Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN FARMAKOTERAPI

“TUBERKULOSIS”

Kelas A3 / Kelompok 12
Anggota kelompok:
 Patin Aryani 21181136
 Fitriani 21181115

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER 20


SEKOLAH TINGGI FARMASI BANDUNG
Soal Kasus:
Seorang laki-laki 45 tahun dengan penyakit hati kronis sekunder untuk alkoholisme didiagnosis
dengan tuberkulosis paru. AST dan ALT nya adalah masing-masing 100 IU/L dan 56 IU/L (1,67
µkat/L atau 0,94 µkat/L). Selain pemantauan tes fungsi hati, manakah berikut ini pilihan yang paling
tepat untuk pengobatan TB pada saat ini?

Berdasarkan kasus diatas, bahwasannya pasien ini mengalami TB yang baru, sehingga menurut rekomendasi
WHO pasien ini masuk ke kategori 1, sehingga terapinya adalah 2(HRZE)/4(HR)3, dimana 2HRZE = digunakan
selama 2 bulan tiap hari 1 kombinasi dan 4 (HR)3 = lama pengobatan 4 bulan masing2 OAT 3 kali seminggu,
sedangkan untuk istri dan dua anaknya, yaitu sebaiknya menjaga kontak langsung, karena kita ketahui kan
faktor resikonya bisa terjangkit melalui udara dari penderita langsung.

Ket: H(isoniazid), R(ripamfisin), Z(pirazinamid), E(etambutol)

Definisi: Tuberculosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium
tuberkulosis yang dapat infeksi diam, laten atau penyakit aktif progresif. Diobati atau diobati dengan
tidak benar, TB menyebabkan kerusakan jaringan progresif dan, akhirnya, kematian.
(Joseph T, Dipiro,et.al. Pharmacotheraphy 9th Ed.2012)

Etiologi: M. tuberkulosis ditularkan dari orang ke orang melalui batuk atau aktivitas lain yang
menyebabkan organisme di aerosol. Partikel ini disebut droplet nuclei, mengandung satu sampai tiga
bacilli dan cukup kecil (1 sampai 5 mm) sampai mencapai permukaan alveolar. Ini menghasilkan
"droplet nuclei" yang tersebar di udara. Setiap droplet nuklei berisi 1-3 organisme. Sekitar 30% orang
yang mengalami kontak berkepanjangan dengan pasien TB yang menular akan terinfeksi. Seseorang
dengan kavitas, TB paru dan batuk dapat menginfeksi sekitar satu orang per bulan sampai orang yang
diobati secara efektif, walaupun jumlah ini dapat bervariasi secara signifikan. Seseorang dengan
bentuk laring jarang, TB dapat menyebarkan organisme bahkan ketika berbicara, sehingga tingkat
penularan bisa lebih tinggi.
(Joseph T, Dipiro,et.al. Pharmacotheraphy 9th Ed.2012)

Faktor Resiko:
 Faktor Resiko Infeksi
1. Lokasi dan tempat kelahiran
Empat negara bagian (california, Florida, New york dan Texas) terus melaporkan lebih
dari 500 kasus pada tahun 2011 atau sekitar 50,4% kasus TB pada tahun 2011. Pada negara-
negara tersebut kasus TB paling banyak terjadi di daerah perkotaan yang luas.
Kontak dekat pasien TB paru kemungkinan besar akan terinfeksi seperti anggota
keluarga, rekan kerja atau rekan kerja di tempat-tempat seperti penjara, tempat penampungan
atau panti jompo. Resiko terkena TB meningkat 30% dengan kontak yang lebih lama.
Masalah sosial dan kesehatan TB semakin sulit terutama pasien yang memiliki riwayat
penyalahgunaan alkohol atau obat terlarang serta pasien co-infeksi dengan Hepatitis atau HIV.
2. Ras, etnik, umur dan gender
Di amerika serikat TB terjadi pada etnis minoritas. Pada sistem pelaporan pada tahun
1993 orang asia non-hispanik merupakan etnis terbesar pasien TB dibandingkan etnis hispanik.
Dibandingkan dengan ras non-hispanik putih tingkat TB pada orang Asia non-hispanik 25x

