Anda di halaman 1dari 12

TINGKAT DAN FAKTOR KECEMASAN MATEMATIKA

PADA SISWA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

Sugiatno, Dery Priyanto, Sri Riyanti


Program Studi Pendidikan Matematika FKIP Untan Pontianak
Email: derypriyanto@gmail.com

Abstract
The purpose of this research is to explain the level and factor of mathematics anxiety of
the VIIID students at SMP N 1 Sungai Raya in learning Pythagoras subject matter.
Method used is descriptive form of ex post facto. The number of subject is 38 students.
Based on the questionnaire of anxiety level, it was found there are two levels of anxiety
experienced by the students, namely medium mathematics anxiety and heavy mathematics
anxiety. Each level of anxiety is experienced by 19 students. The subjects of medium
anxiety are suggested to have anxiety management because it might motivate them to
learn. The factors that affect the level of mathematics level are the lack of scaffolding
provided by the teacher, unsupportive learning environment, direct problem-solving
activity in the classroom, unpleasant experience in the past, such as cruel mathematics
teacher, and lack of motivation in learning mathematics. It can be concluded that most of
students of VIIID at SMP N 1 Sungai Raya experience the medium to heavy anxiety level.

Keyword: Mathematics Anxiety

Rasa cemas, tegang dan takut menurut bersifat negatif, karena dapat menimbulkan
kebanyakan orang merupakan hal yang wajar gangguan baik secara fisik maupun psikis.
dalam belajar, karena setiap orang merasakan Menurut Peplau (dalam Suliswati dkk,
hal-hal tersebut saat belajar. Namun demikian 2005: 48) ada empat tingkat kecemasan yang
menurut pandangan ahli ternyata hal ini secara dialami oleh individu yaitu sebagai berikut:
psikologis dapat menggangu kinerja seseorang (1) Kecemasan ringan yaitu dihubungkan
dalam belajar. Hubungan antara kecemasan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari.
dengan kemampuan dan prestasi menurut Individu masih waspada serta lapang
Ashcraft (2002) dapat dijelaskan dengan persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat
logika bahwa ketika seseorang memiliki memotivasi individu untuk belajar dan
kecemasan, maka memunculkan kecemasan mampu memecahkan masalah secara efektif
dalam tes dan memberikan hasil yang tidak dan menghasilkan pertumbuhan dan
maksimal. Hal ini sejalan dengan pendapat kreatifitas; (2) Kecemasan sedang yaitu
Sieber (dalam Sudrajat, 2008) menyatakan individu terfokus hanya pada pikiran yang
bahwa kecemasan dianggap sebagai salah satu menjadi perhatiannya, terjadi penyempitan
faktor penghambat dalam belajar yang dapat lapangan persepsi, masih dapat melakukan
menggangu kinerja fungsi-fungsi kognitif sesuatu dengan arahan orang lain; (3)
seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, Kecemasan berat yaitu lapangan persepsi
mengingat, pembentukan konsep dan individu sangat sempit. Pusat perhatiannya
pemecahan masalah. Menurut Sukmadinata pada detail yang kecil (spesifik) dan tidak
(2003: 84) kecemasan memiliki nilai positif, dapat berfikir tentang hal-hal lain. Seluruh
asalkan intensitasnya tidak begitu kuat, sebab perilaku dimaksudkan untuk mengurangi
kecemasan yang ringan dapat merupakan kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan
motivasi. Kecemasan yang sangat kuat untuk terfokus pada area lain; (4) Panik yaitu
individu kehilangan kendali diri dan detail

