Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

I.I LATAR BELAKANG

Dewasa ini banyak sekali penelitian yang dilakukan untuk mengetahui susunan dari sebuah
bahan. Dari pengukuran density dan repractive index, kekerasan¸ termal, struktur, sifat optic,
sifat magnetic, sampai komposisi. Banyak teknik yang dilakukan dalam suatu penelitian, dan
beragam bentuknya, tidak sama antar satu dengan yang lainnya.

Dalam pengukuran kompisisi khususnya, dilakukan dengan metode spektometri,. Alat yang
digunakan dalam metode tersebut yakni XRF. Pengujian menggunakan XRF mempunyai
keunggulan tidak memerlukan preparasi bahan uji yang rumit dan waktu pengujian yang singkat.
Keunggulan tersebut menjadikan alat tersebut digunakan sebagai langkah awal dalam analisis
bahan sebelum dilakukan analisis unsur dalam bahan lebih lanjut menggunakan alat uji yang
lain. Dalam rangka pelaksanaan perbaikan alat dilakukan analisisi kerusakan pada XRF. Analisis
kerusakan dilakukan melalui 2 tahap yaitu pengamatan secara visual dan melakukan pengukuran
langsung. Hasil pengamatan secara visual menunjukkan adanya nilai cacahan (counting per
second / cps) yang tinggi diatas 40 cps s/d 106 cps pada saat X ray Off ( seharusnya 0+10 cps)
dan tidak stabil sehingga menyebabkan terganggunya sistem deteksi.

Penggunaan alat-alat ini, para peneliti memanfaatkan pemancaran sinar-x dalam metode
penelitiannya. Mengapa sinar-x yang digunakan, Profesor Daniel Mittleman dari Fakultas Teknik
Elektrik dan Komputer Rice University memberi penjelasan detailnya. Sinar-x merupakan
bentuk radiasi elektromagnetik, seperti cahaya, radiasi inframerah, gelombang mikro, dan
gelombang radio. Namun dibanding jenis radiasi tersebut, sinar-x lebih enerjik. Foton sinar-x
seribu kali lebih enerjik dibanding foton cahaya tampak.

Terakhir, mesin yang mengakselerasi elektron dalam orbit lingkaran dapat menghasilkan
sinar-x. Ketika elektron berputar, elektron ini memancarkan sinar-x kuat. Nah itu tadi adalah
pengetahuan awal dari makalah yang akan kita bahas pada kali ini. Pemancaran Sinar-x akan
digunakan dalam alat yang dinamakan XRF (X-Ray Flourencenses).

1
I.II Rumusan Masalah :
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah :
1. Jelaskan mengenai tinjauan umum dari X-ray Fluorescense (XRF) ?
2. Bagaimana prinsip kerja dari X-ray Fluorescense (XRF) ?
3. Bagaimana penggunaan dalam industri ?

I.III Tujuan Makalah :


Sesuai dengan rumusan masalah yang telah dirumuskan, tujuan dari penulisan yang hendak
dicapai adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengetahuan umum tentang X-ray Fluorescense (XRF)
2. Untuk mengetahui prinsip kerja dari X-ray Fluorescense (XRF)
3. Untuk mempelajari penggunaan dalam industri

2
BAB II

TINJAUAN UMUM

II.I X-ray Fluorescense (XRF)

X-ray Fluorescense (XRF) merupakan alat yang digunakan untuk analisis komposisi
kimia beserta konsentrasi unsur-unsur yang berkembang dalam suatu sampel secara kualitatif dan
kuantitatif. metode spektrometri. XRF dapat digunakan untuk menentukan elemen utama dengan
akurasi yang tinggi dan analisis kualitatif terhadap sampel dilakukan tanpa menggunakan standar
serta minimalnya preparasi terhadap sampel.(1)

Teknik pengujian dengan X-Ray Fluoresence (XRF) digunakan untuk menentukan


komposisi unsur suatu material. Karena teknik pengujian ini sangat cepat dan tidak merusak dari
sampel yang akan diuji. Tergantung pada penggunaanya XRay Fluoresence(XRF) dapat
dihasilkan tidak hanya oleh sinar X tetapi juga sumber eksitasi primer yang lain seperti partikel
alpa, proton atau sumber elektron dengan energi yang tinggi.(2)

Jenis spektrometri XRF ada 2 yaitu : WDXRF (Wave Length Dispersive XRF) dan
EDXRF (Energy Dispersive XRF). Jenis XRF yang pertama adalah WDXRF (Wavelength-
dispersive X-ray Fluorescence), dimana dispersi sinar-X didapat dari difraksi dengan
menggunakan analyzer yang berupa kristal yang berperan sebagai grid. Kisi kristal yang spesifik
memilih panjang gelombang yang sesuai dengan hukum Bragg. Secara skematik piranti
spektropmetri XRF untuk jenis WDXRF dan EDXRF ditunjukkan pada Gambar 1.