1
lebih besar. Sedangkan tingkat TB pada orang non-hispanik kulit hitam dibandingkan dengan
hispanik kulit hitam memiliki resiko terkena TB 7-8 kali lebih besar. Kemudian tingkat TB di
amerika serikat orang kulit hitam non-hispanik 6x lebih tinggi dibandingkan kulit putih non-
hispanik.
TB umumnya terjadi pada usia 25-44 tahun. Pada tahun 2010, 6% kasus TB di AS
terjadi pada anak yang berusia dibawah 15 tahun, 11% menyerang pasien yang berusia 15-24
tahun , 33% ( usia 25-44 tahun), 31% ( 45-64 tahun), dan 20% (> 65 tahun). Prevalensi penyakit
TB meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
3. Co Infeksi dengan Human Immunodeficiency Virus
HIV menjadi faktor resiko yang penting terhadap TB aktif terutama pada usia 25-44
tahun. Pada tahun 2011 3,9% kasus TB di Amerika serikat terjadi karena co-infeksi dengan
penyakit HIV. Jumlah kematian TB meningkat dengan co-infeksi HIV dengan resistensi
multidrug/ Multi Drug Resistant (MDR) dan TB XDR (Extensively drug-resistant).

 Faktor Resiko Penyakit


Seseorang yang telah terinfeksi TB memiliki risiko 10% terhadap TB aktif selama
hidupnya. Risiko terbesar tejadi pada dua tahun pertama setelah terinfeksi. Anak- anak yang
berusia 2 tahun dan orang dewasa yang berusia >65 tahun memiliki risiko 2-5 kali lebih besar
terhadap TB aktif dibandingkan kelompok umur lain. Pasien dengan sistem imun yang ditekan
(seperti: gagal ginjal, kanker, pengobatan imunosupresan) memiliki risiko 4-16 kali
dibandingkan dengan pasien lain. Sedangkan pasien yang terinfeksi HIV memiliki risiko 100x
lebih besar terinfeksi virus M.tuberculosis dibandingkan pasien yang tidak terinfeksi HIV.
(Joseph T, Dipiro,et.al. Pharmacotheraphy 9th Ed.2012)

Patofisiologi:
Selama fase awal infeksi ini, M. tuberkulosis mengalikan Infeksi primer biasanya diakibatkan
oleh menghirup partikel udara yang mengandung M. tuberculosis. Perkembangan penyakit klinis
bergantung pada tiga faktor: (a) jumlah organisme M. tuberculosis yang dihirup (dosis yang
menginfeksi), (b) virulensi organisme ini, dan (c) sel hospes menghasilkan respons imun. Pada
permukaan alveolar, basil yang dikirim oleh inti tetesan ditelan oleh makrofag paru. Jika makrofag ini
menghambat atau membunuh basil, infeksi akan dibatalkan. Jika makrofag tidak bisa melakukan ini,
organisme logaritma.
Beberapa organisme intraselular diangkut oleh makrofag ke kelenjar getah bening regional di
daerah hilar, mediastinum, dan retroperitoneal. Siklus fagositosis dan sel pecah terus berlanjut. Selama
keterlibatan kelenjar getah bening, mikobakteri mungkin ditahan. Lebih sering, M. tuberculosis
menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Saat diseminasi intravaskular ini terjadi, M.
tuberculosis dapat menginfeksi jaringan atau organ dalam tubuh. Paling umum, M. tuberculosis
menginfeksi daerah apikal posterior paru-paru. Hal ini mungkin terjadi karena kandungan oksigen
yang tinggi, dan ini mungkin karena respons imun yang kurang kuat di daerah ini.
Setelah sekitar 3 minggu infeksi, limfosit T disajikan dengan antigen M. tuberkulosis. Sel T ini
menjadi aktif dan mulai mensekresikan INF-γ dan sitokin lainnya yang telah dicatat sebelumnya.
Proses yang dijelaskan dalam Respon Kekebalan di atas kemudian mulai terjadi. Pertama, limfosit T
merangsang makrofag menjadi bakterisida. Sejumlah besar makrofag mikrobisida aktif mengelilingi

