Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat. Ini berarti keluarga
merupakan kelompok yang secara langsung berhadapan dengan anggota keluarga
selama 24 jam penuh. Menurut Mubarok (2007) peran keluarga adalah mampu
mengenal masalah kesehatan, mampu membuat keputusan tindakan, mampu
melakukan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, mampu memodifikasi
lingkungan rumah, dan mampu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan karena
tanpa kesehatan segala sesuatu tidak berarti dan karena kesehatanlah seluruh
kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal keadaan
sehat dan perubahan-perubahan yang dialami anggita keluarganya. Perubahan
sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung akan menjadi
perhatian dari orang tua atau pengambil keputusan dalam keluarga (suprajitno,
2004). Menurut Notoadmojo (2003) diartikan sebagai pengingat sesuatu yang sudah
dipelajari atau diketahui sebelumnya. Sesuatu tersebut adalah sesuatu spesifik dari
seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Dalam mengenal
masalah kesehatan keluarga haruslah mampu mengetahui tentang sakit yang dialami
pasien.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun yang menjadi fokus permasalahan yang akan dibahas dalam
makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
1. Apa pengertian keluarga menurut islam?
2. Apa pengertian keluarga sehat dalam pandangan islam?
3. Faktor-faktor apa saja yang mendukung dalam mewujudkan keluarga sehat?

1
1.3 Tujuan penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian keluarga menurut islam.
2. Untuk mengetahui pengertian keluarga sehat dalam pandangan islam.
3. Untuk mengetahui faktor penting dan faktor pendukung dalam mewujudkan
keluarga sehat.

2
BAB II
KESEHATAN KELUARGA DALAM PERSEPEKTIF ISLAM

2.1 Pengertian Keluarga Menurut Islam


Keluarga adalah satuan kerabat yang mendasar terdiri dari suami, isteri dan
anak – anak. Keluarga dalam pandangan Islam memiliki nilai yang tidak kecil.
Bahkan Islam menaruh perhatian besar terhadap kehidupan keluarga degan
meletakkan kaidah-kaidah yang arif guna memelihara kehidupan keluarga dari
ketidak harmonisan dan kehancuran. Kenapa demikian besar perhatian Islam, karena
tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga adalah batu bata pertama untuk membangun
istana masyarakat muslim dan merupakan madrasah iman yang diharapkan dapat
mencetak generasi-generasi muslim yang mampu meninggikan kalimat Allah di
muka bumi.
Bila pondasi ini kuat lurus agama dan akhlak anggota maka akan kuat pula
masyarakat dan akan terwujud keamanan yang didambakan. Sebalik bila tercerai
berai ikatan keluarga dan kerusakan meracuni anggota-anggota maka dampak
terlihat pada masyarakat bagaimana kegoncangan melanda dan rapuh kekuatan
sehingga tidak diperoleh rasa aman.
Kemudian setiap adanya keluarga ataupun sekumpulan atau sekelompok
manusia yang terdiri atas dua individu atau lebih, tidak bisa tidak, pasti dibutuhkan
keberadaan seorang pemimpin atau seseorang yang mempunyai wewenang
mengatur dan sekaligus membawahi individu lainnya (tetapi bukan berarti seperti
keberadaan atasan dan bawahan).
Demikian juga dengan sebuah keluarga, karena yang dinamakan keluarga
adalah minimal terdiri atas seorang suami dan seorang istri yang selanjutnya muncul
adanya anak atau anak-anak dan seterusnya. Maka, sudah semestinya di dalam
sebuah keluarga juga dibutuhkan adanya seorang pemimpin keluarga yang tugasnya
membimbing dan mengarahkan sekaligus mencukupi kebutuhan baik itu kebutuhan
yang sifatnya dhohir maupun yang sifatnya batiniyah di dalam rumah tangga
tersebut supaya terbentuk keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Di dalam
al-Qur’ān disebutkan bahwa suami atau ayahlah yang mempuyai tugas memimipin

3
keluarganya karena laki-laki adalah seorang pemimpin bagi perempuan. Seperti
yang terungkap dalam Al-Qur’an sebagai berikut

‫اء‬ َ ِّ‫علَى الن‬


ِّ ‫س‬ َ َ‫الر َجا ُل قَ َّوا ُمون‬
ِّ
“laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan” (QS. An Nisaa’ : 34)

2.2 Pengertian Keluarga Sehat Dalam Pandangan Islam


Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang
pemenuhannya bersifat pasti. Sehat dalam pandangan Islam tidak hanya secara fisik,
tetapi juga dalam berpikir dan bersikap yang dilandaskan pada akidah Islam.
Keluarga sehat bermakna bahwa seluruh anggota keluarga dapat menjalani
kehidupan secara sehat, baik yang terkait dengan fisik (makanan, pakaian, rumah
dan tubuh) yang pemenuhannya menggunakan pola pikir dan pola sikap
berlandaskan akidah Islam.
Konsep sehat dan tidak sehat Sehat adalah keadaan seseorang yang tidak
sakit badan dan jiwa, cukup makanan bergizi, hidup di lingkungan bersih serta
perilaku dan interaksi sesuai dengan etika dan hukum. Apabila keluarga memnuhi
keempat unsur dalam konsep tersebut, dapat dikatakan bahwa keluarga itu adalah
“keluarga sehat” dalam arti yang paling sempurna atau lengkap (family in complete
health”. Jika salah satu unsur saja tidak dipenuhi, dapat berpengaruh terhadap
kehidupan keluarga secara keseluruhan dengan sebutan tertentu. Akibatnya akan
muncul konsep-konsep alternative yang mengandung pernyataan dalam arti tidak
sehat dari segi tertentu, seperti berikut :
1. Sering tidak sehat badan disebut keluarga sakit-sakitan (sickly family).
2. Tidak mampu membeli makanan bergizi disebut keluarga miskin (poor
family).
3. Tinggal di lingkungan kotor dan bau disebut keluarga kumuh (vile family).
4. Tinggal di lingkungan kotor dan becek disebut keluarga jorok (dirty family).
5. Sering melakukan kejahatan dan keonaran disebut keluarga brengsek (bad
family).
Sehat badan dan sehat jiwa Seorang anggota keluarga dikatakan sehat badan
(sound of body), tidak dalam keadaan sakit fisik apabila badannya segar bugar, tidak

