Anda di halaman 1dari 36

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG

Antibiotik adalah senyawa zat terlarut yang terbuat dari organisme yang dapat
menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik adalah segolongan senyawa, baik
alami maupun sintetik. Yang memiliki kegunaan untuk menekan atau
menghentikan proses biokimia, khususnya dalam proses infeksi dan bakteri.
Penggunaan antibiotik dalam dunia kedokteran tentunya berkaitan dengan
pengobatan penyakit infeksi. Walau antibiotik ini bisa digunakan untuk
menghentikan proses biokimia seperti infeksi dan bakteri, antibiotik tidak
berfungsi untuk jamur dan virus-virus.
Antibiotik memiliki banyak jenis. Yang paling pertama ditemukan oleh
Alexander Fleming pada tahun 1928 secara tidak sengaja. Karena dia lupa untuk
membersihkan persediaan bakteri di cawan petri dan menginggalkannya seharian
di rak cucian sepanjang pekan, ketika dia ingin membersihkan cawan tersebut, dia
menemukan sebuah kapang. Kapang merupakan bagian dari kingdom fungi yang
biasa tumbuh pada permukaan makanan yang sudah basi atau terlalu lama tidak
diolah. Setelah diteliti dan dilakukan pengujian, Alexander Fleming menemukan
bahwa kapang ini adalah kapang yang gampang ditemukan di roti yang dibiarkan
lembab beberapa hari. Ia lalu mendapatkan hasil positif dari pengekstrakan
kapang tersebut ke bakteri koleksinya. Itulah antibiotik alami pertama ditemukan
yang dinamakan Penicillin G.
Pemberian antibiotik sistemik harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati
oleh karena prevalensi dan penyebaran bakteri multiresisten terhadap obat masih
terus meningkat. Terdapat berbagai jenis klasifikasi antibiotik, beberapa
diantaranya yaitu berdasarkan sifat toksisitas, spektrum kerja dan mekanisme
kerjanya. Berdasarkan sifat toksisitas antibiotik terbagi menjadi bakterosidal
dimana antibiotik bersifat membunuh mikroba, dan bakteriostatik dimana
antibiotik hanya menekan proses perbanyakan diri mikroba. Berdasarkan
spektrum kerjanya, antibiotik dibagi ke dalam kelompok spektrum sempit dan
spektrum luas.

1
Berdasarkan mekanisme kerjanya antibiotik dibagi dalam 5 kelompok, yaitu
yang mengganggu metabolisme sel mikroba (Para-aminobenzoic acid (PABA)
antagonis, menghambat sintesis dinding sel mikroba, mengganggu permeabilitas
membrane sel mikroba, menghambat sintesis protein sel mikroba, yang
menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba. Beberapa contoh
yaitu penisilin dan sefalosporin bekerja pada dinding sel bakteri, sulfonamida dan
trimetroprim menghambat sistesis asam nukleat, kuinolon bekerja pada enzim
DNA gyrase, metronidazol memecah rantai DNA bakteri, serta aminoglikosida,
tetrasiklin, klindamisin dan makrolida menyerang subunit ribosom yang berbeda-
beda pada bakteri.
Setiap golongan antibiotik memiliki karakteristik baik mekanisme kerja,
farmakokinetik, spektrum kerja (indikasi), interaksi dengan obat lain, dosis dan
efek samping yang berbeda-beda,. Pemahaman yang baik mengenai karakteristik
setiap antibiotik sangat penting dalam penentuan jenis antibiotik yang akan
diberikan dalam menangani kasus-kasus infeksi agar antibiotik yang diberikan
tepat dan bekerja optimal, tanpa mempengaruhi terapi lainnya serta meminimalisir
efek samping terapi.

2
PEMBAHASAN

I. Definisi

Antibiotik adalah senyawa zat terlarut yang terbuat dari organisme yang
dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Antibiotik merupakan zat yang
dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi, yang dapat menghambat atau
dapat membasmi mikroba jenis lain.

II. Klasifikasi Antibiotik Sistemik

Antibiotik yang terkini bersifat sintetik atau semi-sintetik. Berdasarkan


sifat toksisitas selektif, antibiotik dibagi menjadi dua jenis yaitu yang bersifat
menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik
dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas
bakterisidal. Walaupun perbedaannya tidak begitu jelas, misalnya eritromisin
dapat bersifat bakteriostatik atau bakterisidal tergantung dari organisme yang
menginfeksi dan konsentrasi obat.

Tabel 1. Klasifikasi antibiotik berdasarkan sifat toksisitas selektif.