2
feses tuberkulosis casei padat (seperti keju) (daerah infeksi nekrotik). Proses pembuatan makrofag
mikrobisidal aktif dikenal sebagai imunitas yang dimediasi oleh sel (CMI).
Pada saat bersamaan CMI terjadi, tipe hipersensitivitas tertunda (DTH) juga berkembang
melalui aktivasi dan perbanyakan limfosit T. DTH mengacu pada proses kekebalan sitotoksik yang
membunuh makrofag muda yang tidak subur yang memungkinkan replikasi bacillary intraselular.
Makrofag yang belum matang ini terbunuh saat limfosit T memulai apoptosis fasmediasi (kematian
sel terprogram). Bakteri yang dilepaskan dari makrofag yang belum matang kemudian dibunuh oleh
makrofag teraktivasi.
Pada saat ini (> 3 minggu), makrofag sudah mulai membentuk granuloma untuk menampung
organisme. Pada granuloma tuberkulosis yang khas, makrofag teraktivasi menumpuk di sekitar lesi
kaseus dan mencegah perpanjangannya lebih lanjut. Pada titik ini, infeksi sebagian besar terkendali,
dan replikasi bacillian jatuh drastis. Bergantung pada respons inflamasi, nekrosis jaringan dan
kalsifikasi situs infeksi ditambah kelenjar getah bening regional dapat terjadi.
Lebih dari 1 sampai 3 bulan, limfosit teraktivasi mencapai jumlah yang cukup, dan hasil
hipersensitivitas jaringan. Hal ini ditunjukkan dengan tes kulit tuberkulin positif. Setiap mikobakteri
yang tersisa diyakini berada di dalam granuloma atau di dalam makrofag yang telah menghindari
deteksi dan lisis, walaupun beberapa bacilli residu telah ditemukan di berbagai jenis sel.
Sekitar 90% pasien yang terinfeksi tidak memiliki manifestasi klinis lebih lanjut. Sebagian
besar pasien hanya menunjukkan tes kulit positif (70%), sedangkan beberapa juga memiliki bukti
radiografi granuloma stabil. Daerah radiodense pada radiografi dada ini disebut kompleks Ghon.
Sekitar 5% pasien (biasanya anak-anak, orang tua, dan immunocompromised) mengalami penyakit
"progresif primer" yang terjadi sebelum konversi testis kulit, yang hadir sebagai pneumonia progresif,
biasanya di lobus bawah. Penyakit sering menyebar, menyebabkan meningitis dan bentuk TB berat
lainnya. Karena risiko penyakit parah ini, sangat muda, lanjut usia, dan pasien dengan
immunocompromised, termasuk orang dengan HIV, harus dievaluasi dan diobati untuk TB laten atau
aktif.
(Joseph T, Dipiro,et.al. Pharmacotheraphy 9th Ed.2012)

3
Algoritma Terapi

Algoritma Pengobatan Untuk Tuberkulosis


Diagnosis TB Paru pada orang dewasa harus ditegakkan terlebih dahulu dengan pemeriksaan bakteriologis.
Pemeriksaan bakteriologis yang dimaksud adalah pemeriksaan mikroskopis, tes cepat molekuler TB dan
biakan.
• Pemeriksaan TCM digunakan untuk penegakan diagnosis TB, sedangkan pemantauan kemajuan pengobatan
tetap dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis.
• Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu
memberikan gambaran yang spesifik pada TB paru, sehingga dapat menyebabkan terjadi overdiagnosis
ataupun underdiagnosis.
• Tidak dibenarkan mendiagnosis TB dengan pemeriksaan serologis.

a. Faskes yang mempunyai Alat Tes Cepat Molukuler (TCM) TB:


1. Faskes yang mempunyai akses pemeriksaan TCM, penegakan diagnosis TB pada terduga TB
dilakukan dengan pemeriksaan TCM. Pada kondisi dimana pemeriksaan TCM tidak memungkinkan
(misalnya alat TCM melampui kapasitas pemeriksaan, alat TCM mengalami kerusakan, dll),
penegakan diagnosis TB dilakukan dengan pemeriksaan mikroskopis.