4
sakit/cacat akibat penyakit, kecelakaan, atau akibat benturan dengan suatu benda
keras atau akibat serangan pihak lain atau binatang buas.
Seorang anggota keluarga dikatakan sehat jiwa (sound of mind), tidak dalam
keadaan sakit jiwa apabila cara berpikir dan bertindaknya waras, mampu
membedakan antara mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, serta
mana yang bermanfaat dan merugikan. Seseorang yang sehat badan an sehat jiwa
merupakan konsep sehat dalam arti yang hakiki atau arti yang sesungguhnya yang
mementukan perjalanan hidup seseorang.

2.3 Faktor Penting dan Faktor Pendukung Dalam Mewujudkan Keluarga


Sehat
2.3.1 Kematangan fisik dan mental suami dan istri
Dalam pandangan Islam, hubungan keluarga bukanlah sekedar hubungan
yang hanya bersifat sementara, dan bukan pula seperti hubungan perdagangan yang
hanya memperhitungkan keuntungan dan kerugian. Akan tetapi ia mempunyai
prinsip-prinsip dasar yang begitu kuat, ia merupakan hubungan kemanusiaan yang
berlandaskan Al-Qur’an dan hadist Rasulullah Saw. Untuk membangun sebuah
hubungan yang masing pihak perlu mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya
dalam mengarungi sebuah mahligai rumah tangga, baik berupa kematangan dan
kesiapan fisik maupun dari segi mental, agar dapat menjalankan sebuah perkawinan
yang bertanggung jawab, sesuai dengan tuntunan dan ajaran agama. Dengan
demikian maka akan terciptalah sebuah suasana keluarga yang aman, damai dan
tenteram di bawah lindungan Allah SWT dalam firmanNya: Artinya: “dan segala
sesuatu itu kami (Allah) jadikan berpasang-pasangan, agar kamu semua mau
berfikir.” (QS. AdDzariyat: 49)8 agar terwujudnya rasa aman dan tenteram tersebut,
baik fisik maupun mental. Namun tinjauan kematangan/kedewasaan tersebut, para
ulama memiliki makna dan penafsiran yang beragam. Dalam hal ini undang-undang
perkawinan maupun hukum islam menganjurkan bagi pasangan yang akan
melangsungkan perkawinan, harus dewasa baik fisik maupun mental.

2.3.2 Pekerjaan dan penghasilan yang baik dan halal suami dan istri

5
Harta dalam Islam merupakan amanah dan hak milik seseorang.
Kewenangan untuk menggunakannya terkait erat dengan adanya kemampuan
(kompetensi) dan kepantasan (integritas) dalam mengelola aset atau dalam istilah
prinsip kehati-hatian perbankan (prudential principle). Prinsip Islam mengajarkan
bahwa “Sebaik-baik harta yang shalih (baik) adalah dikelola oleh orang yang
berkepribadian shalih (amanah dan profesional).
Hak bekerja dalam arti kebebasan berusaha, berdagang, memproduksi barang
maupun jasa untuk mencari rezki Allah secara halal merupakan hak setiap manusia
tanpa diskriminasi antara laki dan perempuan. Bila kita tahu bahwa kaum wanita
diberikan oleh Allah hak milik dan kebebasan untuk memiliki, maka sudah
semestinya mereka juga memiliki hak untuk berusaha dan mencari rezki.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memuji seseorang yang
mengkonsumsi hasil usahanya sendiri dengan sabdanya:“Tidaklah seseorang
mengkonsumsi makanan lebih baik dari mengkonsumsi makanan yang diperoleh
dari hasil kerja sendiri, sebab nabi Allah, Daud, memakan makanan dari hasil
kerjanya.” (HR. Bukhari). “Semoga Allah merahmati seseorang yang mencari
penghasilan secara baik, membelanjakan harta secara hemat dan menyisihkan
tabungan sebagai persediaan di saat kekurangan dan kebutuhannya.” (HR. Muttafaq
‘Alaih).
Hal ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki setiap muslim untuk dapat
mengelola usaha dan berusaha secara baik, mengelola dan memenej harta secara
ekonomis, efisien dan proporsional serta memiliki semangat dan kebiasaan
menabung untuk masa depan dan persediaan kebutuhan mendatang. Prinsip ini
sebenarnya menjadi dasar ibadah kepada Allah agar dapat diterima (mabrur) karena
saran, niat dan caranya baik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:“Sesungguhnya Allah itu baik dan hanya menerima yang baik-baik saja.”
(HR.Muslim).
Kesadaran akuntabilitas (ma’uliyah) dalam bidang keuangan itu yang
mencakup aspek manajemen pendapatan dan pengeluaran timbul karena keyakinan
adanya kepastian audit dan pengawasan dari Allahsubhanahu wa ta'ala seperti sabda
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan
beranjak dari tempat kebangkitannya di hari kiamat sebelum ia ditanya tentang

6
empat hal, di antaranya tentang hartanya; dari mana dia memperoleh dan bagaimana
ia membelanjakan.” (HR. Tirmidzi).

Nafkah Dalam Keluarga


Secara prinsip, fitrah kewajiban memberikan nafkah merupakan tanggung
jawab suami sehingga wajib bekerja dengan baik melalui usaha yang halal dan
wanita sebagai kaum istri bertanggung jawab mengelola dan merawat aset keluarga.
Allah subhanahu wa ta'alaberfirman:

“Kaum laki-laki itu adalah pengayom bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita),
dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian dari harta mereka…”
(QS. An-Nisa:34).