Gambar 1.a Jenis WDXRF

3
Gambar 1.b Jenis EDXRF

Jenis XRF (Gambar 1.(a) yaitu WDXRF: jenis sampel yang terkena radiasi
sinar-X akan mengemisikan radiasi ke segala arah. Radiasi dengan dengan arah yang
spesifik yang dapat mencapai colimator. Sehingga refleksi sinar radiasi dari kristal
kedetektor akan memberikan sudut θ. Sudut ini akan terbentuk jika, panjang
gelombang yang diradiasikan sesuai dengan sudut θ dan sudut 2θ dari kisi kristal.
Maka hanya panjang gelombang yang sesuai akan terukur oleh detektor. Karena sudut
refleksi spesifik bergantung panjang gelombang, maka untuk pengukuran elemen yang
berbeda, perlu dilakukan pengaturan posisi kolimator, kristal serta detektor
(Gosseau,2009). Untuk jenis XRF pada Gambar 1.(b) adalah EDXRF.

DXRF spektrometri bekerja tanpa menggunakan kristal, namun menggunakan


software yang mengatur seluruh radiasi dari sampel ke detektor . Radiasi emisi dari
sample yang dikenai sinar-X akan langsung ditangkap oleh detektor. Detektor
menangkap foton – foton tersebut dan dikonversikan menjadi pulsa elektrik.
Amplitudo dari pulsa elektrik tersebut bersesuaian dengan energi dari foton-foton
yang diterima detektor. Impuls kemudian menuju sebuah perangkat yang dinamakan
MCA yang akan memproses pulsa tersebut. Sehingga akan terbaca dalam memori
komputer sebagai channel. Channel tersebut yang akan memberikan nilai spesifik
terhadap sampel yang dianalisa. Pada XRF jenis ini, membutuhkan biaya yang relatif
rendah, namun keakuratan berkurang.(3)

4
II.II PRINSIP KERJA XRF-SPEKTROFOTOMETRY

Prinsip kerja XRF yaitu terjadinya tumbukan atom-atom pada permukaan sampel oleh
sinar X dari sumber sinar X. foton yang memiliki energi tinggi (X-rays) menembak elektron
pada kulit dalam (biasanya kulit K atau L) yang menyebabkan elektron tersebut berpindah ke
lapisan kulit luarnya. Pada saat bersamaan, kulit dalam terjadi kekosongan elektron dan
menyebabkan keadaan yang tidak stabil sehingga elektron dari kulit di atasnya berpindah
mengisi kekosongan dengan mengemisikan sinar (fluorescence) dengan energi sebesar
perbedaan energi dari kedua keadaan dan panjang gelombang yang sesuai dengan karekteristik
dari tiap elemen. Intensitas sinar yang diemisikan sebanding dengan konsentrasi dari tiap
elemen.(3)

Gambar 2. (1) Elektron Tereksitasi Keluar (2) Pengisian Kekosongan Elektron

(3) Pelepasan Energi (4) Proses analisis data.(4)

1. X-Ray ditembakkan pada sampel, jika selama proses penembakan X-Ray


mempunyai energi yang cukup maka elektron akan terlempar (tereksitasi)
dari kulitnya yang lebih dalam yaitu kulit K dan menciptakan vacancy atau
kekosongan pada kulitnya, ditunjukkan pada gambar 1.
2. Kekosongan tersebut mengakibatkan kondisi yang tidak stabil pada atom.
Untuk menstabilkan kondisi maka elektron dari dari tingkat energi yang
lebih tinggi misalnya dari kulit L dan M akan berpindah menempati

5
kekosongan tersebut, seperti yang ditunjukkan pada gambar 2. Pada proses
perpindahan tersebut, energi dibebaskan karena adanya. perpindahan dari
kulit yang memiliki energi lebih tinggi (L/M) kedalam kulit yang memiliki
energi paling rendah (K). Emisi yang dikeluarkan oleh setiap material
memiliki karakteristik khusus.
3. Proses tersebut memberikan karakteristik dari X-Ray, yang energinya berasal
dari perbedaan energi ikatan antar kulit yang berhubungan. X-ray yang
dihasilkan dari proses ini disebut X-Ray Fluorescence atau XRF (Gambar 3).
4. Proses untuk mendeteksi dan menganalisa X-Ray yang dihasilkan disebut X-
Ray Fluorescence Analysis. Penggunaan spektrum X-Ray pada saat
penyinaran suatu material akan didapatkan multiple peak (puncak ganda
karena adanya K dan K ) pada intensitas yang berbeda. Model yang lain
yaitu alfa, beta, atau gamma dibuat untuk menandai X-Ray yang berasal dari
elektron transisi dari kulit yang lebih tinggi. K dihasilkan dari transisi
elektron dari kulit L ke kulit K dan X-Ray K dihasilkan dari transisi elektron
dari kulit M menuju kulit K, seperti gambar berikut:

Gambar 3. Terbentuknya K-alpha dan K-Beta (4)

Teknik analisis X-Ray Fluoresence (XRF) menggunakan peralatan spektrometer yang


dipancarkan oleh sampel dari penyinaran sinar-X. Sinar-yang dianalisis berupa sinar-X
karakteristik yang dihasilkan dari tabung sinar-X, sedangkan sampel yang dianalisis dapat berupa
sampel padat pejal dan serbuk. Dasar analisis alat X-Ray Fluoresence (XRF) adalah pencacahan
sinar-X yang dipancarkan oleh suatu unsur akibat pengisian kembali kekosongan elektron pada
orbital yang lebih dekat dengan inti atom (kulit K) oleh elektron yang terletak pada orbital yang
lebih luar. Kekosongan elektron ini terjadi karena eksitasi elektron. Pengisian elektron pada

6
orbital K akan menghasilkan spektrum sinar-X deret K, pengisian elektron pada orbital
berikutnya menghasilkan spektrum sinar-X deret L, deret M, deret N dan seterusnya.(4)

Spektrum sinar-X yang dihasilkan selama proses di atas menunjukkan puncak (peak)
karakteristik yang merupakan landasan dari uji kualitatif untuk unsur-unsur yang ada pada
sampel. Sinar-X karakteristik diberi tanda sebagai K, L, M, N dan seterusnya untuk
menunjukkan dari kulit mana unsur itu berasal. Penunjukkan alpha (α), beta (β) dan gamma (γ)
dibuat untuk memberi tanda sinar- X itu berasal dari transisi elektron dari kulit yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, Kα adalah sinar-X yang dihasilkan dari transisi elektron kulit L ke kulit K.(4)

Gambar 3. Prinsip kerja alat X-Ray Fluoresence (XRF) (4)

Masrukan dkk. (2007: 3) menyatakan bahwa unsur yang dapat dianalisisadalah unsur
yang mempunyai nomor atom rendah seperti unsur karbon (C) sampai dengan unsur yang
mempunyai nomor atom tinggi seperti uranium (U). Unsur C mempunyai sinar-X transisi ke
kulit K sebesar 0,28 keV sedangkan sinar-X karakteristik dari kulit L pada atom U sebesar
13,61 keV.(5)

Oleh karena energi setiap atom terdiri dari energi pada kulit atom K, L, M dan
seterusnya maka energi yang diambil untuk analisis adalah energi sinar-X yang dihasilkan
oleh salah satu kulit atom tersebut. Pada pengoperasian alat X-Ray Fluoresence (XRF)
diperoleh bahwa rentang energy sinar-X pada peralatan adalah 5 – 50 keV. Oleh karena itu,
untuk menganalisis atom U harus diambil pada energi kulit L (13,61 keV) karena energi kulit
K sangat besar (97,13 keV) dan berada di luar kemampuan alat. Analisis menggunakan alat X-
Ray Fluoresence (XRF) akan menghasilkan suatu spektrum yang menunjukkan kandungan
unsur-unsur pada tingkat energi tertentu sesuai dengan orbital yang mengalami kekosongan

7
elektron dan pengisian elektron dari orbital selanjutnya seperti yang ditunjukkan pada gambar
dibawah.(5)

Gambar 4. Kandungan unsur-unsur pada tingkat energi tertentu.(4)

Data hasil pengukuran XRF berupa sumber spektrum dua dimensi dengan sumbu-x
adalah energi (keV) sedangkan sumbu-y adalah cacahan/ intensitas sinar-x yang dipancarkan
oleh setiap unsur. Setiap unsur menghasilkan spektrum dengan energi yang spesifik. Energi
yang dibutuhkan untuk mengeluarkan inti elektron dan juga energi yang dipancarkan oleh
transisi merupakan karakteristik dari setiap unsur. Transisi dari kulit elektron L yang mengisi
kulit K menghasilkan transisi, sedangkan kulit elektron M yang mengisi kulit K menghasilkan
transisi. XRF sangat cocok untuk menentukan unsur seperti Si, Al, Mg, Ca, Fe, K, Na, Ti, S,
dan P dalam batuan siliciclastik dan juga untuk unsur metal seperti Pb, Zn, Cd, dan Mn.(6)