4
2. Jika terduga TB adalah kelompok terduga TB RO dan terduga TB dengan HIV positif, harus tetap
diupayakan untuk dilakukan penegakan diagnosis TB dengan TCM TB, dengan cara melakukan
rujukan ke layanan tes cepat molekuler terdekat, baik dengan cara rujukan pasien atau rujukan contoh
uji.
3. Jumlah contoh uji dahak yang diperlukan untuk pemeriksaan TCM sebanyak 2 (dua) dengan kualitas
yang bagus. Satu contoh uji untuk diperiksa TCM, satu contoh uji untuk disimpan sementara dan akan
diperiksa jika diperlukan (misalnya pada hasil indeterminate, pada hasil Rif Resistan pada terduga TB
yang bukan kriteria terduga TB RO, pada hasil Rif Resistan untuk selanjutnya dahak dikirim ke
Laboratorium LPA untuk pemeriksaan uji kepekaan Lini- 2 dengan metode cepat)
4. Contoh uji non-dahak yang dapat diperiksa dengan MTB/RIF terdiri atas cairan serebrospinal
(Cerebro Spinal Fluid/CSF), jaringan biopsi, bilasan lambung (gastric lavage), dan aspirasi cairan
lambung (gastric aspirate).
5. Pasien dengan hasil Mtb Resistan Rifampisin tetapi bukan berasal dari kriteria terduga TB RO harus
dilakukan pemeriksaan TCM ulang. Jika terdapat perbedaan hasil, maka hasil pemeriksaan TCM yang
terakhir yang menjadi acuan tindakan selanjutnya.
6. Jika hasil TCM indeterminate, lakukan pemeriksaan TCM ulang. Jika hasil tetap sama, berikan
pengobatan TB Lini 1, lakukan biakan dan uji kepekaan.
7. Pengobatan standar TB MDR segera diberikan kepada semua pasien TB RR, tanpa menunggu hasil
pemeriksaan uji kepekaan OAT lini 1 dan lini 2 keluar. Jika hasil resistensi menunjukkan MDR,
lanjutkan pengobatan TB MDR. Bila ada tambahan resistensi terhadap OAT lainnya, pengobatan
harus disesuaikan dengan hasil uji kepekaan OAT.
8. Pemeriksaan uji kepekaan menggunakan metode LPA (Line Probe Assay) Lini-2 atau dengan metode
konvensional.
9. Pengobatan TB pre XDR/ TB XDR menggunakan paduan standar TB pre XDR atau TB XDR atau
menggunakan paduan obat baru.
10. Pasien dengan hasil TCM M.tb negatif, lakukan pemeriksaan foto toraks. Jika gambaran foto toraks
mendukung TB dan atas pertimbangan dokter, pasien dapat didiagnosis sebagai pasien TB
terkonfirmasi klinis. Jika gambaran foto toraks tidak mendukung TB kemungkinan bukan TB, dicari
kemungkinan penyebab lain

b. Faskes yang tidak mempunyai Alat Tes Cepat Molukuler (TCM) TB


1. Faskes yang tidak mempunyai alat TCM dan kesulitan mengakses TCM, penegakan diagnosis TB
tetap menggunakan mikroskop.
2. Jumlah contoh uji dahak untuk pemeriksaan mikroskop sebanyak 2 (dua) dengan kualitas yang bagus.
Contoh uji dapat berasal dari dahak Sewaktu-Sewaktu atau Sewaktu-Pagi.
3. BTA (+) adalah jika salah satu atau kedua contoh uji dahak menunjukkan hasil pemeriksaan BTA
positif. Pasien yang menunjukkan hasil BTA (+) pada pemeriksaan dahak pertama, pasien dapat
segera ditegakkan sebagai pasien dengan BTA (+).
4. BTA (-) adalah jika kedua contoh uji dahak menunjukkan hasil BTA negatif. Apabila pemeriksaan
secara mikroskopis hasilnya negatif, maka penegakan diagnosis TB dapat dilakukan secara klinis
menggunakan hasil pemeriksaan klinis dan penunjang (setidak-tidaknya pemeriksaan foto toraks)
yang sesuai dan ditetapkan oleh dokter.
5. Apabila pemeriksaan secara mikroskopis hasilnya negatif dan tidak memilki akses rujukan
(radiologi/TCM/biakan) maka dilakukan pemberian terapi antibiotika spektrum luas (Non OAT dan
Non kuinolon) terlebih dahulu selama 1-2 minggu. Jika tidak ada perbaikan klinis setelah pemberian
antibiotik, pasien perlu dikaji faktor risiko TB. Pasien dengan faktor risiko TB tinggi maka pasien
dapat didiagnosis sebagai TB

5
Klinis. Faktor risiko TB yang dimaksud antara lain:
a) Terbukti ada kontak dengan pasien TB
b) Ada penyakit komorbid: HIV, DM
c) Tinggal di wilayah berisiko TB: Lapas/Rutan, tempat penampungan pengungsi, daerah kumuh, dll.

