Anda di halaman 1dari 8

Nama : Fadhila Khusma Aziz

N.I.M : 931330714
Makul : Tafsir

A. Analisis dan contoh keadilan dalam aspek aqidah, akhlak dan syariat
1. Aspek Aqidah

Kata "Aqidah" diambil dari kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-
yaqiin (keyakinan) dan al-jazmu (penetapan). Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada
keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Sedang pengertian aqidah dalam
agama maksudnya adalah berkaitan dengan keyakinan bukan perbuatan. apa yang telah
menjadi ketetapan hati seorang secara pasti adalah aqidah; baik itu benar ataupun salah.

Menurut istilah Akidah Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa
menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh,
yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan.

Contoh Keadilan dalam Aqidah


Seorang muslim melaksanakan kewajibanya setiap hari dengan shalat lima waktu,
puasa di bulan ramadhan, zakat dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan kesadaran masing-
masing. Tetapi masih banyak yang tidak melaksanakanya.

2. Aspek Akhlak
Menurut bahasa (etimologi) akhlak juga berasal dari bahasa Arab, yaitu [‫]خلق‬
jamaknya [‫ ]أخالق‬yang artinya tingkah laku, perangai tabi’at, watak, moral atau budi
pekerti.

Dari segi istilah (terminologi) istilah akhlak oleh para ahli diartikan sebagai
berikut :
a. Ibnu Maskawih akhlak adalah keadaan jiwa seseorang untuk melalui perbuatan
tanpa melakukan pemikiran dan pertimbangan terlebih dahulu.
b. Al-Ghazali akhalk adalah ungkapan dari suatu sifat yang tetap dalam jiwa timbul
perbuatan yang mudah tanpa atau tidak memerlukan pemikiran dan pertimbangan
terlebih dahulu.

Di dalam masyarakat, sering terlihat manusia lebih terpengaruh oleh


dorongan perasaan egoistis yang selalu memperhatikan haknya sendiri tetapi mereka
lupa dengan kewajibannya untuk ditunaikan yang menjadi hak orang lain. Dalam
mendapatkan hak, harus terlebih dahulu mengerjakan kewajiban-kewajibannya.
Seseorang yang bekerja pada sebuah perusahaan, jika ia ingin dibayar
gajinya maka ia harus mengerjakan terlebih dahulu tugas yang diberikan atasannya

1
kepadanya. Dan tugas itu diselesaikan sesuai keinginan atasannya. Jika sudah selesai
semua tugas-tugas ynag diberikan atasan berulah ia akan mendapat gaji, yang mana
biasanya gaji diberikan setiap 1 bulan sekali.

3. Aspek Syariat
SYARIAT adalah “Pandangan Hidup” (syara), 'Pegangan Hidup' (syariah),
dan 'Perjuangan Hidup' (manhaj) yg diwahyukan oleh Allah SWT untuk seluruh
umat manusia, agar diketahui, dipatuhi, dan dilaksanakan dlm hidup dan
kehidupannya.

Dalam kaitannya dengan keadilan hukum dalam Alquran ini, konstitusi Islam
mengatur hak dan kewajiban berdasarkan keadilan. Di antara konsep keadilan itu,
antara lain:

1) Setiap orang berhak mendapatkan perlindungan bagi kebebasan pribadinya;


2) Setiap orang berhak memperoleh makanan, perumahan, perkawinan, pendidikan,
dan perawatan medis;
3) Setiap orang berhak mempunyai pikiran, mengemukakan pendapat dan
kepercayaan selama ia masih berada dalam batas-batas yang ditetapkan hukum;
4) Setiap orang yang dianggap tidak bersalah sampai akhirnya dinyatakan bersalah
oleh pengadilan, dan beberapa hak dan kewajiban yang menyambut beberapa
aspek sosial, politik, ekonomi, pertahanan, keamanan dan sebagainya.

