Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM LINGKUNGAN 2

Jurusan Teknik Lingkungan – Universitas Bakrie


Gasal 2016/2017

Kelompok 6

1. Luthfiaqmar Rizky Pratiwi (1152005021)


2. Pradhika Ardi Nugraha (1152005007)

Asisten:
Nada Nazihah

OKSIDAN (O3)
I. PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pemanasan global merupakan isu yang selalu hangat diperbincangkan, karena dampak
buruknya yang terus dirasakan oleh semua makluk di muka bumi. Lapisan udara di atas bumi
memiliki pelindung agar panas dan cahaya matahari tidak langsung jatuh ke permukaan bumi
sehingga dapat membuat makhluk hidup di bumi menjadi panad atau bahkan mengalami
kematian. Lapisan tersebut diisi oleh ozon (O3) yang merupakan senyawa hasil dari reaksi
hidrokarbon dalam siklus fotolitik NO2O3. Secara alamiah ozon terbentuk pada ketinggian 15-
40 km di atas permukaan bumi, yaitu pada lapisan stratosfer. Namun konsentrasi O 3 juga
dipengaruhi oleh aktivitas manusia di permukaan bumi, sehingga lapisan ozon tersebut turun
hingga berada pada lapisan troposfer (Wardana, 2001).
Cahaya matahari yang dating ke bumi akan disaring dan dipantulkan sebagiannya oleh
ozon, sehingga sinar ultraviolet yang dating ke permukaan umi telah sesuai denan kadar yang
dibutuhkan oleh tanaman dan makhluk hidup lainnya. Namun kegiatan manusia yang
menghasilkan gas rumah kaca seperti CO2, NH3 DAN CFC dapat membuat penipisan lapisan
ozon. Kondisi seperti ini tentu saja akan membuat sinar matahari langsung menuju permukaan
bumi. Ozon harus berada pada lapisan stratosfer bumi, karena apabila ozon berada dibawah
lapisan tersebut akan membawa dampak buruk terhadap kehidupan makhluk di bumi. Ozon
yang berada pada traposfer merupakan salah satu senyawa yang menyebabkan gas rumah kaca
dan menciptakan pemanasan global, karena panas matahari yang dipantulkan oleh bumi akan
dikembalikan lagi ke bumi sehingga menaikkan suhu secara menyeluruh. Namun kadar O 3 di
udara ambien tersebar tidak merata, konsentrasinya di pengaruhi oleh topografi, komposisi xat
kimia pada lapisan troposfer dan stabilitas udara (Wardana, 2001).
Oleh karena itu, pengukuran konsentrasi ozon dilakukan untuk menentukan konsentrasi
oksidan total di udara ambien. Konsentrasi oksidan di udara dapa diukur dengan metode
Neutral Buffer Kalium Iodida (NBKI). Metode ini mengabsorbsikan larutan KI 1% dalam
peyangga fosfat, sehingga terbrntuk I2 bewarna kuning muda yang diukur menggunakan
spektofotometer pada panjang gelombang 352 nm (Wardana, 2001).
1.2 Tujuan Percobaan
Mengukur kadar Oksidan (O3) dengan metode Neutral Buffer Kalium Iodida secara
spektrofotometri pada udara ambien di Kantin FSRD Kampus A Universitas Trisakti.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Sifat dan Karakteristik Oksidan (O3)
Oksidan (O3) merupakan senyawa di udara selain oksigen yang memiliki sifat sebagai
pengoksidasi. Oksidan adalah komponen atmosfer yang diproduksi oleh proses fotokimia,yaitu
suatu proses kinua yang membutuhksn sinar matahari mengoksidasi komponen-komponen
yang tak segera dioksidasu oleh oksigen. Senyawa yang yterbrntuk merupakan bahan pencemra
sekunder yang diproduksi karena interaksi antara bahan pencemar primer dengan sinar
(Mukhlis,2009).
Ozon adalah gas yang terdiri dari tiga atom oksigen. Gas ini berwarna biru pucat pada
temperature dan tekanan ruang, namun pada konsentrasi yang ditemukan di atmosfer, ozon
tidak berwarna. Ozon yang dianggap sebagai pencemar adalah ozon yang berada pada lapisan