(Permenkes No. 67 tahun 2016 tentang tatalaksana tuberkulosis).

Monitoring dan Evaluasi


- Kepatuhan pasien
- Sputum atau dahak diperiksa setiap 1 sampai 2 minggu sekali selama 2 sampai 3 bulan jika
hasil pemeriksaan negatif maka dinyatakan sembuh tetapi jika dalam 2 atau 3 bulan
pemeriksaan menunjukan hasil yg terus positif maka obat yg digunakan harus diganti.
- Untuk pasien yg menerima obat aminoglikosida selama lebih dari 1 atau 2 bulan harus
dilakukan pengujian audiometri
- Untuk pasien yg menerima etambutol harus dilakukan test penglihatan
(Joseph T, Dipiro,et.al. Pharmacotheraphy 9th Ed.2012)

Panduan OAT yang digunakan di Indonesia (sesuai rekomendasi WHO dan ISTC)
 Kategori I : 2(HRZE)/4(HR)3
 Kategori II : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3
 Kategori anak : 2(HRZ)/4(HR) atau 2HRZA(S)/4-10HR
 Obat yang digunakan dalam tatalaksana, kapreomisisn, levofloksasin, etionamide, sikloserin,
moksifloksasin dan PAS, serta OAT lini-1, yaitu pirazinamid dan etambutol.

(Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, 2014)

6
Pengobatan TB Pada Keadaan Khusus

1. Kehamilan
Menurut WHO, hampir semua OAT aman utuk kehamilan, kecuali golongan Aminoglikosida
seperti: streptomisin atau kanamisin karena dapat menimbulkan ototoksik pada bayi
(permanent ototoxic) dan dapat menembus barier placenta. Mengkibatkan terjadinya gangguan
pendengaran dan keseimbanga yang menetap pada bayi yang akan dilahirkan.

2. Ibu menyusui dan bayinya


Pada prinsipnya pengobatan TB pada ibu menyusui tidak berbeda dengan pengobatan pada
umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita
TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara
terbaik untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu
dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus diberikan ASI. Pengobatan pencegahan dengan INH
diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

3. Pasien TB penggunaan kontrasepsi


Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB)
sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang pasien TB sebaiknya
mengggunakan kontrasepsi non-hormonal.

4. Pasien TB dengan kelainan hati


a) Pasien TB dengan Hepatitis akut
Pemberian OAT pada pasien TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik, ditunda
sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Sebaiknya dirujuk ke fasyankes
rujukan untuk penatalaksanaan spesialistik.
b) Hepatitis Kronis
Pada pasien dengan kecurigaan mempunyai penyakit hati kronis, pemeriksaan fungsi hati
harus dilakukan sebelum memulai pengobatan. Apabila hasil pemeriksaan fungsi hati >3
x normal sebelum memulai pengobatan, paduan OAT berikut ini dapat dipertimbangkan:
• 2 obat yang hepatotoksik
 2 HRSE / 6 HR
 9 HRE
• 1 obat yang hepatotoksik
 2 HES / 10 HE
• Tanpa obat yang hepatotoksik
 18-24 SE ditambah salah satu golongan fluorokuinolon (ciprofloxasin tidak
direkomendasikan karena potensimya sangat lemah).
Semakin berat atau tidak stabil penyakit hati yang diderita pasien TB, harus menggunakan
semakin sedikit OAT yang hepatotoksik.
 Konsultasi dengan seorang dokter spesialis sangat dianjurkan,
 Pemantauan klinis dan LFT harus selalu dilakukan dengan seksama,
 Pada panduan OAT dengan penggunaan etambutol lebih dari 2 bulan diperlukan
evaluasi gangguan penglihatan.

7
c) Pasien dengan kondisi berikut dapat diberikan paduan pengobatan OAT yang biasa
digunakan apabila tidak ada kondisi kronis :
 Pembawa virus hepatitis
 Riwayat penyakit hepatitis akut
 Saat ini masih sebagai pecandu alkohol
Reaksi hepatotoksis terhadap OAT umumnya terjadi pada pasien dengan kondisi tersebut
diata sehingga harus diwaspadai.

