Anda di halaman 1dari 49

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Pendidikan Nasional di Indonesia berlandaskan Pancasila dan Undang – Undang
dasar 1945 yang berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan Nasional juga bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab. Peningkatan dapat terwujud melalui proses pendidikan yang
terencana, terarah, intensif, efektif, dan efisien sehingga setiap individu memiliki
kesempatan untuk mengembangkan potensinya.
Sekolah merupakan salah satu sistem pendidikan yang berfungsi untuk membantu
meningkatkan kualitas SDM sehingga mampu mengubah pola pikir dan kreativitas untuk
meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian. Sekolah dibuat oleh pemerintah di
bidang pendidikan dengan berlandasan operasionalnya adalah kurikulum. Kurikulum
dibentuk bertujuan untuk mencapai tujuan bangsa dan negara Indonesia.
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan tentang tujuan, isi dan bahan
pelajaran yang dikembangkan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan
pendidikan nasional serta kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah,
satuan pendidikan dan peserta didik serta kebutuhan lapangan kerja.
Kurikulum yang sudah mulai digunakan sekarang adalah kurikulum 2013.
Kurikulum tersebut merupakan penyempurnaan dari kurikulum sebelumnya (KTSP).
Berlakunya kurikulum 2013 diharapkan dapat memacu pengembangan kompetensi siswa
kearah yang lebih analisis dan tuntutan guru agar lebih kreatif dan inovatif dalam
pembelajaran karena guru dianggap mampu semua hal yang dapat membantu siswa
berkembang. Pada makalah ini akan dianalisis salah satu SNP yaitu standar kompetensi
lulusan (SKL) yang ada pada KTSP dan kurikulum 2013. Dimana pada pengembangan
KTSP menjadi kurikulum 2013 ini akan melahirkan output yang sesuai dengan tuntutan
masyarakat saat ini dan yang akan datang.
Pembangunan pendidikan yang dilakukan selama ini masih menghadapi sejumlah
tantangan, baik yang terkait dengan kondisi internal sistem pendidikan nasional, maupun
yang bersumber pada perubahan dalam segala aspek kehidupan, di tingkat lokal,
1
nasional, dan pada tatanan global. Kondisi tersebut menuntut adanya sumber daya
manusia yang memiliki daya saing tinggi. Pendidikan harus mampu menghasilkan
lulusan dengan kompetensi yang memadai. Itulah sebabnya standar kompetensi lulusan
pada satuan pendidikan perlu ditetapkan.
Reformasi peraturan perundang-undangan di bidang pendidikan yang melahirkan
Undang-Undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan
salah satu wujud nyata komitmen bangsa untuk menghadapi tantangan-tantangan
tersebut. Adanya Standar Pendidikan Nasional yang terdiri dari: standar isi, standar
proses, standar kompetensi lulusan, standar tenaga kependidikan, standar sarana dan
prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan
(PP No. 19/2005) yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala, merupakan
salah satu amanat yang perlu mendapat perhatian utama dari semua pihak.
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) adalah bagian dari standar nasional pendidikan
yang merupakan kriteria kompetensi lulusan minimal yang berlaku di seluruh wilayah
hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan SKL, kita akan memiliki patok
mutu (benchmark) baik bersifat evaluasi mikro seperti kualitas proses dan kualitas
produk pembelajaran maupun bersifat evaluasi makro seperti kefektifan dan efisiensi
suatu program pendidikan, sehingga ke depan pendidikan kita akan melahirkan standar
mutu yang dapat dipertanggungjawabkan pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan.
SKL yang dijabarkan ke dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar
(KD) mata pelajaran digunakan sebagai pedoman penilaian. Penyusunan SKL Satuan
Pendidikan merupakan agenda prioritas karena menjadi rujukan dalam penyusunan
standar-standar pendidikan lainnya.

1.2.Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu :
1. Bagaimana perbedaan Standar Kompetensi Lulusan di KTSP dan kurikulum 2013?
2. Bagaimana isu – isu dalam pembelajaran matematika terkait Standar Kompetensi
Lulusan (SKL) ini?

2
1.3. Tujuan Penulisan
Tujuan tugas ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas Arah Kecenderungan dan
Isu Dalam Pendidikan Matematika dan untuk mengembangkan pemikiran kami tentang
isu-isu dalam Standar Kompetensi Lulusan (SKL).

1.4. Manfaat Penulisan


Adapun manfaat penulisan makalah ini yaitu :
1. Manfaat Bagi Penulis
Tugas Arah Kecenderungan dan Isu Dalam Pendidikan Matematika ini diharapkan
dapat melatih penulis dalam mengeluarkan ide dan sisi kreatifnya sehingga
menyumbang suatu manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan
khususnya mengenai masalah bagaimana Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dalam
penjaminan mutu khususnya dalam dunia pendidikan.
2. Manfaat Bagi Pembaca
Tugas Arah Kecenderungan dan Isu Dalam Pendidikan Matematika ini diharapkan
dapat memberikan sebuah informasi dan masukan bagi yang berkecimpung dalam
dunia pendidikan pada umumnya, khususnya demi mengetahui masalah Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) dalam penjaminan mutu khususnya dalam dunia
pendidikan.

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kajian Pustaka


Pendidikan merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan
manusia, terutama bagi kemajuan dan perkembangan suatu bangsa untuk membentuk
sumber daya manusia yang berilmu pengetahuan tinggi. Pentingnya pendidikan
tersebut menyebabkan perlu adanya peningkatan kualitas dalam pendidikan yang
dilakukan secara menyeluruh yang mencakup seluruh aspek. Dalam rangka
meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Pemerintah mengeluarkan Undang –
Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Sesuai Undang
– Undang tersebut, maka pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pad
Standar Nasional Pendidikan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005
disebutkan bahwa standar yang terkait langsung dengan kurikulum adalah Standar Isi
dan Standar Kompetensi Lulusan.

2.1.2. Pengertian Standar Kompetensi Lulusan


Standar Kompetensi Lulusan adalah kualifikasi kemampuan lulusan yang
mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan. Standar kompetensi lulusan pada
satuan pendidikan menengah umum bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan
mengikuti pendidikan lebih lanjut. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2006,
dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan mata pelajaran Matematika
diantaranya : “memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang
diperoleh.
Standar Kompetensi Lulusan di atas menyatakan tujuan pembelajaran
menurut Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Setelah mendapatkan pembelajaran
matematika, siswa diharapkan memiliki kemampuan-kemampuan tersebut. Hal ini
sejalan dengan lima aspek atau kompetensi matematika yang diungkapkan oleh
Kilpatrick. Kilpatrik et.al (2001) menyimpulkan bahwa ada lima aspek atau
kompetensi yang mutlak dimiliki oleh siswa sebagai bentuk penguasaan matematika
yang utuh, salah satunya adalah kompetensi strategis (Amalia, Darhim, & Priatna,
4
2016:2). Kompetensi strategis yaitu kemahiran atau kemampuan siswa untuk
merumuskan, merepresentasikan serta menyelesaikan permasalahan matematika.
Kompetensi strategis merupakan inti dari komponen yang lainnya. Jika siswa
mempunyai kemampuan kompetensi strategis yang baik, maka secara tidak langsung
ia mempunyai kompetensi yang lainnya yaitu pemahaman konsep, kefasihan
prosedur, pemahaman adaptif, dan disposisi produktif. Kompetensi strategis sama
dengan apa yang disebut pemecahan masalah dan perumusan masalah dalam literatur
pendidikan matematika dan ilmu pengetahuan kognitif. Kilpatrick, Swafford, &
Findell (2001) mengemukakan bahwa kompetensi strategis matematis merupakan
suatu kemampuan untuk merumuskan, merepresentasikan, serta menyelesaikan
permasalahan matematika.
Gordon (1988) menjelaskan beberapa aspek atau ranah yang terkandung
dalam konsep kompetensi sebagai berikut (Mulyasa, 2010:38-39): 1) Pengetahuan,
yaitu kesadaran dalam bidang kognitif.
2) Pemahaman, yaitu kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu.
3) Kemampuan, adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk melakukan tugas
atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya.
4) Nilai, adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan secara psikologis telah
menyatu dalam diri seseorang.
5) Sikap, yaitu perasaan atau reaksi terhadap suatu rangsangan yang datang dari luar.
6) Minat, adalah kecenderungan seseorang untuk melakukan sesuatu perbuatan.
Adapun indikator dari kompetensi strategis matematis menurut Kilpatrick, et al.
(2001) adalah sebagai berikut (Lestari & Yudhanegara, 2015:91):
1) Memahami masalah.
2) Memilih informasi yang relevan dengan masalah.
3) Menyajikan suatu masalah dalam berbagai bentuk representasi matematis. 4)
Memilih strategi untuk menyelesaikan masalah.
5) Menggunakan atau mengembangkan strategi penyelesaian masalah.
6) Menafsirkan jawaban.
7) Menyelesaikan masalah

Untuk memantau perkembangan mutu pendidikan diperlukan Standar


Kompetensi. Standar Kompetensi dapat didefinisikan sebagai :pernyataan tentang
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dikuasai peserta didik serta tingkat

5
penguasaan yang diharapkan dicapai dalam mempelajari suatu mata
pelajaran”(Center for Civ-ics Education, 1997:2).
Menurut definisi tersebut, SK mencangkup dua hal, yaitu :
1. Standar Isi ( content standards )
Standar Kompetensi yang menyangkut isi berupa pernyataan tentang
pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang harus dikuasai peserta didik dalam
mempelajari mata pelajaran tertentu.
Misalnya : Kewarganegaraan, Fisika, Biologi, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris.
2. Standar Penampilan ( performance standards )
Standar Kompetensi yang menyangkut tingkat penampilan adalah pernyataan
tentang kriteria untuk menentukan tingkat penguasaa peserta didik terhadap SI.
Dari uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa SK memiliki dua penafsiran, yaitu :
1. Pernyataan tujuan yang menjelaskan apa yang harus diketahui peserta didik dan
kemampuan melakukan sesuatu dalam mempelajari suatu mata pelajaran.
2. Spesifikasi skor atau peringkat kinerja yang berkaitan dengan kategori
pencapaian seperti lulus atau memiliki keahlian.

Standar Kompetensi merupakan kerangka yang menjelaskan dasar


pengembangan program pembelajaran yang terstruktur. Standar Kompetensi juga
merupakan fokus dari penilaian, sehingga proses pengembangan kurikulum adalah
fokus dalam penilaia, meskipun kurikulum lebih banyak berisi tentang dokumen
pengetahuan keterampilan dan sikap dari pada bukti-bukti untuk menunjukkan
bahwa peserta didik yang akan belajar telah memiliki kemampuan dan keterampilan
awal.
Dengan demikian SK diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam :
 Melakukan suatu tugas atau pekerjaan
 Mengorganisasikan agar pekerjaan dapat dilaksanakan
 Melakukan respon dan reaksi yang tepat bila ada penyimpangan dari rancangan
semula
 Melaksanakan tugas dan pekerjaan dalam situasi dan kondisi yang berbeda
Penyusunan Standar Kompetensi suatu jenjang atau tingkat pendidikan
merupakan usaha untuk membuat suatu sistem sekolah menjadi otonom,
mandiri, dan responsif terhadap keputusan kebijakan daerah dan nasional.
Kegiatan ini diharapkan munculnya standar pada tingkat lokal dan nasional.
Penentuan standar hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Sebab jika
6
setiap sekolah atau setiap kelompok sekolah mengembangkan standar sendiri
tanpa mengontrol mutu sekolah. Akibatnya kualitas sekolah akan bervariasi,
dan tidak dapat dibandingkan kualitas antara sekolah yang satu dengan sekolah
yang lain. Lebih jauh lagi kualitas sekolah antar wilayah yang satu dengan
wilayah yang lain tidak dapat dibandingkan. Pada gilirannya, kualitas sekolah
secara nasional tidak dapat dibadingkan dengan kualitas sekolah dari negara
lain.
Pengembangan Standar Kompetensi perlu dilakukan secara terbuka,
seimbang, dan melibatkan semua kelompok yang akan dikenai standar tersebut.
Melibatkan semua kelompok sangatlah penting agar kesepakatan yang telah
dicapai dapat dilaksanakan secara bertanggung jawab oleh pihak sekolah
masing-masing. Di samping itu, kajian Standar Kompetensi di negara-negara
lain perlu juga dilakukan sebagai bahan rujukan agar lulusan kita tidak jauh
ketinggalan dengan lulusan negara lain. Standar Kompetensi yang telah
ditetapkan pada kreasi masing-masing wilayah.

