Anda di halaman 1dari 21

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Bab II ini menjelaskan, menggambarkan konsep atau teori keofesien

penelitian yang diuraikan tentang kerangka, teori, konsep, hipotesis, keasliaan,

variable penelitiaan dan definisi operasional. Konsep dan teori yang dijelaskan

tentang lanjut usia (lansia), tidur dan penatalaksanaan terapi yoga.

A. Konsep Teori Usia Lanjut (Lansia)

Menjadi tua adalah suatu keadaan yang terjadi secara natural dan kadang-

kadang tidak tampak mencolok (Pudjiastuti & Utomo, 2003). Penuaan akan

terjadi pada semua sistem tubuh pada manusia dan tidak semua sistem tubuh

akan mengalami kemunduran pada waktu yang sama. Meskipun proses

menjadi tua merupakan gambaran yang universal, tidak seorangpun

mengetahui dengan pasti penyebab penuaan atau mengapa manusia menjadi

tua pada usia yang berbeda-beda.

1. Definisi

Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang mengalami perubahan

biologis, fisik, kejiawaan dan sosial yang bertahap seiring bertambahnya

usia. Perubahan ini akan memberi pengaruh pada seluruh aspek kehidupan,

termasuk kesehatanya (Murwani & Priyantari, 2010)

Menurut UU pasal 1 ayat (1),(2),(3) No.13 tahun 1998 tentang

kesehatan mengatakan bahwa usia lanjut adalah seseorang yang telah

mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam, et al., 2010).

6
7

Penuan adalah proses menghilangnya secara perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan

mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap

infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2014).

2. Klasifikasi

Menurut Depkes RI (2003) mengklasifikasi lansia dalam kategori

berikut

a. Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia 45-59 tahun

b. Lansia (elderly) yaitu seseorang yang berusia ≥ 60 tahun

c. Lansia beresiko tinggi yaitu seseorang yang berusia ≥70 tahun

d. Lansia potensial yaitu lansia yang mampu melakukan pekerjaan atau

kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa

e. Lansia tidak potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah

sehingga hidupnya tergantung pada bantuan orang lain.

3. Perubahan Akibat Proses Penuaan

Menurut Nugroho (2014) ada beberapan perubahan yang akan terjadi

pada lansia seiring dengan proses penuaan yaitu

a. Perubahan Fisik

Saat seseorang memasuki usia lanjut akan mengalami perubahan

fisik, antara lain perubahan sel, sistem persarafan, sistem pendengaran,

sistem penglihatan, sistem kardiovaskuler, sistem pengaturan suhu

tubuh, sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem reproduksi, sistem


8

genitourinaria, sistem endokrin, sistem integument, dan sistem

musculoskeletal

b. Perubahan Mental

Perubahan mental atau psikis pada usia lanjut, perubahan dapat

berupa sikap yang semakin egosentrik, mudah curiga, bertambah pelit

atau tamak bila memiliki sesuatu. Faktor yang mempengaruhi mental

antara lain, perubahan fisik, kesehatan umum, tingkat pendidikan,

keturunan dan lingkungan. Adapun faktor

c. Perubahan Psikososial

Nilai seseorang sering diukur melalui produktivitas dan

identitaasnya dikaitkan dengan peranan dalam pekerjaan. Bila

mengalami pensiun (purnatugas), seseorang akan mengalami kehilangan

antara lain kehilangan finansial, kehilangan status kedudukan pekerjaan,

kehilangan teman, kenalan atau relasi, dan kehilangan pekerjaan atau

kegiatan.

d. Perubahan Spiritual

Agama atau kepercayaan pada lansia semakin terintegrasi dan

matur dalam kehidupan keagamaannya. Hal ini terlihat dalam berfikir

dan bertindak sehari-hari (Murray dan Zentner, 1970 dalam Nugroho,

2014).

B. Konsep Teori Tidur

Tidur merupakan kebutuhan dasar manusia. Ketika kebutuhan tersebut

tidak terpenuhi, baik dalam kuantitas dan kualitas, akibatnya yang tidak
9

diharapkan cenderung terjadi. Maka daripada itu pentingnya tidur sebagai

kesejahteraan fisik dan psikososial.