5. Pasien TB dengan gangguan fungsi ginjal


Paduan OAT yang dianjurkan adalah pada pasien TB dengan gagal ginjal atau gangguan fungsi
ginjal yang berat: 2 HRZE/4 HR.

6. Pasien TB dengan diabetes militus (DM)


TB merupakan salah satu faktor risiko tersering pada seseorang dengan Diabetes mellitus.
Anjuran pengobatan TB pada pasien dengan Diabetes melitus:
a) Paduan OAT yang diberikan pada prinsipnya sama dengan paduan OAT bagi pasien TB
tanpa DM dengan syarat kadar gula darah terkontrol.
b) Apabila kadar gula darah tidak terkontrol, maka lama pengobatan dapat dilanjutkan sampai
9 bulan.
c) Hati hati efek samping dengan penggunaan Etambutol karena pasien DM sering mengalami
komplikasi kelainan pada mata.
d) Perlu diperhatikan penggunaan Rifampisin karena akan mengurangi efektifitas obat oral
anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosisnya perlu ditingkatkan.
e) Perlu pengawasan sesudah pengobatan selesai untuk mendeteksi dini bila terjadi
kekambuhan

7. Pasien TB yang perlu mendapatkan tambahan kortikosteroid


Kortikosteroid hanya digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa pasien
seperti:
a) Meningitis TB dengan gangguan kesadaran dan dampak neurologis.
b) TB milier dengan atau tanpa meningitis.
c) Efusi pleura dengan gangguan pernafasan berat atau efusi pericardial.
d) Laringitis dengan obstruksi saluran nafas bagian atas, TB saluran kencing (untuk
mencegah penyempitan ureter ), pembesaran kelenjar getah bening dengan penekanan
pada bronkus atau pembuluh darah.
e) Hipersensitivitas berat terhadap OAT.
f) IRIS ( Immune Response Inflammatory Syndrome )

8
8. Indikasi operasi
Pasien-pasien yang perlu mendapat tindakan operasi (misalnya reseksi paru), adalah:
a) Untuk TB paru:
 Pasien batuk darah berat yang tidak dapat diatasi dengan cara konservatif.
 Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara
konservatif.
 Pasien TB MDR dengan kelainan paru yang terlokalisir.
b) Untuk TB ekstra paru:
Pasien TB ekstra paru dengan komplikasi, misalnya pasien TB tulang yang disertai kelainan
neurologik.
(Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis, 2014)
Contoh Soal

1. Seorang perempuan berumur 35 tahun oleh dokter didiagnosis tuberculosis. Setelah menjalani
pengobatan lengkap selama 6 bulan, tetapi hasil pemeriksaan menunjukan BTA (+). Apakah
interpretasi hasil pemeriksaan tersebut?
a. Putus obat
b. Gagal
c. Drop out
d. Sembuh
e. Kambuh
Pembahasan : Jawab : B. Gagal

Kondisi BTA positif yang masih positif atau kembali positif pada akhir bulan ke 5 (satu bulan
sebelum akhir pengobatan)

2. Seorang pasien laki laki dating ke puskesmas dengan diagnosis TB dari dokter. Dokter telah
memberikan terapi TB kategori 1. pasien akan menebus untuk bulan kedua. Obat yang akan
ditebus ?
a. Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, streptomisin
b. Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, moksifloksasin
c. Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol
d. Rifampisin, isoniazid, piridoksin, etambutol
e. Rifampisin, streptomisin, pirazinamid, etambutol
Pembahasan : Jawaban : C. Rifampisin, isoniazid, pirazinamid, etambutol.
Untuk TB kategori 1 dipakai 2HRZE/ 4H3R3, artinya tahap awal/ intensif adalah 2HRZE : lama
pengobatan 2 bulan, masing-masing OAT (HRZE) diberikan setiap harinya.

Daftar Pustaka

1. DiPiro, J., Talbert, R.L., Yee, G., Wells, B., dan Posey, L.M., 2012. Schizophrenia, dalam:
Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach. McGraw Hill Professional.
2. Dipiro.JT., 2012, Pharmacoterapy Handbook 9Th edition, Mc Graw Hill, New York.
3. Kementerian Kesehatan RepublikIndonesia. Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit
Penyehatan Lingkungan2014. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. Jakarta.2014