Anda di halaman 1dari 23

Jawaban Ujian Prelim Terlulis

Untuk PROGRAM STUDI S3 KMP 2018

Mirza Shahreza

NRP: I362170021

Dosen Pengampu:

Dr. Ir. Sarwititi Sarwoprasodjo, MS

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Komunikasi Pembangunan Pertanian Dan Pedesaan

Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

2018

1
1. Apa persamaan dan perebedaan komunikasi strategis (strategic communicatinon) dan
komunikasi partisipatori dalam Wilkins dkk (2014)? Apa keterkaiatan keduanya
menurut penulis? Jelaskan!

Jawab:

 Persamaan komunikasi strategis dan komunikasi partisipatori adalah keduanya adalah


bidang yang sangat penting dalam proses komunikasi pembangunan. Sebagaimana fungsi
komunikasi, komunikasi pembangunan adalah untuk dapat menciptakan ruang dalam
penyampaian dan berbagi informasi tentang kegiatan pembangunan. Jadi komunikasi
pembangunan dan perubahan sosial terdiri dari dua paradigma yaitu, paradigma
informasi atau yang disebut juga komunikasi strategis dan paradigma partisipatif yang
disebut komunkasi partispatif.
 Perbedaannya adalah komunikasi strategis adalah bentuk komunikasi dari atas kebawah
(top down), sebuah bentuk komunkasi organisasi yang inisiatif untuk meningkatkan
kesadaran dan dalam rangka mendapatkan dukungan opini publik atau masyarakat.
Komunikasi strategis berfokus pada memfasilitasi dan mengkatalisasi dialog, debat dan
partisipasi, membangun kapasitas/ kemampuan masyarakat dan memimpin proses
dengan target audiens/ masyarakat dapat mendorong diri mereka sendiri, baik dalam
gerakan sosial, masyarakaat sipil, dan juga organisasi publik/ swasta sehingga individu
atau secara bersama (kolektif) lebih besar keterlibatannya. Komunikasi strategis juga
merupakan paradigma persuasif, yang secara positif sebagai seperangkat tindakan
terencana yang didasari kombinasi fakta, ide, dan teori yang terintegrasi dengan
rancangan kedepan untuk mencapai tujaun (Wilkins, 2014: 149). Komunikasi partisipatif
adalah tentang memberikan suara kepada para pemangku kepentingan dan
mengekspresikan perspektif dan kebutuhan mereka dan dapat merundingkan masalah
yang kompleks. Berarti komunikasi partisipatif adalah komunikasi yang terjadi dari
bawah ke atas (bottom-up). Komunikasi partisipatif sangat berbeda dengan komunikasi
strategis. Model partisipatif memahami komunikasi dengan pendekatan dialog,
menanamkan rasa kebersamaan melalui dialog dan tindakan. Dalam komunikasi
partisipatif menjunjung tinggi gagasan komunikasi yang demokratis yang
diidentifikasikan dengan adanya pertukaran gagasan yang bebas di antara anggota
masyarakat. Kondisi ini memungkinkan terjadinya pemahaman bersama yang
mendukung terjadinya dialog dalam komunitas, yaitu terjadinya saling belajar,
solidaritas, dan gerakan secara kolektif (Wilkins, 2014: 151).

Tabel 1 Perbandingan Komunikasi Strategis dan Partisipatif

No Konteks Komunikasi Strategis Komunikasi Partisipatif


1 Paradigma Informasi, persuasi, dan Partisipatif (Wilkins dkk,
pengaruh (Wilkins dkk, 2014: 150).
2014: 150).
2 Arus (proses) Linear (satu arah) dan top- Dua arah (dialog), bottom-up,
down, membangun pengaruh partisipatif (kesadaran),
dengan kekuatan legitimasi adanya ruang memberikan
(Wilkins dkk, 2014: 152). kritik dan dialog antar
masayarakat (horizontal)
(Wilkins dkk, 2014: 152).
3 Pola dan tujuan Penyebarluasan informasi ke Pertukaran ide/ gagasan secara

2
masyarakat dengan saluran egaliter dengan mempererat
tertentu berdasarkan kebersamaan melalui dialog,
kepentingan pemerintah artikulasi tuntutan,
yaitu untuk mengendalikan merangsang mobilisasi sosial
stakeholders, melakukan untuk pemecahan masalah
manipulasi (social (Wilkins dkk, 2014: 150, 152).
engineering) dengan
menggunakan media
(Wilkins dkk, 2014: 133,
152).
4 Berdasarkan Bertentangan dan terjadi Sejalan dengan komunikasi
Demokrasi ketidaksetaraan bagi yang demokratis dan juga
Komunikasi masyarakat untuk berbicara redistribusi kekuasaan dan
(Wilkins dkk, 2014:152). sumber daya komunikasi
(Wilkins dkk, 2014: 152, 269).

 Keterkaitan kedua bentuk komunikasi tersebut adalah mempertemukan bentuk


komunikasi yang berbeda dimana komunikasi strategis lebih mengedepankan
penyampaian informasi, persuasi, dan pengaruh, sedangkan komunikasi partisipatif
menjadi kritik pada komunikasi pembangunan dan perubahan sosial yang strategis,
dimana komunikasi partisipatif lebih mengedepankan masalah keterbukaan, dialog (dua
arah) dan lebih kepada kemanusiaan dalam mendukung proses pembangunan.
Komunikasi strategis lebih merupakan kondisi-kondisi yang condong kea rah aktor yang
kuat, yaitu elit politik dan ekonomi, serta ahli teknis. Mereka adalah penguasa atau
pembuat kebijakan yang mengeluarkan regulasi, kondisi komunikasi lebih menjadi
manipulatif, misinformasi, dengan menggunakan kekuatan untuk mengendalikan pikiran
publik (opini publik). Penggunaan persuasi dengan teknik yang sistematik dilakukan oleh
pemerintah dan pebisnis besar (kapitalis) dengan posisi dominan menguasai industri
media sehingga terjadi ketidaksetaraan informasi. Dalam pandangan komunikasi
partisipatif, Komunikasi strategis memunculkan penyimpangan demokrasi komunikasi.
Dalam hal ini komunkasi partisipatif sebagai kontrol sosial agar dapat menciptakan
kondisi kesetaraan komunikasi dan sebagai agensi dari kepentingan masyarakat.

2. Apa saja issue-issue komunikasi pembangunan yang muncul dari buku Wilkins dkk
(2014) dan bisa Anda kembangkan dalam rencana penelitian disertasi Anda dalam hal-
hal berikut:
a) Mengkomunikasikan pembangunan dan perubahan sosial?
b) Mengembangkan komunikasi strategik untuk perubahan sosial atau
memanfaatkan pendekatan aktivis untuk pembangunan dan perubahan sosial?

Jawab:

Isu-isu dalam buku Wilkins et.al (2014) adalah masalah pembangunan, globalisasi, hak asasi
manusia, advokasi, lingkungan (alam), multikultralisme, dan kesehatan (Hal. 138).

a) Dalam hal mengkomunikasikan pembangunan dan perubahan sosial melibatkan intervensi


komunikasi terhadap perubahan sosial untuk mewujudkan keadilan sosial. Hal tersebut
dapat dilakukan dengan memperhatikan kondisi global termasuk di dalamnya
karakteristik struktur politik dan ekonomi. Komunikasi diposisikan sebagai retorika kritis

3
dalam struktur politik dan ekonomi. Dengan mengetahui konteks pembangunan seperti
industry dan global memberikan dasar dalam memahami proses dan potensi untuk
mewujudkan pembangunan keberlanjutan dan keadilan sosial. Terkait dengan rencana
penelitian disertasi saya, yaitu masalah lingkungan (sampah). Otomatis perspektif yang
dipakai adalah dengan tema komunikasi lingkungan yang juga menjadi salah satu isu
yang dibahas didalam buku Wilkins dkk. Mengkomunikasikan pembangunan dalam
konteks lingkungan adalah bagaimana pembangunan tetap berjalan dengan baik,
pembangunan yang dapat menciptakan kemudahan, keefektifan sebagai sarana
menciptakan perubahan sosial. Perubahan sosial dapat diwujudkan dengan adanya
peningkatan Pendidikan dan ekonomi yang merupakan tujuan dari pembangunan itu
sendiri, yaitu kesejahteraan bagi rakyat. Terkait isu lingkungan, pembangunan seharusnya
juga tetap dapat menjaga kelestarian mengenai lingkungan hidup. Sampah akan menjadi
masalah bila tidak dikelola dengan baik, contohnya menimbulkan timbunan yang
mengeluarkan bau tak sedap, menjadi sumber penyakit. Masalah bila terjadi pembuangan
sampah sembarangan seperti di sungai dan akhirnya sampai ke lautan. Begitu pula bila
hanya mengandalkan Tempat pembuangan Akhir (TPA) yang kapasitasnya lambat laun
akan penuh dan menjadi masalah baru bagi lingkungan sosial di tempat pembuangan
tersebut. Maka komunikasi lingkungan juga merupakan bagian dari komunikasi
pembangunan namun sifatnya justru seolah-olah antithesis dari komunikasi pembangunan
itu sendiri. Komunikasi Lingkungan mempunyai kata kunci, yaitu “Keseimbangan”/ alam
adalah ekosistem yang senantiasa menjaga keseimbangan di dalamnya, yang menjadi
penyeimbang karena karakteristiknya yang fokus pada advokasi lingkungan, seperti
pencemaran lingkungan hidup, kerusakan alam, yang bisa jadi merupakan dampak dari
pembangunan. Komunikasi lingkungan memposisikan sebagai penyeimbang. Terkait
dengan lingkungan seperti sampah harus dilakukan dengan dengan adanya perubahan
perilaku, gaya hidup, kebiasaan (habit) yang ternyata diasumsikan diawali dari perubahan
mindset (cara berpikir) mulai dari kognitif (kesadaran dan pengetahuan). Untuk
menciptakan perubahan sosial yang berskala masyarakat, maka bisa di mulai dari
merubah dari tingkat kognitif. Ada ketidakseimbangan, ketegangan secara kognitif
(disonansi kognitif) terkait masalah sampah, karena sampah secara ontologis adalah
sesuatu yang dibuang dan tidak dipikirkan oleh kognitif manusia modern saat ini,
terutama sampah sekali pakai seperti kantong plastik, botol plastik yang membutuhkan
puluhan tahun untuk bisa terurai di alam yang kemudian menjadi masalah yang berat
setelah terakumulasi di alam.
b) Mengembangkan komunikasi stategis dalam perubahan sosial cenderung menimbulkan
ketergantungan, sehingga tidak ada kemandirian karena bersumber sesuatu yang arus satu
arah (top down) namun ini bisa menjadi dasar kuat yang berwujud sebuah regulasi agar
dapat memberikan kepastian hukum di masyarakat. Sehingga, pemanfaatan aktivis dalam
perubahan sosial merupakan perspektif yang berlandaskan paradima komunikasi
partisipatif akan memberikan sentuhan kemandirian, kesadaran kolektif yang biasanya
bermula dari pembentukan komunitas-komunitas yang peduli terhadap isu lingkungan,
pembangunan bersifat dilogis dan bottom-up. Sesuai isu keseimbangan maka dua
perspektif tersebut bisa saling melengkapi, bila dikomunikasikan dengan baik, seperti
persepektif komunikasi lingkungan yang dibangun dari berberapa pandangan termasuk
pandangan holistik (Ife & Tesoriero, 2016).

