Anda di halaman 1dari 17

Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

PLURALISME DALAM KONTEKS STUDI AGAMA-AGAMA

Said Masykur
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ar Risalah Guntung
said_msy@yahoo.com

Abstrak
Pluralisme adalah satu sikap dalam menghargai perbedaan dan kerja sama untuk mencapai cita-
cita mulia dalam bingkai keberagaman. Dalam konteks studi agama, pluralisme tidak
dipahami sebagai penyamaan semua agama, sebab itu adalah mengingkari sunnatullah yang telah
berlaku. Setiap agama adalah berbeda, dan perbedaan ini mesti dipandang sebagai
sebagai keunikan. Dalam Islam, pluralisme agama mendapatkan tempat dalam gagasan
normatifnya. Dengan sangat luar biasa, Islam mengakui eksistensi agama lain, tidak hanya
dalam bingkai hubungan kemanusian, melainkan juga tempat mereka di sisi
Tuhan. Bahkan yang menarik, dalam sejarah peradaban Islam, kehidupan plural itu berhasil
diterjemahkan dalam konteks kehidupan yang saling mendukung.

Kata kunci: Ingklusivisme, Eksklusivisme, Pluralisme dan Studi Agama

Dalam kondisi seperti ini timbul


Pendahuluan
upaya untuk mempersoalkan doktrin
Ditengah derasnya arus globalisasi agama dan bahkan upaya merobah
yang dipicu oleh ledakan revolusi aspek-aspek penting agama itu. Hans
teknologi informasi, peran dan fungsi Kung misalnya mempromosikan ide
agama mulai ditantang. Tantangan yang Global Ethics, sementara yang John Hick
seringkali dibebankan kepada agama mengusulkan global theology.
adalah dalam menyelesaikan konflik dan
Disini pemikiran ekslusif dalam
perilaku kekerasan, sebab agama sering
agama-agama di-global-kan alias dilebur
dikaitkan dengan terjadinya pelbagai
agar menjadi inklusif dalam artian dapat
ketegangan dan kerusuhan. Ini
menerima agama lain. Dalam wacana
sebenarnya tidak fair, sebab faktor-faktor
yang berkembang di Indonesia hal ini
dominan yang terjadi di lapangan seperti
dikenal dengan gagasan yang disebut
kesenjangan ekonomi dan sosial,
teologi inklusif. Teologi ini menekankan
penindasan, ketidakadilan dan lain malah
bahwa semua agama pada esensinya
dikesampingkan.
adalah sama; semuanya benar, karena
semua agama tanpa terkecuali seluruhnya

61 1 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

mengajarkan kebaikan dan ketundukan mengisolir diri dari komunikasi dari


kepada yang maha kuasa dan maha bangsa-bangsa lain. Mereka mau-tidak
benar. mau dihadapkan pada persoalan
bagaimana melakukan hubungan dengan
Oleh sebab itu, tidak satupun
masyarakat lain yang dalam realitasnya
diantara agama-agama yang ada hari ini
memiliki perbedaan agama, etnis, ras,
lebih superior dari yang lain. Dalam
suku, maupun budaya.
konteks inilah mereka menolak
interpretasi ulama silam atas surah Ali Problem Teologis; Antara
„Imran: 19 dan 88 yang menekankan Eksklusivisme, Inklusivisme, dan
superioritas Islam atas agama lainnya. Pluralisme
Sebaliknya mereka mengikuti jejak C.W. Hampir semua pengamat sosial-
Smith dan Jane I. Smith, menafsirkan keagamaan sepakat bahwa pemikiran
perkataan Islam yang terkandung dalam teologi seringkali membawa ke arah
kedua surah tersebut bukan sebagai “ketersekatan” antar pemeluk agama.
sebuah nama (proper name) bagi sebuah Ketersekatan dan pengkotak-kotakan ini,
agama, tapi hanya bentuk ekspresi sikap sudah mengalir begitu saja seiring
kepasrahan (submission). dengan lahirnya term-term “warna kulit”
dan “bahasa” di antara sesama umat
Oleh sebab itu siapapun yang
manusia. Akan tetapi, jika kita kaji lebih
melakukan penyerahan maka seseorang
dalam maka semua perbedaan itu jelas
itu dapat dikategorikan Muslim. Ide
tidak mengurangi “kualitas” dia sebagai
inilah yang kemudian dipakai untuk
manusia. Nah, di sini ada peran
menjustifikasi gagasan teologi inklusif
“pemaknaan” yang lebih menekankan
dan pluralisme agama.
pada pemahaman antara partikular dan
Lebih lanjut, alasan lain kenapa isu universal, antara yang bersifat “esoteris”
Pluralisme Agama menjadi relevan, dan “eksoteris”.
untuk diangkat didiskusikan, hal ini
Struktur fundamental yang
dilatar belakangi oleh dua alasan dasar,
dibangun dalam pemikiran teologis,
Pertama, kerusuhan dan pertikaian biasanya sangat terkait dengan beberapa
sosial yang mempunyai tendensi konflik karakteristik teologis sebagai berikut;
keagamaan terjadi semakin semarak
Pertama, kecenderungan untuk
belakangan ini. Meskipun faktor yang
mengutamakan loyalitas kepada
melatar belakanginya sangat beragam,
kelompok sendiri sangatlah kuat. Kedua,
namun agama telah menjadi alat
adanya keterlibatan pribadi (involment)
justifikasi hingga memperlama atau
dan penghayatan yang begitu kental dan
bahkan melanggengkan konflik yang
syarat dengan ajaran-ajaran teologis yang
sedang terjadi.
diyakini kebenarannya. Ketiga,
Kedua, dalam era kesejagadan (global mengungkapkan perasaan dan pemikiran
village), masyarakat disuatu bangsa dengan menggunakan bahasa “aktor”
dinegara manapun tidak dapat lagi (pelaku) dan bukan bahasa seorang