1
perhatian hilang. Karena hilangnya kontrol, dan gangguan pencernaan serta kelemahan
maka tidak mampu melakukan apapun badan seperti pingsan.
meskipun dengan perintah. Terjadi Untuk menguatkan dugaan-dugaan
peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya tersebut, peneliti melakukan studi
kemampuan berhubungan dengan orang lain, pendahuluan kepada beberapa siswa kelas
penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran VIII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
rasional, tidak mampu berfungsi secara Sungai Raya pada tanggal 14, 16, 17
efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi Desember 2016. Adapun informasi yang
kepribadian. didapatkan dari hasil wawancara adalah
Kecemasan yang terjadi ketika belajar sebagai berikut: (1) sebagian besar siswa
matematika atau biasa disebut dengan merasakan detak jantung yang tidak teratur,
kecemasan matematika (Mathematics Anxiety) sakit kepala, panik, khawatir,
tidak hanya dirasakan saat di Sekolah saja, ketidakmampuan mengatasi persoalan
akan tetapi kecemasan yang terjadi ketika matematika dan ketidak yakinan akan
belajar matematika juga dirasakan di jawaban yang telah siswa berikan; (2)
Perguruan Tinggi. Menurut Tobias and sebagian besar siswa mendapatkan pandangan
Weissbrod (dalam Haralson, 2002) negatif dari orang-orang yang berada
mendefinisikan kecemasan matematika disekitarnya; (3) sebagian besar siswa merasa
sebagai “math anxiety as the panic, takut terhadap guru matematika; (4) sebagian
helplessness, paralysis, and mental besar siswa merasa tidak nyaman saat belajar
disorganization that arises among some matematika; (5) sebagian besar siswa merasa
people when they are required to solve a gaya bahasa yang digunakan guru pelajaran
mathematical problem”. Apabila hal ini terus matematika sedikit sulit dimengerti; (6)
menerus dibiarkan tanpa adanya pengelolaan sebagian siswa sulit memahami simbol-simbol
kecemasan matematika yang baik, matematika yang ada pada pelajaran
dikhawatirkan akan berdampak buruk matematika; (7) sebagian besar siswa kurang
terhadap persepsi siswa pada mata pelajaran mampu dalam hal mengoperasikan bilangan;
matematika. dan (8) sebagian besar siswa merasa takut
Kecemasan matematika didefinisikan untuk bertanya kepada guru mengenai materi
sebagai perasaan kecemasan bahwa seseorang yang belum dipahami. Berdasarkan hasil
tidak dapat melakukan sesuatu dengan efisien wawancara kepada beberapa siswa, dapat
dalam situasi yang melibatkan, penggunaan disimpulkan bahwa sebagian besar siswa
matematika (Joseph, 2012: 2). Sebelumnya kelas VIII di Sekolah Menengah Pertama
Sue (dalam Atikah, 2011: 25) berpendapat Negeri 1 Sungai Raya mengalami kecemasan
telah merincikan 4 komponen yaitu: (1) matematika.
Secara kognitif, dapat bervariasi dari rasa Hal ini sejalan dengan pendapat Haralson
khawatir yang ringan sampai panik. Biasanya (2002) yang membagi gejala kecemasan
bila terus dikhawatirkan bisa mengalami sulit menjadi dua aspek: (1) Gejala fisik kecemasan
berkonsentrasi, sulit mengambil keputusan matematika yaitu berupa perut mual, tangan
dan lebih jauh lagi bisa insomnia (sulit tidur); dan kaki berkeringat, meningkat atau detak
(2) Secara afektif (perasaan), individu mudah jantung tidak teratur ketegangan otot, tangan
tersinggung, gelisah atau tidak tenang, hingga terkepal, bahu ketat, merasa pingsan, sesak
akhirnya memungkinkan terkena depresi; (3) napas, sakit kepala, gemetaran, mulut kering,
Secara motorik (gerak tubuh), seperti gemetar keringat dingin dan keringat berlebih; (2)
sampai dengan goncangan tubuh yang berat, Gejala psikologis kecemasan matematika
sering gugup dan kesulitan dalam berbicara; yaitu berupa berfikiran negatif, panik atau
(4) Secara somatik (reaksi fisik dan biologis), takut, khawatir, ketakutan, keinginan untuk
dapat berupa gangguan pernafasan, jantung melarikan diri situasi atau menghindarinya
berdebar, berkeringat, tekanan darah tinggi sama sekali, perasaan tidak berdaya atau
ketidakmampuan untuk mengatasi persoalan

2
dalam matematika, disorganisasi mental, diseluruh dunia, meningkatnya kecemasan
berpikir koheren, perasaan kegagalan atau matematika terkait dengan penurunan prestasi
tidak berharga, ketegangan ekstrim dan gugup dalam belajar matematika (Lee, 2009:19).
dan ketidakmampuan untuk mengingat materi Masalah ini terjadi dikarena matematika
yang dipelajari. Lebih lanjut Haralson (2002) merupakan pengetahuan objektif yang
mengatakan bahwa kecemasan matematika diproses melalui langkah-langkah panjang
juga dapat disebabkan oleh: (1) sikap orang dari ide-ide para ilmuan. Siswa adalah orang
tua, guru atau orang lain dalam lingkungan yang baru mau belajar menjadi seorang
belajar; (2) beberapa insiden tertentu dalam ilmuan. Pada umumnya guru mengajar tanpa
sejarah matematika siswa yang menakutkan memberi tahu langkah-langkah menemukan
atau memalukan; (3) miskin konsep diri yang rumus yang akan digunakan siswa dalam
disebabkan oleh sejarah masa lalu dari menghitung. Kalaupun guru memberi tahu
kegagalan. langkah-langkah dalam menemukan rumus,
Dari studi yang telah dilakukan, guru hanya memberi tahu seadanya saja. Hal
penyebab dari kecemasan matematika ini berdampak pada pengetahuan yang
kompleks dan disebabkan oleh faktor dimiliki siswa dan ilmuan menjadi sangatlah
kepribadian, intelektual dan lingkungan. jauh, akibatnya pengetahuan yang seharusnya
Faktor kepribadian yaitu penghargaan diri siswa ketahui banyak yang tidak
yang rendah, ketidakmampuan dalam tersampaikan. Pengetahuan yang tidak
mengontrol frustasi, rasa malu dan intimidasi. tersampaikan tersebut membuat dalam belajar
Secara intelektual, faktor yang berkontribusi matematika menjadi semakin abstrak,
kuat adalah ketidakmampuan dalam akibatnya siswa terpaksa untuk menghafal
memahami konsep matematika, rumus matematika yang jumlahnya tidak
ketidaktepatan dalam gaya belajar dan sedikit.
keraguan diri akan kemampuan. Sedang faktor Berdasarkan uraian di atas, dalam usaha
terakhir adalah lingkungan. Faktor tersebut untuk mengurangi terjadinya kecemasan
sangat bergantung kepada dua macam. Hal matematika pada siswa. Oleh sebab itu,
pertama adalah orang tua, dimana harapan dan peneliti ingin mengkaji lebih dalam lagi
tekanan persepsi orang tua yang sangat kuat. mengenai deskripsi tingkat dan faktor
Kedua adalah pengalaman negatif dengan kecemasan matematika pada siswa kelas
kelas, seperti buku teks yang tidak bermutu, VIIID di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
penekanan pada sistem drill tanpa pemahaman Sungai Raya.
dan guru matematika yang kurang kompeten
(Hadfield and McNeil dalam Steve, 2009: 61- METODE PENELITIAN
69). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Metode penelitian yang digunakan adalah
Ashcraft & Kirk (2001) menunjukkan bahwa metode deskriptif. Menurut Nawawi (2012:
ada korelasi antara kecemasan matematika 67) metode deskriptif adalah prosedur
dan kemampuan verbal atau bakat serta pemecahan masalah yang diselidiki dengan
Intelectual Quotion (IQ). menggambarkan atau melukiskan keeadaan
Kecemasan matematika sudah menjadi subjek atau objek penelitian seseorang,
masalah yang mengglobal. Hal ini sejalan lembaga, masyarakat, dan lain-lain pada saat
dengan hasil penelitian Olaniyan dan Medinat sekarang ini berdasarkan fakta-fakta yang
F. Salman (2015) diantaranya menyimpulkan tampak sebagaimana adanya.
bahwa kecemasan matematika telah tumbuh Adapun tujuan penelitian ini adalah
di kalangan siswa tingkat Sekolah Menengah mengetahui tingkat dan faktor kecemasan
Atas di Nigeria. Di Amerika Serikat, mateatika kelas VIIID Sekolah Menengah
diperkirakan 25% hingga 80% dari mahasiswa Pertama Negeri 1 Sungai Raya. Dalam
di tahun keempat dan masyarakat menderita penelitian ini, peneliti tidak memanipulasi
kecemasan matematika sedang sampai tingkat ataupun memberikan perlakuan terhadap
tinggi (Beilock & Willingham, 2014: 30) dan variabel penelitian. Oleh karena itu, penelitian