2.1.2. Penentuan Standar Kompetensi Mata Pelajaran


Perlu diingat kembali, bahwa kompetensi merupakan kebulatan pengetahuan,
keterampilan, dan sikap yang dapat didemonstrasikan, ditunjukkan, atau
ditampilkan oleh peserta didik sebagai hasil belajar. Sesuai dengan pengertian
tersebut, maka Standar Kompetensi adalah standar kemampuan yang harus
dikuasai peserta didik untuk menunjukkan bahwa hasil mempelajari mata
pelajaran tertentu berupa penguasaan atas pengetahuan, sikap, dan keterampilan
tertentu telah tercapai.
Langkah-langkah menganalisis dan mengurutkan Standar Kompetensi adalah :
 Menganalisis Standar Kompetensi menjadi beberapa Kompetensi Dasar
 Mengurutkan Kompetensi Dasar sesuai dengan keterkaitan baik secara
prosedur maupun hierarkis.
Dick & Carey (1978 :25 ) membedakan dua pendekatan pokok dalam analisis
dan urutan Standar Kompetensi di samping pendekatan yang ketiga yakni
gabungan antara kedua pendekatan pokok tersebut. Dua pendekatan dimaksud
adalah :
a. Pendekatan Prosedural
Di pakai bila Standar Kompetensi yang harus dikuasai berupa serangkaian
langkah - langkah secara urut dalam mengerjakan suatu tugas pembelajaran.
7
Contoh :
Dalam pelajaran Ilmu Sosial Terpadu ( IST ) ada beberapa Standar Kompetensi
yang diharapkan dapat dipelajari secara beruntun. Guru diharapkan dapat
menyajikan mana yang akan didahulukan. Misal kompetensi :
1. Mengidentifikasi kosep-konsep yang membangun IST
2. Mengidentifikasi hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungannya,
dan
3. Mendiskripsikan perubahan sosial budaya manusia

Dari ketiga kompetensi tersebut maka kompetensi untuk mengidentifikasi


konsep - konsep yang membangun IST harus paling dahulu dipelajari, setelah itu
baru mempel;ajari dua kompetensi berikutnya. Di antara kedua kompetensi
berikutnya maka penguasaan terhadap kompetensi mendeskripsikan hubungan
timbal balik antara manusia dan lingkungannya lebih didahulukan agar peserta
didik dengan mudah mendeskripsikan perubahan sosial budaya masyarakat,
mengingat perubahan yang terjadi justru sebagai salah satu akibat hubungan
timbal balik antara manusia dengan lingkungannya.
Beberapa hal yang perlu dicatat dari contoh tersebut:
 Peserta didik harus menguasai Standar Kompetensi tersebut secara
berurutan.
 Masing-masing Standar Kompetensi dapat diajarkan secara terpisah
(independent)
 Hasil (output) dari setiap langkah merupakan masukan (input) untuk langkah
berikutnya.
b. Pendekatan Hierarkis
Pendekatan hierarkis menunjukkan hubungan yang bersifat subordinatif
antara beberapa Standar Kompetensi yang ingin dicapai. Dengan demikian ada
yang mendahului dan ada yang kemudian. Standar Kompetensi yang
mendahului merupakan prasyarat bagi Standar Kompetensi berikutnya.
Untuk mengidentifikasi beberapa Standar Kompetensi yang harus
dipelajari lebih dulu agar peserta didik dapat mencapai Standar Kompetensi
yang lebih tinggi dilakukan dengan jalan mengajukan pertanyaan “Apakah
yang harus sudah dikuasai oleh peserta didik, agar dengan pengajaran yang
seminimal mungkin dapat diketahui Standar Kompetensi yang diperlukan
sebelum peserta didik dapat menguasai Standar Kompetensi berikutnya?”
8
Sedangkan gabungan antara kedua pendekatan tersebut dinamakan
pendekatan kombinasi.

2.1.3. Pengertian Kompetensi Dasar


Kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan, ketrampilan nilai
dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Dalam
hal ini kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, ketrampilan dan
kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari
dirinya, sehingga ia dapat melakukan perilaku kognitif, afektif, dan
psikomotorik dengan sebaik-baiknya. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi
mencakup tugas, ketrampilan, sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh
peserta didik untuk dapat melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai
dengan jenis pekerjaan tertentu.
Dalam kurikulum kompetensi sebagai tujuan pembelajaran itu
dideskripsikan secara eksplisit, sehingga dijadikan standart dalam pencapaian
tujuan kurikulum. Baik guru maupun siswa perlu memahami kompetensi yang
harus dicapai dalam proses pembelajaran. Pemahaman ini diperlukan dalam
merencanakan strategi dan indicator keberhasilan.
Ada beberapa aspek didalam kompetensi sebagai tujuan, antara lain
1. Pengetahuan (knowlegde) yaitu kemampuan dalam bidang kognitif.
2. Pemahaman (understanding) yaitu kedalaman pengetahuan yang dimiliki
setiap individu.
3. Kemahiran (skill)
4. Nilai (value) yaitu norma-norma untuk melaksanakan secara praktik
tentang tugas yang dibebankan kepadanya.
5. Sikap (attitude) yaitu pandangan individu terhadap sesuatu
6. Minat (interest) yaitu kecenderungan individu untuk melakukan suatu
perbuatan.
Sesuai aspek diatas maka tampak bahwa kompetensi sebagai tujuan
dalam kurikulum yang bersifat kompleks artinya kurikulum berdasarkan
kompetensi bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman
kecakapan, nilai, sikap dan minat siswa agar mereka dapat melakukan sesuatu
dalam bentuk kemahiran disertai tanggung jawab. Dengan demikian tujuan
yang ingin dicapai dalam kompetensi ini bukanlah hanya sekedar pemahaman
akan materi pelajaran, akan tetapi bagaimana pemahaman dan penguasaan
9
materi itu dapat mempengaruhi cara bertindak dan berperilaku dalam
kehidupan sehari-hari.
Sehingga Kompetensi Dasar adalah pengetahuan, ketrampilan dan sikap
minimal yang harus dikuasai oleh peserta didik dalam penguasaan materi
pelajaran yang diberikan dalam kelas pada jenjang pendidikan tertentu. Juga
merupakan perincian atau penjabaran lebih lanjut dari standar kompetensi.
Adapun penempatan komponen Kompetensi Dasar dalam silabus sangat
penting, hal ini berguna untuk mengingatkan para guru seberapa jauh tuntutan
target kompetensi yang harus dicapainya.

Langkah-langkah penyusunan Kompetensi Dasar


Adapun dalam mengkaji kompetensi dasar mata pelajaran
sebagaimana tercantum pada Standar Isi dilakukan dengan memperhatikan
hal-hal berikut ini:
a. Urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat
kesulitan materi, tidak harus selalu sesuai dengan urutan yang ada di
Standar Isi.
b. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam
mata pelajaran.
c. Keterkaitan antara standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata
pelajaran.

Pada dasarnya rumusan kompetensi dasar itu ada yang operasional


maupun yang tidak operasional karena setiap kata kerja tindakan yang
berada pada kelompok pemahaman dan juga pengetahuan yang tidak bisa
digunakan untuk rumusan kompetensi dasar.
Sehingga langkah-langkah untuk menyusun kompetensi dasar adalah
sebagai berikut:
a. Menjabarkan Kompetensi Dasar yang dimaksud.
b. Tulislah rumusan Kompetensi Dasarnya.
c. Mengkaji KD tersebut untuk mengidentifikasi indikatornya dan
rumuskan indikatornya yang dianggap relevan tanpa memikirkan
urutannya lebih dahulu juga tentukan indikator-indikator yang relevan
dan tuliskan sesuai urutannya.

10
d. Kajilah apakah semua indikator tersebut telah mempresentasikan KD
nya, apabila belum lakukanlah analisis lanjut untuk menemukan
indikator-indikator lain yang kemungkinan belum teridentifikasi.
e. Tambahkan indikator lain sebelum dan sesudah indikator yang
teridentifikasi sebelumnya dan rubahlah rumusan yang kurang tepat
dengan lebih akurat dan pertimbangkan urutannya

2.1.4. Pengertian Indikator dan cara pembuatannya


Indikator merupakan penanda pencapaian KD yang ditandai oleh
perubahan perilaku yang dapat diukur yang mencakup sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Indikator dikembangkan sesuai dengan
karakteristik peserta didik, mata pelajaran, satuan pendidikan, potensi
daerah dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur
dan/atau dapat diobservasi.
Menurut Depag indikator adalah wujud dari kompetensi dasar yang
lebih spesifik. Sedangkan menurut E Mulyasa indicator merupakan
penjabaran dari kompetensi dasar yang menunjukkan tanda-tanda
perbuatan dan respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta
didik. Indicator juga dikembangkan sesuai dengan karakteristik satuan
pendidikan potensi daerah dan peserta didik dan juga dirumuskan dalam
rapat kerja operasional yang dapat diukur dan diobservasi sehingga dapat
digunakan sebagai dasar dalam penyusunan alat penilaian.
Sedangkan menurut Darwin Syah indikator pembelajaran adalah
karakteristik, cirri-ciri, tanda-tanda perbuatan atau respon yang
dilakuakan oleh siswa, untuk menunjukkan bahwa siswa telah memiliki
kompetensi dasar tertentu. Jadi indikator adalah merupakan kompetensi
dasar secara spesifik yang dapat dijadikan untuk menilai ketercapaian
hasil pembelajaran dan juga dijadikan tolak ukur sejauh mana
penguasaan siswa terhadap suatu pokok bahasan atau mata pelajaran
tertentu.
Dalam mengembangkan indikator perlu mempertimbangkan:
1. Tuntutan kompetensi yang dapat dilihat melalui kata kerja yang
digunakan dalam Kompetensi Dasar;
2. Karakteristik mata pelajaran, peserta didik, dan sekolah; dan

11
3. Potensi dan kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan lingkungan/
daerah.
Dalam mengembangkan pembelajaran dan penilaian, terdapat dua rumusan
indikator, yaitu:
1. Indikator pencapaian kompetensi yang dikenal sebagai indikator; dan
2. Indikator penilaian yang digunakan dalam menyusun kisi-kisi dan menulis soal
yang di kenal sebagai indikator soal.
Indikator dirumuskan dalam bentuk kalimat dengan menggunakan kata kerja
operasional. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua hal yaitu tingkat
kompetensi dan materi yang menjadi media pencapaian kompetensi.

Fungsi Indikator
Indikator memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam mengembangkan
pencapaian kompetensi berdasarkan Standar Kompetensi – Kompetensi Dasar.
Indikator berfungsi sebagai berikut:
a. Pedoman dalam mengembangkan materi pembelajaran. Pengembangan materi
pembelajaran harus sesuai dengan indikator yang dikembangkan. Indikator yang
dirumuskan secara cermat dapat memberikan arah dalam pengembangan materi
pembelajaran yang efektif sesuai dengan karakteristik mata pelajaran, potensi dan
kebutuhan peserta didik, sekolah, serta lingkungan.
b. Pedoman dalam mendesain kegiatan pembelajaran. Desain pembelajaran perlu
dirancang secara efektif agar kompetensi dapat dicapai secara maksimal.
Pengembangan desain pembelajaran hendaknya sesuai dengan indikator yang
dikembangkan, karena indikator dapat memberikan gambaran kegiatan
pembelajaran yang efektif untuk mencapai kompetensi. Indikator yang menuntut
kompetensi dominan pada aspek prosedural menunjukkan agar kegiatan
pembelajaran dilakukan tidak dengan strategi ekspositori melainkan lebih tepat
dengan strategi discovery-inquiry.
c. Pedoman dalam mengembangkan bahan ajar. Bahan ajar perlu dikembangkan
oleh guru guna menunjang pencapaian kompetensi peserta didik. Pemilihan
bahan ajar yang efektif harus sesuai tuntutan indikator sehingga dapat
meningkatkan pencapaian kompetensi secara maksimal.
d. Pedoman dalam merancang dan melaksanakan penilaian hasil belajar. Indikator
menjadi pedoman dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi hasil
belajar, Rancangan penilaian memberikan acuan dalam menentukan bentuk dan
12
jenis penilaian, serta pengembangan indikator penilaian. Pengembangan indikator
penilaian harus mengacu pada indikator pencapaian yang dikembangkan sesuai
dengan tuntutan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.

Manfaat Indikator
Indikator Penilaian bermanfaat bagi :
1. Guru dalam mengembangkan kisi-kisi penilaian yang dilakukan melalui tes (tes
tertulis seperti ulangan harian, ulangan tengah semester, dan ulangan akhir
semester, tes praktik, dan/atau tes perbuatan) maupun non-tes;
2. Peserta didik dalam mempersiapkan diri mengikuti penilaian tes maupun non-
tes. Dengan demikian siswa dapat melakukan self assessment untuk mengukur
kemampuan diri sebelum mengikuti penilaian sesungguhnya;
3. Pimpinan sekolah dalam memantau dan mengevaluasi keterlaksanaan
pembelajaran dan penilaian di kelas; dan
4. Orang tua dan masyarakat dalam upaya mendorong pencapaian kompetensi siswa
lebih maksimal.

