Anda di halaman 1dari 11

METODE GEOLOGI LAPANGAN

Sub Bahasan: Petrologi

ajaklah aku berdialog sayanggggg?


Komposisi?
dimensi?
bentang alam? struktur sedimen?
ideal?
posisi astronomis? kondisi regional?
ada fosil? Singkapan masif, berlapis?
ekonomis? batuan
jenis batuan? bereaksi dgn HCl?
hubungan strata? Intrusi/ekstrusi?
deformasi? lingkungan?
kedudukan batuan?

Beberapa hal penting:


Kondisi geologi regional
Kondisi geologi lokal/daerah penelitian

Beberapa usaha pemikiran pra-lapangan:


Petrologi untuk ilmu bentang alam/landscape
Petrologi untuk ilmu stratigrafi
Petrologi untuk ilmu batuan sendiri
Petrologi untuk ilmu struktur geologi
Petrologi untuk ilmu geologi lingkungan
Petrologi untuk ilmu lain

Ruang Lingkup Studi Petrologi


1. Studi berdasar kenampakan mata telanjang (visual,
megaskopis, makroskopis)
Kenampakan lapangan (di alam bebas)
Kenampakan conto setangan (hand specimen)
Alat bantu: Loupe dan Larutan HCl 0,1N

2. Studi berdasar kenampakan mikroskopis


 Studi mineral optik
 Studi petrografi
 Studi Scaning Electron Microscope (SEM)
 Alat bantu: Mikroskop polarisasi, binokuler,
dan elektron (SEM dan microprobe)

3. Studi berdasar kimia


 Kimia mineral
 Kimia batuan (oksida mayor, unsur jejak, unsur
jarang tanah)
 Peralatan: Lab kimia mineral/batuan, X-ray
Fluorescene, X-ray Difraction, electron
microprobe

4. Studi berdasar isotop

PEDOMAN DASAR PENAMAAN BATUAN

penamaan batuan berdasar pemerian/deskriptif


penamaan batuan secara genesa
penamaan batuan secara kombinasi keduanya

deskriptif : penamaan batuan yg didasarkan pada


data pemerian nyata (obyektif) yang ada atau dapat
diamati pada batuan itu sendiri.
Parameter: warna, tekstur, struktur dan komposisi

genesa : penamaan batuan yg didasarkan sumber/


lingkungan asal, proses (pembekuan/ pengendapan
/metamorfisme), umur dan lingkungan pengendapan/
pembentukan batuan.
sifat: interpretatif, sebab bahan telah membatu,
asal-usul batuan tersebut tidak dapat diketahui
secara langsung/nyata. Sehingga bersifat
interpretatif berdasarkan pada data deskriptif.

kombinasi : penamaan batuan berdasarkan gabung-an


antara data pemerian & interpretasi genesanya.
PEMETAAN GEOLOGI

Untuk melakukan pemetaan geologi diperlukan :


1. Pengetahuan Dasar (basic knowledge)
1.1. Peta-peta tematik
1.2. Satuan stratigrafi baku internasional dan
satuan peta
1.3. Formasi, formal -& informal unit, Anggota,
Kelompok
1.4. Stratigrafi regional, siklus sedimentasi,
periode tektonik, batas kelompok, geologi
batuan dasar (bed rock geology)
1.5. Permasalahan struktur geologi
1.6. Pola pengaliran, geomorfologi, dan indikasi
struktur geologi serta karakter batuan
terlipat
dan tersesarkan
1.7. Singkapan batuan dan singkapan elemen
struktur geologi

Gambar: sesar naik,


Gambar: sesar mendatar

2. Metode Pemetaan (methods)


 Metode orientasi lapangan (Field orientation
method)
 Metode Lintasan Kompas (Compass traverse method)
 Metode lintasan pita-ukur dan kompas (Tape &
Compass traverse method)  LATIHAN "MEASURED
SECTIONS" di lapangan

JENIS CARA KELEBIHAN KEKURANGAN LAIN-LAIN


 Plotting stasiun  Lintasan bebas  Ketelitian kurang
Metode Orientasi Lapangan

pengamatan  Cepat  Hasil plotting sulit


berdasarkan  Baik pada lahan dicek kembali
orientasi terhadap berbukit-bukit dan  Peta topografi
sungai, gunung, jarang tanaman biasanya terbitan
bukit dan lain-lain, Sebagai peta tinjau lama, sedang di
sebagai patokan untuk pemeriksaan lapangan banyak
yang mudah lapangan nama tempat baru
dikenal dilapangan atau kondisi sudah
 Mengandalkan peta berubah
topografi dan titik  Tidak terencana
patokan yang secara matang
mudah dikenal
 Lintasan  Lintasan bisa  Tetap bergantung
direncanakan “potong kompas” kepada peta dasar

Metode Lintasan
terlebih dahulu.  Lebih cepat  Kerja terikat oleh
Dikontrol oleh  Kaya akan titik rencana lintasan
Kompas kompas dan peta stasiun
rencana lintasan  Ploting cukup teliti
 Plotting dan  Mudah dicek
pengamatan sesuai
lintasan

 Rencanakan  Teliti, efektif dan  Pekerjaan relatif lama Manfaat lain :


lintasan sebelum efisien  Peralatan harus  Data dapat

Metode Kompas dan Pita Ukur

ke lapangan Arah lintasan bebas lengkap dipakai


 Pilih lintasan  Data terpercaya  Dikerjakan minimal 2 membuat
sebaiknya tegak  Tidak usah orang (tetapi lebih lintasan terukur
lurus strike tergantung kepada baik lagi jika 3  Membuat
 Tiap stasiun peta topografi, orang) penampang
bersinambungan malah bisa stratigrafi
 Data dicatat pada membuat peta  Mendapat peta
formulir khusus topografi lintasan kunci
 Yang diukur:  Mudah dicek  Membuat peta
Strike/dip topografi
lapisan batuan,
azimut, slope,
jarak antar stasiun
pengamatan
singkapan.

