Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Fisiologi tentang Pendengaran dan Keseimbangan

Ketua : Alexander Zethiawan Bang 102017083


Anggota :
1. Gisela Nathasa Pufianny 102017040
2. Inez Tasya Usup 102017142
3. Maria Mediatrix Mahendrajati Udiata 102016017
4. Mario Fenerando Alfin Putra Epu 102017176
5. Nadya Gabriella Susanto 102017162
6. Raymond 102017027
7. Saartje Natalia Gosan 102017100

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara no.6, Kebon Jeruk, Jakarta Barat
Pemeriksaan Pendengaran
I. Tujuan percobaan: Mengetahui berbagai jenis cara pemeriksaan pendengaran serta
hasilnya.
II. Alat:
1. Penala dengan berbagai frekuensi
2. Kapas untuk menyumbat telinga
III. Cara kerja:
Cara Rinne
1. Getarkanlah penala (frekuensi 256 atau yang lain) dengan cara memukulkan salah
satu ujung jarinya ke telapak tangan. Jangan sekali-kali memukulkannya pada benda
yang keras
2. Tekankanlah ujung tangkai penala pada processus mastoideus salah satu telinga
pasien simulasi.
3. Tanyakanlah kepada pasien simulasi apakah ia mendengar bunyi penala mendengung
di telinga yang diperiksa, bila demikian pasien simulasi harus segara memberi tanda
bila dengungan bunyi itu menghilang.
4. Pada saat itu pemeriksa mengangkat penala dari processus mastoideus pasien simulasi
dan kemudian ujung jari penala ditempatkan sedekat-dekatnya di depan liang teling
yang sedang diperiksa itu
5. Catatlah hasil pemeriksa rinne sebagai berikut:
Positif: Bila pasien simulasi masih mendengar dengungan secara hantaran
aerotimpanal.
Negatif: Bila pasien simulasi tidak lagi mendengar dengungan hantaran aerotimpanal.
Cara Weber
1. Getarkanlah penala (frekuensi 256 atau yang lain) dengan cara seperti no. A.1.
2. Tekankanlah ujung tangkai penala pada dahi pasien simulasi di garis median.
3. Tanyakan kepada pasien simulasi apakah ia mendengar dengungan bunyi penala sama
kuat di kedua telinganya ataukah terjadi lateralisasi. Apa yang dimaksud dengan
lateralisasi?
4. Bila ada pasien simulasi tidak terdapat lateralisasi, maka untuk menimbulkan
lateralisasi secara buatan, tutuplah salah satu telinganya dengan kapas dan ulangi
pemeriksaannya.
Cara Schwabach
1. Getarkanlah penala (frekuensi 256 atau yang lain) dengan cara seperti no.A.1.
2. Tekanlah ujung tangkai penala pada proc. mastoideus salah satu pasien simulasi.
3. Suruhlah pasien simulasi mengacungkan tangannya pada saat dengung bunyi
menghilang
4. Pada saat itu dengan segera pemeriksa memindahkan penala dari processus
mastoideusnya sendiri. Pada pemeriksaan ini telinga si pemeriksa dianggap normal.
Bila dengungan penala setelah dinyatakan berhenti oleh si pemeriksa maka hasil
pemeriksaan adalah SCHWABACH MEMENDEK.
5. Apabila dengungan penala setelah dinyakan berhenti oleh pasien simulasi juga tidak
dapat didengar oleh si pemeriksa, maka hasil pemeriksaan mungkin SCHWABACH
NORMAL ATAU SCHWABACH MEMANJANG.
Untuk memastikan hal ini maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
- Penala digetarkan, ujung tangkai mula-mula ditekankan ke processus mastoideus si
pemeriksa sampai tidak terdengar lagi, kemudian ujung tangkai penala segera
ditekankan ke processus mastoideus pasien simulasi.
- Bila dengungan (setelah dinyatakan berhenti oleh si pemeriksa) masih dapat didengar
oleh pasien simulasi, hasil pemeriksaan adalah SCHWABACH MEMANJANG
- Bila dengungan setelah dinyatakan berhenti oleh si pemeriksa juga tidak dapat
didengar oleh pasien simulasi maka hasil pemeriksaan adalah SCHWABACH
NORMAL
IV. Hasil percobaan:
- Cara Rinne: (+)
- Cara Weber: tidak ada lateralisasi
- Cara Schwabach: normal
V. Pembahasan:
Tes garpu tala adalah suatu tes untuk mengevaluasi fungsi pendengaran individu
secara kualitatif. Tes yang dapat digunakan ialah tes Rinne, tes Weber, dan tes
Schwabach. karena mewakili frekuensi percakapan normal. Tes Weber dan tes Rinne
adalah tes garpu tala yang penting untuk mendiagnosis atau mengkonfirmasi ketulian,
tapi hanya tes Rinne yang dapat mendiagnosis jenis ketuliannya, sedangkan tes weber
hanya mendeteksi perbedaan antara kedua telinga.
Pada percobaan yang dilakukan, PS normal dengan cara tes Rinne positif,
menggunakan tes Weber tidak ada lateralisasi, dalam tes Schwabach yaitu
membandingkan pendengaran telinga pasien dan pemeriksa. Pemeriksa yang
melakukan harus mempunyai pendengaran normal.
VI. Kesimpulan:
Hasil tes
- Cara Rinne: (+)
- Cara Weber: tidak ada lateralisasi
- Cara Schwabach: normal sama dengan pemeriksa
Pasien dinyatakan normal