Mekanisme Pengembangan Indikator


a. Menganalisis Tingkat Kompetensi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi
Dasar.
Langkah pertama pengembangan indikator adalah menganalisis tingkat
kompetensi dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Hal ini
diperlukan untuk memenuhi tuntutan minimal kompetensi yang dijadikan standar
secara nasional. Sekolah dapat mengembangkan indikator melebihi standar
minimal tersebut.
Tingkat kompetensi dapat dilihat melalui kata kerja operasional yang
digunakan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Tingkat
kompetensi dapat diklasifikasi dalam tiga bagian, yaitu tingkat pengetahuan,
tingkat proses, dan tingkat penerapan. Kata kerja pada tingkat pengetahuan lebih
rendah dari pada tingkat proses maupun penerapan. Tingkat penerapan
merupakan tuntutan kompetensi paling tinggi yang diinginkan.
Selain tingkat kompetensi, penggunaan kata kerja menunjukan penekanan
aspek yang diinginkan, mencakup sikap, pengetahuan, serta keterampilan.
Pengembangan indikator harus mengakomodasi kompetensi sesuai tendensi yang
digunakan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Jika aspek keterampilan
13
lebih menonjol, maka indikator yang dirumuskan harus mencapai kemampuan
keterampilan yang diinginkan.
b. Menganalisis Karakteristik Mata Pelajaran, Peserta Didik, dan Sekolah
Pengembangan indikator mempertimbangkan karakteristik mata pelajaran, peserta
didik, dan sekolah karena indikator menjadi acuan dalam penilaian. Sesuai Peraturan
Pemerintah nomor 19 tahun 2005, karakteristik penilaian kelompok mata pelajaran
adalah sebagai berikut:
Kelompok Mata
Mata Pelajaran Aspek yang Dinilai
Pelajaran
Agama dan Pendidikan Afektif dan
Akhlak Mulia Agama Kognitif
Kewarganegaraa Pendidikan Afektif dan
n dan Kepribadian Kewarganegaraan Kognitif
Jasmani
Psikomotorik,
Olahraga dan Penjas Orkes
Afektif, dan Kognitif
Kesehatan
Afektif dan
Estetika Seni Budaya
Psikomotorik
Afektif, Kognitif,
Ilmu Matematika,
dan/atau Psikomotorik
Pengetahuan dan IPA, IPS
sesuai karakter mata
Teknologi Bahasa, dan TIK.
pelajaran

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang membedakan dari mata
pelajaran lainnya. Perbedaan ini menjadi pertimbangan penting dalam
mengembangkan indikator. Karakteristik mata pelajaran bahasa yang terdiri dari aspek
mendengar, membaca, berbicara dan menulis sangat berbeda dengan mata pelajaran
matematika yang dominan pada aspek analisis logis. Guru harus melakukan kajian
mendalam mengenai karakteristik mata pelajaran sebagai acuan mengembangkan
indikator. Karakteristik mata pelajaran dapat dikaji pada dokumen standar isi
mengenai tujuan, ruang lingkup dan Standar Kompetensi serta Kompetensi Dasar
masing-masing mata pelajaran.
Pengembangkan indikator memerlukan informasi karakteristik peserta didik yang
unik dan beragam. Peserta didik memiliki keragaman dalam intelegensi dan gaya
14
belajar. Oleh karena itu indikator selayaknya mampu mengakomodir keragaman
tersebut. Peserta didik dengan karakteristik unik visual-verbal atau psiko-kinestetik
selayaknya diakomodir dengan penilaian yang sesuai sehingga kompetensi siswa dapat
terukur secara proporsional.
Karakteristik sekolah dan daerah menjadi acuan dalam pengembangan indikator
karena target pencapaian sekolah tidak sama. Sekolah kategori tertentu yang melebihi
standar minimal dapat mengembangkan indikator lebih tinggi. Termasuk sekolah
bertaraf internasional dapat mengembangkan indikator dari Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar dengan mengkaji tuntutan kompetensi sesuai rujukan standar
internasional yang digunakan. Sekolah dengan keunggulan tertentu juga menjadi
pertimbangan dalam mengembangkan indikator.

Menganalisis Kebutuhan dan Potensi


Kebutuhan dan potensi peserta didik, sekolah dan daerah perlu dianalisis untuk
dijadikan bahan pertimbangan dalam mengembangkan indikator. Penyelenggaraan
pendidikan seharusnya dapat melayani kebutuhan peserta didik, lingkungan, serta
mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. Peserta didik mendapatkan
pendidikan sesuai dengan potensi dan kecepatan belajarnya, termasuk tingkat potensi
yang diraihnya.
Indikator juga harus dikembangkan guna mendorong peningkatan mutu sekolah di
masa yang akan datang, sehingga diperlukan informasi hasil analisis potensi sekolah
yang berguna untuk mengembangkan kurikulum melalui pengembangan indikator.

Merumuskan Indikator
Dalam merumuskan indikator perlu diperhatikan beberapa ketentuan sebagai
berikut:
a. Setiap KD dikembangkan sekurang-kurangnya menjadi tiga indikator
b. Keseluruhan indikator memenuhi tuntutan kompetensi yang tertuang dalam kata
kerja yang digunakan dalam SK dan KD. Indikator harus mencapai tingkat
kompetensi minimal KD dan dapat dikembangkan melebihi kompetensi minimal
sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik
c. Indikator yang dikembangkan harus menggambarkan hirarki kompetensi.
d. Rumusan indikator sekurang-kurangnya mencakup dua aspek, yaitu tingkat
kompetensi dan materi pembelajaran.

15
e. Indikator harus dapat mengakomodir karakteristik mata pelajaran sehingga
menggunakan kata kerja operasional yang sesuai.
f. Rumusan indikator dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator penilaian
yang mencakup ranah kognitif, afektif, dan/atau psikomotorik.

Mengembangkan Indikator Penilaian


Indikator penilaian merupakan pengembangan lebih lanjut dari indikator
(indikator pencapaian kompetensi). Indikator penilaian perlu dirumuskan untuk
dijadikan pedoman penilaian bagi guru, peserta didik maupun evaluator di sekolah.
Dengan demikian indikator penilaian bersifat terbuka dan dapat diakses dengan
mudah oleh warga sekolah. Setiap penilaian yang dilakukan melalui tes dan non-tes
harus sesuai dengan indikator penilaian.
Indikator penilaian menggunakan kata kerja lebih terukur dibandingkan
dengan indikator (indikator pencapaian kompetensi). Rumusan indikator penilaian
memiliki batasan-batasan tertentu sehingga dapat dikembangkan menjadi instrumen
penilaian dalam bentuk soal, lembar pengamatan, dan atau penilaian hasil karya atau
produk, termasuk penilaian diri.

2.1.5. Tujuan Pembelajaran


Kegiatan menyusun rencana pembelajaran merupakan salah satu tugas penting
guru dalam memproses pembelajaran siswa. Dalam perspektif kebijakan pendidikan
nasional yang dituangkan dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang
Standar Proses disebutkan bahwa salah satu komponen dalam penyusunan Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yaitu adanya tujuan pembelajaran yang di
dalamnya menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dapat dicapai
oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran hendaknya
diletakkan dan dijadikan titik tolak berfikir guru dalam menyusun sebuah Rencana
Pembelajaran, yang akan mewarnai komponen-komponen perencanan lainnya.

Pengertian Tujuan Pembelajaran


Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap
pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan perlunya
tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun
1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam
bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970
16
hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga
pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa
pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962)
mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai
atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran
suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan
yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang
diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan
yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik
(2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai
tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Meski para ahli memberikan rumusan tujuan pembelajaran yang beragam, tetapi
semuanya menunjuk pada esensi yang sama, bahwa:
1. Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi
pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran;
2. Tujuan dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang
menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel
bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis.
Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran
seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).
Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu,
baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4
(empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:
a. Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar
kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara
lebih mandiri;
b. Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
c. Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media
pembelajaran;
d. Memudahkan guru mengadakan penilaian.
Dalam Permendiknas RI No. 52 Tahun 2008 tentang Standar Proses
disebutkan bahwa tujuan pembelajaran memberikan petunjuk untuk memilih isi mata
pelajaran, menata urutan topik-topik, mengalokasikan waktu, petunjuk dalam
17
memilih alat-alat bantu pengajaran dan prosedur pengajaran, serta menyediakan
ukuran (standar) untuk mengukur prestasi belajar siswa.

Merumuskan Tujuan Pembelajaran


Salah satu sumbangan terbesar dari aliran psikologi behaviorisme terhadap
pembelajaran bahwa pembelajaran seyogyanya memiliki tujuan. Gagasan perlunya
tujuan dalam pembelajaran pertama kali dikemukakan oleh B.F. Skinner pada tahun
1950. Kemudian diikuti oleh Robert Mager pada tahun 1962 yang dituangkan dalam
bukunya yang berjudul Preparing Instruction Objective. Sejak pada tahun 1970
hingga sekarang penerapannya semakin meluas hampir di seluruh lembaga
pendidikan di dunia, termasuk di Indonesia.
Merujuk pada tulisan Hamzah B. Uno (2008) berikut ini dikemukakan beberapa
pengertian yang dikemukakan oleh para ahli. Robert F. Mager (1962)
mengemukakan bahwa tujuan pembelajaran adalah perilaku yang hendak dicapai
atau yang dapat dikerjakan oleh siswa pada kondisi dan tingkat kompetensi tertentu.
Kemp (1977) dan David E. Kapel (1981) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran
suatu pernyataan yang spesifik yang dinyatakan dalam perilaku atau penampilan
yang diwujudkan dalam bentuk tulisan untuk menggambarkan hasil belajar yang
diharapkan. Henry Ellington (1984) bahwa tujuan pembelajaran adalah pernyataan
yang diharapkan dapat dicapai sebagai hasil belajar. Sementara itu, Oemar Hamalik
(2005) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran adalah suatu deskripsi mengenai
tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsung pembelajaran .
Seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran, saat ini
telah terjadi pergeseran dalam perumusan tujuan pembelajaran. W. James Popham
dan Eva L. Baker (2005) mengemukakan pada masa lampau guru diharuskan
menuliskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk bahan yang akan dibahas dalam
pelajaran, dengan menguraikan topik-topik atau konsep-konsep yang akan dibahas
selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran pada masa lalu ini tampak lebih mengutamakan pada
pentingnya penguasaan bahan bagi siswa dan pada umumnya yang dikembangkan
melalui pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered).
Namun seiring dengan pergeseran teori dan cara pandang dalam pembelajaran,
tujuan pembelajaran yang semula lebih memusatkan pada penguasaan bahan,
selanjutnya bergeser menjadi penguasaan kemampuan siswa atau biasa dikenal
dengan sebutan penguasaan kompetensi atau performansi. Dalam praktik pendidikan
18
di Indonesia, pergeseran tujuan pembelajaran ini terasa lebih mengemuka sejalan
dengan munculnya gagasan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Selanjutnya, W. James Popham dan Eva L. Baker (2005) menegaskan bahwa
seorang guru profesional harus merumuskan tujuan pembelajarannya dalam bentuk
perilaku siswa yang dapat diukur yaitu menunjukkan apa yang dapat dilakukan oleh
siswa tersebut sesudah mengikuti pelajaran.
Berbicara tentang perilaku siswa sebagai tujuan belajar, saat ini para ahli pada
umumnya sepakat untuk menggunakan pemikiran dari Bloom (Gulo, 2005) sebagai
tujuan pembelajaran. Bloom mengklasifikasikan perilaku individu ke dalam tiga
ranah atau kawasan, yaitu: (1) kawasan kognitif yaitu kawasan yang berkaitan aspek-
aspek intelektual atau berfikir/nalar, di dakamnya mencakup: pengetahuan
(knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), penguraian
(analysis), memadukan (synthesis), dan penilaian (evaluation); (2) kawasan afektif
yaitu kawasan yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap,
kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, di dalamnya mencakup: penerimaan
(receiving/attending), sambutan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian
(organization), dan karakterisasi (characterization); dan (3) kawasan psikomotor
yaitu kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan
fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Kawasan
ini terdiri dari: kesiapan (set), peniruan (imitation, membiasakan (habitual),
menyesuaikan (adaptation) dan menciptakan (origination). Taksonomi ini
merupakan kriteria yang dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluasi mutu dan
efektivitas pembelajarannya.
Dalam sebuah perencanaan pembelajaran tertulis (written plan/RPP), untuk
merumuskan tujuan pembelajaran tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi
harus memenuhi beberapa kaidah atau kriteria tertentu. W. James Popham dan Eva
L. Baker (2005) menyarankan dua kriteria yang harus dipenuhi dalam memilih
tujuan pembelajaran, yaitu: (1) preferensi nilai guru yaitu cara pandang dan
keyakinan guru mengenai apa yang penting dan seharusnya diajarkan kepada siswa
serta bagaimana cara membelajarkannya; dan (2) analisis taksonomi perilaku
sebagaimana dikemukakan oleh Bloom di atas. Dengan menganalisis taksonomi
perilaku ini, guru akan dapat menentukan dan menitikberatkan bentuk dan jenis
pembelajaran yang akan dikembangkan, apakah seorang guru hendak
menitikberatkan pada pembelajaran kognitif, afektif ataukah psikomotor.

19
Menurut Oemar Hamalik (2005) bahwa komponen-komponen yang harus
terkandung dalam tujuan pembelajaran, yaitu
a. Perilaku terminal,
b. Kondisi-kondisi dan
c. Standar ukuran.

Hal senada dikemukakan Mager (Hamzah B. Uno, 2008) bahwa tujuan


pembelajaran sebaiknya mencakup tiga komponen utama, yaitu:
a. Menyatakan apa yang seharusnya dapat dikerjakan siswa selama belajar dan
kemampuan apa yang harus dikuasainya pada akhir pelajaran;
b. Perlu dinyatakan kondisi dan hambatan yang ada pada saat mendemonstrasikan
perilaku tersebut; dan
c. Perlu ada petunjuk yang jelas tentang standar penampilan minimum yang dapat
diterima.
Berkenaan dengan perumusan tujuan performansi, Dick dan Carey (Hamzah Uno,
2008) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran terdiri atas:
1. Tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan atau diperbuat oleh anak
didik;
2. Menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat yang
hadir pada waktu anak didik berbuat; dan
3. Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan anak didik
yang dimaksudkan pada tujuan.

