Anda di halaman 1dari 22

METALURGI FISIK 1

KELAS B

Disusun Oleh :

Ocky Artha Chrisyara

(1421700118)

UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945


SURABAYA
2018
Daftar Isi
Pembahasan .......................................................................................................1
Teori Atom .........................................................................................................1
a) Teori Atom Dalton ................................................................................1
b) Teori Atom Thompson ..........................................................................1
c) Teori Atom Rutherford ........................................................................2
d) Teori Atom Bohr ...................................................................................2

Atom Mekanika Kuantum ...............................................................................3

a) Struktur Atom Kuantum......................................................................4


b) Bilangan Kuantum ................................................................................4

Ikatan Atom .......................................................................................................8

a) Ikatan Ion...............................................................................................8
b) Ikatan Kovalen ......................................................................................9
c) Ikatan Logam ........................................................................................9

Struktur Kristal .................................................................................................10

a) Kristal .....................................................................................................10
b) Space Lattice ..........................................................................................10
c) Unit Cell .................................................................................................11

Bidang-Arah Kristal dan Indeks Miller..........................................................12

Struktur Kristal BCC .......................................................................................15

Struktur Kristal FCC .......................................................................................15

Struktur Kristal HCP .......................................................................................16

Perhitungan Densitas Teoritis ..........................................................................17

Packing Factor pada BCC dan FCC ...............................................................18

Daftar Pustaka ...................................................................................................20


Pembahasan
1. Teori Atom
Pada beberapa abad sebelum masehi, filsuf-filsuf Yunani, di antaranya
Leucippus dan Democritus berpendapat bahwa semua materi terdiri dari
partikel-partikel kecil yang tak terbagi. Democritus menyatakan bahwa
jika suatu materi dibagi menjadi bagian yang lebih kecil kemudian terus
dibagi lagi maka akan sampai pada suatu saat di mana didapat bagian
yang sangat kecil yang tidak dapat dihancurkan atau dibagi lagi yang
disebut atom (‘atomos’ dalam bahasa Yunani yang artinya ‘tak
terbagi’).
A. Teori Atom Dalton
Teori atom Dalton menyatakan bahwa :

1. Setiap unsur tersusun dari partikel yang sangat teramat kecil


yang disebut atom.
2. Semua atom dari satu unsur yang sama adalah identik,
namun atom unsur satu berbeda dengan atom unsur-unsur
lainnya.
3. Atom dari satu unsur tidak dapat diubah menjadi atom dari
unsur lain melalui reaksi kimia; atom tidak dapat diciptakan
ataupun dimusnahkan dalam reaksi kimia.
4. Senyawa terbentuk dari kombinasi atom-atom dari unsur-
unsur yang berbeda dengan rasio atom yang spesifik.
Teori atom Dalton ini memberikan gambaran model atom
seperti model bola pejal.
B. Teori Atom Thompson

