Anda di halaman 1dari 8

BAB IV

PEMBAHASAN

Pada bab ini di bahas tentang asuhan keperawatan pada Ny. R dengan
diagnosa medis retensi urine. Adapun ruang lingkup dari pembahasan kasus ini
adalah sesuai dengan proses keperawatan yaitu mulai dari pengkajian, diagnosa
keperawatan, perencanaan (intervensi), pelaksanaan (implementasi) dan evaluasi
dengan membandingkan dengan teori yang ada.
1. Pengkajian
Proses pengkajian yang dilakukan pada Ny. E (nyeri) dengan diagnose medis
CKR + Epitaksis di Ruang Flamboyan 3 RSUD Kota Salatiga, dilakukan
dengan melakukan wawancara, kepada pasien dan keluarga pasien dan
melakukan obsrvasi serta pemeriksaan fisik langsung ke Ny. E. Pelaksanaan
pengkajian mengacu pada teori. Pada teori yang dikaji adalah perilaku verbal,
kualitas nyeri, factor presifitasi, intensitas waktu dan lamanya nyeri serta
karakteristik nyeri dengan menggunakan PQRST. Sedangakan dilahan praktik,
untuk pengkajian secara umum tidak ada kesenjangan antara teori dengan
praktik.
2. Diagnosa Keperawatan
Pada kasus yang kami temukan dilapangan untuk diagnose keperawatannya
meliputi :
a. Nyeri akut berhubungan dengan agin cidera fisiologis (Kecelakaan)
b. Intoleransi aktivitas fisik berhbungan dengan nyeri akut
3. Perencanaan
Perencanaan untuk kedua diagnosa diatas dilakukannya secara bersamaan
dimana yang pertama di atasi sesuai dengan kondisi pasien yang mungkin
membahayakan dan mengancam nyawa pasien. Apabila diagnosa pertama
sudah teratasi diharapkan diagnosa yang lainnnya teratasi juga. Kedua
diagnosa dibuat perencanaan yang dilakukan sesuai dengan teori karena
sama-sama menggunakan NIC NOC namun pada kasus, disesuaikan dengan
kondisi pasien.
4. Implementasi
Pada tahap implementasi untuk penilaian skala nyeri panduan pendidikan
menggunakan PQRST,
5. Evaluasi
Pada tahap evaluasi terdapat perbedaan antara teori (buku panduan) dengan
praktik (lapangan) pada pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan rasa
nyaman nyeri, dimana pada buku panduan dengan assesmen nyeri sedang di
lapangan di sebutkan bahwa pasien dengan gangguan rasa nyaman nyeri
harus dilakukan monitoring skala nyeri, dengan ketentuan :
Pathaway kasus :

Etiologi retensi urine berasarkan lokasi kerusakan Faktor lain


saraf

SUPRAVESIKAL VESIKAL INTRAVESIKAL Trauma Pembedahan Ansietas FARMAKOLOGI


kerusakan pada pusat miksi di kelemahan otot kekakuan leher VU, antikolinergik antispasmodik,
medulla spinalis sakralis S2-S4 detrusor karena striktur batu kecil, antidepressant, antihistamin,
kerusakan Trauma saraf Kelainan
setinggi T12-L1 lama teregang, tumor pada leher simpatomimetik
saraf pelvis/ patologi
persalinan, VU, fimosis urethra,
cedera/inflamasi, simpatis & kandung
parasim- kemih, BPH,
kerusakan saraf simpatis & atoni pada pasien Dikonsumsi dalam jangka waktu lama
patis distensi Ca.prostat
parasimpatis sebagian / seluruhnya DM atau penyakit
neurologis, obstruksi sebagian / kandung
divertikel yang urethra seluruhnya kemih
besar Hambatan Me↓ filtrasi Me↓
kelemahan otot destrusor eliminasi glomerolus kontraksi otot
me↑ distensi urin glome detrusor buli-
Relaksasi otot otot buli
Inkoordinasi otot detrusor dgn sfingter abdominal
sfingter urethra internal me↓
Produksi urin me↓

RETENSI URIN
Retensi Urin Akut Perubahan sekunder bladder GFR ↓ MK : Retensi Urin
Retensi Urin Kronis

bladder terasa penuh Tekanan intravesika ↑ Sekresi protein Gangguan


terganggu filtrasi di ginjal
adanya sisa urin distensi urin
dalam bladder
tidak ada haluaran urin
Sindrom uremia Cairan
pengosongan kandung kembali ke
distensi kandung kemih terjadi kemih tidak efisien vaskuler
berlebihan supersaturasi Sulit berkemih Gangguan keseimbangan
asam basa
Edema
menekan reseptor kristal dan benda Pembedahan
nyeri asing dalam urin Produksi asam ↑
Otot buli-buli Pe↑ tekanan dalam lumen
mengendap MK : Resiko Infeksi MK :
merangsang saraf aferen melemah & tekanan dinding VU
Mual muntah Kelebihan
volume cairan
impuls sampai ke batu saluran kemih urin memancar berulang-
korteks serebri ulang dalam jumlah sedikit Nafsu makan ↓
Hambatan
Pembesaran saluran aliran urin
thalamus kemih Intake nutrisi
tidak adekuat
nyeri di suprapubik Pelepasan mediator kimia MK : Ansietas Inkontinensia
Overflow