Dengan demikian, posisi kepala rumah tangga bagi suami paralel dengan
konsekuensi memberi nafkah dan komitmenperawatan keluarganya secara lazim.
Oleh karena itu Nabishallallahu 'alaihi wa sallam secaraproporsional telah
mendudukkan posisi masing-masing bagi suami istri dalam sabdanya: “Setiap
kalian adalah pengayom dan setiap pengayom akan dimintai pertanggungjawaban
atas apa yang harus diayominya. Suami adalah pengayom bagi keluarganya dan
bertanggung jawab atas anggota keluarga yang diayominya. Istri adalah pengayom
bagi rumah tangga rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas
aset rumah tangga yang diayominya…” (HR. Bukhari) Ketika Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam menikahkan putrinya, Fatimah dengan Ali
radhiyallahu 'anhuma beliau berwasiat kepada menantunya:“Engkau berkewajiban
bekerja dan berusaha sedangkan ia berkewajiban mengurus (memenej) rumah
tangga.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)
Jadi, sharing suami-istri dalam aspek keuangan keluarga adalah dalam
bentuk tanggung jawab suami untuk mencari nafkah halal dan tanggung jawab istri
untuk mengurus, mengelola, merawat dan memenej keuangan rumah tangga.
Meskipun demikian, bukan berarti suami tidak boleh memberikan bantuan dalam
pengelolaan aset dan keuangan rumah tangganya bila istri kurang mampu atau

7
memerlukan bantuan. Dan juga sebaliknya tidak ada larangan Syariah bagi istri
untuk membantu suami terlebih ketika kurang mampu dalam memenuhi kebutuhan
keluarga dengan cara yang halal dan baik serta tidak membahayakan keharmonisan
dan kebahagiaan rumah tangga selama suami mengizinkan, bahkan hal itu akan
bernilai kebajikan bagi sang istri. Bukankah Khadijahradhiyallahu 'anha. ikut andil
dalam membantu mencukupi kebutuhan keluarga Nabishallallahu 'alaihi wa sallam.
sebagai bentuk ukhuwah dan tolong menolong dalam kebajikan.

2.3.3 Makanan yang Halal dan Thoyyibah


2.3.3.1 Pengertian Makanan Halal Dan Thoyyibah
Makanan yang halal adalah yang dihalalkan atau dibolehkan menurut hukum
agama, bukan makanan yang diharamkan menurut hukum agama. Sesuatu yang
dihalalkan agama akan memberi manfaat, sedangkan yang diharamkan atau dilarang
agama akan mendatangkan kemudharatan atau mencelakakan.
Makanan yang thayiban adalah makanan yang baik menurut kesehatan
seperti bergizi, berprotein, berkalori dan bersih dari kuman-kuman atau bibit
penyakit.(hal.104-105 agama, kesehatan & keperawatan tahun 2010)

2.3.3.2 Makanan yang dihalalkan Allah SWT


Segala jenis makanan apa saja yang ada di dunia halal untuk dimakan kecuali
ada larangan dari Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW untuk dimakan. Agama
Islam menganjurkan kepada pemeluknya untuk memakan makanan yang halal dan
baik. Makanan “halal” maksudnya makanan yang diperoleh dari usaha yang diridhai
Allah. Sedangkan makanan yang baik adalah yang bermanfaat bagi tubuh, atau
makanan bergizi.
Makanan yang enak dan lezat belum tentu baik untuk tubuh, dan boleh jadi
makanan tersebut berbahaya bagi kesehatan. Selanjutnya makanan yang tidak halal
bisa mengganggu kesehatan rohani. Daging yang tumbuh dari makanan haram, akan
dibakar di hari kiamat dengan api neraka.

2.3.3.3 Makanan halal dari segi jenis ada tiga:

8
1. Berupa hewan (hewani) yang ada di darat maupun di laut, contoh hewan
yang ada didarat seperti: kelinci,ayam,kambing,sapi,burung dan lain-lain,
sedangkan contoh hewan yang ada dilaut seperti: ikan, Rumput laut dan lain-
lain.
2. Berupa tumbuhan (nabati) seperti padi, buah-buahan, sayur-sayuran dan lain-
lain.
3. Berupa hasil bumi yang lain seperti garam.

2.3.3.4 Makanan halal dari usaha yang diperolehnya, yaitu :


1. Halal makanan dari hasil bekerja yang diperoleh dari usaha yang lain seperti
bekerja sebagai buruh, petani, pegawai, tukang, sopir, dll.

2. Halal makanan dari mengemis yang diberikan secara ikhlas, namun


pekerjaan itu halal, tetapi dibenci Allah seperti pengamen.

3. Halal makanan dari hasil sedekah, zakat, infak, hadiah, tasyakuran, walimah,
warisan, wasiat, dll.

4. Halal makanan dari rampasan perang yaitu makanan yang didapat dalam
peperangan (ghoniyah).

2.3.3.5 Makanan yang diharamkan Allah SWT


1. Makanan orang lain yang diperoleh bukan dengan cara-cara yang dibenarkan
syariat, berdasarkan firman (QS.Al-Baqarah: 188) “Dan janganlah sebagian
kamu memakan harta sebgaian yang lain di antara kamu dengan seizinnya.”
2. Bangkai, yaitu binatang yang mati secara alami, seperti binatang yang
tercekik, terpukul, terjatuh, tertanduk oleh binatang lain dan diterkam oleh
binatang buas.
3. Daging babi, dan demikian pula dengan seluruh bagian tubuhnya, seperti
darah, lemak dan lain-lainnya.