3
yang digunakan adalah penelitian non- Prosedur yang dilakukan dalam
eksperimen (ex post facto). Menurut Dantes penelitian untuk mengetahui tingkat dan
(2012: 59) penelitian ex post facto artinya faktor yang menyebabkan kecemasan
penelitian yang merujuk kepada variabel matematika adalah sebagai berikut:
bebas yang secara wajar tanpa adanya usaha
sengaja memberikan perlakuan ataupun Tahap Persiapan
manipulasi, tinggal melihat efeknya pada Langkah-langkah yang dilakukan pada
variabel terikat. tahap persiapan antara lain: (1) Melakukan
Adapun subjek penelitian ini adalah observasi di Program Studi Pendidikan
siswa yang memiliki karakteristik sebagai Matematika Jurusan Pendidikan MIPA
berikut: (1) Siswa kelas VIIID Sekolah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Universitas Tanjungpura; (2) Melakukan
yang sudah belajar materi Phytagoras; (2) wawancara dengan beberapa mahasiswa
Siswa yang terdaftar pada tahun pelajaran Program Studi Pendidikan Matematika
2016/2017 di kelas VIIID Sekolah Menengah Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan
Pertama Negeri Sungai Raya. Objek dalam dan Ilmu Pendidikan Universitas
penelitian ini adalah faktor kecemasan Tanjungpura; (3) Membuat surat prariset dari
matematika. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Dalam penelitian ini, teknik Universitas Tanjungpura untuk melakukan
pengumpulan data yang dugunakan adalah penelitian di Sekolah Menengah Pertama
teknik pengukuran dengan tertulis dan teknik Negeri 1 Sungai Raya; (4) Melakukan prariset
komunikasi langsung. Teknik pengukuran ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
dengan tertulis yang dimaksud dalam Sungai Raya; (5) Menyusun desain penelitian;
penelitian ini adalah berupa tes dan angket. (5) Membuat instrumen penelitian berupa
Tes yang digunakan dalam penelitian ini kisi-kisi angket tingkat kecemasan
adalah tes yang ada dibuku paket siswa dan matematika, angket tingkat kecemasan
angket yang digunakan dalam penelitian ini matematika, kisi-kisi tes, soal tes, kunci
adalah angket tingkat kecemasan matematika. jawaban tes, rubrik penilaian tes, kisi-kisi
Teknik komunikasi langsung merupakan cara wawancara dan pedoman wawancara; (6)
mengumpulkan data melalui pernyataan yang Melakukan validasi instrumen penelitian; (7)
disampaikan secara lisan dengan cara Merevisi instrumen penelitian berdasarkan
memberi seperangkat pertanyaan atau hasil validasi; (8) Menentukan waktu uji coba
pernyataan lisan berupa dialog. Dalam soal tes dan angket tingkat kecemasan
penelitian ini, teknik komunikasi langsung matematika di Sekolah Menengah Pertama
berupa wawancara yang diberikan setelah Negeri 2 Sungai Raya; (9) Mengadakan uji
siswa menyelesaikan soal tes. Instrumen coba soal tes dan angket tingkat kecemasan
angket tingkat kecemasan matematika, tes matematika; (10) Menganalisis data hasil uji
essay dan wawancara yang telah divalidasi coba instrumen untuk mengetahui tingkat
oleh satu orang dosen Pendidikan Matematika reabilitas instrumen; (11) Melakukan revisi
FKIP Untan dan dua orang guru matematika instrumen; (12) Menentukan waktu
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai pelaksanaan dan sampel penelitian dengan
Raya dengan hasil validitas bahwa instrumen berkonsultasi dengan guru matematika yang
yang digunakan valid. Berdasarkan hasil uji mengajar di kelas VIIID Sekolah Menengah
coba yang dilakukan di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya.
Pertama Negeri 2 Sungai Raya diperoleh
keterangan bahwa tingkat reliabilitas tes essay Tahap Pelaksanaan
dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,97 dan Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap
angket tingkat kecemasan dengan koefisien persiapan antara lain: (1) Memberikan angket
reliabilitas sebesar 0,78. tingkat kecemasan matematika; (2)
Menganalisis angket tingkat kecemasan

