Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan – Universitas Bakrie


Gasal 2016/2017

Kelompok 6

1. Luthfiaqmar Rizky Pratiwi (1152005021)


2. Pradhika Ardi Nugraha (1152005007)

Asisten:
Nada Nazihah

SULFUR DIOKSIDA (SO2)

I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Perwujudan kualitas lingkungan yang sehat merupakan bagian pokok di bidang
kesehatan. Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu
dipelihara dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi
mahluk hidup untuk hidup secara optimal. Pencemaran udara dewasa ini semakin
menampakkan kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber pencemaran udara dapat berasal
dari berbagai kegiatan antara lain industri, transportasi, perkantoran, dan perumahan. Berbagai
kegiatan tersebut merupakan kontribusi terbesar dari pencemar udara yang dibuang ke udara
bebas. Sumber pencemaran udara juga dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan alam, seperti
kebakaran hutan, gunung meletus, gas alam beracun, dll. Dampak dari pencemaran udara
tersebut adalah menyebabkan penurunan kualitas udara, yang berdampak negatif terhadap
kesehatan manusia.
Udara merupakan media lingkungan yang merupakan kebutuhan dasar manusia perlu
mendapatkan perhatian yang serius, hal ini pula menjadi kebijakan Pembangunan Kesehatan
Indonesia 2010 dimana program pengendalian pencemaran udara merupakan salah satu dari
sepuluh program unggulan. Pertumbuhan pembangunan seperti industri, transportasi, dll
disamping memberikan dampak positif namun disisi lain akan memberikan dampak negatif
dimana salah satunya berupa pencemaran udara dan kebisingan baik yang terjadi didalam
ruangan (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor) yang dapat membahayakan kesehatan
manusia dan terjadinya penularan penyakit.
Aktivitas transportasi khususnya kendaraan bermotor merupakan sumber utama
pencemaran udara di daerah perkotaan. Menurut (Soedomo,dkk, 1990), transportasi darat
memberikan kontribusi yang signifikan terhadap setengah dari total emisi SPM10, untuk
sebagian besar timbal, CO, HC, dan NOx di daerah perkotaan, dengan konsentrasi utama
terdapat di daerah lalu lintas yang padat, dimana tingkat pencemaran udara sudah dan/atau
hampir melampaui standar kualitas udara ambient.
Mengingat bahayanya pencemaran udara terhadap kesehatan, maka perlu bagi petugas
untuk mengetahui berbagai parameter pencemar seperti : sifat bahan pencemar, sumber dan
distribusi, dan dampak yang mungkin terjadi juga cara pengendalian, maka diperlukan suatu
pedoman atau acuan dalam rangka meminimalkan terjadi dampak terhadap kesehatan .
Jenis parameter pencemar udara ini didasarkan pada baku mutu udara ambien menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999, yang meliputi : Sulfur dioksida (SO2), Karbon
monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO2), Oksidan (O3), Hidro karbon (HC), PM 10 , PM
2,5, TSP (debu), Pb (Timah Hitam), Dustfall (debu jatuh). Pada makalah ini akan dibahas SOx
dan partikulat pada sampel udara. SOx dan partikulat pada sampel udara merupakan parameter
pencemaran udara yang berbahaya bagi kesehatan manusia. (Arya Wardana, Wisnu. 2001).

1.2 Tujuan Percobaan


Mengukur kadar Oksidan (O3) dengan metode Neutral Buffer Kalium Iodida secara
spektrofotometri pada udara ambien di pakiran Fakultas Seni Rupa dan Desain, Kampus A
Universitas Trisakti.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sifat dan Karakteristik Sulfur dioksida (SO2)

Pencemaran oleh sulfur oksida terutama disebabkan oleh dua komponen sulfur bentuk
gas yang tidak berwarna, yaitu sulfur dioksida (SO2) dan Sulfur trioksida (SO3), dan keduanya
disebut sulfur oksida (SOx). Sulfur dioksida mempunyai karakteristik bau yang tajam dan tidak
mudah terbakar diudara, sedangkan sulfur trioksida merupakan komponen yang tidak reaktif.
Pembakaran bahan-bahan yang mengandung Sulfur akan menghasilkan kedua bentuk sulfur
oksida, tetapi jumlah relatif masing-masing tidak dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang
tersedia. Di udara SO2 selalu terbentuk dalam jumlah besar. Jumlah SO3 yang terbentuk
bervariasi dari 1 sampai 10% dari total SOx. Mekanisme pembentukan SOx dapat dituliskan
dalam dua tahap reaksi sebagai berikut :