9
4. Binatang yang disembelih bukan karena Allah, yaitu selain yang disebutkan
nama Allah SWT pada saat menyembelih binatang dimaksud.
5. Binatang yang disemebelih untuk berhala, dan ini mencakup semua binatang
yang disembelih untuk kuburan dan tugu peringatan yang disembah sebagai
tanda dan simbol bagi sesembahan selain Allah SWT, atau yang
dipergunakan sebagai perantara kepada Allah SWT. (hal.620 Minhajul
Muslim tahun 2006)
2.3.3.6 Manfaat Makanan yang Dihalalkan
Makanan yang halalan thoyyibah atau halal dan baik serta bergizi tentu
sangat berguna bagi kita, baik untuk kebutuhan jasmani dan rohani. Apabila
makanan yang didapatkan dari hasil yang halal tentu sangat berguna untuk diri kita
dan keluarga kita. Hasil dari makanan minuman yang halal sangat membawa berkah,
barakah bukan berate jumlahnya banyak, meskipun sedikit, namun uang itu cukup
untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan juga bergizi tinggi. Bermanfaat bagi
pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Lain halnya dengan hasil dan jenis
barang yang memang haram, meskipun banyak sekali, tapi tidak barokah, maka
Allah menyulitkan baginya rahmat sehingga uangnya terbuang banyak hingga habis
dalam waktu singkat.
Diantara beberapa manfaat menggunakan makanan halal, yaitu:
1. Membawa ketenangan hidup dalam kegiatan sehari-hari.
2. Dapat menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
3. Mendapat perlindungan dari Allah SWT.
4. Mendapat iman dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
5. Tercermin kepribadian yang jujur dalam hidupnya dan sikap apa adanya.
6. Rezeki yang diperolehnya membawa barokah dunia akhirat.

Dalil Naqli tentang Makanan Halal.

 “… Barang yang di halalkan oleh Allah dalam kitab-Nya adalah


halal, dan barang yang diharamkan oleh Allah dalam kitab-Nya
adalah haram. Dan sesuatu yang tidak dilarang-Nya, maka barang itu
termasuk yang diafkan-Nya, sebagai kemudahan bagi

10
kamu.”(HR.Ibnu Majahdan Tirmidzi) fiqih sunnah oleh Sulaiman Ar
Rasyid).


“Dan makanlah makan yang halal lagi bik dari apa yang Allah telah
telah berikan rezekinya kepadmu bertaqwalah pada Allah yang kamu
beriman pada-Nya.”(QS. Al Maidah : 88).


“Dia telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagian
menjadi minuman dan sebagainnya (menyuburkannya) tumbuhan-
tumbuhan yang ada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan
ternakmu.” (QS.An Nahl : 10)

 “Dan makanlah makan yang halal lagi bik dari apa yang Allah telah
telah berikan rezekinya kepadmu bertaqwalah pada Allah yang kamu
beriman pada-Nya.”(QS. Al Maidah : 88).

2.4 Tingkat Pendidikan yang Memadai


Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan secara sadar dengan
membimbing, mengasuh anak atau peserta didik agar dapat meyakini, memahami,
menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam. Karena itu, pendidikan Islam
merupakan pendidikan yang sangat ideal, pendidikan yang menyelaraskan antara
pertumbuhan fisik dan mental, jasmani dan rohani, pengembangan individu dan
masyarakat, serta kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dalam pandangan Islam, pendidikan dilaksanakan dalam tiga jalur, yakni
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Menurut Ki Hajar Dewantara, ketiga
jalur pendidikan ini disebut “Tri Pusat Pendidikan”. Pendidikan dalam lingkungan
keluarga, disebut jalur pendidikan informal. Dalam lingkungan inilah sebagai dasar

11
pertama anak dipelihara dan dididik serta menerima sejumlah nilai dan norma yang
ditanamkan kepadanya. Pendidikan dalam lingkungan sekolah, disebut jalur
pendidikan formal. Dalam lingkungan ini, mereka berkumpul dengan umur yang
hampir sama, dengan taraf pengetahuan yang kurang lebih sederajat dan secara
sekaligus menerima pelajaran yang sama. Pendidikan dalam lingkungan masyarakat,
disebut jalur pendidikan non formal. Dalam lingkungan ini, mereka mendapatkan
berbagai pendidikan yang berasal dari berbagai pihak, misalnya tokoh-tokoh
masyarakat dan termasuk yang berasal dari realita sekitarnya secara
berkesinambungan.
Ketiga jalur pendidikan yang disebutkan di atas, sangat terkait satu sama lain
dan saling menunjang untuk mewujudkan tujuan inti pendidikan Islam, yakni
pembentukan budi pekerti luhur yang diistilahkan dengan akhlak al-karimah. Ketiga
jalur pendidikan dilaksanakan secara berkesinambungan tanpa dibatasi waktu dan
tempat, yaitu :
1. Jalur Pendidikan Informal
Pendidikan informal yang disebut sebagai jalur pendidikan dalam
lingkungan keluarga adalah sebagai wadah dan wahana pertama seseorang
menerima pendidikan dari orang tuanya dan anggota keluarga lainnya. Dengan
demikian, kepribadian seseorang mula-mula terbentuk dari hasil interaksi
keluarga.
Struktur keluarga terjadi disebabkan adanya ikatan darah secara natural
(natural blood ties) yang didahului dengan pernikahan, kemudian lahir anggota
keluarga yang disebut dengan anak yang merupakan obyek didikan dari orang
tua.
Dalam dimensi psikologis seorang anak membutuhkan bimbingan, dan
pembinaan perkembangan jiwanya dalam keluarga. Yang memiliki peranan
penting dalam keluarga ini adalah ibu, khususnya untuk masa-masa awal
perkembangan anak. Ibulah yang paling banyak memberikan rasa kasih sayang
dan aman kepada anak. Fungsi ibu disini sebagai amirah sumber rasa aman.
Sedangkan ayah diharapkan memiliki sifat Abdullah yang memberikan muatan
pada lahan subur jiwa anak yang telah dipersiapkan atau terus dipupuk oleh ibu.