Pada tahun 1897, J.J. Thomson melakukan eksperimen dengan


sinar katoda. Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa sinar
katoda terdefleksi (terbelokkan) oleh medan magnet maupun
medan listrik. Hal ini menunjukkan bahwa sinar katoda
merupakan radiasi partikel yang bermuatan listrik. Pada
eksperimen dengan medan listrik, sinar katoda terbelokkan
menuju ke arah kutub bermuatan positif. Hal ini menunjukkan
bahwa sinar katoda merupakan radiasi partikel bermuatan
negatif. Selanjutnya, partikel sinar katoda ini disebut sebagai
elektron. Penemuan elektron ini kemudian mengacu pada
kesimpulan bahwa di dalam atom terdapat elektron yang
bermuatan negatif. Menurut model atom Thomson, elektron
bermuatan negatif tersebar dalam bola bermuatan positif seperti
model roti kismis, di mana kismis-kismis adalah elektron-
elektron, dan roti adalah bola bermuatan positif. Yang
menyatakan bahwa:
“Atom merupakan bola pejal yang bermuatan positif dan
didalamya tersebar muatan negatif elektron”
1
C. Teori Atom Rutherford
Pada tahun 1911, Ernest Rutherford melakukan eksperimen
menembakkan partikel α — partikel bermuatan positif — pada
lempeng emas tipis. Ia menemukan bahwa sebagian besar
partikel-partikel α tersebut menembus melewati lempeng emas,
namun ada sebagian yang mengalami pembelokan bahkan
terpantulkan. Hal ini mengacu pada kesimpulan model atom
Rutherford: model inti, di mana dalam atom yang sebagian
besar merupakan ruang kosong terdapat inti yang padat pejal
dan masif bermuatan positif yang disebut sebagai inti atom; dan
elektron-elektron bermuatan negatif yang mengitari inti atom.
D. Teori Atom Bohr
Pada tahun 1913, Niels Bohr mengajukan model atom untuk
menjelaskan fenomena penampakan sinar dari unsur-unsur
ketika dikenakan pada nyala api ataupun tegangan listrik tinggi.
Model atom yang ia ajukan secara khusus merupakan model
atom hidrogen untuk menjelaskan fenomena spektrum garis
atom hidrogen. Bohr menyatakan bahwa elektron-elektron
bermuatan negatif bergerak mengelilingi inti atom bermuatan
positif pada jarak tertentu yang berbeda-beda seperti orbit
planet-planet mengitari matahari. Oleh karena itu, model atom
Bohr disebut juga model tata surya . Setiap lintasan orbit
elektron berada tingkat energi yang berbeda; semakin jauh
lintasan orbit dari inti, semakin tinggi tingkat energi. Lintasan
orbit elektron ini disebut juga kulit elektron. Ketika elektron
jatuh dari orbit yang lebih luar ke orbit yang lebih dalam, sinar
yang diradiasikan bergantung pada tingkat energi dari kedua
lintasan orbit tersebut.

2
Untuk menentukan konfigurasi elektron suatu unsur, ada
beberapa patokan yang harus selalu diingat, yaitu:

1. Dimulai dari lintasan yang terdekat dengan inti, masing-masing


lintasan disebut kulit ke-1 (kulit K), kulit ke-2 (kulit L), kulit
ke-3 (kulit M), kulit ke-4 (kulit N), dan seterusnya.
2. Jumlah elektron maksimum (paling banyak) yang dapat
menempati masing-masing kulit adalah:
2 n2
dengan n = nomor kulit
Kulit K dapat menampung maksimal 2 elektron.
Kulit L dapat menampung maksimal 8 elektron.
Kulit M dapat menampung maksimal 18 elektron, dan
seterusnya.
3. Kulit yang paling luar hanya boleh mengandung maksimal 8
elektron.

2. Atom Mekanika Kuantum


Mekanika kuantum, termasuk teori medan kuantum, adalah cabang
dasar fisika yang menggantikan mekanika klasik pada tataran
sistem atom dan subatom. Sistem yang mengikuti mekanika kuantum
ini dapat berada dalam superposisi kuantum pada keadaan yang
berbeda, tidak seperti pada fisika klasik. Ilmu ini memberikan
kerangka matematika untuk berbagai cabang fisika dan kimia,
termasuk fisika atom, fisika molekular, kimia komputasi, kimia
kuantum, fisika partikel, dan fisika nuklir. Mekanika kuantum adalah
bagian dari teori medan kuantum dan fisika kuantum umumnya, yang,
bersama relativitas umum, merupakan salah satu pilar fisika modern.
Dasar dari mekanika kuantum adalah bahwa energi itu tidak kontinyu,
tetapi diskrit—berupa 'paket' atau 'kuanta'. Konsep ini cukup
revolusioner, karena bertentangan dengan fisika klasik yang berasumsi
bahwa energi itu berkesinambungan.