4
matematika; (3) Mengelompokkan siswa dan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa; (7)
tingkat kecemasan kategori (ringan, sedang, Menarik kesimpulan dari data kualitatif yang
berat dan panik) berdasarkan hasil angket diperoleh, yaitu mengetahui faktor kecemasan
tingkat kecemasan matematika; (4) matematika.
Memberikan soal tes; (5) Menganalisis
jawaban siswa; (6) Mewawancarai siswa. HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Tahap Pengolahan Data
Langkah-langkah yang dilakukan pada tahap Hasil Penelitian
persiapan antara lain: (1) Mengumpulkan Angket kecemasan yang diberikan
hasil data kuantitatif dan kualitatif; kepada 38 sampel berisi 34 pernyataan (18
(2)Melakukan analisis data kuantitatif pernyataan positif dan 16 pernyataan negatif)
terhadap hasil tingkat kecemasan matematika yang memuat komponen-komponen untuk
dan hasil tes; (3) Melakaukan analisis data mengukur tingkat kecemasan siswa,
kualitatif terhadap hasil wawancara siswa; (4) diantaranya komponen emosi, komponen
Menyusun Laporan Penelitian; (5) motorik, komponen kognitif, dan komponen
Mendeskripsikan hasil pengelolahan data dan somatik (kisi-kisi dan angket kecemasan
menyimpulkan sebagai jawaban dari masalah terlampir). Data angket tersebut diolah
dalam penelitian ini. Prosedur yang dilakukan menggunakan bantuan program Ms. Excell
dalam penelitian untuk mengetahui respon 2007. Interpretasi skor tingkat kecemasan
hasil wawancara siswa adalah: (a) dapat dilakukan secara langsung dengan
Memberikan dan mencatat hasil wawancara; mengganti respon subjek dengan skor angka.
(b) Menganalisis dan mendeskripsikan data; Hasil angket tingkat kecemasan matematika
(c) Membuat kesimpulan; (d) Penarikan siswa kelas VIIID di Sekolah Menengah
Kesimpulan; (6) Menarik kesimpulan dari Pertama Negeri 1 Sungai Raya secara ringkas
data kuantitaif yang diperoleh, yaitu dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:
mengetahui tingkat kecemasan matematika

Tabel 1
Tingkat Kecemasan Matematika Siswa

No Tingkat Kecemasan Frekuensi


1 Ringan/rendah 0
2 Sedang 19
3 Berat 19
4 Panik 0
Jumlah 38

Dari Tabel 1 menunjukkan bahwa siswa Berdasarkan hasil tes essay siswa dalam
dengan tingkat kecemasan sedang sebanyak menyelesaikan soal sekaligus penggolongan
19 orang, dan dengan tingkat kecemasan berat kemampuan sesuai dengan yang telah
sebanyak 19 orang. Secara keseluruhan siswa ditetapkan. Tes diberikan kepada 38 sampel
kelas VIIID di Sekolah Menengah Pertama penelitian berupa soal essay dengan materi
Negeri 1 Sungai Raya memiliki tingkat pythagoras. Hasil tes essay siswa kelas VIIID
kecemasan matematika sedang hingga berat di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1
terhadap matemati pythagoras. Sungai Raya secara ringkas dapat dilihat pada
Tabel 2 berikut:

5
Tabel 2
Hasil Tes Essay Siswa

No Tingkat Hasil Tes Frekuensi


1 Sangat rendah 0
2 Rendah 11
3 Sedang 11
4 Tinggi 12
5 Sangat Tinggi 4
Jumlah 38

Dari Tabel 2 menunjukkan bahwa tidak informasi yang lebih rinci mengenai
ada siswa dengan kemampuan penyelesaian permasalah yang dihadapi siswa selama
masalah sangat rendah, siswa dengan belajar materi pythagoras, diantaranya: (1)
kemampuan penyelesaian masalah rendah Siswa menganggap pelajaran matematika
sebanyak 11 siswa, siswa dengan kemampuan merupakan pelajaran yang sulit yaitu sebagian
penyelesaian masalah sedang 11 siswa, siswa besar siswa berada pada kalangan keluarga
dengan kemampuan penyelesaian masalah yang menganggap pelajaran matematika sulit,
tinggi 12 siswa, dan siswa dengan sehinggap berdampak pada keturunan
kemampuan penyelesaian masalah sangat selanjutnya pada keluarga tersebut; (2) Siswa
tinggi 4 siswa. Secara keseluruhan siswa kelas merasa khawatir disebabkan kurang
VIIID di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 memahami materi; (3) Siswa pada tingkat
Sungai Raya memiliki kemampuan kecemasan sedang kadang-kadang merasa
menyelesaikan masalah rendah hingga sangat takut, gugup, tegang, was-was atau khawatir;
tinggi dalam menyelesaikan soal. (4) Siswa pada tingkat kecemasan berat sering
Wawancara dilakukan pada penelitian ini merasa takut, gugup, tegang, was-was atau
bertujuan untuk menggali informasi mengenai khawatir; (5) Siswa pada tingkat kecemasan
faktor kecemasan matematika siswa. Oleh sedang dapat mengetahui solusi untuk
karena itu, pertanyaan yang diajukan kepada mengatasi kecemasan yang dirasakan akan
siswa hanya mengenai hal-hal yang membuat tetapi sebagian besar siswa tidak mengerjakan
siswa tidak merasa nyaman ketika belajar secara maksimal; (6) Sebagian besar siswa
materi pythagoras. Transkip hasil wawancara pada tingkat kecemasan berat tidak
dapat dilihat pada (terlampir). mengetahui solusi untuk mengatasi
Wawancara ini dilakukan dengan 10 kecemasan yang dirasakan, sehingga
siswa, dengan ketentuan setiap tingkat kecemasan yang dirasakan siswa tidak
kecemasan diwakili oleh 5 siswa. Pada hasil tertangani dengan baik; (7) Siswa merasa
angket tingkat kecemasan sebelumnya, siswa cemas ketika melihat temannya sudah selesai
kelas VIIID di Sekolah Menengah Pertama lebih dahulu dalam mengerjakan soal; (8)
Negeri 1 Sungai Raya, hanya terbagi menjadi Siswa pada tingkat kecemasan berat merasa
dua kategori tingkat kecemasan yaitu tingkat tidak betah berada di dalam kelas saat belajar
kecemasan rendah dan tingkat kecemasan matematika; (9) Siswa merasa gemetaran
berat. Siswa dipilih untuk mewakili tingkat ketika diminta untuk menyelesaikan soal yang
kecemasan sedang adalah RRP, DK, ADA, F, ada di depan kelas; (10) Siswa dengan tingkat
dan PKW. Siswa yang dipilih untuk mewakili kecemasan sedang lebih merasa nyaman
tingkat kecemasan berat adalah IP, MF, SA, belajar sendiri dan membutuhkan bantuan
EN, dan N. orang lain seperlunya saja; (11) Siswa dengan
Dari wawancara yang dilakukan kepada tingkat kecemasan berat membutuhkan orang
10 orang siswa yang berada pada tingkat lain agar dapat berkonsentrasi dan membantu
kecemasan yang berbeda ini, diperoleh ketika merasa bingung; (12) Siswa dengan

6
tingkat kecemasan sedang lebih percaya diri menyelesaikan soal matematika yang
bertanya kepada guru; (13) Siswa dengan diberikan.
tingkat kecemasan berat takut untuk bertanya Adapun untuk kecemasan tingkat panik
kepada guru; (14) Siswa dengan tingkat menurut Peplau (dalam Suliswati dkk, 2005:
kecemasan sedang sedikit merasakan detak 48) merupakan kecemasan yang berhubungan
jantung berdebar lebih kencang dan tidak dengan rasa takut merupakan bentuk
berkeringat ketika diminta untuk mengerjakan kecemasan yang ekstrim. Seorang individu
soal di depan kelas; (15) Siswa dengan tingkat dengan kecemasan tingkat panik mengalami
kecemasan berat merasakan detak jantung kehilangan kendali dan tidak mampu
berdebar lebih kencang dan berkeringat ketika melakukan sesuatu walaupun dengan arahan.
diminta untuk mengerjakan soal di depan Sebanyak 0 subjek penelitian berada dalam
kelas; (16) Siswa merasa tidak tenang dalam kategori kecemasan tingkat panik.
belajar. Hasil penelitian ini sejalan dengan
pengamatan penelitian saat pengambilan data
Pembahasan Penelitian pemecahan masalah, dimana banyak siswa
Adapun kecemasan matematika siswa yang menunjukkan gejala-gejala kecemasan,
dikelompokkan menjadi empat tingkatan, seperti raut wajah tegang dan berkomentar
yaitu kecemasan tingkat rendah, kecemasan bahwa soal tes yang diberikan sukar, meski
tingkat sedang, kecemasan tingkat berat, dan belum melihat secara keseluruhan tes yang
kecemasan tingkat panik. Kecemasan tingkat diberikan. Saat proses pengerjaan soal
rendah menurut Peplau (dalam Suliswati dkk, berlangsung banyak siswa yang memijit-mijit
2005: 48) merupakan tingkat kecemasan yang kening, memberi tatapan lelah, mengeluh,
menyebabkan individu menjadi waspada dan bersikap gelisah, menunjukkan sikap kurang
meningkatkan lapang persepsi. Kecemasan ini percaya diri dan mencoret-coret kertas tapi
dapat memotivasi belajar dan menumbuhkan bukan merupakan solusi dari tes yang
kreativitas. Dalam penelitian ini, subjek diberikan.
penelitian yang memiliki kecemasan tingkat Berdasarkan paparan diatas, dapat
rendah sebanyak 0 orang. disimpulkan bahwa tingkat kecemasan siswa
Kecemasan tingkat sedang menurut masih cukup tinggi saat belajar matematika.
Peplau (dalam Suliswati dkk, 2005: 48) Siswa masih menganggap matematika itu
merupakan kecemasan yang mempersempit menakutkan sehingga akan mempengaruhi
lapang persepsi individu. Sebanyak 19 subjek hasil belajar mereka nantinya.
penelitian tergolong dalam kecemasan tingkat Kecemasan bisa bersifat adaptif di
sedang. Siswa-siswa yang tergolong dalam tingkat rendah dan sedang, karena berfungsi
kecemasan tingkat sedang ini adalah siswa- sebagai sinyal bahwa orang itu harus
siswa yang ketika belajar matematika mempersiapkan diri untuk kejadian yang akan
menunjukkan sikap biasa-biasa saja, tidak datang. Respons emosional itu dapat
terlalu antusias, tapi tidak juga menghindar membantu untuk memulai dan
ketika disuruh menyelesaikan soal yang mempertahankan usaha untuk belajar.
diberikan. Sebaliknya, tingkat kecemasan yang tinggi
Kecemasan tingkat berat menurut Peplau akan mengurangi kemampuan dengan
(dalam Suliswati dkk, 2005: 48) merupakan mendisrupsi konsentrasi dan kinerja. Hal ini
kecemasan dimana individu cenderung sejalan dengan pendapat Sukmadinata (2003:
berfokus pada sesuatu yang rinci dan spesifik 84) kecemasan memiliki nilai positif, asalkan
serta tidak berpikir tentang hal lain. Sebanyak intensitasnya tidak begitu kuat, sebab
19 subjek penelitian yang tergolong dalam kecemasan yang ringan dapat merupakan
kecemasan tingkat berat. Siswa dengan motivasi. Oleh sebab itu, perlu adanya
tingkat kecemasan berat ketika belajar pengelolahan kecemasan kepada 19 siswa
matematika sering menunjukkan sikap takut yang mengalami tingkat kecemasan
dan enggan ketika belajar maupun

