Anda di halaman 1dari 8

SEKOLAH TINGGI ILMU KEPOLISIAN

PROGRAM DOKTORAL

PAPER:
-ETIKA PUBLIK-

“Pemikiran Pierre Bourdieu”

M. F A H R I Z A L

NIM S32017226006

Jakarta, 7 November 2017


ETIKA PUBLIK

Dosen: Dr. Haryatmoko

Pemikiran Pierre Bourdieu


tentang konsep: HABITUS, KAPITAL, ARENA, & DOMINASI SIMBOLIK

Lahir pada 1 Agustus 1930 di Denguin, Prancis, Pierre


Bourdieu dikenal sebagai seorang intelektual publik dimana
konsep-konsep yang ia kembangkan amat berpengaruh di dalam
analisis-analisis sosial maupun filsafat di abad 21.

Bourdieu banyak menelurkan gagasannya tentang teori


kemasyarakatan, terutama mengkritisi dominasi ekonomi di dalam
masyarakat melalui pemikiran konsep Habitus, Kapital, Arena,
dan Dominasi Simbolik. Ia juga terlibat mengkritik konsep –
konsep ekonomi liberal maupun neoliberal, kapitalisme,
globalisasi, bahkan pendidikan. Dimana dalam salah satu
pemikirannya mengenai peran sekolah di dalam mereproduksi
struktur-struktur sosial, atau cara dimana hubungan kekuasaan
tidak setara diterima sebagai sesuatu yang sah dan bukannya
tidak diakui. Pendidikan sebagai sesuatu yang dapat menentukan
struktur seseorang.

Dalam tulisan ini, saya akan menguraikan dan menganalisis


implikasi dari pemikiran Bourdieu kedalam operasionalisasi
terkait fungsi tugas kepolisian di Indonesia.

I. Habitus
Adanya tujuan yang berbeda di antara individu, membuat
individu harus memiliki strategi tertentu untuk mencapai
tujuannya masing-masing. Selain itu individu pun memiliki
“sumber” yang berbeda-beda, sehingga kesempatan dalam hidup
pun jelas berbeda. Dengan demikian, individu dibentuk oleh
sebuah konsep yang dinamakan oleh Bourdieu sebagai habitus.
Habitus ini dibentuk oleh sumber tersebut. Bourdieu memaknai

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 1


habitus sebagai “produk internalisasi struktur” dunia sosial.
Habitus dapat dibayangkan sebagai “struktur sosial yang
diinternalisasikan dan diwujudkan”. Jadi habitus ini
mencerminkan pembagian objektif dalam struktur kelas seperti
menurut umur, jenis kelamin, kelompok, dan kelas sosial.
Habitus diperoleh sebagai akibat dari lamanya posisi dalam
kehidupan sosial diduduki. Maka dari itu habitus akan berbeda-
beda, tergantung pada wujud posisi seseorang dalam kehidupan
sosial; tak setiap orang sama kebiasaannya; orang yang
menduduki posisi yang sama dalam kehidupan sosial, cenderung
mempunyai kebiasaan yang sama.

Habitus adalah kebiasaan masyarakat yang melekat pada diri


seseorang dalam bentuk disposisi abadi, atau kapasitas
terlatih dan kecenderungan terstruktur untuk berpikir, merasa
dan bertindak dengan cara determinan, yang kemudian membimbing
mereka.

Jadi, habitus tumbuh dalam masyarakat secara alami melalui


proses sosial yang sangat panjang, terinternalisasi dan
terakulturasi dalam diri masyarakat menjadi kebiasaan yang
terstruktur secara sendirinya. Bourdieu dalam bukunya juga
mengatakan bahwa habitus bukanlah hasil dari kehendak bebas,
atau ditentukan oleh struktur, tapi diciptakan oleh semacam
interaksi antar waktu, disposisi yang keduanya dibentuk oleh
peristiwa masa lalu dan struktur, dalam bentuk praktik dan
struktur saat ini.

Aplikasi dari konsep Habitus yang dikemukakan oleh Pierre


Bourdieu bisa kita lihat dalam salah satu contoh kasus di
masyarakat. Misalnya adalah adanya budaya “Patriarki” dimana
kedudukan perempuan menjadi subordinat dari laki – laki dalam
struktur sosial masyarakat Indonesia. Posisi subordinat dalam
masyarakat ini, terbentuk secara alami dan terinternalisasi
dalam waktu yang lama. Sudah menjadi asumsi umum bahwa
perempuan berada dibawah laki – laki. Sehingga setinggi apapun
capaian peranan perempuan dalam berbagai bidang baik politik,

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 2


bisnis, hukum, sosial, maupun ekonomi, saat kembali ke
rumahnya tetap saja laki – laki yang menjadi pemimpin
keluarga, dan kedudukan perempuan tetap hanya menjadi seorang
istri. Ini menjadi kebiasaan dalam kultur masyarakat
Indonesia, dimana tabu bagi perempuan untuk melakukan tugas
laki – laki, khususnya dalam hal mendominasi kepemimpinan kaum
laki-laki.