Telah dikemukakan di atas bahwa tujuan pembelajaran harus dirumuskan secara jelas.
Dalam hal ini Hamzah B. Uno (2008) menekankan pentingnya penguasaan guru tentang tata
bahasa, karena dari rumusan tujuan pembelajaran itulah dapat tergambarkan konsep dan
proses berfikir guru yang bersangkutan dalam menuangkan idenya tentang pembelajaran.
Pada bagian lain, Hamzah B. Uno (2008) mengemukakan tentang teknis penyusunan
tujuan pembelajaran dalam format ABCD. A=Audience (petatar, siswa, mahasiswa, murid
dan sasaran didik lainnya), B=Behavior (perilaku yang dapat diamati sebagai hasil belajar),
C=Condition (persyaratan yang perlu dipenuhi agar perilaku yang diharapkan dapat tercapai,
dan D=Degree (tingkat penampilan yang dapat diterima).

20
2.1.6. Prinsip-prinsip Pengembagan Standar Kompetensi
Selain mengacu pada SKL ( Standar Kompetensi Lulusan ), pengembangan SK
peserta didik dalam suatu mata pelajaran juga mengacu pada struktur keilmuan dan
perkembangan peserta didik, yang dikembangkan oleh para pakar mata pelajaran, pakar
pendidikan dan pakar psikologi perkembangan, dengan mengacu pada prinsip-prinsip:
a. Peningkatan Keimanan, Budi Pekerti Luhur, dan Penghayatan Nilai-Nilai Budaya.
Keimanan, budi pekerti luhur, dan nilai-nilai budaya perlu digali, dipahami, dan
diamalkan untuk mewujudkan karakter dan martabat bangsa.
b. Keseimbangan Etika, Logika, Estetika, dan Kinestetika. Kegiatan Pembelajaran
dirancang dengan memperhatikan keseimbangan etika, logika, estetika, dan kinestetika.
c. Penguatan Integritas Nasional. Penguatan integritas nasional dicapai melalui pendidikan
yang menumbuhkembangkan dalam diri peserta didik sebagai bangsa Indonesia melalui
pemahaman dan penghargaan terhadap perkembangan budaya dan peradaban bangsa
Indonesia yang mampu memberikan sumbangan terhadap peradaban dunia.
d. Perkembangan Pengetahuan dan Teknologi Informasi. Kemampuan berpikir dan belajar
dengan cara mengakses, memilih, dan menilai pengetahuan untuk mengatasi situasi yang
cepat berubah dan penuh ketidakpastian serta menghadapi perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi informasi.
e. Pengembangan Kecakapan Hidup. Kurikulum mengembangkan kecakapan hidup
melalui budaya membaca, menulis, dan kecakapan hitung; keterampilan, sikap, dan
perilaku adaptif, kreatif, kooperatif, dan kompetitif; dan kemampuan bertahan hidup.
f. Pilar Pendidikan. Kurikulum mengorganisasikan fondasi belajar ke dalam lima pilar
sesuai dengan Panduan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yaitu: (a) belajar
untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa; (b) belajar untuk memahami
dan menghayati; (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif; (d)
belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain; dan (e) belajar untuk
membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan.
g. Menyeluruh dan Berkesinambungan. Kompetensi mencakup keseluruhan dimensi
kemampuan yaitu pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap, pola pikir dan perilaku
yang disajikan secara berkesinambungan mulai dari usia taman kanak-kanak atau
raudhatul athfal sampai dengan pendidikan menengah.
h. Belajar Sepanjang Hayat. Pendidikan diarahkan pada proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlanjut sepanjang hayat dengan mencerminkan
keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, sambil
21
memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah
pengembangan manusia seutuhnya.

2.1.7. Ruang Lingkup SKL kurikulum KTSP dan kurikulum 2013


Perbedaan ruang lingkup antara SKL dalam KTSP dan kurikulum 2013 adalah
sebagai berikut:

Tabel 2.1 Perbedaan SKL pada KTSP dan Kurikulum 2013


KTSP Kurikulum 2013
SKL terdiri dari setiap mata Hanya ada 1 SKL pada setiap jenjang
pelajaran, setiap mata pelajaran kelas yang menjadi acuan untuk semua
memiliki SK dan KD sendiri, mata pelajaran.
disetiap jenjang kelas
Pembelajaran menitikberatkan pada Pembelajaran lebih menekankan
kemampuan kognitif. Terlihat dari pendidikan karakter. Adanya
esensi SK dan KD yang lebih keseimbangan antara soft skill dan hard
banyak memuat konseptual. skill. Dipaparkan jelas pada tiap-tiap
sehingga beban belajar terlalu berat. Kompetensi Inti,yaitu KI1, KI2, KI3
dan KI4.
Pembentukan karakter belum secara Pendidikan karakter sudah dimunculkan
jelas diuraikan dalam SKL, hanya dalam SKL dalam ranah KI1
dimunculkan dalam silabus dan (religious), dan KI2 (sikap sosial
RPP individual).
Pembelajaran yang digunakan Pembelajaran menggunakan pendekatan
bersifat pasif dan abstrak ilmiah yang bersifat interaktif,
menyelidiki konteks dunia nyata.
SKL diuraikan berasal dari standar SKL diuraikan berdasarkan kebutuhan,
isi dimana SKL digunakan sebagai dasar
untuk mengembangkan 7 SNP yang
lainnya.
Terdapat pemisahan antara mata Semua mata pelajaran harus mampu
pelajaran sikap, keterampilan, dan membentuk sikap, keterampilan, dan
pembentukan pengetahuan pengetahuan.
Kompetensi diuraikan dari mata Mata pelajaran diuraikan dari
22
pelajaran. kompetensi yang ingin dicapai
Mata pelajaran terpisah – terpisah Semua mata pelajaran disatukan oleh
sehingga terlihat seperti kumpulan KI disetiap kelas.
mata pelajaran.
Mata pelajaran belum relevan Sesuai dengan perkembangan anak,
dengan kompetensi yang mata pelajarannya esensial, dan sesuai
dibutuhkan, terlalu berat, terlalu dengan yang dibutuhkan.
luas.
Cakupan SKL terdiri dari satuan Cakupan SKL untuk semua satuan
pendidikan, mata pelajaran, dan pendidikan yang meliputi mata
kelompok mata pelajaran. pelajaran, jenjang kelas, maupun
kelompok pelajaran.
Penjurusan dimulai ketika kelas XI Tersedia kelompok peminatan (sebagai
SMA. Tidak tersedia mata pelajaran ganti penjurusan) dan pilihan antar
pilihan antar jurusan. kelompok peminatan dan bebas pada
awal masuk sekolah SMA.

Kompetensi Dasar mata pelajaran wajib memberikan kemampuan dasar yang sama
bagi tamatan Pendidikan Menengah antara mereka yang belajar di SMA dan SMK. Bagi mereka
yang memilih SMA tersedia pilihan kelompok peminatan (sebagai ganti jurusan) dan pilihan
antar kelompok peminatan dan bebas. Nama kelompok peminatan digunakan karena memiliki
keterbukaan untuk belajar di luar kelompok tersebut sedangkan nama jurusan memiliki konotasi
terbatas pada apa yang tersedia pada jurusan tersebut dan tidak boleh mengambil mata pelajaran di
luar jurusan.
Kompetensi Inti merupakan terjemahan atau operasionalisasi Standar Kompetensi
Lulusan dalam bentuk kualitas yang harus dimiliki mereka yang telah menyelesaikan pendidikan
pada satuan pendidikan tertentu atau jenjang pendidikan tertentu, gambaran mengenai kompetensi
utama yang dikelompokkan ke dalam aspek sikap, pengetahuan, dan keterampilan (afektif,
kognitif, dan psikomotor) yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah,
kelas dan mata pelajaran. Kompetensi Inti harus menggambarkan kualitas yang seimbang antara
pencapaian hard skills dan soft skills.
Kompetensi Inti berfungsi sebagai unsur pengorganisasi (organizing element)
kompetensi dasar. Sebagai unsur pengorganisasi, Kompetensi Inti merupakan pengikat untuk
organisasi vertikal dan organisasi horizontal Kompetensi Dasar. Organisasi vertikal Kompetensi
Dasar adalah keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu kelas atau jenjang pendidikan ke
kelas/jenjang di atasnya sehingga memenuhi prinsip belajar yaitu terjadi suatu akumulasi yang

23
berkesinambungan antara konten yang dipelajari peserta didik. Organisasi horizontal adalah
keterkaitan antara konten Kompetensi Dasar satu mata pelajaran dengan konten Kompetensi
Dasar dari mata pelajaran yang berbeda dalam satu pertemuan mingguan dan kelas yang sama
sehingga terjadi proses saling memperkuat.
Secara umum perbedaan kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 pada jenjang SMK/MAK
tidak jauh berbeda pada jenjang SD, SMP maupun SMA, pada SMK / MAK terdapat kelompok mata
pelajaran (mapel) seperti Kelompok Mapel Normatif, Kelompok Mapel Adaptif, Kelompok Mapel
Produktif. Dalam kurikulum SMK/MAK Mapel Fisika dikelompokkan dalam Kelompok Mapel
Adaptif. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang telah dirumuskan untuk jenjang satuan
pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) dipergunakan
untuk merumuskan kompetensi dasar yang diperlukan untuk mencapainya. Capaian kompetensi pada
tiap akhir jenjang kelas dari Kelas X sampai dengan Kelas XII atau Kelas XIII disebut dengan
Kompetensi Inti. Berikut terdapat contoh perbedaan antara KI KD dan SK KD.

Tabel 2.2 Perbandingan KI-SK dan SK-KD Tingkat SD/MI Kelas IV


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
Makhluk Hidup dan 1.1 Mendeskripsikan hubungan
Proses Kehidupan antara struktur kerangka tubuh
1. Memahami hubungan antara manusia dengan fungsinya
struktur organ tubuh manusia 1.2 Menerapkan cara memelihara
dengan fungsinya, serta kesehatan kerangka tubuh
pemeliharaannya 1.3 Mendeskripsikan hubungan
antara struktur panca indera
dengan fungsinya
1.4 Menerapkan cara memelihara
kesehatan panca indera
2. Memahami hubungan antara 2.1 Menjelaskan hubungan antara
struktur bagian tumbuhan struktur akar tumbuhan dengan
dengan fungsinya fungsinya
2.2 Menjelaskan hubungan antara
struktur batang tumbuhan dengan
fungsinya

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

24
1. Menerima, menghargai, dan 1.1 Bertambah keimanannya dengan
menjalankan ajaran agama menyadari hubungan keteraturan
yang dianutnya dan kompleksitas alam dan jagad
raya terhadap kebesaran Tuhan
yang menciptakannya, serta
mewujudkannya dalam
pengamalan ajaran agama yang
dianutnya

2. Memiliki perilaku jujur, 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah


disiplin, tanggung jawab, (memiliki rasa ingin tahu;
santun, peduli, dan percaya obyektif; jujur; teliti; cermat;
diri dalam berinteraksi tekun; hati-hati; bertanggung
dengan keluarga, teman, jawab; terbuka; dan peduli
tetangga, dan guru lingkungan) dalam aktivitas
sehari-hari sebagai wujud
implementasi sikap dalam.
melakukan inkuiri ilmiah dan
berdiskusi
2.2 Menghargai kerja individu dan
kelompok dalam aktivitas
sehari-hari sebagai wujud
implementasi melaksanakan
penelaahan fenomena alam
secara mandiri maupun
berkelompok

3. Memahami pengetahuan 3.1 Menjelaskan bentuk luar tubuh


faktual dengan cara hewan dan tumbuhan dan
mengamati [mendengar, fungsinya
melihat, membaca] dan 3.2 Mendeskripsikan daur hidup
menanya berdasarkan rasa beberapa jenis mahluk hidup
ingin tahu tentang dirinya, 3.3 Memahami hubungan antara
makhluk ciptaan Tuhan dan gaya, gerak, dan energi melalui
kegiatannya, dan benda- pengamatan, serta
benda yang dijumpainya di
25
rumah, sekolah, dan tempat mendeskripsikan penerapanya
bermain dalam kehidupan sehari-hari
3.4 Membedakan berbagai bentuk
energi melalui pengamatan dan
mendeskripsikan
pemanfaatannya dalam
kehidupan sehari-hari
3.5 Memahami sifat-sifat bunyi
melalui pengamatan dan
keterkaitannya dengan indera
pendengaran
3.6 Memahami sifat-sifat cahaya
melalui pengamatan dan
mendeskripsikan penerapannya
dalam kehidupan sehari-hari
3.7 Mendeskrisikan hubungan
antara sumber daya alam dengan
lingkungan, teknologi, dan
masyarakat