Bakteriostatik Bakterisidal

Kloramfenikol Aminoglikosida
Klindamisin Basitrasin

Eritromisin Karbapenem

Sulfonamida Monobaktam

Tetrasiklin Penisilin

Trimetoprim Polymyxin B

Kuinolon

Vankomisin

Pada pengPada penggunaan klinik, antibiotik dibagi ke dalam kelompok


spektrum sempit dan spektrum luas yang berespon terhadap mikroorganisme
gram
negatif dan gram positif. Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dibagi
dalam lima kelompok, yaitu:
1. Mengganggu metabolisme sel mikroba (Para-aminobenzoic acid (PABA)
antagonis.
2. Menghambat sintesis dinding sel mikroba.
3. Mengganggu permeabilitas membrane sel mikroba.
4. Menghambat sintesis protein sel mikroba.
5. Menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel mikroba.

Tabel 2. Klasifikasi antibiotik sistemik berdasarkan mekanisme kerja.

Tempat Mekanisme Kerja Nama antibiotik


Dinding sel Penisilin
Sefalosporin
Karbapenem
Monobaktam
Vankomisin
β-lactamase inhibitor
Menghambat sintesis asam nukleat Sulfonamida
Trimetoprim
DNA gyrase Kuinolon
Memecah rantai DNA Metronidazol
Subunit Ribosom Aminoglikosida–30S
Tetrasiklin–30S
Kloramfenikol–50S
Klindamisin–50S
Makrolid–50S
Gambar 1. Ilustrasi gambar sel bakteri dan tempat mekanisme kerja antibiotik.

III. Karakteristik Antibiotik Sistemik

1. Penisilin
a. Mekanisme seperti karboksipeptidase, endopeptidase, dan transpeptidase. PCP
Kerja merupakan suatu enzim yang dibutuhkan untuk biosintesis dan
Merupaka
remodelling peptidoglikan pada dinding sel bakteri. Penisilin berikatan
n golongan β-
dengan PCP oleh kemiripan molekulnya dengan dipeptida D-Ala-D-
laktam, bekerja
Ala pada peptidotglikan, dan membentuk asil-enzim yang memblokir
dengan
transfer asil selanjutnya.
berikatan secara
b. Farmakokinetik
ireversibel pada
Absorpsi penisilin bervariasi tergantung stabilitas tiap senyawa
target protein
asam dan jumlah yang terikat pada makanan. Kebanyakan penisilin
pengikat
harus di konsumsi minimal 1 jam sebelum atau 1 jam setelah makan.
penisilin
Absorpsi amoksisilin tidak dipengaruhi oleh makanan. Obat ini
(Penicillin-
berdifusi dengan baik di jaringan dan cairan tubuh, tapi penetrasi ke
Binding
dalam cairan otak kurang baik kecuali jika selaput otak mengalami
Protein, PCP),
infeksi. Obat ini diekskresi ke urin dalam kadar terapeutik.
c. Idikasi
1) Sifilis.
2) Infeksi kulit dan jaringan lunak oleh Streptococcus sp. (erysipelas,
demam scarlet, impetigo, dll).
3) Erysipeloid.
4) Antraks (bila sensitif).
5) Aktinomikosis.
6) Listeriosis.
7) Gigitan serangga yang terinfeksi
d. Sediaan dan Dosis
Tabel 3. Sediaan dan dosis antibiotik penisilin

Nama Generik Rute Dosis


Penisilin G IM, IV Dewasa: 2-24 juta unit per hari terbagi 4
dosis
(18-24 juta unit per har untuk
neurosifilis)
Neonatus: 50mg/kg dosis terbagi 2
Bayi: 75mg/kg dosis terbagi 3
Anak 1-12 tahun: 100mg/kg dosis
terbagi 4
Benzatin penisilin G IM Dewasa:
2,4 juta unit x1 (sifilis awal)
2,4 juta unit tiap minggu x3 (sifilis > 1
tahun)
Dicloxacillin Oral Dewasa:
500 mg tiap 6 jam
Anak:
12,5-50 mg/kg/hari terbagi 4 dosis
Nafsilin IM, IV Dewasa:
IM: 500 mg tiap 4-6 jam
IV: 0,5-2 gr tiap 4-6 jam
Oksasilin Oral Dewasa:
1-2 gr tiap 4-6 jam
Amoksisilin Oral Dewasa:
500 mg tiap 8 jam
Anak:
20-40 mg/kg/hari terbagi 3 dosis
Amoksisilin/klavulanat Oral Dewasa:
250 mg tiap 12 jam
Anak:
20-40 mg/kg/hari terbagi 2-3 dosis
e. Peringatan
1) Hipersensitivitas terhadap penisilin
2) Peningkatan kadar penisilin dengan probenesid dan disulfiram
3) Peningkatan efek oleh metotreksat dan warfarin
f. Efek Samping
1) Reaksi hipersensitivitas: sering terjadi eksantem dan urtikaria.
Pada kasus jarang dapat terjadi dermatitis eksfoliatif, Sindroma
Steven Johnson (SSJ), vaskulitis, angioedema, reaksi anafilaksis,
reaksi anafilaktoid.
2) Diare, pada kasus jarang dapat terjadi kolitis pseudomembranosa.
3) Hepatitis, nefritis intersisiel, neurotoksisitas (pada dosis tinggi),
infiltrat eosinofil pulmonal, serta reaksi hematologis dimediasi
imun jarang terjadi.