II. Kapital (Modal)

Selain konsep habitus, kelanjutan dari pemikiran Bourdieu


adalah mengenai kapital (modal). Kapital adalah hal yang
memungkinkan kita untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan di
dalam hidup. Kapital bisa diperoleh, jika seseorang memiliki
habitus yang tepat dalam hidupnya. Dimensi kapital disini
yaitu, kapital ekonomi (kekuatan finansial), kapital budaya
(pengetahuan), kapital sosial (jaringan, massa, dan
organisasi), serta kapital simbolik (fasilitas kekuasaan yang
memiliki pengaruh).

Kapital memainkan peran yang cukup sentral dalam hubungan


kekuatan sosial. Dimana modal menyediakan sarana dalam bentuk
non-ekonomi dominasi dan hierarkis, sebagai kelas yang
membedakan dirinya. Modal merupakan simbolik dari adanya
ketimpangan dalam masyarakat. Dimana masyarakat
terstratifikasi dari kepemilikan modal.

Adanya konsep si miskin dan si kaya, adanya pengusaha dan


buruh mencerminkan adanya ketimpangan dalam hal kepemilikan
modal. Barang siapa yang memiliki modal, maka dia akan
menguasai arena, atau bisa menyesuaikan diri dengan arena yang
ada. Pun demikian dalam konteks politik, saat seseorang
memiliki modal politik (sumber daya politik), maka ia akan
berperan aktif dalam ranah atau arena politik untuk
mendapatkan sumber – sumber kekuasaan dalam politik, baik itu
jabatan, kedudukan, ataupun kewenangan lainnya, termasuk
keuntungan dari perburuan rente dalam ranah politik.

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 3


III. Arena

Pemikiran Bourdieu berikutnya adalah tentang konsep Arena.


Arena dipahami sebagai sebuah ruang khusus yang ada di dalam
masyarakat. Arena merupakan ruang yang terstruktur dengan
aturan keberfungsiannya yang khas, namun tidak secara kaku
terpisah dari arena-arena lainnya dalam sebuah dunia sosial.
Ada beragam arena, seperti arena pendidikan, arena bisnis,
arena seniman, ataupun arena politik. Jika seseorang ingin
berhasil didalam suatu arena, maka ia perlu memiliki habitus
dan kapital yang tepat.

Arena membentuk habitus yang sesuai dengan struktur dan


cara kerjanya, namun habitus juga membentuk dan mengubah arena
sesuai dengan strukturnya. Otonomisasi relatif arena ini
mensyaratkan agen yang menempati berbagai posisi yang tersedia
dalam arena apapun, terlibat dalam usaha perjuangan
memperebutkan sumber daya atau kapital yang diperlukan guna
memperoleh akses terhadap kekuasaan dan posisi dalam sebuah
arena.

Aplikasi dari konsep Habitus, Kapital dan Arena ini


dianalisis dari contoh realitas yang ada di Indonesia. Pada
masa runtuhnya rezim orde lama, sentimen masyarakat Indonesia
sangatlah besar kepada Partai Komunis. Paham komunis dianggap
sebagai paham yang negatif, identik dengan kekerasan dan tidak
ber-Tuhan. Dari stigma negatif tersebut, muncul persepsi dalam
masyarakat yang menolak paham komunisme berkembang di tengah –
tengah masyarakat.

Soeharto saat memulai rezimnya memanfaatkan habitus


masyarakat yang sangat membenci komunisme untuk menguasai
arena politik pada saat itu. Soeharto pun memainkan peranannya
sebagai sosok protagonist yang memiliki modal (capital)
sebagai dewa penyelamat dari pemberontakan G-30S/PKI untuk
menggantikan Soekarno menjadi Presiden Indonesia. Saat sumber
kekuasaan telah dimiliki, modal politik sebagai presiden sudah
ditangan, Soeharto memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 4


membentuk habitus masyarakat Indonesia dalam melanggengkan
kekuasaannya.

Dilandasi kultur budaya masyarakat Indonesia yang bersifat


patrimonial, Soeharto menerapkan sistem pemerintahan
sentralistik dalam gaya kepemimpinannya. Budaya sentralistik
dan patrimonial yang diterapkan Soeharto dalam gaya
kepemimpinannya, yang tentu saja ditopang dengan pendekatan
militeristik, mampu merasuk dalam masyarakat Indonesia,
sehingga mampu membuatnya bertahan menjadi seorang Presiden
selama 33 tahun.