3
Mekanika kuantum berkembang dari penyelesaian Max Planck tahun
1900 pada masalah radiasi benda-hitam (dilaporkan 1859) dan
paper Albert Einstein tahun 1905 yang menawarkan teori berbasis-
kuantum untuk menjelaskan efek fotolistrik (dilaporkan 1887). Teori
kuantum lama dipahami secara mendalam pada pertengahan 1920an.
A. Struktur Atom Kuantum
Teori Atom Mekanika Kuantum didasarkan pada dualisme sifat
elektron yaitu sebagai gelombang dan sebagai partikel.
Menurut de Broglie, cahaya dapat berperilaku sebagai materi
dan berperilaku sebagai gelombang (dikenal dengan istilah
dualisme gelombang partikel). Menurut Heisenberg, tidak
mungkin menentukan kecepatan dan posisi elektron secara
bersamaan, tetapi yang dapat ditentukan hanyalah kebolehjadian
menemukan elektron pada jarak tertentu dari inti.
Erwin Schrodinger mengajukan teori yang disebut teori atom
mekanika kuantum ”Kedudukan elektron dalam atom tidak
dapat ditentukan dengan pasti yang dapat ditentukan adalah
kemungkinan menemukna elektron sebagai fungsi jarak dari inti
atom”.
Daerah dangan kemungkinan terbesar ditemukan elektron
disebut orbital. Orbital digambarkan berupa awan, yang tebal
tipisnya menyatakan besar kecilnya kemungkinan ditemukan
elektron di daerah tersebut. Kemudian Werner Heisenberg
mengemukakan bahwa metode eksperimen yang digunakan
untuk menemukan posisi atau momentum suatu partikel seperti
elektron dapat menyebabkan perubahan, baik pada posisi,
momentum atau keduanya.
Teori Schrodinger dan prinsip ketidakpastian Heisenberg
melahirkan model atom mekanika kuantum sebagai berikut:
1. Posisi elektron dalam atom tidak dapat ditentukan dengan pasti.
2. Atom mempunyai kulit elektron.
3. Setiap kulit elektron memiliki subkulit elektron.
4. Setiap subkulit elektron memiliki sub-sub kulit elektron.

B. Bilangan Kuantum
Bilangan kuantum (bahasa inggris: Quantum number)
adalah bilangan yang menyatakan kedudukan atau
posisi elektron dalam atom yang diwakili oleh suatu nilai yang
menjelaskan kuantitas kekal dalam sistem dinamis. Bilangan
kuantum menggambarkan sifat elektron dalam orbital.
Bilangan kuantum menentukan tingkat energi utama atau jarak
dari inti, bentuk orbital, orientasi orbital, dan spin elektron.
Setiap sistem kuantum dapat memiliki satu atau lebih bilangan
kuantum.

4
Bilangan kuantum merupakan salah satu ciri khas dari model
atom mekanika kuantum atau model atom modern yang
dicetuskan oleh Erwin Schrödinger. Dalam mekanika
kuantum, bilangan kuantum diperlukan untuk menggambarkan
distribusi elektron dalam atom hidrogen dan atom-atom lain.
Bilangan-bilangan ini diturunkan dari penyelesaian
matematis persamaan Schrödinger untuk atom hidrogen.

Jenis bilangan kuantum adalah:


 Bilangan kuantum utama (n) yang menyatakan tingkat
energi.
 Bilangan kuantum azimut/momentum sudut (ℓ) yang
menyatakan bentuk orbital.
 Bilangan kuantum magnetik (m) yang menyatakan
orientasi orbital dalam ruang tiga dimensi.
 Bilangan kuantum spin (s) yang menyatakan spin
elektron pada sebuah atom.
1. Bilangan kuantum utama
Bilangan kuantum utama (primer) digunakan untuk
menyatakan tingkat energi utama yang dimiliki oleh
elektron dalam sebuah atom. Bilangan kuantum utama tidak
pernah bernilai nol. Bilangan kuantum utama dapat
mempunyai nilai semua bilangan positif, yaitu 1,2,3,4 dan
seterusnya. Sedangkan kelopak atom dinyatakan dengan
huruf K,L,M,N dan seterusnya.

Kulit K L M N

Nilai n 1 2 3 4

Contoh
n=1 elektron berada pada kelopak K
n=2 elektron berada pada kelopak L
n=3 elektron berada pada kelopak M
n=4 elektron berada pada kelopak N dan seterusnya