1. Definisi

Tidur merupakan suatu keadaan tidak sadar di mana persepsi dan

reaksi individu terhadap lingkungan menurun atau menghilang dan dapat

dibangun kembali dengan indra atau rangsangan yang cukup (Stanley &

Beare, 2007). Tidur adalah keadaan saat terjadi proses pemulihan bagi

tubuh dan otak serta sangat penting terhadap pencapaian kesehatan yang

optimal (Schoenfelder & Clup, 2014) Tidur adalah proses fisiologis yang

bersiklus yang bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan

(Potter & Perry, 2012)

Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa tidur adalah

proses fisiologis dengan keadaan tidak sadar di mana persepsi dan reaksi

individu terhadap lingkungan menurun atau menghilang, selama proses itu

berlangsung maka tubuh dan otak melakukan pemulihan sehingga

tercapainya kesehatan yang optimal.

2. Jenis Jenis Tidur

Menurut Aspiani (2014) tidur dapat diklasifikasikan dalam dua

kategori yaitu

a. Tidur Rapid Eye Movement (REM)

Tidur REM merupakan tidur dalam kondisi aktif atau tidur paradoksial.

Hal tersebut berarti tidur REM ini bersifat nyenyak sekali, namun

fisiknya yaitu gerakan kedua bola matanya bersifat sangat aktif. Tidur
10

REM ditandai dengan mimpi, otot-otot kendor, tekanan darah

bertambah, gerakan mata cepat (mata cenderung bergerak bola-balik),

gerakan otot tidak teratur, kecepatan jantung dan pernafasan tidak

teratur sering lebih cepat, serta suhu dan metabolism meningkat.

b. Tidur Nonrapied Eye Movement (NREM)

Tidur NREM merupakan tidur yang nyaman dan dalam. Pada tidur

NREM gelombang otak lebih lambat dibandingan pada orang yang sadar

atau tidak tidur. Tanda-tanda tidur NREM antara lain mimpi berkurang,

keadaan istirahat, tekanan darah turun, kecepatan pernafasan turun,

metabolism turun dan gerakan bola mata lambat. Tidur dimulai dari

status NREM yang terjadi melalui empat tahap yaitu

1) Tahap I yaitu periode transisi menuju saatnya tidur, saat seseorang

dapat dengan mudah terbangun.

2) Tahap II yaitu periode tidur ringan dengan fase relaksasi yang sangat

besar

3) Tahap III yaitu fase pertama tidur dalam

4) Tahap IV yaitu periode tidur paling dalam dan sulit untuk

dibangunkan, pada tahap tersebut merupakan saat terbesar terjadinya

proses pemulihan.

3. Siklus Tidur

Setelah pergi tidur, seseorang terlebih dahulu melewati tahap terjaga

rileks yang dicirikan dengan gelombang alfa. Orang tersebut melewati

tahap-tahap tidur dengan urutan 1,2,3,4,3,2 REM. Kemudian tahap 2


11

dimulai kembali kecuali jika orang terbangun dan kembali tidur, yang

merupakan hal yang sering terjadi pada lansia, maka tahap I akan di mulai

kembali. Dalam pola tidur normal, sekitar 70-90 menit setelah awitan tidur,

dimulailah periode REM pertama, bergantian dengan tidur NREM pada

siklus 90 menit selama periode tidur nocturnal (Stanley & Beare, 2007)

4. Pola Tidur pada Lansia

Pola tidur pada lansia ditandai dengan sering terbangun, penurunan

tahap III dan IV waktu non-REM, lebih banyak terbangun selama malam

hari dibandingkan tidur dan lebih banyak tidur di siang hari (Schaeffer,

2008). Kebanyakan lansia yang sehat tidak melaporkan adanya gejala yang

terkait dengan perubahan ini.