B. Mendapatkan Syafaat dan Dalil-dalilnya

1. Tauhid dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah serta ittiba’ kepada Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kebalikan dari syirik yang merupakan penghalang syafaat di atas tentu


tauhid. Tidak diragukan lagi bahwa tauhid sebagai penyebab yang paling besar untuk
mendapatkan syafa’at pada hari Kiamat. Nabi SAW pernah ditanya: “Siapakah orang
yang paling bahagia dengan syafa’atmu pada hari Kiamat? ” Nabi menjawab :

‫صا ِم ْن‬ ً ‫َّللاُ خَا ِل‬ َّ ‫عتِي يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة َم ْن قَا َل ََل ِإلَهَ ِإ ََّل‬
َ ‫شفَا‬ ِ َّ‫أَ ْس َعدُ الن‬
َ ِ‫اس ب‬
‫قَ ْلبِ ِه أَ ْو نَ ْف ِس ِه‬
“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang
mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya”. [HR
Bukhari, no. 99]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : ”Syafa’at, sebabnya


adalah tauhid kepada Allah, dan mengikhlaskan agama dan ibadah dengan segala
2
macamnya kepada Allah. Semakin kuat keikhlasan seseorang, maka dia berhak
mendapatkan syafa’at. Sebagaimana dia juga berhak mendapatkan segala macam
rahmat. Sesungguhnya, syafa’at adalah salah satu sebab kasih sayang Allah kepada
hambaNya. Dan yang paling berhak dengan rahmatNya adalah ahlut- tauhid dan
orang-orang yang ikhlas kepadaNya. Setiap yang paling sempurna dalam
mewujudkan kalimat ikhlas (laa ilaahaa illallaah) dengan ilmu, keyakinan, amal, dan
berlepas diri dari berbagai bentuk kesyirikan, loyal kepada kalimat tauhid, memusuhi
orang yang menolak kalimat ini, maka dia yang paling berhak dengan rahmat Allah.
[Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, XIV/414 dengan ringkas].

2. Membaca al Qur`an.

Dari Abi Umamah bahwasannya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi


wa sallam bersabda :

‫ش ِفيعًا‬ َ ‫ا ْق َر ُءوا ْالقُ ْرآنَ فَإِنَّهُ َيأْتِي َي ْو َم ْال ِق َيا َم ِة‬


ْ َ ‫ِِل‬
‫ص َحا ِب ِه‬
“Bacalah al Qur`an. Sesungguhnya al Qur`an akan datang pada hari Kiamat sebagai
pemberi syafa’at bagi sahabatnya…” [HR Muslim, no.804].

Yang dimaksud para sahabat al Qur`an, mereka adalah orang-orang yang


membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkan isinya.

Al-Qur’an akan memberikan syafa’at (dengan izin Allah) bagi orang yang
membacanya (dengan menghayati artinya) dan mengamalkan isinya [Lihat kitab
“Bahjatun naazhiriin” (2/240)]

3. Sering Membaca Surat Al-Mulk

Sering-seringlah membaca surat Al-Mulk, setiap malam (sebelum tidur)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa


sallam bersabda :

َ َ‫احبِ َها َحتَّى يُ ْغفَ َر لَهُ {تَب‬


‫ار َك‬ ِ ‫ص‬ ِ ‫ورة ٌ ِمنَ ْالقُ ْر‬
َ ‫آن ثَالَثُونَ آيَةً تَ ْشفَ ُع ِل‬ َ ‫س‬ُ
‫ فأخرجته من النار و أدخلته الجنة‬:‫ وفي رواية‬.} ُ‫الَّذِى ِب َي ِد ِه ْال ُم ْلك‬
“Satu surat dalam al-Qur’an (yang terdiri dari) tiga puluh ayat (pada hari kiamat)
akan memberi syafa’at (dengan izin Allah Ta’ala) bagi orang yang selalu
membacanya (dengan merenungkan artinya) sehingga Allah mengampuni (dosa-
dosa)nya, (yaitu surat al-Mulk): “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala

3
kerajaan/kekuasaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”. Dalam riwayat lain:
“…sehingga dia dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga”

Faidah penting lainnya:

– Keutamaan dalam hadits ini diperuntukkan bagi orang yang selalu membaca surat
al-Mulk dengan secara kontinyu disertai dengan merenungkan kandungannya dan
menghayati artinya [Lihat kitab “Faidhul Qadiir” (4/115)].