62 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

“speaktator” (pengamat) (Ian G. atau prasangka-prasangka teologis, yang


Barbour, dalam Carry Cautting, (ed), pada gilirannya akan “memperkeruh”
1980: 279). suasana hubungan di antara paham
tersebut. Dalam perspektif teologis,
Bersatunya ketiga karakter diatas
standar ganda sering dipakai dalam
dalam diri seseorang atau kelompok
bentuk keyakinan dan kesadaran yang
justru akan memberikan andil yang
sangat kuat, bahwa teologi kita adalah
cukup besar bagi terciptanya “enclave-
yang paling sejati dan asli (original) dari
enclave” komunitas teologis yang
Tuhan. Proses “pembenaran” ini, tentu
cenderung bersifat eksklusif, emosional,
akan berujung pada truth claims antara
dan kaku. Bahkan menurut Amin
satu paham atau teologi satu dengan
Abdullah (1993: 88-96), ketiga karakter
teologi yang lain. Mentalitas inilah yang
tersebut sangat menentukan lahirnya
seringkali dijadikan pemeluk agama
“truth claims”. Oleh Ian G. Barbour
tertentu untuk menghakimi agama lain
(1996: 227) disebut sebagai ingridient yang
dalam derajat keabsahan teologis di
paling dominan dalam proses
bawah agama si penilai.
pembentukan sikap dogmatis dan fanatisme.
Akan tetapi, bukan berarti
Ketiga karakter di atas muncul,
problem teologis itu berhenti sampai
ketika seseorang harus mendefinisikan
disitu, yaitu pada standar ganda tersebut.
posisi dirinya di tengah-tengah
Melainkan masih ada juga kelompok
masyarakat yang mempunyai paham
penganut tertentu yang mencoba
teologis yang berbeda dengan dirinya.
menggali sikap-sikap teologis yang lebih
Bahkan paham teologis di luar kita itu,
“universal”, yaitu sebuah usaha untuk
memiliki keabsahan dan diakui
menghilangkan klaim-klaim kebenaran
eksistensinya. Belum lagi masalah-
dan penyelamat yang berlebihan
masalah sosial, politik, yang sering
tersebut. Oleh karena itu, ada sikap
memunculkan ketegangan dan krisis di
teologis dalam teologi agama ini;
kalangan mereka. Menurut Hugh
Goddard (1995), proses pendefinisian itu Pertama, sikap atau teologi
berujung pada kesalahpahaman pemeluk eksklusif. Sikap ini merupakan
teologis kerena adanya kondisi “double pengejawantahan dari keyakinan masing-
standars” (standar ganda). masing penganut agama bahwa tidak ada
kebenaran di luarnya. Dalam tradisi
Dengan kata lain, baik teologi
Kristen, inti pemahaman ini adalah
Kristen maupun teologi Islam selalu
bahwa Yesus merupakan satu-satunya
menetapkan standar-standar tertentu,
jalan yang sah untuk keselamatan
untuk membedakan dirinya dengan
“Akulah jalan kebenaran dan hidup, tidak
bersifat ideal satu sama lainnya.
ada yang datang kepada Bapa, kalau tidak
Sementara penilaian terhadap agama lain,
melalui Aku” (Yohannes, 14: 16).
memakai standar lain pula, yang lebih
bersifat realistis-historis. Melalui standar Pandangan ini, kemudian
inilah lalu muncul kecurigaan-kecurigaan mengilhami adanya semboyan “extra

63 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

eccelessian mulla solus” (tidak ada agama lainpun mempunyai


keselamatan di luar Gereja) dan “extra “kewenangan” untuk memiliki
eccelessian mulla propheta” (tidak ada Nabi kebenaran itu. Hanya saja, kebenaran
di luar Gereja). Salah satu penganutnya yang ada diluar dirinya itu disebut
hingga sekarang adalah, Hendrick sebagai agama “anonim”. Pandangan yang
Kraemer, yang mealui bukunya The paling ekspresif dari paradigma insklusif
Kristian Message in Non-Cristian World, ini adalah karya Karl Rahner yang
mengatakan “Tuhan telah mewahyukan mengatakan diri bahwa semua „agama‟
jalan, kehidupan, dan kebenaran dalam akan selamat, selama mereka hidup
Yesus Kristus dan menghandaki ini dalam ketulusan hati terhadap Tuhan,
untuk diketahui di seluruh dunia”. karena Karya Tuhan pun ada pada
mereka. Istilah ketulusan hati ini, oleh
Sementara dalam Tradisi Hindu,
Sukidi (2001: xiv) dianggap sama dengan
klaim absolutisme ini juga ada (Coward,
apa yang diproyeksikan oleh Cak Nur
1989: 48) yang menegaskan bahwa Veda
(panggilan akrab dari Prof. Dr.
merupakan wahyu yang paling sempurna
Nurcholish Madjid) tentang konsep al-
dari kebenaran Ilahi, sehingga wahyu-
Islam, sikap pasrah.
wahyu lain, di luar Hindu harus diuji
melalui keabsahan Veda itu sendiri Pangkal agama, menurut
(Coward, 1989: 144). Sedangkan dalam Nurcholish Madjid (dalam Komaruddin
Teologi Yahudi, juga menunjuk bahwa Hidayat dan Ahmad Gaus AF (ed), 1999:
mereka adalah umat atau “manusia 5-20) dengan mendasarkan pada
pilihan Tuhan”, sebagai perantara Tuhan pendapat Ibn Taimiyyah, adalah al-Islam
untuk menyampaikan wahyu kepada (ajaran tunduk, patuh, taat, dan pasrah
semua manusia. dengan ketulusan kepada Allah.
Meskipun syari‟at (jalan menuju
Agama Budha mengklaim bahwa
kebenaran) dan minhaj (cara atau metode
penghargaan yang sesungguhnya
perjalanan menuju kebenaran) itu
mengenai keberadaan manusia terjadi
sangatlah beragam. Maka, dalam
sebagian besar dan efektif dalam ajaran
pandangan ini, bertitik tolak dari
Budha Gautama. Adapun Islam, ada
kesatuan kenabian (the unity prophety),1 dan
pernyataan Muhammad adalah Nabi dan
kesatuan kemanusaiaan (the unity of
melalui al-Qur‟an telah mewahyukan
humanity), yang berangkat dari ke-Maha
kepada umat manusia akan kebenaran
Esa-an Tuhan. Yaitu kerja sama
agama itu. Bahwa agama yang paling
kemanusiaan yang berdasarkan keimanan
benar adalah Islam dan menyembah
dan keikhlasan kepada Tuhan.
selain Allah adalah syirik dan keluar dari
Islam adalah murtad.
1 Ada hadits yang diriwayatkan oleh
Kedua, sikap atau teologi inklusif. Bukhari, “Aku adalah orang yang paling berhak atas
Paradigma ini berusaha ingin Isa putera Maryam di dunia dan akhirat. Para Nabi
adalah bersaudara satu Bapak, Ibu mereka berbeda-
mengatakan bahwa keselamatan beda namun agama mereka satu”, adalah merupakan
bukanlah milik agama tertentu, tetapi implikasi akan adanya bentuk kesadaran bahwa
semua agama berasal dari Tuhan.

