Anda di halaman 1dari 8

Kesehatan dipengaruhi oleh banyak hal, baik yang bersifat internal (dari dalam diri manusia) maupun

yang bersifat eksternal (dari luar diri manusia). Blum (1974) dalam Soekidjo (2005, p. 19)
menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kesehatan baik individu, kelompok, dan masyarakat
dapat dikelompokkan menjadi 4 berdasarkan besarnya pengaruh, yaitu: 1) Lingkungan
(environment), mencakup lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya; 2) Perilaku
(behavior); 3) Pelayanan kesehatan (health services); 4) Keturunan (heredity). Diantara keempat
faktor tersebut, faktor lingkungan merupakan faktor yang memberikan pengaruh terbesar. Hal ini
diungkapkan oleh Blum (1974) yang menyatakan bahwa lingkungan merupakan akses utama yang
langsung berhubungan dengan manusia. Sebagai contoh, akses terhadap air bersih, jamban atau
tempat buang air besar, sampah, lantai rumah, polusi, sanitasi tempat umum, bahan beracun
berbahaya, kebersihan TPU (Tempat Pelayanan Umum), dan lain-lain.

Kesehatan lingkungan
Peraturan Pemerintah nomor 66 tahun 2015 tentang Kesehatan Lingkungan menjelaskan pengertian
kesehatan lingkungan yang adalah upaya pencegahan penyakit dan/atau gangguan kesehatan dari
faktor risiko lingkungan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik dari aspek fisik,
kimia, biologi, maupun sosial.
1. Jumlah Desa/Kelurahan yang Melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Tahun
2015-2017

Beberapa contoh faktor lingkungan yang telah disebutkan oleh Blum (1974) sebelumnya yaitu
pengelolaan air bersih, limbah air dan sanitasi dasar. Yang menjadi fokus utama dari beberapa contoh
tersebut adalah akses sanitasi dasar karena merupakan akses kesehatan pertama yang langsung
berhubungan dengan setiap rumah tangga. Oleh karena itu, Departemen Kesehatan Republik
Indonesia dalam penyuluhan kesehatan masyarakat di Jakarta pada tahun 2002 menjelaskan bahwa
pembangunan jamban keluarga yang memenuhi syarat kesehatan merupakan upaya untuk mencapai
lingkungan yang sehat.

Di dalam surat keluaran Peraturan Kementrian Kesehatan (2014), STBM terdiri atas 5 pilar, yaitu

1) Stop buang air besar sembarangan (Stop BABS);

2) Cuci tangan pakai sabun (CTPS);

3) Pengelolaan air minum dan makanan yang aman (PAMM-RT);

4) Pengelolaan sampah rumah tangga (PS-RT);dan

5) Pengelolaan limbah cair rumah tangga (PLC-RT).

Dari kelima pilar dalam program STBM tersebut, pilar pertama yaitu Stop buang air besar
sembarangan adalah pilar utama yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat, karena
masalah tersebut menyangkut masalah kesehatan lingkungan yang akan berdampak luas terhadap
masyarakat disekitar. Selain itu, pilar pertama merupakan akses utama menuju sanitasi total.

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) merupakan program nasional yang dibuat oleh Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia dengan tujuan untuk memperbaiki sanitasi dasar masyarakat yang
meliputi: setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga
dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF); setiap rumah
tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga; setiap
rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas tersedia fasilitas cuci sehingga
semua orang mencuci tangan dengan benar; dan setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan
benar. Tujuannya adalah terciptanya lingkungan yang bersih dan terbebasnya masyarakat dari
penyakit yang disebabkan oleh lingkungan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nugraha (2015), dampak program STBM bagi kesehatan
terbukti mampu menguragi penyakit yang disebabkan oleh pencemaran lingkungan.

Nugraha, Moh Fajar. (2015). Dampak Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Pilar
Pertama di Desa Gucialit Kecamatan Gucialit Kabupaten Lumajang. Kebijakan dan Manajemen Publik.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014 tentang Sanitasi Total Berbasis
Masyarakat (STBM), yang dimaksud dengan STBM adalah pendekatan untuk mengubah perilaku
higienis dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan cara pemicuan. Penyelenggaraan
STBM bertujuan untuk mewujudkan perilaku yang higienis dan saniter secara mandiri dalam rangka
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.