–Surat ini termasuk surat-surat al-Qur’an yang biasa dibaca oleh


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum tidur di malam hari, karena
agungnya kandungan maknanya [HR at-Tirmidzi (no. 2892) dan Ahmad (3/340),
dinyatakan shahih oleh syaikh al-Albani dalam “ash-Shahiihah” (no. 585

– Membaca surat Al-Mulk setiap malam juga dapat menghindarkan pemiliknya dari
adzab kubur.

4. Puasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‫ب‬
ِ ِّ ‫ي َر‬ ِّ ِ ‫ان ِل ْل َع ْب ِد َي ْو َم ْال ِقيَا َم ِة َيقُو ُل‬
ْ َ ‫الص َيا ُم أ‬ ِ ‫آن َي ْشفَ َع‬ُ ‫الص َيا ُم َو ْالقُ ْر‬ِّ ِ
ُ‫آن َمنَ ْعتُه‬ُ ‫ش ِفِّ ْعنِي فِي ِه َويَقُو ُل ْالقُ ْر‬َ َ‫ار ف‬ ِ ‫ت ِبالنَّ َه‬ ِ ‫ش َه َوا‬ َّ ‫ام َوال‬ َّ ُ‫َمنَ ْعتُه‬
َ ‫الط َع‬
ِ ‫شفَّ َع‬
‫ان‬ َ َ‫النَّ ْو َم ِباللَّ ْي ِل ف‬
َ ُ‫ش ِفِّ ْع ِني ِفي ِه قَا َل فَي‬
“Puasa dan al Qur`an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari
Kiamat kelak. Puasa akan berkata : “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari
makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk
memberi syafa’at kepadanya”. Sedangkan al Qur`an berkata : “Aku telah
melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk
memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at”.

5. Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari Ibnu Mas’ud, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam


bersabda :

ً ‫ص َالة‬ َ ‫اس بِي يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة أَ ْكثَ ُر ُه ْم‬


َّ َ‫عل‬
َ ‫ي‬ ِ َّ‫أَ ْولَى الن‬
“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah yang
paling banyak shalawat kepadaku” [HR Tirmidzi].

4
6. Memperbanyak sujud.

Dari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami, dia berkata: “Aku pernah bermalam
bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mendatangi beliau sambil
membawa air untuk wudhu’ beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku,’Mintalah’.
Aku berkata,’Aku minta untuk dapat menemanimu di surga,’ kemudian beliau
berkata, ‘Atau selain itu?’ Aku berkata,’Itu saja’. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :

ُّ ‫ِك بِ َكثْ َرةِ ال‬


‫س ُجو ِد‬ َ ‫فَأ َ ِعنِِّي‬
َ ‫علَى نَ ْفس‬
“Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud”. [HR Muslim, no.489, 226].

7. Doa setelah adzan

Dari artikel “Kiat Mendapatkan Syafa’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi


Wa Sallam” karya Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas yang disalin dari Majalah
As-Sunnah Edisi 11/Tahun IX/1426 H/2005 M melalui perantaraan Dari Abdullah bin
‘Amr bin Al ‘Ash, beliau mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

‫صلَّى‬ َ ‫ى فَإِنَّهُ َم ْن‬ َ ‫صلُّوا‬


َّ َ‫عل‬ َ ‫س ِم ْعت ُ ُم ْال ُم َؤ ِذِّنَ فَقُولُوا ِمثْ َل َما َيقُو ُل ث ُ َّم‬
َ ‫ِإذَا‬
‫ى ْال َو ِسيلَةَ فَإِنَّ َها‬ َّ ‫سلُوا‬
َ ‫َّللاَ ِل‬ َ ‫ع ْش ًرا ث ُ َّم‬َ ‫علَ ْي ِه ِب َها‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ُ‫َّللا‬ َ ً ‫صالَة‬ َ ‫ى‬ َّ َ‫عل‬
َ
َّ ‫َم ْن ِزلَةٌ فِى ْال َجنَّ ِة َلَ تَ ْنبَ ِغى إَِلَّ ِلعَ ْب ٍد ِم ْن ِعبَا ِد‬
‫َّللاِ َوأَ ْر ُجو أ َ ْن أَ ُكونَ أَنَا‬
ُ ‫عة‬
َ ‫شفَا‬ ْ َّ‫ى ْال َو ِسيلَةَ َحل‬
َّ ‫ت لَهُ ال‬ َ ‫سأ َ َل ِل‬ َ ‫ُه َو فَ َم ْن‬
“Apabila kalian mendengar mu’adzin, maka ucapkanlah sebagaimana yang
diucapkan oleh muadzin, lalu bershalawatlah kepadaku, maka sungguh siapa saja
yang bershalawat kepadaku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sebanyak 10x.
Kemudian mintalah pada Allah wasilah bagiku karena wasilah adalah sebuah
kedudukan di surga. Tidaklah layak mendapatkan kedudukan tersebut kecuali untuk
satu orang di antara hamba Allah. Aku berharap aku adalah dia. Barangsiapa
meminta wasilah untukku, dia berhak mendapatkan syafa’atku.” (HR. Muslim no.
875)

