Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

FILSAFAT ILMU DAN METODE ILMIAH


“ BEBAS NILAI DALAM SAINS DAN TANGGUNG JAWAB
SAINS”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK III
MASUDDIN A 202 18 033
NIRMAWATI A 202 18 010
SILVIA A 202 18 001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SAINS


PASCASARJANA UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018
KATA PENGANTAR

Allhamdulillah, Segala kesempurnaan hanya milik ALLAH SWT, berkat RAHMAT dari

ALLAH SWT, penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini tepat pada waktunya.

Makalah ini diajukan sebagai tugas pada mata kuliah Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah

dengan judul “Bebas Nilai Dalam Sains dan Tanggung Jawab Sains”.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu

sehingga penulisan makalah ini dapat selesai.Terima kasih pula kepada dosen pembimbing mata

kuliah Filsafat Ilmu dan Metode Ilmiah, yang telah membantu kami dalam penyusunan makalah

ini. Semoga dengan adanya makalah ini dapat membantu belajar mahasiswa dalam meraih yang

terbaik di mata kuliah ini khususnya, serta mata kuliah lain yang terkait.

Kami menyadaribahwamakalahinimasihjauhdarikesempurnaan, makadariitu kami sangat

memerlukan saran dankritik yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah

yang akan datang.

Palu, November 2018

Penulis,
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR .................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................ 1

1.2 Rumusan Masalah ...................................................................... 2

1.3 Tujuan ………………………………………………………….. 2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Bebas nilai dalam sians ............................................................... 3

2.2 Contoh operasional sains bebas nilai .......................................... 6

2.3 Tanggung jawab sains ................................................................. 7

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpilan .................................................................................. 11

3.2 Saran ........................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 12


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Membicarakan tentang ilmu, ilmuwan dan etika ilmiah terkait dengan pembicaraan tentang
ilmu, ilmuwan dan aktualisasinya dalam penelitian.Ini adalah sesuatu yang menarik, sebab ilmu
pengetahuan dewasa ini sedang ramai ditelaah kembali disebabkan kurang mampunya ilmu
mengatasi berbagai persoalan manusia.
Filsafat sebagai sebuah pengetahuan dengan metode berfikir yang analisis dan kritis.
Membicarakan tentang ilmu, ilmuwan dan etika ilmiah terkait dengan pembicaraan tentang ilmu,
ilmuwan dan aktualisasinya dalam penelitian. Ini adalah sesuatu yang menarik, sebab ilmu
pengetahuan dewasa ini sedang ramai ditelaah kembali disebabkan kurang mampunya ilmu
mengatasi berbagai persoalan manusia. Sebagai sebuah pengetahuan, filsafat menerapkan
metode berpikir analitis dan kritis. Ditangan Socrates, filsafat menjelma menjadi
kekuatan caunter attack terhadap pandangan kaum sofis, yang berjaya masa itu. Disanalah kita
menemukan kata “kebijaksanaan” sebagai titik penerangan. Pada abad ke-5 SM, sofis menguasai
panggung ilmu dan politik Yunani. Menjadikan argumentasi sebagai tolak ukur kebenaran, dan
mengukuhkan sebarang klaim dengan menolak klaim tandingan. Socrates memberikan batasan
dengan tegas sehubungan tolak ukur kebenaran sofis, sebagai tindakan spekulatif. Baginya,
seorang ilmuan harus juga pecinta kebijaksanaan. Suatu kajian dapat disebut ilmiah atau tidak,
tidak semata bergantung dari kemampuan seorang peneliti dalam menyajikan data informasi
secara obyektif. Melainkan dari kegiatan ilmiah dengan prinsip bebas nilai dalam ilmu
pengetahuan itu sendiri. Tidak dibenarkan ada campur tangan eksternal di luar struktur obyektif
ilmiah. Obyektifas hanya dapat diperoleh melalui proses bebas nilai mutlak (freevalue-netral).
Di jaman yang modern saat ini, ilmu telah mempengaruhi reproduksi dan penciptaan dalam
manusia. Ilmu itu sendiri telah menciptakan dehumanisasi yang dapat mengubah hakikat
kemanusiaan tersebut. Sehingga, ilmu dapat menjadi wadah yang membantu manusia dalam
menciptakan dan mencapai tujuan dalam hidupnya.