64 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

Dalam tradisi Hindu juga yang lebih liberal dari Islam inklusif. Di
menawarkan sikap inklusif ini. Misalnya antara usaha untuk melakukan tafsir
Ramakrisna, mistikus Hindu, tersebut adalah bagaimana
menkampanyekan gagasan bahwa memposisikan perbedaan antara agama
“sesungguhnya seseorang akan mencapai itu, diterima sebagai sebuah keniscayaan
Tuhan, jika ia mengikuti jalan manapun dalam meletakkan dalam prioritas
dengan pengabdian sepenuh-penuhnya” “perumusan iman” dan “pengalaman
(Smith, 1965: 86). Begitu pula, iman”. Frichjof Schuon, Sayyed Hussein
dikalangan Budhis, yaitu melalui DT. Nasr, dan Inayat Khan, tokoh-tokoh
Suzuki (1870-1966) dengan karyanya Islam yang mencoba menggali dua
Cristian and Budhist Mysticism, mengkaji struktur penting dari setiap agama
tentang inklusifisme dalam Hindu ini tersebut, yaitu bagaimana melakukan
(Kautsar Azhari Noer, dalam “perumusan iman” dan “pengalaman
Komaruddin Hidayat dan Ahmad Gaus iman” tersebut.2
AF (ed), 1999: 270-271). Signifikansi Pluralisme dalam Kajian
Ketiga, sikap atau teologi Agama-Agama
Pluralisme. Bangunan epistemologi Pada era sekarang ini, yang oleh
dalam teologi pluralisme adalah setiap Nurcholis Madjid (1995:144) diistilahkan
agama-agama mempunyai kebenaran dan menjadi “desa buana” (global village),
mempunyai jalan keselamatan sendiri- dimana manusia bebas dan mudah
sendiri, karena itu klaim-klaim kebenaran berhubungan dengan manusia yang lain,
dan keselamatan sekarang satu-satunya baik secara etnis, budaya, bahasa, dan
jalan yang sah (teologi eksklusif), yang agama. Dalam kondisi semacam ini,
melengkapi atau mengisi jalan lain manusia akan semakin intim dan
(teologi inklusif) haruslah dilampaui mendalam dalam mengenal dan
demi alasan-alasan teologis dan memahami orang lain, sekaligus akan
fenomenologis. lebih mudah terbawa pada penghayatan
Tokoh utama yang paling impresif konfrontasi langsung.
mengemukakan paham ini adalah John Adanya dunia “tanpa jarak” ini,
Harwood Hicks (1993), dan Hans Kung menuntut sikap kritis dan apresiasif
yang menawarkan proyek teologi pluralis dengan mengedepankan sikap yang
yang bukan sekedar berhenti pada “ko- memandang bahwa semua itu adalah
eksistensi” pluralitas, hak setiap agama bagian dari keniscayaan hidup yang harus
untuk bereksistensi secara damai, tetapi
2 Dalam disiplin ilmu tafsir, munculnya
lebih dari itu, yaitu “pro-eksistensi”
Farrid Issac, pemikir dari Afrika Selatan, dengan
pluralitas. Sebuah sikap teologis yang bukunya Qur‟an Liberation and Pluralism; an Islamic
mengakui dan bahkan mendukung Perspective of Interriligiouss Solidarity Against Opression
(Oxford: 1997), dalam edisi Indonesia al-Qur‟an,
eksistensi agama-agama yang plural itu. Liberalisme, Pluralisme; Membebaskan yang Tertindas
(Bandung: Mizan, 2000), telah menggeser
Sementara dalam Islam, usaha paradigma teologi eksklusivisme ke arah
untuk melakukan tafsir terhadap teks dekontruksi kebenaran dan keselamatan suatu
agama, yaitu melalui tafsir hermeneutis al-Qur‟an.

65 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

dihargai sebagaimana mestinya. Sehingga pengeboman yang terjadi pada akhir-


dapat hidup menjadi bagian dari akhir ini di Indonesia, mempunyai akar
masyarakat dunia. yang sangat kuat adanya perbedaan
keyakinan agama. Padahal jauh
Maraknya konflik, yang berujung
sebelumnya, Arnold Toybee (1975 –
pada kerusuhan dan kekerasan fisik saat
1989) sudah memperingatkan kepada
ini, merupakan refleksi ketidak mampuan
kita bahwa “tidak seorangpun dapat
sebagian kelompok atau agama untuk
mengatakan dengan pasti bahwa sebuah agama
melakukan adaptasi dan menyikapi
lebih benar dari agama lain”.4
secara kritis perkembangan informasi
budaya. Latar belakang yang menjadi Berdasarkan realitas kehidupan
pemicunya memang beragam, namun saat ini, yang menyuguhkan kekerasan
situasi seperti itu, agama seringkali dimana-mana, maka telaah ulang dan
menjadi bahan yang paling “empuk” reformulasi pemahaman terhadap sikap
sebagai ralling factor dan simbol-simbol dan pemaknaan manusia terhadap agama
agama menjadi crying banner (Azra, dan kehidupan perlu di kedepankan.
1999:11). Meskipun akar masalahnya Kehidupan dimasa depan, globalisasi
tidak memiliki kaitan sedikitpun dengan sebagai karakteristiknya, telah
agama, namun konflik yang di menghantarkan umat manusia pada
tampakkan dipermukaan dicoba, kehidupan yang menitik-beratkan
diakaitkan dengan agama, sehingga mereka untuk saling bekerja sama dalam
bersimbol agama dan dianggap “perang suasan yang penuh kesetaraan.
suci”. Kekerasan selain bertentangan dengan
jiwa dan nilai-niali universal dari nilai-
Apabila kita mau membuka
nilai agama, juga tidak akan pernah
kembali lembaran sejarah kekerasan
menyelesaikan persoalan. Alih-alih
dinegara kita, maka kita akan
menyelesaiakan persolan dengan tuntas,
menemukan sederet peristiwa kekerasan
kekerasan akan menyulut atau
yang melibatkan “ranah” perbedaan
menimbulkan kekerasan-kekerasan
pemahaman keagamaan ini. Fakta ini
berikutnya.
dapat kita lihat misalnya, di Pekalongan
(1995), di Tasik Malaya (1996), di Rengas Kepedulian dan tuntutan akan
Dengklok (1997), dan Sanggaou Ledo, kehidupan yang penuh kedamaian dan
Kalimantan Barat (1996 – 1997), juga kesejahteraan serta lingkungan yang
Ambon dan Maluku (1999).3 Bahkan lestari, merupakan dambaan setiap

3 Sekali lagi, meskipun kekerasan ini, bergeser sama sekali. Lihat Abd. A‟la, “Wacana
melibatkan persoalan agama terutama pada kasus Pluralisme dalam Perspektif Aliran Neo-
Maluku ini, itu adalah hanya bagian dari Modernisme” dalam Akademia, Vol. 6. No. 2,
persoalan lain yang lebih mendasar. Masalah yang Maret 2000, hlm. 151.
lebih rumit adalah perubahan sosial yang terlalu 4 Di Kutip dari catatan Khamami Zada,

cepat. Dan Cak Nur sendiri menegaskan bahwa “Membebaskan Pendidikan Islam dari
dalam sebuah masyarakat akan selalu menempati Eksklusivisme, menuju Inklusivisme dan
posisi yang istimewa, tetapi karena adanya Pluralisme” dalam Tasywirul Afkar, No. 11. tahun
perubahan yang cepat, kedudukannya bisa 2000, hlm 2 – 3.