5
Bilangan kuantum utama juga berhubungan dengan jarak
rata-rata elektron dari inti dalam orbital tertentu. Semakin
besar n, semakin besar jarak rata-rata elektron dalam orbital
tersebut dari inti dan oleh karena itu semakin besar
orbitalnya.
2. Bilangan kuantum azimut / momentum sudut (ℓ)
Bilangan kuantum azimut sering disebut bilangan kuantum
anguler (sudut). Energi sebuah elektron berhubungan
dengan gerakan orbital yang digambarkan
dengan momentum sudut. Momentum sudut tersebut
dikarakterisasi menggunakan bilangan kuantum azimut.
Bilangan azimut menyatakan bentuk suatu orbital dengan

simbol "huruf L kecil". Bilangan kuantum azimut juga


berhubungan dengan jumlah subkelopak. Nilai ini
menggambarkan subkelopak yang dimana elektron berbeda.
Untuk subkelopak s, p, d, f bilangan kuantum azimut
berturut-turut adalah 0,1,2,3[2].
Nilai bilangan kuantum azimut atau " ini bergantung pada
nilai bilangan kuantum utama atau "n" . Untuk
nilain tertentu, mempunyai nilai bilangan bulat yang
mungkin dari 0 sampai (n-1). Bila n-1, hanya ada satu
nilai yakni . Bila n=2, ada dua nilai , yakni 0 dan 1.
Bila n=3, ada tiga nilai , yakni 0,1, dan 2. Nilai-
nilai biasanya ditandai dengan huruf s, p, d, f... sebagai
berikut:

0 1 2 3

Nama orbital S p D f

Jadi bila =0, kita mempunyai sebuah orbital s; bila =1, kita
mempunyai orbital f; dan seterusnya.
Sekumpulan orbital-orbital dengan nilai n yang sama
seringkali disebut kulit. Satu atau lebih orbital dengan
nilai n dan yang sama dirujuk selalu subkelopak. Misalnya
kelopak dengan n=2 terdiri atas 2 subkelopak, =0 dan 1
(nilai-nilai yang diizinkan untuk n=2). Subkelopak-
subkelopak ini disebut subkelopak 2s dan subkelopak 2p di
mana 2 melambangkan nilai n,
sedangan s dan p melambangkan nilai

6
Tabel di bawah ini menunjukkan keterkaitan jumlah kelopak
dengan banyaknya subkelopak serta jenis subkelopak dalam
suatu atom.

Jenis Jumlah Elektron


subkelopak orbital maksimum

Subkelopak
1 orbital 2 elektron
s

Subkelopak
3 orbital 6 elektron
p

Subkelopak
5 orbital 10 elektron
d

Subkelopak
7 orbital 14 elektron
f

3. Bilangan kuantum magnetik (m)


Bilangan kuantum magnetik menyatakan tingkah laku
elektron dalam medan magnet. Tidak adanya medan magnet
luar membuat elektron atau orbital mempunyai nilai n dan
l yang sama tetapi berbeda m. Namun dengan adanya medan
magnet, nilai tersebut sedikit berubah. Hal ini dikarenakan
timbulnya interaksi antara medan magnet sendiri dengan
medan magnet luar
Bilangan kuantum magnetik ada karena momentum sudut
elektron, gerakannya berhubungan aliran arus listrik. Karena
interaksi ini, elektron menyesuaikan diri di wilayah tertentu
sekitar inti. Daerah khusus ini dikenal sebagai orbital.
Orientasi elektron di sekitar inti dapat ditentukan dengan
menggunakan bilangan kuantum magnetik m