4
3. Dalam “The Handbook of Development Communication and Social Change” (Wilkins
dkk, 2014), tersurat pentingnya memperhatikan aspek politik dalam kajian komunikasi
pembangunan.
a) Mengapa demikian? Berikan argumen dengan pendukung pendapat para ahli
dalam artikel-artikel handbook tersebut?
b) Konsep-konsep (komunikasi) politik apa yang Anda pandang penting untuk
mengkaji aspek politik dalam komunikasi pembangunan dan perubahan sosial?
Mengapa?

Jawab:

a) Karena berdasarkan penjelaskan Wilkins (2014: 57), ada paparannya yang


mengatakan bahwa proses politik dapat menargetkan berbagai komunitas, public dan
juga pembuat kebijakan yang semua itu dapat memunculkan dukungan sosial yang
dapat berdampak pada perubahan sosial. Terkait dengan komunikasi pembangunan
konteks politik terdapat pada komunikasi strategis dalam prosesnya, beresonansi
dengan bidang pembangunan yang lebih luas komunikasi dan perubahan sosial di
mana intervensi dikonseptualisasikan dan diimplementasikan menuju kepentikangan
masyarakat. Politik yang mendasarinya nilainya adalah untuk memberikan suara dan
kekuatan kepada orang miskin dan terpinggirkan, itu sendiri sebuah politik Jadwal
acara. Namun, dalam industri pengembangan agenda ini awalnya lebih bersifat politis
menjadi "depolitisasi" dalam wacana publik, untuk membantu pengembangan yang
kuat institusi hindari konfrontasi dengan komunitas lokal (Sparks 2011: 74). Program
komunikasi partisipatif, dalam praktiknya, menjadi "tertanam dengan struktur
dominan dan karenanya ditentukan oleh tujuan status quo” (Dutta 2012: 61), dipandu
oleh politik lembaga donor yang dominan (Melkote 2012b: 29).
b) Konsep-konsep komunikasi politik yang dianggap penting untuk mengkaji aspek
politik dalam komunikasi pembangunan dan perubahan sosial adalah: pertama,
konsep Advokasi, karena melibatkan komunikasi publik untuk mendukung tujuan
politik tertentu. Proses politik ini dapat menargetkan berbagai komunitas, publik, dan
juga kebijakan pembuat, untuk menciptakan dukungan sosial atas nama perubahan
kebijakan. Komunikasi prosesnya strategis, beresonansi dengan bidang pembangunan
yang lebih luas komunikasi dan perubahan sosial di mana intervensi
dikonseptualisasikan dan diimplementasikan menuju kebaikan publik. advokasi
memungkinkan kita mempertimbangkan nilai potensial dari perubahan sosial,
mengenali laten dan manifest politik pendekatan untuk intervensi. McAnany
mengingatkan kita tentang peran penting Cendekiawan Amerika Latin bermain dalam
memahami komunikasi sebagai alat menuju aktivisme yang berakar dalam politik.
Kedua, konsep Dialogis, Orientasi keadilan sosial yang mendasari konsep
komunikasi sebagai proses dialogis, memfasilitasi praksis, menggabungkan refleksi
bijaksana dengan informasi aksi (Freire 1983). Komunikasi tidak dianggap terbatas
pada hierarki penyebaran informasi, atau dalam koneksi horizontal antar komunitas,
tetapi sebagai memfasilitasi strategi aktivis. Komunikasi kemudian mewakili proses
sosial dan politik memperebutkan makna dalam konteks sejarah tertentu. Ketiga,
konsep Strategis, karena inti dari kebijakan strategis datang dari pembuat kebijakan
yang akan menjadi landasaran sebuah program pembangunan. Pembuat kebijakan
adalah para politisi yang pasti akan selalu melaksanakan komunikasi politik dalam
hal berargumentasi dalam ruang diskursus dan deliberatif di forum parlemen.
Perubahan sosial dapat dikondisikan dengan adanya sebuah regulasi yaitu dari hasil

5
kebijakan politik praktis. Perubahan sosial bisa dimulai dari sebuah kebijakan yang
tegas bisa dalam bentuk perencanaan sosial atau social engineering. Keempat,
kesetaraan dan Hak Asasi Manusia, konsep ini adalah suatu yang perlu
diperjuangkan dari masyarakat sehingga memungkinkan adanya komunikasi dialogis
dan dapat memperjuangkan kepentingan masyarakat yang diharapkan dapat
terbentuknya perubahan sosial.

4. The Handbook of Development Communication and Social Change (Wilkins dkk, 2014)
bisa dipandang sebagai potret perkembangan komunikasi pembangunan di tingkat
internasional. Wilkins (2014) berpendapat bahwa trend komunikasi pembangunan
menunjukkan perlunya sifat sinergistik/integrating. Bagaimana sifat sinergistik tersebut
dapat diwujudkan
a) Secara metodologis dengan mempertimbangkan berbagai paradigma, berbagai
metode dan pendekatan (termasuk mixed methods)? Bagaimana hal ini dapat
diterapkan dalam penelitian Anda. Jelaskan dan berikan bukti (dengan
menunjukkan halaman dan baris kalimat dalam proposal Anda)!
b) Secara teoritik? Bidang-bidang ilmu apa yang diharapkan dapat memperkaya
komunikasi pembangunan untuk mempelajari kompleksitas komunikasi
pembangunan? Jelaskan dan berikan bukti penerapannya dalam proposal
penelitian Anda (dengan menunjukkan halaman dan baris kalimat dalam
proposal Anda)!

Jawab:

a) Dalam penelitian saya yang berjudul “Bank Sampah sebagai Pesan Komunikasi
Lingkungan dalam Upaya Pengembangan Masyarakat”, memang didasari dari
paradigma konstruktivis dengan metode kualitatif. Hal ini karena bertujuan untuk
menggali pemaknaan suatu pesan dari Bank sampah yang di konstruksi oleh
pemerintah sebagai strategi komunikasi lingkungan agar dapat meningkatkan
partispasi masyarakat. Namun, akan lebih terukur bila diperkuat dengan pendekatan
kuantitatif untuk melihat sejauh mana sikap, respon, dan keterlibatan masyarakat bisa
dilhat dari usia, gender, Pendidikan, pemukiman, dst, walaupun disajikan hanya
dengan statistik deskriptif.

Kutipan dari draf proposal disertasi saya halaman 41 (Bab 3):


Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis, karena pendekatan
yang dilakukan akan berasumsi bahwa individu membangun makna secara subyektif
dari pengalamannya dan interaksi dengan lingkungannya. Pembentukan makna terus
dinegosiasi oleh individu yang memiliki perbedaan sosial dan historis yang beroperasi
dalam setiap kehidupan individu (Creswell 2009). Paradigma konstruksionis
memandang realitas kehidupan sosial bukanlah realitas yang natural, tetapi terbentuk
dari hasil konstruksi. Karenanya, konsentrasi analisis pada paradigma konstruksionis
adalah menemukan bagaimana peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi, dengan
cara apa konstruksi itu dibentuk. Dalam studi komunikasi, paradigma konstruksionis
ini sering sekali disebut sebagai paradigma produksi dan pertukaran makna. Ia sering
dilawankan dengan paradigma positivis atau paradigma transmisi (Barger dan
Luckam 1996).

6
b) Secara teoritik bidang ilmu yang dapat memperkaya komunikasi pembangunan,
seperti bidang Informasi dan teknologi, media sosial dan siber, lingkungan, seni dan
budaya. Bidang yang saya pilih adalah lingkungan yang akan masuk kepada kajian
tema sub disiplin komunikasi lingkungan. Komunikasi lingkungan erat dengan
pembangunan berkelanjutan yang mempunyai konsentrasi tentang isu-isu kelestarian
alam.

Kutipan dari draf proposal disertasi saya halaman 16 (Bab 2):


Komunikasi lingkungan membahas semua interaksi manusia dengan
lingkungan dan merupakan subdisiplin yang relatif baru dalam ilmu komunikasi.
Komunikasi lingkungan tidak hanya melibatkan pengelolaan lingkungan tetapi juga
studi opini dan persepsi publik. Seperti dalam dua subdisiplin lainnya, komunikasi
sering dikaitkan erat dengan pendidikan. Komunikasi lingkungan dan pendidikan
lingkungan terkadang tumpang tindih, terutama ketika istilah tersebut digunakan di
luar lingkaran akademis dalam domain publik (Servaes & Lie, 2015).
Komunikasi lingkungan adalah sebuah bidang yang menghubungkan antara
manusia dengan lingkungan (alam). Komunikasi antar manusia terdapat etika dan
nilai tertentu sesuai karakteristik sosial-psikologis dan kearifan lokal masing-masing
budaya, sementara interaksi manusia dengan lingkungan juga terdapat etika
lingkungan. Etika lingkungan merupakan suatu arahan yang menjadi dasar manusia
dalam berinteraksi dengan alam dan lingkungan. Manusia tidak akan lepas dari
lingkungan dalam kehidupannya. Kelestarian dan kerusakan lingkungan sangat
dipengaruhi oleh campur tangan manusia dalam memanfaatkannya (Marfai, 2013).