S + O2 < --------- > SO2


2 SO2 + O2 < --------- > 2 SO3
SO3 di udara dalam bentuk gas hanya mungkin ada jika konsentrasi uap air sangat
rendah. Jika konsentrasi uap air sangat rendah. Jika uap air terdapat dalam jumlah cukup, SO3
dan uap air akan segera bergabung membentuk droplet asam sulfat (H2SO4 ) dengan reaksi
sebagai berikut :
SO SO2 + H2O2 ------------ > H2SO4
Komponen yang normal terdapat di udara bukan SO3 melainkan H2SO4. Tetapi jumlah
H2SO4 di atmosfir lebih banyak dari pada yang dihasilkan dari emisi SO3 hal ini menunjukkan
bahwa produksi H2SO4 juga berasal dari mekanisme lainnya. Setelah berada diatmosfir
sebagai SO2 akan diubah menjadi SO3 (Kemudian menjadi H2SO4) oleh proses-proses
fotolitik dan katalitik Jumlah SO2 yang teroksidasi menjadi SO3 dipengaruhi oleh beberapa
faktor termasuk jumlah air yang tersedia, intensitas, waktu dan distribusi spektrum sinar
matahari, Jumlah bahan katalik, bahan sorptif dan alkalin yang tersedia. Pada malam hari atau
kondisi lembab atau selama hujan SO2 di udara diaborpsi oleh droplet air alkalin dan bereaksi
pada kecepatan tertentu untuk membentuk sulfat di dalam droplet (Gunawan, dkk, 1997).

2.2 Sumber dan Distribusi Sulfur dioksida (SO 2)

Sepertiga dari jumlah sulfur yang terdapat di atmosfir merupakan hasil kegiatan
manusia dan kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga hasil kegiatan manusia dan
kebanyakan dalam bentuk SO2. Dua pertiga bagian lagi berasal dari sumber-sumber alam
seperti vulkano dan terdapat dalam bentuk H2S dan oksida. Masalah yang ditimbulkan oleh
bahan pencemar yang dibuat oleh manusia adalah ditimbulkan oleh bahan pencemar yang
dibuat oleh manusia adalah dalam hal distribusinya yang tidak merata sehingga terkonsentrasi
pada daerah tertentu. Sedangkan pencemaran yang berasal dari sumber alam biasanya lebih
tersebar merata. Tetapi pembakaran bahan bakar pada sumbernya merupakan sumber
pencemaran Sox, misalnya pembakaran arang, minyak bakar gas, kayu dan sebagainya Sumber
SOx yang kedua adalah dari proses-proses industri seperti pemurnian petroleum, industri asam
sulfat, industri peleburan baja dan sebagainya.
Pabrik peleburan baja merupakan industri terbesar yang menghasilkan Sox. Hal ini
disebabkan adanya elemen penting alami dalam bentuk garam sulfida misalnya tembaga (
CUFeS2 dan CU2S ), zink (ZnS), Merkuri (HgS) dan Timbal (PbS). Kebanyakan senyawa
logam sulfida dipekatkan dan dipanggang di udara untuk mengubah sulfida menjadi oksida
yang mudah tereduksi. Selain itu sulfur merupakan kontaminan yang tidak dikehandaki
didalam logam dan biasanya lebih mudah untuk menghasilkan sulfur dari logam kasar dari pada
menghasilkannya dari produk logam akhirnya. Oleh karena itu SO2 secara rutin diproduksi
sebagai produk samping dalam industri logam dan sebagian akan terdapat di udara.