Ketika photon X-Ray memiliki energi yang cukup untuk menabrak atom, hal ini
menyebabkan elektron terlepas dari kulitnya (dalam hal ini Kulit K). Selanjutnya atom akan
mengisi kekosongan pada kulit K dengan elektron dari kulit L; sebagai penurunan elektron ke
tingkat energi rendah dan melepaskan energi yang disebut Kα (K alfa X-Ray). Atom mengisi
kekosongan kulit K dengan elektron dari kulit M, sebagai penurunan elektron ke tingkat
energi rendah, dan melepaskan energi yang disebut Kβ (K betha X-ray).(3)

Metode XRF secara luas digunakan untuk menentukan komposisi unsur suatu
material.Karena metode ini cepat dan tidak merusak sampel, metode ini dipilih untuk aplikasidi
lapangan dan industri untuk kontrol material. Tergantung pada penggunaannya, XRF dapat

8
dihasilkan tidak hanya oleh sinar-X tetapi juga sumber eksitasi primer yang lain seperti partikel
alfa, proton atau sumber elektron dengan energi yang tinggi.(7)

Apabila terjadi eksitasi sinar-X primer yang berasal dari tabung X ray atau sumber
radioaktif mengenai sampel, sinar-X dapat diabsorpsi atau dihamburkan oleh material. Proses
dimana sinar-X diabsorpsi oleh atom dengan mentransfer energinya pada elektron yang terdapat
pada kulit yang lebih dalam disebut efek fotolistrik. Selama proses ini, bila sinar-X primer
memiliki cukup energi, elektron pindah dari kulit yang di dalam sehigga menimbulkan
kekosongan. Kekosongan ini menghasilkan keadaan atom yang tidak stabil. Apabila atom
kembali pada keadaan stabil, elektron dari kulit luar pindah ke kulit yang lebih dalam dan proses
ini menghasilkan energi sinar-X yang tertentu dan berbeda antara dua energi ikatan pada kulit
tersebut. Emisi sinar-X dihasilkan dari proses yang disebut X Ray Fluorescence (XRF). Proses
deteksi dan analisa emisi sinar-X disebut analisa XRF. Pada umumnya kulit K dan L terlibat pada
deteksi XRF. Sehingga sering terdapat istilah Kα dan Kβ serta Lα dan Lβ pada XRF. Jenis
spektrum X ray dari sampel yang diradiasi akan menggambarkan puncak-puncak pada intensitas
yang berbeda.

Energi pada XRF adalah karakteristik level energi dari lintasan electron tiap elemen. Level
energi berbeda untuk setiap elemen. Dengan analisis energi pada spektrm XRF yang diemisikan
oleh sebuah zat, dapat ditentukan elemen yang ada pada unsur dan konsentrsai tiap zat. Informasi
ini dibutuhkan untuk mengidentifikasi suatu unsur. Radiasi emisi dari sample yang dikenai sinar-
X akan langsung ditangkap oleh detektor. Detektor menangkap foton – foton tersebut dan
dikonversikan menjadi impuls elektrik. Amplitudo dari impuls elektrik tersebut bersesuaian
dengan energi dari foton – foton yang diterima detektor. Impuls kemudian menuju sebuah
perangkat yang dinamakan MCA (Multi-Channel Analyzer) yang akan memproses impuls
tersebut. Sehingga akan terbaca dalam memori komputer sebagai channel. Channel tersebut yang
akan memberikan nilai spesifik terhadap sampel yang dianalisa. Pada XRF jenis ini,
membutuhkan biaya yang relatif rendah, namun keakuratan berkurang.(3)

II.III PENGGUNAAN XRF DALAM INDUSTRI

a. Menentukan komposisi logam pada tanah


Penelitian ini dilakukan di Sorowalio, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi
Tenggara, Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan dan

9
persentase mineral yang terkandung dalam batuan dengan menggunakan X-Ray
Fluorescence (XRF). Metode penelitian adalah survei pendahuluan, sampling dan analisis
laboratorium. XRF melaporkan komposisi kimia, termasuk Si (kuarsa) dan Ca (kalsium).
Hasil menunjukkan kandungan dan persentase unsur yang mendominasi sampel batuan
adalah Fe2O3, MgO, CaO, dan SiO2. Hasil penelitian menggunakan XRF menunjukkan
bahwa ada empat unsur dominan oksida logam. Hematit (Fe2O3) dominan di semua
lokasi pengambilan sampel. Magnesium oksida (MgO) memiliki tingkat tertinggi yang
ditemukan dalam sampel nomor enam dan terendah dalam sampel nomor lima. Silikat
(SiO) memiliki tingkat tertinggi pada sampel nomor enam dan terendah dalam sampel
nomor tujuh. Kalsium oksida (CaO) dominan di semua lokasi pengambilan sampel.
Sampel asbuton mengandung 37,90% aspal, 43,28% karbonat, dan 18,82% mineral
lainnya.(7)

Tabel 1. Hasil pengukuran komposisi mineral sampel uji menggunakan X-Ray

Sampel Compound metal oxide (m/m%).