5. Berdasarkan tulisan Lie dan Servaes (2015):


a) Apakah rencana penelitian disertasi Anda termasuk dalam sub disiplin yang
dimaksud Lie and Servaes (2015)? Apabila ya, sebutkan judul atau topik
penelitian Anda dan mengapa termasuk dalam sub disiplin yang dimaksud?
b) Identifikasi nama jurnal-jurnal komunikasi di tingkat internasional yang
bereputasi yang relevan dengan topik Anda dan sub disiplin yang dimaksud!
c) Sebutkan artikel/pustaka dari jurnal yang dimaksud dalam b (minimal 5 judul
artikel 10 tahun terakhir) yang dapat Anda gunakan untuk membangun
kebaruan penelitian Anda. Berikan uraian atau hasil analisis dan sintesa
pustaka-pustaka tersebut untuk kepentingan tersebut! (lampirkan artikel)
d) Sebutkan artikel/pustaka dari jurnal yang dimaksud dalam b yang dapat Anda
gunakan untuk membangun kerangka pemikiran Anda dengan menganalisis
dan mensintesa pustaka-pustaka tersebut! (lampirkan artikel).

Jawab:

a) Disertasi saya termasuk sub disiplin yang dipaparkan Lie dan Servaes (2015), yaitu
Dalam sub disiplin komunikasi strategis dan komunikasi partisipatori. Komunikasi
strategis yang bersifat top-down terkait masalah peran regulator kebijakan seperti
pemerintah yang akhirnya melakukan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat
terkait isu lingkungan, yaitu dengan program “Bank Sampah” yang ditujukan untuk
mengatasi masalah lingkungan. Dari sisi komunikasi partisipatori, tentunya program
tersebut tidak akan berhasil bila tanpa adanya partisipasi dari masyarakat, maka
pengembangan dan pemberdayaan seiring dijalankan agar lahir kesadaran dari bawah
(masyarakat) yang akan tercermin komunkasi yang bottom up (dialogis). Selanjutnya

7
secara subdisiplin berdasarkan tematik masuk kategori komunikasi lingkungan. Judul
penelitian saya: “Bank Sampah sebagai Pesan Komunikasi Lingkungan dalam Upaya
Pengembangan Masyarakat.” Kajian ini termasuk dalam tema komunikasi lingkungan
karena isu mengenai sampah, lalu adanya upaya pengelolaan sampah adalah bagian
dari masalah lingkungan hidup yang perlu dipekuat dengan kajian komunikasi.
Lingkungan adalah bidang yang kompleks dan sistemik sesuai dengan sifat dari alam
itu sendiri. Bila alam tidak seimbang maka akan menyebabkan kerusakan seperti
masalah sampah/ limbah yang menyebabkan pencemaran lingkungan. Komunikasi
lingkungan bisa dikatakan sebagai upaya advakasi lingkungan. Masalah sampah
adalah isu yang secara kognitif tidak atau kerap kali diabaikan karena sifatnya yang
sudah tertanam sebagai ‘buangan’ atau sesuatu yang dibuang. Sesuai dengan paparan
Lie dan Servaes (2015) kajian komunikasi lingkungan sangat mendukung upaya
tujuan pembangunan berkelanjutan (sustainable development goals), yang
menggabungkan tiga konsep sosial, lingkungan dan ekonomi. Pada poin tersebut
komunikasi lingkungan yang mengankat tema Bank Sampah adalah suatu upaya
social engineering (rekayasa sosial), yang menempatkan peran komunikasi sebagai
jembatan untuk mengangkat isu lingkungan.
b) Jurnal yang relevan: Environmental Communication:
- Journal of the International Environmental Communication Association
(https://www.tandfonline.com/loi/renc20 );
- Environmental Communication Journals (https://theieca.org/resources/journals );
- International Journal of Environmental Science and Development
(http://www.ijesd.org).
- International Journal of Social Science and Humanity
(https://journals.indexcopernicus.com).
- Journal of Cleaner Production
(https://www.journals.elsevier.com/journal-of-cleaner-production ).
- Science of the Total Environment
(https://europepmc.org/abstract/med/29710656).
- Procedia Environmental Sciences
(https://www.sciencedirect.com/journal/procedia-environmental-sciences).

Jurnal 1 judul: “Governmental Communication Strategies in Socializing Waste


Management”, Tulisan ini membahas mengenai Komunikasi strategis yang
diterapkan oleh lembaga legislatif, eksekutif, dan yudikatif memiliki kekurangan
koordinasi dan kesepakatan komando dalam menangani pengelolaan sampah di
Tangerang Selatan. Masalah menyelamatkan bumi kurang populer dibandingkan
dengan isu-isu politik yang trendi lainnya di tingkat RT (kelompok lingkungan) dan
RW (kelompok masyarakat) atau lapisan paling bawah. Keluarga dan komunitas
agama masih mengabaikan pentingnya literasi lingkungan dan kesehatan. Masalah ini
belum terintegrasi dalam komunikasi spiritual, komunikasi Islam, dan komunikasi
lingkungan di tingkat nasional, belum lagi melalui komunitas radio dan berbagai
komunitas di RT dan RW di tingkat akar rumput. Pemerintahan yang bersih akan
memastikan keseimbangan antara manusia, material, metode, mesin, pemasaran, dan
uang. PESAWATS (situs web untuk menerima keluhan publik) adalah komunikasi
strategis yang diterapkan oleh lembaga eksekutif di Tangerang Selatan. DKPP
menghadap lapisan RT dan RW yang membutuhkan brosur, spanduk, stiker, televisi
CC, pelatihan, dan lokakarya. Diharapkan DKPP (Arbi, 2016).

8
Jurnal 2 judul: “Process-based environmental communication and conflict
mitigation during sudden pollution accidents”. Dalam tulisan ini bertujuan untuk
menguji komunikasi lingkungan berbasis proses dan imbauan lingkungan oleh para
pemangku kepentingan setelah Zijin Pollution Accident di China, yang berfokus pada
mitigasi konflik lingkungan. Analisis regresi logistik data survei lapangan dan
investigasi polusi berbasis proses mengungkapkan bahwa kesadaran yang lebih besar
dan persepsi yang tidak memadai di antara responden tidak menyiratkan tindakan
lingkungan yang aktif. Karakteristik demografi yang beragam, seperti pekerjaan,
pendapatan, tingkat pendidikan dan jenis kelamin, terkait erat dengan tanggapan
lingkungan yang diwawancarai. Rantai proses-pola-nilai-respon polusi dapat
disimpulkan dari difusi pencemaran hilir dan penyebaran informasi terkait. Suatu
kerangka kerja komunikasi lingkungan berbasis proses, yang meliputi pengendalian
pencemaran yang berorientasi pada proses, pola, nilai dan respon yang berorientasi
pada konflik serta strategi-strategi penanggulangan konflik, telah dibentuk untuk
menanggapi kecelakaan polusi yang tiba-tiba. Informasi yang dikumpulkan dalam
penelitian ini dapat dimasukkan ke dalam pengambilan keputusan lokal, dan sangat
penting untuk membantu meringankan konflik lingkungan setelah kecelakaan polusi
tiba-tiba (Yang et al., 2014).

Jurnal 3 judul: “Analysis of environmental communication and its implication


for sustainable development in Ethiopia Mekonnen”. Latar belakang: Masalah
lingkungan telah menyebabkan perdebatan di seluruh dunia. Isu-isu ini juga mendapat
banyak perhatian di Ethiopia. Ethiopia telah dirugikan oleh krisis lingkungan. Negara
berkembang dan orang miskin digambarkan sebagai korban perubahan iklim yang
tidak menguntungkan. Penyebab perubahan iklim termasuk deforestasi, industri, salah
kelola lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam. Salah satu dampak perubahan
iklim membawa bencana alam yang kita sebut kekeringan. Kekeringan
mempengaruhi banyak orang, bahkan baru-baru ini, di Ethiopia. Mengenai masalah
dan masalah lingkungan di Ethiopia, ada permulaan di tingkat kebijakan. Namun,
aspek praktis dari mengkomunikasikan dan menangani masalah-masalah ini tidak bisa
mendapatkan banyak perhatian dari otoritas. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menganalisis komunikasi lingkungan dari Amhara National State-
Environmental Protection Authority. Metode: Studi kasus dengan menggunakan
metode penelitian kualitatif. Jenis desain kasus bersifat deskriptif. Peneliti memilih
dua teknik pengumpulan data: wawancara mendalam dan dokumen. Hasil: Hasilnya
menunjukkan bahwa otoritas tidak dapat mengomunikasikan masalah lingkungan
yang dinyatakan dalam berbagai konvensi dan kebijakan. Kesimpulan: Ada celah
yang bisa dipertimbangkan dari hasil penelitian. Kesenjangan dan tantangan utama
dalam menangani isu-isu lingkungan praktis diidentifikasi yaitu sistem informasi
lingkungan yang buruk, kurangnya penciptaan kesadaran melalui komunikasi, dan
dialog publik yang lemah serta pertimbangan partisipasi yang tulus (Zikargae, 2018).