Sikap dan Keseimbangan Badan


Percobaan I: Pengaruh Kedudukan Kepala dan Mata yang Normal terhadap
Keseimbangan Badan
I. Tujuan percobaan:
Mengetahui pengaruh posisi kepala dan mata terhadap keseimbangan.
II. Cara kerja:
1. Suruhlah pasien simulasi berjalan mengikuti suatu garis lurus di lantai dengan mata
terbuka dan kepala serta badan dalam sikap yang biasa. Perhatikan jalannya dan
tanyakan apakah ia mengalami kesukaran dalam mengikuti garis lurus tersebut.
2. Ulangi latihan di atas (no.1) dengan mata tertutup.
3. Ulangi latihan di atas (no.1 dan 2) dengan:
a) Kepala dimiringkan dengan kuat ke kiri
b) Kepala dimiringkan dengan kuat ke kanan
III. Hasil percobaan:
Posisi kepala Mata Arah jalan
Terbuka Lurus
Tegak
Tertutup Miring ke kanan lalu ke kiri
Terbuka Lurus
Miring ke kiri
Tertutup Miring ke kanan lalu ke kiri
Terbuka Lurus
Miring ke kanan
Tertutup Miring ke kanan lalu ke kiri

IV. Pembahasan:
Keseimbangan merupakan suatu proses kompleks yang melibatkan 3 pengindraan
penting yaitu propioseptif (kemampuan untuk mengetahui posisi tubuh), sistem vestibular
(kemampuan untuk mengetahui posisi kepala), dan mata (untuk memonitor perubahan
posisi tubuh). Gangguan terhadap salah satu dari ketiga jalur tersebut akan membuat
keseimbangan terganggu. Pada saat mata tertutup, tidak ada masukan informasi dari mata
yang berupa perubahan posisi tubuh sehingga jalan menjadi miring. Pada saat kepala
dimiringkan dengan mata tertutup, tidak ada masukan informasi dari mata serta organ
vestibularis juga terganggu karena posisi organ vestibularis tidak pada posisi yang
normal.
V. Kesimpulan:
Posisi kepala dan mata mempengaruhi keseimbangan. Posisi kepala
mempengaruhi letak organ vestibularis, sedangkan mata berpengaruh terhadap adanya
masukan informasi atau tidak ke batang otak dan serebelum. Maka dari itu, orang yang
berjalan dengan mata tertutup dengan posisi kepala tegak atau miring akan berjalan tidak
lurus (miring).