Menghadapi pernyataan yang seperti ini, manusia mulai mempertanyakan sebenarnya


untuk apa ilmu itu dipergunakan. Sampai dimana saja batas tentang keilmuan ini dibahas serta
keaarah mana saja ilmu tersebut dikembangkan.Sedangkan pada abad ke-20, ilmuwan mencoba
menjawab permasalahan ini dengan mengesampingkan hakikat moral. Sehingga menyebabkan
ilmu berada dalam perspektif yang berbeda-beda. Karena pada saat itu, manusia mencoba
mencari rasional yang jelas tentang alam dan dirinya.

1.2 Rumusan malasah

Dalam makalah ini, akan diuraikan beberapa rumusan dan batasan masalah sebagai
berikut :

1. Pengertian Bebas Nilai dalam sains


2. Bagaimana tanggung jawab sains?
1.3 Tujuan
Pembahasan yang menyangkut Masalah Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan dalam
makalah ini bertujuan untuk:
1. memahami pengertian bebas nilai dalam sains
2. untuk mengetahui tanggung jawab sains
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Bebas nilai dalam sains


Ilmu bebas nilai atau dalam bahasa inggris sering disebut dengan value free menyatakan
bahwa ilmu dan teknologi adalah bersifat otonom. Ilmu secara otonom tidak memiliki
keterkaitan sama sekali dengan nilai. Pembatasan etis hanya akan menghalangi eksplorasi
pengembangan ilmu. Sejak ilmu pengetahuan di tandai pertautan antara teori dan praksis, maka
apa yang berlaku bagi praksis berlaku juga bagi teori, karena yang terakhir tidak dapat
berkembang tanpa praksis. Walaupun pengalaman eksperimental dalam ilmu–ilmu manusia
sangat di perlukan, namun satu–satunya arah yang mengizinkan eksperimentasi adalah arah
menuju kemanusian yang lebih baik serta utuh dan menuju suatu bentuk kemasyarakatan yang
memungkinkan hal itu. Dalam hal ini, tuntutan tadi bukanlah tuntutan yang berasal dari luar,
bukan sesuatu yang diperintahkan oleh etika kepada ilmu – ilmu manusia. Tuntutan itu berasal
dari obyek ilmu itu sendiri, yaitu manusia. Siapa yang ingin mengetahui sesuatu tentang
manusia, harus melihatnya sebagai makhluk yang hidup dalam ketegangan antara apa adanya
dan apa seharusnya ada. Bebas nilai mengartikan bahwa semua kegiatan terkait pada
penyelidikan ilmiah harus didasarkan pada hakikat ilmu itu sendiri. Etika hanya bekerja ketika
ilmu telah selesai bekerja. Etika hanya bisa diterapkan pada manusianya, yaitu ilmuan. Yang
harus dikenai nilai dan pernyataan normatif adalah ilmuan sebagai manusia. Kelompok ini
memegangi pandangan Francis Bacon bahwa ilmu adalah kekuasaan, berkat atau malapetaka
terletak pada orang yang menggunakan kakuasaan tersebut. Kekuasaan terletak pada si pemilik
pengetahuan. JosepSitumorang menyatakan bahwa sekurang-kurangnya ada tiga faktor sebagai
indikator bahwa ilmu itu bebas nilai, yaitu:
1. Ilmu harus bebas dari pengandaian-pengandaian nilai. Maksudnya adalah bahwa ilmu
harus bebas dari pengaruh eksternal seperti faktor politis, ideologis, religius, kultural, dan
sosial.
2. Diperlukan adanya kebebasan usaha ilmiah agar otonomi ilmu terjamin. Kebebasan di
sini menyangkut kemungkinan yang tersedia dan penentuan diri.
3. Penelitian ilmiah tidak luput dari pertimbangan etis yang sering dituding menghambat
kemajuan ilmu, karena nilai etis sendiri itu bersifat universal.
Kriteria yang menentukan apakah sebuah kajian itu ilmiah atau tidak ditentukan oleh
bagaimana kemampuan seorang peneliti dalam memaparkan informasi secara obyektif. Tuntutan
dalam prinsip bebas nilai adalah kegiatan ilmiah yang didasarkan pada hakikat ilmu pengetahuan
itu sendiri. Artinya, tidak ada campur tangan eksteral di luar struktur obyektif sebuah
pengetahuan. Obyektivitas hanya bisa diraih dengan mengandaikan ilmu pengetahuan yang
bebas nilai (value-neutral).