7
matematika sedang agar prestasi belajar siswa kecemasan sedang dengan hasil tes tergolong
mengalami perkembangan yang lebih baik. sangat tinggi sebanyak 2 orang, hasil tes
Kemampuan siswa dalam menyelesaikan tergolong tinggi sebanyak 3 orang, hasil tes
soal dilihat dari empat langkah proses tergolong sedang sebanyak 8 orang, dan hasil
penyelesaian masalah, yaitu memahami tes tergolong rendah sebanyak 6 orang. Siswa
masalah, membuat rencana pemecahan yang memiliki tingkat kecemasan berat
masalah, melaksanakan rencana, dan dengan hasil tes tergolong sangat tinggi
menelaah kembali. sebanyak 2 orang, hasil tes tergolong tinggi
Berdasarkan hasil jawaban siswa dari sebanyak 9 orang, hasil tes tergolong sedang
lima soal yang diberikan, untuk soal pertama sebanyak 2 orang, dan hasil tes tergolong
sebanyak 10,53%, untuk soal kedua sebanyak rendah sebanyak 6 orang.
52,63%, untuk soal ketiga 0%, untuk soal Maka dapat jelaskan bahwa sebagian
keempat 2,63% dan 26,32% subjek penelitian besar kecemasan matematika memberi
bisa menjawab dengan sangat tepat. dampak negatif terhadap hasil tes yang
Berdasarkan persentase ini, dapat dilihat diperoleh siswa, bahkan beberapa siswa
bahwa kemampuan siswa dalam mendapatkan nilai dibawah standar ketuntasan
menyelesaikan soal dengan sangat tepat yang ditentukan oleh sekolah. Hal ini sejalan
tergolong rendah. Siswa bisa menuliskan apa dengan pendapat Joseph (2012) yang
yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari mengungkapkan bahwa kecemasan
soal dengan cukup baik. Kemampuan siswa matematika didefinisikan sebagai perasaan
mulai berkurang ketika diminta untuk kecemasan bahwa seseorang tidak dapat
menuliskan rencana penyelesaian dari soal. melakukan sesuatu dengan efisien dalam
Tidak semua siswa bisa menuliskan rumus situasi yang melibatkan, penggunaan
apa yang harus digunakan, langkah seperti apa matematika. Demi meningkatkan hasil belajar
yang harus diambil ketika dihadapkan dalam siswa, satu diantara alternatif yang bisa dicoba
satu permasalahan. Hal yang sama juga adalah menciptakan suasana yang
berlaku ketika siswa diminta untuk menyenangkan sehingga siswa bisa merasa
melaksanakan rencana yang telah mereka tenang dan rileks dalam belajar matematika.
susun. Jika mereka berhasil menuliskan Berbagai metode pembelajaran yang
rencana penyelesaian, belum tentu mereka mengusung tema fun learning bisa diterapkan
juga akan berhasil dalam melaksanakan untuk menciptakan suasana yang
rencana tersebut. Sebagian besar siswa masih menyenangkan. Pembelajaran yang tidak
keliru dalam mendapatkan hasil yang benar terpusat hanya kepada guru, sehingga siswa
dan lengkap dari soal yang diberikan. merasa dilibatkan dan dianggap penting dalam
Kesalahan tersebut terletak pada kekeliruan proses pembelajaran juga bisa menjadi
dalam memilih rumus/rencana penyelesaian, alternatif untuk menciptakan suasana yang
dan kekeliruan dalam mengeksekusi/ kondusif. Dengan suasana belajar yang
melaksanakan rencana tersebut. Selain itu, kondusif dan mendukung secara psikis,
siswa juga malas dalam melakukan diharapkan siswa bisa menyerap pelajaran
pengecekan terhadap jawaban mereka. Sedikit dengan lebih baik, sehingga kemampuannya
siswa yang menelaah kembali pekerjaan yang dalam menyelesaikan masalah juga akan
telah mereka selesaikan. Kebanyakan siswa semakin baik. Tentunya hal ini bukan satu-
berhenti mengerjakan ketika hasil akhir sudah satunya cara yang bisa dilakukan. Alternatif
didapat, padahal belum tentu hasil yang lain adalah dengan meningkatkan kemampuan
mereka peroleh adalah jawaban dari soal yang dasar bermatematika siswa dengan rutin
diberikan. Menjadi PR penting bagi para guru memberikan soal-soal latihan yang sedikit
dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam berbeda dengan contoh agar kemampuan
menyelesaikan masalah matematika ini. siswa dalam menyelesaikan masalah semakin
Berdasarkan hasil pengolahan data dapat terasah, dan diharapkan kemampuan siswa
diketahui bahwa siswa yang memiliki tingkat