Jurnal 4 judul: “Improving the efficacy of municipal solid waste collection with a
communicative approach based on easily understandable indicators.” Tujuan
utama dari penelitian ini adalah untuk mengusulkan pendekatan metodologis yang
berguna untuk menentukan indikator yang mudah dipahami untuk digunakan dalam
kampanye komunikasi yang diselenggarakan untuk meningkatkan efektivitas
pengumpulan limbah padat kota. Untuk tujuan ini, enam indikator ekonomi-

9
lingkungan didefinisikan, menggabungkan pemikiran siklus hidup dan komunikasi
lingkungan. Indikator memungkinkan untuk mendapatkan beberapa kombinasi yang
dapat mengikuti berbagai saluran komunikasi. Tiga indikator (jumlah bahan yang
dapat didaur ulang yang dapat dipulihkan dari limbah sisa yang tidak disortir; total
penghematan ekonomi potensial; jumlah pekerjaan untuk orang muda sebagai
komunikator) dinyatakan dalam nilai absolut dan oleh karena itu merujuk ke seluruh
komunitas bahkan jika mereka juga baik untuk pesan yang ditargetkan tunggal. Tiga
indikator lainnya (penghematan ekonomi potensial untuk setiap warga negara;
penghematan per kapita setara karbon dioksida; tabungan per kapita dari Masa
Penyandang Disabilitas yang Disesuaikan) dinormalisasi sehubungan dengan jumlah
penduduk dan karena itu merujuk pada warga negara individu, tetapi juga dapat
digunakan untuk pesan global. Sebagai contoh kasus, metodologi itu diterapkan pada
koleksi kertas dan kardus di dua belas kota Italia Selatan mendapatkan hasil yang
sangat menjanjikan. Misalnya, jumlah maksimum kertas dan kardus yang dapat
dipulihkan dari limbah yang tidak disortir akan memungkinkan Napoli dan Palermo
untuk memulihkan lebih dari € 15 juta. Penghematan ekonomi potensial maksimum
untuk setiap warga adalah 25 € / kapita. Tabungan ekonomi yang diperoleh untuk
Naples dan Palermo dapat diterjemahkan dalam lebih dari seribu posisi sebagai
komunikator lingkungan muda. Catania adalah kota dengan potensi penghematan
karbon per kapita tertinggi (> 60 kg CO2eq./capita) dan hipotetik maksimum per
kapita "pemulihan kehidupan-waktu" (hampir satu jam). Metode komunikasi inovatif
yang digunakan (‘Greenopoli’) mengasumsikan bahwa sekolah adalah titik awal
untuk memperoleh perubahan pola pikir karena berbicara dengan siswa (semua calon
komunikator) berarti berkomunikasi secara tidak langsung dengan semua target
lainnya (De Feo, Ferrara, Iannone, & Parente, 2018).

Jurnal 5 Judul: “Model of Environmental Communication with Gender


Perspective in Resolving Environmental Conflict in Urban Area.” Konflik atas
sumber daya alam di daerah perkotaan telah menyebabkan penurunan kualitas dan
kapasitas lingkungan yang berubah menjadi konflik lingkungan. Partisipasi dan
keterlibatan perempuan sebagai aktivis lingkungan sangat penting dalam proses
komunikasi lingkungan dan resolusi konflik lingkungan. Penelitian ini bertujuan
untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas komunikasi
lingkungan oleh aktivis perempuan dalam menyelesaikan konflik lingkungan di
daerah perkotaan yang disebabkan oleh masalah lingkungan, sebagai konsekuensi dari
proyek perubahan kota yang tidak terencana dengan baik. Penelitian dilakukan di tiga
lokasi penelitian, Jakarta, Tasikmalaya, dan Malang, dengan menyebarkan kuesioner
kepada 140 responden yang terdiri dari aktivis perempuan yang peduli tentang
kegiatan lingkungan. Untuk menganalisis hubungan antara komponen-komponen ini,
penelitian ini dilakukan dengan analisis regresi diikuti dengan analisis jalur. Hasil uji
hipotesis menunjukkan, dengan hasil koefisien korelasi sebesar 0,837, hal ini
menunjukkan hubungan X1, X2, X3, dan Y adalah hubungan yang kuat, dan ketiga
variabel pada dasarnya independen memiliki pengaruh dan dapat menjelaskan
variabel dependen dengan nilai 69,3. % Secara teoritis, ini menunjukkan bahwa
variabel X3 (pemahaman tentang situasi konflik lingkungan), faktor utama yang
mempengaruhi kemampuan individu untuk berkomunikasi untuk menyelesaikan
konflik lingkungan. Temuan penelitian ini menunjukkan adanya model komunikasi
lingkungan dengan perspektif gender dari aktivis perempuan yang terlibat dalam

10
bidang lingkungan yang dapat berkontribusi dalam manajemen konflik lingkungan di
daerah perkotaan di lokasi penelitian, untuk mencapai keamanan lingkungan (Asteria,
Suyanti, Utari, & Wisnu, 2014).

c) Jurnal yang dapat berpotensi membangun kerangka pemikiran disertasi saya


adalah jurnal no 1 dan 5 karena ada kata kunci yang terkait seperti
“envinmental communication”, stakeholders, Waste management. Membangun
kerangka pemikiran dari ke lima artikel diatas adalah sebagai berikut:
Kesenjangan dan tantangan utama dalam menangani isu-isu lingkungan
praktis diidentifikasi yaitu sistem informasi lingkungan yang buruk, kurangnya
penciptaan kesadaran melalui komunikasi, dan dialog publik yang lemah serta
pertimbangan partisipasi yang tulus (Zikargae, 2018) . Konflik atas sumber daya alam
di daerah perkotaan telah menyebabkan penurunan kualitas dan kapasitas lingkungan
yang berubah menjadi konflik lingkungan (Asteria et al., 2014).
Komunikasi lingkungan adalah kajian yang berbasis proses yang salah
satunya adalah masalah pengendalian pencemaran seperti limbah atau sampah.
Strategi-strategi penanggulangan akan berpotensi menimbulkan dengan respon yang
berorientasi pada konflik terkait dengan proses, pola dan nilai yang terjadi diantara
pihak-pihak yang berkempentingan. Informasi yang dikumpulkan adalah sangat
bermanfaat dalam pengambilan keputusan lokal, dan sangat penting untuk membantu
meringankan masalah lingkungan yang kadang tidak bisa diduga kejadiannya (Yang
et al., 2014).

Salah satu cara untuk menumbuhkan kesadaran partisipasi masyarakat adalah


dengan komunikasi inovatif yang diasumsikan semua berawal dari merubah prilaku
dan kebiasaan dan itu bisa dilakukan dimulai dari merubah cara berpikir (mindset).
Namun, itu saja tidak cukup melainkan harus ada faktor yang dapat menarik
partisipasi masyarakat, yaitu faktor ekonomi dan juga melalui jalur pendidikan (De
Feo et al., 2018).
Penanganan sampah dari sisi komunikasi strategis dimana adanya peran dari
pemerintah baik di legislatif, eksekutif, dan yudikatif karena lembaga-lembaga
tersebut yang memiliki kuasa dalam membuat regulasi, melaksanakan dan mengawasi
pelaksanaanya. Komunikasi lingkungan akan dapat berjalan efektif dan efesien bila
dipadukan antara komunikasi strategis dan partisipatif, karena masalah lingkungan
adalah hal yang sistematik dan tidak bisa saling mengandalkan tapi bagaimana
komunikasi yang terjadi saling ketergantungan dan sinergi untuk mewujudkan tujuan
dari pembangunan yang berkelanjutan (Arbi, 2016).

6. Dalam artikel mengenal Conceptual Framework, uraikan sumber-sumber kerangka


pemikiran? Apa kegunaan teori dalam penelitian kualitatif? Apa peringatan, dari
penulis agar mampu menggunakan dengan baik tinjauan pustaka, tetapi juga tidak
menghambat proses kreatif?

Jawab:
Sumber-sumber kerangka pemikiran adalah: kerangka kerja konseptual bersumber dari sistem
konsep, asumsi, harapan, keyakinan, dan teori yang mendukung dan menginformasikan riset
(Miles & Huberman, 1994; Robson, 2011). Miles dan Huberman (1994) mendefinisikan
kerangka kerja konseptual sebagai produk visual atau tertulis, yang "menjelaskan, baik secara
grafis atau dalam bentuk naratif, hal-hal utama yang akan dipelajari faktor kunci, konsep, atau

11
variabel hubungannya diantaranya. Selanjutnya dipaparkan pula sumber-sumber conceptual
framework berdasarkan bagan dibawah ini.

Bagan 1 Contextual Factors Influencing Research Design (Maxwell, 2013)

Dari bagan tersebut ada garis panah yang mengarah ke conceptual framework yang
merupakan bagian-bagian pembentuknya, yaitu: Personal experience (pengalaman pribadi,
yang merupakan hasil dari observasi awal/ pra penelitian di lokasi penelitian), Existing theory
and prior research (teori yang ada dan penelitian sebelumnya), Exploratory and pilot
research (penyelidikan dan penelitian yang menjadi contoh ideal), Thought eksperiment
(telaah dari pemikiran), Preliminary data and conslusions (data dan kesimpulan awal yang
diasumsikan).

Kegunaan teori dalam penelitian kualitatif menurut Maxwell dijelaskan melalui 2 metafora,
yaitu: pertama, teori seperti lemari mantel tempat menggantungkan. Jadi teori adalah sebagai
tempat untuk menggantung atau mengkaitkan fenomena/ fakta sosial yang akan diteliti
dengan teori yang relevan. Kedua, teori sebagai sorotan, dimana teori bermanfaat untuk
menerangi/ memandu kepada tahap demi tahap (langkah) terhadap apa yang sedang kita teliti.