2. Sefalosporin

a. Mekanisme Kerja
Merupakan golongan β-laktam dengan mekanisme kerja yang
sama dengan penisilin. Baik sefalosporin maupun penislin memiliki
struktur dasar yang unik yang disebut cincin β-laktam, yang menjadi
dasar mekanisme kerja kedua antibiotik. Cincin β-laktam pada
keduanya berikatan pada tiazolidin dan membentuk asam nukleat 6-
amino-penisilanat (rantai samping R1). Sefalosporin berbeda dari
penisilin secara struktur dimana cincin β-laktam juga terikat pada
cincin dihidrotiazin (rantai samping R2).

Gambar 2. Struktur dasar β-laktam.


Sefalosporin terbagi atas 4 generasi, berdasarkan aktivitas
spektrum dan perkembangan evolusinya. Generasi pertama antara lain
sefaleksin, sefadroksil, sefazoiln dan sefalotin parenteral, dimana
semuanya memiliki aktivitas yang baik melawan S. Aureus dan
Streptococcus sp yang sensitif-metisilin, serta aktivitas yang sangat
terbatas melawan bakteri gram negatif. Generasi kedua antara lain
sefprozil, sefaklor, sefuroksim asetil, dan agen parenteral sefotetan,
sefoksitin, sefuroksim, dapat digunakan lebih luas pada bakteri gram
negatif dibanding generasi pertama, secara spesifik melawan
Haemophilus influenzae dan Moraxella catarrhalis. Generasi ketiga
termasuk sefdinir, sefditoren, serta agen prenteral sefotksim,
seftriakson, seftazidime, sefoperazon, sangat aktif melawan bakteri
gram negatif dengan spektrum yang luas. Sefalosporin generasi ketiga
sangat efektif untuk infeksi nosokomial bakteri gram negatif. Satu-
satunya generasi keempat yang tersedia di Amerika adalah sefepim,
obat parenteral dengan aktivitas yang baik terhadap baik gram positif
maupun gram negatif spektrum luas, termasuk P. Aeruginosa.
b. Farmakokinetik
Dari sifat farmakokinetik, sefalosporin dibedakan menjadi 2
berdasarkan rute pemberian. Sefaleksin, sefadroksil, sefaklor,
sefprozil, asetil sefuroksim, sefdinir, dan sefditoren dapat diberikan per
oral karena diabsorpsi melalui saluran cerna. Sefalosporin lainnya
diberikan parenteral. Beberapa sefalosporin generasi ketiga misalnya
moksalaktam, sefotaksim, seftizoksim dan seftriakson mencapai kadar
tinggi dalam cairan serebrospinal. Sefalosporin juga melewati sawar
plasenta, mencapai kadar tinggi dalam cairan sinovial dan cairan
perikardium. Pada pemberian sistemik kadar sefalosporin generasi
ketiga dalam cairan mata relatif tinggi, tapi tidak mencapai vitreus.
Kadar dalam empedu umumnya tinggi, terutama sefoperazon.
Kebanyakan sefalosporin diekskresi dalam bentuk utuh ke urin,
kecuali sefoperazon yang sebagian besar diekskresi melalui empedu.
Sefalosporin generasi pertama, kedua, dan ketiga dapat diberikan pada
ibu menyusui, dan ekskresi pada ASI berbeda-beda tiap obat.
c. Indikasi

1) Infeksi kulit dan jaringan lunak oleh Staphylococcus aureus dan


Streptococcus pyogenes tanpa komplikasi dapat diberikan
sefalosporin generasi pertama dan kedua, juga sefdinir dan
sefditoren.
2) Gonore.
3) Penyakit lyme dapat diberikan seftriakson pada tahap lanjut, dan
sefuroksim pada onset awalnya.
d. Sediaan dan Dosis

Tabel 4. Sediaan dan dosis antibiotik sefalosporin.