4. Menyajikan pengetahuan 1.1 Menuliskanhasil pengamatan


faktual dalam bahasa yang jelas tentang bentuk luar (morfologi)
dan logis dan sistematis, dalam tubuh hewan dan tumbuhan serta
karya yang estetis dalam fungsinya
gerakan yang mencerminkan 1.2 Menyajikan secara tertulis hasil
anak sehat, dan dalam tindakan pengamatan daur hidup beberapa
yang mencerminkan perilaku jenis mahluk hidup.
anak beriman dan berakhlak 1.3 Menyajikan laporan hasil
mulia percobaan gaya dan gerak
menggunakan table dan grafik
1.4 Menyajikan hasil percobaan atau
observasi tentang bunyi
4.5 Membuat sebuah karya/model
yang memanfaatkan sifat-sifat

26
cahaya
4.6 Menyajikan laporan tentang
sumberdaya alam dan
pemanfaatannya oleh
masyarakat
4.7 Menyajikan laporan hasil
pengamatan tentang teknologi
yang digunakan di kehidupan
sehari-hari serta kemudahan
yang diperoleh oleh masyarakat
dengan memanfaatkan teknologi
tersebut

Tabel 2.3 Perbandingan KI-SK dan SK-KD Tingkat SMP Kelas VII
Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Memahami prosedur ilmiah 1.1 Mendeskripsi-kan besaran pokok
untuk mempelajari benda- dan besaran turu-nan beserta
benda alam dengan satuannya.
menggunakan peralatan 1.2 Mendeskripsi-kan pengertian suhu
dan pengukurannya
1.3 Melakukan pengukuran dasar
secara teliti dengan mengguna-kan
alat ukur yang sesuai dan sering
digunakan dalam kehidupan sehari-
hari
3. Memahami wujud zat dan 3.1 Menyelidiki sifat-sifat zat
perubahannya berdasarkan wujudnya dan
penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari
3.2 Mendeskripsikan konsep massa
jenis dalam kehidupan sehari-hari
3.3 Melakukan percobaan yang
berkaitan dengan pemuain dalam
kehidupan sehari-hari

27
Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

1. Menghargai dan menghayati 1.1Mengagumi keteraturan dan


ajaran agama yang dianutnya kompleksitas ciptaan Tuhan tentang
aspek fisik dan kimiawi, kehidupan
dalam ekosistem, dan peranan
manusia dalam lingkungan serta
mewujudkannya dalam pengamalan
ajaran agama yang dianutnya

2. Menghargai dan menghayati 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah


perilaku jujur, disiplin, (memiliki rasa ingin tahu; objektif;
tanggungjawab, peduli jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;
(toleransi, gotong royong), bertanggung jawab; terbuka; kritis;
santun, percaya diri, dalam kreatif; inovatif dan peduli
berinteraksi secara efektif lingkungan) dalam aktivitas sehari-
dengan lingkungan sosial dan hari sebagai wujud implementasi
alam dalam jangkauan sikap dalam melakukan pengamatan,
pergaulan dan keberadaannya percobaan, dan berdiskusi
2.2 Menghargai kerja individu dan
kelompok dalam aktivitas sehari-hari
sebagai wujud implementasi
melaksanakan percobaan dan
melaporkan hasil percobaan
2.3 Menunjukkan perilaku bijaksana dan
bertanggungjawab dalam aktivitas
sehari-hari sebagai wujud
implementasi sikap dalam memilih
penggunaan bahan kimia untuk
menjaga kesehatan diri dan
lingkungan
2.4 Menunjukkan penghargaan kepada
orang lain dalam aktivitas sehari-hari
sebagai wujud implementasi perilaku
menjaga kebersihan dan kelestarian
lingkungan
28
3. Memahami pengetahuan 3.1 Memahami konsep pengukuran
(faktual, konseptual, dan berbagai besaran yang ada pada diri,
prosedural) berdasarkan rasa makhluk hidup, dan lingkungan fisik
ingin tahunya tentang ilmu sekitar sebagai bagian dari observasi,
pengetahuan, teknologi, seni, serta pentingnyaperumusan satuan
budaya terkait fenomena dan terstandar (baku) dalam pengukuran
kejadian tampak mata 3.2 Mengidentifikasi ciri hidup dan tak
hidup dari benda-benda dan makhluk
hidup yang ada di lingkungan sekitar
3.3 Memahami prosedur
pengklasifikasian makhluk hidup
dan benda-benda tak-hidup sebagai
bagian kerja ilmiah,serta
mengklasifikasikan berbagai
makhluk hidup dan benda-benda tak-
hidup berdasarkan ciri yang diamati.
3.4 Mendeskripsikan keragaman pada
sistem organisasi kehidupan mulai
dari tingkat sel sampai organisme,
serta komposisi bahan kimia utama
penyusun sel
4. Mencoba, mengolah, dan 4.1 Menyajikan hasil pengukuran
menyaji dalam ranah terhadap besaran-besaran pada diri,
konkret (menggunakan, makhluk hidup, dan lingkungan fisik
mengurai, merangkai, dengan menggunakan satuan tak
memodifikasi, dan baku dan satuan baku
membuat) dan ranah 4.2 Menyajikan hasil analisis data
abstrak (menulis, membaca, observasi terhadap benda (makhluk)
menghitung, menggambar, hidup dan tak hidup
dan mengarang) sesuai 4.3 Mengumpulkan data dan melakukan
dengan yang dipelajari di klasifikasi terhadap benda-benda,
sekolah dan sumber lain tumbuhan, dan hewan yang ada di
yang sama dalam sudut lingkungan sekitar
pandang/teori 4.4 Membuat dan menyajikan poster
tentang sel dan bagian-bagiannya
4.5 Melakukan pemisahan campuran

29
berdasarkan sifat fisika dan kimia
4.6 Melakukan percobaan sederhana
untuk menyelidiki proses fotosintesis
pada tumbuhan hijau
4.7 Melakukan percobaan untuk
menyelidiki pengaruh kalor terhadap
perubahan suhu dan perubahan
wujud benda
4.8 Melakukan penyelidikan terhadap
karakteristik perambatan kalor
secara konduksi, konveksi, dan
radiasi
4.9 Melakukan percobaan untuk
menyelidiki respirasi pada hewan

Tabel 2.4 Perbandingan KI-SK dan SK-KD Tingkat SMA


Standar Kompetensi Kompetensi Dasar
1. Menerapkan konsep besaran 1.1 Mengukur besaran fisika (massa,
fisika dan pengukurannya panjang, dan waktu)

2. Menerapkan konsep dan 1.2


2.1 Melakukan penjumlahan
Menganalisis vektor
besaran fisika pada gerak
prinsip dasar kinematika dan dengan kecepatan konstan dan
dinamika benda titik percepatan konstan.
2.2 Menganalisis besaran fisika pada gerak
melingkar dengan laju konstan.
2.3 Menerapkan Hukum Newton sebagai
Kompetensi Inti prinsip Kompetensi
dasar dinamika
Dasaruntuk gerak
1. Menghayati dan 1.1 Bertambah
lurus, gerak keimanannya
vertical, dan dengan
gerak
mengamalkan ajaran agama menyadari hubungan keteraturan dan
melingkar beraturan
yang dianutnya kompleksitas alam dan jagad raya
terhadap kebesaran Tuhan yang
menciptakannya.
1.2 Menyadari kebesaran Tuhan yang
mengatur karakteristik fenomena
gerak, fluida, kalor dan optik

30
2. Menghayati dan 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah
mengamalkan perilaku jujur, (memiliki rasa ingin tahu; objektif;
disiplin, tanggungjawab, jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;
peduli (gotong royong, bertanggung jawab; terbuka; kritis;
kerjasama, toleran, damai), kreatif; inovatif dan peduli lingkungan)
santun, responsif dan pro- dalam aktivitas sehari-hari sebagai
aktif dan menunjukkan
3. Memahami, sikap 3.1 Memahami
menerapkan, wujud implementasi
hakikat fisikasikap dalam
dan prinsip-
sebagai bagian pengetahuan
menganalisis dari solusi melakukan
prinsip percobaan
pengukuran dan berdiskusi.
(ketepatan,
atas berbagai permasalahan
faktual, konseptual, 2.2 Menghargai kerja angka
ketelitian, dan aturan individu
penting).dan
dalam berinteraksi
prosedural berdasarkansecara
rasa 3.2 kelompok
Menerapkandalam aktivitaspenjumlahan
prinsip sehari-hari
efektif dengantentang
ingintahunya lingkungan
ilmu sebagai
vector (denganwujud
pendekatanimplementasi
geometri).
social dan alam
pengetahuan, serta dalam
teknologi, seni, 3.3 melaksanakan percobaan
Menganalisis besaran-besaran dan
fisis
menempatkan
4. budaya, diri humaniora
Mengolah, danmenalar,sebagai melaporkan
dan 4.1 pada gerak hasil
Menyajikan luruspercobaan
denganpengukuran
hasil kecepatan
cerminan
dengan dalam
menyaji bangsa dalam
ranahwawasan
konkret konstan dan dengan
besaran fisis gerak lurus dengan
menggunakan
pergaulan
dan ranahdunia.
kemanusiaan, kebangsaan,
abstrak terkait percepatandan
peralatan konstan
teknik yang tepat untuk
kenegaraan, dan peradaban
dengan pengembangan dari 3.4 suatu
Menganalisis hubungan
penyelidikan ilmiah. antara gaya,
terkait
yang penyebab fenomena
dipelajarinya di 4.2 massa, dan gerakan
Merencanakan danbenda pada gerak
melaksanakan
dan kejadian,
sekolah secara mandiri, serta
dan lurus
percobaan untuk menentukan resultan
menerapkan
mampu pengetahuan 3.5 vector.
menggunakan Menganalisis besaran fisis pada gerak
prosedural
metoda
Tabel2.4 pada
sesuai
Perbandingan KI-SKbidang
kaidah melingkar
4.3 Menyajikan
dan SK-KD dengan
Tingkat SMK laju konstan
data dan dan
grafik hasil
kajianStandar
yang spesifik
keilmuan sesuai
Kompetensi penerapannya
percobaan dalam menyelidiki
Kompetensi
untuk teknologi
Dasar sifat
1. Mengukur besaran
dengan bakat dandanminatnya 3.6
1.1 Menguasai
Menganalisis
gerak konsepsifat
benda yangelastisitas
besaran bahan
dan satuannya.
bergerak
menerapkan satuannyamasalah 1.2 Menggunakan
untuk memecahkan dalam alat ukur
lurus kehidupan yang
sehari haritepat
dengan untuk
kecepatan
3.7 mengukur
konstansuatu
Menerapkan
danbesaran fisislurus dengan
hukum-hukum
gerak pada
2. Menerapkan hukum gerak dan 2.1 Menguasai konsep gerak dan gaya.
fluida statikkonstan
percepatan dalam kehidupan sehari-
gaya 2.2 Menguasai hukum Newton.
4.4 hari
Merencanakan dan melaksanakan
2.3 Menghitung gerak lurus
3.8 percobaan
Menganalisis pengaruh kalor
untuk menyelidiki dan
hubungan
2.4 Menghitung gerak melingkar
perpindahan
gaya, massa, kalor pada kehidupan
dan percepatan dalam
3. Menerapkan gerak translasi, 2.5
3.1 Menghitung gaya gesek
Menguasai konsep gerak translasi dan
sehari-hari
gerak lurus
rotasi, dan keseimbangan benda rotasi.
3.9
4.5 Menganalisis
Menyajikan cara kerja
ide/gagasan alat gerak
terkait optik
tegar 3.2 Menguasai konsep keseimbangan benda
menggunakan
melingkar sifat pencerminan
(misalnya pada hubungan dan
tegar.
pembiasan
3.3 roda-roda) cahaya
Menghitung gerak oleh dan
translasi cermin
rotasi. dan

Kompetensi Inti 3.4 lensa


Menghitung keseimbangan benda tegar.
Kompetrensi Dasar

31
1. Menghayati dan mengamalkan 1.1 Menambah keimanan dengan
ajaran agama yang dianutnya menyadari hubungan keteraturan dan
kompleksitas alam terhadap kebesaran
Tuhan yang menciptakannya
1.2 Menyadari kebesaran Tuhan yang
menciptakan dan mengatur karakteristik
fenomena gerak, fluida, dan kalor

2. Menghayati dan mengamalkan 2.1 Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki


perilaku jujur, disiplin, rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti;
tanggungjawab, peduli cermat; tekun; hati-hati; bertanggung
(gotong royong, kerjasama, jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif
toleran, damai), santun, dan peduli lingkungan) dalam aktivitas
responsif dan pro-aktif dan sehari-hari sebagai wujud implementasi
menunjukan sikap sebagai sikap dalam melakukan percobaan dan
bagian dari solusi atas diskusi
berbagai permasalahan dalam 2.2 Menghargai kerja individu dan
berinteraksi secara efektif kelompok dalam aktivitas sehari-hari
dengan lingkungan sosial dan sebagai wujud implementasi
alam serta dalam melaksanakan percobaan dan
menempatkan diri sebagai melaporkan hasil percobaan
cerminan bangsa dalam
pergaulan dunia.