7
Di dalam satu subkulit, nilai m bergantung pada nilai
bilangan kuantum azimut/momentum sudut l. Untuk
nilai l tertentu, ada (2l + 1) nilai bulat m sebagai berikut: -l,
(-l + 1), ..., 0 , ... , (+l - 1), +l
Bila l =0, maka m=0. Bila l =1, maka terdapat tiga nilai m
yaitu -1,0,dan -1. Bila l =2, maka terdapat lima nilai m yaitu
-2,-1,0,+1, dan +2. Jumlah m menunjukkan jumlah orbital
dalam subkulit dengan nilai l tertentu.
4. Bilangan kuantum spin (s)
Bilangan kuantum spin menyatakan momentum sudut suatu
partikel. Spin mempunyai simbol "s" atau sering ditulis
dengan ms (bilangan kuantum spin magnetik). Suatu elektron
dapat mempunyai bilangan kuantum spin s = +1/2 atau -
1/2[1].
Nilai positif atau negatif dari spin menyatakan spin atau
rotasi partikel pada sumbu. Sebagai contoh, untuk
nilai s=+1/2 berarti berlawanan arah jarum jam (ke atas),
sedangkan s=-1/2 berarti searah jarum jam (ke bawah).
Diambil nilai setengah karena hanya ada dua peluang
orientasi, yaitu atas dan bawah. Dengan demikian, peluang
untuk mengarah ke atas adalah 50% dan peluang untuk ke
bawah adalah 50%.
3. Ikatan Atom
sebuah proses fisika yang bertanggung jawab dalam interaksi gaya tarik
menarik antara dua atom atau molekul yang menyebabkan suatu
senyawa diatomik atau poliatomik menjadi stabil. Penjelasan mengenai
gaya tarik menarik ini sangatlah rumit dan dijelaskan
oleh elektrodinamika kuantum. Dalam praktiknya, para kimiawan
biasanya bergantung pada teori kuantum atau penjelasan kualitatif yang
kurang kaku (namun lebih mudah untuk dijelaskan) dalam
menjelaskannyaa. Secara umum, ikatan yang kuat diasosiasikan dengan
transfer elektron antara dua atom yang berpartisipasi. Ikatan kimia
menjaga molekul-molekul, kristal, dan gas-gas diatomik untuk tetap
bersama. Selain itu ikatan ini juga menentukan struktur suatu zat.
A. Ikatan Ion
Atom logam (energi ionisasi rendah) cenderung melepaskan
elektronnya, lalu diterima oleh atom nonlogam (afinitas elektron
besar). Dari proses transfer elektron dari atom logam ke atom
nonlogam ini akan terbentuk ion positif dan ion negatif
dengan konfigurasi elektron gas mulia yang saling tarik menarik
dengan gaya elektrostatis yang disebut ikatan ionik. Sebagai
contoh, dalam pembentukan senyawa ionik NaCl terjadi transfer

8
elektron dari atom Na ke atom C

B. Ikatan Kovalen
Atom-atom nonlogam cenderung tidak ingin melepaskan
elektronnya (energi ionisasi tinggi) dan ingin menarik elektron-
elektron dari atom lainnya (afinitas elektron besar) sehingga
terdapat satu atau lebih pasangan elektron yang dipakai untuk
berbagi bersama. Ikatan kimia yang terbentuk dari sharing
elektron terlokalisasi antara atom ini disebut ikatan kovalen.
Sebagai contoh, 2 atom H berikatan kovalen membentuk
molekul H2 dan 2 atom Cl berikatan kovalen membentuk
molekul Cl2.

Struktur Lewis untuk senyawa kovalen dapat digambarkan


dengan setiap pasangan elektron ikatan (PEI) digambarkan
sebagai satu garis dan pasangan elektron bebas (PEB)
digambarkan sebagai titik-titik. Berikut struktur Lewis untuk
beberapa senyawa kovalen.

Ikatan kovalen dengan berbagi satu pasangan elektron disebut


sebagai ikatan kovalen tunggal (ikatan tunggal). Ikatan kovalen
dengan berbagi dua pasangan elektron disebut ikatan rangkap
dua, contohnya CO2. Ikatan kovalen dengan berbagi tiga
pasangan elektron disebut ikatan rangkap tiga, contohnya N2.

C. Ikatan Logam
Atom-atom logam cenderung mudah melepaskan elektronnya
(energi ionisasi rendah) dan susah menangkap elektron (afinitas
elektron kecil) sehingga elektron-elektron valensi terdelokalisasi
dan tersebar merata menjadi lautan elektron di antara kation-
kation logam. Elektron-elektron “mengalir” di antara dan
sekeliling kation logam dan mengikatkan kation-kation logam
tersebut.

9
4. Struktur Kristal
A. Kristal
Kristal adalah suatu padatan yang atom, molekul,
atau ion penyusunnya terkemas secara teratur dan polanya
berulang melebar secara tiga dimensi. Secara umum,
zat cair membentuk kristal ketika mengalami proses pemadatan.
Pada kondisi ideal, hasilnya bisa berupa kristal tunggal, yang
semua atom-atom dalam padatannya "terpasang"
pada kisi atau struktur kristal yang sama, tetapi, secara umum,
kebanyakan kristal terbentuk secara simultan sehingga
menghasilkan padatan polikristalin.