troposfer, yaitu lapisan atmosfer yang paling dekat dengan bumi sampai berada sekitar 10
hingga 18 km diatas permukaannya. Ozon pada lapisan ini sering disebut sebagai ozon
permukaannya dan dianggap berbahaya karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan pada
manusia dan juga dampak buruk lain pada tanaman dan ekosistem (Giddings 1973).
Ozon termasuk kedalam pencemar sekuner, Karena ia tidak diemisikan langsung oleh
suatu sumber melainkan terbentuk akibat reaksi dari sinar matahari dan udara yang
mengandung CO, NOX dan VOC. Ozon bersifat oksidator kuat, karena itu pencemaran oleh
ozon troposferik dapat menyebabkan dampak yang merugikan bagi kesehatan manusia.
Konsentrasi ozon sering berubah-ubah misalnya akibat perbedaan waktu siang dan malam
karena tergantung pada beberapa factor seperti kondisi iklim, meteorologis serta keberadaan
pencemar-pencemar primer yang nantinya akan beraksi membentuk ozon karena merupakan
pencemar sekunder (Giddings 1973).
2.2 Sumber dan Distribusi Oksidan (O3)
Yang dimaksud dengan oksidan fotokimia meliputi Ozon, Nitrogen dioksida, dan
peroksiasetilnitrat (PAN) karena lebih dari 90% total oksidan terdapat dalam bentuk ozon
maka hasil monitoring udara ambien dinyatakan sebagai kadar ozon. Karena pengaruh
pencemaran udara jenis oksidan cukup akut dan cepatnya perubahan pola pencemaran
selama sehari dan dari suatu tempat ketempat lain, maka waktu dimana kadar Ozon paling
tinggi secara umum ditentukan dalam pemantauan. Mencatat jumlah perjam per hari,
perminggu, per musim atau per tahun selama kadar tertentu dilampaui juga merupakan
cara yang berguna untuk melaporkan sejauh mana Ozon menjadi masalah (Akhadi, 2009).
Kadar ozon alami yang berubah-ubah sesuai dengan musim pertahunnya berkisar
antara 10–100 g/m3 (0,005–0,05 ppm). Diwilayah pedesaan kadar ozon dapat menjadi
tinggi karena adanya kiriman jarak jauh O3 dari udara yang berasal dari perkotaan. Di
daerah perkotaan yang besar, tingkat ozon atau total oksidan maksimum 1 jam dapat
berkisar dari 300–800 g/ m3 (0,15-0,40 ppm) atau lebih. 5–30% hasil pemantauan di
beberapa kota besar didapatkan kadar oksida maksimum 1jam yang melampaui 200 g/m3
(0,1 ppm).Peroksiasetilnitrat umumnya terbentuk secara serentak bersama dengan ozon.
Pengukuran kadar PAN di udara ambien yang telah dilakukan relatif sedikit, tetapi dari hasil
pengukuran Pb dapat diamati perbandingan antara PAN dengan ozon antara 1:50 dan 1:100,
dan variasi kadar kadang-kadang mengikuti ozon (Akhadi, 2009).
2.3. Dampak Oksidan (O3)
Oksidan fotokimia masuk kedalam tubuh dan pada kadar subletal dapat
mengganggu proses pernafasan normal, selain itu oksidan fotokimia juga dapat
menyebabkan iritasi mata. Beberapa gejala yang dapat diamati pada manusia yang diberi
perlakuan kontak dengan ozon, sampai dengan kadar 0,2 ppm tidak ditemukan pengaruh
apapun, pada kadar 0,3 ppm mulai terjadi iritasi pada hidung dan tenggorokan. Kontak
dengan Ozon pada kadar 1,0–3,0 ppm selama 2 jam pada orang-orang yang sensitif dapat
mengakibatkan pusing berat dan kehilangan koordinasi. Pada kebanyakan orang, kontak
dengan ozon dengan kadar 9,0 ppm selama beberapa waktu akan mengakibatkan edema
pulmonari (Mukono, 2003).
Pada kadar di udara ambien yang normal, peroksiasetilnitrat (PAN) dan
Peroksiabenzoilnitrat (PbzN) mungkin menyebabkan iritasi mata tetapi tidak berbahaya
bagi kesehatan. Peroksibenzoilnitrat (PbzN) lebih cepat menyebabkan iritasi mata
(Mukono, 2003).
2.4 . Baku Mutu
Tabel 2.4.1 Baku Mutu O3 di Udara Ambien
Baku mutu O3 (ug/Nm³)
Parameter waktu
Gubernur DKI Nasional WHO