Percobaan II: Latihan dengan kursi Barany


I. Tujuan percobaan:
 Memahami terjadinya nistagmus pada saat dan setelah rotasi serta penyebabnya.
 Memahami adanya penyimpangan penunjukan setelah rotasi serta penyebabnya.
 Memahami mekanisme keseimbangan dinamis dan struktur yang berperan.
 Memahami mekanisme adanya sensasi yang ditimbulkan dari rotasi.
II. Alat: Kursi Barany
III. Cara kerja:
A. Nistagmus
1. Suruhlah pasien simulasi duduk tegak di kursi Barany dengan kedua tangan
memegang erat tangan kursi.
2. Tutup kedua matanya dengan saputangan dan tundukkan kepalanya 30o ke depan.
3. Putarlah kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur dan tanpa sentakan.
4. Hentikan pemutaran kursi dengan tiba-tiba.
5. Bukalah saputangan (buka mata) dan suruhlah pasien simulasi melihat jauh ke
depan.
6. Perhatikan adanya nistagmus.
7. Tetapkan arah komponen lambat dan cepat nistagmus tersebut.
B. Tes Penyimpangan Penunjukan/Past Pointing Test of Barany
1. Suruhlah pasien simulasi duduk tegak di kursi Barany dan tutuplah kedua
matanya dengan saputangan.
2. Pemeriksa berdiri tepat di muka kursi Barany sambil mengulurkan tangan kirinya
kearah pasien simulasi.
3. Suruhlah pasien simulasi meluruskan lengan kanannya ke depan sehingga dapat
menyentuh jari tangan pemeriksa yang telah diulurkan sebelumnya
4. Sururhlah pasien simulasi mengangkat lengan kanannya ke atas dan kemudian
dengan cepat menurunkannya kembali sehingga dapat menyentuh jari pemeriksa
lagi.
Tindakan no.1 s/d 4 merupakan persiapan untuk tes yang sesungguhnya sebagai
berikut:
5. Suruhlah pasien simulasi dengan kedua tangannya memegang erat tangan kursi,
menundukkan kepala 30o ke depan.
6. Putarlah kursi ke kanan 10 kali dalam 20 detik secara teratur tanpa sentakan.
7. Segera setelah pemutaran, kursi dihentikan dengan tiba-tiba, suruhlah pasien
simulasi menegakkan kepalanya dan melakukan tes penyimpangan penunjukan
seperti di atas.
8. Perhatikan apakah terjadi penyimbangan penunjukan oleh pasien simulasi. Bila
terjadi penyimpangan, tetapkanlah arah penyimpangannya. Teruskanlah tes
tersebut sampai pasien simulasi tidak salah lagi menyentuh jari tangan pemeriksa.
C. Tes Jatuh
1. Suruhlah pasien simulasi duduk di kursi Barany dengan kedua tangannya
memegang erat tangan kursi.
Tutuplah kedua matanya dengan kedua saputangan dan bungkukkan kepala dan
badannya sehingga posisi kepala membentuk sudut 120o dari posisi normal.
2. Putarlah kursi ke kanan 10 kali dalam 10 detik secara teratur dan tanpa sentakan.
3. Segera setelah pemutaran kursi dihentikan dengan tiba-tiba, suruhlah pasien
simulasi menegakkan kembali kepala dan badannya.
4. Perhatikan ke mana dia akan jatuh dan tanyakan kepada pasien simulasi kemana
rasanya ia akan jatuh.
5. Ulangi tes jatuh ini, tiap kali pada pasien simulasi lain dengan:
a) Memiringkan kepala kearah bahu kanan sehingga kepala miring 90o
terhadap posisi normal.
b) Menengadahkan kepala kea rah belakang sehingga membuat sudut 60o.
6. Hubungkan arah jatuh pada setiap latihan dengan arah aliran endolimfe pada
kanalis semisirkularis yang terangsang.
D. Kesan/Sensasi
1. Gunakan pasien simulasi yang lain. Suruhlah pasien simulasi duduk di kursi
Barany dan tutuplah kedua matanya dengan saputangan.
2. Putarlah kursi tersebut ke kanan dengan kecepatan yang berangsur-angsur
bertambah dan kemudian kurangilah kecepatan putarannya secara berangsur-
angsur pula sampai berhenti.
3. Tanyakan kepada pasien simulasi arah perasaan berputar:
a) Sewaktu kecepatan putar masih bertambah
b) Sewaktu kecepatan putar menetap
c) Sewaktu kecepatan putar dikurangi
d) Segera setelah kursi dihentikan
4. Berikan keterangan mengenai mekanisme terjadinya arah perasaan berputar yang
dirasakan oleh pasien simulasi.
IV. Hasil percobaan:
A. Jenis & arah
B. Arah C. Gerakan
nistagmus
Posisi kepala penyimpangan kompensasi Sensasi
(komponen
penunjukan (arah jatuh)
cepat)