3. Hasil Pemetaan (products)


 Peta kerangka geologi
 Peta pola jurus perlapisan batuan
 peta dan penampang geologi
 blok diagram
 peta geomorfologi, peta geologi lingkungan
 Laporan pemetaan geologi

PELAKSANAAN PEMETAAN

1. PERSIAPAN:
 Pengetahuan dasar,
 ATK, peta-peta, formulir kerja, buku lapangan
(field note), clip board,
 palu, kompas, loupe, HCL 10 N, kantong sampel,
spidol, dll.
2. KERJA LAPANGAN:
 dari base camp --> lakukan metode pemetaan :
orientasi lapangan, lintasan kompas, lintasan
kompas dan pita-ukur)
 singkapan batuan (deskripsi 10 LOKASI PENGAMATAN
 genesis)
 singkapan sesar (kriteria jenis-jenis sesar,
deskripsi)

DATA LAPANGAN

1. Tiap stasiun pengamatan :


 Data singkapan batuan  deskripsi lengkap,
data / strike dip lapisan batuan,
 Sampel batuannya, foto, sketsa,
 Data singkapan struktur (sesar, kekar)
deskripsi lengkap.

PETA KERANGKA GEOLOGI


 Pada peta dasar plot semua singkapan batuan dari
tiap titik (stasion) pengamatan, lengkap dengan
simbol litologi (bukan simbol satuan batuan,
belum satuan) dan besaran strike/dip lapisan
batuan sedimen,
 Plot nomor stasionnya (dikerjakan setiap hari di
base camp setelah pulang dari pendataan di
lapangan)

 Plot semua singkapan elemen struktur geologi


(singkapan sesar) lengkap dengan deskripsinya
yang ditulis pada keterangan (legenda).
 Setiap singkapan sesar memiliki data sendiri-
sendiri. Data tsb nanti dicek dan masuk ke dalam
kriteria sesar apa.

 Lanjutkan dengan membuat peta kerangka geologi,


sambungkan lintasan antar semua stasion. Peta ini
disiapkan untuk membuat peta jurus perlapisan
batuan di bawah ini.
KOLOM STRATIGRAFI

Dari hasil semua pengamatan lapangan disusun


stratigrafi daerah pemetaan :
• mengelompokkan semua singkapan batuan sejenis
dan seposisi stratigrafi (ingat satuan
stratigrafi batuan : 2 parameter penentu satuan)
• membuat penampang geologi setelah peta pola jurus
perlapisan batuan selesai, juga peta geologi
(draft)
• gunakan prinsip hukum superposisi dengan
melibatkan strike/dip lapisan batuan dan
kemiringan lereng
• susun kolom stratigrafi dari tiap satuan batuan
dan hubungan pengendapannya (depositional
contact) masing-masing
• dicek dengan fosil dari sampel masing-masing yang
telah diidentifikasi dan ditentukan usianya dari
lab.

PETA POLA JURUS PERLAPISAN BATUAN

• Pada peta dasar tersendiri, plot semua simbol


strike/dip dgn besaran angka pengukurannya dari
semua singkapan batuan dan struktur geologi
(sesar-sesar),
• Tiap kelompok singkapan batuan sejenis (=satuan
batuan) ditandai dengan pola jurus masing-masing
lalu oleh kontur-kontur garis strike yang saling
sejajar sesamanya
• salah satu kontur strike (selanjutnya disebut
kontur saja) dapat berfungsi sebagai batas antar
satuan-satuan batuan yang berhubung-an selaras,
• pada perubahan facies, yang dinyatakan sebagai
hubungan lateral jari-jemari, melidah, membaji,
shale out, dsb. kontur saling sejajar sesamanya
dan memotong batas facies, kemudian menerus
sejajar dengan kontur-kontur pada satuan batuan
di sampingnya,
bila hubungan antar dua satuan batuan tidak
selaras, maka kontur memotong batas satuan
atau kontur dari satuan batuan yang lebih tua
dipotong oleh kontur dari satuan batuan yang
lebih muda (ingat angular unconformity)
bila hubungannya sebagai paraconformity maka
kontur dari kedua satuan batuan masih bisa saling
sejajar,
bila ada sesar naik, maka kontur bisa meng-hilang
di bawah sesar (puncak antiklin yang tersesar-
naikkan bisa berimpit atau berada di bawah sesar
tsb),
bila ada sesar mendatar (dekstral atau
sinistral), maka kontur terpotong oleh sesar tsb
dan di sebelah-menyebelah sesar itu kontur akan
membentuk drag fold (lipatan seretan).
Untuk satuan batuan yang tidak berlapis (e.g.
aneka breksi, batuan beku, batugamping, dsb)
kontur tidak bisa ditarik.
Dari Peta pola jurus perlapisan batuan diperoleh
batas-batas satuan batuan dan pola sebaran
kontur-kontur bernilai jurus/ kemiringan masing-
masing dari tiap satuan batuan tersebut.
Peta ini menjadi dasar rekonstruksi geolo-gi
untuk memperoleh :
1. Peta Geologi,
2. Penampang Geologi

PELAPORAN
I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Maksud dan Tujuan
1.3. Metode Pengamatan Lapangan
II. GEOLOGI REGIONAL
III. PENGAMATAN SINGKAPAN
3.1. Pengamatan Singkapan Lokasi Pengamatan 1
dst.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Xenolith