Anda di halaman 1dari 24

I.

PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Paru adalah struktur elastik yang dibungkus dalam sangkar thoraks, yang merupakan
suatu bilik udara kuat dengan dinding yang dapat menahan tekanan. Paru-paru ada dua,
merupakan alat pernafasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada, terletak disebelah kanan
dan kiri dan ditengah dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besarnya dan struktur
lainnya yang terletak didalam mediastinum. Paru-paru (Bahasa Inggris: Lung, dari kata
Latin pulmones untuk paru-paru.) adalah organ utama pada sistem pernapasan (respirasi) dan
berhubungan dengan sistem peredaran darah (sirkulasi) dan juga sistem ekskresi. Fungsinya
adalah untuk menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah atau sering
disebut “bernapas”. Pada umumnya paru-paru terdapat pada hewan mamalia termasuk juga
manusia.

I.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana biofarmasi sediaan paru dan parenteral?

I.3 Tujuan
1. Bagaimana biofarmasi sediaan paru dan parenteral?
II. ISI
2.1 Biofarmasi Sediaan Paru Dan Parenteral

istilah terapi aerosol, biasanya digunakan sebagai salah satu perawatan untuk penyakit
paru obstruktif kronis (PPOK), yakni sejumlah penyakit yang menyerang paru-paru
dalam jangka panjang, yang biasanya disebabkan oleh kombinasi dari beberapa penyakit
pernapasan seperti bronkitis kronis, asma, dan emfisema.

Pemberian Obat melalui Paru

Kandungan obat yang digunakan dalam terapi inhalasi meliputi bronkodilator untuk
melegakan saluran pernapasan (bronkus), kortikosteroiduntuk menurunkan reaksi
peradangan, antibiotik, antikolinergik untuk membantu relaksasi otot pernapasan, dan
mukolitik untuk mengencerkan dahak.
• Menurut FI III
• Aerosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat berkhasiat dalam wadah
yang diberi tekanan, berisi propelan atau campuran propelan yang cukup untuk
memancarkan isinya hingga habis, dapat digunakan untuk obat luar atau obat dalam
dengan menggunakan propelan yang cukup.
• I.3 Menurut FI IV
• Aerosol farmasetik adalah sediaan yang dikemas dibawah tekanan, mengandung
zat aktif terapeutik yang dilepas pada saat sistem katup yang sesuai ditekan. Sediaan
ini digunakan untuk pemakaiaan topical pada kulit dan juga pemakaiaan local pada
hidung ( aerosol nasal ), mulut ( aerosol lingual ) atau paru-paru ( aerosol inhalasi )
ukuran partikel untuk aerosol inhalasi harus lebih kecil dari 10 mm, sering disebut juga
“ inhaler dosis turukur “. Aerosol Busa adalah emulsi yang mengandung satu atau
lebih zat aktif, surfaktan, cairan mengandung air atau tidak, dan propelan.

Peningkatan penghantaran obat dilakukan dengan pembentukan mikropartikel (aerosol)


sehingga obat dapat diberikan melalui paru

 Aerosol merupakan dispersi butiran cairan yang sangat halus dalam udara dan
diameter rata-rata 5µm

 Aerosol merupakan istilah yang digunakan untuk sediaan semprotan kabut tipis dari
sistem bertekanan tinggi
 Menurut FI III : Aerosol adalah sediaan yang mengandung satu atau lebih zat
berkhasiat dalam wadah yang diberi tekanan, berisi propelan yang cukup untuk
memancarkan isi gas hingga habis.

 Keuntungan pemakaian aerosol :

1. Mudah digunakan karena sedikit kontak dengan tangan

2. Bahaya kontaminasi tidak ada karena wadah kedap udara

3. Takaran dosis dapat diatur

4. Iritasi pada pemakaian topikal bisa dikurangi

Kerugian :

Cara Pemberian ini diperlukan alat dan metode khusus yang agak sulit dikerjakan,
sukar mengatur dosis dan sering obatnya mengiritasi epitel paru

 Jenis Aerosol :