66 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

manusia dan masyarakat yang (Pendidikan multikultural adalah konsep


berperadaban. Tuntutan akan hal ini, inklusif yang digunakan untuk
merupakan suatu hal yang sangat niscaya, mengambarkan keragaman praktik,
sebab perdamaian sangat dibutuhkan program dan materi pendidikan yang
dalam perkembangan peradaban dirancang untuk membantu anak didik
manusia. Maka, agama dan studi agama- yang berasal dari berbagai kelompok
agama sangat penting untuk berbeda, agar mengalami kesetaraan
mengembangkan pemahaman dan pendidikan).
menekankan akan persamaan nilai-nilai Menuju Pendekatan Multikultural
luhur pada setiap agama, dengan teologi
yang lebih peduli dengan persoalan- Wacana multikulturalisme untuk
persoalan lingkungan hidup, etika, sosial, konteks di Indonesia menemukan
dan masa depan kemanusiaan yang momentumnya ketika sistem nasional
menonjolkan sisi kesadaran spritualitas. yang otoriter-militeristik tumbang seiring
Studi agama juga perlu menolak dengan jatuhnya rezim Soeharto. Saat
absolutisme, dan sebaliknya perlu itu, berbagai konflik antar suku bangsa
mengembangkan deabsolutizing truth atau dan antar golongan. Kondisi yang
rlativelly absolute (Hidayat dan Nafis, 1995: demikian membuat berbagai pihak
117 – 118). semakin mempertanyakan kembali
sistem nasional seperti apa yang cocok
Hal ini sebagaimana yang bagi Indonesia yang sedang berubah,
disebutkan oleh David Sikkink and serta sistem apa yang bisa membuat
Jonathan Hill (2006:45) bahwa salah satu masyarakat Indonesia bisa hidup damai
isu terpenting terkait politik pendidikan dengan meminimalisir potensi konflik.
dewasa ini adalah memilih lembaga Kondisi tersebut di atas, dilengkapi
pendidikan yang memperhatikan religious pula dengan sistem pemerintahan yang
tradition dalam rangka multikulturalisme,
kurang memperhatikan pembangunan
sehingga lembaga tersebut tidak kaku kemanusiaan pada era terdahulu,
dan rigid. kebijakan pemerintah didominasi oleh
Di era multikultural, lembaga kepentingan nasional dan stabilitas
pendidikan dituntut juga untuk nasional. Sektor pendidikan dan
mengapresiasi kebutuhan masyarakat pembinaan bangsa kurang mendapat
yang berasal dari beragam ras dan etnis. perhatian. Pada saat itu, masyarakat takut
Karenanya meniscayakan berkembang- berbeda pandangan, sebab kemerdekaan
nya persepktif pendidikan multikultural, mengeluarkan pendapat tidak mendapat
yang sering dimaknai oleh James A. tempat; kebebasan berfikir ikut
Banks (2006:182) sebagai: “Multicultural terpasung, pembinaan kehidupan dalam
education is an inclusive concept used to describe keragaman nyaris berada pada titik nadir.
a wide variety of school practices, programs, and Gerakan reformasi Mei 1998
materials designed to help children from diverse untuk mentransformasikan otoritaria-
groups to experience educational equality”. nisme orde baru menuju transisi

67 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

demokrasi sebaliknya telah menyemai untuk mewujudkan masyarakat


berkembangnya kesadaran baru tentang Indonesia yang adil, makmur, dan
pentingnya otonomi masyarakat sipil sejahtera sebagaimana yang tercantum
yang multikulturalisme radikal dalam pembukaan Undang-undang
sebagaimana yang kini diakomodasi Dasar 1945 dapat tercapai.
undang-undang Sikdiknas. Paradigma Mengingat pentingnya pemahaman
multikultural secara implisit telah pendekatan multikulturalisme dalam
menjadi salah satu concern dari Pasal 4 pembangunan bangsa, maka diperlukan
UU N0. 20 Tahun 2003 Sistem upaya-upaya konkrit untuk mewujud-
Pendidikan Nasional. Dalam pasal itu kannya. Kita perlu menyebarluaskan
dijelaskan, bahwa pendidikan pemahaman dan mendidik masyarakat
diselenggarakan secara demokratis, tidak akan pentingnya multikulturalisme bagi
diskriminatif dengan menjunjung tinggi kehidupan manusia.
HAM, nilai keagamaan, nilai kultural dan
kemajemukan bangsa. Dengan kata lain pendekatan
Sehingga, wawasan Multikultural multikulturalisme, diharapkan mampu
menjadi sangat penting untuk mengantarkan bangsa Indonesia
ditumbuhkan dan dikembangkan sebagai mencapai keadilan, kemakmuran dan
upaya meredam konflik yang kerap kesejahteraan masyarakat. Mantan
terjadi ditengah masyarakat. Menteri Pendidikan Nasional, Malik
Menumbuhkan nilai sosial yang baik Fajar (2004) pernah mengatakan
ditengah lingkungan multikultur tidak pentingnya pendekatan multikulturalisme
datang dengan sendirinya akan tetapi di Indonesia. Menurutnya, pendekatan
harus dimulai dari keluarga, sekolah dan multikulturalisme perlu ditumbuh-
lingkungan masyarakat. kembangkan, karena potensi yang
Pendekatan Multikultur dalam dimiliki Indonesia secara kultural, tradisi,
studi agam-agama, sudah menjadi dan lingkungan geografi serta demografis
tuntutan ditengah keragaman dan sangat luar biasa.
mempunyai peran yang besar dalam Dengan demikian, maka studi
pembangunan bangsa. Indonesia sebagai agama dimasa akan datang setidaknya
suatu negara yang berdiri di atas harus mampu melakukan rekonstruksi
keanekaragaman kebudayaan menisca- kajian, yang lebih mengunggulkan
yakan pentingnya multikulturalisme multikulturalisme dalam pendekatannya.
dalam pembangunan bangsa. Dengan
Memang, harus diakui bahwa
multikulturalisme ini maka prinsip
agama-agama disamping mempunyai
"bhineka tunggal ika" seperti yang
klaim absolutisme, juga memiliki klaim-
tercantum dalam dasar negara akan
klaim inklusivisme, bahkan pluralisme.
terwujud. Keanekaragaman budaya yang
dimiliki oleh bangsa Indonesia akan Pluralitas agama menurut Islam
menjadi inspirasi dan potensi bagi adalah sebuah aturan Tuhan (sunnatullah)
pembangunan bangsa sehingga cita-cita yang tidak akan berubah, juga tidak

