, Merapi, dan Belati. Tema-tema ini menjadi topik utama untuk mempelajari ilmu masyarakat di daerah

Yogyakarta. Bahan ini dikembangkan dengan mengambil sumber daya Indonesia sesuai dengan kategori buku pengayaan pengetahuan di B1 Pusat Kurikulum dan kurikulum Books yang

dikejar dalam budaya Jawa (Yogyakarta). Materi yang disajikan dalam 4 tema budaya Jawa yaitu Batik, Wayang Kulit, Merapi, dan Belati. Tema-tema ini menjadi topik utama untuk

mempelajari ilmu masyarakat di daerah Yogyakarta.

52 International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Feb 201


IJCER Mariana Fitria et al

Tema Batik dan Wayang Kulit berisi informasi yang budaya Jawa kaya akan nilai seni tinggi sehingga batik dan wayang menjadi warisan
budaya nusantara yang perlu dilestarikan. Belati Tema berisi informasi budaya dalam hal teknologi yang melekat dalam masyarakat Jawa,
sementara tema Gunung Merapi berisi informasi peristiwa alam yang terkandung di masyarakat Jawa. Sebagai sebuah buku yang dapat
menjadi sumber literasi ilmiah, buku pengayaan ini dikembangkan mengikuti langkah-langkah dalam mengembangkan buku pengayaan.
Adapun langkah-langkah sedang mempersiapkan konsep dasar penulisan, memperhatikan proses kreatif, menyesuaikan kemampuan berpikir
pembaca, dan menentukan aspek-aspek yang akan dikembangkan. Seperti dalam buku pengayaan kimia ini aspek dikembangkan
mengandung kognitif, afektif,

domain kognitif diwujudkan melalui konsep ethnoscience, yaitu dengan menerjemahkan ilmu masyarakat (pengetahuan masyarakat lokal)
untuk ilmu pengetahuan ilmiah yang relevan dengan kebenaran ilmu pengetahuan, sehingga siswa diajak untuk berpikir dan menganalisis
bahwa banyak aplikasi ilmu yang ada dalam kehidupan sehari-hari . Konsep ethnoscience dalam buku pengayaan disajikan dalam "Apa Ilmu
Said" Kolom seperti pada Gambar 1.

GAMBAR 1. ethnoscience coloumn

Dalam kolom, penjelasan ilmiah ilmu yang mengikuti aliran ilmu masyarakat dalam setiap tema budaya, sehingga ilmu masyarakat adalah
referensi dalam menulis kolom ini ethnoscience. Studi ethnoscience pada tema batik tentang proses pembuatan batik, tema Wayang Kulit
tentang proses pengeringan kulit dan wayang kulit pembuatan, pada tema Gunung Merapi untuk meninjau tanda-tanda peristiwa alam menurut
masyarakat Jawa, dan pada tema Belati meninjau proses pembuatan dan mengasah. Proses transformasi ilmu masyarakat (ilmu adat) untuk
ilmu pengetahuan ilmiah pada setiap tema dapat dilihat pada Tabel 1 .:

TABEL 1. Transformasi ilmu tema Batik

Tidak ada Tahapan Ilmu adat Ilmu

1. Cairan lilin cair waxing dilakukan sehingga Penjelasan perubahan bentuk benda. Lilin pencairan adalah proses
bahwa lilin dapat dilampirkan ke kain mengubah bentuk zat dari padat ke cair, karena penyerapan panas.
panas yang diserap menyebabkan jarak antara molekul-molekul lilin
menjadi lebih jauh, sehingga lilin berubah bentuk.

2. Batik Terjadinya proses penyerapan panas dari lilin cair dengan serat kain
merancang Menempel lilin untuk
berguna pada kain
menutupi motif pada dan oleh lingkungan sehingga molekul lilin menjadi ketat lagi dan
kain batik. bentuk menjadi solid dan menjadi lapisan pelindung untuk motif batik.

3. Pewarnaan Memberikan pewarna pada kain untuk Penjelasan ikatan kovalen polar dan non-polar. Pada tahap pewarnaan
melihat kain batik lebih indah dimulai dengan proses pelarutan yaitu pembubaran zat warna dengan
air sebagai pelarut yang menunjukkan bahwa proses pelarutan hanya
dapat terjadi antara pelarut dan zat terlarut memiliki sifat polaritas yang
sama.