3. Memahami, menerapkan dan 3.1 Memahami konsep besaran pokok,


menganalisis pengetahuan besaran turunan, dan satuan.
faktual, konseptual, dan 3.2 Menerapkan prinsip penjumlahan
prosedural berdasarkan rasa vektor
ingin tahunya tentang ilmu
3.3 Memahami konsep gerak benda titik
pengetahuan, teknologi, seni,
melalui besaran-besaran fisika yang
budaya, dan humaniora dalam
terkait
wawasan kemanusiaan,
3.4 Menerapkan konsep gerak lurus
kebangsaan, kenegaraan, dan
dengan kecepatan tetap dan gerak lurus
peradaban terkait penyebab
dengan percepatan tetap
fenomena dan kejadian dalam
3.5 Memahami gerak melingkar dengan
bidang kerja yang spesifik
laju tetap dan gerak melingkar dengan
untuk memecahkan masalah.
percepatan sudut tetap
3.6 Menerapkan hukum Newton dan

32
konsep gaya
3.7 Menerapkan konsep usaha, energi dan
daya.

4. Mengolah, menalar, dan 4.1 Menyaji hasil pengukuran besaran fisis


menyaji dalam ranah konkret menggunakan alat ukur dan teknik
dan ranah abstrak terkait yang tepat
dengan pengembangan dari 4.2 Menyaji hasil pengamatan terhadap
yang dipelajarinya di sekolah gerak benda ke dalam grafik
secara mandiri, dan mampu 4.3 Menganalisis gerak lurus berubah
melaksanakan tugas spesifik beraturan menggunakan hukum
di bawah pengawasan Newton
langsung. 4.4 Menyaji hasil percobaan menggunakan
konsep usaha, energi dan daya
4.5 Menganalisis hubungan impuls dan
momentum dalam perhitungan
4.6 Menyaji hasil analisis gerak benda
berdasarkan konsep translasi dan rotasi
4.7 Memecahkan masalah kesetimbangan
benda tegar
4.8 Memecahkan masalah yang berkaitan
dengan tumbukan
4.9 Merencanakan dan melaksanakan
percobaan untuk menentukan
elastisitas bahan
4.10 Memecahkan persoalan dalam
teknologi dan rekayasa yang berkaitan
dengan hukum-hukum fluida statik dan
dinamik.

Berdasarkan Tabel 2.1 sampai 2.5 dapat dilihat perbedaan antara penguraian SK dan
KD menjadi SKL pada KTSP,sedangkan pada kurikulum 2013 SKL menjadi KI dan KD.
Perhatikan kembali pada KTSP dalam satu kelas memiliki lebih banyak SK dan KD yang
isinya berbebeda disetiap kelas dan setiap mata pelajaran. Hal ini berbeda jika dilihat pada
kurikulum 2013 yang memiliki 4 KI (agama, sosial, pengetahuan, penerapan pengetahuan)
dan isinya hampir sama untuk semua kelas dan mata pelajaran.

33
2.2. Isu-Isu Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Dari Kumpulan Beberapa Jurnal
A. Identitas Jurnal
Jurnal Utama
Judul : “Literasi Matematika Dalam Kurikulum 2013”
Penulis : Syahlan
Sumber : Jurnal Penelitian, Pemikiran dan Pengabdian
Tahun : 2015
Volume : 3 No. 1
Halaman : 36 - 43

Jurnal Kedua
Judul :“Tantangan Pengembangan Dimensi Keterampilan Standar
Kompetensi Lulusan Kurikulum 2013 Edisi Revisi Ditinjau Dari Rumusan
Kompetensi Dasar Matematika Jenjang Sekolah Pertama”
Penulis : Abdurrahman As’ari
Sumber : Jurnal Pendidikan Matematika
Tahun : 2016
Volume : 2 No. 2
Halaman : 1 – 11

B. Ringkasan Isi Jurnal


 Ringkasan Jurnal Utama
Judul : “Literasi Matematika Dalam Kurikulum 2013”
Keikutsertaan Indonesia di dalam studi International Trends in International
Mathematics and Science Study (TIMSS) dan Program for International Student
Assessment (PISA) sejak tahun 1999 juga menunjukkan bahwa capaian anak-anak
Indonesia tidak menggembirakan dalam beberapa kali laporan yang dikeluarkan
TIMSS dan PISA. Capaian anak-anak Indonesia ini disebabkan karena tidak
sesuainya antara materi uji dengan kurikulum yang berlaku di Indonesia. Selain itu,
arus globalisasi yang menggeser pola hidup masyarakat dari agraris dan perniagaan
tradisional menjadi masyarakat industri dan perdagangan modern seperti dapat
terlihat di World Trade Organization (WTO), Association of Southeast Asian Nations
(ASEAN) Community, AsiaPacific Economic Cooperation (APEC), dan ASEAN
Free Trade Area (AFTA) menuntut adanya perubahan besar dalam tujuan pendidikan

34
Indonesia. Untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut, Indonesia membuat suatu
kurikulum baru yang mengatur seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran menjadi salah satu aspek yang penting dalam
implementasi kurikulum tahun 2013. Ada dua aspek yang telah diatur sebagai
pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran, yaitu standar proses dan standar
penilaian. Untuk standar proses, ditetapkan prinsip dan karakteristik pembelajaran
yang dapat digunakan sedangkan untuk standar penilaian, ditetapkan prinsip dan
pendekatan penilaian; ruang lingkup, teknik dan instrumen penilaian; mekanisme dan
prosedur penilaian; dan pelaksanaan dan pelaporan penilaian. Kedua pedoman
tersebut tidak mengupas secara jelas tentang metode yang tepat dan sesuai dalam
melaksanakan proses pembelajaran, khususnya pada pembelajaran matematika.
Berbagai pola pengajaran yang selama ini diterapkan masih dirasa kurang dapat
membantu siswa untuk mencapai Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang
ditetapkan. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang ditetapkan mengacu pada PISA
menekankan pada kemampuan dan pengetahuan matematika yang diluar dari
matematika yang telah didefinisikan dan tidak terbatas pada kurikulum sekolah.
Untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan peserta didik dalam bidang
matematika diperlukan suatu kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami,
mengolah informasi untuk selanjutnya membuat keputusan yang tepat dalam
menyelesaikan masalah. Kemampuan yang dimaksud adalah literasi matematika.
Literasi matematika di Indonesia kurang dimanfaatkan sebagai salah satu alternatif
dalam proses pembelajaran matematika, oleh karena itu dalam makalah ini akan
diuraikan betapa pentingnya literasi matematika dalam pendidikan matematika.
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk: 1. Mengetahui tentang kurikulum
tahun 2013. 2. Mengetahui hal-hal yang terkait dalam kurikulum matematika tahun
2013. 3. Mengetahui akan pentingnya literasi dalam implementasi kurikulum
matematika tahun 2013.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh PISA (Programme for International Student
Assessment) dan TIMSS (Trend in International Mathematics and Science Study)
disimpulkan bahwa hampir semua siswa Indonesia hanya menguasai pelajaran sampai
level 3 saja, sementara Negara lain banyak yang sampai level 4, 5 dan 6. Untuk
mengejar ketertinggalan pendidikan di Indonesia yang mengacu pada PISA dan
TIMSS serta tuntutan zaman yang terus berkembang, maka perlu adanya perbaikan
35
kurikulum, khususnya pada pendidikan matematika. Berdasarkan hal tersebut, maka
dilakukanlah uji perbandingan antara kurikulum yang berlaku di Indonesia dengan
materi dari PISA dan TIMSS. Uji perbandingan yang dilakukan tersebut, maka perlu
dilakukan tiga hal sebagai berikut: a) melakukan evaluasi ulang ruang lingkup materi,
b) melakukan evaluasi ulang kedalaman materi sesuai dengan tuntutan perbandingan
internasional, yaitu sampai dengan reasoning, c) menyusun kompetensi dasar yang
sesuai dengan materi yang dibutuhkan. Adapun untuk evaluasi terhadap ruang
lingkup materi kurikulum matematika dilakukan dengan cara: a) meniadakan materi
yang tidak esensial atau tidak relevan bagi siswa, b) mempertahankan materi yang
sesuai dengan kebutuhan siswa, c) menambah materi yang dianggap penting dalam
perbandingan internasional. Secara garis besar, perubahan materi isi matematika
dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel Perubahan Materi Isi Matematika


No Kurikulum Lama Kurikulum Baru
1. Langsung masuk ke materi Mulai dari pengamatan permasalahan
abstrak konkret, kemudian ke semi konkret,
dan akhirnya abstraksi permasalahan.
2. Banyak rumus yang harus Rumus diturunkan oleh siswa dan
dihafal untuk menyelesaikan permasalahan yang diajukan harus
permasalahan (hanya bisa dapat dikerjakan siswa hanya dengan
menggunakan) rumus – rumus dan pengertian dasar
(tidak hanya bisa menggunakan tetapi
juga memahami asal – usulnya).
3. Permasalahan matematika selalu Perimbangan antara matematika
diasosiasikan dengan (direduksi dengan angka dan tanpa angka
menjadi) angka (gambar, grafik, pola, dsb)
4. Tidak membiasakan siswa untuk Dirancang supaya siswa harus berfikir
berfikir kritis (hanya mekanistis) kritis untuk menyelesaikan
permasalahan yang diajukan.
5. Metode penyelesaian masalah Membiasakan siswa berfikir algoritmis
yang tidak terstruktur
6. Data dan statistik dikenalkan di Membiasakan siswa berfikir algoritmis
kelas IX saja

36
7. Matematika adalah eksak Mengenalkan konsep pendekatan dan
perkiraan.

Setelah menetapkan materi isi pembelajaran matematika, selanjutnya ditetapkan


Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang berlaku untuk setiap jenjang pendidikan. Secara
umum ada tiga aspek yang menjadi kompetensi lulusan yaitu sikap, keterampilan dan
pengetahuan. Secara terperinci, standar kompetensi lulusan dalam presentasinya dapat
dilihat pada tabel berikut ini.

Berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan yang ditetapkan, dirumuskan empat


Kompetensi Inti yaitu: 1. Kompetensi Inti untuk Sikap Spiritual Untuk sikap
spiritual, kompetensi yang ditetapkan berkaitan dengan aspek keagamaan yaitu
“menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya”. 2. Kompetensi Inti
untuk Sikap Sosial Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin,
tanggungjawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif
dan pro-aktif dan menunjukkan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai
permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam
serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia
merupakan kompetensi inti untuk sikap social. 3. Kompetensi Inti Pengetahuan
Dalam kurikulum matematika, kompetensi inti pengetahuannya adalah memahami,
menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
37
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. 4. Kompetensi Inti
Keterampilan Dalam aspek keterampilan, kompetensi intinya adalah mengolah,
menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta
bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah
keilmuan.
Kurikulum 2013 lebih menekankan kepada kompetensi inti mata pelajaran.
Kompetensi inti menjadi unsur pengorganisasi kompetensi dasar, dimana semua
kompetensi dasar dan proses pembelajaran dikembangkan untuk mencapai
kompetensi dasar yang dinyatakan dalam kompetensi inti. Berdasarkan
Permendikbud No. 69 tahun 2013 tentang “Kurikulum SMA maupun MA”
menyatakan bahwa: Kompetensi Inti untuk pengetahuan untuk matematika meliputi
memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,
kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian,
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai
dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah. Untuk penilaian dalam
Permendikbud No. 66 tahun 2013 tentang “Standar Penilaian” menyatakan bahwa
“Cakupan penilaian merujuk pada ruang lingkup materi, kompetensi mata
pelajaran/kompetensi muatan/kompetensi program, dan proses dengan menggunakan
penilaian berbasis portofolio”. Dengan penilaian berbasis portofolio, tugas-tugas
yang dibebankan kepada siswa bukan hanya sekedar menyelesaikan soal-soal dan
latihan saja, tetapi lebih dari itu. Sebaiknya peserta didik diberikan tugas-tugas yang
dapat menumbuhkan pemahaman konseptual dan pengembangan keterampilan dan
kebiasaan berpikir.