Fe2O3 MgO SiO2 CaO
1 39.07 27.18 22.80 5.78
2 39.96 3.47 25.74 25.50 3.47
3 5.56 0 0 89.46
4 44.39 0 0 5.46
5 12.79 12.79 0 0 76.78
6 36.37 28.03 29.37 0.644
7 6.99 0 4.01 71.86

b. Menentukan komposisi logam berat dan elemen dari ekstrak tanaman.


Hasil penelitian Durmuskahya, dkk, 2016, ekstrak tanaman Origanum sipyleum
L; 2% ekstrak air dievaluasi dengan spektroskopi fluoresensi x-ray dengan detektor drift
silikon SDD pada resolusi 145 eV dan 10.000 pulsa. Kondisi proses adalah 0,1 g berat
sampel, waktu proses 300 detik pada tegangan 25 kV dan 50 kV, dan pada arus 0,5 dan
1,0 mA di bawah atmosfer helium. Hasil: Unsur-unsur utama, K, Ca dan Na, yang dikenal
sebagai macronutrients, terdiri 11990, 10490 dan 970 ppm dari obat bubuk dan 8910,
2991 dan 810 ppm ekstrak air, masing-masing. Di antara konstituen lainnya, kadar

10
arsenik, timbal dan uranium masing-masing adalah <1, 2,1 dan <3 ppm, dalam bahan
bubuk sementara dalam ekstrak berair, kadar masing-masing <1, <2 dan 200 ppm.
Kesimpulan: O. sipyleum merupakan sumber potensial makro dan mikronutrien dari
mana aditif makanan yang bermanfaat dan suplemen kesehatan.(8)
Sebelas elemen (K, Ca, Zn, Cu, Fe, Mn, Cr, Ni, Br, Rb dan Zr) ditentukan dengan
menggunakan Energi Dispersive X-ray Fluorescence (EDXRF) di dipilih tanaman obat
Sudan yaitu; Ambrosia maritime L., Balanites aegyptiaca (L.) Del., Cymbopogon
proximus (Hochst. Ex A. Kaya.) Stapf, Grewia tenax (Forssk.) Fiori, Hydnora johannis
Becca, Lepidium sativum L., Nauklea latifolia Smith, Peperomia pellucida L., Senna
obtusifolia (L.) Irwin & Barneby dan Tamarix aphylla (L.) Karsten. G. tenax memiliki
konsentrasi Ca tertinggi (8107 ppm), Br (33 ppm), Rb (19,9 ppm), Zn (18,11 ppm) dan
Cu (15,9 ppm). Konsentrasi tertinggi K (15451 ppm) dan Fe (1426 ppm) ditemukan di H.
johannis. Konsentrasi Cr tertinggi (13.10 ppm) dan Ni (7.6 ppm) ditemukan pada C.
proximus. A. maritima dan B. aegyptiaca memiliki konsentrasi tertinggi Mn (10,6 ppm)
dan Zr (8,2 ppm) masing-masing. Informasi tersebut dapat membantu dalam standardisasi
produk herbal sejak tanaman obat Sudan memainkan peran penting dalam pemeliharaan
kesehatan manusia.(9)
Logam dan metaloid memainkan peran mendasar dalam banyak proses fisiologis
dalam sistem biologis, tetapi ketidakseimbangan unsur-unsur ini dalam tubuh dapat
menyebabkan banyak penyakit, seperti penyakit Parkinson, penyakit Alzheimer, dan
bahkan kanker. Dengan demikian, untuk lebih memahami metallome dalam kesehatan
dan penyakit, penentuan kuantitatif lokalisasi mereka, konsentrasi, spesiasi, dan
metabolisme terkait pada tingkat seluler atau subselular sangat penting. X-ray
fluorescence (XRF) pencitraan, sebagai generasi baru teknik analisis, telah dilaporkan
sebagai alat yang ideal untuk secara kuantitatif memetakan beberapa logam dan metaloid
dalam jaringan dengan sensitivitas, spesifisitas, dan resolusi yang wajar. Dalam tinjauan
saat ini, kami telah memperkenalkan konsep umum teknik pencitraan XRF, meninjau
kemajuan terbaru menggunakan pencitraan XRF untuk menyelidiki toksikologi logam
dan metaloid dalam ilmu kehidupan, dan membahas peran logam dan metaloid dalam
berbagai penyakit, termasuk kanker dan neurodegeneratif.(10)
Tanaman obat mengandung unsur esensial dan jejak, yang sangat penting bagi
tubuh manusia. India memiliki pengalaman yang kaya manfaat kesehatan melalui

