Anda di halaman 1dari 11

A.

UNSUR INTRINSIK

 Judul : Gadis Pantai


 Tema : Kritik pada feodalisme Jawa
 Penokohan :
Gadis Pantai -
Penurut “Bilang pangestu” emak mendesak (45)
Penakut Gadis Pantai jadi ketakutan digenggamna tangan Bujang (53)
Pemrotes Ia mulai protes lagi (55)
Penyayang Aku juga saang padamu mbok katakana padaku apa ada yang
keliru (66)
Polos Aku ini,mbok, aku ini orang apa?rendahan?atasan? (99)
Pengalah Mana berani aku menduga? Aku sendirilah ang bersalah. (110)

Bendoro
Sopan Karena seorang pendopo dan bersifat bangsawan
Kejam Karena memanfaatkan gadis dibawah uwur untuk menjadi istri
percobaaan
Alim Karena pada buku dicritakan bendoro rajin shalat dan mengaji

Emak Gadis Pantai


Penyayang Menenangkan Gadis Pantai saat kebingungan pada anaknya
yang akan dinikahkan dengan keris

Bapak Gadis Pantai


Keras Sering memukuli Gadis Pantai apabila bersalah
Cerdik Mengelabuhi Mardinah saat anakna terancam dengan alasan
dating bajak laut

Bujang
Setia Selalu menemani Gadis Pantai selama ditingggal Bendoro
Jujur Tidak mau mengambil emas pemberian Gadis Pantai karena
takut pada Bendoro

Mardinah
Tamak Karena akan membunuh Gadis Pantai karena imbalan sebagai
istri Bendoro ke-5
Licik Karena terbukti ingin menyelakai Gadis Pantai

Dul si Pendongeng
Pintar Karena dapat mengetahui rencana bapak Gadis Pantai
Mengelabuhi Mardinah
Penakut Tidak berani ke laut karena takut tenggelam dan dimakan ikan
besar

Mak Pin
Licik Karena ingin menyelakai Gadis Pantai dengan menyamar
sebagai tukang pijit

Pak Kusir
Ramah Selalu menanggapi setiap pertanyaan ang diajukan Gadis
Pantai
Sopan Karena tak berani menatap Gadis Pantai selaku istri Bendoro

 Latar Tempat
Gedung besar kota Rembang Ruang Tamu Pendopo
Kampung Nelayan Ruang tengah pendopo
Rumah Gadis Pantai Dapur Pendopo
Kamar Gadis Pantai di Pendopo Khalwat
Dapur pendopo
 Latar Waktu
Sekitar tahun 1930 sampai 1940 karena masih terdapat pengaruh
penjajahan Belanda dan orang orang di pendopo masih menggunakan bahasan
Belanda

 Alur
A. Tahap Pengenalan
Tahap pengenalan maksudnya merupakan penggambaran awal mula
bagaimana masalah muncul. Awal munculnya peristiwa masalah dalam Novel
Gadis Pantai ini disampaikan pada bagian awal atau bab satu. Berikut data
kutipan Novel Gadis Pantai yang menjukkan pengenalan masalah.

Empat belas tahun umurna pada waktu itu. Kulit langsat. Tubuh
kecil Mungil. Mata agak sipit. Hidung ala kadarnya. Dan jadilah ia
kembang kampong nelayan sepenggal pantai keresidenan Jepara
Rembang.(Gadis Pantai, 2011:11)

Maka pada suatu hari perutusan seorang itu datang ke rumah


orang tua gadis. Dan beberapa hari setelah itu sang gadis harus
tinggalan dapurnya, suasana kampungnya, kampungnya sendiri
dengan bau amis abadinya. (Gadis Pantai,2011:12)

Kemarin malam ia telah dinikahkan. Dinikhkan oleh sebilah keris.


Detik itu ia tahu: kini ia bukan anak bapaknya lagi. Ia bukan
anaknya emak lagi. Kini ia istri sebilah keris, wakil seseorang ang
tak prnah dilihatna sumur hidup.(Gadis Pantai,2011:12

Ketiga data kutipan nvel Gadis Pantai di atas merupakn rangkaian peristiwa
yang menghantarkan pembaca pada pengenalan masalah. Adapun,
pengenalan masalah ini dimulan dengan menggambarkan keadaan Gadis
Pantai sebagai gadis desa yang cantik. Kecantikannya mengakibatkan dirina
dinikahi oleh pembesar atau Bendoro. Adapun, pengenalan masalah dalam
bagian ini terdapat hal ang menarik yaitu ketika pernikahana dengan bendoro
hanya diwakilkan oleh sebilah keris.