Pendekatan STBM terbukti telah mampu mempercepat akses sanitasi di Indonesia. Berdasarkan data
Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013, peningkatan rata-rata akses sanitasi dari tahun 1993-2006
mencapai 0,78% per tahun. Sejak penerapan CLTS (Community Lead Total Sanitation) pada tahun 2006
yang kemudian menjadi kebijakan nasional STBM pada tahun 2008 rata-rata peningkatan akses
sanitasi per tahun mencapai 3,53%, dan berdasarkan penghitungan Pusat Data dan Informasi dari data
BPS 2009-2017 rata-rata peningkatan rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak adalah 2,23%
per tahun. Dalam pelaksanaan STBM berpedoman pada lima pilar sebagai berikut: 1. Stop Buang Air
Besar Sembarangan (SBABS). 2. Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). 3. Pengelolaan Air Minum dan
Makanan Rumah Tangga (PAMMRT). 4. Pengamanan Sampah Rumah Tangga (PSRT). 5. Pengamanan
Limbah Cair Rumah Tangga (PLCRT).

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 3 Tahun 2014, strategi penyelenggaraan Sanitasi Total
Berbasis Masyarakat (STBM) meliputi 3 (tiga) komponen yang saling mendukung satu dengan yang
lain yang disebut dengan 3 Komponen Sanitasi Total yaitu: 1. Penciptaan lingkungan yang kondusif
(enabling environment); 2. Peningkatan kebutuhan sanitasi (demand creation); 3. Peningkatan
penyediaan akses sanitasi (supply improvement);

Dalam rangka mendukung pencapaian target RPJMN termasuk Universal Access 2019, pada akhir
tahun 2019 harus tercapai 100% desa/kelurahan melaksanakan STBM, dan 50% desa/kelurahan STBM
harus mencapai SBS/ODF yang terverifikasi. SBS Verifikasi adalah kondisi ketika setiap individu dalam
suatu komunitas tidak lagi melakukan perilaku buang air besar sembarangan yang berpotensi
menyebarkan penyakit dan sudah dipastikan melalui proses verifikasi.
2. Kabupaten/Kota yang Menyelenggarakan Tatanan Kawasan Sehat Tahun 2017

Kawasan Sehat adalah suatu kondisi wilayah yang bersih, nyaman, aman dan sehat bagi pekerja dan
masyarakat, melalui peningkatan suatu kawasan potensial dengan kegiatan yang terintegrasi dan
disepakati masyarakat, kelompok usaha dan pemerintah daerah. Tatanan Kawasan Sehat merupakan
salah satu indikator pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan dalam Renstra 2015-2019. Dalam
Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesehatan Nomor 34 Tahun 2005 dan Nomor
1138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat. Kabupaten/Kota Sehat
(KKS) adalah suatu kondisi kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman dan sehat untuk dihuni
penduduk, yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan beberapa tatanan dengan kegiatan yang
terintegrasi yang disepakati masyarakat dan pemerintah daerah. Tatanan Kabupaten/kota sehat
dikelompokkan berdasarkan kawasan dan permasalahan khusus, terdiri dari: 1. kawasan permukiman,
sarana, dan prasarana umum, 2. kawasan sarana lalu lintas tertib dan pelayanan transportasi, 3.
kawasan pertambangan sehat, 4. kawasan hutan sehat, 5. kawasan industri dan perkantoran sehat, 6.
kawasan pariwisata sehat, 7. ketahanan pangan dan gizi, 8. kehidupan masyarakat yang mandiri, 9.
kehidupan sosial yang sehat. Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat adalah juga merupakan
pelaksanaan berbagai kegiatan dalam mewujudkan kabupaten/kota sehat berbasis masyarakat yang
berkesinambungan, melalui forum yang difasilitasi oleh pemerintah kabupaten/kota. Kabupaten/kota
yang menyelenggarakan kawasan sehat adalah kabupaten/kota yang menyelenggarakan pendekatan
Kabupaten/Kota Sehat dengan membentuk Tim Pembina dan Forum Kabupaten/Kota Sehat yang
menerapkan minimal 2 Tatanan dari 9 Pengelompokan Tatanan Kawasan Sehat.
3. Persentase Rumah Tangga Menurut Sumber Air Minum Layak Tahun 2015-2017
Untuk mendukung kesehatan lingkungan dan kesehatan masyarakat, rumah tangga harus
memiliki akses air minum layak dan bersih. Kebutuhan air minum, tidak hanya dilihat dari
kuantitasnya tetapi juga dari kualitas air minum. (Kemenkes, 2017)
Akses air minum dan sanitasi yang aman penting dalam menentukan harapan hidup di
negaranegara (Jafar, 2013). Hasil pembangunan bidang air minum dan sanitasi akan memiliki
pengaruh pada tingkat kesejahteraan penduduk, khususnya dari aspek kesehatan.
Pembangunan bidang air dan sanitasi mempengaruhi derajat kesehatan, karena prasarana air
dan sanitasi merupakan bagian faktor pembangun angka harapan hidup. Dengan peningkatan
akses air dan sanitasi yang layak di tingkat individu, rumah tangga dan masyarakat, akan
menurunkan penyakit berbasis masyarakat dan memberikan kontribusi dalam peningkatan
angka harapan hidup. (Kustanto,2015)
Jafar, Abu Muhammad, 2013. Life Expectancy and its Socioeconomic Determinants – A
Discriminant Analysis of National Level Data. International Journal of Humanities and Social
Kustanto, Deka Nata. 2015. DAMPAK AKSES AIR MINUM DAN SANITASI TERHADAP
PENINGKATAN KESEJAHTERAAN. Jurnal Sosek Pekerjaan Umum, Vol.7 No.3, November 2015