Peringatan penulis (Maxwell), bahwa kadang kerangka konseptual juga disebut sebagai
“tinjauan pustaka” yang dikatakan istilah yang menyesatkan karena penggunaannya akan
sangat tergantung dengan tujuan proposal penelitian dibuat. Peringatan tersebut terkait
dengan, pertama, perlu menunjukkan bagaimana riset yang Anda usulkan sesuai dengan apa
yang sudah diketahui (hubungannya dengan teori dan penelitian yang ada) dan bagaimana hal
itu memberi kontribusi pada pemahaman kita tentang topik Anda (tujuan intelektualnya).
Kedua, perlu menjelaskan kerangka teoretis yang menginformasikan penelitian Anda. Fungsi-
fungsi ini biasanya diselesaikan dengan mendiskusikan teori dan penelitian sebelumnya,
tetapi intinya adalah tidak meringkas apa yang sudah dilakukan di bidang ini. Alih-alih, Anda
harus mengajukan studi yang diusulkan dalam karya sebelumnya yang relevan, dan untuk
memberi pembaca pengertian yang jelas tentang pendekatan teoritis Anda terhadap fenomena
yang Anda usulkan untuk dipelajari. Manual Publikasi American Psychological Association
(2010), panduan yang banyak digunakan untuk disertasi, proposal, dan publikasi dalam ilmu
sosial dan bidang terapan, mengatakan, "Kutip dan referensi hanya bekerja yang berkaitan
dengan masalah tertentu dan bukan yang hanya tangensial atau signifikansi umum ... hindari

12
perincian yang tidak penting; sebagai gantinya, tekankan temuan terkait, masalah metodologi
yang relevan, dan kesimpulan utama.”

7. Uraikan dua teori komunikasi yang relevan dengan penelitian Anda dan bisa
memayungi konsep-konsep yang Anda bangun untuk kerangka pemikiran:
a) Nama teori dan penulisnya
b) Asumsi teori
c) Proposisi-proposisi yang membangunnya! (Catatan lihat artikel Toomey, Stella
Ting And Kurogi, Atsuko. 1998 untuk menuliskan proposisi dan asumsi).

Jawab:

a) Komunikasi Lingkungan (environmental communication), penulisnya: Robert Cox


(2010), Teori Keseimbangan Fritz Heider (1946, 1958), Theodore Newcomb (1953).
b) Asumsi teori komunikasi lingkungan: bahwa komunikasi manusia dibentuk
berdasarkan tindakan simbolik. Kepercayaan kita, sikap, dan perilaku berhubungan
dengan alam dan masalah lingkungan termediasi oleh komunikasi. Ruang publik pun
muncul sebagai ruang lain bagi komunikasi tentang lingkungan. Asumsi teori
keseimbangan atau juda disebut teori konsistensi kognitif berpangkal pada sebuah
proposisi umum yaitu: bahwa kognisi (pengetahuan, kesadaran) yang tidak konsisten
dengan kognisi-kognisi lain menimbulkan keadaan psikologis yang tidak menyenangkan
dan keadaan ini mendorong orang untuk bertingkah laku agar tercapai konsistensi antar
kognisi-kognisi tersebut, sampai pada kondisi yang stabil yang menimbulkan rasa nyaman
atau rasa senang. Sebagai kondisi kebalikannya istilah-istilah ketidakseimbangan/
inkonsistensi diistilahkan berbeda-beda oleh para ahli tersebut diatas. Heider
menyebutnya ‘ketidakseimbangan kognitif’ (cognitive imbalance), Newcomb dengan
istilah ‘asimetri’ (asymmetry), Festinger menamakan ‘disonansi’ (dissonance), dan
Osgood & Tannembaum menggunakan istilah ‘ketidakselarasan’ (incongruence)
(Sarwono 1987).

c) Komunikasi Lingkungan:
Proposisi 1: komunikasi lingkungan secara pragmatis, merupakan pelajaran, peringatan,
persuasi, mobilisasi, dan membantu untuk menyelesaikan masalah lingkungan. Ini semua
merupakan instrumen bagi komunikasi untuk berbuat atau melakukan aksi nyata terkait
masalah lingkungan. Ini adalah kendaraan bagi pemecahan masalah dan perdebatan, dan
seringkali menjadi bagian dari kampanye Pendidikan kepada publik.
Proposisi 2: komunikasi lingkungan secara konstitutif, bahwa komunikasi mengenai alam
juga membantu kita membangun atau menyusun representasi masalah alam dan
lingkungan sebagai subjek untuk pemahaman kita. Komunikasi semacam itu mengundang
perspektif tertentu, membangkitkan nilai-nilai tertentu, dan dengan demikian akan
membangkitkan kesadaran, perhatian dan pemahaman kita.

Teori Kesimbangan:
Proposisi 1: Teori ini berpangkal pada perasaan-perasaan yang ada pada seseorang (P)
terhadap orang lain (O) dan faktor lainnya (X) yang ada kaitannya dengan O, X dalam hal
ini tidak hanya berupa benda mati, tetapi bisa berupa orang lain. Ketiga elemen tersebut
membentuk suatu kesatuan.
Proposisi 2: Jika unit itu mempunyai sifat yang sama di semua seginya, maka timbullah
keadaan yang seimbang dan tidak ada dorongan untuk berubah.

13
Proposisi 3: Tetapi jika unit itu mempunyai segi-segi yang tidak bisa berjalan bersama-
sama, maka terjadilah ketegangan (tension) dan timbullah tekanan yang mendorong untuk
mengubah organisasi kognitif sedemikian rupa sehingga tercapai keadaan seimbang
(Heider, 1946).

8. Termasuk dalam tradisi teori komunikasi apa menuriut Craig atau Littlejohn, teori
yang Anda gunakan tersebut! Uraikan ciri-ciri teori tersebut yang menunjukkan tradisi
teori komunikasi yang Anda maksud!

Jawab: terkait dengan teori komunikasi lingkungan yang menjelaskan hubungan manusia
dengan lingkaran interaksinya seperti terhadap isu sampah, dimana isu ini cenderung
diabaikan. Masalah sampah tidak bisa hanya satu atau dua pemangku kepentingan aja, tapi
harus secara keseluruhan peduli. Maka ini adalah masuk pada tradisi sosikultural, Pendekatan
sosiokultural terhadap teori komunikasi lingkungan menunjukkan cara pemahaman kita
terhadap makna, norma, peran, dan peraturan yang dijalankan secara interaktif dalam
komunikasi. Teori-teori tersebut mengeksplorasi dunia interaksi yang dihuni oleh manusia,
menjelaskan bahwa realitas bukanlah seperangkat susunan di luar kita tetapi dibentuk melalui
proses interaksi dalam kelompok, komunitas, dan budaya. Gagasan utama dalam tadisi ini
memfokuskan diri dari pada bentuk-bentuk interaksi antara manusia antarmanusia daripada
karakteristik individu atau model mental. Interaksi merupakan proses dan tempat makna,
peran, peraturan, serta nilai budaya yang dijalankan. Meskipun individu memproses informasi
secara kognitif, tradisi ini kurang tertarik pada komunikasi tingkat individu. Malahan, para
peneliti dalam tradisi ini ingin memahami cara-cara yang di dalamnya manusia bersama-sama
menciptakan realitas kelompok sosial mereka, organisasi, dan budaya. Tentu saja, kategori
yang digunakan oleh individu dalam memproses informasi diciptakan secara sosial dalam
komunikasi berdasarkan pada tradisi sosiokultural dan teori keseimbangan masuk pada tradisi
sosiopskilogis. Karena teori ini masuk pada tataran kognitif, cara berpikir manusia. Sebuah
kualitas atau karakteristik pembeda ini merupakan cara berpikir, merasakan, dan bertingkah
laku yang konsisten terhadap situasi. Konstruksi pesan Bank Sampah termasuk juga dalam
tradisi semiotika, karena bagian ini akan mengeksplorasi bagaimana pemaknaan terkait
dengan solusi masalah persampahan dengan program Bank sampah ternyata tentang
bagaimana memaknai sampah yang disimbolkan sebagai sesuatu yang dibuang, kotor dan
bau. Maka di bangun agar bagaimana simbol atau tanda pesan lingkungan melalui Bank
Sampah bisa menjadi berkah.

9. Apakah ciri-ciri penting penelitian komunikasi terapan dalam tulisan Jack Johnson (1991)?
Apakah menurut Anda komunikasi pembangunan termasuk sebagai komunikasi terapan?
Apabila ya, apa yang Anda dapat simpulkan ciri-ciri penting komunikasi pembangunan
sebagai komunikasi terapan? Bagaimana ciri-ciri itu bisa Anda temukan pada artikel-artikel
dalam handbook Wilkin? Apabila tidak mengapa?

Jawab:

Ciri-ciri penting penelitian komunikasi terapan dalam tulisan Jack Johnson (1991) adalah:
pertama, memanipulasi variabel independent (bebas), yaitu:
- Pertama, dari tiga atribut penelitian komunikasi terapan menunjukkan bahwa nilai
variabel independen dinilai dari kapasitasnya untuk dimanipulasi dan berhasil
menghasilkan perubahan atau hasil yang diinginkan. Kekuatan koefisien korelasi antara
variabel independen dan dependen, tidak ada konsekuensinya terhadap peneliti

14
komunikasi terapan, kecuali variabel independen dapat dimanipulasi. Variabel
independen yang tidak dapat diubah, sehingga dapat mengendalikan variabel dependen.
Sedikit digunakan untuk peneliti komunikasi terapan. Sebagai contoh, itu adalah
konsekuensi kecil bahwa variabel X menjelaskan 75% dari varians variabel Y jika X
tidak dapat dimanipulasi atau diubah.
- Kedua, nilai variabel independen harus dinilai berdasarkan biaya ekonomi dari
manipulasi terhadap manfaat ekonomi dan / atau sosial yang menghasilkan pengendalian
atau pengubahan variabel tak bebas. Riset komunikasi terapan tidak bisa begitu saja
mengatakan "jika Anda ingin meningkatkan Y, kemudian meningkatkan X," karena
perubahan membutuhkan sumber daya dan tidak pernah ada situasi di mana ada "sumber
daya tak terbatas atau gratis" untuk menginduksi perubahan. Sebagai contoh, tidak cukup
untuk mengetahui bahwa intervensi komunikasi tertentu (misalnya, desensitisasi
sistematis, pelatihan keterampilan, visualisasi) secara signifikan mengurangi kecemasan
berbicara di depan umum. Kita juga harus mengetahui biaya intervensi relatif terhadap
keefektifannya dalam mengurangi kecemasan berbicara publik sebelum menyarankan
penggunaannya.
- Ketiga, ketiga dari riset komunikasi terapan adalah konsekuensi etika dan hukum
langsungnya. Ini tidak dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa riset komunikasi dasar
adalah netral secara etis. Namun, kecuali untuk perlindungan hak-hak subyek manusia
biasanya ada jeda waktu yang lebih panjang antara ketika penelitian komunikasi dasar
dilakukan dan konsekuensi etika dari penelitian. Tidak seperti peneliti komunikasi dasar,
peneliti komunikasi terapan menghadapi tanggung jawab etis atau hukum langsung untuk
pekerjaan mereka. Ini adalah konsekuensi dari riset komunikasi terapan yang didasarkan
pada masalah-masalah dunia nyata dan orang-orang. Manipulasi atau tujuan
pengendalian dari riset komunikasi terapan menempatkannya dalam bahaya etis dan
hukum segera karena setiap saran atau tindakan perubahan membawa serta berbagai
konsekuensi potensial positif dan negatif.