12
Menurut Zakiah Daradjat, tanggung jawab pendidikan Islam menjadi
beban orang tua dalam lingkungan keluarga antara lain:
a. Memelihara dan membesarkan anak ini bentuk yang sederhana bagi
setiap orang dan merupakan bentuk yang alami untuk mempertahankan
kelangsungan hidup anak.
b. Melindungi dan mengayomi, baik jasmani maupun rohani, dari
berbagai gangguan penyakit dan menghindari pelecehan dari tujuan
hidup.
c. Memberikan pengajaran dalam arti yang luas sehingga anak
memperoleh peluang untuk memiliki pengetahuan dan kecakapan.
d. Membahagiakan anak, dunia maupun akhirat sesuai dengan
pandangan dan tujuan hidup.
Dengan demikian, orang tua dituntut untuk menjadi pendidik yang
memberikan pengetahuan pada anak-anaknya, serta memberikan sikap dan
keterampilan yang memadai, memimpin keluarga dan mengatur kehidupannya,
memberikan contoh sebagai keluarga yang ideal, dan bertanggung jawab dalam
kehidupan keluarga, baik yang bersifat jasmani maupun rohani.

2. Jalur Pendidikan Formal


Secara kelembagaan maka sekolah-sekolah pada hakekatnya adalah merupakan
lembaga pendidikan yang sengaja diadakan, yang memiliki fungsi dan peranan
sebagai lembaga pendidikan lanjutan dari pendidikan keluarga.
Dalam perspektif Islam, fungsi sekolah sebagai media realisasi pendidikan
berdasarkan tujuan pemikiran, aqidah dan syariah dalam upaya penghambaan diri
terhadap Allah dan mentauhidkan-Nya sehingga manusia terhindar dari
penyimpangan fitrahnya. Artinya, perilaku anak diarahkanagar tetap
mempertahankan naluri keagamaan tidak keluar dari bingkai normativisme Islam.
Arifin mengemukakan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal fungsi
dan tugasnya adalah:

13
a. Membantu mempersiapkan anak-anak menjadi anggota masyarakat yang
memiliki pengetahuan, keterampilan dan keahlian yang dapat dipergunakan
untuk memperoleh nafkah hidupnya masing-masing.
b. Membantu mempersiapkan anak-anak agar menjadi anggota masyarakat
yang memiliki kemampuan memecahkan masalah kehidupan, baik secara
individu, bersama (masyarakat), atau bangsa.
c. Meletakkan dasar-dasar hubungan sosial, agar anak-anak mampu
merealisasikan dirinya (self realization) secara bersama-sama di dalam
masyarakat yang dilindungi Allah.
d. Membantu anak-anak menjadi muslim, mukmin dan muttaqin. Untuk tetap
mewujudkan peran dan fungsi sekolah di atas, partisipasi segala pihak
sangat dibutuhkan, termasuk orang tua, pemerintah dan masyarakat sekitar.

3. Jalur Pendidikan Non Formal


Pendidikan dalam masyarakat yang diistilahkan pendidikan non formal adalah
semua bentuk pendidikan yang diselenggarakan dengan sengaja. Pendidikan ini
dapat disesuaikan dengan daerah masing-masing dan menjadi obyek sasaran atau
raw input yang menyangkut :
a. Penduduk usia sekolah yang tidak sempat masuk sekolah atau pendidikan
formal atau orang dewasa yang menginginkan.
b. Mereka yang drop out dari sekolah atau pendidikan formal baik dari segala
jenjang pendidikan.
c. Mereka yang telah lulus satu tingkat pendidikan formal tertentu tetapi tidak
meneruskan lagi.
d. Mereka yang telah bekerja tetapi masih ingin mempunyai keterampilan
tertentu.
Dilihat dari raw input, maka pendekatan pendidikan non-formal harus
bersifat fungsional dan praktis serta berpandangan luas berintegrasi satu
sama lain yang akhirnya bagi yang berkepentingan dapat mengikutinya
dengan bebas tetapi juga dengan peraturan tertentu. Ada beberapa jalur
pendidikan di masyarakat (non-formal) yang cukup eksis dewasa ini, yakni:
a. Pendidikan di Masjid

14
Fungsi masjid selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat kegiatan
belajar-mengajar dan bermusyawarah dalam membahas persoalan-
persoalan keumatan. Di masjid mereka akan menerima pendidikan
(berbagai informasi) disebabkan pusat kegiatan ritual dalam suatu
masyarakat adalah di masjid.
b. Pendidikan pada Yayasan-Yayasan
Pada dasarnya, yayasan sebagai lembaga keagamaam mempunyai tugas
dalam penyelenggaraan pendidikan agama dan mempunyai tanggung
jawab terhadap pendidikan agama bagi anak-anak, termasuk juga orang
dewasa.
c. Majelis Ta’lim
Majelis Ta’lim adalah sebagai suatu wadah atau tempat dalam
menyampaikan informasi-informasi pendidikan dan pengajaran. Dapat
juga diartikan sebagai lembaga pendidikan non-formal Islam yang
memiliki kurikulum tersendiri, diselenggarakan secara berkala dan
teratur, diikuti oleh jamaah yang relatif banyak, bertujuan untuk
membina dan mengembangkan hubungan yang harmonis antara sesama
umat.