2.3 Dampak Sulfur dioksida (SO2)

1. Pengaruh utama polutan SOx terhadap manusia adalah iritasi sistem pernafasan.
2. iritasi tenggorokan terjadi pada konsentrasi SO2 sebesar 5 ppm atau lebih, bahkan
pada beberapa individu yang sensitive iritasi terjadai pada konsentrasi 1-2 ppm.
3. SO2 dianggap polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama terhadap orang tua
dan penderita yang mengalami penyakit kronis pada sistem pernafasan dan
kardiovaskular.
4. Sulfur dioksida (SO2) bersifat iritan kuat pada kulit dan lendir, pada konsentrasi 6-12
ppm mudah diserap oleh selaput lendir saluran pernafasan bagian atas, dan pada kadar
rendah dapat menimbulkan spesme tergores otot-otot polos pada bronchioli, speme ini
dapat menjadi hebat pada keadaan dingin dan pada konsentrasi yang lebih besar terjadi
produksi lendir di saluran pernafasan bagian atas, dan apabila kadarnya bertambah
besar maka akan terjadi reaksi peradangan yang hebat pada selaput lendir disertai
dengan paralycis cilia, dan apabila pemaparan ini terjadi berulang kali, maka iritasi
yang berulang-ulang dapat menyebabkan terjadi hyper plasia dan meta plasia sel-sel
epitel dan dicurigai dapat menjadi kanker. (Fardiaz, Polusi Air dan Udara, 1992).
2.4 Baku Mutu
Tabel 2.4.1 Baku Mutu (SO2) di Udara Ambien

Waktu Baku Mutu (ìg/Nm³)


Parameter
Paparan
DKI Jakarta Nasional WHO
1 Jam 900 900 -

SO2 24 Jam 260 365 20

1 Tahun 60 60 500

2.5 Pengendalian Dan Penanggulangan Sulfur dioksida (SO 2)


1. Sumber Bergerak

 Merawat mesin kendaraan bermotor agar tetap berfungsi baik


 Melakukan pengujian emisi dan KIR kendaraan secara berkala
 Memasang filter pada knalpot

2. Sumber Tidak Bergerak

 Memasang scruber pada cerobong asap.


 Merawat mesin industri agar tetap baik dan lakukan pengujian secara berkala.
 Menggunakan bahan bakar minyak atau batu bara dengan kadar Sulfur rendah.

3. Pengelolaan bahan baku SO2 sesuai dengan prosedur pengamanan.


4. Memperbaiki alat yang rusak, Penggantian saringan/filter
5. Apabila kadar SO2 dalam udara ambien telah melebihi Baku Mutu (365mg/Nm3 udara
dengan rata-rata waktu pengukuran 24 jam) maka untuk mencegah dampak kesehatan,
dilakukan upaya-upaya :

 Menggunakan alat pelindung diri (APD), seperti masker gas.

 Mengurangi aktifitas diluar rumah.


III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat

Tabel 3.1 Tabel Alat sulfur dioksida (SO2)

No. Alat Gambar

1 Pompa Vakum

2 Midget Impinger.

3 Stopwatch

4 Kabel Rol
5 Pipet Volume

6 Bulb

7 Labu Ukur 25 ml

8 Corong

9 Hygrometer
10 Anemometer

11 Barometer

10 Spektrofotometer

3.2 Tabel Bahan sulfur dioksida (SO2)

No. Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar

Larutan
1 - 50 ml
TCM
- -
2 Vaseline

- -
3 Paranosanilin

Larutan 0,2% 2 ml
4
Formaldehid

Larutan
0,6% 1 ml
5 Asam
Sulfanat

IV. CARA KERJA


4.1. Skema diagram sampling
Mengisi botol impinge Membungkus impinger Menyusun rangkaian
alat (corong,
dengan larutan TCM dengan alumunium foil botolimpinger, flow
50 ml meter, dan pompa
vakum)

Mencatat laju alir 3 x Menghidupkan pompa


(awal,tengah,akhir) dan mengatur laju alir
Tunggu selama 1 jam
0,5 – 1 l/menit

Mematikan pompa Diamkan selama 20

vakum menit dan dibawa ke


lab

4.2. Skema diagram analisis

Pipet 10 ml larutan Pipet 1 ml larutan asam Diamkan selama10


menit
TCM pada labu ukur sulfanat 0,6%
25 ml

Tera kan dengan air Pipet 2 ml formal dehid


suling hingga 25 ml 0,2 %
Pipet 5 ml larutan
paranosanilin
Homogenkan dan Baca serapan pada
diamkan 30 menit spektrofotometer
(adanya perubahan dengan ⁁= 548 nm
warna menjadi ungu)