Nama generik Dosis anak Dosis dewasa


Sefaleksin 25-100 mg/kg/hari 250-500 mg 4x1
terbagi 2 atau 4 dosis
Sefadroksil 30 mg/kg/hari terbagi 2 1-2 gr per hari
dosis
Sefaklor 40 mg/kg/hari terbagi 2 250-500 mg 3x1
atau 3 dosis
Lorakarbef 15-30 mg/kg/hari terbagi 200-400 mg 2x1
2 dosis
Sefprozil 30 mg/kg/hri terbagi 2 250-500 mg per
dosis hari
Sefuroksim 20-30 mg/kg/hari terbagi 250-500 mg 2x1
aksetil 2 dosis
Sefpodoksim 10 mg/kg/hari terbagi 2 100-400 mg 2x1
proksetil dosis
Seftibuten 9 mg/kg/hari 400 mg per hari
Sefiksim 8 mg/kg/hari terbagi 1 200 mg 2x1 atau
atau 2 dosis 400 mg 1x1
Seftriakson 50 mg/kg IM (maks. 1 1-4 gr per hari IM;
gr) 250 mg IM (maks.
1 gr) untuk gonore
non komplikata
Sefdinir 14 mg/kg/hari terbagi 1 300 mg 2x1 atau
atau 2 dosis 600 mg 1x1

e. Peringatan
1) Hipersensitivitas terhadap sefalosporin maupun penisilin.
2) Absorpsi sefdinir berkurang dengan antasida dan preparat besi.
3) Kadar siklosporin meningkat dengan seftriakson dan
seftazidim.
4) Perubahan efek warfarin dengan sefotetan, sefamandole,
sefoperazon, sefiksim, dan sefaklor.
5) Ekskresi renal terganggu oleh hampir semua sefalosporin
bersama probenesid.
f. Efek Samping
1) Reaksi hipersensitivitas: sering terjadi eksantem dan urtikaria.
Pada kasus jarang dapat terjadi dermatitis eksfoliatif, SSJ,
vaskulitis, angioedema, reaksi anafilaksis, reaksi anafilaktoid.
2) Diare, pada kasus jarang dapat terjadi pseudokolelitiasis.
Nekrosis tubular ginjal, reaski disulfiram-like (spesifik),
tromboplebitis (lokasi IV), serum sickness like reaction
(sefaklor, sefprozil).

3. Tetrasiklin
Antibiotik golongan tetrasiklin yang pertama ditemukan ialah
klortetrasiklin yang dihasilkan oleh Streptomyces aureofacien. Tetrasiklin
sendiri dibuat secara semisintetik dari klortetrasiklin, tetapi juga dapat
diperoleh dari spesies Streptomyces lain.

Gambar 3. Struktur kimia golongan tetrasiklin.


a. Mekanisme Kerja
Golongan tetrasiklin menghambat sintesis protein bakteri pada
ribosomnya. Paling sedikit terjadi dua proses dalam masuknya
antibiotik kedalam ribosom bakteri Gram-negatif pertama secara difusi
pasif. Tetrasiklin diyakini dapat menjadi bakteriostatik, tetapi
kemudian ditemukan bahwa dapat menjadi bakteriostatik dan
bakterisidal. Antibiotik ini memiliki dua mode mekanisme antibiotik.
Tetrasiklin memperlihatkan spektrum antibakteri luas yang meliputi
kuman Gram-positif dan negatif, aerobik dan anaerobik, selain itu juga
aktif terhadap spiroket, mikoplasma, riketsia, klamidia, legionela dan
protozoa tertentu. Doxycycline dan minocycline adalah tetrasiklin
sistemik generasi kedua yang paling umum digunakan dalam
dermatologi.