4. Persentase Sarana Air Minum yang Dilakukan Pengawasan Tahun 2017


Pengembangan kualitas dan kuantitas air bersih merupakan salah satu pengembangan
infrastruktur lingkungan yang perlu mendapat perhatian. Selain karena merupakan salah satu
sumber daya yang vital, air juga merupakan penyebab utama masalahmasalah lingkungan
yang dialami oleh penduduk, terutama yang tinggal di daerah perkotaan. Bahkan ketersediaan
air, terutama air bersih, menjadi salah satu penentu kualitas hidup suatu masyarakat (Utami
dan Handayani, 2017)
Pengawasan kualitas air minum diatur oleh Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
736/MENKES/PER/VI/2010 tentang Tata Laksana dan Pengawasan Kualitas Air Minum,
dalam peraturan tersebut dijelaskan bahwa pengawasan internal dilakukan oleh
penyelenggara air minum komersial dan pengawasan eksternal dilakukan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota. Pengawas kualitas air minum internal adalah penyelenggara air
minum yang diawasi kualitas hasil produksinya secara eksternal oleh Dinas Kesehatan
Provinsi/Kabupaten/Kota dan KKP yang dibuktikan dengan jumlah sampel pengujian kualitas
air. Penyelenggara air minum adalah PDAM/BPAM/PT yang terdaftar di Persatuan
Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi); Sarana air minum perpipaan non
PDAM; dan Sarana air minum bukan jaringan perpipaan komunal.

5. Persentase Rumah Tangga yang Memiliki Akses Terhadap Sanitasi Layak Menurut Provinsi
Tahun 2015-2017

Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud
mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya
lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia.
Sanitasi yang baik merupakan elemen penting yang menunjang kesehatan manusia. Definisi
sanitasi dari WHO merujuk kepada penyediaan sarana dan pelayanan pembuangan limbah
kotoran manusia seperti urine dan faeces. Istilah sanitasi juga mengacu kepada pemeliharaan
kondisi higienis melalui upaya pengelolaan sampah dan pengolahan limbah cair. Sanitasi
berhubungan dengan kesehatan lingkungan yang mempengaruhi derajat kesehatan
masyarakat. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di banyak aspek kehidupan,
mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum
bagi masyarakat, meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa penyakit.
(Kemenkes, 2017)