V. HASIL PENGAMATAN

5.1. Data Sampling


Lokasi : Kopma Plaza Univeritas Trisakti
Hari/tanggal : Selasa, 26 September 2017
Cuaca : Cerah
Kondisi sekitar Kopma : Ramai Mahasiswa dan Mahasiswi yang berlalu
lalang.
Titik : -6.168136,106.790348
Suhu : 27,7 ˚C (27,7 + 273 ) = 300,7 K
Laju alur awal (F1) : 1 L/menit
Laju alur awal (F2) : 1 L/menit
Laju alur awal (F3) : 1 L/menit

Tabel 4.1 Hasil pengamatan pengambilan sampel

Keterangan Gambar

Pada pengambilan sampel cuaca di


sekitar Kampus A Universitas Trisakti
cerah, lokasi tepatnya di depan Kopma
Plaza Universitas Trisakti dengan
koordinat -6.168136,106.790348
5.2 Data Meterologi

Tabel 5.2 Data Meterologi Kopma Plaza

Keterangan Gambar

Pada pengambilan sampel cuaca di


sekitar Kampus A Universitas Trisakti
cerah, lokasi tepatnya di depan Kopma
Plaza Universitas Trisakti dengan
koordinat -6.168136,106.790348

5.2 Data Meterologi

Tabel 5.2 Data Meterologi Kopma Plaza

No. Parameter Gambar

Hygrometer
Pengukuran Kelembapan
1. dengan menggunakan
Hygrometer menghasilkan
32,1%RH

2. Anemometer
Pengukuran Kecepatan angin
dan suhu dengan
menggunakan Anemometer
menghasilkan 0,01 m/s dan
27,70C
3. Barometer
Pengukuran Tekanan Udara
dengan menggunakan
Barometer menghasilkan
75,5 mmHg

Tabel 5.2 Hasil Pengamatan Warna Larutan dan Spektrofotometer

No Keterangan Gambar

1 Warna larutan uji SO2


berwarna bening

2 Hasil dari spektofotometer

3 Hasil akhir pengamatan dari


seluruh kelompok
Tabel 5.3 Hasil Pengamatan Seluruh Kelompok
Kel Lokasi Abs X Volume C1Jam C24Jam Pa Ta F
(m3) (µg/m3) (µg/m3) (mmHg) (K) (L/mnt
1 Satpam 0,114 0,4513 60,36 18,6945 10,3842 762 297 1
Otorita
2 Belakang 0,090 0,3578 59,58 15,0159 8,341 759 299,7 1
kantin L
3 Belakang 0,109 0,4318 59,3258 18,1961 10,1074 756 299,8 1
BNI
4 SKI- Sekre 0,134 0,0594 59,178 2,51022 1,39435 756 300,5 1

5 Depan 0,117 0,463 69,63 16,6235 9,2338 757 298,4 1,1667


Presma
6 Depan 0,099 0,3979 7,226 135,967 119,603 75,5 300,7 1,223
Kopma
Plaza
7 Kantin 0,133 0,5265 68,9371 19,0957 10,607 757 301 1,1667
FSRD
8 Depan 0,127 0,502 76,91837 16,316 9,063 756 300,6 1,3
Gedung R

VI RUMUS DAN PERHITUNGAN


6.1 Rumus
6.1.1 Rumus Volume Sampel yang diuji
𝑭𝟏 + 𝑭𝟐 + 𝑭𝟑 𝑷 𝟐𝟗𝟖
𝒗= 𝒙𝒕𝒙 𝒙
𝟑 𝑻 𝟕𝟔𝟎

Dimana:
V : volume udara pada 250C, 76 mmHg (L)
P : Tekanan atmosfer selama sampling (mmHg)
T:Temperature sampel udara (0C)
F1: Laju alir awal (L/menit)
F1: Laju alir awal (L/menit)
F2: Laju alir tengah (L/menit)
F3: Laju alir akhir (L/menit)
t : Durasi pengambilan sampel (menit)
298: Temperature pada kondisi normal 25 0C (K)
760: Tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)
6.2.1 Volume Sampel yang diuji
Diketahui : F1 = 1,15 l/menit ; F2 = 1,27 l/menit ; F3= 1,25 l/menit ;
Ditanya : v?
Jawab :
𝐹1+𝐹2+𝐹3 𝑃𝑎 298 1,15+1,27+1,23 7515 298
 v= 𝑥𝑡𝑥 𝑥 = 𝑥 60 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝑥 =
3 𝑇𝑎 760 3 300,7 760