Setelah tidur non REM tahap IV berlanjut ke tidur REM. Pada tidur

REM, aktivitaas tanda-tanda vital mengalami akselerasi yang menyebabkan

peningkatan dan kesenangan dan pelepasan ketegangan yang ditandai

dengan tersentak dan berbalik, kedutan otot dan peningkatan frekuensi

pernapasan, frekuensi jantung dan tekanan darah. Tidur REM membantu

dan melepasakan ketegangan dan membantu metabolisme sistem saraf

pusat. Saat kekurangan tidur REM telah terbukti menyebabkan iritabel dan

cemas (Schaeffer, 2008).

5. Gangguan Pola Tidur Lansia

Proses patologis terkait usia dapat menyebabkan perubahan pola tidur.

Gangguan tidur menyerang 50% orang yang berusia 65 tahun atau yang

lebih tinggal dirumah dan 66% orang yang tinggal di fasilitas perawatan
12

jangka panjang. Selama penuaan, pola tidur mengalami perubahan yang

khas yang membedakannya dari orang yang lebih muda. Perubahan-

perubahan tersebut mencakup kelatenan tidur, terbangun pada dini hari dan

peningkatan jumlah tidur siang.

Jumlah waktu yang dihabiskan untuk tidur yang lebih dalam juga

menurun. Terdapat suatu hubungan antara peningkatan terbangun selama

tidur dengan jumlah total yang dihabiskan untuk terjaga di malam hari. Hal

tersebut tampak sebagai pengaturan tidur sirkadian yang efektif (Stanley &

Beare, 2007)

6. Penyebab Gangguan Pola Tidur

Menurut Aspiani (2014) gangguan pola tidur disebabkan oleh faktor

internal dan eksternal yaitu

a. Faktor Internal

1) Usia

Semakin bertambah umur manusia semakin berkurang total waktu

kebutuhan tidur, hal ini dipengaruhi oleh pertumbuhan dan fisiologi

dari sel dan organ. Pada lansia sudah mulai terjadinya degenerasi

sel dan organ yang mempengaruhi fungsi dan mekanisme tidur.

2) Status kesehatan

Seseorang yang kondisi tubuhnya sehat memungkinkan dapat tidur

dengan nyenyak. Tetapi pada orang yang sakit dan rasa nyeri, maka

kebutuhan istirahan dan tidurnya tidak dapat terpenuhi dengan baik

sehingga kualitas tidurnya menurun.


13

3) Stress Psikologis

Cemas dan depresi akan menyebabkan gangguan pada frekuensi

tidur. Hal ini disebabkan karena kondisi cemas akan meningkatkan

norepinefrin darah melalui saraf simpatis. Zat ini akan mengurangi

tahap IV NREM dan REM

b. Faktor Internal

1) Lingkungan

Lingkungan dapat meningkatkan atau menghalangi seseorang

untuk tidur. Pada lingkungan yang tenang memungkinkan

seseorang dapat tidur dengan nyenyak. Sebaliknya lingkungan yang

rebut, bising dan gaduh akan menghambat seseorang untuk tidur.

2) Diet

Makan yang banyak mengandung L-triptofan seperti keju, susu,

daging dan ikan tuna dapat menyebabkan seseorang mudah tidur.

Sebaliknya, minuman yang mengandung kafein seperti kopi dan

teh akan mengganggu tidur.

3) Gaya Hidup

Kelelahan mempengaruhi pola tidur seseorang. Kelelahan yang

berlebihan akan menyebabkan periode tidur REM lebih pendek.

4) Obat-Obatan

Obat-obatan yang dikonsumsi seseorang ada yang berefek

menyebabkan tidur, ada pula yang dapat sebaliknya mengganggu

tidur.misal obat golongan amfetamin akan menurunkan tidur REM


14

7. Pengkajian Pola Tidur

Menurut Schaeffer (2008) pengkajian pada lansia dengan masalah

gangguan pola tidur meliputi pengamatan langsung, mengajukan pertanyaan

pada klien atau keluarga mengenai maslah pola tidur dan kemungkinanan

meminta klien menyimpan catatan selam 3 sampai 4 minggu. Adapun

pengkajian yang bisa dilakukan sebagai berikut

a. Anda dapat mempelajari pengamatan seksama dan pertanyaan langsung

1) Seberapa baik orang tersebut tidur dirumah

2) Waktu tidur dan waktu terbangun

3) Ritual waktu tidur dan lingkunan yang diingin kan pada waktu tidur

malam (jumlah cahaya, ventilasi, suhu ruangan, pintu terbuka atau

tertutup)