IV. Dominasi Simbolik

Dominasi simbolik adalah bentuk penindasan dengan


menggunakan simbol-simbol. Penindasan ini tidak dirasakan
sebagai penindasan, tetapi sebagai sesuatu yang secara normal
perlu dilakukan. Artinya, penindasan tersebut telah
mendapatkan persetujuan dari pihak yang ditindas itu sendiri.
Misalnya seorang yunior yang tidak dapat membela diri,
walaupun telah “dirugikan” oleh seniornya, karena ia, secara
tidak sadar, telah menerima statusnya sebagai yang tertindas
oleh seniornya, dalam kaitan penerapan pembinaan disiplin.

Konsep dominasi simbolik (penindasan simbolik) juga dapat


dengan mudah dilihat dengan konsep sensor panopticon (teori
Foucault). Sensor panopticon adalah konsep yang menjelaskan
mekanisme kekuasaan yang tetap dirasakan oleh orang-orang yang
dikuasai, walaupun sang penguasa tidak lagi mencurahkan
perhatiannya untuk melakukan kontrol kekuasaan secara nyata.
Dalam panoptisme inilah Foucault memperlihatkan adanya
kekuasaan yang terselubung dalam pelbagai institusi dan
lembaga. Sehingga dikenal pula teorinya yang menyatakan,
dimana ada relasi disitu ada kekuasaan.

Contoh yang bisa kita ambil adalah kekuasaan Orde Baru


dengan sosok Presiden Soeharto sebagai simbol kekuasaan rakyat

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 5


Indonesia kala itu. Penerapan dominasi simbolik dan panopticon
sungguh-sungguh terasa, karena rakyat sangat takut dan tunduk
pada kekuasaan orde baru. Setiap anggota masyarakat yang
berniat “melawan” pemerintahan kala itu, merasa setiap saat
diawasi dan tidak memiliki daya upaya kekuatan (bahkan hanya)
untuk mengkritik pemerintah saat itu. Sehingga membuat
presiden Soeharto sebagai simbol kekuasaan RI menjadi sangat
dikagumi dan diakui kharismanya oleh masyarakat.

Mekanisme dominasi simbolik nantinya memuncak pada


pemikiran Bourdieu tentang doxa. Secara singkat, doxa adalah
pandangan penguasa yang dianggap sebagai pandangan seluruh
masyarakat. Masyarakat tidak lagi memiliki sikap kritis pada
pandangan penguasa. Pandangan penguasa itu biasanya bersifat
sloganistik, sederhana, populer, dan amat mudah dicerna oleh
rakyat banyak, walaupun secara konseptual, pandangan tersebut
mengandung banyak kesesatan.

V. Operasionalisasi Konsep Modalitas

Setelah mengupas dan menganalisis teori Bourdieu, saya


akan mencoba mengoperasionalkan salah satu konsep ini kedalam
pelaksanaan tugas kepolisian. Kita dapat menerapkan konsep
modalitas kedalam dimensi dominasi simbolik dalam gaya
kepemimpinan Polri. Keberhasilan dalam memimpin didalam
organisasi hierarkis dan komando salah satunya adalah
memainkan peran “tangan besi”. Gaya kepemimpinan didalam
organisasi Polri-pun tak lepas dalam konsep ini. Dominasi
simbolik menggambarkan adanya kesatuan komando guna menjaga
soliditas rantai kepemimpinan, dari tingkat paling atas sampai
paling bawah.

Seorang pemimpin Polri dalam tingkatan apapun harus


memiliki kapital budaya (intelektual) dan habitus
sosial/kultur (berupa latar belakang dan jaringan) yang
mumpuni. Hal ini untuk menjamin keberhasilannya dalam

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 6


memimpin. Tanpa memainkan peran dominasi simbolik yang
mumpuni, niscaya ia tidak akan mampu memimpin bawahannya
dengan baik. Dibawah ini digambarkan dalam diagram sederhana
mulai dari konsep, dimensi, dan indikator sebagai cara dalam
mengoperasionalisasikan konsep kedalam tataran aplikatif.
Konsep dan pemikiran Bourdieu ini sungguh dapat menjelaskan
bagaimana habitus, kapital, arena, dan dominasi simbolik
terurai kedalam tatanan yang sangat aplikatif, sehingga
memudahkan dalam fungsionalisasi konsep dalam realitas sosial
yang kita temukan sehari-hari.

KONSEP Modalitas

Dominasi simbolik dalam


gaya kepemimpinan Polri.

(Seorang pemimpin Polri


harus memiliki kapital
DIMENSI budaya/intelektual dan
habitus sosial/kultur
(latar belakang dan
jaringan).

Oleh karenanya yang dapat


dijadikan referensi dalam
penentuan jabatan adalah
personil yang memiliki
antara lain:
INDIKATOR 1. Rekam jejak personil
yang baik;
2. Reputasi yang baik;
3. Tingkat Pendidikan yang
membanggakan;
4. Prestasi menonjol yang
dimiliki;
5. Pengalaman dinas; dan
6. Adakah kasus pribadi
yang pernah dilakukan
(catatan buruk).

M. Fahrizal, NIM: S32017226006, ETIKA PUBLIK Page 7