 Ringkasan Jurnal Kedua


Judul : “Tantangan Pengembangan Dimensi Keterampilan Standar Kompetensi
Lulusan Kurikulum 2013 Edisi Revisi Ditinjau Dari Rumusan
Kompetensi Dasar Matematika Jenjang Sekolah Pertama”

38
Kemdikbud (2016a), melalui Permendikbud No. 20 Tahun 2016, menetapkan
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) terbaru. Salah satu hal yang membuat penulis
tertarik untuk menulis artikel ini adalah rumusan SKL dalam dimensi keterampilan.
Karakteristik lulusan yang memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif,
produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif memuat keterampilan-
keterampilan yang diperlukan untuk hidup di era global (As’ari 2016a; As’ari 2016b;
Devlin-Foltz & McInvaine, 2008; Di Giacomo, Fishbein, Monthey, & Pack, 2013).
Mengingat SKL ini dinyatakan sebagai acuan utama dalam pengembangan seluruh aspek
pendidikan nasional, mulai dari pengembangan standar isi, standar proses, standar
penilaian dan lain-lain (Kemdikbud, 2016a), tampaknya pemerintah, melalui kurikulum
2013 edisi revisi betul-betul mengharapkan agar peserta didik agar mampu dan sukses
berkiprah di dalam kancah persaingan global.
Selanjutnya, Kemdikbud (2016b) melalui Permendikbud No. 24 Tahun 2016,
menetapkan kumpulan kompetensi dasar (KD) setiap mata pelajarannya. Hal menarik
dari kumpulan KD tersebut adalah kata-kata kerja yang digunakan untuk
menggambarkan kompetensi yang harus dimiliki siswa. Kajian penulis terhadap kata-kata
kerja yang digunakan untuk menyatakan KD untuk Kompetensi Inti (KI) 3 kelas 7
menunjukkan data sebagai berikut: (1) 9 KD menggunakan kata kerja menjelaskan, (2) 1
KD menggunakan kata membedakan, (3) 3 KD menggunakan kata menganalisis, dan (4)
1 KD menggunakan kata mengaitkan. Jadi, dari 12 KD dalam KI 3, sekitar 58% KD
menggunakan kata menjelaskan. Di kelas 8, 50% dari kata kerja yang digunakan
menggunakan kata menjelaskan. Di kelas 9, justru sekitar 86% KD menggunakan kata
kerja menjelaskan. Kata-kata kerja yang digunakan memang sudah menunjukkan bahwa
kurikulum matematika SMP tahun 2013 edisi revisi sudah menuntut siswa menggunakan
Higher Order Thinking Skills (HOTS), namun kata kerja menjelaskan tampak sangat
mendominasi. Sementara itu, KD-KD dalam KI 4 juga menarik perhatian penulis. Di
kelas 7, 8, dan 9 semua KD-nya menggunakan kata yang sama, yaitu kata menyelesaikan
masalah. Ini menarik perhatian penulis dalam kaitannya dengan pengembangan
kurikulum yang mengharapkan tumbuh berkembangkan keterampilan berpikir dan
bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, dan komunikatif di atas. Apalagi,
kata kerja yang digunakan untuk KD-KD dalam KI 4, yang notabene diarahkan untuk
pengembangan aspek keterampilan, ternyata hanya satu kata saja, yaitu menyelesaikan
masalah.
Artikel ini dikembangkan untuk menganalisis tantangan yang dihadapi guru dalam
rangka mengembangkan keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis,
39
mandiri, kolaboratif, dan komunikatif ditinjau dari rumusan kompetensi dasar yang ada.
Penulis ingin mengidentifikasi seberapa jauh rumusan KD tersebut berpeluang
mewujudkan keterampilan tersebut di atas, dan tindak pembelajaran yang bagaimanakah
yang perlu dikembangkan agar keterampilan tersebut bisa terwujudkan.
Kalau dihubungkan dengan materi matematika tertentu, maka kemampuan
menjelaskan ini adalah kemampuan untuk menjadikan orang lain mudah memahami
semua yang terkait dengan materi matematika itu. Terkait dengan kemampuan siswa,
maka siswa yang memiliki kompetensi ini artinya adalah siswa yang mampu membuat
jelas segala macam yang ada kaitannya dengan objek matematika yang sedang dipelajari.
Menurut Samuel (2012), berdasarkan pendapat Gagne, terdapat empat objek belajar
langsung matematika, yaitu: (1) fakta matematis, yang biasanya merupakan hasil
konvensi atau kesemufakatan dalam matematika, (2) keterampilan matematis, yang
berupa operasi dan prosedur yang diharapkan dapat dilakukan dengan lancar oleh para
siswa, (3) konsep matematis, yang merupakan ide abstrak yang memungkinkan siswa
bisa mengklasifikasikan objek atau peristiwa, dan menyatakan apakah objek atau
peristiwa tersebut merupakan contoh atau bukan dari ide abstrak tersebut, dan (4) prinsip
matematis, yang merupakan kumpulan konsep dan hubungan yang terdapat di antara
konsep tersebut. Samuel, lebih lanjut, mengatakan bahwa cara mempelajari objek-objek
matematika tersebut berbeda-beda. Fakta matematis biasanya bisa dipelajari cukup
dengan mengingat-ingat, drill and practice (latihan berulangulang), games (permainan),
atau kontes. Keterampilan matematis dapat dipelajari melalui demonstrasi, dan berbagai
macam jenis drill & practices seperti LKS, mengerjakan di papan tulis, atau kerja
kelompok dan permainan. Konsep matematis bisa dipelajari melalui definisi atau melalui
kajian pengamatan. Sementara itu, prinsip dapat dipelajari melalui proses inkuiri ilmiah,
penemuan terbimbing, diskusi kelompok, penggunaan strategi pemecahan masalah, dan
demonstrasi. Fakta matematis tidak perlu mendapatkan penjelasan yang rumit. Simbol-
simbol yang ada adalah fakta yang diperoleh dari kesepakatan bersama. Andaikata ada
yang perlu dijelaskan, mungkin hanya cara menyimbulkannya, tetapi itu pun tidak terlalu
penting. Terkait dengan keterampilan matematis, hal yang perlu dijelaskan antara lain
adalah: (1) mengapa menggunakan operasi tersebut? (2) apa yang menjamin bahwa hasil
operasinya benar atau bisa dipertanggungjawabkan? Sebagai contoh, ketika seorang
siswa menggunakan aturan permutasi untuk mengerjakan soal “dua orang akan dipilih
dari 5 orang yang tersedia untuk dijadikan pengurus yang terdiri dari satu orang pimpinan
dan satu orang sekretaris. Ada berapa banyak susunan pengurus yang mungkin
terbentuk?”, dia harus mampu menjelaskan mengapa menggunakan operasi algoritma
40
permutasi (mengapa bukan kombinasi)?, dan mengapa hasilnya sama dengan 10?.
Terkait dengan konsep matematis, hal yang perlu mendapatkan penjelasan adalah
mengapa objek ini bisa dikategorikan sebagai contoh dari konsep itu? Kalau seorang
siswa mengerjakan sesuatu berdasarkan konsep permutasi, misalnya, dia harus mampu
menyajikan fakta-fakta bahwa karakteristik atau ciri-ciri permutasi ada di dalam soal
yang dikerjakannya. Sehubungan dengan prinsip matematis, biasanya seseorang
menggunakan prinsip matematis ini dalam memecahkan masalah. Kalau itu terjadi, dia
harus mampu menjelaskan: (1) mengapa prinsip ini bisa digunakan?, (2) apakah premis
dari prinsip tersebut terpenuhi?, (3) asumsi apa yang ada di dalamnya?, (4) apa
keterbatasan dari prinsip ini? (5) kapan prinsip ini tidak bisa digunakan, (6) konklusi apa
yang mengikuti premisnya?, dan lain sebagainya.
Berikut penulis uraikan dua contoh lagi.
Perhatikan KD berikut: Menjelaskan dan menentukan urutan pada bilangan bulat (positif
dan negatif) dan pecahan (biasa, campuran, desimal, persen). Objek matematis dalam
KD ini adalah urutan bilangan bulat dan pecahan.
Fakta matematis sehubungan dengan objek matematika dalam KD ini antara lain bahwa
jika a, b, c, d, e, f adalah susunan dalam urutan menanjak (increasing order) dari bilangan
- bilangan a, b, c, d, e, dan f, maka a adalah bilangan terkecil dan f adalah bilangan
terbesar. Sebaliknya, bila a, b, c, d, e, f tersebut adalah susunan dalam urutan menurun
(decreasing order), maka a adalah bilangan terbesar, dan f adalah bilangan terkecil.
Terkait dengan konsep matematis, yang perlu mendapatkan penjelasan dalam hal ini
adalah ketika seorang anak menyatakan bahwa a < b < c < d , anak tersebut harus
mampu memberikan penjelasan mengapa a < b < c < d? Mengapa bukan b < a < c <
d atau a = b < c < d? dan alternatif hubungan yang lainnya. Anak tersebut harus
mampu menggunakan pemahamannya tentang konsep urutan, dan menggunakan berbagai
macam representasi yang memudahkan diperolehnya pemahaman.
Terkait dengan prinsip matematis, siswa harus bisa menjelaskan beberapa sifat dari
urutan bilangan, misalnya a ≤ a ; a < b → a + c < b + c; a < b , c > 0 → ac < bc
dan sifat - sifat ketaksamaan lainnya. Kalau pun mereka tidak mampu menggunakan
pembuktian secara deduktif prinsip-prinsip tersebut, mereka harus mampu
mengilustrasikan atau menggunakan representasi tertentu untuk menyatakan kebenaran
dari prinsip tersebut. Kemudian, terkait dengan keterampilan matematis, siswa harus
mampu menjelaskan mengapa langkah demi langkah yang digunakan dalam menjalankan
prosedur matematis itu diperkenankan, dan memberikan verifikasi tentang kebenaran
pelaksanaan algoritmanya.Siswa tidak boleh hanya sekedar mampu menerapkan prinsip
41
atau algoritma. Siswa harus mampu menerapkan algoritma tersebut dengan penuh
pemahaman.
Ada enam keterampilan berpikir dan bertindak yang ingin diwujudkan melalui
Kurikulum 2013 edisi revisi ini (Kemdikbud, 2016a). Keterampilan berpikir dan
bertindak tersebut adalah: (1) kreatif, (2) produktif, (3) kritis, (4) mandiri, (5) kolaboratif,
dan (6) komunikatif. Enam hal ini sebenarnya susah dipisah satu persatu. Orang yang
kreatif menuntut dimilikinya kemampuan berpikir mandiri dan kritis, yang didukung dan
berkembang karena praktik kolaboratif yang penuh komunikasi yang efektif. Produktif-
nya orang kreatif ditunjukkannya dengan luwesnya yang bersangkutan dalam
menghasilkan karya - karya yang kreatif inovatif.

2.3. Isu-Isu Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Dari Kumpulan Beberapa Berita
Berita I :
Jakarta, Kompas - Adanya penerapan standar kompetensi akan menjadi jembatan
antara dunia pendidikan dan kebutuhan dunia kerja. ”Harus ada standar keterampilan
sesuai dengan yang dibutuhkan industri,” kata Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Muhaimin Iskandar sebelum menyerahkan penghargaan Badan Nasional Sertifikasi
Profesi (BNSP) Competency Award dan BNSP Life Achievement Award, Sabtu (17/12).
Muhaimin menggarisbawahi perubahan yang dinamis di dunia industri dan
kesenjangannya dengan dunia pendidikan. Muhaimin menggarisbawahi perlunya sistem
yang menjalankan fungsi pendidikan, yaitu sertifikasi. Diharapkan, dengan adanya
sertifikasi, pekerja Indonesia jadi memiliki peluang yang setara dengan pekerja negara-
negara lain serta mendapat pekerjaan dan upah yang layak. Ketua BNSP Adjat Daradjat
berharap, penghargaan BNSP ini menjadi motivasi berbagai pihak sehingga ada budaya
kompetensi dalam dunia kerja di Indonesia. Adjat juga menyebutkan program BNSP
untuk mengadakan gerakan nasional sertifikasi. ”Fokus pada pekerja mandiri karena
belum ada pengakuan formal,” kata Adjat. BNSP Life Achievement Award 2011
dianugerahkan kepada tokoh olahraga Christian Hadinata, tokoh seni-budaya Daeng
Soetigna, tokoh sosial Seto Mulyadi, tokoh pendidikan Arief Rachman, dan tokoh media
Jakob Oetama. Christian Hadinata mengajak semua pihak untuk kembali menggiatkan
bulu tangkis sampai ke desa-desa. Seto Mulyadi meminta mereka yang memiliki pekerja
rumah tangga berusia di bawah 18 tahun memberi kesempatan sekolah dan tidak
menyuruh bekerja lebih dari lima jam. Sementara itu, St Sularto yang mewakili Jakob
Oetama menyatakan, kompetensi jadi prasyarat terutama dalam industri media yang
berkembang pesat saat ini.
42
Berita II :
Mendikbud Sebut Sulitnya Soal UNBK Matematika Sesuai Standar
Internasional
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy saat ditemui
pasca kegiatan pembagian Kartu Indonesia Pintar (KIP) di SMPN 2 Banjarnegara, Jateng,
Jumat (16/6/2017).
JAKARTA, KOMPAS - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy
mengungkapkan soal ujian nasional berbasis komputer (UNBK) Matematika tahun ini lebih
sulit dibandingkan tahun sebelumnya karena menyesuaikan standar internasional.
Soal yang dianggap sulit itu, kata Muhadjir, merupakan soal penalaran. Jumlahnya
pun tidak banyak, hanya 10 persen dari keseluruhan soal. Muhadjir mengatakan, soal
semacam itu harus diberikan untuk menyesuaikan dengan standar pendidikan internasional.
"Ini dilakukan sebagai ikhtiar untuk menyesuaikan secara bertahap standar kita dengan
standar internasional, antara lain seperti standar Program for International Student
Assessment (PISA),” ujar Muhadjir melalui keterangan tertulis, Selasa (17/4/2018).
Muhadjir mengatakan, pengenalan soal penalaran ini merupakan upaya untuk
mengejar ketertingalan pencapaian kompetensi siswa Indonesia di tingkat internasional.
Selain itu, model soal penalaran dianggap salah satu tuntutan kompetensi dalam
pembelajaran abad 21, yakni berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif. Dengan
begitu, kata dia, peserta didik diharapkan mampu menganalisa data, membuat perbandingan,
membuat kesimpulan, menyelesaikan masalah, dan menerapkan pengetahuan pada konteks
kehidupan nyata.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), soal UN tahun 2018
dikembangkan berdasarkan kisi-kisi yang disusun oleh Kemendikbud. Penyusunannya
melibatkan para guru yang selanjutnya ditetapkan oleh BSNP pada bulan Agustus 2017
yang dimuat di laman http://bsnp-indonesia.org.
Kisi-kisi tersebut pun disusun sesuai kompetensi dasar yang harus diajarkan oleh guru
sebagaimana dijabarkan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah dan dituangkan dalam
buku mata pelajaran.
“Kisi-kisi ini dibuat secara umum atau generik, tidak spesifik mengarah pada suatu bentuk
soal tertentu," kata Muhadjir. Menurut Muhadjir, tujuannya agar pembelajaran di sekolah
tidak terjebak pada proses drilling soal-soal UN.