1. Sistem 2 fase (gas dan cair)

2. Sistem 3 fase (gas,cair dan padat)

SISTEM 3 FASE

 Terdiri dari : Suspensi/emulsi ZA, Propelan cair dan uap propelan

 BJ propelan < BJ zat aktif maka propelan cair berada diantara lapisan uap dan ZA

SISTEM 2 FASE

 Terdiri dari : Larutan ZA dalam propelan cair dan propelan uap

 Pelarut : Etanol, Propilenglikol

 PERJALANAN AEROSOL DI DALAM TUBUH ☻ TRANSIT ATAU


PENGHIRUPAN ☻ PENANGKAPAN ATAU DEPO ☻ PENAHANAN DAN
PEMBERSIHAN ☻ PENYERAPAN
 9. PENGHIRUPAN DAN PERPINDAHAN ☻ Aerosol memulai pejalanan dari alat
generator sampai titik fiksasinya di epitel pernapasan. ☻ Tetesan aerosol mula-mula
mencapai cavum bucallis, kemudian menuju trakea, bronkus, bronkiolus, kanal
alveoli dan akhirnya ke alveoli paru. ☻ Faktor-faktor yang mempengaruhi
perpindahan partikel : Ukuran partikel, pernapasan dan laju pengaliran udara, jenis
aliran, kelembaban, suhu dan tekanan.
PENAHANAN ATAU DEPO ☻ Pada tahap kedua dimana terjadi penahanan atau depo,
partikel aerosol ditahan oleh epitel oleh broncho-alveoli. Hanya sebagian partikel yang
diteruskan sedang bagian lainnya ditolak. ☻ Cara Penahanan : 1. Tumbukan karena
kelembaban 2. Pengendapan karena gaya tarik bumi 3. Difusi (gerakan brown)

1. PENAHANAN DAN PEMBERSIHAN ☻ Setelah penangkapan zat aktif yang


dihirup dari aerosol maka partikel akan tertahan di permukaan tempat depo. ☻
Aktivitas partikel aerosol ditentukan oleh laju pelarutan dan difusi melintasi selaput
mukosa, perubahan laju perjalanan dan peniadaannya dari lapisan mukosa ter- sebut.
☻ Pada mekanisme pembersihan paru (makrofag alveoler), maka peniadaan partikel
oleh mukosilia adalah lebih penting. Lamanya pembersihan ini adalah sekitar 100 jam
untuk partikel yang dibersihkan oleh selaput mukosilia, 30-40 % dikeluarkan pada 24
jam pertama.
2. 18. P E N Y E R A P A N ☻ Pada tahap penyerapan, sebagian bahan yang dihirup
dalam bentuk aerosol akan terikat dalam saluran napas dan selanjutnya diserap oleh
mukosa saluran. ☻ Untuk bahan dalam jumlah yang sangat besar kadarnya di dalam
darah dan air kemih perlu ditentukan. ☻ Penyerapan ini dapat terjadi pada berbagai
tempat yang berbeda dan kadang-kadang selektif untuk beberapa zat aktif tertentu. »»
di hidung, mulut, trakea, bronkus, alveoler, dan di saluran cerna.

Berikut ini adalah dua jenis perangkat yang digunakan dalam terapi aerosol:

Inhaler

Terapi aerosol inhaler adalah alat penghirup genggam yang bekerja dengan menyemprotkan
obat melalui corong atau masker. Inhaler bekerja lebih cepat daripada obat oral yang harus
melalui proses aliran darah terlebih dahulu. Terapi aerosol inhaler tersedia dalam 3 jenis,
yakni:

 Meter dose inhaler


Ini merupakan perangkat genggam untuk memasukkan obat asma langsung ke dalam
paru-paru dalam bentuk aerosol. Anda harus menekan perangkat ini untuk
mengembuskan obat ke dalam paru-paru.
 Dry powder inhaler
Perangkat ini memiliki fungsi yang sama, yaitu memasukkan obat ke saluran
pernapasan. Bedanya dengan meter dose inhaler, Anda cukup menghirup alat ini
untuk memasukkan obat ke dalam paru-paru secara langsung tanpa menekan apa pun.
 Soft mist inhaler
Ini adalah perangkat jenis terbaru yang mengubah obat ke dalam bentuk uap, sehingga
memaksimalkan obat yang masuk ke dalam paru-paru.