B. Timbulnya Konflik
Peristiwa yang menyebabkan timbulna konflik di atas merupakan unsure
alur ang menjembatani pembaca untuk sampai ke dalam rangkaian peristiwa
memuncaknya sebuah konflik. Dalam Novel Gadis Pantai timbulnya konflik
terjadi ketikaGadis Pantai mengetahui bahwa dirinya tidak laak hidup dengan
bangsawan.

“Mengapa tak kau taruh dia di kamar dapur? Tidak patut! Tidak
Patut! Lihatlah aku. Kau kira patut kau tempatkan dia di bawah satu
atap dengan aku?” (Gadis Pantai,2011:247)

Data kutipan tersebut menyajikan peristiwa ketika Gadis Pantai benar benar
mengetahui bahwa dirina dianggap tidak patut tinggal serumah bersama
pemesar seperti Bendoro.

C. Konflik Memuncak
Masalah-masalah ang menjadi pertentangan dalam Novel Gadis Pantai
yaitu tentangpraktik kawin paksa,Perbedaan status golongan masyarakat,
dan wujud intervensi kekuasaan. Puncak konflik tersebut Gadis Pantai
diceraikan oleh Bendoro.

“ Mari pulang nak. Ini bukan tempatmu lagi.””Mengapa


bapak?””Mengapa?kau telah dicerai.” (Gadis Pantai,2011:256)

D. Klimaks
Diceraikannya Gadis Pantai oleh Bendoro sebagai bentuk memuncaknya
konglik pada akhirnya akan menghasilkan sebuah klimaks.
“ Mestikah sahaa pergi tanpa anak sendiri? Tak boleh balik kekota
untuk melihatnya?””Lupakan Baimu.Anggapdirimu tak pernah
punya anak.”(Gadis Pantai,2011:258)
Konflik ini muncul sebagai klimaks karena perceraian Gadis Pantai dan
perbedaan hak asuh anak.
E. Pemecahan Masalah
Gadis Pantaitak berdaa melawan kesewenang wenangan Bendoro
sehingga tak bias bertemu anaknya.Pengarang menyajikan gambaran
pemecahan soal dengan bijaksana digambarkan dengan Gadis Pantai
pergi tanpamenengok lagi da memusatkan mata ke depan. Hal tersebut
dapat diartikan bahwa Gadis Pantai tetap tabah dalam menjalani hidup
walau pergi meninggalkan anaknya.

Dalam keseluruhan rangkaian alur yang telah dibahjas Novel Gadis Pantai
memiliki alur maju. Penjelasan ini mulai dari Gadis Pantai menjadi kembang desa
hingga diceraikan oleh Bendoro.

 Sudut Pandang : Orang ke-3 serba tahu


 Gaya Bahasa : Menggunakan bahasa Indonesia dan sesekali
menggunakan bahasa Jawa
 Amanat : Suatu jabatan ang kita perolrh di dunia ini tidak penting karena kita
semua sama di mata ALLAH SWT . Pernikahan dini dan percobaan pernikahan
sangat tidak dianjurkan apalagi memisahkan anak dari ibunya. Hargailah orang-
orang disekitarmu walau dia adalah pembantumu.
B.SINOPSIS

Gadis Pantai (Pramoedya Ananta Toer)

Disebuah kampong nelaan dipesisir pantai utara propinsi Jawa Tengah terdapat
sebuah keluarga dengan kategori kurang mampu . Mereka memiliki anak gadis yang
dipaksa menikah dengan Bendoro padahal belum siap untuk menjalani bahtera rumah
tangga.

Pernikahannya dengan Bendoro membuat Gadis pantai amat tersiksa pada


awalna tanpa kasih saying orang tua pada saat umurna ang masih belia. Di pendopo
kehidupan yang dijalani sangat berbeda dengan yang di jalani di kampung nelayan,
hidup yang berkecukupan membuat gadis ini merasa canggung saat pertama kali
,karena tidak melakukan aktifitas sehari-harinya. Ditemani sahabat setianya seorang
bujang yang mngajarina menjadi wanita utama selama 2 tahun sejak menikah dengan
Bendoro.