4) Ferkuensi dan durasi waktu terbangun

5) Aktivitas yang biasa dilakukan pada jam-jam awal menjelang malam

6) Makan atau cairan yang dikonsumsi tepat sebelum tidur

7) Aktivitas pada waktu luang dan hobi

8) Obat yang diminum, termasuk obat yang membantu tidur

9) Kecenderungan tidur sendiri atau dengan pasangan

10) Persepsi mengenai status kesehatan dan kepuasan terhadap hidup

11) Berapa kali pergi ke kamar mandi pada waktu malam hari

b. Jika klien akan membuat catatan tidur, meminta klien mencata hal-hal

berikut ini

1) Jam klien terbangun


15

2) Waktu dan jumlah obat tidur yang diminum (termasuk dosis ulangan)

3) Episode disorientasi atau konfusi

4) Frekuensi kebutuhan akan obat pereda nyeri atau bantuan untuk pergi

ke toilet

5) Waktu tidur tidak teratur

8. Mengatasi Gangguan Tidur

Menurut Schaeffer (2008) kesulitan untuk tidur dan tetap tidur adalah

masalah yang sering terjadi pada lansia, baik lansia yang di Komunitas atau

di Panti Werdha. Untuk mengatasi masalah pola tidur sebagai berikut

a. Mempertahankan jadwal harian yang sama untuk berjalan-jalan, istirahat

dan tidur

b. Bangun diwaktu biasanya ia bangun bahkan jika tidurnya terganggu atau

waktunya berubah sementara

c. Melakukan ritual waktu tidur dan mengikuti dengan patuh

d. Melakukan olah raga setiap hari tetapi hindari olah raga yang terlalu

berat pada malam hari

e. Membatasi tidur siang 1 sampai 2 jam perhari, pada waktu yang sama

setiap harinya

f. Mandi air hangat di waktu akhir sore atau menjelang malam

g. Makan kudapan rendah karbohidrat dan lemak sebelum tidur

h. Menghindari minuman dan produk yang mengandaung kafein seperti

kopi dan teh, khusus menjelang waktu tidur


16

i. Mempraktikan metode relaksasi seperti napas dalam, masase,

mendengarkan musik, yoga atau membaca bacaan yang merilekskan

menggunakan tempat tidur hanya untuk tidur

j. Jika terbangun tengah malam selama lebih dari 30 menit, bangkit dari

tempat tidur dan lakukan aktivitas yang tidak menstimulasi seperti

membaca.

Berdasarkan dari cara mengatasi pola tidur pada lansia maka, peneliti

mengambil yoga sebagai salah satu cara untuk memperbaiki pola tidur pada

lansia. Hasil penelitian Suhesti (2014) mengatakan bahwa ada penurunan

insomnia pada lansia setelah dilakukan terapi yoga, hal ini sejalan dengan

hasil penelitian Angga (2016) mengatakan ada pengaruh senam yoga untuk

mengurangi insomnia pada lansia.

C. Penatalaksanaan Terapi Yoga

Penatalaksanaan memperbaiki pola tidur pada lansia dapat

menggunakan terapi yoga karena merupakan terapi nonfarmakologi yang

dapat dilakukan oleh kaum muda sampai lanjut usia. Terapi yoga ini banyak

digunakan orang, dimana yoga memiliki banyak manfaat secara khusus bagi

kesehatan maupun kebugaran tubuh.