b Farmakokinetik
Tetrasiklin diserap tidak sempurna di lambung dan usus kecil, yang
terutama dikonsumsi saat perut kosong. Doxycycline dan minocycline
tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya makanan dan mempunyai
waktu paruh lebih lama dari tetrasiklin, dan membutuhkan dosis yang
sedikit. Tetrasiklin tidak bisa dikonsumsi bersama dengan makanan,
terutama yang mengandung susu. Besi, kalsium dan magnesium dapat
mengurangi 50% penyerapan.
Tetrasiklin diekskresikan terutama di ginjal, dan pasien dengan
gagal ginjal memerlukan dosis penyesuaian. Doxycycline
diekskresikan dalam tinja dan tidak ada penyesuaian untuk gagal ginjal
atau hati yang diperlukan. Minocycline sebagian besar dimetabolisme
sebelum diekskresi, tapi tidak terakumulasi pada pasien dengan gagal
hati. Tetrasiklin melewati plasenta dan terdapat dalam konsentrasi
tinggi dalam ASI. Antibiotik ini dapat menumpuk dan mempengaruhi
pertumbuhan tulang dan gigi sehingga penggunaan selama kehamilan
dan saat menyusui harus dihindari.
c Indikasi
a) Aktinomikosis d) Angiomatosis basiler
b) Gigitan serangga e) Infeksi Borrelia sp.
(Pasteurella f) Infeksi Chlamydia sp.
g) Ehrlichiosis
multocida) h) Penyakit Lyme
c) Infeksi Anthrax i) Infeksi MRSA
(Bacillus anthracis)
j) Mycobacterium n) Sifilis (penisilin-alergi
marinum granuloma inguinale
k) Infeksi Nocardia sp.
pasien)
l) Rhinoscleroma
o) Tularemia
m) Penyakit riketsia
p) Infeksi Vibrio
vulnificus
q) Infeksi Yersinia pesti
d. Sediaan dan Dosis
Untuk pemberian oral, tetrasiklin tersedia dalam bentuk kapsul dan
tablet. Untuk pemberian parenteral tersedia bentuk larutan obat suntik
(oksitetrasiklin) atau bentuk bubuk yang harus dilarutkan lebih dulu
(tetrasiklin HCL, tigesiklin, doksisiklin, minosiklin).
Tabel 5. Sediaan dan dosis antibiotik tetrasiklin.

Derivat Sediaan Dosis

Kapsul/tablet 250mg dan


Oral,4 kali 250-500mg
500mg
Parenteral, 300IM mg sehari yang dibagi
Bubuk obat suntik IM
dalam 2-3 dosis, dosis atau 250-500mg IV
Tetrasiklin 100mg dan 200mg/vial
diulang 2-4kali sehari.
Parenteral,untuk pemberian IM 15-25
mg/kgBB/hari sebagai dosis tunggal atau
Bubuk obat suntik IV 250
dibagi dalam 2-3 dosis dan IV 20-
dan 500mg/vial
30mg/kgBB/hari dibagi dalam 2-3 dosis.
Kapsul atau tablet 100mg,
Oral, dosis awal 200mg, selanjutnya 100-200
tablet 50mg
Doksisiklin mg/hari
Sirup 10mg/ml
Oral, dosis awal 200mg, dilanjutkan 2 kali
Minosiklin Kapsul 100mg sehari 100mg/hari

e. Peringatan
a) Pasien dengan gagal ginjal (ekskresi terganggu dan anti anabolik)
b) Fotosensitifitas (doxycycline)
c) Menyusui, kehamilan, dan pada anak (< 9 tahun)
d) Gangguan penyerapan oleh kalsium, magnesium, aluminium
(kation lainnya), besi, natrium bikarbonat, dan simetidin
e) Peningkatan metabolisme doxycycline dengan penggunaan
fenitoin, karbamazepin, barbiturat, dan alkohol
f) Kebutuhan insulin berkurang pada pasien diabetes
g) Peningkatan kadar serum digoxin, lithium, dan warfarin
h) Anestesi metoksifluran (gagal ginjal)

f. Efek Samping
Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian golongan
tetrasiklin ialah erupsi mobiliformis, urtikaria, dan dermatitis
eksfoliatif. Reaksi yang lebih hebat ialah edema angioneutrotik dan
reaksi anafilaksis. Pada pemberian minosiklin dapat terjadi
hiperpigmentasi dari kulit dan kuku, iritasi pada lambung serta pada
anak- anak dapat terjadi hiperpigmentasi dari gigi. Terapi dalam waktu
lama dapat menimbulkan kelainan darah tepi seperti leukositosis,
limfosit atipi, granulasi toksik pada granulosit dan trombositopenia.

4. Florokuinolon

a. Mekanisme kerja
Florokuinolon adalah derivat kuinolon generasi pertama (nalidixic
acid). Golongan kuinolon menghambat enzim DNA girase pada
mikroba yang fungsinya menata kromosom yang sangat panjang
menjadi bentuk spiral hingga bisa muat dalam sel mikroba yang kecil.
Antibiotik ini menghambat kerja enzim topoimerase II (DNA girase)
dan IV dimana enzim ini berfungsi pada replikasi DNA, transkripsi,
dan perbaikan DNA. Kuinolon aktif pada bakteri yang dihambat
adalah bakteri aerob gram-negatif, staphylococci, dan streptococci
tetapi tidak cukup aktif pada bakteri anaerob.
Gambar 4. Struktur kimia antibiotik florokuinolon.

