Anda di halaman 1dari 11

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Glass Ionomer Cement

Glass Ionomer Cement pertama kali diperkenalkan ke dalam dunia

kedokteran gigi oleh Wilson dan Kent pada tahun 1972 sebagai salah satu bahan

restorasi gigi yang terdiri ion-ion yang dapat larut, serbuk kaca kalsium-

aluminium-fluorosilikat dengan asam poliakrilat (Breasciani dkk, 2004).

Glass Ionomer Cement memiliki sifat fisik yang baik yaitu kemampuan

adhesif kepermukaan enamel dan dentin yang berikatan secara kimia, juga

dapat melepaskan fluorida ke jaringan gigi sehingga dapat mencegah

terjadinya karies. Biokompatibel pada jaringan pulpa dan ekpansi termal yang

sama dengan gigi sehingga bahan ini banyak digunakan (Anusavice, 2003).

2.1.1.1 Komposisi Glass Ionomer Cement

2.1.1.1.1 Komposisi Bubuk

Bubuk (powder) glass ionomer adalah calcium

fluoroaliminosilicate glass yang larut dalam asam. Bahan baku akan

menyatu menjadi kaca yang seragam dengan memanaskannya pada suhu

1100o C sampai 1500o C, kemudian bahan yang telah mencair akibat

panas yang tinggi akan didinginkan dengan drastis sehingga kembali

mengeras dan selanjutnya akan dihaluskan menjadi bubuk partikel, untuk

material restorasi ukuran maksimum dari partikel 50 μm. Komponen

kaca akan mengalami pelepasan ion, laju pelepasan ion kaca akan

menentukan karakteristik pengerasan, kelarutan dan pelepasan fluoride

(Anusavice, 2003).
Bahan dasar Glass Ionomer Cement adalah silika (SiO2), alumina

(Al2O3), aluminium fluorida (AlF3) kalsium fluoride (CaF2), natrium

fluorida (NaF), dan aluminium fosfat (AlPO4). Rasio antara alumina dan

silika akan mempengaruhi reaktifitas antara bubuk dengan asam

poliakrilat. Penambahan Lanthanum, Strontium, Barium, atau Zinc Oxide

akan memberikan radiopacity (van Noort, 2007).

Gambar 2.1 Bubuk dan cairan Glass Ionomer Cement

2.1.1.1.2 Komposisi Cairan

Cairan (Liquid) Glass Ionomer Cement berwujud kental dan akan

berubah menjadi gel seiring waktu berjalan yang merupakan larutan

asam poliakrilat dalam konsentrasi sekitar 40% sampai 50%. Komposisi

asam dalam bentuk kopolimer dengan itaconic, maleat atau asam

trikarboksilat yang akan mengurangi kecenderungan untuk gelasi

sehingga menurunkan tingkat viskositas. Tartaric acid dapat

mempersingkat setting time dan dapat meningkatkan working time

(Anusavice, 2003).
3

2.1.1.2 Reaksi pengerasan Glass Ionomer Cement

Gambar 2.2 Fase-fase reaksi pengerasan Glass Ionomer Cement (Albers,

2002)

Reaksi pengerasan tersbut terdiri dari 3 fase, yaitu fase disolusi, fase

gelasi, dan fase pengerasan. Fase pertama yaitu disolusi terjadi ketika

mencampur bubuk dengan cairan, Ion hidrogen dari polimer poliasam asam

dan asam tartarik perlahan-lahan akan memecah bubuk ion-leachable

alumino-fluorosilicat dan mendegradasi lapisan terluar dari partikel kaca

sehingga melepaskan ion Ca2+ dan Al3+ atau kation logam, kemudian akan

bereaksi dengan ion fluor. Glass Ionomer Cement akan terlihat licin dan

mengkilap pada fase disolusi ini, yang diakibatkan dari matriks yang belum

bereaksi.