68 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

mungkin dilawan atau diingkari. Diskursus lain yang juga


Ungkapan ini menggambarkan bahwa memperoleh perhatian serius oleh para
Islam sangat menghargai pluralisme pemikir kekinian, sebagai perkembangan
karena Islam adalah agama yang dengan lebih lanjut dari kajian pluralitas-
tegas mengakui hak-hak penganut agama pluralisme-adalah sebagaimana yang
lain untuk hidup bersama dan disebutkan sebelumnya, yakni pengkajian
menjalankan ajaran masing-masing tentang multikultural-multikulturalisme.
dengan penuh kesungguhan. Kajian multikultural ini tampaknya
Kata pluralitas secara generik menarik, disebabkan oleh munculnya
mengandung makna kejamakan atau pemikiran kritis sosial yang mencoba
kemajemukan. Pluralitas merupakan mempertanyakan kembali nilai
salah satu tema diskursus intelektual kemanusiaan dalam setiap praktek hidup
yang sangat intens diperbincangkan. keberagamaan.
Sebagian pandangan menunjukkan Menurut M. Quraish Shihab
bahwa pluralitas dipahami sebagai faktor (1992:153), yang menjadi persoalan
yang dapat menimbulkan konflik-konflik adalah justru ketika ada semangat yang
sosial, baik dilatarbelakangi oleh menggebu-gebu pada diri pemeluk
pemahaman dan kepentingan keagamaan agama, sehingga ada diantara mereka
serta supermasi budaya kelompok yang bersikap “melebihi Tuhan”,
masyarakat tertentu. misalnya menginginkan agar seluruh
manusia satu pendapat, menjadi satu
Pandangan inilah yang kemudian
aliran, dan satu agama. Semangat inilah
secara ekstrim menolak pluralitas-
yang mengantarkan mereka untuk
pluralisme dan menitik-beratkan pada
memaksakan pandangan absolutnya
keseragaman mutlak. Pandangan yang
untuk dianut oleh orang lain.seseorang.
demikian dapat dilihat pada totaliterisme
Barat yang diwakili oleh Uni Soviet. Para filosof, ketika menyatakan
tentang hakikat Realitas tertinggi adalah
Pandangan lainnya adalah,
satu. Maka secara otomatis prinsip-
pandangan yang menerima secara mutlak
prinsip filosofis yang digunakan oleh
gagasan pluralitas-pluralisme. Pandangan
semua agama adalah satu. Ketika
ini menganggap pluralitas sebagai suatu
„Allamah Thabataba‟i berbicara tentang
bentuk kebebasan individu yang tidak
agama pada level filosofis, ia tidak
ada keseragaman sedikitpun. Hal ini
pernah bersikap permisif, tetapi ketika ia
dapat dilihat dalam pandangan
kajiannya mulai menyenuh dataran
liberalisme Barat. Lalu bagaimana
sosiologis, ia justru sangat toleran. Dan
dengan pandangan Islam tentang
hal ini teruskan oleh muridnya
pluralitas-pluralisme, apakah Islam
Muthathohari. Itulah yang menjadikan
sejalan dengan pandangan yang pertama,
Alwi Shahab untuk menunjuk
ataukah yang kedua, dan ataukah ia
pendekatan filosofis sebagai sebuah
berbeda dengan keduanya dan memiliki
pendekatan dalam melakukan studi
pandangan tersendiri ?

69 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

agama-agama, bukan sosiologis, untuk melakukan penilaian yang tepat, bahwa


menghindari simbol-simbol agama (M. perbedaan itu hikmah, pembelajaran, dan
Zainuddin, 2004: 53). saling menguntungkan.
Oleh karena itu, fenomena sosial Keempat, berfikir secara proses.
dalam studi agama-agama perlu Proses ini bukan berarti hasil (product),
menggunakan pendekatan Multikultural. melainkan dalam pengertian kata kerja
Pendekatan ini dibangun oleh Brian Fay (process), dimana setiap agama dengan
(1996), melalui bukunya, Contemporary segala perbedaannya mendahulukan
Philosophy of Social Science. Ada dua belas proses sosial dalam berinteraksi antar
pendekatan Multikultural yang diabngun agama.
oleh Fay ini, yang mencoba Konsep ini dalam pandangan
mendamaikan berbagai perbedaan
Kuntowijoyo (1997: 66-68) merupakan
pandangan dalam ilmu-ilmu sosial proses Obyektifikas, yaitu aktualisasi
dengan cara yang lebih mendalam kebahagiaan private (individu) yang
(batini), inklusif, plural, tanpa adanya
mensyaratkan akan kebahagiaan public
sikap-sikap subyektivisme. dalam skala yang lebih luas, termasuk
Dari dua belas kerangka tesis didalamnya adalah agama. Obyektifikasi
pendekatan Multikultural Fay tersebut, ini adalah konkritisasi, upaya naturalisasi
ada empat point penting dan tepat untuk kebaikan, sebuah perbuatan rasional nilai
memahami pluralitas agama dalam yang diwujudkan dalam perbuatan
konteks studi agama-agama, yaitu: rasional atau kategori-kategori obyektif.
Sehingga orang lain dapat menikmati,
Pertama, mewasdai adanya
tanpa harus menyetujui nilai-nilai asal
dikotomi, menghindari adanya dualisme
(keyakinan atau keberagamaan internal.
baik-buruk, dan berfikir secara dialektis.
Dengan demikian akan menghindari
Sehinga kita tidak terjebak dalam
“sekularisasi” antara paradigma
kategori-kategori yang saling bertolak
abstraksis-praksis dan dominasi dalam
belakang. Kategori-kategori itu, perlu
masyarakat mayoritas vis a vis minoritas.
sikapi secara terbuka dan difikirkan
secara dialektis. Oleh sebab itu, dalam konteks
studi agama, yang perlu dikembangkan
Kedua, tidak menganggap orang
adalah sikap-sikap yang mengedepankan
lain sebagai “yang lain” (the others).
toleransi. Sebab, Islam sudah
Sebenarnya semua identitas pribadi, pada
memberikan penjelasan-penjelasan yang
hakikatnya bersifat dialogis. Tidak ada
jelas akan pentingnya membina
pemahaman diri tanpa pemahaman
hubungan baik antara muslim dengan
orang lain. Karena jangkauan kesadaran
non-muslim. Islam begitu menekankan
diri kita dibatasi oelh pengetahuan dan
akan pentingnya saling menghargai,
kesadaran orang lain.
saling menghormati dan berbuat baik
Ketiga, mentransendensikan walaupun kepada umat yang lain.
kesalahan. Atinya, kita hendaknya