Antibiotik ini aktif melawan jenis organisme gram-negatif seperti,


Salmonella, Shigella, Enterobacter, Campylobacter, dan Neisseria.
Ciprofloxacin cukup aktif melawan untuk Pseudomonas aeruginosa.
Gemifloksasin dan mofifloksasin terbukti bisa aktif pada
mikroorganisme gram-positif, walaupun secara umum florokuinolon
memiliki aktivitas terbatas untuk organisme gram-positif.
Florokuinolon termasuk antibiotik yang poten berspektrum luas
dan sering digunakan pada penyakit infeksi. Florokuinolon
menghambat supercoiling dalam sel bakteri yang akan merusak
replikasi DNA (dosis rendah) dan mematikanj sel (dosis letal). Sel
target utama pada bakteri gram-negatif adalah DNA gyrase, sedangkan
sel target utama pada mikroorganisme gram-positif adalah topoimerase
IV.
Gambar 5. Mekanisme topoimerase tipe II pada DNA. Pengontrolan
supercoiling untuk menentukan jumlah rantai ganda yang dibutuhkan
menyusun kromosom bakteri.

b. Farmakokinetik
Florokuinolon diabsorpsi dengan cepat setelah ingesti oral dengan
distribusi volume yang besar. Kuinolon terdistribusi dengan luas di
seluruh tubuh. Penetrasi ke jaringan lebih besar dari konsentrasi yang
dicapai di plasma, feses, cairan empedu, jaringan prostat, dan jaringan
paru-paru.
Makanan tidak menghambat absorpsinya dan dapat diberikan dua
kali sehari. Florokuinolon diekskresi oleh ginjal. Mofifloksasin
dieliminasi di hati dengan cara dikonjugasikan dengan glukoronid dan
sulfat. Florokuinolon tidak dapat dihilangkan dengan dialisis.
Kebanyakan diekskresi bersama ASI tetapi jarang menimbulkan efek
samping pada bayi. Ciprofloksasin bisa menimbulkan fototoksik,
kolitis psudomembran, dan erupsi gigi. Ketika digunakan dalam
kombinasi dengan agen dari kelas antibiotik lain, seperti beta-laktam
dan aminoglikosida, kuinolon diduga tidak sinergis. Ciprofloxacin dan
rifampisin bersifat antagonis terhadap Staphylococcus aureus. Waktu
paruh kuinolon bervariasi mulai dari 1,5 jam sampai 16 jam,
kebanyakan diberikan setiap 12 jam sampai 24 jam.
c. Indikasi
1) Terapi lini pertama
Antrhax, Skin and sof-tissue infection (SSTIs) akibat
mikroorganisme patogen gram-negatif, infeksi Pseudomonas
aeroginosa (otitis eksterna, ektima gangrenosum, SSTI), dan
rhinoskleroma.
2) Terapi lini kedua
Infeksi Bartonella sp, canchroid, chlamydia, ehrlichiosis,
ersypeloid, gonorrhea, granuloma inguinale, infeksi Rickettsia sp,
infeksi Vibrio vulnivicus.
d. Sediaan dan Dosis
Tabel 6. Sediaan dan dosis antibiotic florokuinolon

Nama generik Rute Dosis pada orang dewasa


Gonore: 500 mg x 1
Gonococcemia: 500 mg tiap 12 jam x 7
Ciprofloksasin PO, hari
IV Canchroid: 500 mg tiap 12 jam x 3 hari
Anthrax kutaneus: 10-15 mg/kgBBq 12 jam
x 60 hari

PO, Tanpa komplikasi: 500 mg tiap 24 jam


Levofloksasin
IV Dengan komplikasi: 750 mg tiap 24 jam

e. Peringatan
Florokuinolon dapat menurunkan bioavaibilitas dengan antasid
(aluminium, magnesium, alum), besi, zinc, dan sucralfat. Siprofloksasin
dapat menghambat metabolisme theophylline/aminophylline. Secara
umum kuinolon bisa menyebabkan arthropati pada studi hewan imatur.
Ruptur tendon dapat ditemukan pada pasien dengan penyakit ginjal,
hemodialisis, atau penggunaan steroid. Florokuinolon bisa menurunkan
ambang kejang dan menurunkan metabolisme silosporin dan warfarin.
f. Efek Samping
Efek samping yang biasa didapatkan pada pasien adalah adanya
mual, muntah, sakit kepala, dan menggigil. Sedangkan efek samping
yang jarang didapatkan adalah exanthem, fotosensitivitas delirium,
kejang, rupture pada tendon, artropati, pemanjangan interval QT, dan
hepatitis. Komplikasi yang bermanifestasi pada kulit seperti rash,
pruritus, dan reaksi fotosensitivitas.