MK : Nyeri Akut urin dalam bladder refluks MK :


Ketidak seimbangan
nutrisi kurang dari
urin menetes keluar kebutuhan tubuh
Klien belum pernah menderita ke ginjal ke ureter dalam jumlah sedikit
penyakit ini sebelumnya (merembes)
klie PK : Hidronefrosis PK : Hidroureter
area perineum
Kurang informasi
lembab dan gatal
PK: Gagal Ginjal
Analisis Jurnal
Hubungan Lama Pemasangan Kateter Dengan Kejadian Infeksi Saluran Kemih
Pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Salewangang Maros

Identitas Artikel :
Judul Artikel : Hubungan Lama Pemasangan Kateter Dengan Kejadian Infeksi
Saluran Kemih Pada Pasien Rawat Inap Di RSUD Salewangang
Maros
Author : Aminullah, Muhammad Basri, Akmal
Jurnal : Iilmiah Kesehatan Diagnosis

Analisis Jurnal Dengan Menggunakan Format PICO


Problem

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) insidensi Infeksi saluran


kemih (ISK) secara internasional mencapai 35%-45% dari seluruh infeksi nosocomial.
Berdasarkan National Nosocomial Infections Surveillance system (NNISS), 49% infeksi
nosokomial melibatkan saluran kemih dan Candida albicans merupakan penyebabnya
(Aldila, 2011). Di rumah sakit Amerika Serikat Angka kunjungan rawat jalan pasien
rawat inap yang mengalami infeksi saluran kemih mencapai lebih dari 8 juta pertahun
dan menghabiskan biaya USD 500 milyar tiap tahunnya (Hooton,et al.,2010).
Sedangkan menurut data dari dinas kesehatan provinsi Sulawesi Selatan kejadian ISK
pada Rumah Sakit dan Puskesmas perawatan di Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun
2008 sebanyak 379 kasus (27%) pada tahun 2009 456 kasus (29%) dan tahun 2010
sebanyak 346 kasus 27 % (Muhlis, 2012).
Berdasarkan data rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Salewangang
Maros tahun 2014 jumlah yang mengalami infeksi saluran kemih adalah 340 orang.
Kemudian di lihat dari bulan September yang mengalami infeksi saluran kemih
sebanyak 34 orang (34%), dan pada bulan Oktober mengalami peningkatan infeksi
saluran kemih sebanyak 64 orang (64%), dan pada bulan November mengalami
sedikit penurunan infeksi saluran kemih sebanyak 47 orang (47%).
Mencermati permasalahan di atas terdapat dugaan bahwa lama pemasangan kateter
dapat menjadi penyebab infeksi saluran kemih pada pasien yang menjalani rawat
inap.

Intervensi
Penelitian ini adalah penelitian survey analitik dengan metode pendekatan Survey
Cross Sectional.
Tempat penelitian ini dilaksanakan di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah
Salewangang Maros pada tanggal 04 Mei sampai 04 juni 2015.
Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengan karakteristik tertentu
yang akan diteliti. Semua klien yang terpasang kateter di RSUD Salewangang
Maros. Penentuan jumlah besar sampel dengan menggunakan rumus
sesuai kriteria inklusi yang ditetapkan oleh peneliti yaitu : pasien yang terpasang
kateter, pasien dengan umur >20 tahun, pasien yang bersedia menjadi
responden. Jumlah sampel dengan menggunakan rumus sesuai kriteria inklusi
didapatkan jumlah sampel 59 orang.

Comparation
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dengan wawancara
dan menggunakan kuesioner. Kemudian dianalisis dengan menggunakan ilmu statistic,
peneliti mengolah data menggunakan SPSS dengan menggunakan uji chi square.

Outcome
Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa dari 35 responden
(59,3%) yang tidak lama terpasang kateter, didapatkan sebanyak 11
responden (37,9%) yang terjadi infeksi, dan 24 responden (80,0%) yang
tidak terjadi infeksi. Sedangkan dari total 24 responden (40,7%) yang lama
terpasang kateter, didapatkan sebanyak 18 responden (62,1%) yang
terjadi infeksi, dan sebanyak 6 responden (20,0%) yang tidak terjadi infeksi.
Berdasarkan uji statistik Uji Square diperoleh nilai P = 0, 001. Dengan
demikian Ha diterima Ho ditolak atau ada hubungan lama pemasangan
kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih. Hal ini menunjukkan ada
hubungan lama pemasangan kateter dengan kejadian infeksi saluran kemih
pada pasien rawat inap di RSUD Salewangang Maros.