Fase kedua yaitu fase gelasi, terjadi pada fase initial setting (3-

5 menit) dimana dalam fase ini ion-ion Ca+2 dan Al+3 yang berasal dari

silica hydrogel terikat dengan polianion pada gugus polikarboksilat semen

yang berikatan silang secara ionik dengan rantai polianion sehingga semen
mulai mengeras dan terlihat lebih opak. Gugus polikarboksilat terbentuk

saat terjadi peningkatan pH. Pada fase ini semen cenderung rapuh pada

initial setting.

Fase ketiga yaitu fase pengerasan, dalam fase ini terjadi

penurunan tingkat pelepasan ion aluminium, dan terbentuknya polysalt

hidrogel yang mengelilingi bahan pengisi kaca yang belum tereaksi. Pada

fase ini terlihat secara klinis permukaan Glass Ionomer Cement akan

sewarna dengan gigi . Sifat fisik Glass Ionomer Cement akan meningkat

seiring terbentuknya aluminium polikarboksilat terutama setalah 24 jam

(final setting).

2.1.1.3 Sifat-sifat Glass Ionomer Cement

2.1.1.3.1 Biokompabilitas

Respon yang baik terhadap jaringan periodontal sehingga tidak

mengiritasi. Jika dibandingkan dengan semen seng oksida dan seng

polikarboksilat respon pulpa lebih baik, jika masih memiliki ketebalan

dentin tidak kurang dari 0,5 mm ke arah pulpa. Biokompabilitas Glass

Ionomer Cement yang baik akibat dari sifat lemah pada asam poliakrilat

serta berat molekulnya yang besar sehingga dapat mengikat kalsium

pada gigi (Almuhaiza, 2016)

2.1.1.3.2 Sifat Adhesif

Terdapat 2 mekanisme yang saling berhubungan pada adhesi dari

Glass Ionomer Cement, pertama yaitu micromechanical interlocking

yang berasal dari susunan antar cement tags pada lapisan dentin dengan

lapisan hybrid berupa hidroksiapatit berlapis fibril kolagen pada gigi

dan permukaan yang baru dilapisi Glass Ionomer Cement. Kedua, true
5

chemical bonding berasal dari ikatan ion antara gugus karboksil pada

molekul poliasam dengan ion kalsium pada gigi (Sidhu, 2011).

2.1.1.3.3 Pelepasan fluor

Glass Ionomer Cement memiliki sifat kariostatik karena dapat

melepas fluoride. Terdapat 2 mekanisme pelepasan fluor yaitu jangka

panjang dan jangka pendek. Pada 24-48 jam pertama setelah gigi

terpapar fluor terjadi pelepasan fluor yang tinggi, kemudian akan

menurun setelah beberapa minggu, oleh karena itu disebut pelepasan

fluor jangka pendek. Sedangkan pada pelepasan fluor jangka panjang ,

pelepasan fluornya lebih rendah namun stabil. Pada kondisi asam, akan

terjadi peningkatan pelepasan fluor, maka jumlah fluor pada fase

remineralisasi juga meningkat (Sidhu dan Nicholson, 2016).

2.1.1.3.4 Kelarutan

Glass Ionomer Cement memiliki kekurangan berupa kelarutan

yang tinggi, hal tersebut menyebabkan kehilangan material Glass

Ionomer Cement di dalam mulut. Kehilangan material diakibatkan oleh

air yang berdifusi kedalam material sehingga senyawa alumunium

akan larut. Larutan yang memiliki pH yang rendah menyebabkan

tingkat difusi air akan semakin besar dan larutnya senyawa alumunium

juga semakin meningkat, hal itu disebabkan oleh sifat korosif dari

asam. Kelarutan Glass Ionomer Cement yang direndam dengan larutan

berpH rendah lebih tinggi dibandingkan dengan resin komposit

(Dinakaran, 2014).

Sifat Glass Ionomer Cement juga memiliki kekurangan lainnya yaitu

rentan fraktur, dan rentan aus jika dibandingkan dengan resin komposit.
Selain itu juga memiliki sifat yang sensitif terhadap kelembapan dan

penyerapan air yang tinggi saat initial setting, oleh karena itu diperlukan

aplikasi bahan pelindung berupa varnish atau cocoa butter untuk

menghindari kontak dengan saliva dan mencegah dehidrasi selama initial

setting (Lohbauer, 2010).