5. Trimetoprim\Sulfametoksazol

a. Mekanisme Kerja
Trimetoprim / sulfametoksazol (kotrimoksazol) adalah kombinasi
dari trimetoprim (TMP) dan sulfametoksazol (SMX) dengan
perbandingan 1:5. Kedua senyawa ini menghambat sintesis asam
nukleat dengan menghambat dua enzim dalam jalur sintesis asam
tetrahydrofolic bakteri. Bersama-sama, senyawa ini bersifat sinergis
yang relatif spesifik untuk sel-sel bakteri.

Gambar 6. Struktur kimia antibiotik trimetoprim


dan sulfametoksazol.

SMX menghambat produksi dihidrofolat dari komponen prekursor


p-aminobenzoat, pteridin, dan glutamat. TMP bekerja pada
metabolisme folat secara kompetitif dengan menghambat dihidrofolat
reduktase, yaitu enzim yang memproduksi tetrahidrofolat aktif.
TMP/SMX adalah antibiotik spektrum luas dengan aktivitas yang baik
terhadap banyak aerobik gram-positif seperti Staphylococcus aureus,
S. pyogenes, S. viridans. Obat ini tidak memiliki aktivitas terhadap
mikroorganisme anaerob. TMP dan SMX bila digunakan tunggal akan
bersifat bakteriostatik, sedangkan jika dikombinasikan atau bentuk
kotrimoksazol akan bersifat bakterisidal.

Gambar 7. Mekanisme kerja trimetoprim dan sulfametoksazol.

Bakteri memerlukan PABA (p-aminobenzeic acid)) untuk


membentuk asam folat yang digunakan untuk sintesis purin dan asam
nukleat. Sulfametoksazol merupakan penghambat bersaing PABA.
b. Farmakokinetik
Trimetoprim dan sulfametoksazol baik diabsorpsi secara oral
dengan distribusi ke seluruh jaringan pada tubuh. Distribusinya juga
melalui cairan serebrospinal dan sputum. Absorpsi melalui saluran
cerna terjadi dengan mudah dan cepat. Sekitar 70-100% dosis oral
diabsorpsi melalui saluran cerna dan dapat ditemukan dalam urin 30
menit setelah pemberian. Absorpsi melalui vagina, saluran napas, kulit
yang terluka pada umumnya kurang baik, tetapi cukup menyebabkan
reaksi toksik atau hipersensitivitas. Semua terikat pada protein plasma
terutama albumin. Dalam cairan tubuh kadar obat bentuk bebas
mencapai 50-80% kadar dalam darah. Dalam tubuh, terjadi proses
asetilasi dan oksidasi. Hasil oksidasi ini yang akan menyebabkan
reaksi toksik sistemik berupa lesi pada kulit dan hipersensitivitas,
sedangkan hasil asetilasi menyebabkan hilangnya aktivitas obat.
Hampir semua diekskresi melaui ginjal dan sebagian kecil diekskresi
melalui feses, empedu dan ASI.
Farmakokinetik TMP-SMX tidak berubah secara signifikan dan
waktu paruhnya tidak memanjang jika terjadi gangguan hati. Saat ini
belum ada studi yang melaporkan dosis maksimum TMP-SMX untuk
gangguan ginjal.
c. Indikasi
Trimetoprim dan sulfametoksazol digunakan untuk community
acquired MRSA, infeksi Nocardia asteroids, Skin and Soft Tissue
Infections (SSTIs) yang tidak berkomplikasi, dan pada chancroid
granuloma inguinale.
d. Sediaan dan Dosis

Tabel 7. Sediaan dan dosis antibiotik trimetoprim dan sulfametoksazol.

Ru Dosis pada orang dewasa


Antibiotik
te
180 mg/800mg (DS)
pemberian setiap 12
PO
Trimetoprim - jam
Sulfametoksazol
(Kotrimoksal) 5 mg/kgBB pemberian
IV setiap 6-8 jam