8
meningkat seiring dengan semakin seringnya jantung berdebar lebih kencang dan
latihan soal diberikan. berkeringat. Jantung berdebar lebih kencang
Berdasarkan hasil wawancara dapat dan berkeringat merupakan salah satu ciri-ciri
diketahui bahwa faktor kecemasan seseorang yang sedang mengalami cemas; (5)
matematika yaitu: (1) Persepsi buruk terhadap Pengalaman kurang menyenangkan di masa
pelajaran matematika didalam kalangan lalu. Sebagian besar siswa merasa cemas
keluarga. Sebagian besar siswa beranggapan ketika mengingat kejadian yang menurutnya
pelajaran matematika merupakan pelajaran tidak menyenangkan. Hal ini diperkuat
yang sulit berdasarkan anggapan dari berdasarkan hasil wawancara N, yang
keluarga. Hal ini diperkuat dari hasil mengatakan bahwa merasa terbayang-bayang
wawancara MF, yang mengatakan bahwa ketika guru memarahinya ketika tidak dapat
anggapan sulit ketika belajar matematika juga menyelesaikan soal di papan tulis. Aspek
dikatakan oleh keluarganya. Apabila psikologi merupakan salah satu hal yang
anggapan seperti itu terus dibiarkan, akan seharusnya diperhatikan oleh guru, karena
mengakibatkan merasa terpaksanya siswa membuat siswa merasa aman saat belajar akan
untuk belajar matematika; (2) Kurangnya membuat siswa lebih tenang untuk belajar; (6)
Scaffolding yang diberikan oleh guru. tidak ada motivasi dalam belajar matematika.
Sebagian besar siswa merasa binggung ketika Sebagia besar siswa membutuhkan motivasi
diberikan suatu persolan namun guru tidak dalam belajar matematika. Hal ini diperkuat
memberi tahu bagaimana harus berdasarkan hasil angket kecemasan yang
menyelesaikannya. Hal ini diperkuat mengungkapkan sebanyak 22 siswa merasa
berdasarkan hasil wawancara RRP, yang dirinya memiliki motivasi belajar yang baik,
mengatakan bahwa ketika merasa kurang akan tetapi sebagian besar siswa mendapatkan
memahami materi, guru memaksa siswa untuk nilai yang cukup buruk. Pentingnya motivasi
tetap paham dan apabila diberi suatu dalam belajar matematika sangatlah harus
persoalan yang tidak ada satupun siswa diperhatikan, karena siswa yang memiliki
ketahui cara menjawabnya, maka guru akan motivasi belajar yang baik, rasa kecemasan
membiarkan siswa untuk mencari jawabannya matematika yang dimiliki siswa akan sedikit
sendiri. Hal ini merupakan tindakan yang berkurang.
kurang baik, karena informasi yang Hal ini sejalan dengan hasil penelitian
seharusnya siswa miliki menjadi tidak Hadfield and Mc Neil (dalam Steve, 2009: 61-
terssampaikan dan di khawatirkan akan 69) yang menyatakan bahwa penyebab dari
berdampak kepada materi selanjutnya; (3) kecemasan matematika kompleks dan
Lingkugan yang kurang mendukung untuk disebabkan oleh faktor kepribadian,
belajar. Lingkugan merupakan salah satu yang intelektual dan lingkungan. Faktor
berpengaruh terhadap proses pembelajaran, kepribadian yaitu persepsi buruk terhadap
apabila lingkungan kurang mendukung untuk pelajaran matematika. Secara intelektual,
belajar, maka akan mengakibatkan kurang faktor yang berkontribusi kuat adalah
tepatnya informasi yang akan didapatkan kurangnya percaraya diri dalam
siswa. Hal ini diperkuat menurut hasil menyelesaikan persoalan yang ada didepan
wawancara IP, yang mengatakan merasa tidak kelas sehingga mengakibatkan ketakutan yang
fokus selama belajar karena kondisi kelas tidak terkendali. Sedangkan faktor terakhir
yang ribut saat sedang belajar; (4) adalah lingkungan. Faktor tersebut sangat
Menyelesaikan persoalan di depan kelas. bergantung kepada dua macam. Hal pertama
Sebagian besar siswa merasa cemas ketika adalah orang tua, dimana anggapan buruk
diminta untuk menyelesaikan persoalan yang terhadap pelajaran matematika di dalam
ada di depan kelas. Hal ini diperkuat kalangan keluarga. Kedua adalah kurang
berdasarkan hasil wawancara IP, yang kondusifnya lingkungan belajar, pengalaman
mengatakan ketika diminta untuk negatif di masa lalu dan kurangnya scaffoling
menyelesaikan soal di depan kelas seketika yang diberikan oleh guru sehingga