43
"Guru wajib mengajarkan materi pembelajaran dengan mengedepankan pemahaman konsep
dan penalaran, bukan sekedar drilling soal,” lanjut dia.
Muhadjir berharap, melalui peyelenggaraan UN, semua pihak terkait menjadikan
hasilnya sebagai acuan meningkatkan mutu pendidikan. Selain itu, Muhadjir juga berharap
para siswa dapat memahami dan meyakini bahwa pembelajaran merupakan proses yang
panjang, tidak bisa instan.
“Tetaplah bersemangat, belajar sungguh-sungguh, dan senantiasa berusaha meningkatkan
kemampuan dan kompetensi masing-masing. Jadilah manusia pembelajar sepanjang hayat,”
kata Muhadjir.
Sementara itu, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang)
Kemendikbud, Totok Suprayitno menjelaskan bahwa soal-soal UN terdiri dari tiga level
kognitif yaitu level 1 (pengetahuan pemahaman) sekitar 30 persen, level 2 (aplikasi) sekitar
60 persen, dan level 3 (penalaran) sekitar 10 persen. Soal-soal tersebut ditulis oleh guru dan
ditelaah oleh para guru yang kompeten dan dosen dari beberapa perguruan tinggi.
Hasil UN tersebut, kata Totok, akan dianalisis untuk mendiagnosa topik-topik yang harus
diperbaiki di setiap sekolah untuk setiap mata pelajaran UN."Hasil analisis tersebut
didistribusikan ke semua Dinas Pendidikan untuk ditindaklanjuti dengan program-program
peningkatan mutu pembelajaran," kata Totok.

Berita III :
INDONESIA DARURAT MATEMATIKA
KOMPAS.com — Entah apa yang sudah dilakukan oleh Kementerian Pendidikan
dan Kebudayaan (Kemendikbud), dinas pendidikan provinsi dan kabupaten kota dalam
menyikapi fakta rendahnya keterampilan berhitung warga sekolah yang dikelolanya, selain
mengucurkan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP) yang tahun ini berjumlah lebih dari Rp 71
triliun di APBN, yang tak berdampak berarti kepada kenaikan kompetensi guru (De Ree
dkk, WB 2016). Apalagi, ketika keterampilan itu dijadikan tolok ukur kesiapan menghadapi
era abad ke-21 dan sebuah studi terbaru (Amanda dkk, CFEE Annual Digest 2018) yang
menyatakan bahwa anak muda Indonesia akan siap menghadapi abad ke-21, ketika abad ke-
31 menjelang, karena studi tersebut menghitung bahwa selama sekian tahun sejak masuk SD
hingga lulus SMA sekolah hanya meningkatkan keterampilan menghitung atau aritmatika
sederhana dari peserta didik sebanyak nol koma nol sekian persen. Hasil studi makro
tersebut sejalan dengan hasil ulangan di sebuah kelas di SMA di Kalimantan Tengah yang
diunggah oleh seorang guru (Rukim, 2018) pada awal September 2018. Ketika hasil studi itu
didiskusikan dengan koleganya di pulau dan kota lain, hasilnya tak jauh berbeda.
44
Kesimpulannya, meski duduk di kelas IPA, murid tak terampil menyelesaikan operasi
sederhana "tambah, kurang, kali dan bagi" termasuk pengertian "peratus atau prosen",
perpuluhan dan pecahan. Padahal, sebuah operasi paling dasar dari aritmatika, seperti
menyambung huruf membentuk kata dan kalimat "i-ni bu-di..." dalam konteks membaca dan
menulis. Satu catatan penting, yakni delapan tahun lalu, sudah diingatkan bahwa keadaan
darurat buta matematika ini (Koran Tempo, 2008) dengan merujuk ke hasil uji PISA
(Program for International Student Assesement) dan uji TIMSS (Trend for International
Mathematic and Sciences Study) ketika peringkat siswa Indonesia kelas 2 SMP/MTs hanya
selapis di atas Bostwana Afrika. Ya, peringkat Indonesia nomor dua dari bawah! Sebuah
kondisi buta total matematika, dan mereka diramalkan tak siap menghadapi abad ke-21.
Tulisan tersebut yang sudah pasti hanya sebuah peringatan kecil keadaan darurat, karena
cukup banyak tulisan lain yang mengingatkan situasi serupa. Tapi, hal itu ternyata dianggap
sepi oleh pemerintah yang menganggap semuanya baik-baik saja. Gerakan transformasi
eksponensial Sikap "Complacency" yang menganggap sebuah persoalan darurat seperti
angin lalu adalah sebuah pembiaran dan merupakan kejahatan publik berdosa besar. Persis
seperti membiarkan seorang yang diketahui merokok sambil mengisi bensin atau
membiarkan got lingkungan rumah tinggalnya penuh jentik nyamuk DBD. Mirisnya, sulit
berharap insiatif perbaikan tersebut datang dari pemerintah, apalagi jika mengikuti logika
paper itu, bahwa baku mutu yang memenuhi syarat baru siap di abad ke-31. Untuk itu,
perubahan perbaikan keterampilan tersebut haruslah dimulai secara linier dengan sudut yang
curam dan segera menjadi deret ukur atau eksponensial. Insiatif harus dimulai dari
organisasi masyarakat sipil (civil society organisation) dan bersama sama membuat sebuah
platform untuk berbagi peran. Tidak sulit mengurainya, terutama jika kita mulai dengan
menelaah beberapa Standar Nasional Pendidikan (SNP), yaitu Standar Kompetensi Lulusan
(SKL), Standar Isi (SI) dan Standar Proses (SP) untuk Matpel Matematika SD hingga SMP.
Begitu sudah diketahui "bottle-neck" dari telaah itu, kita ajak relawan yang faham operasi
aritmatika dasar, yang dengan metodenya bisa saling memeriksa keterampilan putra-
putrinya mulai SD sampai SMP dan mencari persoalan yang menghambat serapan mereka
atas mata pelajaran tersebut. Karena disebut matematika dasar seharusnya itu tidak rumit,
karena terjadi kasat mata dalam kehidupan keseharian kita.

Berita IV :
Lucunya Kompetensi Dasar dalam Kurikulum 2013
JAKARTA, KOMPAS.com - Konsep dalam kurikulum 2013 terkait dengan
kompetensi inti dan kompetensi dasar ini dinilai terkesan dipaksakan dalam
45
mengintegrasikan berbagai mata pelajaran yang ada pada semua jenjang pendidikan baik
Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah
Kejuruan(SMK).

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), Retno Listyarti,


menyoroti bagaimana kompetensi inti dan kompetensi dasar berbagai mata pelajaran yang
sulit diterima akal. Bahkan sebagai guru, dirinya mengaku akan sangat kesulitan dalam
mengajar siswa jika melihat definisi kompetensi inti dan kompetensi dasar yang dibuat oleh
tim penyusun kurikulum.

"Kelihatannya para penyusun bekerja dengan cara mengaitkan salah satu kalimat yang ada
pada kompetensi inti dengan materi yang akan diajarkan," kata Retno saat jumpa pers di
Kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Kalibata, Jakarta, Jumat (15/2/2013).

Adapun empat kompetensi inti yang dikaitkan pada berbagai materi tersebut adalah
semangat religius, sikap sosial sebagai anggota masyarakat dan sebagai bangsa, pengetahuan
baik faktual hingga meta kognitif dan terakhir semua kompetensi inti ini merupakan satu
kesatuan.
Selanjutnya, ia memberi contoh masuknya kompetensi inti dalam berbagai mata
pelajaran yang berasal dari dokumen pemerintah. Misalnya matematika bidang aljabar,
dalam salah satu kompetensi dasarnya berbunyi melatih diri memiliki pola hidup yang
disiplin, konsisten dan jujur sebagai dampak mempelajari konsep dan aturan
eksponen dan logaritma serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

"Ini bagaimana bisa, anak belajar logaritma lalu diminta menerapkan aturan
logaritma sebagai sarana melatih diri berperilaku disiplin dan jujur," ujar Retno.

Selanjutnya, masih kompetensi untuk kelas X tapi untuk mata pelajaran kimia. Dalam
kompetensi inti, disebutkan mengembangkan perilaku disiplin, tanggung jawab, jujur dan
lain-lain. Salah satu kompetensi dasar terkait hal itu berbunyi berperilaku disiplin dengan
meniru elektron yang selalu beredar menurut lintasannya.
"Bagaimana maksudnya meniru elektron dan sifatnya untuk membentuk disiplin
anak. Ini lucu sekali," ungkap Retno.
"Kami bingung kalau kompetensi dasar seperti ini dianggap sebagai kurikulum hebat yang

46
dibutuhkan oleh semua anak Indonesia," tandasnya.

BAB III
PENUTUP

3.1. KESIMPULAN
Kurikulum dilaksanakan dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan
sekolah sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) yang telah ditetapkan
pemerintah. Perbedaan KTSP dan kurikulum 2013 terletak pada penyempurnaan SNP yang
menyusun didalamnya diantaranya SKL, isi, proses dan penilaian.
Berikut terdapat beberapa perbedaan SKL yang ada pada KTSP dan kurikulum 2013:
KTSP Kurikulum 2013
SKL terdiri dari setiap mata Hanya ada 1 SKL pada setiap jenjang
pelajaran, setiap mata pelajaran kelas yang menjadi acuan untuk semua
memiliki SK dan KD sendiri, mata pelajaran.
disetiap jenjang kelas
Menitikberatkan pada kemampuan Pembelajaran lebih menekankan
kognitiif, sehingga beban belajar pendidikan karakter. Adanya
terlalu berat. keseimbangan antara soft skill dan hard
skill.
Pembentukan karakter belum secara Pendidikan karakter sudah dimunculkan
jelas diuraikan dalam SKL, hanya dalam SKL dalam ranah KI1
dimunculkan dalam silabus dan RPP (religious), dan KI2 (sikap sosial
individual).
Peembelajaran bersifat pasif dan Pembelajaran menggunakan pendekatan
abstrak ilmiah yang bersifat interaktif,
menyelidiki konteks dunia nyata.
SKL diuraikan berasal dari standar SKL diuraikan berdasarkan kebutuhan,
isi dimana SKL digunakan sebagai dasar
untuk mengembangkan 7 SNP yang
lainnya.
Terdapat pemisahan antara mata Semua mata pelajaran harus mampu
pelajaran sikap, keterampilan, dan membentuk sikap, keterampilan, dan

47
pembentukan pengetahuan pengetahuan.
Potensi diuraikan dari mata Mata pelajaran diuraikan dari
pelajaran. kompetensi yang ingin dicapai
Mata pelajaran terpisah – terpisah Semua mata pelajaran disatukan oleh
sehingga terlihat seperti kumpulan KI disetiap kelas.
mata pelajaran.
Mata pelajaran belum relevan dengan Sesuai dengan perkembangan anak,
kompetensi yang dibutuhkan, terlalu mata pelajarannya esensial, dan sesuai
berat, terlalu luas. dengan yang dibutuhkan.
Cakupan SKL terdiri dari satuan Cakupan SKL untuk semua satuan
pendidikan, mata pelajaran, dan pendidikan yang meliputi mata
kelompok mata pelajaran. pelajaran, jenjang kelas, maupun
kelompok pelajaran.
Penjurusan dimulai ketika kelas XI Tersedia kelompok peminatan (sebagai
SMA. Tidak tersedia mata pelajaran ganti penjurusan) dan pilihan antar
pilihan antar jurusan. kelompok peminatan dan bebas pada
awal masuk sekolah SMA.

48
DAFTAR PUSTAKA

Ashari, Abdurrahman. (2016). Tantangan Pengembangan Dimensi Keterampilan Standar


Kompetensi Lulusan Kurikulum 2013 Edisi Revisi Ditinjau Dari Rumusan Kompetensi
Dasar Matematika Jenjang Sekolah Pertama. Jurnal Pendidikan Matematika.2(2), 1 – 11.

Syahlan. (2015). Literasi Matematika Dalam Kurikulum 2013. Jurnal Pendidikan Matematika.
1(3), 36 – 43.

https://edukasi.kompas.com/read/2018/09/24/07200071/indonesia-darurat-matematika.
Diakses tanggal 8 November 2018 pukul 13:05 WIB.

https://www.kaskus.co.id/thread/511e952520d719f143000001/lucu-aneh-dan-gak-nyambung-
lucunya-kompetensi-dasar-dalam-kurikulum-2013/. Diakses tanggal 8 November 2018
pukul 13 : 20 WIB.

https://nasional.kompas.com/read/2018/04/17/23124531/mendikbud-sebut-sulitnya-soal-unbk-
matematika-sesuai-standar-internasional. Diakses tanggal 8 November 2018 pukul
12:40 WIB.

https://lifestyle.kompas.com/read/2011/12/19/02342457/standar.kompetensi.jadi.jembatan.
Diakses tanggal 8 November 2018 pukul 13 : 35 WIB.

49