2.5 Tempat Tinggal yang Layak dan Bersih Menurut Kesehatan dan Agama
Rumah merupakan salah satu hal yang penting dalam membangun sebuah
keluarga. Ia merupakan tempat kembali dari bepergian. Rumah yang nyaman tentu
akan membuat betah seluruh penghuninya, hingga saat dalam perantauanpun ia akan
berharap untuk cepat kembali pulang berkumpul dalam kebersamaan keluarganya.
Rumah yang nyaman tidak selalu harus rumah yang mewah dengan segala fasilitas
didalamnya, tetapi rumah yang dapat memberikan ketenangan dan keamanan bagi
penghuninya. Adapun beberapa hal yang dapat membuat sebuah rumah menjadi
rumah idaman adalah:

1. Dapat melindungi penghuninya dari panas dan dingin.


2. Dapat membatasi pandangan mata (tertuutup).
3. Tidak ada mencegah masuknya binatang melata.

15
4. Tidak ada kekhawatiran rubuh karena berat ataupun rapuhnya.
5. Tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas sehingga banyak kurang yang
tidak bermanfaat.
6. WC dibuat sedemikian rupa sehingga baunya tidak mengganggu
penghuni rumah.
7. Sirkulasi udara yang cukup. (hal.7 sistem kedokteran nabi tahun 1194)

2.6 Lingkungan yang Baik


Lingkungan adalah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan
sumber daya alam, serta flora dan fauna yang tumbuh di darat maupun di dalam laut.
Lingkungan terdiri dari dua komponen biotik (segala sesuatu yang bernyawa) dan
abiotik ( segala yang tidak bernyawa ).

2.6.1 Lingkungan Bersih Hidup Sehat


Lingkungan bersih hidup sehat mempunyai arti lingkungan yang jauh dari
kondisi yang menimbulkan penyakit. Lingkungan yang bersih akan menunjang
terwujudnya hidup sehat. Makna dari lingkungan bersih hisup sehat ialah
Lingkungan yang kita tempati memberikan kesan baik terhadap indra dan
memberikan makna kesehatan.
Lingkungan yang ditempati dapat mendukung dan mempengaruhi kehidupan diri
manusia. Jika lingkungan yang ditempati, masyarakatnya membiasakan hidup sehat,
tentunya ini akan menimbulkan kesan yang baik bagi diri sendiri dan masyarakat.
Tetapi sebaliknya jika anda tinggal di sekitar masyarakat yang membiasakan hidup
kotor dan suka mabuk-mabukan hal ini akan mempengaruhi psikis dan mental anda,
kondisi seperti ini harus anda hindari jika sudah berkeluarga karena lingkungan
seperti ini dapat mempengaruhi pergaulan anak anda.
1. Menciptakan Lingkungan Bersih dan Sehat
Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam hidup sehat, berikut beberapa cara
mewujudkan terciptanya Lingkungan Bersih Hidup Sehat.

a. Lingkungan di sekitar Rumah

16
Lingkungan sehat berawal dari diri sendiri dan di lingkungan sekitar.
Kesehatan juga untuk diri sendiri, maka dari itu mari kita jaga kesehatan dan jaga
lingkungan agar tetap bersih. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 56-58.
(hal.53 Buku Pintar Agama Islam untuk Pelajar tahun 2011).
Sediakanlah tempat sampah di setiap ruangan yang memungkinkan sampah
berada, biasanya di dapur, di kamar mandi dan di halaman rumah. Sebaiknya kita
menyediakan 2 jenis tempat sampah, yakni sampah basah dan sampah kering, jika
kedua sampah tersebut dicampurkan maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap,
dan manfaat jika kita memisahkan sampah kering dan sampah basah ialah kita dapat
mengolah sampah tersebut menjadi barang yang berguna kembali (recycle).
Buanglah sampah yang telah terkumpul pada waktu tertentu atau disaat tempat
sampah tersebut sudah hampir penuh. Jangan tunggu hingga tempat sampah tersebut
penuh karena itu akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan mendatangkan kecoa
atau lalat.
Terapkan jugalah prinsip 3 R ( ReUse, ReCycle, ReDuce ) yang artinya
Reuse = Menggunakan Kembali, ReCycle = Mendaur Ulang, dan ReDuce =
Menggurangi. Sediakanlah tempat penampungan sampah organik dihalaman karena
sampah organik akan bermanfaat nantinya untuk pupuk kompos.

b. Bersihkan lantai secara rutin.


Dimulai dengan menyapu hingga mengepel menggunakan caian penncuci
lantai yang mengandung formula anti kuman. Lantai merupakan bagian rumah yang
langsung terkena kulit, jika lantai kotor tentunya kuman yang ada akan menempel
pada kulit dam menyebabkan penyakit. Jika lantai rumah bersih dan wangi tentunya
akan menimbulkan kesan yang baik dan tentunya kesehatan yang baik pula.
Selayaknya membersihkan rumah secara teratur karena dengan teratur keindahan
dan kenyaman rumah akan semakin terjaga.

c. Hindari gengangan air


Hindarilah genangan air karena genangan air dapat menyebabkan
berkembang biaknya nyamuk aedes aegepty atau nyamuk demam berdarah. Hindari
segera genangan air serta membakar sampah-sampah yang bertumpuk di halaman.

17
d. Buatlah Ventilasi dan ruang cahaya
Buatlah ventilasi udara yang memungkinkan udara segar selalu masuk ke
dalam rumah dan berikanlah ruang untuk cahaya agar masuk menyinari ruangan.
Hal ini akan membuat rumah tidak pengap, segar, dan tak tampak kusam. Sirkulasi
udara yang baik akan mempengaruhi kualitas rumah. Udara yang kotor dirumah
dapat dengan mudah berganti dengan udara yang bersih.

e. Lakukanlah Kerja Bakti

f. Perbanyak tumbuhan hijau


Perbanyaklah tumbuhan hijau di pekarangan rumah yang akan membuat
rumah terlihat asri dan segar. Udara kotor akan cepat berganti menjadi udara segar.