4. Pengirikan Penghapusan lapisan lilin pada abu soda dengan nama kimia NACO 3 yang merupakan basa lemah
kain mudah menggunakan campuran air akan menghidrolisis lemak (R-COOH) di lilin, sehingga lilin ke sabun
panas dengan abu soda atau gelas air larut dalam air. Pengaruh suhu di atas air juga menyebabkan proses
untuk membuat lilin mudah mengelupas. penghapusan lilin menjadi lebih cepat karena lilin menyerap panas dari
air sehingga lilin akan mencair.

International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Fe 201 53


IJCER Mariana Fitria et al

5. Fiksasi Menambahkan tawas untuk mencegah zat Penambahan Al 2 ( BEGITU 4) 3 pada pewarna berfungsi untuk penguat
warna warna.

Tabl 2. Transformasi ilmu wayang kulit tema

Tidak ada Tahapan Ilmu adat Ilmu

1. Gamela gamelan terbuat dari perunggu Penjelasan unsur-unsur kimia dari


komposisi gamelan tembaga (Cu), timah (Sn), dan perunggu
nmaterial s
(Paduan Cu dan Sn)

kulit 2. Kulit dibersihkan dan dikeringkan untuk Penjelasan kulit bahwa kulit sebagai pelindung tubuh makhluk
Pengeringan membuat kulit awet dan tidak busuk. hidup. Pengeringan kulit berguna untuk mengurangi kadar air
dari kulit untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang
menyebabkan kerusakan pada kulit.

3. pewarnaan Mewarnai pada kulit jadi Penjelasan koloid, di mana cat yang digunakan dalam proses
menggunakan tujuan cat untuk memperindah pewarnaan adalah salah satu contoh dari koloid.
tokoh wayang dan lebih tahan lama
Cat digunakan untuk memberikan lapisan pada kulit sehingga
permukaan kulit tidak mudah untuk berinteraksi dengan air atau
udara lembab sehingga kulit tidak cepat merusak.

4. Menguntit tangkai tersebut dipasang untuk memudahkan tangkai adalah di mana gravitasi yang dihasilkan diterapkan ke
bermain saat pertunjukan wayang sedang objek.
berlangsung.

Tabl 3. Transformasi ilmu Gunung Merapi tema

Tidak Tahapan Ilmu adat Ilmu

1. pandangan lokal Warga setempat mengatakan Letusan terjadi ketika magma telah keluar ke permukaan bumi.
letusan Merapi bahwa saat letusan berarti "Merapi Seiring dengan magma yang keluar, banyak bahan bumi yang
nembe gadhah Damel" yang berarti datang, sehingga memberikan banyak manfaat bagi warga lokal
Merapi mengalami perayaan. seperti untuk bahan bangunan jika bahan yang besar, dan
Mereka juga menganggap bahwa kandungan mineral kaya nutrisi dapat menyuburkan tanah,
tidak semua letusan akan setelah letusan terjadi .
menyebabkan
bencana,
karena mereka memiliki

menganalisis risiko dan manfaat


yang terjadi setelah letusan.

2. Prediksi Letusan Penduduk setempat menggunakan ilmu "titen" Pabrik layu aku s oleh Rising
bahwa aku s suhu lingkungan, dan pengeringan sumber air karena aktivitas
mengingat dan magma sehingga tanaman menjadi layu. Hewan juga akan
mengenali tanda-tanda alam bermigrasi ke tempat yang lebih aman karena merasa terganggu
bahwa terjadi oleh suara gemuruh dan kenaikan suhu.
sebelum letusan. Misalnya, layu
tanaman dan binatang hutan mulai
turun dari pegunungan.

3. Bahaya Kentongan
menandatangani digunakan untuk Penjelasan gelombang suara dan mekanisme pendengaran di
dengan kentongan memberikan tanda bahaya dengan telinga manusia.
dipukul dengan tempo cepat

54 International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Feb 201


IJCER Mariana Fitria et al

dari Dagger tema

Tidak Tahapan Ilmu adat Ilmu

1. Penempaan peleburan bijih cair dan logam campuran, kemudian Penempaan adalah proses pembentukan logam dengan
dicetak pada cetakan logam untuk membentuk cara pemanasan yang cukup sehingga logam menjadi
batang logam. tekanan plastik dan kemudian diberikan atau pukulan
cetakan
2. Sepuhan Itu besi dipanaskan sampai Penyepuhan disebut sebagai pendinginan yang memberikan
yg menyala kecil adalah kemudian panas ke logam sehingga logam adalah pemanasan secara
dimasukkan ke dalam air dingin. perlahan dan diikuti dengan pendinginan cepat menggunakan
air untuk struktur martensit.