Efek dari kegagalan dalam melindungi material Glass Ionomer Cement

selama fase initial setting yaitu selain mengalami dehidrasi, material akan

menjadi rapuh dan mudah terkikis akibat erosi dini sehingga dapat

menimbulkan kekasaran permukaan (Mohamad dkk, 2014).

2.1.2 Kekasaran Permukaan

Kekasaran permukaan merupakan suatu bentuk ketidakteraturan

permukaan material (Song J.F, 2010). Kekasaran permukaan pada bahan

restorasi dapat meningkatkan kemungkinan kolonisasi bakteri dan maturasi

plak sehingga memperbesar kemungkinan terjadinya karies sekunder dan

inflamasi pada jaringan periodontal. Glass Ionomer Cement dengan

lingkungan yang bersifat asam (pH rendah) dapat meningkatkan kekasaran

permukaannya (Permatasari dkk, 2016). Kekasaran permukaan di atas 0,2 µm

berpotensi meningkatkan perlekatan bakteri dan maturasi plak gigi

(Diansari dkk, 2016).

Kekasaran permukaan yang terjadi dipengaruhi dari kehilangan

material pada Glass Ionomer Cement, yaitu terlarutnya semen yang immature,

erosi jangka panjang, dan abrasi. Sebelum mencapai 24 jam atau final setting

terjadi proses kelarutan pada semen yang immature. Setelah melalui final

setting selama 2-3 hari kelarutan material akan terhenti, dan tergantikan oleh

fase kelarutan (erosi) jangka panjang (Van noort, 2007).


7

2.1.3 Minuman Berkarbonasi

2.1.3.3 Pengertian minuman berkarbonasi

Minuman berkarbonasi adalah minuman non alkohol yang dibuat

dengan mengabsorbsikan karbondioksida ke dalam air minum dengan

menambahkan rasa rasa buah seperti rasa cola, rasa stroberi, rasa lemon

dan teh, serta memiliki sifat yang sangat asam dengan pH antara 2-3

dan dapat diartikan bahwa pH minuman berkarbonasi berada di bawah

batas pH kritis rongga mulut. (Fredian dkk, 2014). Penambahan CO2

berguna untuk memperbaiki flavour minuman. Menghasilkan rasa asam

yang enak dan terasa segar yang khas di kerongkongan yaitu efek

sparkling (Fitriati dkk, 2017).

2.1.3.4 Komposisi

Minuman berkarbonasi secara umum memiliki komposisi sebagai

berikut yaitu air, pemanis (8:12 %, w/v), karbondioksida (0.3:0.6% w/v),

pemberi rasa asam atau acidulants (0.05÷0.3% w/v), perasa (0.1:0.5%

w/v), pewarna (0:70 ppm), antioksidan (<100 ppm), foaming agents

seperti saponins mencapai 200 mg/ml, dan gula buatan (Kregiel, 2015).

Kegunaan asam pada minuman berkarbonasi adalah sebagai

penyeimbang rasa manis dalam minuman. Asam yang biasa digunakan

pada cola yaitu citric acid, phosphoricacid, malic acid, asam alami pada

buah apel dan buah sitrus (Prasetyo, 2005). Kadar karbondioksida pada

minuman berkarbonasi beragam, untuk minuman buah kadar

karbonasinya rendah, cola memiliki kadar karbonasi sedang, dan air tonik

memiliki kadar karbonasi yang tinggi (Ashurt, 2005).