2.7 Taat Pada Ajaran Agama


Ketaatan atau kepatuhan dapat di artikan sebagai disiplin, tertip, dan teratur.
Umat yang taat danpatuh terhadap agamanya, berarti umat yang secara disiplin,
tertib dan teratur menjalankan ibadah dantakwa. Takwa terhadap agama berarti
menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangan-Nya. Menjalankan
perintah seperti Sembayang dan yang lainnya. Sehubungan dengan titah untuk
menaati dan mematuhi Allah SWT, berikut beberapa ayat tentang ketaatan pada
ajaran agama :

“ Barang siapa yang menaati rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati


Allah.” ( Qs. Al-Nisa [4] : 80)

18
Allah SWT pada ayat-ayat ini menyeru seluruh manusia khususnya orang-orang
beriman untuk menaati Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ketaatan kepada Allah
SWT bermakna mengamalkan hukum-hukum agama yang disebutkan dalam Al-
Qur’an atau Sunnah Rasulullah SAW.

2.7.1 Bentuk taat seorang anak kepada orang tua


Jaman sudah makin edan, kultur ketimuran semakin terkikis dan pendidikan
agama sudah banyak dikesampingkan. Sekarang banyak ditemui anak yang hilang
sopan santun hingga kurang ajar terhadap orang tuanya, tidak mempunyai sikap
berbakti bahkan menelantarkan orang tua yang sudah lanjut usia. Berbuat baik
kepada kedua orang tua hukumnya wajib, baik waktu kita masih kecil, remaja atau
sudah menikah dan sudah mempunyai anak bahkan saat kita sudah mempunyai
cucu. Ketika kedua orang tua kita masih muda atau sudah lanjut usianya bahkan
pikun kita tetap wajib berbakti kepada keduanya. Mereka membesarkan kita dengan
penuh kasih sayang dan berbagai pengorbanan. Pengorbanan itu tak hanya dalam
hal tenaga, waktu dan materi, bahkan demi anak nyawa pun rela dikorbankan.

Berikut ini setidaknya ada 10 cara yang cukup sederhana yang dapat kita
lakukan untuk berbakti atau memuliakan orang tua, termasuk kepada orang tua
yang telah tiada.
1. Lemah Lembut Dalam Bertutur Kata Kepada Orang Tua
Jagalah setiap tutur kata kita sebagai anak agar senantiasa lemah lembut tatkala
berbicara kepada orang tua. Jauhi ucapan-ucapan bernada tinggi, apalagi kata-kata
kasar. Kepada pimpinan atau bos kita saja kita bisa berusaha santun (meskipun
terkadang hanya basa-basi), seharusnya kita pun bisa bertutur lemah lembut kepada
orang tua. Kadang kita temui anak yang berkata kepada orang tuanya dengan cara
berteriak-teriak.
2. Membantu Berbagai Pekerjaan Rumah
Banyak dari kita yang tidak menyadari sebenarnya ada berbagai rutinitas orang tua,
terutamanya Ibu yang sebenarnya cukup melelahkan, namun atas dasar tanggung
jawab sebagai orang tua, perkara-perkara rutinitas dalam keseharian itu tidak
menjadikan mereka berkeluh kesah. Maka tidak ada salahnya bagi kita untuk

19
membantu meringankan beban orang tua tersebut, seperti halnya membantu
mencuci piring, menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan rumah dan
semisalnya. Meskipun mungkin kita tidak setiap hari membantu dalam
meringankan pekerjaan-pekerjaan tersebut, tapi niscaya itu akan membuat orang
tua merasa bahagia.
3. Ringan Tangan Menjalankan Perintah Orang Tua
Jika orang tua memerintahkan suatu hal kepada kita, yang mana hal tersebut dapat
kita jalankan, maka janganlah menolak atau menunda-nunda jika memang kita
tidak memiliki udzur dalam perkara tersebut. Orang tua ‘melayani’ kita sejak kita
lahir, sejak masih bayi hingga dewasa dengan penuh kesabaran dan kasih sayang.
Sungguh tidak pantas ketika tiba saatnya orang tua kita memerintahkan kita untuk
melakukan suatu perkara yang sanggup kita kerjakan, namun kita mencari-cari
alasan untuk mengelak dari perintah tersebut.
4. Senantiasa Bersikap Sopan dan Santun
Tidak sekedar ucapan yang lemah lembut saja yang harus kita jaga, namun juga
disertai dengan sikap sopan dan santun terhadap orang tua. Semisal kita
mengucapkan salam ketika pulang, tidak sekedar seperti orang masuk pasar.
Terlebih lagi kita harus menjauhi sikap kurang ajar kepada orang tua.
5. Bersikap Sabar dan Menahan Marah
Sering kali kita mendengar ucapan dari sekian banyak orang terkait orang tua yang
semakin bertambah usia mereka, maka akan semakin ‘rewel’ sikap mereka, seperti
anak kecil lagi. Terkadang dipicu oleh kondisi kesehatan yang sudah tidak prima
lagi, terkadang orang tua semakin usianya renta mereka jadi lebih sensitif dan
mudah marah. Dalam keadaan seperti ini kita harus berusaha untuk menahan diri
dengan bersabar. Bahwasanya surga itu adalah tempat yang salah satu ciri-ciri
penghuninya adalah mereka yang dapat menahan marah.Bayangkan bagaimana
kesabaran orang tua mengasuh kita sejak kecil hingga dewasa, sabar menghadapi
kebandelan kita, sabar menasehati kita, dll.
6. Memberi Hadiah Kepada Orang Tua
Memberi hadiah tidak hanya khusus dituntunkan kepada pasangan suami-istri
ataupun dari orang tua kepada anak. Namun anak pun dapat memberikan suatu
hadiah kepada orang tuanya. Hadiah tidak haruslah yang mahal, namun yang