11
memanfaatkan berbagai varietas herbal obat Ayurvedic. Penekanan kami dalam makalah
ini adalah pada karakterisasi lima tanaman Obat (Oroxylum indicum (Linn.) Vent.,
Leucas indica (L.) R. Br. Ex Vatke, Premna tomentosa (Willd.), Piper chaba (Hunter) dan
Hedychium spicatum (Buch.-Ham.) Untuk kandungan makro dan mikroelemen mereka
menggunakan spektrometri sinar-X dispersif X-ray fluoresensi (WD-XRF) .Penerapan
metode terutama untuk penentuan simultan dari enam belas elemen (Na, Mg, Al, Si , P, S,
Cl, K, Ca, Cr, Mn, Fe, Cu, Zn, Ba dan Pb) dalam matriks biologis telah dievaluasi dalam
hal batas deteksi, presisi dan akurasi Metode ini divalidasi dengan menganalisis lima
Cina bahan referensi bersertifikat (NCS ZC73012 (kubis), NCS ZC73013 (bayam), NCS
ZC73017 (apel), NCS ZC85006 (tomat) dan NCS DC73348 (bush, cabang dan daun))
dari standar sayuran. Secara umum, kesepakatan yang baik telah dicapai antara nilai yang
disertifikasi dan yang terukur dengan pemulihan berkisar dari 92 hingga 108%
Pendukung metode WDXRF sed terbukti menjadi alat yang efektif untuk penyelidikan
dan proses kontrol.(11)
Penerapan metode WDXRF kuantitatif (Wavelength-Dispersive X-ray
Fluorescence), untuk penentuan mineral dalam spesimen lobak. Dalam studi ini, kami
secara kuantitatif dan semi-kuantitatif menganalisis empat kultivar lobak (Raphanus
sativus L.) yang berbeda (cvs. 'Siyah', 'Beyaz', 'Antep' dan 'Iri-Kirimizi'). Kami telah
menemukan bahwa elemen utama; yaitu N dan K; beberapa elemen kecil; Na, Mg, P, S,
dan Ca, dan banyak elemen jejak; Mn, Fe, Cu, Zn, Al, Ti, Cr, Br, Rb, Sr, Sn, Ba dan La.
Konsentrasi elemen jejak yang diperoleh berkisar 0,01-3,24 mg per 100 g. Metode cepat
ini telah ditemukan menjadi teknik yang dapat diandalkan untuk menganalisis kandungan
mineral dalam lobak dan sayuran.(12)
Penelitian dalam Cole (Brassica oleracea L. cv. Acephala) adalah spesies alami
yang sangat kuat untuk (pada) suhu yang dingin. Telah diamati bahwa spesies tanaman
dapat hidup bahkan di bawah salju selama musim dingin. Bibit cole ditanam di tanah
selama satu bulan. Suhu dingin kemudian diterapkan pada bibit ini dalam kondisi yang
terkendali. Bibit-bibit ini selanjutnya dipotong menjadi ujung akar, bagian tengah akar,
bagian atas akar, hipokotil, epikotil, tangkai daun dan daun dan sampel secara acak.
Konsentrasi unsur-unsur anorganik (Al, Si, P, S, Cl, K, Ca, Fe, dan Mg) di bagian diukur
dengan spektrometri sinar-X fluoresensi jarak jauh (WDXRF) spektrometri untuk
menguji efek suhu dingin pada akumulasi nutrisi dan distribusi dalam bibit ini. Hasil