Bebas nilai berarti ilmu harus lepas dari tuntutan atau tidak dapat dikenai tuntutan atau
sanksi atas kegiatan-kegiatan keilmuan yang dilakukan.di dalam proses penemuan konsep-
konsepnya, ilmu pengetahuan selalu menjunjung tinggi kebenaran, maka kebenaran itu dijunjung
tinggi dengan nilai. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus bebas nilai, dan pengertian ini
sejalan dengan ilmu pengetahuan itu tanpa pamrih. Dengan ungkapan ilmu itu bebas nilai dapat
pula diartikan bahwa ilmu itu memiliki otonomi. Otonomi ilmu pengetahuan tentu tidak bisa dan
tidak boleh diartikan bahwa penelitian ilmiah tidak perlu menghiraukan nilai luar ilmiah apapun.
Mempraktekkan atau menerapkan ilmu pengetahuan haruslah disadari oleh kesadaran bahwa
sejak semula hal itu sebagai tanggung jawab manusia terhadap masyarakat. Mengartikan
tanggung jawab etis ilmu penetahuan tidaklah mudah.namun disisi lain tanggung jawab tersebeu
dapat dijabarkan menjadi keinsyafan dan kewajiban etis.Dari sisi filsafat ilmu, keperluan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan dan iptek, syarat “bebas nilai” dalam memperoleh ilmu
pengetahuan mulai luntur karena dalam aksiologi, aspek teleologis, etis, dan integratif perlu
mendapat perhatian untuk tujuan kemanfaat ilmu pengetahuan dan teknologi bagi umat manusia.
Sehingga ini sangat subjektif tergantung pertimbangan manfaat, dan oleh karena itu, mengancam
eksistensi sifat bebas nilai dari ilmu itu. Subjektivitas memperoleh ilmu juga dapat diperkuat dari
hasil penelitian fisika kuantum yang mengarah kepada penyataan bahwa pengamat ikut
menentukan hasil pengamatannya melalui sarana-sarana yang digunakan. Kandang sesuatu itu
berupa partikel, kadang berupa gelombang. Pengamat terlibat sangat intensif dalam mengamati
,dan juga, menentukan konsep yang berasal dari pemahaman sebelumnya, yang digunakan untuk
menafsirkan hasil pengamatannya. Dengan demikian, objektif dan sifat “bebas nilai” suatu hasil
ilmu pengetahuan perlu diperbincangkan lebih intensif dalam bidang garapan metafisika.
Sains bebas nilai, objektif dan diolah melalui pengamatan berkesinambungan, terus
menerus, dan disempurnakan. Hadir dari filsafat positivisme yang mengangungkan pendekatan
material dan harus terukur secara inderawi (melalui metodologi keilmuan tentunya). Sains,
didalamnya melahirkan kebenaran-kebenaran dan uji-uji hipotesis dari masa ke masa dengan
segala latar belakangnya menimbulkan kebanggaan dan keberdayaan manusia dengan produk
teknologinya. Meski kita sadari juga, pada akhirnya seluruh proses kreatifitas manusia dan
kemampuan berpikir manusia untuk mengelola alam semesta dengan segala pernak-perniknya
selalu melahirkan penemuan-penemuan baru yang kian lama kian shophisticated, kian canggih.
Namun, ilmuwan tetap terperangah, apalagi orang awam seperti kita ini. Suatu fakta selalu
terbentang di depan mata bahwa seluruh kreatifitas dan hitungan yang jlimet selalu kemudian
disadari :”Selalu ada sesuatu dibalik itu yang lebih spektakuler, selalu lebih mempesona, dan
lebih kreatif”. Tidak salah karenanya, ilmuwan kemudian memahami bahwa kreatifitas alam
semesta dalam membangun dirinya lebih kaya dibandingkan dengan kemampuan olah dan pikir
manusia dalam memahaminya.
Dalam pemabahasan mengenal hal ini kami menemukan 2 persepsi yang berbeda. Ada
yang mengatakan bahwa sains itu bebas nilai, tidak ada sangkut pautnya dengan keyakinan
apalagi agama. Namun ada pula yang mengatakan bahwa sains itu tidak bebas nilai dengan
alasan landasan perkataaanEnstein yang mengeluarkan kata terkenal: “Sains tanpa agama buta,
dan agama tanpa ilmu pincang” atau Stephen Hawking berkata :”saya membaca pikiran-pikiran
Tuhan”. Di samping itu ilmu yang bebas nilai juga akan berimplikasi lepasnya secara otomatis
tanggungjawab sosial para ilmuwan terhadap masalah negatif yang timbul, karena disibukkan
dengan kegiatan keilmuan yang diyakini sebagai bebas nilai alias tak bisa diganggu gugat. Jika
ilmuwan berlepas terhadap persoalan negatif yang ditimbulkannya, maka secara ilmiah mereka
dianggap benar.