Nebulizer

Terapi aerosol nebulizer adalah perangkat terapi inhalasi aerosol yang mengubah obat cair
menjadi uap yang bisa Anda hirup. Nebulizer kurang nyaman untuk dibawa-bawa ketika
bepergian karena pemakaian alat ini membutuhkan waktu beberapa puluh menit. Dokter
atau petugas medis bisa mengajarkan cara pemakaian alat ini kepada Anda. Terdapat tiga
jenis nebulizer, yakni:

 Jet
Ini adalah perangkat terapi aerosol nebulizer yang sudah ditemukan sejak lama, alat
ini menggunakan udara bertekanan untuk menghasilkan uap yang halus.
 Ultrasonik
Perangkat ini jenis yang lebih baru dari jet, dan menggunakan getaran ultrasonik
untuk menghasilkan uap dari obat cair.
 Vibrating mesh
Perangkat terapi aerosol yang satu ini adalah yang terbaru dan termahal di antara dua
alat sebelumnya. Karena bentuknya yang paling ringkas dan nyaris tidak bersuara.
 1 Keuntungan pemakaian aerosol
 Beberapa keistimewaan aerosol farmasi yang dianggap menguntungkan lebih
dari bentuk sediaan lain adalah sebagai berikut :
a. Sebagian obat dapat dengan mudah diambil dari wadah tanpa sisanya menjadi
tercemar atau terpapar.
b. Berdasarkan pada wadah aerosol yang kedap udara, maka zat obat terlindung dari
pengaruh yang tidak diinginkan akibat O2 dan kelembapan udara.
c. Pengobatan topikal dapat diberikan secara merata, melapisi kulit tanpa menyentuh
daerah yang diobati.
d. Dengan formula yang tepat dan pengontrolan katup, bentuk fisik dan ukuran
partikel produk yang dipancarkan dapat diatur yang mungkin mempunyai andil dalam
efektivitas obat; contohnya, kabut halus yang terkendali dari aerosol inhalasi.
e. Penggunaan aerosol merupakan proses yang “bersih,” sedikit tidak memerlukan
“pencucian” oleh pemakainya.
 f. Mudah digunakan dan sedikit kontak dengan tangan
 g. Bahaya kontaminasi tidak ada karena wadah kedap udara
 h. Iritasi yang disebabkan oleh pemakaian topikal dapat dikurangi
 I .Takaran yang dikehendaki dapat diatur
 j. Bentuk semprotan dapat diatur

 II.2 Kerugian pemakaian aerosol


 Kerugian bentuk sediaan aerosol dalam bentuk MDI (Metered Dose Inhalers) :
a. MDI biasanya mengandung bahan obat terdispersi dan masalah yang sering timbul
berkaitan dengan stabilitas fisiknya;
b. Seringnya obat menjadi kurang efektif;
c. Efikasi klinik biasanya tergantung pada kemampuan pasien menggunakan MDI
dengan baik dan benar.

Sediaan parenteral didefinisikan sebagai obat steril, larutan atau suspense yang dikemas
dengan cara yang sesuai untuk pemberian melalui suntukan hiperdermis baik dalam bentuk
siap pakai maupun bentuk yang perlu ditambahkan pelarut yang sesuai atau agen
pensuspensi. Klasifikasi sediaan injekasi sebagai berikut.

1. Larutan sejati dengan pembawa air


2. Larutan sejati dengan pembawa minyak
3. Larutan sejati dengan pembawa campuran
4. Suspense steril dengan pembawa air
5. Suspense steril dengan pembawa minyak
6. Emulsi steril
7. Serbuk kering

Pengembangan rute pemberian

1. Rute Transdermal (ID)

 Pada pemberian secara intradermal, atau dapat pula intrakutan, obat disuntukkan pada
lapisan superfisial kulit
 Melalui rute ini, volume larutan yang disuntikkan biasanya dalam jumlah kecil, hanya
0,1 mL untuk sekali pakai. Biasanya cara ini dicadangkan untuk pengujian
diagnostika dan dalam jumlah terbatas untuk vaksin

 Absorpsi melalui rute ini lambat, menyebabkan hasil kerja onset obat pun lambat.

2. Rute Subkutan (Sc)

 Injeksi volume kecil dilakukan pada jaringan longgar di bawah kulit, biasanya pada
permukaan terluar dari lengan datau paha.