70 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

Ada beberapa hal yang bisa Ketiga, orang muslim tidak


dijadikan sebagai azas pemberlakuan diberikan tugas untuk menghisab orang
konsep toleransi (tasamuh) dalam islam kafir karena kekafirannya. Persoalan ini
ini, antara lain adalah: bukanlah menjadi tugasnya, itu adalah
hak prerogatif Allah SWT. Hisab bagi
Pertama, keyakinan umat islam
mereka adalah di yaumul hisab nanti di
bahwa manusia itu adalah makhluk yang
yaumil qiyamah/akhir. Allah SWT
mulia apapun agama, kebangsaan dan
berfirman:
warna kulitnya. Firman Allah SWT:
“…Dan sungguh telah kami muliakan anak-
     
anak Adam (manusia)…” (QS. Al-Isra‟:70)
Maka kemuliaan yang telah      
diberikan Allah SWT ini menempatkan
bahwa setiap manusia memiliki hak      
untuk dihormati, dihargai dan dilindungi.
Imam Bukhari dari Jabir ibn Abdillah Artinya:“Dan jika mereka membantah
kamu, maka katakanlah: Allah lebih
bahwa ada jenazah yang dibawa lewat mengetahui tentang apa yang kamu
dihadapan nabi Muhammad saw. lalu kerjakan. Allah akan mengadili di antara
beliau berdiri untuk menghormatinya. kamu pada hari kiamat tentang apa yang
Kemudian ada seseorang kamu dahulu selisih pendapat karenanya.”
memberitahukan kepada beliau, “Wahai (QS.al-Hajj: 68-69).
Rasulullah, sesungguhnya itu jenazah Yahudi.” Keempat, keimanan orang muslim
Beliau menjawab dengan nada bertanya: bahwa Allah menyuruh berlaku adil dan
“Bukankah ia juga manusia?”. menyukai perbuatan adil serta
menyerukan akhlak yang mulia sekalipun
Kedua, keyakinan umat islam
terhadap kaum kafir, dan membenci
bahwa perbedaan manusia islam
kezaliman serta menghukum orang-
memeluk agama adalah karena kehendak
orang yang bertindak zalim, meskipun
Allah, yang islam hal ini telah
kezaliman yang dilakukan oleh seorang
memberikan kepada makhluknya
muslim terhadap seorang yang kafir.
kebebasan dan ikhtiyar (hak memilih)
Allah SWT berfirman:
untuk melakukan atau meninggalkan
sesuatu. Allah SWT berfirman:       ….

              

           
Artinya: Jikalau Tuhanmu menghendaki,
tentu Dia menjadikan manusia umat yang  
satu, tetapi mereka senantiasa berselisih
Artinya: “…Dan janganlah sekali-
pendapat.” (َQS. Hud:118).
kali kebencianmu terhadap suatu kamu
mendorong kamu untuk berlaku tidak

71 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

adil. Berbuat adillah, karena adil itu Toleransi adalah bagian integral
lebih dekat kepada taqwa.” (QS. al- dari islam itu sendiri yang detail-detailnya
Maidah: 8) kemudian dirumuskan oleh para ulama
Kelima, ajaran islam tidak pernah dalam karya-karya tafsir mereka.
memaksa umat lain untuk menjadi Kemudian rumusan-rumusan ini
muslim apalagi melalui jalan kekerasan. disempurnakan oleh para ulama dengan
Allah SWT berfirman: “Tidak ada pengayaan-pengayaan baru sehingga
paksaan dalam agama”. (QS. Al-Baqarah: akhirnya menjadi praktik kesejarahan
256) Islam memang agama dakwah. dalam masyarakat islam.
Dakwah Islam ajaran islam dilakukan
Menurut ajaran islam, toleransi
melalui proses yang bijaksana. Islam
bukan saja terhadap sesama manusia,
menyadari bahwa keragaman umat
tetapi juga terhadap alam semesta,
manusia dalam agama dan keyakinan
binatang, dan lingkungan hidup.
adalah kehendak Allah, karena itu tak
Dengan makna toleransi yang luas
mungkin disamakan.
semacam ini, maka toleransi antar-umat
Toleransi yang dalam bahasa beragam dalam islam memperoleh
Arabnya as-samahah adalah konsep perhatian penting dan serius. Apalagi
modern untuk menggambarkan sikap toleransi beragama adalah masalah yang
saling menghormati dan saling menyangkut eksistensi keyakinan
bekerjasama di antara kelompok- manusia terhadap Allah. Ia begitu
kelompok masyarakat yang berbeda baik sensitif, primordial, dan mudah
secara etnis, bahasa, budaya, politik, membakar konflik sehingga menyedot
maupun agama. Toleransi karena itu, perhatian besar dari islam.
merupakan konsep agung dan mulia
Hadits Nabi tentang persaudaraan
yang sepenuhnya menjadi bagian organik
universal juga menyatakan, “irhamuu man
dari ajaran agama-agama, termasuk
fil ardhi yarhamukum man fil samā”
agama islam.
(sayangilah orang yang ada di bumi maka
Dalam konteks toleransi antar- akan sayang pula mereka yang di lanit
umat beragama, islam memiliki konsep kepadamu). Persaudaran universal
yang jelas. “Tidak ada paksaan dalam adalah bentuk dari toleransi yang
agama”, “Bagi kalian agama kalian, dan diajarkan toleransi. Persaudaraan ini
bagi kami agama kami” adalah contoh menyebabkan terlindunginya hak-hak
populer dari Toleransi dalam islam. orang lain dan diterimanya perbedaan
Selain ayat-ayat itu, banyak ayat lain yang dalam suatu masyarakat islam. Dalam
tersebar di berbagai Surah. Juga sejumlah persaudaraan universal juga terlibat
hadis dan praktik toleransi dalam sejarah konsep keadilan, perdamaian, dan kerja
islam. Fakta-fakta historis itu sama yang saling menguntungkan serta
menunjukkan bahwa masalah toleransi menegasikan semua keburukan.
dalam islam bukanlah konsep asing.
Fakta historis toleransi juga dapat
ditunjukkan melalui Piagam Madinah.