1. Definisi

Yoga berasal dari bahasa sanskerta “yuj” yang berarti “persatuan”

adalah integrasi energi fisik, mental dan spiritual untuk meningkatkan

kesehatan serta kesejahteraan (Schaeffer, 2008). Diantara praktik

kesehatan yang dikenal baik oleh lansia yaitu yoga. Menurut Wiadnyana
17

(2010) beberapa tahapan praktis kegiatan dasar dalam melakukan yoga

yaitu

a. Berfikir, berkata dan berbuat benar (trikaya parisudha)

b. Latihan fisik (asana)

c. Latihan nafas (pranayama)

d. Istirahat (relaksasi)

e. Meditasi

f. Pola makan yang benar

2. Manfaat Yoga

Manfaat yoga yang diperhitungkan adalah perbaikan kesehatan dan

kedamaian pemikiran individu. Yoga berhasil digunakan untuk

meredakan stress dan kecemasan menurunkan tekanan darah, meredakan

nyeri, memperbaiki keterampilan motorik, mengobati adiksi

meningkatkan persepsi pendengaran dan pengelihatan serta memperbaiki

fungsi metabolik respiratorik (Schaeffer, 2008).

3. Senam Yoga untuk Lansia

Senam yoga memiliki beragam manfaatnya bagi para lansia yang

mempraktikan. Sebaiknya para lansia harus memilih senam yang tidak

memiliki resiko cidera, karena lansia sangat rentang resiko cidera fisik

akibat proses penuaan. Senam yoga yang dapat digunakan lansia adalah

gerakan asana (Wiadnyana, 2010).


18

a. Asana (Latihan Fisik)

1) Pengertian

Merupakan gerakan peregangan dan relaksasi tubuh dengan

lembut untuk menyegarkan otak, sumsum tulang belakang,

kelenjar-kelenjar dan organ-organ dalam. Efek yoga asana

terhadap organ dan kelenjar tubuh melalui tiga cara yaitu

a) Posisi gerakan tubuh menyebabkan peningkatan sirkulasi

pembuluh darah terhadap organ kelenjar yang menjadi target.

b) Posisi gerakan tubuh seringkali menghasilkan putaran yang

lembut dan menghasilkan efek memijat dan menstimulasi kerja

terhadap organ dan kelenjar tubuh, juga meningkatkan

kelenturan terhadap tulang belakang sehingga dapat

meningkatkan aliran sensor saraf kepada bagian – bagian tubuh.

c) Pernafasan yang dalam dan visualisasi terhadap area yang

ditargetkan akan memberikan tambahan aliran darah terhadap

area tersebut.

2) Gerakan Asana (Latihan Fisik)

a) Tadasana (Mountain Pose)

Tadasana merupakan posisi badan dengan berdiri tegak.

Tadasana biasanya posisi awal untuk semua pose berdiri.

Langkah-langkah gerakan ini sebagai berikut


19

(1) Langkah 1

Berdiri tegak diatas matras. Setelah itu, letakan tangan di

samping badan, kemudian menarik tangan ke atas sembai

menarik nafas dan kembali menapak serta menghela nafas.

Gambar 2.1 Posisi Tadasana

(2) Langkah 2

Posisi masih berdiri tegak dan lakukan gerakan ini sebanyak

5 sampai 10 kali dalam 30 sampai 60 detik.

b) Kati Chakrasana (Spinal Twist Yoga Pose)

Kati chakrasana yang berarti pose rotasi pinggang, dimana anda

akan memutar pinggang kanan dan kiri. Gerakan ini sangat

mudah dilakukan sehingga cocok untuk dilakukan oleh para

lanjut usia. Langkah-langkah gerakan Kati Chakrasana (spinal

twist yoga pose) sebagai berikut


20

(1) Langkah 1

Menghirup, meregangkan kedua lengan secara vertikal.

Jarak antara lengan harus tetap konstan.

Gambar 2.2 Langkah 1 Gerakan Kati Chakrasana

(2) Langkah 2

Putar pinggang anda ke kanan, mengayunkan lengan anda

sejauh mungkin sambil menghembus napas. Periksa nafas

anda dan pertahankan pose ini selama anda bias. Bawa

lengan anda di depan dada sambil menghirup.

Gambar 2.3 Langkah 2 Gerakan Kati Chakrasana


21

(3) Langkah 3

Putar pinggang anda ke kiri, mengayunkan lengan anda

sejauh mungkin sambil menghembus napas. Periksa nafas

anda dan pertahankan pose ini selama anda bias. Bawa

lengan anda di depan dada sambil menghirup.