B. Space Lattice
"Kisi ruang adalah larik titik yang menunjukkan bagaimana
partikel (atom, ion, atau molekul) disusun di berbagai situs
dalam tiga ruang dimensi."
Kristal adalah desain tiga dimensi di mana titik-titik identik
membentuk jaringan 3-dimensi sel masing-masing mewakili

10
unit dan melalui mana seluruh kristal dapat dibangun. Titik-titik
kisi dapat dihubungkan oleh jaringan garis biasa dengan
berbagai cara. Dengan demikian kisi dipecah menjadi sejumlah
sel satuan. Ini dilakukan dengan menghubungkan titik-titik
dengan jaringan garis biasa seperti yang ditunjukkan pada
gambar di halaman berikutnya.

C. Unit Cell
Unit Cell dapat didefinisikan sebagai, "unit pengulangan
terkecil dalam ruang kisi yang, ketika diulang lagi,
menghasilkan kristal dari zat yang diberikan".
Oleh karena itu ruang kisi kristal telah disamakan dengan kertas
dinding di mana satu pola terus diulang. Setiap sel satuan
membutuhkan dua vektor a dan b untuk deskripsinya. Sebuah
kisi ruang tiga dimensi dapat juga dibagi menjadi sel-sel satuan
yang dijelaskan oleh tiga vektor. Lokasi partikel yang tepat
dalam sel satuan dapat diperoleh dengan difraksi sinar-X.
Harus dipahami bahwa pilihan sel satuan sama sekali tidak
unik. Ada berbagai cara di mana sel dapat ditarik dalam kisi
ruang yang unik. Namun, biasanya mudah untuk memilih
parallelopipe yang ujungnya sejajar dengan sumbu kristalografi
(a, b dan c) dan dengan sisi sekecil mungkin. Ini disebut sebagai
sel primitif. Satu titik kisi dikaitkan dengan setiap sel primitif.

11
5. Bidang-Arah Kristal dan Indeks Miller
a) Arah didalam kristal
b) . Bidang/irisan atomis (atomic planes) dalam sebuah kristal
Arah dalam latis kristal ditentukan relatif terhadap aksisnya
yang didefinisikan oleh unit vektor dari unit sel. Indeks dari arah
suatu kristal dituliskan dalam tanda kurung [ ]. Arah dari kristal
adalah suatu vektor yang dapat dinyatakan dalam unit vektor a,
b dan c. Secara umum indeks dari arah diberikan dalam bentuk
[uvw] dimana u, v dan w adalah bilangan bulat yang terkecil.
Untuk vektor berarah negatif maka dituliskan dengan
menambahkan garis diatas u, v atau w. Contoh beberapa arah
kristal pada sistem cubic dijelaskan dalam gambar dibawah ini.

12
Karena irisan dari sebuah kristal merupakan objek dua dimensi,
maka garis normal dari bidang irisan tersebut digunakan untuk
mendiskripsikan bidang tadi. Miller indeks biasa digunakan
untuk menentukan bidang irisan didalam kristal. Satu set bidang
yang paralel dengan jarak yang seragam memiliki indeks yang
sama. Indeks untuk bidang irisan dituliskan dalam kurung ( ).
Biasa dipakai tiga bilangan bulat, h, k dan l sehingga dituliskan
(h k l). Jika sebuah bidang sejajar dengan suatu aksis maka
indeks untuk aksis ini nilainya 0. Jika arah dari suatu bidang
bernilai negatif, maka indeks diberi tanda garis diatasnya.
Contoh dari penamaan bidang irisan kristal ditunjukan pada
gambar berikut ini.

13
Langkah mudah untuk memberikan indeks miller dari suatu
bidang irisan adalah sebagai berikut:
1.Ambil titik asal (titik 0) dari bidang
2. Tentukan nilai intersep dari setiap aksis (1/h)a, (1/k)b, (1/l)c
dari titik asal, contoh jika intersep adalah (1/2)a, (1/3)b, (1/1)c,
maka indeks bidang tersebut adalah (2 3 1) seperti gambar
dibawah ini.
3. Jika intersep ∞ atau bidang paralel dengan aksis maka
indeksnya bernilai nol.