1 jam 200 235 -

Oksidan (O3) 8 jam - - 100

1 tahun 30 50 -

2.5. Pengendalian Dan Penanggulangan Oksidan (O3)


 Mengurangi atau tidak menggunakan lagi produk-produk rumah tangga yang
mengandung zat-zat yang dapat merusak lapisan pelindung bumi (Bahan Perusak
Ozon) dari sinar UV.
 Menggunakan selalu produk-produk yang berlogo ramah ozon.
 Menggunakan alat pemadam api yang tidak mengandung Haloncarbon.
 Memeriksa dan merawat peralatan pendingin/pengatur suhu dan sistem pemadam api
secara berkala untuk memastikan tidak adanya kebocoran BPO (CFC, HCFC atau
Halon).
 Memastikan bahwa CFC/HCFC/Halon yang ada di dalam sistem diambil kembali
(recovery) dan didaur ulang (recycle) dalam proses perawatan dan perbaikan sistem
pendingin atau pemadam api.
 Mengirim CFC/HCFC/Halon yang sudah tidak terpakai ke fasilitas pengolahan BPO
bekas seperti Halon Bank, Pusat Reklamasi CFC atau Pemusnahan BPO.
 Mengganti alat-alat kebutuhan yang berpotensi menghasilkan zat-zat perusak ozon
dengan alternatif lain yang lebih ramah lingkungan misalnya pembangkit tenaga listrik
dari sel surya, angin atau arus air terjun/turbin.
 Diperlukan upaya meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat
dalamprogram perlindungan lapisan ozon, pemahaman mengenai penanggulangan
penipisan lapisan ozon, memperkenalkan bahan, proses, produk, dan teknologi yang
tidak merusak lapisan ozon dengan cara mengadakan seminar “Save Our Earth”.
III. ALAT DAN BAHAN
3.1 Alat
Tabel 3.1.1 Tabel Alat Oksidan (O3)

No. Alat Gambar

1 Pompa Vakum

2 Midget Impinger.

3 Stopwatch

4 Kabel Rol
No. Alat Gambar

5 Pipet Volume 50 ml

6 Bulb

7 Labu Ukur 25 ml

8 Corong
No. Alat Gambar

9 Hygrometer

10 Anemometer

11 Barometer

12 Spektrofotometer
3.1.2 Tabel Bahan Oksidan (O3)

No. Bahan Konsentrasi Jumlah Gambar

Larutan
- 50 ml
1 Neutral
NBKI

- -
2 Vaseline

Alumunium
3
foil - -
Tabel 3.1.3 Hasil Pengamatan Warna Larutan dan Spektrofotometer

No Keterangan Gambar

1 Warna larutan uji O3


berwarna bening

2 Hasil dari spektofotometer

3 Hasil pengamatan O3
seluruh kelompok
IV. CARA KERJA

4.1. Skema diagram sampling

Masukkan Larutan
NBKI 50mL ke Bungkus dengan Susun rangkaian
dalam botol Alumunium Foil alat
Impinger

Matikan pompa Hidupkan pompa


vakum kemudian Catat laju alir 3x
vakum, atur laju
larutan didiamkan dan ukur data
alir 1 L/menit
selama 30 menit meteorologi
(selama 30 menit)

4.2. Skema diagram analisis

Masukkan larutan Ukur kosentrasi


contoh uji 25 ml ke oksidan dengan ⁁=352 nm
dalam labu ukur 25 ml spektrofotometer

V. HASIL PENGAMATAN
5.1. Data Sampling
Lokasi : Kantin FSRD
Hari/tanggal : Selasa, 10 Oktober 2017
Cuaca : Cerah
Kondisi sekitar kantin : Banyak aktivitas mahasiswa dan lokasi parkir
Titik : -6.167718,106.789665
Suhu : 32 ˚C (32 + 273 ) = 305 K
Laju alur awal (F1) : 1,15 L/menit
Laju alur awal (F2) : 1,25 L/menit
Laju alur awal (F3) : 1,35 L/menit
Tabel 5.1.1 Hasil pengamatan pengambilan sampel

Keterangan Gambar

Pada pengambilan sampel cuaca di


sekitar Kampus A Universitas Trisakti
cerah, lokasi tepatnya di Kantin FSRD
Universitas Trisakti dengan koordinat
-6.167718,106.789665

5.2 Data Meterologi

Tabel 5.2.1 Data Meterologi Kantin FSRD

No. Parameter Gambar

Hygrometer
Pengukuran Kelembapan
1. dengan menggunakan
Hygrometer menghasilkan
kelembapan 37 %RH