 Respons obat yang diberikan dengan cara ini lebih cepat daripada respons obat yang
diberikan secara intradermal.
3. Rute Intramuskular (IM)

 Injeksi secara intramuscular dapat dilakukan pada massa otot

 Lokasi yang biasa digunakan adalah otot deltoid (segitiga) pada lengan bagian atas,
dimana disuntikkan sebanyak 2 mL larutan obat

 Volume lebih besar maksimal 5 mL dapat diinjeksikan ke dalam otot gluteal medial
dari setiap penonjolan (buttock)

 Absorpsi melalui rute intramuscular berlangsung lebih cepat daripada rute subkutan,
dapat ditunda atau diperlama dengan cara pemberian obat dalam bentuk suspense
steril, baik dalam pembawa air maupun minyak

4. Rute Intravena (IV)

 Larutan bervolume besar atau kecil dapat diberikan ke dalam vena untuk
mendapatkan efek lebih cepat

 Hasilnya dapat diperkirakan, tetapi pemberian melalui rute ini potensial berbahaya
Karena tidak dapat mundur begitu obat sudah diberikan
 Larutan obat yang mengiritasi dapat diberikan menurut rute ini Karena terjadi
pengenceran secara cepat oleh darah dan cairan intravena dapat diberikan sebagai
pengencer

 Metode pemberian ini tidak terbatas pada vol dan jumlah serta lokasi, menyebabkan
cara ini mudah dilakukan.

5. Rute Intraarteri

 Rute intraarteri tidak sering digunakan.

 Alasan lazim untuk memanfaatkan rute intraarteri adalah memasukkan material radio
opak (bahan kontras) untuk tujuan diagnostic, seperti untuk arteriogram.

 Beberapa obat neoplastic seperti metotreksat diberikan melalui rute ini.

 Selain itu, kemungkinan terjadi spasmus arteri yang selanjutnya dapat diikuti oleh
gangrene merupakan bagian (resiko) dari penyuntikan dengan cara ini.

Keuntungan pemberian obat secara parenteral

1. Respon fisiologi segera dapat dicapai jika diperlukan, seperti cardiact arrest, asma,
dan syok

2. Diperlukan untuk obat yang tidak efektif secara oral atau akan dirusakn oleh sekresi
saluran cerna, seperti insulin, hormone lain, dan antibiotika

3. Pengobatan untuk pasien yang tidak kooperatif atau tidak sadarkan diri

4. Jika dibutuhkan, terapi parenteral memberikan wewenang kepada dokter untuk


mengontrol obat Karena pasien harus kembali menjalankan pengobatan

5. Dapat memberikan efek local jika diperlukan, seperti pada dokter gigi dan
anastesiologi

6. Jika perpanjangan kerja obat diperlukan, tersedian bentuk secara intraarticular yang
bekerja diperlama, sperti steroid yang disuntikkan secara intrartikular, dan penisilin
yang diberikan dengan cara injeksi intramuscular dalam.
7. Cara untu melakukan koreksi gangguan serius kesetimbnagan cairan dan elektrolit
dalam tubuh

8. Jika makanan tidak dpt diberikan ke dalam lambung, baik melalui mulut maupun
tabung, maka pemberian nutrisi secara total dapat diberikan menurut cara parenteral

Kerugian pemberian obat secara parenteral

1. Sediaan harus diberikan oleh personal terlatih (dokter, mantri, perawat, bidan

2. Membutuhkan waktu lebih lama jika dibandingkan dengan pemberian obat menurut
rute lain

3. Pemberian obat secara parenteral secara ketat mengikuti ketentuan/prosedur aseptic,


dan kadang – kadang rasa nyeri yang timbul pada pemberian obat secara parenteral
tidak dapat dihindarkan