14
6. Stuktur Kristsl BCC
Pengertian Unit struktur BCC sesuai namanya berbentuk bentuk kubus
dimana terdapat atom-atom disetiap pojoknya dan satu berada ditengah.
Pada temperatur dibawah 1333⁰F (723⁰C) struktur kristal besi besi
berupa BCC dan dinamakan besi alpha atau ferrite. Logam lain yang
mempunyai struktur seperti ini yaitu: chromium, colombium, barium,
vanadium, molybdenum dan tugsten.

 Soal : Arah penumpukan panjang AR = √ 3a


 Dik : APF untuk BCC = 0,68
 Jawab :
APF = 2 ⁴/₃⫪(√3 a/⁴)³ / a³ ⇒ a = 2(√3 a/⁴) = 2√3 × R =
2,35
APF = 2 ⁴/₃⫪(1)³ / 12,97 = 2,66⫪ / 12,97 = 0,20⫪
Ket : Atom / unit sel
Pangkat 3 → Volume / atom
a³ ⇉ Volume / unit sel.
7. Struktur Kristal FCC
Atom-atom kalsium, aluminium, tembaga, timbal, nickel, emas dan
platina. Membentuk suatu struktur kristal dengan sebuah atom di tiap-
tiap pojok kubus dan satu ditengah disetiap sisi kubus. Jika besi berada
diatas temperatur kritis, maka susunan atomnya berbentuk FCC dan
namakan besi gamma atau austenite.

15
 Soal
 Dik :
APF FCC = 0,74
Arah penumpukan panjang = 4R= √2a
 Jawab : a = 2√2 × R = 2√2 × 0,74 = 2

APF = 4 ⁴/₃⫪(√2 a/₄)³ / a³


= 4 ⁴₃⫪(√2 ²/₄)³ / 2³
= 4 ⁴/₃⫪ . 0,70 / 8
= 2,73⫪/ 8
= 0,46⫪

Catatan : isi unit sel 6 × ¹/₂ + 8 × ¹/₈ = 4 atom / unit sel


Pangkat ³ → vol/atom a³ ⇒ vol.unit sel

8. HEXAGONAL CLOSE PACKED (HCP)

Gambar Struktur kristal heksagonal tumpukan padat (HCP): (a) sel


satuan HCP digambarkan dengan bola padat kecil, (b) sel satuan HCP
yang berulang dalam padatan kristalin.
Ciri khas logam–logam dengan struktur HCP adalah setiap atom dalam
lapisan tertentu terletak tepat diatas atau dibawah sela antara tiga atom
pada lapisan berikutnya
Sel satuan HCP mempunyai enam (6) buah atom, yang diperoleh dari
jumlah dua-belas seperenam-atom pada dua belas titik sudut lapisan
atas dan bawah plus dua setengah-atom pada pusat lapisan atas dan
bawah plus tiga atom pada lapisan sela/tengah (12 1/6 + 2 1/2 + 3).
Jika a dan c merupakan dimensi sel satuan yang panjang dan pendek
(lihat Gambar 4), maka rasio c/a umumnya adalah 1.633. Akan tetapi,
untuk beberapa logam HCP, nilai rasio ini berubah dari nilai idealnya.
Bilangan koordinasi struktur HCP dan faktor tumpukannya sama
dengan struktur FCC, yaitu 12 untuk bilangan koordinasi dan 0.74
untuk faktor tumpukan.

16
9. Perhitungan Densitas Teoritis
Pengertian Massa Jenis (Densitas)
Massa jenis atau densitas adalah suatu besaran kerapatan massa benda
yang dinyatakan dalam berat benda per satuan volume benda tersebut.
Besaran massa jenis dapat membantu menerangkan mengapa benda
yang berukuran sama memiliki berat yang berbeda. Benda yang lebih
besar belum tentu lebih berat daripada benda yang lebih kecil,
contohnya sebutir kelereng lebih berat daripada sebuah sepon pencuci
piring.
Rumus Menghitung Massa Jenis
Berdasarkan pengertian massa jenis yaitu berat benda persatuan volume
benda, maka rumus untuk menghitung massa jenis adalah: massa jenis
= massa/volume.

Dalam Persamaan fisika, rumus menghitung massa jenis seringkali


ditulis sebagai berikut.