30° ke depan Ke kiri Ke kanan

60° ke
Ke kanan Ke kiri
belakang

120° ke depan Ke kanan Ke kiri

Miring 90° ke
Ke kiri Ke kanan
bahu kanan

Keadaan D. Arah sensasi berputar

Saat kecepatan putar masih bertambah Ke kanan

Saat kecepatan putar menetap Ke kanan

Saat kecepatan putar berkurang Ke kiri

Setelah kursi dihentikan Ke kiri

V. Pembahasan:
A. Nistagmus
Nistagmus merupakan gerakan bola mata yang involunter. Hal ini dikarenakan
oleh adanya masukan informasi dari reseptor di mata dan reseptor pada kanalis
semisirkularis yang dihantarkan ke nukleus vestibularis di batang otak serta
serebelum yang saling berkoordinasi. Adanya pemrosesan informasi menghasilkan
keluaran ke neuron motorik otot mata eksternal.
Rotatory nystagmus merupakan keadaan bola mata yang bergerak-gerak saat PS
berputar pada kursi Barany dengan mata terturup. Post-rotatory nystagmus
merupakan keadaan bola mata yang bergerak-gerak saat kursi Barany yang berputar
dihentikan dan PS membuka matanya. Rotatory nystagmus tidak dapat dilihat,
sedangkan post-rotatory nystagmus dapat dilihat.
B. Tes Penyimpangan Penunjukan/Past Pointing Test of Barany
Adanya masukan informasi dari mata, otot dan sendi, serta kanalis vestibularis
akan mempengaruhi keseimbangan. Mata mengirimkan masukan tentang perubahan
posisi tubuh, otot dan sendi mengirimkan masukan tentang posisi tubuh, serta kanalis
semisirkularis mengirimkan masukan tentang posisi kepala. Pada saat rotasi
diberhentikan, mata akan mengalami post-rotatory nystagmus, endolimfe dalam
kanalis sentralis yang terangsang masih akan terus bergerak ke arah rotasi, dan otak
berusaha untuk memerintahkan otot dan sendi untuk memukul tangan pemeriksa.
Dikarenakan oleh hal tersebut, maka PS tidak bisa langsung memukul tangan
pemeriksa dengan tepat, PS melakukan penyimpangan ke arah kanan dari tangan
pemeriksa karena endolimfe masih berputar ke kanan, dan PS tepat memukul tangan
pemeriksa pada saat ketiga kali-nya.
C. Tes Jatuh
Kanalis semisirkularis berfungsi untuk mendeteksi adanya akselerasi dan
deselerasi rotasional kepala. Kanalis semisirkularis terdiri dari tiga bagian yaitu
kanalis semisirkularis vertikal superior, horizontal, dan vertikal inferior. Setiap
kanalis semisirkularis mengandung endolimfe yang dikelilingi peilimfe. Pada dasar
kanalis semisirkularis, terdapat ampula. Dalam ampula, terdapat kupula yang
merupakan tempat adanya sel rambut reseptor. Kupula menonjol ke dalam endolimfe,
sehingga pergerakan endolimfe menyebabkan kupula terdorong dan membungkuk
serta sel rambut tertekuk. Adanya akselerasi dan deselerasi rotasi pada kepala
menyebabkan pergerakan endolimfe pada salah satu kanalis semisirkularis. Saat
dimulai rotasi, endolimfe tidak bergerak searah rotasi karena tidak melekat pada
tengkorak. Endolimfe tertinggal di belakang karena adanya inersia sehingga
endolimfe bergerak berlawanan dengan arah rotasi. Karena endolimfe bergerak
berlawanan, maka kupula miring ke arah yang berlawanan juga dan menekuk sel
rambut. Jika rotasi tetap berlanjut pada arah dan kecepatan yang sama, endolimfe
akan menyusul bergerak bersamaan dengan arah rotasi sehingga sel rambut kembali
ke posisinya semul. Ketika rotasi diperlambat dan dihentikan, endolimfe akan
melanjutkan pergerakan ke arah rotasi, sedangkan kupula dan sel rambut miring ke
arah yang berlawanan dengan arah rotasi sebelumnya.
Pada percobaan C, saat posisi kepala 60° di belakang, kanalis semirsirkularis yang
terangsang adalah kanalis semisirkularis posterior. Endolimfe akan bergerak ke kiri,
sehingga PS seharusnya jatuh ke kiri. Saat posisi kepala 120° ke depan, kanalis
semisirkularis yang terangsang adalah kanalis semisirkularis superior. Endolimfe
akan bergerak ke kanan sehingga PS seharusnya jatuh ke kanan. Saat posisi kepala
miring 90° derajat ke kanan, kanalis semirsirkularis yang terangsang adalah kanalis
semisirkularis posterior. Endolimfe akan bergerak ke belakang sehingga PS
seharusnya jatuh ke belakang. Semua arah sensasi akan berlawanan dengan arah jatuh
PS.