(4) Langkah 4

Setiap langkah 1,2 dan 3 merupakan 1 siklus. Lakukan

minimal 5 siklus sekaligus.

Gambar 2.4 Satu Siklus Gerakan Kati Chakrasana

4. Patofisiologi Yoga

Latihan yoga yang diberikan kepada lansia sesuai dengan kondisi

fisik lansia, latihan yoga dengan gerakan yang pelan-pelan yang

dikombinasikan dengan latihan pernapasan yang terkontrol dan rangkaian

kontraksi peregangan otot serta relaksasi kelompok otot. Latihan yoga

dapat menstimulasi respon relaksasi baik fisik maupun psikologis.

Respon tersebut dikarenakan terangsangnya aktivitas sistem saraf otonom


22

parasimpatis nuclei rafe yang terletak di separuh bagian bawah pons dan

di medula sehingga mengakibatkan penurunan metabolisme tubuh,

denyut nadi, tekanan darah, dan frekuensi pernapasan dan peningkatan

serotonin. Perangsangan pada beberapa area dalam nukleus traktus

solitarius yang merupakan region sensoris medulla dan pons yang

dilewati oleh sinyal sensorik visceral yang memasuki otak melalui saraf-

saraf vagus dan glosovaringeus, juga menimbulkan keadaan tidur

(Purwanto, 2007).

Latihan yoga dapat memunculkan keadaan tenang dan rileks

dimana gelombang otak mulai melambat semakin melambat akhirnya

membuat seseorang dapat beristirahat dan tertidur. Kondisi inilah yang

akan mempengaruhi terjadinya penurunan tingkat insomnia pada lansia.


23

D. Keaslian Penelitian
Tabel 2.1 Keaslian Penelitian
Nama
No Tahun Judul Hasil
Peneliti
1 Majid 2016 Pengaruh latihan yoga Adanya pengaruh latihan yoga
terhadap kualitas tidur terhadap kualitas tidur yang di
peserta yoga dijetset bukti bahwa ada nya penurunan
fitness center Palembang. skor rata-rata kualitas tidur
sebelum (3,54) menjadi sesudah
(2,38) atau p value 0,002.
Jenis yoga dilakukan yaitu
pergerakan fisik, pernapasan dan
relaksasi.

2 Perdana 2016 Pengaruh pemberian Ada pengaruh senam yoga untuk


senam yoga untuk mengurangi insomnia yang
mengurangi insomnia diperoleh data berdisribusi
pada lanjut usia normal, uji statistic dengan hasil,
kelompok 1 p=0,00 (p<0,05) dan
kelompok 2 p=0,075 (p>0,05).
Jenis yoga yang dilakukan yaitu
teknik relaksasi Tarik napas
dalam.

3 Bankar, 2013 Impact of long term yoga Berdasarkan hasil penelitian


Chaudhari,d practice on sleep quality maka diperoleh : total skor PSQI
an Chaudari. and quality of life in the pada kelompok yoga lebih rendah
elderly dari pada kelompok control.
Begitu juga skor nilai QOL
kelompok yoga lebih tinggi dari
pada kelompok control.
Jenis yoga yang lakukan yaitu
tadasana, trikonasana,
parivrtta,trokonasana,
padmasana, pranayama.

4 Marger, 2016 Effects of bikram yoga Hasil menunjukkan ada


Hicklin dan. body composition, blood peningkatan yang signifikan
Garner pressure, and sleep (p=0,054) pada waktu yang lebih
patterns in adult cepat untuk tertidur (27,66 min
practitioners per dan 23,967 min post) serta
perbaikan parameter tidur yang
singnifikan etelah 8 minggu yoga
bikram untuk keduanya
menengah/berpengalaman dan
pemula, namun tidak ada
perbedaan komposisi tubuh.
24