Anemometer
Pengukuran Kecepatan angin
2. dan suhu dengan
menggunakan Anemometer
menghasilkan kecepatan
angina dan suhu 0,63 m/s
dan 320C
No. Parameter Gambar

Barometer
Pengukuran Tekanan Udara
3. dengan menggunakan
Barometer menghasilkan
tekanan udara 75,7 mmHg

VI RUMUS DAN PERHITUNGAN


6.1. Rumus dan Perhitungan Volume Sampel yang Diuji
𝑭𝟏 + 𝑭𝟐 + 𝑭𝟑 𝑷 𝟐𝟗𝟖
𝒗= 𝒙𝒕𝒙 𝒙
𝟑 𝑻 𝟕𝟔𝟎

Dimana:
V : volume udara pada 250C, 76 mmHg (L)
P : Tekanan atmosfer selama sampling (mmHg)
T:Temperature sampel udara (0C)
F1: Laju alir awal (L/menit)
F1: Laju alir awal (L/menit)
F2: Laju alir tengah (L/menit)
F3: Laju alir akhir (L/menit)
t : Durasi pengambilan sampel (menit)
298: Temperature pada kondisi normal 25 0C (K)
760: Tekanan pada kondisi normal 1 atm (mmHg)
Diketahui : F1 = 1,15 l/menit ; F2 = 1,25 l/menit ; F3= 1,35 l/menit ;
Ditanya : v?
Jawab :
𝐹1+𝐹2+𝐹3 𝑃𝑎 298 757 298
V= 𝑥𝑡𝑥 𝑥 = 1,15+1,25+1,35 𝑥 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝑥 = 36,494 liter
3 𝑇𝑎 760 3 305 760
6.2. Nilai Kosentrasi dari Kurva Kalibrasi

Abs Conc(mg/L)
0 0
0,050 0,064
0,150 0,228
0,200 0,344
0,300 0,526
0,400 0,691
Dik:
a = -0,015801
b = 1,77073
r = 0,998669
r2 = 0,99733
x (kosentrasi spektrofotometer) = 0,021
y (absorban Spektrofotometer) = 0,021
Dit: x?
y = bx + a
0,021 = 1,77073x – 0,0158
x = 0,02078

KURVA KALIBRASI
0.8
0.7
0.6 y = 1.7711x - 0.0159
R² = 0.9978
0.5
ABSORBANSI

0.4
0.3
0.2
0.1
0
0 0.05 0.1 0.15 0.2 0.25 0.3 0.35 0.4 0.45
-0.1
KOSENTRASI
6.3. Konsentrasi O3 30 Menit

𝑋 50 0,02078 50 0,5694𝑢𝑔
𝐶 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 = 𝑥1000𝑥 = 𝑥1000𝑥 = atau 2,9003x10 − 4 ppm
𝑉 50 36,494 50 𝑁𝑚3

6.4. Konsentrasi O3 1 Jam

𝑡1 0,185 30
𝐶 1 𝐽𝑎𝑚 = 𝐶 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝑥 ( ) = 0,5694𝑥( )0,185
𝑡2 60

0,5008𝑢𝑔
= 𝑎𝑡𝑎𝑢 2,55095𝑥10 − 4 𝑝𝑝𝑚
𝑁𝑚3
6.5. Konsentrasi O3 8 Jam

𝑡1 0,185 30 0,185
𝐶 8 𝐽𝑎𝑚 = 𝐶 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝑥 ( ) = 0,5694𝑥( )
𝑡2 480

0,4039𝑢𝑔
= 𝑎𝑡𝑎𝑢 1,7364𝑥10 − 4 𝑝𝑝𝑚
𝑁𝑚3
6.6. Konsentrasi O3 24 Jam

𝑡1 0,185 30 0,185
𝐶 24 𝐽𝑎𝑚 = 𝐶 30 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 𝑥 ( ) = 0,5694𝑥( )
𝑡2 1440
0,2782𝑢𝑔
= 𝑎𝑡𝑎𝑢 1,4171𝑥10 − 4 𝑝𝑝m
𝑁𝑚3