Satuan Massa Jenis


Berdasarkan rumus massa jenis yaitu massa/volume, maka satuan
massa jenis adalah satuan massa/satuan volume. Dalam sistem satuan
internasionnal (sistem SI), satuan standar untuk massa jenis atau
densitas adalah kg/m3 (kilogram per meter kubik). Pada dasarnya setiap
satuan massa/satuan volume dapat digunakan untuk menyatakan massa
jenis.
Beberapa satuan massa jenis yang banyak digunakan antara lain sebagai
berikut.
 kilogram per meter kubik (kg/m3)
 kilogram per liter (kg/L)
 gram per milliliter (g/mL)
 milligram per deciliter (mg/dL)
 metric ton per meter kubik (t/m3)
 gram per cubic centimeter (g/cc)

17
Contoh Cara Menghitung Massa Jenis Benda
Contoh Soal 1
Soal: Diketahui 2 meter kubik kayu beratnya 1.400 kg. Berapa massa
jeniskayu tersebut? (Petunjuk massa jenis = massa/volume).
Jawab:
Diketahui m = 1.400 kg, V= 2 m3
Massa jenis = 1.400/ 2 = 700 kg/m3

10. PACKING FACTOR PADA BCC DAN FCC


Dalam kristalografi, faktor pengepakan
atom (APF), efisiensi pengepakan atau fraksi
pengepakan adalah fraksi volume dalam struktur kristalyang ditempati
oleh partikel penyusun. Ini adalah kuantitas tanpa dimensi dan selalu
kurang dari persatuan. Dalam sistem atom , berdasarkan konvensi, APF
ditentukan dengan mengasumsikan bahwa atom adalah bola yang
kaku. Jari-jari bola dianggap sebagai nilai maksimum sehingga atom
tidak tumpang tindih. Untuk satu komponen kristal (yang hanya
mengandung satu jenis partikel), fraksi pengepakan diwakili secara
matematis oleh dimana N partikel adalah jumlah partikel dalam sel
satuan, partikel V adalah volume setiap partikel, dan sel satuan V adalah
volume yang ditempati oleh sel satuan. Hal ini dapat dibuktikan secara
matematis bahwa untuk struktur satu komponen, susunan atom yang
paling padat memiliki APF sekitar 0,74 (lihat Kepler conjecture), yang
diperoleh oleh struktur yang tertutup rapat . Untuk struktur multi-
komponen, APF bisa melebihi 0,74
A. BCC

18
UNIT CELL untuk struktur kristal BCC mengandung beberapa
fraksi yang diambil dari sembilan atom (jika partikel dalam kristal
adalah atom): satu di setiap sudut kubus dan satu atom di
tengah. Karena volume masing-masing dari delapan atom sudut
dibagi antara delapan sel yang berdekatan, setiap sel BCC
mengandung volume setara dua atom (satu pusat dan satu di sudut).
Setiap atom sudut menyentuh atom pusat. Garis yang ditarik dari
salah satu sudut kubus melalui pusat dan ke sudut lainnya melewati
4 r , di mana r adalah jari-jari atom. Secara geometri, panjang
diagonal adalah √3 . Oleh karena itu, panjang setiap sisi struktur
BCC dapat dikaitkan dengan jari-jari atom oleh

Mengetahui ini dan rumus untuk volume bola , menjadi mungkin


untuk menghitung APF sebagai berikut:

B. FCC

19
Daftar Pustaka

 https://www.studiobelajar.com/teori-atom/
 https://id.wikipedia.org/wiki/Mekanika_kuantum
 https://www.studiobelajar.com/ikatan-kimia/
 https://id.wikipedia.org/wiki/Kristal
 http://www.sciencehq.com/chemistry/space-lattice-and-unit-cell.html
 https://materialcerdas.wordpress.com/teori-dasar/sturktur-kristal-2/
 http://www.mesincad.com/2017/07/pengertian-struktur-kristal-logam-
bcc.html
 http://piyohsiat.blogspot.com/2011/01/struktur-kristal-logam.html
 http://ukurandansatuan.com/cara-menghitung-massa-jenis-
densitas.html/
 https://en.m.wikipedia.org/wiki/Atomic_packing_factor

20