9
mengakibatkan kebinggungan yang dialami Journal of Experimental Psyhology:
oleh siswa. General.
Ashcraft, M. H. (2002). Math Anxiety:
SIMPULAN DAN SARAN Personal, Educational and Cognitive
Consequences. Current Directions in
Simpulan Psychological Science, 11 (5)
Berdasarkan hasil analisis angket Atikah. (2011). Faktor-Faktor yang
kecemasan dari 38 siswa kelas VIIID di Berpengaruh Terhadap Kecemasan
Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Orang Tua akan Keselamatan Remaja.
Raya tahun pelajaran 2016/2017 dalam belajar Fakultas Psikologi: UIN Syarif
materi pythagoras, dapat disimpulkan bahwa Hidayatullah Jakarta.
sebanyak 19 siswa mengalami tingkat Beilock, S.L., & Willingham. D. T. (2014).
kecemasan matematika berat dan sebanyak 19 Ask the cognitive scientist “Math
siswa mengalami tingkat kecemasan Anxiety: Can Teachers Help Student
matematika sedang. Berdasarkan pada Reduce It ?. American Educator.
wawancara, bahwa faktor kecemasan Dantes, N. (2012). Metode Penelitian.
matematika siswa kelas VIIID di Sekolah Yogyakarta: Penerbit Andi.
Menengah Pertama Negeri 1 Sungai Raya Haralson, K. (2002). Math Anxiety: Myth or
tahun pelajaran 2016/2017 adalah sebagai Monster?. (Online).
berikut: (1) Tingkat kecemasan matematika (https://www.google.com/url?q=http://w
sedang yaitu: (a) Kurangnya Scaffolding yang ww.apsu.edu/sites/apsu.edu/files/haralso
diberikan oleh guru; (b) Lingkugan yang nk/anxiety_presentationpaducah.ppt&sa=
kurang mendukung untuk belajar; (c) U&ved=0ahUKEwjb_9SXnYfRAhXEt4
Menyelesaikan persoalan di depan kelas; (d) 8KHfeHCXgQFggEMAA&client=intern
Motivasi dalam belajar matematika; (2) al-udscse&usg=AF
Tingkat kecemasan matematika berat yaitu: QjCNGl95SWzfmBo2GBk1BtfE57qV8I
(a) Kurangnya Scaffolding yang diberikan w, diakses pada tanggal 22 November
oleh guru; (b) Lingkugan yang kurang 2016)
mendukung untuk belajar; (c) Menyelesaikan Joseph, A. (2016). Definition of Math
persoalan di depan kelas; (d) Pengalaman Anxiety. (Online).
kurang menyenangkan di masa lalu; (http://www.ehow.com/facts_5666297_d
(e)Motivasi dalam belajar matematika. efinition-math-anxiety.html, diakses pada
tanggal 3 Januari 2017).
Saran Lee, J. (2009). Universals and specifics of
Berdasarkan hasil penelitian dan math self-concept, math self-efficacy,
kesimpulan di atas maka disarankan kepada and math anxiety across 41 PISA 2003
penelitian lain yaitu: (1) Penelitian ini participating countries. Learning and
sebaiknya dilakukan dengan memperhatikan Individual Differences.
keefektifan suasana yang terjadi di dalam Nawawi, H. (2012). Penelitian Terapan.
kelas; (2) Berdasarkan hasil penelitian, maka Yogyakarta: Gajah Mada University.
diberikan saran bagi peneliti yang ingin Olaniyan, O. M., & Medinat F. Salman.
mengambil penelitian sejenis agar dilakukan (2015). “Cause of Mathematics Phobia
penelitian lanjutan untuk mendalami faktor among Senior High School Students:
yang mempengaruhi tingkat kecemasan. Empirical Evidence from Nigeria”.
Journal of the African Educational and
DAFTAR RUJUKAN Research Network 1(15): 50-56.
(Online).
Ashcraft, M. H. & Kirk, E. P. (2001). The (http://africanresearch.org/africansympos
Relationships Among Working Memory, ium/archives/TAS15.1/TAS15.1Olaniyan
Math Anxiety, and Performance.

10
.pdf, diakses pada tanggal 22 November siswa-di-sekolah/comment-page-1/,
2016). diakses pada tanggal 06 Juni 2017).
Steve, C.(2009). Mathematics Anxiety in Sukmadinata, N. S. (2003). Landasan
Secondary Students in England. Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:
Dislexia 15. Rosdakarya.
Sudrajat, A. (2008). Upaya Mencegah Suliswati, S.Kp., M.Kes, dkk. (2005). Konsep
Kecemasan Siswa di Sekolah. (Online). Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa.
(https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2 Jakarta: Encourage Creativity
008/07/01/upaya-mencegah-kecemasan-

11
12