7,226 Liter

6.2.2 Nilai Konsentrasi dari kurva kalibrasi

Conc (mg/L) Absorban

0 0

0,064 0,013

0,130 0,032

0,195 0,046

0,325 0,083

Perhitungan analitik Sulfur dioksida


Diketahui :
A = -1,852 x 10-3
B = 0,25667
r = 0,99843
r2 = 0,99685
abs(y)= 0,099
conc = 0,393
Ditanya: nilai x?
Jawab:
 y=bx+a,
0,099 = 0,25667 x - 0,001852
X = 0,329

Grafik
0.09

0.08 y = 0.2567x - 0.0019


R² = 0.9969
0.07

0.06

0.05
absorban

0.04

0.03

0.02

0.01

0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35
-0.01
kosentrasi mg/l

6.2.3 Konsentrasi SO2 di udara Ambien


𝑥 25 0,393 25
C1 Jam = 𝑥1000𝑥 = 𝑥 1000 𝑥 = 135,967 µg/Nm2
𝑣 10 7,226 10

6.2.4 Konsentrasi untuk 24 jam


60 60 0,185
C24 Jam = C1 Jam x ( ) = 135,967𝑥 (120) = 119,603 µg/Nm2
120
2
6.2.5 Konversi µg/Nm ke dalam ppm
135,967𝑥 24,45
Ppm1 = = 0,0519 mg/L
64𝑥103
119,603 𝑥 24,5
Ppm2 = = 0,0456 mg/L
64 𝑥 103
VII PEMBAHASAN

Pada praktikum sulfur dioksida (SO2) ini dilakukan pengukuran kadar oksidan dengan
metode paranosanilin dan menggunakan spektofotometri dengan panjang gelombang 548 nm.
Pengambilam sampel udara dilakukan berlokasi didepan kopma plaza, Kampus A Universitas
Trisakti pada 26 September 2017 pukul 15:55 s.d 17:00 WIB. Sampling dilakukan pada kopma
plaza Universitas Trisakti Kampus A Sampling dilakukan pada siang hari dengan langit cerah.
Kondisi sekitar lokasi sampling terlihat ramai mahasiswa dan mahasiswi berlalu lalang, sebelum
melakukan sampling, praktikan mendapatkan materi singkat mengenai cara pengambilan sample
yang baik dan benar dengan mempertimbangkan beberapa faktor seperti arah dan kecepatan angin,
geografi dan topografi serta tata guna lahan serta lokasi sampling yang berjauhan dengan gedung
agar materi sulfur dioksida dapat dengan mudah masuk ke dalam corong sampling selain itu juga
lokasi sampling yang dilakukan praktikan berdekatan dengan koperasi mahasiswa dimana
dikhawatirkan akan ada perubahan secara kimia dari asap yang dihasilkan oleh para penjual yang
berasal dari koperasi mahasiswa tersebut.

Kemudian praktikan melakukan beberapa pengenalan alat sebelum melakukan sampling


diantaranya adalah botol impinger, pompa, dll. Setelah itu, praktikan melakukan sampling.
Pengambilan sampel udara menggunakan midget impenger yang selanjutnya ditambahkan larutan
penyerap tetrakloromerkurat (TCM) dan pararosanilin serta formaldehida. Gas SO 2 akan diserap
dalam larutan larutan penyerap TCM membentuk senyawa kompleks diklorosulfonatomerkurat.
Penambahan larutan pararosanilin dan formaldehida ke dalam senyawa diklorosulfonatomerkurat
membentuk pararosanilin metilsulfonat yang berwarna ungu. Intensitas warna ungu yang
terbentuk sebanding dengan konsentrasi SO2 yang terbentuk. Intensitas diukur dengan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 548 nm.