6. Persentase Tempat-Tempat Umum (TTU) yang Memenuhi Syarat Kesehatan Tahun 2017

Setiap aktifitas yang dilakukan oleh manusia sangat erat interaksinya dengan tempat-tempat
umum, baik untuk bekerja, melakukan interaksi sosial, belajar maupun melakukan aktifitas
lainnya. Menurut Chandra (2007), tempat-tempat umum memiliki potensi sebagai tempat
terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan ataupun gangguan kesehatan lainnya.
Kondisi lingkungan tempat-tempat umum yang tidak terpelihara akan menambah besarnya
resiko penyebaran penyakit serta pencemaran lingkungan sehingga perlu dilakukan upaya
pencegahan dengan menerapkan sanitasi lingkungan yang baik.
Chandra, 2007. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

7. Persentase Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang Memenuhi Syarat Kesehatan Tahun
2017

Sebagai salah satu jenis tempat pelayanan umum yang mengolah dan menyediakan makanan
bagi masyarakat banyak, maka Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) memiliki potensi yang
cukup besar untuk menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit bahkan keracunan akibat
dari makanan yang dihasilkannya. TPM adalah usaha pengelolaan makanan yang meliputi
jasaboga atau katering, rumah makan dan restoran, depot air minum, kantin, dan makanan
jajanan. Berdasarkan Kepmenkes Nomor 1098/Menkes/SK/VII/2003 tentang Persyaratan
Higiene Sanitasi Rumah Makan dan Restoran, persyaratan higiene sanitasi yang harus
dipenuhi meliputi:
1. persyaratan lokasi dan bangunan,
2. persyaratan fasilitas sanitasi,
3. persyaratan dapur, rumah makan, dan gudang makanan,
4. persyaratan bahan makanan dan makanan jadi,
5. persyaratan pengolahan makanan,
6. persyaratan penyimpanan bahan makanan dan makanan jadi,
7. persyaratan penyajian makanan jadi,
8. persyaratan peralatan yang digunakan.
Pelaksanaan kegiatan higiene sanitasi pangan merupakan salah satu aspek dalam menjaga
keamanan pangan yang harus dilaksanakan secara terstruktur dan terukur dengan kegiatan,
sasaran dan ukuran kinerja yang jelas, salah satunya dengan mewujudkan Tempat
Pengelolaan Makanan yang memenuhi syarat kesehatan. (Kemenkes, 2017)

Pengawasan makanan dan minuman merupakan salah satu bagian yang penting, dalam segala
aktivitas kesehatan masyarakat, mengingat adanya kemungkinan penyakitpenyakit akibat
makanan dan minuman.Pengawasan makanan dan minuman meliputi kegiatan usaha yang
ditujukan kepada kebersihan dan kemurnian makanan dan minuman agar tidak menimbulkan
penyakit.Kemurnian disini dimaksud murni menurut penglihatan maupun rasa. Makanan dan
minuman dibuat di berbagai tempat pengelolaan makanan dan minuman, seperti jasa boga,
rumah makan atau restoran, depot air minum, industri rumah tangga pangan, sentra makanan
jajanan, dan TPM lainnya.TPM merupakan sarana yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi
konsumsi setiap orang.TPM merupakan salah satu istilah yang ada pada tupoksi Dinas
Kesehatan.Sejalan dengan meningkatnya jumlah dan jenis TPM yang sangat beragam, dan
makin beragam pula produk makanan dan minuman yang dihasilkan. Dengan ini maka perlu
adanya pengawasan yang diatur dalam Undang Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang
kesehatan bab 6 upaya kesehatan pasal 109 tentang pengamanan makanan dan minuman.
(Syafitri, 2017)

8. Kabupaten/Kota yang Memenuhi Kualitas Kesehatan Lingkungan Tahun 2017


Indikator kualitas kesehatan lingkungan menjadi indikator utama di Direktorat Kesehatan
Lingkungan pada tahun 2016, indikator kualitas kesehatan lingkungan merupakan komposit
dari 6 indikator pelaksana kesehatan lingkungan lainnya. Peningkatan kualitas kesehatan
lingkungan pada kabupaten/kota tercapai dengan terpenuhinya minimal 4 dari 6 kriteria
yang meliputi:
1. Memiliki desa/kelurahan melaksanakan STBM minimal 20%
2. Menyelenggarakan tatanan kabupaten/kota sehat
3. Melakukan pengawasan kualitas air minum minimal 30%
4. Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) memenuhi syarat kesehatan minimal 8 %
5. Tempat Tempat Umum (TTU) memenuhi syarat kesehatan minimal 30%
6. Rumah Sakit melaksanakan pengelolaan limbah medis minimal 10%