D. Kesan/Sensasi
Sel rambut pada kupula terdiri dari 1 kinosilium dan banyak stereosilia yang
tersusun berurutan mulai dari kinosilium yang tertinggi. Stereosilia dihubungkan oleh
tip link. Saat stereosilia terdefleksi oleh gerakan endolimfe, tegangan pada tip link
menarik kanal ion berpintu mekanis di sel rambut. Sel rambut akan mengalami
depolarisasi ketika stereosilia menekuk ke arah kinosilium dan hiperpolarisasi ketika
stereosilia menekuk menjauhi kinosilium. Depolarisasi menyebabkan meningkatnya
frekuensi potensial aksi, sedangkan hiperpolarisasi bersifat mengurangi. Sel rambut
bersinaps dengan ujung terminal neuron aferen yang aksonnya akan bergabung
dengan akson vestibularis lain mementuk saraf vestibularis. Saraf vestibularis akan
bergabung dengan saraf koklearis menjadi saraf vestibulokoklearis. Saraf
vestibulokoklearis akan menghantarkan informasi pada nukleus vestibularis di batang
otak serta serebelum. Dengan demikian, kanalis semisirkularis mendeteksi adanya
perubahan kecepatan rotasi. Saat keadaan tidak bergerak atau dalam kecepatan
menetap, kanalis semisirkularis tidak berespons.
Pada percobaan D, PS duduk di kursi Barany yang berputar ke arah kanan. Saat
ada akselerasi, PS merasakan kursi berputar ke kanan. Saat kecepatan menetap, PS
masih merasakan kursi berputar ke kanan. Saat deselerasi, PS merasakan kursi
berputar ke arah kiri. Saat pemberhentian, PS masih merasakan adanya putaran ke
kiri. Hal ini dikarenakan oleh kupula dan sel rambut yang membutuhkan waktu untuk
menyesuaikan pada keadaan yang sesungguhnya. Seharusnya pada saat kecepatan
menetap, PS tidak bisa merasakan arah kemana ia berputar karena kanalis
semisirkularis merespons adanya perubahan kecepatan.
VI. Kesimpulan:
Keseimbangan diatur oleh organ vestibularis yang terdiri dari kanalis
semisirkularis dan organ otolit yaitu utrikulus dan sakulus. Kanalis semisirkularis
mengatur keseimbangan dinamis atau rotasional, sedangkan organ otolit mengatur
keseimbangan statis atau linier. Reseptor kanalis semisirkularis yaitu sel rambut akan
mengirimkan masukan kepada nukleus vestibularis di batang otak dan kepada serebelum.
Bersama dengan masukan lainnya dari reseptor di mata, reseptor di otot dan sendi, dan
reseptor di kulit, masukan dari sel rambut akan diproses secara terkoordinasi oleh nukleus
vestibularis dan serebelum. Adanya pemrosesan akan menimbulkan keluaran pada neuron
motorik otot eksternal mata, neuron motorik otot ekstremitas dan badan, serta keluaran ke
sistem saraf pusat tentang persepsi gerakan.