Pengukuran secara insitu dilakukan untuk karena terdapat beberapa data meterologi yang
hanya dapat diambil datanya pada saat dilokasi sampling. Parameter yang diukur secara insitu
berupa kecepatan angin, suhu, kelembapan dan tekanan. Pengukuran parameter ini dilakukan
secara bergiliran karena keterbatasan alat ukur yang disediakan. Suhu yang diperoleh 27,7 ˚C,.
Setelah dilakukan pengukuran suhu, dilakukan pengukuran kecepatan angin 0,01 m/s, kelembapan
32,1 RH, tekanan 75,5 mmHg. Dan mengukur kecepatan alir dari pompa dengan mengkaliberasi
kecepatan alir sebesar 1 L/menit selama 3 kali pengukuran dengan tujuan untuk membandingkan
laju alir per 15 menit sebagai faktor penting dalam pertimbangan pengaruh faktor sulfur dioksida
di dalam udara ambien

Berdasarkan hasil pengamatan dan hasil perhitungan yang telah diperoleh, diperoleh hasil
nilai sulfur dioksida selama 1 jam sebesar 135,967 µg/Nm2 dan selama 24 jam diperoleh 119,603
µg/Nm2. Namun memiliki nilai kosentrasi dan absorban melebihi kurva kalibrasinya. Hal ini
dikarenakan pengambilan sampel dilakukan di sore hari dengan tingkat pencemar udara dari
aktivitas mahasiswa dan mahasiswi disekitar kopma plaza sangat tinggi, karna saat dilakukannya
proses sampling keadaan kopma plaza di padati mahasiswa dan mahasiswi yang sedang
berkumpul, makan disekitar kopma plaza dan banyak juga yang menghisap rokok. Adapun faktor
lain yang menyebabkan nilai kosentrasi dan absorban melebihi kurva kalibrasi adalah larutan yang
kurang encer pada saat pengenceran menggunakan air suling yang mempengaruhi data tersebut.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara untuk kosentrasi selama 1 jam adalah 900 µg/Nm2 dan untuk 24
jam adalah 365 µg/Nm2 . Dari angka yang diperoleh terlihat jelas bahwa konsentrasi selama 1 jam
dan konsentrasi 24 jam di Kopma Plaza Kampus A Universitas Trisakti tidak melebihi baku mutu
yang ditetapkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Kopma Plaza Kampus A Universitas Trisakti
masih dalam batas aman dan belum tercemar sulfur dioksida (SO2).

Jika dibandingkan dengan Kepgub DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001 tentang Baku Mutu
Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan DKI Jakarta adalah standar sulfur dioksida untuk
kosentrasi selama 1 jam adalah sebesar 900 µg/Nm2 dan kosentrasi selama 24 jam adalah 260
µg/Nm2 Nm2. Dari angka yang diperoleh terlihat jelas bahwa konsentrasi selama 1 jam dan
konsentrasi 24 jam di Kopma Plaza Kampus A Universitas Trisakti tidak melebihi baku mutu
yang ditetapkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Kopma Plaza Kampus A Universitas Trisakti
masih dalam batas aman dan belum tercemar sulfur dioksida (SO2).

Sedangkan berdasarkan WHO mengenai Air Quality Guidelines for Particulate Matter,
Ozone, Nirogen Dioxide, Sulfur Dioxide untuk kadar sulfur dioksida di udara adalah dengan
kosentrasi selama 24 jam adalah 125 µg/Nm2. Dari angka yang diperoleh terlihat jelas bahwa
konsentrasi selama 1 jam dan konsentrasi 24 jam di Kopma Plaza Kampus A Universitas Trisakti
tidak melebihi baku mutu yang ditetapkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa Kopma Plaza Kampus
A Universitas Trisakti masih dalam batas aman dan belum tercemar sulfur dioksida (SO2). Namun
akan lebih baik lagi jika kadar kosentrasi SO2 di udara kurang dari data yang diperoleh praktikan
sebagaimana yang telah diketahui bahwa sulfur dioksida sangat berbahaya terhadap kesehatan
manusia. Untuk mengatasi hal ini, kadar SO2 yang rendah harus dipertahankan agar kondisi
kesehatan makhluk hidup disekitarnya dapat terjamin. Kadarnya tinggi harus segera diatasi dan
dikurangi. Hal pertama yang harus dilakukan untuk mengurangi kadar SO 2 di udara adalah
menentukan sumber SO2 berasal. Jika sumber pencemar telah diketahui maka tindakan untuk
mengurangi dan mencegah bertambahnya SO2 di udara dapat dilakukan. Beberapa tindakan untuk
mengurangi dan mengontrol emisi SO2 dapat dilakukan dengan penggunaan bahan bakar bersulfur
rendah, subtitusi sumber energi lainnya untuk bahan pembakaran, penghilangan sulfur dari bahan
bakar sebelum pembakaran, dan penghilangan gas SO2 dari gas buangan.