Hingga pada suatu hati dompet untuk kebutuhan memasak di dapur milik Gadis
Pantai hilang dan tidak ada yang mengetahui siapa yang mengambilnya. Setelah
diselidiki hal ini membuat Bendoro marah karna tak lain ang mencurina adalah sahabat
Gadis Pantai itu sendiri yaitu si bujang. Hal ini membuat bujang di usir oleh bendoro
dan membuat Gadis Pantai kesepian tanpa teman bercerita ketika di tingal oleh
Bendoro bekerja.

Beberapa hari kemudian datanglah pengganti bujang bernama Mardinah,


ternyata kedatangan perempuan tersebut bermaksud lain,bukan untuk menjadi pelayan
Gadis Pantai. Suatu hari pada saat Gadis Pantai pulang kampong ditemani oelh
Mardinah akan tetapi hanya mengantarkanya pulang. Setelah 4 hari dikampung Gadis
Pantai dijemput oleh Mardinah dengan kawalan 4 prajurit akan tetapi bapak yang
mengetahui rencana licik tersebut langsung menjebak Mardinah dengan alasan ada
bajak laut datang , alasan ini membuat Mardinah membeberkan alasan mengapa dia
menyuruh Gadis Pantai pulang tak lain karena dia ingin membunuh Gadis Pantai
karena imbalanya menjadi istri ke-5 Bendoro yang disuruh oleh Bendoro dari Demak.
Dan akhirnya Mardinah dinikahkan engan pemuda paling malas sekampung nelayan
yaitu Dul si Pendongeng.

Setelah di pendopo Gadis Pantai diketahui hamil, akan tetapi setelah 9 bulan
bayi pada rahim Gadis pantai telah lahir. Pada saat bapak berkunjung Gadis pantai dan
bapaknya pulang ke kampong nelayan karena diusir Bendoro dikarenakan bayi yang
dilahirkan berjenis kelamin perempuan.
Ancaman Sosial,Budaya, Musuh Terberat 19 Agustus 2011 11:59:50 Diperbarui: 26 Juni 2015
02:38:37 Dibaca : 6,349 Komentar : 5 Nilai : 0 Paskibraka diberi pengarahan oleh Panglima TNI.
“Bangga dan cintai budaya dan bangsa Indonesia. Jangan mudah “silau” atau kagum kepada nilai
dan pengaruh asing kemudian tidak bangga bahkan malu dengan nilai budaya bangsa sendiri.
Padahal, nilai dan budaya asing, belum tentu cocok dan serasi dengan pola kehidupan kita, dan
sebaliknya kebudayaan bangsa kita belum tentu lebih buruk dari budaya manapun juga” begitu
kata Panglima TNI Laksamana TNI Agus Suhartono, ketika memberikan pengarahan kepada
seluruh anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tahun 2011, di Aula Gatot
Subroto Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Jumat, 19 Agustus. Mantan KASAL ini,
menyampaikan kisah singkat perjuangan rakyat Aceh yang gagal, karena dihancurkan oleh putra-
putri Aceh sendiri. Hal itu dikarenakan anak-anak tersebut silau dengan harta dan nilai budaya
asing. Perjuangan rakyat Aceh melawan penjajah Belanda dengan menggunakan benteng
perlindungan rumpun aur yang lebat dan berduri tidak dapat ditembus oleh Belanda. Atas
inisiatif penasehat penjajah Belanda Snouck Hurgronje, pasukan Belanda menebar koin atau
kepingan uang logam ke tengah-tengah rumpun lebat yang sulit ditembus tersebut. Anak-anak
Aceh yang kagum akan kilauan uang recehan logam berebut untuk mendapatkannya, dan tanpa
disadari mereka telah merusak benteng perlindungannya sendiri. Akhirnya pasukan Belanda
dapat menembus pertahanan rakyat Aceh. Pesan moral yang terkandung didalamnya adalah
bahwa generasi muda jangan mudah silau dan kagum dengan nilai serta budaya asing. Banggalah
dan jangan malu pada budaya bangsa sendiri, nilai budaya asing belum tentu cocok dengan
budaya kita bahkan dapat menghancurkan bangsa kita sendiri. Panglima TNI mengatakan, bahwa
musuh terberat dewasa ini adalah ancaman melalui bidang sosial dan budaya. Ancaman berupa
invasi atau serangan militer, akan dengan mudah dikenali, mudah dihadapi dan TNI senantiasa
siap untuk itu. TNI sebagai garda terdepan bangsa dan benteng terakhir Indonesia, dalam
menghadapi ancaman militer dari manapun datangnya. “Tapi sebaliknya, ancaman melalui nilai-
nilai sosial dan budaya yang menggunakan media elektronik seperti internet dan media lainnya
lebih sulit dikenali dan sasarannya adalah pasti remaja serta genarasi muda,” kata Agus
Suhartono. Oleh sebab itu, para anggota Paskibraka harus memperkukuh pertahanan dan disiplin
pribadi (self dicipline), memperkuat kepribadian dan senantiasa waspada atau peduli terhadap
lingkungan. Panglima TNI menekankan pada generasi muda untuk menghindari narkoba,
pergaulan bebas, dan bentuk-bentuk budaya asing negatif lainnya, yang terbukti lebih besar
mudharatnya daripada manfaatnya karena remaja atau generasi muda memiliki nilai strategis
bagi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Para putra-putri terbaik bangsa agar dapat
meneruskan estafet kepemimpinan bangsa Indonesia, karena di pundak merekalah bangsa
Indonesia akan dipercayakan. Ada empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara yang harus di
pegang teguh untuk dapat mewujudkan cita-cita luhur bangsa. Empat pilar tersebut adalah tetap
berpedoman pada falsafah dan ideologi negara yaitu Pancasila, UUD 1945, senantiasa
mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Kadispenum
Puspen TNI, Kolonel Cpl Minulyo Suprapto, mengatakan, kunjungan kehormatan rombongan
anggota Paskibraka ke Mabes TNI berjumlah 66 orang, perwakilan dari 33 provinsi dipimpin
oleh Asisten Deputi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) Jony Mardizal Acara
diakhiri foto bersama dengan Panglima TNI yang diikuti oleh segenap pejabat Mabes TNI.
Remaja Nakal yang Membuat Keresahan di Masyarakat