CONTOH OPERASIONAL SAINS BEBAS NILAI


1. Teori Relativitas
Teori relativitas ada dua, Teori Relativitas Khusus dan Teori Relativitas Umum. Teori
khusus menyatakan bahwa masing-masing pengamat yang bergerak seragam (tanpa percepatan)
akan menyatakan hasil pengukuran yang berbeda, misalnya tentang panjang, waktu, dan energi.
Asumsinya, prinsip relativitas dan kecepatan cahaya yang konstan. Salah satu bukti kebenaran
teori ini yang dikenal masyarakat adalah teori kesetaraan massa dan energi, E=mc2, bila ada m
massa yang dihilangkan akan muncul energi sebesar E. Teori inilah yang menjadi dasar
penggunaan energi nuklir, baik untuk maksud damai maupun untuk maksud merusak.
Teori umum memperluas teori khusus dengan meninjau pengamat yang bergerak
dipercepat relatif terhadap lainnya akibat gravitasi. Teori ini memperkenalkan kelengkungan
ruang waktu. Sumber gravitasi besar menyebabkan kelengkungan ruang waktu yang dalam.
Karena kesetaraan massa dan energi (antara lain cahaya), gravitasi bukan hanya mempengaruhi
massa tetapi juga cahaya. Cahaya akan dibelokkan mengikuti geometri ruangwaktu di sekitar
sumber gravitasi tersebut. Misalnya, cahaya galaksi yang jauh yang melintasi galaksi lain sebagai
sumber gravitasi kuat akan dibelokkan sehingga tampak bukan pada posisi sesungguhnya.
Fenomena ini juga dikenal sebagai lensa gravitasi, sehingga satu galaksi yang berada jauh di
belakang galaksi lain, tampak seperti beberapa galaksi sejenis di sekitar suatu titik sumber
gravitasi.
Teori sains seperti itu, menurut saintis, netral, bebas nilai. Teori tersebut bebas dibuktikan
oleh siapa pun. Teori tersebut makin kuat posisinya karena semakin banyak bukti yang
mendukungnya. Hukum alam yang diformulasi teori tersebut bukan buatan manusia, tetapi hukum
agama. Einstein dan para saintis lainnya hanya memformulasikannya. Hukum Allah itu telah ada
bersama dengan alam yang diciptakan-Nya. Siapa pun yang memformulasikannya dengan benar
akan menghasilkan teori yang sejalan. Bukti bebas nilainya sains dapat juga ditunjukkan dari
lahirnya teori penyatuan gaya lemah dan gaya elektromagnetik yang dirumuskan secara
independen oleh Abdus Salam (seorang Muslim) dan Steven Weinberg (seorang ateis). Dua orang
yang berbeda sistem nilainya dapat menghasilkan teori yang sama. Mungkin ada motivasi
ketauhidan pada diri Abdus Salam, bahwa Alam yang diciptakan oleh Tuhan yang esa hukum-
hukumnya mempunyai keterkaitan yang dapat dipersatukan dalam satu teori besar. Tetapi motivasi
dan argumentasi ketauhidan seperti itu tidak akan muncul secara formal dalam publikasi saintifik,
karena belum tentu dapat diterima semua orang.
2.2 Tanggung jawab sains
Ada beberapa syarat yang harus dilalui seseorang agar layak disebut sebagai ilmuwan,
salah satunya adalah ilmuwan tersebut harus mengadakan penelitian yang menghasilkan karya
ilmiah yang bisa diterima di masyarakat, karya ilmiah tersebut harus memenuhi sistematika-
sistematika yang harus dipenuhi oleh ilmuwan sebagai syarat agar penelitiannya layak disebut
sebagai karya ilmiah. Yang pokok dalam sistematika penulisan adalah logical sequence (urutan-
urutan logik) dari penulisan. Sistematika suatu karya ilmiah sangat perlu disesuaikan dengan
sistematika yang diminta oleh media publikasi (jurnal atau majalah ilmiah), sebab bila tidak
sesuai akan sulit untuk dimuat. Sedangkan suatu karya ilmiah tidak ada artinya sebelum
dipublikasi.
 Peran dan Fungsi Ilmuwan