Tabel 6.1.1 Hasil Pengamatan Seluruh Kelompok


Kelompok Abs Volume C1 Jam C24 Jam
3
Ug/Nm Ppm Ug/Nm3 ppm
1 0,004 29,3692 0,3349 1,7059x10-4 0,1860 9,4760x10-5
2 0,006 29,2730 0,2100 1,01875x10-4 8,75x10-3 4,4570x10-6
3 0,001 29,4070 0,2800 1,426x10-4 0,155 7,895x10-5
4 0,008 29,2199 0,4046 2,0610x10-4 0,2247 1,4448x10-4
5 0,007 29,2500 0,387 1,9712x10-4 0,2149 1,0946x10-4
6 0,021 36,4940 0,5008 2,5509x10-4 0,2782 1,4171x10-4
7 0,011 34,0620 0,3900 1,9906x10-4 0,2171 1,106x10-4
8 0,001 29,3690 0,2841 1,44739x10-4 0,1578 8,0399x10-5

Ket :

Hasil perhitungan kelompok praktikan dan hasil kosentrasi O 3 tertinggi dari semua
kelompok berlokasi di kantin FSRD

Hasil kosentrasi O3 terendah berlokasi di belakang BNI Universitas Trisakti


VII. PEMBAHASAN

Pada praktikum oksidan (O3) dilakukan pengukuran kadar oksidan dengan


menggunakan metode NBKI (Neutral Buffer Kalium Iodida) dan menggunakan
spektrofotometri dengan panjang gelombang 352 nm. Pengambilan contoh uji dilakukan di
Kantin FSRD pada koordinat -6.167718,106.789665 dan suhu sebesar 320C di Universitas
Trisakti pada 10 Oktober pukul 15:00 s.d. 15:30 WIB dengan pencatatan 3 kali pengukuran
laju alir. Pengambilan contoh uji dilakukan pada siang hari dengan langit cerah. Kondisi sekitar
lokasi sampling terlihat ramai mahasiswa dan mahasiswi yang sedang beraktivitas dan lokasi
parker. Dengan mempertimbangkan, beberapa faktor seperti arah dan kecepatan angin,
geografi dan topografi serta tata guna lahan serta lokasi sampling yang berjauhan dengan
gedung agar oksidan di udara dapat dengan mudah masuk ke dalam corong contoh uji.
Diperoleh dari hasil pengamatan dan perhitungan nilai konsentrasi oksidan selama 30
menit sebesar 0,5694 ug/Nm3 atau 2,9003x10-4 ppm, untuk konsentrasi oksidan selama 1 jam
adalah 0,5008 ug/Nm3 atau 2,5509x10-4, untuk konsentrasi oksidan selama 8 jam adalah 0,3409
ug/Nm3 atau 1,7364x10-4, untuk konsentrasi selama 24 jam sebesar 0,278219 ug/Nm3 atau
1,4171x10-4 ppm, dan untuk konsentrasi tertinggi dari pengamatan dan perhitungan semua
kelompok adalah kelompok 6 yang berlokasi di kantin FSRD (kelompok penulis). Berdasarkan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian
Pencemaran Udara untuk baku mutu oksidan di udara dengan kosentrasi selama 1 jam adalah
235 ug/Nm3, untuk Kepgub DKI Jakarta No. 551 Tahun 2001 tentang Baku Mutu Udara
Ambien dan Baku Tingkat Kebisingan DKI Jakarta standar oksidan untuk kosentrasi selama 1
jam adalah sebesar 200 ug/Nm3 atau 0,05 ppm, dan berdasarkan baku mutu WHO mengenai
Air Quality Guidelines for Particulate Matter, Ozone, Nirogen Dioxide, Sulfur Dioxide untuk
oksidan di udara adalah dengan kosentrasi selama 8 jam adalah 100 ug/Nm3.
Berdasarkan baku mutu di atas, dapat dilihat bahwa kosentrasi oksidan di kantin FSRD
Universitas Trisakti masih di bawah baku mutu gubernur DKI jakarta, Nasional, dan WHO.
Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa semua data kelompok masih di bawah baku mutu yang
menunjukkan bahwa wilayah kampus A Universitas Trisakti dalam keadaan kondisi udara yang
sangat aman. Namun, beberapa kesalahan data sangat mungkin terjadi baik di dalam
pengambilan, perhitungan, maupun pengamatan contoh uji seperti melakukan pengukuran
menggunakan spektrofotometer dalam keadaan larutan yang kurang encer, peletakan titik
contoh uji yang kurang tepat, dan lain sebagainya.
Kesalahan data ini dapat berpengaruh kepada peringatan waspada di kantin FSRD yang
akan mempengaruhi dampak terhadap manusia di sekitar kantin FSRD Universitas Trisakti.
Karena oksidan merupakan salah satu pencemar sekunder yang terbentuk dari polutan
prekursor primer seperti NOx dan VOC melalui paparan sinar matahari, maka oksidan memiliki
dampak terhadap manusia dan lingkungan. Dampak terhadap manusia dapat berupa iritasi
mata, hidung, dan tenggorokan. Pada kosentrasi yang lebih tinggi dapat menyebabkan pusing,
kehilangan keseimbangan badan, dan kasus paling parah adalah edema pulmonary. Dampak
oksidan terhadap tumbuhan adalah tertutupnya stomata pada tumbuhan, stomata ini yang
berguna dalam penyerapan karbon dioksida di udara sehingga dapat mempengaruhi kosentrasi
CO2 di udara, bukan hanya itu oksidan di lapisan troposfer dapat merusak bahan-bahan seperti
nilon, karet, dan bahan lainnya.
Penanggulangan atau pencegahan yang dapat dilakukan dapat bervariasi baik kepada
manusia maupun lingkungan adalah pertama dengan mengetahui sumber pencemaran oksidan
dan mengetahui tingkat kosentrasi tertinggi setiap hari. Pencegahan yang paling baik untuk
menghindari paparan oksidan yang tinggi adalah dengan tidak mendekati lalu lintas di jalan
dengan suhu tinggi, karena oksidan dengan kosentrasi tertinggi ada pada suhu tinggi untuk
mengoksidasi senyawa NO2 yang berasal dari kendaraan. Selain itu, cara yang dapat dilakukan
untuk mengurangi kosentrasi oksidan yang tinggi di udara adalah dengan mengurangi
pemakaian kendaraan, pembakaran limbah domestik, dan sebagainya.