9. Persentase Rumah Sakit yang Melakukan Pengelolaan Limbah Medis Sesuai Standar
Tahun 2017

Limbah rumah sakit dapat mencemari lingkungan penduduk di sekitar rumah sakit dan dapat
menimbulkan masalah kesehatan. Hal ini dikarenakan limbah rumah sakit mengandung berbagai jasad
renik penyebab penyakit pada manusia termasuk demam typoid, kholera, disentri dan hepatitis
sehingga limbah tersebut harus diolah sesuai dengan pengelolaan limbah medis sebelum dibuang ke
lingkungan (BAPEDAL, 1999).
BAPEDAL. Peraturan tentang Pengendalian Dampak Lingkungan. Jakarta, 1999.
Limbah medis rumah sakit dapat dianggap sebagai mata rantai penyebaran penyakit menular.
Limbah biasa menjadi tempat tertimbunnya organisme penyakit dan menjadi sarang serangga dan
tikus. Disamping itu, di dalam limbah juga mengandung berbagai bahan kimia beracun dan benda-
benda tajam yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan cidera. Partikel-partikel debu dalam
limbah dapat menimbulkan pencemaran udara yang akan menimbulkan penyakit dan
mengkontaminasi peralatan medis dan makanan (Fattah. Dkk, 2007).
Fattah, Nurfachanti dkk. Studi Tentang Pelaksanaan Pengelolaan Sampah Medis Di Rumah
Sakit Ibnu Sina Makasssar. Fakultas Kedokteran Unhas: Makassar, 200

Dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dengan meningkatnya
pendirian Rumah Sakit (RS). Sebagai akibat kualitas efluen limbah rumah sakit yang tidak memenuhi
syarat menyebabkan limbah rumah sakit dapat mencemari lingkungan penduduk disekitar rumah sakit
dan menimbulkan masalah kesehatan, hal ini dikarenakan dalam limbah rumah sakit dapat
mengandung berbagai jasad renik penyebab penyakit pada manusia termasuk demam thypoid,
cholera, disentri dan hepatitis sehingga limbah harus diolah sebelum di buang ke lingkungan (Bapedal,
1999).
BAPEDAL, 1999. Peraturan tentang pengendalian dampak lingkungan.
Kegiatan rumah sakit menghasilkan berbagai macam limbah yang berupa benda cair, padat dan
gas.Pengelolaan limbah rumah sakit adalah bagian dari kegiatan penyehatan lingkungan di rumah
sakit yang bertujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran lingkungan yang
bersumber dari limbah rumah sakit. (Giyatmi, 2003)
Giyatmi, 2003. Efektivitas pengolahan limbah cair rumah sakit Dokter Sardjito Yogyakarta terhadap
pencemaran radio aktif. Yogyakarta: Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada.

Pada dasarnya limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah
sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Limbah rumah sakit dapat berbentuk padat, cair, dan gas
yang dihasilkan dari kegiatan diagnosis pasien, pencegahan penyakit, perawatan, penelitian,
imunisasi terhadap manusia dan laboratorium yang mana dapat dibedakan antara limbah medis
maupun non medis yang merupakan sumber bahaya bagi kesehatan manusia maupun
penyebaran penyakit di lingkungan masyarakat(Kesmas,2017)

Beberapa pengaruh yang ditimbulkan oleh keberadaan limbah rumah sakit, khususnya terhadap
penurunan kualitas lingkungan dan terhadap kesehatan antara lain, terhadap gangguan
kenyamanan dan estetika, terutama disebabkan karena warna yang berasal dari sedimen,
larutan, bau phenol, bau feses, urin dan muntahan yang tidak ditempatkan dengan baik dan rasa
dari bahan kimia organik. Penampilan rumah sakit dapat memberikan efek psikologis bagi
pemakai jasa, karena adanya kesan kurang baik akibat limbah yang tidak ditangani dengan baik.

Limbah medis rumah sakit juga dapat menyebabkan kerusakan harta benda. Dapat disebabkan
oleh garam-garam terlarut (korosif, karat), air yang berlumpur dapat menurunkan kualitas
bangunan di sekitar rumah sakit. Selain itu limbah rumah sakit menyebabkan gangguan atau
kerusakan tanaman dan binatang. Hal ini terutama karena senyawa nitrat (asam, basa dan
garam kuat), bahan kimia, desinfektan, logam nutrient tertentu dan fosfor.