Menurut saya komunikasi pembangunan dapat dikatagorikan ke dalam komunikasi tetapan,


karena komunikasi terapan adalah masuk kepada masalah yang spesifik dan langsung apa
yang akan kita kontrol lebih baik dengan menjawab pertanyaan penelitian ini atau menguji
hipotesis ini dan bagaimana informasi ini akan membantu kita untuk mengendalikan masalah
dengan lebih baik. Misalnya, tujuan spesifik memperkirakan model untuk memperhitungkan
hubungan antara strategi pengambilan keputusan dan kompleksitas kognitif tidak berorientasi
pada kontrol. Sebaliknya, pernyataan tersebut mencerminkan penelitian "prediktif" dasar.
Akan masuk akal untuk berpendapat bahwa model prediktif ini dapat mengarah pada kontrol.
Tetapi model, dalam bentuknya yang sekarang, tidak dimaksudkan untuk mengontrol. Semua
riset komunikasi dasar memiliki potensi untuk mengendalikan dan semua riset komunikasi
terapan memiliki potensi untuk dijelaskan dan diprediksi. Namun, dalam membedakan
penelitian dasar dan terapan kami tidak peduli dengan potensi, kami prihatin dengan bentuk.

Komunikasi pembangunan sebagai komunikasi terapan adalah komunikasi yang diterapkan,


terlepas dari tingkat yang dia gunakan untuk melakukan sebuah berubah (individu, organisasi,
masyarakat, negara), atau sifat dari perubahan, contohnya dengan ciri-ciri komunikasi yang
membangkitkan partisipasi masyarakat sebagai praktek daripada memanipulasi variabel
independent bentuknya seperti social engineering (rekayasa sosial), lalu variabel independen
harus dinilai berdasarkan biaya ekonomi dari manipulasi terhadap manfaat ekonomi karena
perubahan membutuhkan sumber daya dan tidak pernah ada situasi di mana ada "sumber daya

15
tak terbatas atau gratis" untuk menginduksi perubahan. Selanjutnya konsekuensi dari pratek
etika dan hukum agar dapat mengurangi konflik di antara berbagai konflik vertikal dan
horizontal yang dapat menghambat proses pembangunan. Intinya komunikasi pembangunan
menjadi komunikasi terapan akan memfasilitasi proses perubahan, yang pada gilirannya
dirancang untuk memecahkan masalah. Intinya, peneliti komunikasi terapan adalah agen
perubahan yang dikendalikan, yang didedikasikan untuk menemukan bagaimana perubahan
variabel atau fenomena yang paling efektif, efisien, dan etis.

Dalam buku Wilkins dkk (2014: 143) dijelaskan mengenai akuntabilitas, yang maksudnya
segala sesuatunya harus terukur seperti mencerminkan penelitian yang ciri, yaitu: 1) secara
menyeluruh mengeksplorasi masalah atau situasi komunikasi tertentu; 2) mengungkapkan
informasi yang signifikan, substantif dan valid. Semakin banyak digunakan dalam wacana
pengembangan dalam industri untuk menyoroti penelitian terapan yang menilai efektivitas
program pembangunan. Tetapi evaluasi dapat melakukan lebih dari sekadar menilai efek
jangka pendek dari program tunggal. Penelitian dapat digunakan untuk menempatkan
program dalam konteks yang lebih luas, bersama dengan tren dan intervensi serupa, dalam
jangka waktu yang lebih lama. Dengan cara ini kita dapat mempertimbangkan akuntabilitas
sebagai tidak didorong oleh donor, tetapi sebagai rasa tanggung jawab yang berharga kepada
komunitas kita untuk memecahkan masalah. Alih-alih menerima akuntabilitas yang didorong
oleh donor, analisis kritis dimungkinkan melalui penelitian dialogis, di mana politik dari
proses penelitian itu sendiri menjadi bagian dari percakapan. Jika kita mampu fokus pada
pemahaman konteks historis masalah dan upaya komprehensif menuju penyelesaian, maka
kita harus menjauh dari fokus pada proyek-proyek individu yang didasarkan pada kerangka
kerja pluralis, dan menuju dialog konstruktif berdasarkan pemahaman kontrol hegemonik dan
ketahanan komunikasi strategis. untuk dan tentang keadilan sosial. Kita membutuhkan rasa
tanggung jawab yang muncul ini jika kita ingin mengatasi isu-isu kunci keadilan sosial.

10. Bagaimana penelitian disertasi komunikasi pembangunan dapat menyumbangkan


kepada teori komunikasi? Ada berapa macam cara menyumbangkan teori menurut
Slatter Gleason (2012)? Bagaimana penelitian Anda bisa berkontribusi untuk
pengembangan teori?

Disertasi komunikasi pembangunan adalah suatu tahap riset yang dapat dikatakan mempunyai
kebaruan (novelty) dalam hal temuannya yang bermanfaat untuk menyelesaikan segala
persoalan yang timbul dalam kehidupan. Kebaruan yang dihasilkan akan menjadi sebuah teori
yang dapat memperkaya teori komunikasi. Pada hakekatnya teori harus menjadi manfaat bagi
sesame manusia dan keberlangsungan kehidupan. Teori baru bisa dengan cara
menyempurnakan sebuah teori, operasionalisasi diujikan, eksplorasi, hubungan hipotesis diuji
lebih dengan metode baru dengan penuh kecermatan. Inilah yang menjadi tugas dari ilmuwan
komunikasi yang memikirkan dengan jelas tentang apa yang dilakukan sebuah studi untuk
berkontribusi pada teori dan pengetahuan yang dapat digeneralisasikan, dan
mengartikulasikan kontribusi itu dengan jelas yang membuat sebuah penelitian dapat
memberikan kontribusi yang bermanfaat. Peran Dengan mengusulkan kerangka kerja untuk
memahami bagaimana peneliti kuantitatif biasanya berusaha untuk berkontribusi pada teori
dan pengetahuan yang dapat digeneralisasikan dalam komunikasi, mencatat beberapa
kekuatan dan kelemahan dari berbagai pendekatan yang biasanya digunakan.

Cara menyumbangkan teori menurut Slatter Gleason (2012), yaitu:

16
Pertama, mengatasi masalah konseptual fundamental, salah satu cara untuk berkontribusi
pada teori adalah untuk mengklarifikasi, menyempurnakan, atau menantang konseptualisasi
dalam teori yang diberikan. Karena perbedaan konseptual dan definisi operasional terkait erat
dalam penelitian ilmu sosial, kontribusi teori semacam ini dapat diidentifikasi dalam beberapa
cara. Satu set strategi untuk berkontribusi teori melibatkan mengatasi isu-isu konseptual yang
mendasar berkaitan dengan teori atau hubungan yang diteorikan sebelumnya. Langkah-
langkahnya adalah sebagai berikut berupa: a) Mendefinisikan dan mengoperasionalkan
kembali konsep kunci; b) Mengkritik dan menguji asumsi teoretis utama; c) Mengkritisi
operasionalisasi sebelumnya yang memiliki implikasi konseptual serta metodologis. Kedua,
Memperluas Rentang Teori yang Ada dan Temuan Temuan Empiris dan langkah-langkahnya
adalah: a) Menambahkan variabel independen yang relevan secara teoritis; b) Menguji teori-
teori yang ada / temuan sebelumnya dalam konteks komunikasi baru; c) Populasi, lokasi, dan
hasil baru, kontribusi teoritis yang terlibat dalam hanya menguji teori dalam konteks atau
populasi baru mungkin paling sederhana, meskipun kepentingan substantif mungkin penting.

Penelitian saya bisa berkontribusi untuk pengembangan teori?

Penelitian yang saya lakukan adalah mengenai permasalahan sampah atau pengelolaan
sampah. Dalam penelitian ini sampah menjadi sebuah isu yang diangkat yang dalam konteks
komunikasi merupakan sebuah ‘pesan’. Saya memilih teori kesembangan Heider (1946) dan
Newcomb, 1957): sistem hubungan relasi segitiga P-O-X (Heider) dan A-B-X (Newcomb).
Secara sederhananya teori ini adalah bagaimana melihat suatu isu dari hubungan triadik.
Menurut Heider ada 2 jenis hubungan dalam sistem P-O-X, yaitu: 1) Hubungan unit yang
terdiri dari, a) Tipe U, b) Tipe bukan U; 2) Hubungan sentimen, yang bisa bersifat, a) positif
(L), dan b) negatif (DL). Hubungan unit tipe U adalah jika 2 unsur dipandang sebagai saling
memiliki, sedangkan tipe bukan U (not U) adalah jika unsur-unsur itu tidak saling menyukai.
Contoh: kalau P menyukai O dan tidak menyukai X, maka persoalan keseimbangan tidak akan
timbul selama O dan X dipandang sebagai hal-hal yang terpisah satu sama lain. Tetapi kalau
hubungan O dan X saling memiliki (hubungan positif) timbullah perasaan seimbang dalam
diri P. sebaliknya kalau O dan X saling berhubungan tetapi tidak saling memiliki (hubungan
negatif), maka yang terjadi adalah keadaan tidak seimbang dalam struktur kognitif P.