Selain memiliki ciri, sikap, dan tanggung jawab, ilmuwan tentunya mempunyai peran dan
fungsi. Berikut adalah peran atau fungsi ilmuwan yang berkaitan langsung dengan aktivitasnya
sebagai ilmuwan, meliputi:

- Sebagai intelektual, ia berperan sebagai ilmuan sosial yang selalu berdialog dengan
masyarakat dan terlibat didalamnya secara intensif dan sensitif.
- Sebagai ilmuwan, ia akan selalu mencoba dan berusaha untuk memperluas wawasan
teoritis, memiliki keterbukaan terhadap kemungkinan dan penemuan baru dalam bidang
keilmuan.
- Sebagai teknikus, ia akan tetap terus menjaga keterampilannya dan selalu menggunakan
instrumen yang tersedia dalam disiplin ilmu yang dikuasainya.

Peran pertama mengharuskannya untuk turut menjaga martabat manusia (Daniel, 2003),
sedangkan dua peran terakhir memungkinkan ia menjaga martabat ilmunya. Fungsi seorang
ilmuawan tidak hanya berhenti pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga
bertanggung jawab agar produk keilmuannya sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat
luas. Selain yang tersebut di atas, sebagaimana yang telah disinggung bahwa ilmuwan memiliki
tanggung jawab sosial, moral, dan etika. Dan berikut ini akan di uraikan berbagai tanggung
jawab ilmuwan yang berkenaan dengan sosial, moral dan etika.