VIII. SIMPULAN

Dari praktikum mengenai penentuan kadar kosentrasi oksidan di Universitas Trisakti


dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Konsentrasi oksidan selama 1 jam di kantin FSRD Universitas Trisakti masih berada di
bawah baku mutu berdasarkan baku mutu gubernur DKI, dan Nasional.
2. Konsentrasi oksidan selama 8 jam di kantin FSRD Universitas Trisakti masih berada di
bawah baku mutu berdasarkan baku mutu WHO.
3. Titik lokasi kosentrasi oksidan tertinggi berdasarkan data semua kelompok berada di
kantin FSRD Universitas Trisakti dan masih berada di bawah baku mutu.
4. Titik lokasi kosentrasi oksidan terendah berdasarkan data semua kelompok berada di
belakang BNI Universitas Trisakti.
5. Kesalahan pengukuran, pengamatan, dan perlakuan selama praktikum seperti
melakukan pengukuran menggunakan spektrofotometer dengan larutan yang kurang
encer, kurang tepatnya peletakan corong, sangat dapat mempengaruhi kesalahan data
yang ada.
6. Oksidan merupakan polutan sekunder dengan prekursor primer berupa Nox dan VOC
yang dihasilkan dari pembakaran kendaraan, limbah domestik, dan industri.
7. Dampak paling ringan dari oksidan di lapisan troposfer adalah iritasi mata dan dampak
paling berat adalah edema pulmonary.
8. Cara penanggulangan terbaik adalah dengan tidak keluar di kepadatan lalu lintas
dengan suhu tinggi tepatnya pada siang hari serta mengurangi penggunaan kendaraan
dan pembakaran limbah domestik karena hasil senyawanya sebagai prekursor primer
untuk terbentuknya oksidan.

IX. DAFTAR PUSTAKA

Akhadi, Mukhlis, 2009. Ekologi Energi: Mengenali Dampak Lingkungan


dalam Pemanfaatan Sumber-Sumber Energi. Yogyakarta : Penerbit Graha
Ilmu.
Arya Wardana, Wisnu. 2001. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta : Andi.
Giddings, J.S. 1973. Chemistry Man and Environmental Change. New York: Canfield Press.
Kepgub DKI Jakarta No.551/2001. Penetapan Baku Mutu Udara Ambien dan Baku Tingkat
Kebisingan di DKI Jakarta. Jakarta
Mukono, 2003. Pencemaran Udara dan Pengaruhnya Terhadap Gangguan Saluran
Pernapasan. Surabaya : Airlangga University Pers.
Peraturan Pemerintah RI No.41/1999. Pengendalian Pencemaran Udara. Jakarta.
WHO. 2005. Air Quality Guidelines for Particulate Matter, Ozone, Nirogen Dioxide, Sulfur
Dioxide. Global.
LAMPIRAN