Syaikh Al-Albani rohimahulloh berkata: ” Dalam hadits ini ada tiga sunnah
yang sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu menjawab adzan, sholawat
kepada Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam usai menjawabnya, dan memintakan
wasilah untuk Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam. Anehnya, engkau perhatikan
sebagian orang yang sangat fanatik memperjuangkan bid’ahnya sholawat muadzin
secara keras usai adzan, padahal hal tersebut merupakan kebid’ahan dalam agama
dengan kesepakatan ulama. Kalau mereka melakukan hal itu dengan alasan cinta

5
Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam, lantas kenapakah mereka tidak menghidupkan
sunnah ini dan meninggalkan bid’ah tersebut? Kita memohon hidayah.

C. Dalil-dalil yang berkaitan dengan kenikmatan dan siksa kubur.

Dalil tentang kenikmatan


Surat al Hajj ayat 56

ِ ‫ت فِي َجنَّا‬
‫ت‬ ِ ‫صا ِل َحا‬ َ ‫ْال ُم ْلكُ يَ ْو َمئِ ٍذ ِِّ َّلِّلِ يَ ْح ُك ُم بَ ْينَ ُه ْم ۚ فَالَّذِينَ آ َمنُوا َو‬
َّ ‫ع ِملُوا ال‬
‫النَّ ِع ِيم‬
Artinya:

“Kekuasaan pada hari itu adalah Kepunyaan Allah. Dia akan Membuat keputusan di
antara mereka. Maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh
berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan.”

Tafsir Ayat:
Al-mulku (kekuasaan), yakni keputusan.
Yauma-idzin (pada hari itu), yakni pada hari kiamat.

Lillāh, yahkumu bainahum (adalah Kepunyaan Allah. Dia akan Membuat keputusan di
antara mereka), yakni Dia akan Memutuskan di antara kaum Mukminin dan kaum kafirin.

Fal ladzīna āmanū (maka orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad saw. dan
al-Quran.

Wa ‘amilush shālihāti (dan mengerjakan amal-amal saleh), yakni mengerjakan berbagai


ketaatan yang berhubungan dengan Rabb-nya.

Fī jannātin na‘īm (berada di dalam surga yang penuh dengan kenikmatan) seraya
dimuliakan dengan berbagai pemberian.

Dalil tentang siksa kubur

6
Surat Al Annam 93

‫ش ْي ٌء‬َ ‫ي َولَ ْم يُو َح ِإلَ ْي ِه‬ َّ َ‫ي ِإل‬َ ‫وح‬ ِ ُ ‫َّللاِ َك ِذبًا أَ ْو قَا َل أ‬َّ ‫علَى‬ َ ‫ظلَ ُم ِم َّم ِن ا ْفتَ َر ٰى‬ْ َ ‫َو َم ْن أ‬
‫ت‬ِ ‫غ َم َرا‬ َ ‫الظا ِل ُمونَ فِي‬ َّ ‫َّللاُ ۚ َولَ ْو تَ َر ٰى ِإ ِذ‬ َّ ‫نز ُل ِمثْ َل َما أَنزَ َل‬ ِ ُ ‫سأ‬َ ‫َو َمن قَا َل‬
َ َ‫عذ‬
‫اب‬ َ َ‫س ُك ُم ۚ ْال َي ْو َم ت ُ ْجزَ ْون‬ َ ُ‫طو أ َ ْيدِي ِه ْم أَ ْخ ِر ُجوا أَنف‬ُ ‫ت َو ْال َم َالئِ َكةُ َبا ِس‬ِ ‫ْال َم ْو‬
َ‫ع ْن آيَاتِ ِه تَ ْستَ ْك ِب ُرون‬ َ ‫ق َو ُكنت ُ ْم‬ ِ ِّ ‫غي َْر ْال َح‬ َّ ‫علَى‬
َ ِ‫َّللا‬ َ َ‫ون بِ َما ُكنت ُ ْم تَقُولُون‬ ِ ‫ْال ُه‬