a. Tanggung Jawab Sosial


Tanggung jawab sosial ilmuwan adalah suatu kewajiban seorang ilmuwan untuk
mengetahui masalah sosial dan cara penyelesaian permasalahan sosial. beberapa bentuk
tanggung jawab sosial ilmuwan, yaitu :
Seorang ilmuwan harus mampu mengidentifikasi kemungkinan permasalahan sosial yang akan
berkembang berdasarkan permalahan sosial yang sering terjadi dimasyarakat.
- Seorang ilmuwan harus mampu bekerjasama dengan masyarakat yang mana
dimasyarakat tersebut sering terjadi permasalahan sosial sehingga ilmuwan tersebut
mampu merumuskan jalan keluar dari permasalahan sosial tersebut.
- Seorang ilmuwan harus mampu menjadi media dalam rangka penyelesaian permasalahan
sosial dimasyarakat yang mana masyarakat Indonesia yang terdiri dari keanekaragaman
ras, agama, etnis dan kebudayaan sehingga berpotensi besar untuk timbulnya suatu
konflik.
- Membantu pemerintah untuk menemukan cara dalam rangka mempercepat proses
intergrasi sosial budaya yang mana integrasi tersebut bertujuan untuk mempererat tali
kesatuan antara masyarakat Indonesia. Hal ini juga bertujuan untuk mencegah terjadinya
konflik.
b. Tanggung Jawab Moral
Tanggung jawab moral tidak dapat dilepaskan dari karakter internal dari ilmuwan itu
sendiri sebagi seorang manusia, ilmuwan hendaknya memiliki moral yang baik sehingga
pilihannya ketika memilih pengembangan dan pemilihan alternatif, mengimplementasikan
keputusan serta pengawasan dan evaluasi dilakukan atas kepentingan orang banyak, bukan untuk
kepentingan pribadinya atau kepentingan sesaat. Moral dan etika yang baik perlu kepekaan atas
rasa bersalah, kepekaan atas rasa malu, kepatuhan pada hukum dan kesadaran diketahui oleh
Tuhan. Ilmuwan juga memiliki kewajiban moral untuk memberi contoh (obyektif, terbuka,
menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggapnya
benar, berani mengakui kesalahan) dan mampu menegakkan kebenaran. Sehingga ilmu yang
dikembangkan dengan mempertimbangkan tanggung jawab moralnya sebagai seorang ilmuwan
dapat memberikan kemaslahatan bagi umat manusia dan secara integral tetap menjaga
keberlangsungan kehidupan lingkungan di sekitarnya dan dapat tergajanya keseimbangan
ekologis. Atau dengan meminjam istilah Daoed Joesoef, mantan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, sebagai teknosuf, yang merupakan paduan dari kata teknik/teknologi
dan sophia yang berarti kearifan. Sehingga teknosuf dimaksudkan sebagai teknokrat yang
mempunyai kearifan dalam melakukan rekayasa bagi manusia dan lingkungan di sekitarnya
(Basuki, 2009).
c. Tanggung Jawab Etika
Kemudian tanggung jawab yang berkaitan dengan etika meliputi etika kerja seorang
ilmuwan yang berkaitan dengan nilai-nilai dan norma-norma moral (pedoman, aturan, standar
atau ukuran, baik yang tertulis maupun tidak tertulis) yang menjadi pegangan bagi seseorang
atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya; kumpulan asas atau nilai moral (Kode
Etik) dan ilmu tentang perihal yang baik dan yang buruk. Misalnya saja tanggung jawab etika
ilmuwan yang berkenaan dengan penulisan karya ilmiah, maka kode etik pada penulisan karya
ilmiah harus memenuhi beberapa kriteria, yaitu sebagai berikut:
• OBYEKTIF, (berdasarkan kondisi faktual)
• UP TO DATE, (yang ditulis merupakan perkembangan ilmu paling akhir)
• RASIONAL, (berfungsi sebagai wahana penyampaian kritik timbal-balik)
• RESERVED, (tidak overcliming, jujur, lugas dan tidak bermotif pribadi)
• EFEKTIF dan EFISIEN, (tulisan sebagai alat komunikasi yang berdaya tarik tinggi).