3. Pembersihan dari Dagger direndam dengan air kelapa muda, air kelapa muda bersifat asam lemah sehingga dapat
belati kemudian direndam dalam cairan warangan dan membantu untuk menghilangkan karat cair adalah
ditambahkan dengan air jeruk nipis campuran arsenik (AS 2 HAI 3), kapur cair (C 3 H 4 OH) dan
serbuk besi. Cairan ini yang berfungsi sebagai lapisan tipis
membentuk untuk melindungi dari penobatan senyawa
besi oksida arsenik

4. Pembuatan Pemeliharaan itu belati ini Perlindungan dari kontak langsung dari belati dengan
warangka penajaman udara lembab atau air sebagai inisiator terjadinya korosi.

5. Perlindungan dengan Memberikan persembahan kepada keris yang Penjelasan korosi. viskositas minyak dapat mencegah
minyak (jafaron, misik) diyakini memberikan kekuasaan kepada pemilik kontak antara besi dan udara dan air. Minyak berbeda
dari polaritas ke air sehingga parfum mencegah kontak
antara belati dan air atau uap air.

6. Pembersihan dengan Untuk membersihkan karat pada belati Kandungan asam sitrat dalam jeruk nipis akan bereaksi
lemon dengan karat besi sehingga karat besi akan tergerus.

Penjelasan terkait teori asam-basa


7. Penyediaan Untuk perlindungan belati Kelompok nonpolar minyak berfungsi untuk melindungi
minyak kelapa besi dari polaritas air yang berbeda, mencegah
selama terjadinya korosi.
kepanduan

Domain afektif dalam buku pengayaan ini diwujudkan melalui penyajian salah satu karakter wayang dalam tema Wayang Kulit, Arjuna. Arjuna
digambarkan sebagai sosok ksatria yang suka belajar, belajar, dan bermeditasi. Karakter dapat digunakan sebagai contoh oleh siswa untuk
selalu bersemangat dalam belajar, serta bersikap sopan kepada guru. Selain itu siswa juga diharapkan untuk meniru karakter arjuna yang suka
bermeditasi, dengan sedikit pergeseran makna yang berarti mampu menahan diri dari keinginan duniawi yang berlebihan, apalagi foya dan
bermalas-malasan.

domain psikomotorik terlihat sedikit berbeda dari buku-buku lainnya. Dalam buku ini, domain psikomotor tidak dimanifestasikan oleh aktivitas
fisik, melainkan undangan untuk bertindak untuk menjadi lebih baik setelah terpapar gejala lingkungan dan fenomena sosial yang ada di
masyarakat. Sebagai contoh pada tema Batik, penulis mengajak pembaca untuk menggunakan pewarna batik yang berasal dari tanaman menjadi
lebih ramah lingkungan. Dalam tema Gunung Merapi, penulis menjelaskan bahwa keberadaan magma sebagai sumber panas bumi, memiliki
potensi untuk menjadi Geothermal Power Plant (PLTP) sehingga tidak perlu menghabiskan banyak bahan bakar sebagai sumber pembakaran
untuk pembangkit listrik .

Buku pengayaan juga dilengkapi dengan "Tell You" kolom yang menjelaskan info menarik terkait dengan tema, seperti dapat dilihat pada
Gambar 2.

55
International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Fe 201
IJCER Mariana Fitria et al

GAMBAR 2. kolom informasi

Dalam tema batik, kolom informasi menjelaskan konsep batik dengan cara memberikan lapisan lilin pada kain yang menjadi penghalang dari
pewarna, sama seperti talas daun dilapisi oleh lilin dan tidak basah bila terkena air. Dalam tema wayang kulit, kolom informasi menjelaskan
animisme dan dinamisme keyakinan yang masih ada di Indonesia, dari keyakinan bahwa awal wayang. Kemudian pada tema Gunung Merapi
kolom ini menggambarkan senyawa yang terkandung dalam magma selama letusan Merapi dan penjelasan dari kadar hemoglobin yang
berbeda pada orang yang hidup di dataran tinggi dengan orang-orang yang tinggal di dataran rendah.

buku pengayaan kimia berdasarkan ethnoscience dikembangkan memiliki karakteristik yang mendukung tujuan pendidikan nasional adalah
untuk mengembangkan siswa potensial dengan mengembangkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas bagi siswa melalui materi
yang disampaikan. Hasil penilaian kualitas oleh dosen ahli materi, ahli media, ahli budaya, guru kimia dan respon siswa yang meliputi aspek
kelayakan isi / materi, aspek ethnoscience, aspek presentasi, dan aspek linguistik dan grafis dengan instrumen mengacu pada instrumen B1
Kurikulum Tengah dan Book dapat dilihat pada Tabel