4. Begitu obat sudah diberikan secara parenteral, sulit untuk membalikkan/mengurangi


efek fisiologinya

5. Karena persyaratan manufaktur dan pengemasan, sediaan parenteral lebih mahal


harganya dibandingkan dengan sediaan yang diberikan menurut rute lain

Aminofilin adalah obat bronkodilator yang dapat melebarkan saluran udara bronkus pada
paru-paru untuk mengatasi sesak nafas serta meningkatkan serapan oksigen. Itulah
mengapa obat ini umum diresepkan untuk mengatasi gejala-gejala akibat penyempitan
saluran napas, seperti pada bronkitis akut, asma, emfisema, PPOK, dan sebagainya.
Kombinasi teofilin dengan etilendiamin membuat Aminofilin lebih stabil dan larut dalam
air sehingga efeknya akan lebih cepat dibanding hanya teofilin tunggal. Obat ini diberikan
dengan cara injeksi (suntikan) ataupun tablet (oral). Injeksi lebih diutamakan pada kondisi
pasien yang membutuhkan pertolongan segera, karena cara inilah yang bekerja lebih
cepat.

Mekanisme Kerja
Aminofilin yang merupakan turunan santin dari kombinasi teofilin dan etilenadiamin. Setelah
masuk tubuh, teofilin dilepaskan dari aminofilin, dan teofilin merenggangkan otot polos
bronkial dan pembuluh darah di paru-paru serta mengurangi respons terhadap histamin,
methacholine, adenosine, dan alergen yang menyebabkan keluhan sesak dan batuk.
Teofilin secara kompetitif menghambat phosphodiesterase (PDE) tipe III dan tipe IV, enzim
yang bertanggung jawab untuk memecah AMP siklik di sel otot polos, sehingga terjadilah
bronkodilatasi (pelebaran bronkus).

Teofilin juga berikatan dengan reseptor adenosin A2B untuk menghambat bronkokonstriksi
yang dimediasi adenosin. Pada keadaan inflamasi, teofilin mengaktifkan deasetilase histone
untuk mencegah transkripsi gen inflamasi, dimana proses transkripsi tersebut memerlukan
asetilasi histone.

Indikasi atau Kegunaan Aminofilin


Aminofilin digunakan untuk meringankan gejala bronkitis dengan merileksasi otot polos
bronkial dan pembuluh darah paru-paru. Menstimulasi pernapasan pusat dan meningkatkan
kontraksi diafragma.

Kontraindikasi
Tidak semua orang boleh menggunakan obat ini, penderita yang diketahui memiliki kondisi
di bawah ini tidak boleh menggunakan:

 Memiliki riwayat hipersensitif/ alergi terhadap kandungan obat ini baik teofilin maupun
etilenadiamin.
 Mengalami porfirian akut.
 Sedang mengonsumsi obat dari jenis santin lainnya.
Dosis Aminofilin dan Cara Penggunaan
Aminofilin tersedia dalam bentuk sediaan dan kekuatan dosis berikut:

 Tablet: 200 mg.


 Injeksi: 24 mg/ mL (IV).
kemasan aminofilin injeksi

Dosis terbaik adalah yang diresepkan oleh dokter Anda. Adapun dosis yang lazim digunakan
adalah sebagai berikut:

Bronkitis akut (obat suntik/ infus)


 Dewasa:
 Awal: 5 mg/ kg atau 250 – 500 mg dengan injeksi perlahan atau infus 20 -30 menit.
 Pemeliharaan: 0,5 mg/ kg/ jam. Maksimum penggunaan 25 mg/ menit.
 Anak-anak:
 Awal: Sama dengan dosis dewasa.
 Pemeliharaan:
 6 bulan – 9 tahun: 1 mg/ kg/ jam.
 10 – 16 tahun: 0,8 mg/ kg/jam.
 Lansia: pemeliharaan: 0,3 mg/ kg/ jam.
Bronkitis kronis (obat minum)
 Dewasa: 225-450 mg dua kali sehari. Dosis ditambah sesuai kebutuhan.
 Anak-anak > 40 kg: 225 mg dua kali sehari. Ditambah hingga 450 mg dua kali sehari jika
dibutuhkan.
 Lansia: Dosis diperkecil dibanding dosis anak.
kanker paru-paru dimulai ketika sel-sel paru-paru menjadi abnormal dan mulai tumbuh di luar
kendali. Sebagai sel kanker yang lebih berkembang, mereka dapat membentuk menjadi tumor
dan menyebar ke area lain dari tubuh.
Ada 2 jenis utama kanker paru-paru:

· Sekitar 80% sampai 85% dari kanker paru-paru non-kecil kanker paru-paru sel (non-
small cell lung cancer/NSCLC)
· Sekitar 10% sampai 15% adalah kanker paru-paru sel kecil (small cell lung
cancer/SCLC)

FDA menyetujui TECENTRIQ

Drug Administration (FDA) menyetujui TECENTRIQ® (atezolizumab) untuk


pengobatan orang dengan kanker paru-paru sel metastatik non-kecil (NSCLC) yang
memiliki perkembangan penyakit selama atau setelah kemoterapi yang mengandung
platinum, dan telah berkembang pada terapi yang ditargetkan jika tumor mereka memiliki
EGFR(estimated glomerular filtration rate) atau kelainan gen ALK (anaplastic
lymphoma kinase).
Persetujuan ini berdasarkan hasil dari uji klinik Tahap III “OAK” dan Tahap II
“POPLAR”. Studi terbesar, OAK, menunjukkan bahwa TECENTRIQ membantu orang
dalam populasi penelitian secara keseluruhan hidup median dari 13,8 bulan, 4,2 bulan
lebih lama dibandingkan mereka yang diobati dengan docetaxel kemoterapi (median
keseluruhan survival [OS]: 13,8 vs 9,6 bulan; HR = 0,74, 95% CI: 0,63, 0,87).

Penelitian ini melibatkan orang tanpa memandang status PD-L1 mereka dan termasuk
kedua jenis penyakit skuamosa dan non-skuamosa.

“TECENTRIQ adalah pilihan baru untuk membantu orang dengan jenis kanker metastatik
paru sebelumnya diobati, terlepas dari ekspresi PD-L1 dan hidup lebih lama dari
kemoterapi” kata Sandra Horning, Kepala Medical Officer and Head of Global Product
Development Roche.

“TECENTRIQ adalah yang pertama dan satu-satunya imunoterapi kanker yang disetujui
yang dirancang untuk menargetkan protein PD-L1, yang mungkin memainkan peran
penting dalam cara kerja obat.” tutupnya.
Program pengembangan TECENTRIQ mencakup lebih dari 15 uji klinis pada kanker
paru-paru, termasuk tujuh fase III studi di sebelumnya tidak diobati (lini pertama) kanker
paru-paru. Studi ini mengevaluasi penggunaan TECENTRIQ sendiri atau dalam
kombinasi dengan obat lain.

Anatomi Paru
Paru-paru terletak pada rongga dada, berbentuk kerucut yang ujungnya berada di atas

tulang iga pertama dan dasarnya berada pada diafragma. Paru terbagi menjadi dua yaitu,

paru kanan dan paru kiri. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus sedangkan paru-paru kiri

mempunyai dua lobus. Kelima lobus tersebut dapat terlihat dengan jelas. Setiap paru-paru

terbagi lagi menjadi beberapa subbagian menjadi sekitar sepuluh unit terkecil yang disebut

bronchopulmonary segments. Paru-paru kanan dan kiri dipisahkan oleh ruang yang disebut

mediastinum (Sherwood, 2001)

Paru-paru dibungkus oleh selaput tipis yaitu pleura. Pleura terbagi menjadi pleura viseralis
dan pleura pariental. Pleura viseralis yaitu selaput yang langsung membungkus paru,
sedangkan pleura parietal yaitu selaput yang menempel pada rongga dada. Diantar kedua
pleura terdapat rongga yang disebut kavum pleura (Guyton, 2007).
Paru manusia terbentuk setelah embrio mempunyai panjang 3 mm. Pembentukan paru di
mulai dari sebuah Groove yang berasal dari Foregut. Pada Groove terbentuk dua kantung
yang dilapisi oleh suatu jaringan yang disebut Primary Lung Bud. Bagian proksimal foregut
membagi diri menjadi 2 yaitu esophagus dan trakea. Pada perkembangan selanjutnya trakea
akan bergabung dengan primary lung bud. Primary lung bud merupakan cikal bakal bronchi
dan cabang-cabangnya. Bronchial-tree terbentuk setelah embrio berumur 16 minggu,
sedangkan alveoli baru berkembang setelah bayi lahir dan jumlahnya terus meningkat hingga
anak berumur 8 tahun. Alveoli bertambah besar sesuai dengan perkembangan dinding toraks.
Jadi, pertumbuhan dan perkembangan paru berjalan terus menerus tanpa terputus sampai
pertumbuhan somatic berhenti

Fisiologi Paru

Paru-paru dan dinding dada adalah struktur yang elastis. Dalam

keadaan normal terdapat lapisan cairan tipis antara paru-paru dan

dinding dada sehingga paru-paru dengan mudah bergeser pada

dinding dada. Tekanan pada ruangan antara paru-paru dan dinding

dada berada di bawah tekanan atmosfer (Guyton, 2007).