Kumpulan remaja di depan TK PKK di jalan Bandulan Gg 8 sangat meresahkan warga.


Meraka melakukan hal hal seperti berpacaran dan merokok dengan asyikna tanpa menghiraukan
warga sekitarnya. Karena berkumpulnya remaja nakal tersebut membuat warga was-was setiap
lewat depan TK tersebut , pernah saya saat lewat jalan tersebut saya di tantang untuk berkelahi
dengan mereka, tentu saja saya takut walaupun rumah saya dekat saya tidak berani karena
jumlah mereka labih banyak. Adanya remaja perempuan dengan lingkungan yang sepi membuat
para remaja mudah melakukan aksi aksi mesum tanpa diketahui orang orang di sekitar mereka.

Para orang tua yang membiarkan anak perempuanya berjalan sendiripun menjadi was
was karena ancaman berupa pencabulan yang mungkin akan dilakukan oleh kumpulan remaja
naal tersebut. Kumpulan remaja nakal yang meresahkan warga ini seakan tidak pernah terbesit di
pikiran ketua RT/RW di lingkungan setempat, padahal hal ini jelas mengancam keselamatan dan
ketentraman pejalan kaki yang melewati jalan tersebut.Dampak dari kenakalan remaja ini selain
pencabulan adalah tindak kriminalitas seperti pencurian yang akan terjadi apabila tidak ada tinak
lanjut dari ketua RT/RW setempat.

Karena kurangnya kesadaran masyarakat hal ini membuat jam nongkrong pemuda
pemudi tersebut semakin lama yang dapat membuat keonaran. Sebaiknya peringatan langsung
ang dilakukan oleh masyarakat harus dilakukan agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan
seperti pencabulan dan pencurian.
Strategi Menghadapi Ancaman Diatas

1. Masyarakat
A. Melakukan tindakan lebih keras seperti mengusir kumpulan remaja nakal tersebut
B. Melakukan pos ronda setiap malam
C. Melaporkan kenakalan pada pihak berwajib
2. Diri Sendiri
A. Tidak menanggapi setiap p[erkataan yang muncul saat lewat jalan tersebut
B. Tidak keluar malam sendirian
C. Tidak meniru hal buruk yaitu menjadi remaja nakal
3. Pemerintah
A. Menurunkan polisi ke lapangan untuk pembubaran remaja nakal ini
B. Membuat jerah para remaja nakal
C. Memberi pendidikan yang cukup karena mungkin kenakalan ini timbul akibat putus
sekolah