Artinya:

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat kebohongan
terhadap Allah, atau yang mengatakan, “Telah diwahyukan kepada saya,” padahal tidak
ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya, dan juga orang yang mengatakan, “Saya
akan menurunkan seperti apa yang Diturunkan Allah.” Sekiranya kamu melihat ketika
orang-orang zalim mengalami sakaratulmaut, sementara para malaikat membentangkan
tangannya, “Keluarkanlah nyawa kalian.” Pada hari ini kalian diberi balasan dengan
azab yang sangat menghinakan, karena kalian selalu mengatakan selain kebenaran
terhadap Allah, dan (karena) kalian senantiasa menyombongkan diri terhadap Ayat-ayat-
Nya.”

Tafsir ayat
Wa man azhlamu (dan siapakah yang lebih zalim), yakni siapakah yang lebih melampaui
batas dan lebih lancang.
Mimmaniftarā (daripada orang yang membuat-buat), yakni mereka-reka.

‘Alallāhi kadziban au qāla (kebohongan terhadap Allah, atau yang mengatakan) bahwa
Allah Ta‘ala tidak Menurunkan sesuatu pun kepada manusia. Orang tersebut adalah Malik
bin ash-Shaif. Makna au qāla (atau yang mengatakan), yakni dan orang yang mengatakan
….
Ūhiya ilayya (“Telah diwahyukan kepada saya”) sebuah kitab.

Wa lam yūha ilaihi syai-un (padahal tidak ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya),
yakni tak satu kitab pun yang diwahyukan kepadanya. Orang tersebut adalah Musailamah
al-Kadzdzab.

Wa mang qāla sa uηzilu mitsla mā aηzalallāh (dan juga orang yang mengatakan, “Saya
akan menurunkan seperti apa yang Diturunkan Allah”), yakni, “Saya akan mengatakan
seperti apa yang dikatakan Muhammad saw..” Orang tersebut adalah ‘Abdullah bin Sa‘d
bin Abi Sarh.
Wa lau tarā (dan sekiranya kamu melihat), hai Muhammad saw..

7
Idzizh zhālimūna (ketika orang-orang zalim), yakni orang-orang musyrik dan orang-orang
munafik pada Perang Badr.
Fī ghamarātil mauti (mengalami sakratulmaut), yakni ketika didatangi dan dijemput maut.

Wal malā-ikatu bāsithū aidīhim (sementara para malaikat membentangkan tangannya),


yakni memukulkan tangannya kepada roh-roh mereka.
Akhrijū (“Keluarkanlah), yakni para malaikat itu berkata,”Keluarkanlah”.
Aηfusakum (nyawa kalian”) roh kalian.

Al-yauma (pada hari ini), yakni pada hari Badr. Ada juga yang berpendapat, pada hari
kiamat.

Tujzauna ‘adzābal hūni (kalian akan diberi balasan dengan azab yang sangat
menghinakan), yakni azab yang teramat dahsyat.

Bimā kuηtum taqūlūna ‘alallāhi ghairal haqqi (karena kalian selalu mengatakan selain
kebenaran terhadap Allah), yakni sesuatu yang tidak benar.
Wa kuηtum ‘an āyātihī (dan [karena] kalian terhadap Ayat-ayat-Nya), yakni terhadap
Muhammad saw. dan al-Quran.

Tastakbirūn (senantiasa menyombongkan diri), yakni ketika di dunia kalian senantiasa


bersikap sombong untuk beriman kepada Muhammad saw..