Gambar 1. Heider's P-O-X model [ CITATION Hei46 \l 1033 ]

Teori Keseimbangan model Heider menunjukkan bagaimana orang mengembangkan


hubungan mereka dengan orang lain dan menyesuaikan diri dengan lingkungan mereka. Teori
keseimbangan mengatakan bahwa jika orang melihat seperangkat elemen kognitif sebagai
suatu sistem, maka mereka akan memiliki preferensi untuk mempertahankan keadaan yang
seimbang di antara elemen-elemen tersebut. Dengan kata lain, jika kita merasa kita 'tidak
seimbang', maka kita termotivasi untuk mengembalikan kepada posisi keseimbangan.
Hipotesa umum yang diajukan Newcomb (1937, 1957) adalah bahwa ada hukum-hukum yang
mengatur hubungan-hubungan antara kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap yang ada
pada seseorang. Beberapa kombinasi kepercayaan dan sikap itu ada yang tidak stabil yang

17
mendorong orang yang bersangkutan untuk menuju ke situasi yang lebih stabil. Sampai di sini
teori Newcomb tidak berbeda dengan teori P – O – X dari Heider. Namun, Newcomb
menambahkan faktor ‘komunikasi’ antar individu dan hubungan-hubungan dalam kelompok.
Komunikasi yang memungkinkan orang untuk saling beroritentasi atau bersama-sama
berorientasi kepada suatu objek tertentu.

Dalam hal ini saya, berupaya mengembangkan teori keseimbangan Haider dan Newcomb
dengan pendekatan “Keseimbanangan Proses Komunikasi”, karena 2 teori sebelumnya hanya
menjelaskan tekait keseimbangan yang terjadi antara dua aktor (A – B) terhadap satu isu (X),
keseimbangan dilatarbelakangi oleh keseimbangan kognitif yang terkait dengan hubungan
antar aktor [suka (+) atau tidak suka (-)] disebut atraksi, yang terhubung dengan sikap
(attitude) ke dua nya kepada satu isu (X) dalam hal ini masalah sampah.

Pengembangan “teori keseimbangan proses komunikasi” yang saya ajukan untuk di uji
dalam penelitian saya dapat dipaparkan sebagai berikut:

Proses komunikasi merupakan serangkai sistem yang terdiri dari komponen-komponen yang
saling ketergantungan. Komponen-komponen tersebut mulai dari Pengirim (sender), Pesan
(messege), media atau saluran (channel), Penerima (receiver). Dari keempat komponen
tersebut ada sub proses yang lahir dari masing-masing komponen dan membuat komponen-
kompenen tersebut memiliki nilai (value). Pertama, sub proses dari pengirim adalah
bagaimana membentuk, mengkonstruksi, atau memformulasikan pesan (coding/ encode),
sehingga pesan tersebut memiliki nilai yang dapat dimaknai. Kedua, sub proses saat
menentukan pilihan saluran yang digunakan, karena saluran sangat kontekstual, bila tidak
sesuai maka pesan kurang efektif untuk didesiminasikan. Ketiga, sub proses yang terjadi pada
penerima, yaitu penafsiran pesan (decode). Keempat, sub proses yang merupakan efek (effect)
dari penafsiran pesan yang akan diikuti oleh umpan balik (feedback). Efek tergantung
kapasitas penafsiran atau penerjemahan penerima, jadi bisa hanya sampai tahap kognitif
(mengetahui), bisa juga sampai tahap afektif (merasakan), dan sampai tahap konatif (ada
tindakan). Semua tahapan dari efek mulai dari kognitif, afektif, dan konatif dapat
menimbulkan umpan balik. Namun, bila hanya sampai tahap kognitif berhenti, atau sampai
tahap afektif berhenti, ini juga dapat bermakna pesan umpan balik, yaitu penolakan atau
penundaan yang harus diselidiki lebih dalam penyebabnya. Faktor yang menyebabkan tidak
lancarnya sub proses dikarenakan adanya gangguan (noise) pada saat proses komunikasi
berlangsung.
Dalam menganalisis teori keseimbangan kognitif menjadi kajian yang sifatnya triadik
karena membentuk hubungan segitiga antara dua orang yang dihadapkan dengan sebuah isu
(objek). Fokus kajian ini adalah kepada orientasinya, yaitu kebiasaan seseorang (baik
kognitif) maupun kateksis (tenaga pendorong energi psikis/ naluri) untuk selalu mengkaitkan
diri sendiri dengan orang-orang lain atau objek-objek disekitar dirinya. Orientasi ini dapat
disamakan artinya dengan ‘sikap’ dan Newcomb membedakannya menjadi 2 jenis orientasi,
yaitu atraksi (attraction) dan sikap (attitude) sendiri. Atraksi adalah orientasi terhadap orang
lain, sedangkan sikap adalah orientasi terhadap objek (isu). Menghubungkan dengan analisis
proses komunikasi, berarti atraksi adalah keterkaitan A  B adalah orientasi orang terhadap
orang yang bisa digambarkan dengan Pengirim (sender) kepada Penerima (receiver).
Keterkaitan A (Sender) – B (Receiver) akan terlihat dari efek dan umpan baliknya. Bila atraksi
positif (+) maka akan terjadi efek dan umpan balik yang positif, dan bila atraksinya negatif (-)
maka efek dan umpan balik otomatis negatif.

18
Sedangkan sikap adalah keterkaitan orang, yaitu A dan B yang masing-masing
memiliki sikap terhadap isu (objek). Sikap terhadap isu bisa positif (+) ataupun negatif (-).
Bila dikaitkan dengan proses komunikasi sikap ini akan tergambarkan dengan wujud sikap
terhadap pesan (messege) dan saluran (channel) komunikasi yang di hadapi. Hal ini
dikarenakan isu (objek) adalah sesuatu yang menghubungkan kedua orang (A dan B) dalam
orientasi kognitifnya, dan dalam prakteknya A dan B akan bergantian menjadi Pengirim
(sender) dan menjadi Penerima (receiver) yang akan menunjukkan sikapnya positif (+) atau
negatif (-). Pada saat orientasi sikapnya negatif (-) maka apapun saluran yang digunakan akan
dinilai negatif (-) dan bila orientasi atraksinya negatif (-), akan terlihat dari efek yang negatif
pula sehingga tidak ada umpan balik atau kalau pun ada merupakan umpan balik yang negatif
(-) pula. Proses komunikasi di dasari oleh adanya interaksi sosial dan interaksi simbolik
minimal di antara dua orang, sehingga tujuan dari teorisasi ini adalah untuk melihat dan
menggambarkan proses komunikasi pada situasi ketidakseimbangan kognitif diantara
pengirim dan penerima pesan, maka hasilnya adalah berupa model keseimbangan proses
komunikasi sebagai berikut:

Gambar 2. Model Keseimbangan Proses Komunikasi

Dari gambar 3 dapat digambarkan bahwa hubungan A dan B yaitu atraksi dalam
bentuk garis relasi yang akan memunculkan interaksi sosial dan interaksi simbolik, sehingga
terjadilah proses komunikasi. Dalam hal ini A dan B bisa bertukar peran sebagai komunikator
atau sebagai komunikan bila komunikasi terjadi secara interaksional atau sirkuler. Akan
terjadi efek (E) yang akan diikuti oleh umpan balik (F). selanjutnya sikap A dan B terhadap X
(isu, objek) dalam proses komunikasi akan bermakna sebuah pesan (M) dan saluran (C) yang
melekat atau secara otomatis digunakan sebagai sarana penyampaian pesan (X= M+C). Hanya
dengan penggunaan saluran (media) pesan dapat diterima atau diserap oleh penerima
(khayalak), seperti yang jelaskan oleh McLuhan (1964), “The medium is the message” (media
adalah pesan), yang bermakna bahwa penggunaan media yang dipilih untuk digunakan akan
menyesuaikan dengan konten pesan agar terjadi keselarasan dengan konteks. Keseimbangan
proses komunikasi asumsinya adalah tidak adanya tekanan/ ketegangan (disonansi) kognitif
saat terjadi interaksi sosial diantara minimal dua orang, kelompok, atau lembaga. Sedangkan
ketidakseimbangan proses komunikasi adalah terjadinya ketegangan kognitif saat terjadinya
interaksi sosial diantara minimal dua orang, kelompok, atau lembaga.

19
Gambar 3. Konfigurasi Triadik Keseimbangan

Gambar 1 bila dilihat dari perspektif proses komunikasi kondisi adalah semua relasi
positif (+ + +) sehingga dapat diartikan bahwa terjadi kenyamanan tidak ada tekanan dalam
berinteraksi. Gambar 2 hubungan A dan B positif (+ - -) tidak ada ketegangan sementara
mereka memang sama-sama tidak suka (-) terhadap X. Selanjutnya gambar 3 dan 4, A dan B
saling tidak menyukai secara interaksi sosial ada hambatan, namun mereka saling berbeda
pandangan terhadap X. Kondisi tersebut masuk dalam katagori seimbang karena memang
tidak ada ketegangan, karena mereka mempunyai sikap masing-masing terhadap orientasi
kepada X. Lain halnya bila keduanya memiliki orientasi sikap yang sama sementara mereka
dalam relasi yang negatif, maka yang akan timbul adalah ketegangan, yaitu situasi persaingan
di antara keduanya.