Fungsi utama paru-paru yaitu untuk pertukaran gas antara darah

dan atmosfer. Pertukaran gas tersebut bertujuan untuk

menyediakan oksigen bagi jaringan dan mengeluarkan karbon

dioksida. Kebutuhan oksigen dan karbon dioksida terus berubah


14

sesuai dengan tingkat aktivitas dan metabolisme seseorang, tapi

pernafasan harus tetap dapat memelihara kandungan oksigen dan

karbon dioksida tersebut (West, 2004).

Udara masuk ke paru-paru melalui sistem berupa pipa yang

menyempit (bronchi dan bronkiolus) yang bercabang di kedua

belah paru-paru utama (trachea). Pipa tersebut berakhir di

gelembung-gelembung paru-paru (alveoli) yang merupakan

kantong udara terakhir dimana oksigen dan karbondioksida

dipindahkan dari tempat dimana darah mengalir. Ada lebih dari

300 juta alveoli di dalam paru-paru manusia bersifat elastis. Ruang

udara tersebut dipelihara dalam keadaan terbuka oleh bahan kimia

surfaktan yang dapat menetralkan kecenderungan alveoli untuk

mengempis (McArdle, 2006).

Untuk melaksanakan fungsi tersebut, pernafasan dapat dibagi

menjadi empat mekanisme dasar, yaitu:

1. Ventilasi paru, yang berarti masuk dan keluarnya udara antara alveoli dan atmosfer

2. Difusi dari oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan darah

3. Transport dari oksigen dan karbon dioksida dalam darah dan cairan tubuh ke dan

dari sel
4. Pengaturan ventilasi (Guyton, 2007).
15

Pada waktu menarik nafas dalam, maka otot berkontraksi, tetapi

pengeluaran pernafasan dalam proses yang pasif. Ketika diafragma

menutup dalam, penarikan nafas melalui isi rongga dada kembali

memperbesar paru-paru dan dinding badan bergerak hingga

diafragma dan tulang dada menutup ke posisi semula. Aktivitas

bernafas merupakan dasar yang meliputi gerak tulang rusuk

sewaktu bernafas dalam dan volume udara bertambah (Syaifuddin,

2001).

Inspirasi merupakan proses aktif kontraksi otot-otot. Inspirasi

menaikkan volume intratoraks. Selama bernafas tenang, tekanan

intrapleura kira-kira 2,5 mmHg relatif lebih tinggi terhadap

atmosfer. Pada permulaan, inspirasi menurun sampai -6mmHg dan

paru-paru ditarik ke posisi yang lebih mengembang dan tertanam

dalam jalan udara sehingga menjadi sedikit negatif dan udara

mengalir ke dalam paru-paru. Pada akhir inspirasi, recoil menarik

dada kembali ke posisi ekspirasi dimana tekanan recoil paru-paru

dan dinding dada seimbang. Tekanan dalam jalan pernafasan

seimbang menjadi sedikit positif sehingga udara mengalir ke luar

dari paru-paru (Syaifuddin, 2001).

Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan gerakan pasif

akibat elastisitas dinding dada dan paru-paru. Pada waktu otot


interkostalis eksternus relaksasi, dinding dada turun dan lengkung

diafragma naik ke atas ke dalam rongga toraks, menyebabkan


16

volume toraks berkurang. Pengurangan volume toraks ini

meningkatkan tekanan intrapleura maupun tekanan intrapulmonal.

Selisih tekanan antara saluran udara dan atmosfir menjadi terbalik,

sehingga udara mengalir keluar dari paru-paru sampai udara dan

tekanan atmosfir menjadi sama kembali pada akhir ekspirasi (Price,

2005).