2.1.3.3 Efek minuman berkarbonasi

Minuman berkarbonasi memiliki pH yang rendah, hal itu akan

merubah suasana dalam rongga mulut menjadi asam. Suasana asam

tersebut mengakibatkan sistem buffer saliva tidak dapat menetralisir,

sehingga proses demineralisasi jaringan keras gigi berjalan cepat daripada

proses remineralisasi jaringan keras gigi (Setyaningsih dkk, 2010). Proses

demineralisasi tersebut akan meningkatkan kekasaran permukaan gigi dan

tumpatan termasuk Glass Ionomer Cement yang memiliki nilai kekasaran

permukaan yang cukup tinggi terutama setelah berkontak dengan

minuman asam (Al-akmaliyah dkk, 2013).

2.1.4 Masa Kedaluwarsa

Pengertian kedaluwarsa dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia

memiliki makna bahwa produk tersebut sudah melewati batas waktu

berlakunya sebagaimana sudah ditetapkan dan akan membahayakan

kesehatan (untuk produk makanan). Selain itu, kedaluwarsa juga merupakan

batasan waktu penyimpanan yang ditetapkan oleh pabrik yang terdapat pada

kemasan. Berdasarkan kamus Cambridge, masa kedaluwarsa yaitu batasan

waktu akhir produk tersebut baik untuk digunakan atau dikonsumsi. Menurut

peraturan Menteri Kesehatan Nomor 346 / Men.kes/per/IX/1985, yaitu batas

akhir suatu makan dijamin mutunya sepanjang mengikuti petunjuk produsen

(Tobing dkk, 2017).

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 1998

tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan menjelaskan

bahwa penendaan dan informasi farmasi harus memenuhi persyaratan yang

salah satu informasi yang harus tercantum pada kemasan yaitu batas waktu
9

kedaluwarsa. Hal tersebut sesuai dengan kewajiban produsen untuk

memenuhi hak-hak konsumen yang diatur juga oleh Pasal 4 Undang-Undang

Nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen yaitu konsumen berhak

atas kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengonsumsi atau

menggunakan barang, serta informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai

barang tersebut, termasuk tanggal kedaluwarsa (Supardi dkk, 2012).

2.1.5 Hubungan minuman berkarbonasi dan masa kedaluwarsa dengan kekasaran

permukaan Glass Ionomer Cement

Minuman berkarbonasi memiliki pH di bawah pH kritis (5,5) sedangkan

Glass Ionomer Cement memiliki ketahanan asam yang rendah sehingga Glass

Ionomer Cement mudah mengalami erosi pada permukaannya dan dapat

menyebabkan terjadinya kekasaran permukaan. Kondisi yang asam pada

rongga mulut menyebabkan ion hidrogen (H+) akan berdifusi dan

menggantikan ion metal dalam matrik Glass Ionomer Cement. Proses

selanjutnya yaitu kation metal seperti Ca2+, Na+, dan Al3+ akan terlepas

sehingga meninggalkan porus pada permukaan yang menjadi faktor penyebab

peningkatan kekasaran permukaan pada Glass Ionomer Cement (Sundari,

2016). Pada penelitian Hamouda (2014), tingkat kekasaran permukaan Glass

Ionomer Cement lebih tinggi dibandingkan dengan Resin Modified Glass

Ionomer setelah dilakukan perendaman selama 7 hari pada minuman

berenergi yang mengandung karbonasi.


2.2 Kerangka Teori

Masa
Glass Ionomer Cement
Kedaluwarsa
Konsumsi
minuman
berkarbonasi
Penurunan
kualitas bahan
Restorasi Glass
Ionomer Cement pH 2,37
(dibawah
pH kritis )

Erosi Permukaan Glass


Ionomer Cement

Kekarasan Permukaan
Glass Ionomer Cement

2.3 Kerangka Konsep

Masa Kedaluwarsa

Kekarasan Permukaan
Glass Ionomer Cement
Glass Ionomer Cement

Perendaman minuman
berkarbonasi
11

2.4 Hipotesa

Hipotesis Nol (H0) : tidak ada perbedaan kekasaran permukaan Glass Ionomer

Cement dengan masa kedaluwarsa yang berbeda.

Hipotesis Kerja (H1) : adanya perbedaan kekasaran permukaan Glass Ionomer

Cement dengan masa kedaluwarsa yang berbeda.