12
penelitian menunjukkan bahwa distribusi beberapa unsur anorganik di antara organ (akar,
batang dan daun) tanaman cole secara signifikan diubah oleh stres dingin. Ada hubungan
antara suhu dingin dan distribusi, dan akumulasi Ca, Fe, P, Cl, S terutama Si dan Al
dalam bibit cole. Selain itu, teknik WDXRF adalah alat sederhana, cepat, ekonomis dan
akurat untuk studi biologi yang terkait dengan penentuan jumlah nutrisi tanaman di
tingkat ppm.(13)
Penelitian terhadap patikan kebo (Euphobia hirta (Eh) menjadi sasaran analisis
unsur menggunakan X-ray fluorescence (XRF), dan hasilnya menunjukkan konsentrasi
unsur-unsur berikut: sulfur (4,128 mg / kg), potasium (58,755 mg / kg), kalsium (34,102
mg / kg), skandium (0,256mg / kg), titanium (0,348 mg / kg), zat besi (2,124 mg / mg),
seng (0,108 mg / kg), rubidium (0,040 mg / kg), strontium (0,089mg / kg ), zireonium
(0,026mg / kg), molibdenum (0,006 mg / kg) dan thorium (0,120 mg / kg) masing-
masing. Semua elemen yang dianalisis di atas berada dalam batas yang diizinkan oleh
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO)
.Vanadium, kromium, mangan, kobalt, nikel, tembaga, arsenik, selenium, palladium,
perak, kadmium, timah, antimoni, telurium, cesium, barium, tungsten, emas, merkuri dan
timbal tidak terdeteksi dalam sampel.(14)
c. Menentukan kadar logam pada Air
Cristea dan Dinu, 2013, hasil penelitia di rumania Sebuah metode untuk analisis
simultan Fe, Mn, Al, Ca, Mg, Cd, Cr, Cu, Hg, Ni, Pb, Zn dan As dari lumpur pengolahan
air tambang dikembangkan menggunakan NEX CG - Energi Dispersive X-ray
Fluorescence Spectrometer . Hasil analisis XRF diverifikasi dengan metode lain yang
disucikan seperti AAS dan ICP-MS menggunakan metodologi standar, termasuk
pretreatment sampel. Korelasi yang baik hasil antara metode tercapai (biasanya 0,93-
0,98). Persiapan sampel minimum (pengeringan, penyaringan dan persiapan cangkir
prolene) diperlukan, dan hingga 4 sampel dapat dianalisis per jam. Batas deteksi biasa
untuk elemen yang dianalisis adalah antara 3 dan 30 mg / Kg dw, dengan batas yang lebih
tinggi untuk unsur-unsur ringan sebagai Mg (384 mg / Kg dw) Al (162 mg / Kg dw).
Metode analisis XRF berhasil digunakan untuk analisis beberapa presipitat yang
diperoleh dari perairan tambang menggunakan berbagai metode pengendapan.(15)
Keberlakuan refleksi total X-ray fluorescence (TXRF) spektrometri untuk jejak
analisis unsur sampel air hujan dipelajari. Penelitian ini digunakan untuk

13
mengembangkan sampel ini sebagai standar air hujan oleh National University of
Singapore (NUS). Laboratorium kami adalah salah satu peserta untuk menggunakan
TXRF untuk penelitian ini. Sampel air hujan yang diperoleh dari NUS dianalisis oleh
TXRF dan elemen jejak Mn, Fe, Ni, Cu, Zn, V dan Pb ditentukan seperti yang
dipersyaratkan oleh NUS. Presisi rata-rata ditemukan berada dalam16% dan konsentrasi
unsur yang ditentukan TXRF dari elemen-elemen ini berada di bawah 20 μg/ l. Deviasi
rata-rata nilai TXRF yang ditentukan dari nilai yang disertifikasi adalah 20% (tidak
termasuk deviasi untuk Fe dan V yang relatif tinggi). Terlepas dari unsur-unsur di atas, S,
K, Ca, Rb, Sr, Ba dan Br juga ditentukan oleh TXRF dan ditemukan dalam kisaran 0,2-
191 μg/L.(16)

14
BAB III

PENUTUP

III.I KESIMPULAN

1. X-ray Fluorescense (XRF) merupakan alat yang digunakan untuk analisis komposisi kimia
beserta konsentrasi unsur-unsur yang berkembang dalam suatu sampel secara kualitatif dan
kuantitatif
2. Metode XRF secara luas digunakan untuk menentukan komposisi unsur suatu
material.Karena metode ini cepat dan tidak merusak sampel, metode ini dipilih untuk
aplikasidi lapangan dan industri untuk kontrol material.
3. XRF (X-ray fluorescence spectrometry) digunakan untuk identifikasi serta penentuan
konsentrasi elemen yang ada pada padatan, bubuk ataupun sample cair.
4. Prinsip Dasar analisis alat XRF (X-ray fluorescence spectrometry) ini adalah pencacahan
Sinar-X yang dipancarkan oleh suatu unsur akibat pengisian kembali kekosongan elektron
pada orbital yang lebih dekat dengan inti.
5. Terdapat dua jenis XRF , WDXRF (Wavelength-dispersive X-ray Fluorescence) dan
EDXRF. EDXRF (Energy-dispersive X-ray Fluorescence) .
6. X-Ray Fluorescent Spectroscocy (XRF) mempunyai banyak keuntungannya yaitu analisis
tidak merusak, cepat, multi elemen dan murah.
7. X-Ray Fluorescent Spectroscocy (XRF digunakan dalam berbagai aplikasi, termasuk
keramik dan kaca manufaktur