Proses setelah ventilasi adalah difusi yaitu, perpindahan oksigen

dari alveol ke dalam pembuluh darah dan berlaku sebaliknya untuk

karbondioksida. Difusi dapat terjadi dari daerah yang bertekanan

tinggi ke tekanan rendah. Ada beberapa faktor yang berpengaruh

pada difusi gas dalam paru yaitu, faktor membran, faktor darah dan

faktor sirkulasi. Selanjutnya adalah proses transportasi, yaitu

perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru

dengan bantuan aliran darah (Guyton, 2007).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi paru adalah,

1. Usia

Kekuatan otot maksimal pada usia 20-40 tahun dan dapat

berkurang sebanyak 20% setelah usia 40 tahun. Selama proses

penuan terjadi penurunan elastisitas alveoli, penebalan

kelenjar bronkial, penurunan kapasitas paru.


2. Jenis kelamin

Fungsi ventilasi pada laki-laki lebih tinggi 20-25% dari pada

wanita, karena ukuran anatomi paru laki-laki lebih besar


17

dibandingkan wanita. Selain itu, aktivitas laki-laki lebih tinggi

sehingga recoil dan compliance paru sudah terlatih.

3. Tinggi badan dan berat badan

Seorang yang memiliki tubuh tinggi dan besar, fungsi ventilasi

parunya lebih tinggi daripada orang yang bertubuh kecil

pendek (Guyton, 2007).

Pembuluh darah paru-paru

 2 buah arteri pulmonalis kanan, 2 buah arteri pulmonalis kiri bercabang sampai ke

alveolus menjadi kapiler, kemudian balik lagi 2 buah vena pulmonal kanan dan 2

kiri

 Arteri Pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang membawa darah

kotor dari pulmonary trunk ke kedua paru-paru

 Vena pulmonalis, dibagi menjadi 2 yaitu kanan dan kiri yang membawa darah

bersih dari kedua paru-paru ke atrium kiri.


III. PENUTUP
1.1 Kesimpulan
1. Lemak adalah sekelompok besar molekul-molekul alam yang terdiri atas unsur-unsur
karbon, hydrogen dan oksigen meliputi asam lemak, sterol, vitamin-vitamin yang larut
dalam lemak, monogliserida, digliserida, fosfolipid, glikolipid, terpenoid dan lain-lain.
Lemak secara khusus menjadi sebutan bagi minyak hewani pada suhu ruang, lepas dari
bentuknya yang padat atau cair. Sedangkan minyak adalah cairan organic yang tidak larut
dalam air tetapi larut dalam pelarut organic. Ada sifat tambahan lain yang dikenal oleh
orang awam yaitu minyak akan terasa licin jika dipegang. Minyak adalah salah satu
kelompok yang termasuk pada golongan lipid, yaitu senyawa organic yang terdapat di
alam serta tidak dapat larut dalam air, tetapi akan larut dalam pelarut organic nonpolar.

2. Metode Analisis Kualitatif Minyak dan Lemak : Uji Kelarutan Lipid, Uji Akrolein, Uji
Ketidakjenuhan, Uji Ketengikan, Uji Salkowski untuk kolesterol, dan Uji Lieberman
Buchard.
3. Metode Analisis Kuantitatif Minyak dan Lemak : Metode Soxhlet, Metode Goldfish, dan
Metode Mojonnier.

1.2 Saran

Diharapkan makalah ini bisa bermanfaat untuk pembaca serta mahasiswa diharapkan
untuk memahami dan mempelajari materi yang telah diberikan dosen, agar ilmu yang
didapatkan bermanfaat untuk diri sendiri maupun lingkungan.

23
DATAR PUSTAKA

Poedjiadi,A. 1994. Dasar-dasar Biokimia.Gadjah Mada Universitas Press: Yogyakarta.


Sastrohamidjojo,H. 2005. Kimia Organik Stereo Kimia, Karbohidrat, Lemak Dan
Protein.Gadjah Mada University press:Yogyakarta.
Sudarmadji. 1996. Analisis Bahan Makanan Pangan. Yogyakarta : Liberty
Wahab,H.M. 2004. Pengantar Biokimia Edisi Revisi. Bayu Media Publishing: Malang.

24