Percobaan III: Latihan Sederhana untuk Kanalis Semisirkularis Horisontalis


I. Tujuan percobaan:
Mengetahui pengaruh kanalis semisirkularis horizontal terhadap keseimbangan tubuh.
II. Alat: Tiang
III. Cara kerja:
1. Suruhlah pasien simulasi, dengan mata tertutup dan kepala ditundukkan 30o, berputar
sambil berpegangan pada tongkat atau statif, menurut arah jarum jam, sebanyak 10
kali dalam 30 detik.
2. Suruhlah pasien simulasi berhenti, kemudian membuka matanya dan berjalan lurus ke
muka.
3. Perhatikan apa yang terjadi.
4. Ulangi latihan ini dengan berputar menurut arah yang berlawanan dengan arah jarum
jam.
IV. Hasil percobaan:
- Setelah rotasi searah jarum jam, PS berjalan miring ke kanan.
- Setelah rotasi dengan arah berlawanan jarum jam, PS berjalan miring ke kiri.
V. Pembahasan:
Saat dimulai rotasi, endolimfe tidak bergerak searah rotasi karena tidak melekat
pada tengkorak. Endolimfe tertinggal di belakang karena adanya inersia sehingga
endolimfe bergerak berlawanan dengan arah rotasi. Karena endolimfe bergerak
berlawanan, maka kupula miring ke arah yang berlawanan juga dan menekuk sel rambut.
Jika rotasi tetap berlanjut pada arah dan kecepatan yang sama, endolimfe akan menyusul
bergerak bersamaan dengan arah rotasi sehingga sel rambut kembali ke posisinya semul.
Ketika rotasi diperlambat dan dihentikan, endolimfe akan melanjutkan pergerakan ke
arah rotasi, sedangkan kupula dan sel rambut miring ke arah yang berlawanan dengan
arah rotasi sebelumnya. Pada rotasi searah jarum jam, endolimfe bergerak terus menerus
ke kanan, maka tubuh akan miring ke kanan. Pada rotasi berlawanan arah jarum jam,
cairan endolimfe akan bergerak terus menerus ke kiri, maka tubuh akan miring ke kiri.

VI. Kesimpulan:
Arah cairan endolimfe yang bergerak pada kanalis semisirkularis horizontal akan
mempengaruhi kemana arah tubuh akan miring. Tubuh akan miring ke arah yang sama
dengan arah pergerakan endolimfe.

Daftar Pustaka

1. Sherwood L. Fisiologi manusia: dari sel ke sistem. Edisi 8. Jakarta: EGC; 2017.
2. Guyton, Hall. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 11. Jakarta: EGC; 2012.