Terhadap gangguan kesehatan manusia, limbah medis rumah sakit terutama karena berbagai
jenis bakteri, virus, senyawa-senyawa kimia, desinfektan, serta logam seperti Hg, Pb, Chrom dan
Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi. Gangguan kesehatan dapat dikelompokkan
menjadi gangguan langsung adalah efek yang disebabkan karena kontak langsung dengan
limbah tersebut, misalnya limbah klinis beracun, limbah yang dapat melukai tubuh dan limbah
yang mengandung kuman pathogen sehingga dapat menimbulkan penyakit dan gangguan tidak
langsung dapat dirasakan oleh masyarakat, baik yang tinggal di sekitar rumah sakit maupun
masyarakat yang sering melewati sumber limbah medis diakibatkan oleh proses pembusukan,
pembakaran dan pembuangan limbah tersebut.

Limbah medis rumah sakit juga dapat menyebabkan gangguan genetik dan reproduksi.
Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti, namun beberapa
senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik dan system reproduksi
manusia, misalnya pestisida (untuk pemberantasan lalat, nyamuk, kecoa, tikus dan serangga
atau binatang pengganggu lain) dan bahan radioaktif.

Limbah medis rumah sakit juga dapat menyebabkan infeksi silang. Limbah medis dapat menjadi
wahana penyebaran mikroorganisme pembawa penyakit melalui proses infeksi silang baik dari
pasien ke pasien, dari pasien ke petugas atau dari petugas ke pasien. Pada lingkungan, adanya
kemungkinan terlepasnya limbah ke lapisan air tanah, air permukaan dan adanya pencemaran
udara, menyebabkan pencemaran lingkungan karena limbah rumah sakit.

http://www.indonesian-publichealth.com/pengaruh-limbah-medis-terhadap-kesehatan/

Pengelolaan limbah cair rumah sakit mempunyai arti penting dalam rangka untuk mengamankan
lingkungan hidup dari gangguan zat pencemar yang ditimbulkan oleh buangan rumah sakit tersebut,
karena air limbah rumah sakit merupakan buangan infeksius yang berbahaya bagi manusia dan
lingkungan. Dengan pengelolaan yang baik air limbah rumah sakit tersebut dapat diminimalkan dan
jika dibuang ke lingkungan tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan rumah sakit maupun
lingkungan sekitar rumah sakit tersebut. (Sri Subekti)

Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan
berbagai masalah seperte :

1. Gangguan kenyamanan dan estetika, berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau
phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organic, yang menyebabkan estetika
lingkungan menjadi kurang sedap dipandang.
2. Kerusakan harta benda, dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif dan
karat) air yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan
disekitar rumah sakit.
3. Gangguan/ kerusakan tanaman dan binatang, dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat,
bahan kimia, pestisida, logam nutrient tertentu dan fosfor.
4. Gangguan terhadap kesehatan manusia, dapat disebabkan oleh berbagai jenis bakteri, virus,
senyawa-senyawa kimia, pestisida, serta logam berat seperti Hg, Pb dan Cd yang bersal dari
bagian kedokteran gigi.
5. Gangguan genetic dan reproduksi.
6. Pengelolaan sampah rumah sakit yang kurang baik akan menjadi tempat yang baik bagi
vector penyakit seperti lalat dan tikus.
7. Insiden penyakit demam berdarah dengue meningkat karena vector penyakit hidup dan
berkembangbiak dalam sampah kaleng bekas atau genangan air.
8. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan menghasilkan gas-gas tertentu yang
menimbulkan bau busuk.
9. Adanya partikel debu yang berterbangan akan mengganggu pernafasan, menimbulkan
pencemaran udara yang akan menyebabkan kuman penyakit mengkontaminasi peralatan
medis dan makanan rumah sakit.
10. Apabila terjadi pembakaran sampah rumah sakit yang tidak saniter asapnya akan
mengganggu pernafasan, penglihatan dan penurunan kualitas udara.

Berdasarkan keputusan menkes 1204/Menkes/SK/X/2004