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Bahri, 2015 “Sintesis dan Karakteristik Zeolit X Dari Abu Vulkanik Gunung Kelud
Dengan Variasi Rasio Nolar Si/Al Menggunakan Metode Sol -Gel”,
2. Krisnawan, Aris.2009, “Karakterisasi Sampel Paduan Jenis AZ9 ID Dengan berbagai
variasi waktu Milling Menggunakan X-Ray Florusence (XRF) Dan X-Ray Difraction
(XRD, Hal 35
3. Gosseau,D., 2009,Introduction to XRF Spectroscopy, (Online), http://users.skynet.be/,
diakses tanggal 14 November 2018
4. Sumantry, T. (2002). Aplikasi XRF untuk identifikasi Lempung pada kegiatan
penyimpanan Lestari Limbah Radioaktif Prosiding Seminar Nasional Teknologi
Pengelolaan Limbah VII. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN. ISSN 1410-
6086
5. Masrukan, dkk. (2007). Studi Komarasi Hasil Analisis Komposisi paduan ALMGSI1
dengan menggunakan teknik X-Ray Fluorencency(XRF) dan Emission
SPECTROSCOPY, . Jurnal Batan Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir. Volume 13 (3)
nomor 109-110 tahun 2007). Hal 1
6. Tucker, M. & Hardy R. (1991). Techniques In Sedimentology. Edited By Maurice Tucker.
Blackwell Scientific Pub: London
7. Jamaluddin, DKK, 2018 X-Ray Fluorescence (XRF) to identify chemical analysis of
minerals in Buton island, SE Sulawesi, Indonesia PUBLIKASIKAN DI Global
Colloquium on GeoSciences and Engineering 2017 IOP Publishing IOP Conf. Series:
Earth and Environmental Science 118 (2018) 012070 doi :10.1088/1755-
1315/118/1/012070 (http://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-
1315/118/1/012070/pdf)
8. Cenk Durmuşkahya, 2016, X-ray fluorescence spectroscopic determination of heavy
metals and trace elements in aerial parts of Origanum sipyleum L from Turkey, Tropical
Journal of Pharmaceutical Research May 2016; 15 (5): 1013-1015) Available online at
http://www.tjpr.org http://dx.doi.org/10.4314/tjpr.v15i5.16
9. Sakina, dkk, 2013, Elemental Analysis of Ten Sudanese Medicinal Plants Using X-ray
Fluorescence Journal of Applied and Industrial Sciences, April, 2013, 1 (1): 49-53
(http://oaji.net/articles/2014/375-1393055799.pdf).

16
10. Zhang, dkk, 2018, Review Article X-ray fluorescence imaging of metals and metalloids
in biological systems, Am J Nucl Med Mol Imaging 2018;8(3):169-188
www.ajnmmi.us /ISSN:2160-8407/ajnmmi0079409
11. Swamy dan Sivanarayana, 2014, Quantitative Determination of Essential and Trace
Elements in Indian Ayurvedic Medicinal Herbs by WD-XRF spectrometry, Int J Ayu
Pharm Chem ORIGINAL RESEARCH www.ijapc.com
12. Kaymak, Dkk, 2010. Elemental analysis of different radish (Raphanus sativus L.)
Cultivars by using wavelength-dispersive X-ray fluorescence spectrometry (WDXRF).
Bulg J Agric Sci 16 769-774
https://pdfs.semanticscholar.org/ebff/484b4dd55f0c6650af99d72980bbfabd8dfe.pdf
13. Tapına, dkk, 2009, Determination of chilling temperature effects on nutrient elements
composition and distribution in cole (Brassica oleracea L. Cv. Acephala) using the
WDXRF spectroscopic technique, African Journal of Biotechnology Vol. 8 (23), pp.
6569-6575, 1 December, 2009 Available online at
http://www.academicjournals.org/AJB ISSN 16845315© 2009 Academic Journals
(file:///C:/Users/ACER/AppData/Local/Packages/Microsoft.MicrosoftEdge_8wekyb3d
8bbwe/TempState/Downloads/66185-132937-1-PB.pdf)
14. Kntapo, Dkk, 2018, X-Ray flourescence (XRF) elemental composition of Euphorbia hirta
Linn (Asthma weed) as a medicinal plan, Asian J. Med. Biol. Res. 2018, 4 (1), 49-54; doi:
10.3329/ajmbr.v4i1.36821
15. Cristea dan Dinu, 2013, Application of X-Ray fluorescence spectrometry for Analysis of
sludge from Mine Water Treatment, INCD ECOIND – INTERNATIONAL
SYMPOSIUM – SIMI 2013 “THE ENVIRONMENT AND THE INDUSTRY,
(http://dspace.incdecoind.ro/bitstream/123456789/387/1/15.%20APPLICATION-OF-X-
RAY-FLUORESCENCE-SPECTROMETRY.pdf
16. Dhara dan Misra, 2011, Application of total reflection X-ray fluorescence spectrometry
for trace elemental analysis of rainwater, PRAMANA c Indian Academy of Sciences
Vol. 76, No. 2 — journal of February2011 physics pp. 361–366
(https://www.ias.ac.in/article/fulltext/pram/076/02/0361-0366)

17
18