E. Kerangka Teori

Upaya mengatasi Lanjut Usia


gangguan tidur: a. Pralansia : 45-59 tahun
1. Mempertahankan b. Lansia : ≥60 tahun
jadwal harian c. Lansia beresiko tinggi : ≥70 tahun
2. Olahraga d. Lansia potensial (produktif)
3. Membatasi tidur siang e. Lansia tidak potensial (tidak produktif)
4. Diit makanan Depkes RI (2003)
5. Hindari minuman
mengandung kafein
6. Mandi air hangat
7. Membaca
8. Mempraktikan metode
relaksasi seperti :
a. napas dalam Pola Tidur
b. masase
1. Nonrapied Eye Movement (NREM)
c. musik
Penurunan pada tahap III dan IV
d. membaca
2. Rapied Eye Movement (REM)
e. yoga ( tadasana dan
Mengalami akselerasi pada aktivitas dan
kati chakrasana
(Schaeffer, 2008) tanda-tanda vital waktu tidur REM pagi
hari
(Schaeffer, 2008).

Pola Tidur yang Baik ditandai : Gangguan Pola Tidur ditandai :


1. Merasa tidur tidak cukup
1. Mengungkapan perasaan segar
2. Kesulitan untuk tertidur
bangun setelah tidur
3. Perubahan perilaku dan penampilan
2. Terbangun pada waktu yang
( iritabelitas, kegelisahan, letargi,
sesuai
kelesuan dan disorientasi)
3. Kualitas tidur yang baik
4. Tanda tanda fisik (sering menguap
4. Frekuensi terbangun malam hari
tremor ringan, ptosis kelopak mata,
<3 kali
lingkaran hitam sekitar mata dan
(Schoenfelder & Clup, 2014)
sering menguap)
(Schoenfelder & Clup, 2014)
5.
6.
Skema 2.1 Kerangka Teori Penelitian
25

F. Kerangka Konsep

Pola Tidur Lansia


Terapi Yoga : 1. Frekuensi terbangun
1. Tadasana (mountain 2. Lamanya tidur
pose) 3. Tanda kekurangan tidur
2. Kati Chakrasana 4. Perbandingan waktu tidur di malam
hari dengan siang hari

Skema 2.2 Kerangka Konsep Penelitian


G. Hipotesis

Setelah dilakukan hasil penelitian didapatkan bahwa Ha dapat diterima

dengan p-value 0,000 yang menunjukkan ada pengaruh senam yoga terhadap

pola tidur lansia di Posyandu Khairunnisa Sungai Jawi Luar Pontianak Barat

H. Variable Penelitian

1. Variabel bebas (independen) yaitu pengaruh yoga

2. Variable terikat (dependen) yaitu pola tidur pada lanjut usia


26

I. Definisi Operasional

Tabel 2.2 Definisi Operasional


Definisi Cara Hasil Ukur Skala
Variabel Alat Ukur
Operasional Ukur
Yoga Merupakan gerakan
peregangan dan
asana
relaksasi tubuh
dengan lembut
untuk menyegarkan
otak, sumsum
tulang belakang,
kelenjar-kelenjar
dan organ-organ
dalam. Gerakan
yoga asana yang
digunakan yaitu :
tadasana dan kati
chakrasana.

Pola tidur Siklus tidur yang Wawancara Frekuensi terbangun Ordinal


dilalui oleh lansia  ≤ 3 kali baik skor 2
lansia
pada malam hari  > 3 kali kurang skor 1
yang ditandai : Lama tidur
1. Pola tidur :  ≥ 6 jam baik skor 3
a. Frekuensi  4-5 jam cukuk skor 2
terbangun  < 4 jam kurang skor 1
b. Lama tidur Waktu tidur
c. Waktu tidur  Malam hari lebih
d. Mudah banyak Skor 1
tersinggung
 Siang hari lebih
e. Cemas
banyak Skor 0
Mudah tersinggung
 Ya Skor 0
 Tidak Skor 1
Cemas
 Ya Skor 0
 Tidak Skor 1

2. Tanda fisik Observasi Sering menguap


a. Sering  Ya Skor 0
menguap  Tidak Skor 1
b. Tremor ringan Tremor ringan
c. Ptosis kelopak  Ya Skor 0
mata  Tidak Skor 1
d. Lingkaran ptosis kelopak mata
hitam  Ya Skor 0
disekitar mata  Tidak Skor 1
Lingkaran hitam
disekitar mata
 Ya Skor 0
 Tidak Skor 1