72 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

Piagam ini adalah satu contoh mengenai karakteristik sebagai berikut, yaitu antara
prinsip kemerdekaan beragama yang lain:
pernah dipraktikkan oleh Nabi 1. Kerelaan hati karena kemuliaan dan
Muhamad SAW di Madinah. kedermawanan
Di antara butir-butir yang 2. Kelapangan dada karena kebersihan
menegaskan toleransi beragama adalah dan ketaqwaan
sikap saling menghormati di antara
agama yang ada dan tidak saling 3. Kelemah lembutan karena
menyakiti serta saling melindungi kemudahan
anggota yang terikat dalam sikap 4. Muka yang ceria karena kegembiraan
melindungi dan saling tolong-menolong
5. Rendah diri dihadapan kaum
tanpa mempersoalkan perbedaan
muslimin bukan karena kehinaan
keyakinan juga muncul dalam sejumlah
Hadis dan praktik Nabi. Bahkan sikap ini 6. Mudah dalam berhubungan sosial
dianggap sebagai bagian yang melibatkan (mu'amalah) tanpa penipuan dan
Tuhan. kelalaian

Sebagai contoh, dalam sebuah 7. Menggampangkan dalam berda'wah


hadis yang diriwayatkan dalam Syu‟ab al- ke jalan Allah tanpa basa basi
Imam, karya seorang pemikir abad ke-11, 8. Terikat dan tunduk kepada agama
al-Baihaqi, dikatakan: “Siapa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala tanpa ada
membongkar aib orang lain di dunia ini, maka rasa keberatan.
Allah (nanti) pasti akan membongkar aibnya
Di dalam masyarakat multikultural
di hari pembalasan”. Di sini, saling tolong-
yang di dalamnya terdapat berbagai
menolong di antara sesama umat
agama, etnik, dan golongan, hubungan
manusia muncul dari pemahaman bahwa
yang harmonis antar individu di dalam
umat manusia adalah satu badan, dan
masyarakat menjadi sesuatu yang
kehilangan sifat kemanusiaannya bila
dibutuhkan.
mereka menyakiti satu sama lain.
Tolong-menolong, sebagai bagian dari Terciptanya hubungan yang
inti toleransi, menajdi prinsip yang harmonis antar individu di masyarakat
sangat kuat di dalam islam. memerlukan interaksi sosial tanpa
prasangka dan konflik. Itulah sebabnya,
Namun, prinsip yang mengakar
tantangan terbesar dalam masyarakat
paling kuat dalam pemikiran islam yang
multikultural adalah penciptaan
mendukung sebuah teologi toleransi
hubungan yang harmonis antar warga
adalah keyakinan kepada sebuah agama
masyarakat.
fitrah, yang tertanam di toleransi diri
semua manusia, dan kebaikan manusia Oleh karena itu, dibutuhkan sikap
merupakan konsekuensi alamiah dari keterbukaan dalam menghadapi
prinsip ini. Selain itu, toleransi memiliki perbedaan, baik di dalam masyarakatnya
sendiri maupun dengan masyarakat lain

73 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

yang berbeda etnik, agama, dan Meskipun ummat islam mengakui


golongan. Interaksi sosial merupakan pluralitas dan menghargai toleransi,
sebuah proses yang dilakukan oleh namun tidak dibenarkan pluralisme pada
seseorang untuk menyatakan identitas tataran maksimum, yaitu pluralisme pada
dirinya kepada orang lain dan menerima tingkat membenarkan semua agama.
pengakuan atas identitas diri tersebut Hanya pada batasan, penerimaan
sehingga terbentuk perbedaan identitas pluralitas dan pluralisme adalah kesiapan
antara seseorang dengan orang lain. mengakui adanya kebenaran pada agama
lain.
Dengan demikian, menurut
Liliweri (2005:127) identitas tidak Pluralisme tidak berbanding lurus
semata-mata ditunjukkan oleh apa yang dengan kehilangan iman. Kesiapan
dimiliki, tetapi ditentukan pula oleh mengakui adanya kebenaran pada agama
pengakuan semua orang atau lain tidak mesti menyebabkan kehilangan
sekelompok lain terhadap kita dalam kepercayaan atas kebenaran agamanya
situasi tertentu. sendiri. Ada komitmen keimanan yang
menjaga pemeluk agama tetap setia pada
Pada dasarnya, interaksi sosial
agamanya.
adalah perwujudan dari sikap terbuka
untuk bergaul, bertetangga, dan mau Paul Knitter, seorang teolog
menerima dari pihak lain. Dalam Amerika dalam bukunya No Other Name
interaksi sosial, tidak ada batasan pada menisbahkan komitmen pada agama ini
etnik dan agama tertentu. Karena yang dengan komitmen orang berpasangan,
terpenting adalah sikap-sikap yang baik bahwa seseorang bisa menjaga komitmen
dan tidak bertentangan dengan ajaran mendalam pada pasangannya meskipun
agama, dalam hal ini agama Islam. ia mengagumi kesempurnaan, kecantikan
atau ketampanan orang lain.
Pemikiran Dr. Yusuf Qardhawi
merupakan setidaknya menggarisbawahi Komitmennya pada pasangan-
pada fakta bahwa pluralitas ini sebagai nyalah yang mampu menjaganya tetap
fakta yang niscaya dan kaum muslim menghargai pasangannya sebagai yang
harus menerima semua karena yang sempurna, tampan atau cantik di tengah
demikian telah menjadi fitrah dari-Nya. kilauan kesempurnaan, kecantikan atau
ketampanan yang lain.
Keterbukaan yang dimaksudkan
Qardhawi dapat diwujudkan dalam Demikian juga, komitmen
bentuk kemampuan berinteraksi sebagai keimanan pada agamanyalah yang
kolega, tetangga, bahkan anggota mampu menjaga seseorang tetap setia
keluarga. Interaksi sebagai kolega adalah pada agamanya meskipun ia juga
interaksi formal di tempat kerja, yaitu menyaksikan kilauan kebenaran pada
interaksi masyarakat karena kepentingan agama-agama lain (Sirry, 2003: 196).
yang menurut Ferdinand Tonnies Inilah kemudian yang mengilhami
disebut gesselschaftlich. dialog antar agama, guna meminimalisir