Dan jika dilihat dari hasil pengamatan seluruh kelompok mengenai pengukuran kadar
oksidan Kampus A Universitas Trisakti dengan berbagai tempat lokasi sampling, pada lokasi
kopma plaza ini yang mendapatkan nilai konsentrasi 1 jam dan konsentrasi 24 jam paling tinggi
diantara semua kelompok dengan berbagai lokasi. Dikarenakan banyaknya aktivitas manusia
diarea kopma plaza dibandingkan lokasi sampling lainnya.

VIII SIMPULAN

Simpulan dari percobaan praktikum mengenai sulfur dioksida dengan menggunakan


metode pararosanilin adalah:

1. Sampling dilakukan pada siang hari dengan langit cerah


2. Konsentrasi SO2 di udara ambien pada Kopma Plaza selama 1 jam sebesar 135,967
µg/Nm2
3. Konsentrasi SO2 di udara ambien pada Kopma Plaza selama 24 jam diperoleh 119,603
µg/Nm2.
4. Berdasarkan Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 551
Tahun 2001 tentang Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan
Di Propinsi DKI Jakarta, standar sulfur dioksida untuk kosentrasi selama 1 jam adalah
sebesar 900 µg/Nm2 dan kosentrasi selama 24 jam adalah 260 µg/Nm2 Nm2. Nilai kadar
SO2 di Kopma Plaza Universitas Trisakti adalah sebesar 135,967 µg/Nm2 untuk 1 jam dan
selama 24 jam diperoleh 119,603 µg/Nm2. Kosentrasi ini masih sesuai dengan baku mutu.
5. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Pengendalian Pencemaran Udara untuk kosentrasi selama 1 jam adalah 900 µg/Nm2 dan
untuk 24 jam adalah 365 µg/Nm2 Nilai kadar SO2 di Kopma Plaza Universitas Trisakti
adalah sebesar 135,967 µg/Nm2 untuk 1 jam dan selama 24 jam diperoleh 119,603 µg/Nm2.
Kosentrasi ini masih sesuai dengan baku mutu.
6. Berdasarkan WHO mengenai Air Quality Guidelines for Particulate Matter, Ozone,
Nirogen Dioxide, Sulfur Dioxide untuk kadar sulfur dioksida di udara adalah dengan
kosentrasi selama 24 jam adalah 125 µg/Nm2. Nilai kadar SO2 di Kopma Plaza Universitas
Trisakti adalah sebesar 135,967 µg/Nm2 untuk 1 jam dan selama 24 jam diperoleh 119,603
µg/Nm2. Kosentrasi ini masih sesuai dengan baku mutu.
7. Nilai regresi diperoleh sebesar 0,9983 yang menunjukkan bahwa adanya korelasi yang
sangat kuat antara konsentrasi dengan absorban sampel.
8. Sulfur dioksida sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, salah satu pengendalian yang
bisa dilakukan adalah mengurangi emisi kendaraan dengan menggunakan kendaraan
secukupnya.
9. Nillai kosentrasi dan absorban yang diperoleh melebihi kurva kalibrasi bukan berarti data
tersebut salah bisa juga dapat dipengaruhi jam penelitian dengan kosentrasi SO2 yang
tinngi, bisa juga karena sampel larutan yang kurang encer.

VIII DAFTAR PUSTAKA

Arya Wardana, Wisnu. 2001. Dampak pencemaran lingkungan. Yogyakarta: Andi

Arends.

Fardiaz. S. 1992. Polusi Air dan Udara. Yogyakarta: Kansius.

Gunawan, dkk, 1997. Analisis Kerugian Akibat Polusi Udara dan kebisingan lalu lintas.
Bandung : Puslitbang Jalan
Soedomo M., Usman K, Djajadiningrat S T., Darwin, 1990. Model Pendekatan dalam
Analisis Kebijakan Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta, Bandung dan
Surabaya: Penelitian KLH Teknik Lingkungan ITB.
LAMPIRAN