5. TABEL 5. Kualitas Kimia Buku Pengayaan oleh Bahan ahli, Media Ahli, Budaya Ahli,

dan Ahli Budaya


Para ahli ahli Para ahli
Aspek Para ahli budaya
materi Media budaya

Kelayakan Konten 13 - - 12,33


ethnoscience 12 - 9 13,33
Presentasi - 12 - 12.67
Bahasa dan Grafis - 38 - 33,33
persentase% 83,33 90,90 60.00 84,30
Kategori B SB C SB

Hasil analisis data pada Tabel 1, dapat dilihat bahwa perolehan skor dari ahli materi memperoleh kategori baik, skor dari pakar media
mendapatkan kategori sangat baik, pakar budaya mendapatkan nilai kategori cukup, dan mencetak gol dari guru mendapatkan kategori sangat
baik. Tahap pengujian awal dilakukan setelah produk divalidasi dan dinilai oleh para ahli kemudian menanggapi siswa. Respon data dengan 10
siswa dapat dilihat pada Tabel 6.

TABEL 6. Kualitas Kimia Buku Pengayaan oleh Response Mahasiswa


Skor Per skor
Aspek Persentase (%) Kategori
Aspek maksimum
Kelayakan materi /
4.8 5 96.00
kadar B
ethnoscience 4,5 5 90.00 B
Skor Per skor
Aspek Persentase (%) Kategori
Aspek maksimum
Presentasi 2,9 3 97.00 B
Bahasa dan grafis 5.8 7 82.00 B
Total 18.0 20 90/00 B

Hasil analisis penilaian berdasarkan respon siswa dapat dilihat bahwa setiap aspek mendapat kategori baik, sehingga dapat disimpulkan
bahwa buku pengayaan ini mudah untuk memahami dan mendapatkan respon yang baik dari siswa.

56 International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Feb 201


IJCER Mariana Fitria et al

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil data dan penelitian, dapat diambil beberapa kesimpulan yang bersifat berbasis pengayaan ethnoscience produk buku
kimia adalah media cetak A5 berukuran. Buku pengayaan menimbulkan 4 tema budaya Jawa khususnya daerah Yogyakarta yang terdiri dari
Batik, Wayang Kulit, Merapi, dan tema belati. Setiap tema terdiri dari tiga bagian: informasi tema secara umum, transformasi ilmu dari ilmu
pengetahuan adat untuk ilmu pengetahuan ilmiah, dan langkah-langkah pembaharuan yang dapat dibuat berdasarkan fakta-fakta lingkungan
atau sosial hadir dalam tema. buku pengayaan yang dikembangkan oleh pemuatan afektif, kognitif, dan domain psikomotor. Hasil penilaian dari
pengayaan buku oleh ahli mendapat nilai prestasi dengan kategori cukup minimal dan maksimal yang sangat baik dan mendapatkan respon
yang baik dari siswa,

REFERENSI

1. Depdiknas, Model Mata Pelajaran Muatan Lokal (Depdiknas, Jakarta, 2006).


2. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Dokumen Kurikulum 2013 (Kemendikbud, Jakarta, 2012).
3. T. Sastrawijaya, “Proses Belajar Mengajar Kimia” (P2LPTK Dirgen Dikti Depdikbud, Jakarta, 1988).
4. D. Nugraheni, S. Mulyani dan SRD Ariani, JPK, 3, 2, 34-41, 2013.
5. IW Suastra, JPP IKIP Negeri Singaraja, 3, 1, 377-396, 2005.
6. A. Nisa', Sudarmin dan Samini, USEJ, 4, 3, 1049-1056, 2015.
7. U. Toharudin, S. Hendrawati, HA Rustaman, (Humaniora, Bandung, 2011).
8. Pusat Kurikulum Dan Perbukuan. Pedoman Penulisan Buku Nonteks Pelajaran (Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta, 2008).

9. E. Matanga, dan S. Jerie, Jsda, 13, 4, 369-409, 2011.


10.HSA Putra, “ethnoscience Dan Etnoteknologi”, (Kongres Kebudayaan, Bukittinggi, 2003).
11.PISA 2012 Hasil: Siap untuk Belajar (Volume III) Mahasiswa Engagement, Drive dan Self Keyakinan (OECD Publishing, 2013).

12.S. Nasution, “BERBAGAI Pendekatan hearts Proses Belajar Mengajar” (PT Bumi Aksara, Jakarta, 2008).
13.NS Sukmadinata, Metode Penelitian Pengembangan, (PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2011).

57
International Journal of Chemistry Pendidikan Penelitian - Vol. 2 . 1 Fe 201