 Hakikat dan tanggung jawab sains


Sains dari aspek epistomologi, didefinisikan sebagai suatu deretan konsep serta skema
konseptual yang berhubungan satu sama lain, dan yang tumbuh sebagai hasil eksperimentasi dan
observasi, serta berguna untuk diamati da dieksperimentasikan lebih lanjut. Sebagai disiplin
ilmu, sains diidentikkan dengan IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Dimana sains/IPA didefinisikan
sebagai pengembang dan sistematisasi dari ilmu pengetahuan positif yang berkaitan dengan alam
semesta. Perkembangan IPA ditunjukkan tidak hanya oleh kumpulan fakta saja, melainkan juga
oleh timbulnya metode ilmiah dan sikap ilmiah. Sains dibentuk dengan pertemuan dua orde
pengalaman yaitu orde observasi yang didasarkan pada hasil observasi terhadapa gejala atau
fakta alam dan orde konsepsional yang didasarkan pada konsep manusia mengenai alam
manusia. Dengan demikian, sains berupaya membangkitkan minat manusia agar mau
meningkatkan kecerdasan dan pemahaman tentang alam seisinya yang penuh dengan rahasia
yang tidak habis-habisnya.
Pendidikan sains seringkali disamakan dengan pengajaran sains namun pendidikan sains
dapat dibedakan lebih jauh dari pengajaran sains. Dalam pengajaran sains para siswa terutama
dilatih untuk memahami hubungan antar (dan perang masing-masing) peubah dalam gejala dan
peristiwa alam serta kondisi yang perlu bagi terjadi atau tidak terjadinya gejala itu melalui
mekanisme tertentu. Sementara itu pendidikan sains lebih ditujukan memberikan kearifan,
menanamkan rasa tanggung jawab dan mendewasakan pertimbangan serta sikap moral etis.
Dengan demikian, pendidikan sains lebih menitikberatkan pada aspek afektif dan pengajaran
sains terfokus pada segi-segi kognitif dan psikomotorif.
 Pendidik dan pengajar sains
Dalam masyarakat industri modern sekarang ini, dibutuhkan sosok para pendidik yang
menguasai sains dan teknologi dan sekaligus sosok personifikasi moral dan keyakinan agama.
Para pendidik sains harus mampu melihat jauh kedepan dalam merancang program pengajaran
agar dapat memenuhi tuntutan masa depan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bebas nilai berarti ilmu harus lepas dari tuntutan atau tidak dapat dikenai tuntutan atau
sanksi atas kegiatan-kegiatan keilmuan yang dilakukan. di dalam proses penemuan
konsep-konsepnya, ilmu pengetahuan selalu menjunjung tinggi kebenaran, maka
kebenaran itu dijunjung tinggi dengan nilai. Dengan demikian ilmu pengetahuan harus
bebas nilai, dan pengertian ini sejalan dengan ilmu pengetahuan itu tanpa pamrih.
2. Ada beberapa syarat yang harus dilalui seseorang agar layak disebut sebagai ilmuwan,
salah satunya adalah ilmuwan tersebut harus mengadakan penelitian yang menghasilkan
karya ilmiah yang bisa diterima di masyarakat, karya ilmiah tersebut harus memenuhi
sistematika-sistematika yang harus dipenuhi oleh ilmuwan sebagai syarat agar
penelitiannya layak disebut sebagai karya ilmiah.
3.2 Saran
Penyusun menyadari dalam menyusun makalah ini banyak menemukan hambatan dari segi
isi maupun literatur, penyusun menyarankan pembaca untuk memberikan kritikan dan saran
yang membangun untuk kesuksesan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Bahtiar, amsal. (2007). Filsafat Ilmu. Jakarta: M.A.PT Raja Grafindo Persada.

Basuki, Ahmad. (2008). Menggugat Moral Ilmuan. http:///AcmadBasuki. Files. Wordpress.


Com/2008/07/menggugat-moral-ilmuwan.doc diakses pada 16 november 2018.

Dhanil, Dhakidae. (2003). Cendekiawan dan Kekuasaan Dalam Negara Orde Baru. Jakarta:
Gramedia.

Muhammad Adib. (2011). Filsafat Ilmu Otologi, Epistomologi, Aksiologi dan Logika Ilmu
Pengetahuan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Surajiyo. (2007). Filsafat Ilmu Dan Perkembangannya Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Surya SumantriJujun s. (1987). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.