Gambar 4. Konfigurasi Triadik Ketidakseimbangan

Gambar 5 s/d 8 adalah kondisi ketidakseimbangan, pada gambar 5 dan 6 yaitu kondisi
dimana A dan B memiliki relasi yang positif tapi mereka memiliki padangan yang berbeda
terhadap X, ini akan terjadi ketegangan, yaitu berbedanya pendapat. Bila tidak terjadi
penurunan tensi ketegangan maka berpotensi menimbulkan konflik. Selanjutnya gambar 7
dimana A dan B memiliki relasi yang negatif, tapi mereka memiliki orientasi sikap yang sama
terhadap X, inilah yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa akan terjadi ketegangan, yaitu
persaingan yang kuat, karena dengan relasi negatif diantara A dan B, bisa jadi kemarahan,
kebencian akan minim sikap toleransi dan empati di antara keduanya.
Terakhir gambar 8 dimana relasi antara A kepada B negatif, begitu pula mereka
berdua juga tidak memiliki kesukaan atau negatif terhadap objek X. Kondisi ini bisa
dikatakan sebagai ketidakseimbangan yang penuh, karena tidak memungkinkan terjadi
interaksi sosial atau proses komunikasi, dan juga karena tidak ada titik kordinat yang
mempertemukan kedua antara A dan B, bisa disebut sebagai “kegagalan berkomunikasi”.
Berbeda dengan salah faham atau miscommunication dimana masih bisa memberikan
penjelasan ulang atau masih terbuka ruang untuk bernegosiasi. Kondisi mereka dimana ketiga
garis relasi negatif (-) semua akan selalu ada jarak yang diibaratkan seperti dinding. Situasi
yang paling terparah pada kondisi ini adalah langkah yang diambil oleh A da B sembagai
individu manusia dengan menunjukkan rasa dendam, amarah, kesombongan dan bila level

20
kelompok adalah konflik horizontal, bila antara penguasa dan rakyat akan terjadi
pemberontakan atau perpecahan, dan bila level antar negara bisa terjadi peperangan.

Tabel 1. Matriks dari Konfigurasi Proses Keseimbangan Komunikasi

Penjelasan lebih detailnya adalah model Newcomb (1953) dalam bentuk segitiga
secara signifikansi adalah model pertama yang memperkenalkan peran komunikasi di dalam
sebuah masyarakat atau sebuah hubungan sosial. Bagi Newcomb peran tersebut adalah
sederhana, yaitu menjaga keseimbangan dalam sistem sosial. Cara model tersebut bekerja
dapat dijelaskan sebagai berikut, A dan B adalah komunikator dan penerima; mereka bisa
merupakan individu-individu, atau manajemen dan serikat kerja, ataupun pemerintah dan
masyarakat. X adalah bagian dari lingkungan sosial mereka. A-B-X adalah sebuah sistem,
yang berarti hubungan internal yang terjadi adalah saling bergantung, artinya jika A berubah,
B dan X akan berubah juga; atau jika A mengubah hubungannya dengan X, B juga harus
mengubah hubungannya dengan X ataupun dengan A [ CITATION Fis14 \l 1033 ].

Gambar 5. Ilustrasi Skematik dari Sistem A-B-X Minimal [ CITATION Fis14 \l 1033 ].

Penjelasan dari skema diatas adalah: 1) Orientasi A terhadap X, termasuk sikap


terhadap X sebagai objek yang harus didekati atau dijauhi (dikarakteristikkan oleh tanda dan
intensitas) dan atribut-atribut kognitif (kepercayaan dan struktur kognitif); 2) Orientasi A
kepada B disebut atraksi, yaitu membicarakan ketertarikan positif (+) atau negatif (-) kepada
A atau B sebagai individu (manusia), dan bisa juga sikap mendukung atau tidak mendukung
terhadap X; 3) selanjutnya orientasi B terhadap X dan orientasi B terhadap A.
Jika A dan B adalah teman baik (+), dan X adalah sesuatu atau seseorang yang
dikenal oleh keduanya, akan sangat penting untuk A dan B memiliki sikap yang sama dengan
X. jika mereka memiliki sikap yang sama, maka sistem akan menjadi seimbang. Namun, jika
A menyukai X dan B tidak, maka A dan B akan berada di bawah tekanan untuk

21
berkomunikasi agar keduanya dapat mencapai sikap yang secara umum sama dengan X.
Semakin penting posisi yang dimiliki X di dalam lingkungan mereka, akan semakin besar
dorongan mereka untuk memiliki orientasi yang sama mengenai X. Tentu saja X bisa buka
merupakan seseorang atau sesuatu, X mungkin saja merupakan bagian dari lingkungan
bersama [ CITATION Fis14 \l 1033 ]. Misalnya kita ambil contoh isu X adalah masalah
penanganan dan pengelolaan sampah. Contoh sampah karena isu ini sangat kontraks di
lingkungan masyarakat, persepsi mengenai sampah adalah sesuatu yang dibuang, bau yang
tidak sedap, kotor, jorok, dan kegiatan memilah sampah dikonotasikan seperti pemulung,
sehingga bisa memicu sikap yang tidak peduli atau tidak suka (-) daripada manfaat dari
sampah itu sendiri (+).
Ada beberapa tingkatan hubungan relasi yang terjadi terkait lingkungan sosial atau
pemangku kepentingan yang berwenang dalam menangani masalah pengelolaan sampah,
yaitu mulai dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah (Pemda), Kota, Kabupaten, Kecamatan
dan seterusnya sampai ke masyarakat. Bisa diilustrasikan hubungan Pemerintah Pusat (A)
dengan Pemda (B), secara teori saling menyukai, ada kepatuhan garis perintah. Situasi
tersebut akan berada di bawah tekanan untuk melakukan pertemuan-pertemuan secara teratur
dan setuju mengenai isu X yaitu, kebijakan penanganan dan pengelolaan sampah. Sementara
Pemda s/d ke Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) kepada masyarakat bisa jadi
terkait isu ‘Sampah’ (X) bisa dalam situasi ‘suka’(+) atau ‘tidak suka’(-), dan juga bisa
‘mau’(+) atau ‘tidak mau’(-). Biasanya bila sebuah ide baru diperkenalkan seperti masalah
pengelolaan sampah berbasis masyarakat 3 R (Reduce, Reuse, Recycle) ini adalah isunya (X),
awalnya masih belum terbiasa dan sesuatu yang merepotkan seperti harus memilah sampah
dan tidak ada waktu untuk hal tersebut. Jika sebelum isu X muncul hubungan Pemda dan
masyarakat di wilayah tertentu sedang tidak bersahabat (-) atau ada konflik mengenai
sengketa tanah misalnya. Maka saat itu tekanan untuk saling setuju mengenai isu X jadi lebih
sedikit. Namun, jika kondisi relasi Pemda (A) dengan masyarakat (B) dalam kondisi tidak
saling suka (-) karena kondisi sebelumnya, tapi terjadi perubahan sikap masyarakat (B)
menjadi positif (+) terhadap kebijakan pengelolaan sampah (X), maka sistem bisa tetap pada
posisi seimbang.
Keseimbangan proses komunikasi bisa meningkat bila X berubah. Misalnya yang
sebelumnya kebijakan pengelolaan sampah hanya fokus pada TPS (Tempat Pembuangan
Sementara) yang di dalamnya ada kegiatan 3 R (TPS 3R) dan partisipasi masyarakat masih
minim. Ada perubahan kebijakan Pemerintah mengembankannya dengan program/ gerakan
Bank sampah. Bank Sampah adalah mekanisme pemilahan sampah anorganik yang masih
bernilai ekonomis, seperti botol plastik, kertas, berbagai logam, dan lain-lain. Konsepnya
disetorkan seperti layaknya Bank konvensional, tapi yang disetorkan adalah sampah
anorganik yang dikonversi menjadi nilai uang. Masyarakat menabung uangnya dan sewaktu-
waktu bisa diambil saat sudah terkumpul banyak. Bank Sampah menjadi isu (X) atau pesan
komunikasi dari A sebagai komunikator. A (Pemerintah Daerah) dan Masyarakat (B) akan
terjadi peningkatan kebutuhan untuk berkomunikasi untuk menetapkan orientasi X yang baru
(TPS 3 R ditambah dengan Bank Sampah). Dalam prosesnya isu X akan tersebar luas melalui
berbagai saluran (media), tapi bila kita masuk kepada proses keseimbangan komunikasi ada
elemen-elemen yang saling ketergantungan agar pesan (isu X) dapat diterima dan dipahami
oleh masyarakat. Karakteristik masyarakat juga menentukan dengan saluran apa efektifnya
agar X dapat di dukung oleh masyarakat, seperti apakah dengan media massa, forum
pertemuan komunitas, atau media sosial tergantung segmetasi seperti orang dewasa, remaja,
dan pengenalan dini anak-anak sekolah dasar misalnya. Saat ini ketergantungan masyarakat
terhadap media semakin meningkat sehingga komunikasi antara A dan B terjadi secara

22
konstan. Selanjutnya efek (E) seperti apa yang akan diikuti umpan balik (F), bila positif maka
terjadi keseimbangan proses komunikasi, tapi bila negatif sistem akan berupaya untuk
menyesuaikan atau mencari titik temu sebagai upaya berkomunikasi secara berkelanjutan
(sustainable communication).
Daftar Pustaka

Arbi, A. (2016). Governmental Communication Strategies in Socializing Waste Management.


International Journal of Social Science and Humanity, 6(8), 643–652.
https://doi.org/10.7763/IJSSH.2016.V6.726
Asteria, D., Suyanti, E., Utari, D., & Wisnu, D. (2014). Model of Environmental Communication with
Gender Perspective in Resolving Environmental Conflict in Urban Area (Study on the Role of
Women’s Activist in Sustainable Environmental Conflict Management). Procedia
Environmental Sciences, 20, 553–562. https://doi.org/10.1016/J.PROENV.2014.03.068
De Feo, G., Ferrara, C., Iannone, V., & Parente, P. (2018). Improving the efficacy of municipal solid
waste collection with a communicative approach based on easily understandable indicators.
Science of the Total Environment, 651, 2380–2390.
https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2018.10.161
McLuhan, M. (1964). Understanding Media: The Extensions of Man. New York: The New American
Library.
Yang, D., Kao, W. T. M., Huang, N., Wang, R., Zhang, X., & Zhou, W. (2014). Process-based
environmental communication and conflict mitigation during sudden pollution accidents.
Journal of Cleaner Production, 66, 1–9. https://doi.org/10.1016/J.JCLEPRO.2013.11.023
Zikargae, M. H. (2018). Analysis of environmental communication and its implication for sustainable
development in Ethiopia. Science of The Total Environment, 634, 1593–1600.
https://doi.org/10.1016/J.SCITOTENV.2018.04.050

23