74 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

buruk sangka antar agama yang Dengan begitu, pendekatan


berpotensi pada keretakan sosial. pluralisme dan multikulturalisme
merupakan keniscayaan sejarah yang
Penutup
tidak bisa dipungkiri keberadaannya, dan
Ditengah derasnya arus globalisasi merupakan tantangan yang dihadapi oleh
yang dipicu oleh ledakan revolusi agama-agama. Untuk itu, perlu
teknologi informasi, peran dan fungsi pemahaman yang lebih mendalam, dalam
agama mulai ditantang. Tantangan yang melakukan kajian agama-agama.
seringkali dibebankan kepada agama
Setiap agama hendaknya dinilai
adalah dalam menyelesaikan konflik dan
sebagai tradisi-tradisi yang utuh, bukan
perilaku kekerasan, sebab agama sering
sebagai fenomena keagamaan yang
dikaitkan dengan terjadinya pelbagai
partikular. Sementara, tradisi perbedaan
ketegangan dan kerusuhan. Ini
keagamaan hendaknya dianggap sebagai
sebenarnya tidak fair, sebab faktor-faktor
sebuah produktivitas yang sama (equally
dominan yang terjadi di lapangan seperti
productive) dalam mengubah manusia dari
kesenjangan ekonomi dan sosial,
perhatian pada diri sendiri (self-contredness)
penindasan, ketidakadilan dan lain malah
menuju pada perhatian Tuhan (Reality
dikesampingkan.
contredness).
Dalam kondisi seperti ini, studi
agama perlu melakukan rekonstruksi
pendekatan dalam kajiannya. Upaya ini
misalnya telah dilakukan oleh Hans
Kung dengan mempromosikan ide
Global Ethics, sementara yang John Hick
mengusulkan global theology. Disini
pemikiran ekslusif dalam agama-agama
di-global-kan alias dilebur agar menjadi
inklusif dalam artian dapat menerima
agama lain.
Dalam wacana yang berkembang
di Indonesia hal ini dikenal dengan
gagasan yang disebut teologi inklusif.
Teologi ini menekankan bahwa semua
agama pada esensinya adalah sama;
semuanya benar, karena semua agama
tanpa terkecuali seluruhnya mengajarkan
kebaikan dan ketundukan kepada yang
maha kuasa dan maha benar. Oleh sebab
itu, tidak satupun diantara agama-agama
yang ada hari ini lebih superior dari yang
lain.

75 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

Daftar Kepustakaan Keagamaan”, dalam


Komaruddin Hidayat dan
Ahmad Gaus AF (ed). Passing
Abd. A‟la. (2000). “Wacana Pluralisme Over; Melintas Batas Agama.
dalam Perspektif Aliran Neo- Jakarta: Paramadina.
Modernisme”. Akademia, Vol. 6. Khamami Zada. (2000). “Membebaskan
No. 2 (2000). Pendidikan Islam dari
Alo Liliweri, (2005) Prasangka dan Eksklusivisme, menuju
Konflik: Komunikasi Lintas Budaya Inklusivisme dan Pluralisme”.
Masyarakat Multikultur, Tasywirul Afkar, No. 11 (2000).
Yogyakarta: LkiS, 2005 Komaruddin Hidayat dan Wahyuni
Azyumardi Azra. (1999). Menuju Nafis. (1995). Agama Masa Depan;
Masyarakat Madani; Gagasan, Perspektif Filsafat Perennial. Jakarta:
Fakta, dan Tantangan. Bandung: Paramadia.
Remaja RosdaKarya. Kuntowijoyo. (1997). Identitas Politik
Barbour, Ian G. (1966). Issues in Science Umat Islam. Bandung: Mizan.
and Religion. New York: Harper & M. Amin Abdullah. (1993). “Keimanan
Row Publisher. Universal ditengah Pluralisme
-------. (1980). “Paradigms in Science and Budaya, tentang Klaim
Religions”, dalam Carry Cautting Kebenaran Agama, dan Masa
(ed). Paradigsm and Revolutions. Depan Agama”. Ulumul Qur‟an,
Notre Dame: University of Vol. IV. No. 1 (1993).
Notre Dame Press. M. Quraish Shihab. (1992). Membumikan
Coward, Harold. (1989). Pluralisme dan al-Qur‟an. Bandung: Mizan.
Tantangan Agama, Yogyakarta: M. Zainuddin. (2004). “Agama; Antara
Kanisius. Pluralisme dan Klaim
David Sikkink dan Jonathan Hill, (2006) Absolutisme”. Akademia, Vol.
“Education” dalam Helen Rose 15. No. 1 (2004).
Ebaugh (ed.), Handbook of Religion Mun‟im Sirry, (2003), Membendung
and Social Institutions. New York: Militansi Agama: Iman dan Politik
Springer dalam Masyarakat Modern, Jakarta:
Fay, Brian. (1996). Contemporary Philosophy Erlangga,
of Social Science. Oxford: Blackwell Nurcholish Madjid. (1995). Islam Agama
Publisher. Kemanusiaan; Membangun Tradisi
Issac, Farrid. (2000). Al-Qur‟an, dan Visi Baru Islam di Indonesia.
Liberalisme, Pluralisme; Jakarta: Paramadina.
Membebaskan yang Tertindas -------.
(1999). “Dialog Agama dalam
(terjemahan). Bandung: Mizan. Perspektif Universalisme al-
James A. Banks (2006), Race, Culture, and Islam”, dalam Komaruddin
Education: The Selected Works of Hidayat dan Ahmad Gaus AF
James A. Banks, London: (ed). Passing Over; Melintas Batas
Routledge, 2006. Agama. Jakarta: Paramadina.
------
Kautsar Azhari Noer. (1999). (1995). Islam Agama Kemanusiaan ;
“Memperkaya Pengalaman Membangun Tradisi dan Visi Baru

76 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016
Said Masykur : Pluralisme Dalam Konteks Studi Agama-Agama

Islam di Indonesia. Jakarta ;


Paramadina. 1995
Smith, Huston. (1965). The Religion of
Man. New York: Perennial
Library Harper & Row.
Sukidi. (2001). Teologi Inkludif Cak Nur.
Jakarta: Kompas.

77 TOLERANSI: Media Komunikasi umat Beragama


Vol. 8, No. 1, Januari – Juni 2016