20
penting dapat menyenangkan orang tua kita. Semisal untuk Ibu kita beri hadiah
berupa jilbab yg syar’i, atau kepada bapak kita hadiahkan sebuah sarung yang
bagus, semisal tatkala Alloh ‘Azza wa Jalla memberi kita kemudahan dalam hal
rezeki yang berlebih. Betapa orang tua akan merasa dimuliakan anak.
7. Tidak Menyia-nyiakan Kerja Keras Orang Tua
Di jaman sekarang ini, banyak kita temui anak yang tidak bisa menghargai
perjuangan dan kerja keras orang tuanya dalam menafkahi mereka, menyekolahkan
mereka, dan hal yang semisalnya yang notabene perjuangan tersebut adalah untuk
membuat kita menjadi lebih baik. Semisal bentuk tidak menghargai perjuangan dan
kerja keras orang tua adalah: bolos sekolah, menghambur-hamburkan uang
pemberian orang tua, malas belajar, dan sikap negatif lainnya yang dilakukan
seorang anak.
8. Merawat Mereka Saat Usia Semakin Renta
Saat kita masih kecil hingga kita dewasa orang tua merawat kita dengan penuh
kesabaran dan ketelatenan. Saat kita sakit sejak kita bayi hingga dewasa, orang tua
menjaga kita siang dan malam. Ingatlah bagaimana Ibu kita memandikan kita,
menyuapi kita dengan telaten, memakaikan baju setiap hari, mengajari kita hal-hal
yang baik, mengganti popok kita, dll. Sekarang banyak kita temui, anak-anak yang
menaruh orang tuanya di panti jompo dikarenakan mereka lebih memilih
menghabiskan semua waktu untuk mengejar nafsu duniawi. Sungguh kebanyakan
orang tua akan nelangsa dengan perlakuan seperti ini.
9. Doa Anak Yang Shalih Untuk Orang Tua Yang Telah Meninggal
Bagi Kaum Muslimin yang mana kedua orang tua atau salah satunya telah tiada,
bahwasanya doa dari anak yang sholeh begitu luar biasa memberi manfaat bagi
orang tua yang telah meninggal. Telah banyak hadits yang menerangkan tentang
bagaimana kebaikan yang akan didapatkan orang tua di kehidupan setelah mati
tatkala memiliki anak-anak yang sholeh yang mau mendoakan mereka. Dan shaleh
ataupun shalehah itu harus diperjuangkan dengan cara taat pada Allah Subhanahu
wa Ta’ala dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi
wasallam. Sebaliknya anak-anak yang tidak mau taat kepada perintah Alloh dan
sebaliknya gemar berbuat dosa akibat meninggalkan shalat, berbuat maksiat, tidak
mau belajar ilmu agama dan hal-hal yg dibenci Alloh serta RasulNya.. maka sang

21
anak hanya akan memberikan beban berat yang harus dipertanggung jawabkan
orang tuanya di yaumul akhirat.
10. Menjaga Silahturahmi Dengan Kerabat ataupun Teman Orang Tua
Termasuk juga dalam ini adalah menyambung hubungan dengan teman atau
sahabat dari orang tua kita yang telah tiada. Dalam syariat Islam bahwasanya
dituntunkan untuk kita senantiasa menyambung tali silahturahmi dengan keluarga-
keluarga dari orang tua kita yang telah tiada sebagai bentuk bakti kita kepada orang
tua. Kita usahakan meluangkan waktu untuk berkunjung ke rumah paman, tante dan
semisalnya.

Hadits Shahih :

Dari Abu Hurairah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
“Celaka, sekali lagi celaka, dan sekali lagi celaka orang yang mendapatkan kedua
orang tuanya berusia lanjut, salah satunya atau keduanya, tetapi (dengan itu) dia
tidak masuk syurga.”

[Hadits Riwayat Muslim 2551, Ahmad 2:254, 346]

Penjelasan ringkas dari hadits di atas: Bahwasanya kedua orang tua itu adalah
‘ladang pahala’ untuk kita menggapai surga Allah ‘Azza wa Jalla. Terdapat
kemuliaan tatkala seorang anak ikhlas dan sadar dalam memuliakan serta berbakti
kepada kedua orang tuanya dalam perkara-perkara yang ma’ruf (perkara yang baik
dan tidak melanggar syariat). Dan sungguh celaka dan merugi bagi seorang anak
yang tatkala kedua orang tua atau salah satunya masih hidup lantas ia enggan
merawatnya, enggan berbakti kepada mereka terlebih tatkala orang tua sudah renta,
bahkan sampai membiarkan orang tua terlantar tanpa perhatian dan kasih sayang
dari anak-anaknya. Demi mengejar karir, demi membahagiakan istri atau suami,
sering kali akhirnya orang tua dilupakan dan dikesampingkan. Tanpa disadari
mereka mendekatkan diri dengan api neraka dan azab-Nya.

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, dapat kami simpulkan bahwa kesehatan keluarga
merupakan hal yang paling utama didalam keluarga. Makanan yang halal,
kematangan fisik dan mental suami dan istri, pekerjaan dan penghasilan yang baik
dan halal suami dan istri, tingkat pendidikan yang memadai, tempat tinggal yang
layak dan bersih menurut kesehatan dan agama, dan taat pada ajaran agama.
Adapun tujuan kesehatan keluarga adalah memelihara, mendidik, dan
melindungi keluarga. Pengetahuan tentang keadaan sehat fisik, jasmani, dan social
dari individu-individuyang terdapat dalam suatu keluarga.

3.2 Saran
Semoga pembaca dapat memahami kesehatan keluarga dalam perspektif
islam. Mendapat informasi tentang pekerjaan yang halal, tingkat pendidikan yang
memadai, tempat tinggal yang layak dan bersih menurut kesehatan dan agama, dan
taat pada ajaran agama. Diharapkan kepada pembaca agar mengambil refrensi lain
sebagai bahan perbandingan.

23