e. Peringatan
Penggunaan TMP-SMX pada pasien dengan HIV/AIDS dapat
terjadi reaksi berat, pasien dengan terapi warfarin akan terjadi
pemanjangan protrombin, dan dikontraindikasikan terhadap pasien
yang mendapat metroteksat.
f. Efek Samping
Efek samping yang biasa didapatkan pada penggunaan antibiotik
TMP-SMX adalah adanya eksantem, fotosensitivitas, mual, muntah,
anoreksia, glossitis, stomatitis (sering pada pasien HIV/AIDS).
Sedangkan efek samping yang jarang didapatkan adalah delirium,
sindroma steven johnson, nekrolisis epidermal toksik, vaskulitis,
urtikaria, erupsi pustular, Sweet Syndrome, hepatitis kolestatik,
nekrosis hepatik, reaksi hipersensitivitas berat, sefalgia, halusinasi,
tremor, nefrolitiasis, dan nefritis intertisiel. Sekitar 8% antibiotik ini
juga dapat menyebabkan reaksi kulit tipikal pada pasien.
6. Klindamisin
Klindamisin adalah antibiotik linkosamid yang diperoleh melalui
modifikasi kimia dari linkomisin. Yang dimana penyerapan dan aktifitas
spektrumnya yang lebih baik dari pendahulunya, yang sekarang sudah
ditinggalkan.
a. Mekanisme Kerja
Klindamisin berikatan dengan bakteri subunit ribosom 50s dan
menghambat sintesis protein melalui blokade inisiasi rantai peptida.
Klindamisin memudahkan opsonisasi serta fagositosis dan mengurangi
adhesi bakteri (sel inang) dan produksi eksotoksin stafilokokus.
Klindamisin efektif terhadap sebagian besar kokus Gram-positif,
anaerob, dan beberapa protozoa. Dalam bidang dermatologi,
klindamisin efektif terhadap sebagian besar jenis streptococcus
(termasuk S. viridans), methicillin-sensitif S. aureus, serta
S.epidermidis. Aktifitas spektrum anaerob termasuk Peptococci,
Peptostreptococci, Propionibacteria, Clostridium perfringens, serta
fusobacteria. Toxoplasma gondii seringkali efektif diobati dengan
kombinasi termasuk klindamisin.
b. Farmakokinetik
Klindamisin diserap hampir sempurna pada pemberian oral.
Adanya makanan dalam lambung tidak banyak mempengaruhi
absorpsi obat ini. Klindamisin merupakan obat pilihan dalam
kelompok ini karena penetrasi jaringan yang baik kecuali pada SSP.
Klindamisin memiliki daya serap peroral yang baik dan tidak ada
persyaratan dosis yang diperlukan jika terdapat penyakit ginjal,
klindamisin juga merupakan alternatif pada pasien yang alergi pada
penisilin. Klindamisin terutama dimetabolisme oleh hati serta
diekskresikan di empedu, meskipun 10% diekskresikan di urin. Dosis
harus disesuaikan untuk pasien dengan gagal hati atau kombinasi gagal
hati dengan gagal ginjal.
c. Indikasi
a) Infeksi dalam jaringan: streptokokus myositis, necrotizing fasciitis,
atau infeksi Clostridium perfringens dengan debridement
b) Profilaksis bedah pada pasien alergi penisilin
c) Profilaksis untuk infeksi stafilokokus berulang
d) Ulkus kaki diabetik (kombinasi dengan infeksi Gram-negatif)
e) Hidradenitis suppurativa
f) Bakterial vaginosis

d. Sediaan dan Dosis

Tabel 8. Sediaan dan dosis antibiotik klindamisin pada orang dewasa.

Rute pemberian Dosis

Klindamisin Oral 150-450 mg per 6 jam

Intravena 600-800 mg per 8 jam

Untuk anak atau bayi berumur lebih dari 1 bulan diberikan 15-25
mg/kgBB sehari. Untuk infeksi berat dosisnya 25-40 mg/kgBB sehari
yang dibagi dalam beberapa dosis pemberian.
e. Peringatan
Penggunaan antibiotik klindamisin harus mendapat perhatian jika
pasien dengan gagal hati, terdapat peningkatan blokade neuromuskular
dengan tubocurare dan pancuronium. Antibiotik ini bersifat antagonis
terhadap eritromisin.
f. Efek Samping
Diare dilaporkan terjadi pada 2-20% pasien yang mendapat
klindamisin. Diperkirakan sekitar 0,01-10% pasien dilaporkan
menderita kolitis pseudomembranosa yang ditandai oleh demam, nyeri
abdomen, diare dengan darah dan lendir pada tinja. Bila selama terapi
timbul diare atau kolitis, maka pengobatan harus dihentikan. Obat
terpilih untuk keadaan ini adalah vankomisin yang diberikan 4 kali 125
mg sehari peroral atau IV selama 7-10 hari atau metronidazole oral 3 x
500 mg/hari
7. Makrolid
Eritromisin adalah antibiotik prototip makrolid derivatif termasuk
dirithromycin, klaritromisin, dan azitromisin. Makrolid bervariasi dalam
aktivitasnya terhadap patogen Gram-positif: klaritromisin>eritromisin>
azitromisin. Makrolid secara luas digunakan untuk mengobati infeksi
ringan pada jaringan saluran pernapasan. Antibiotik ini aktif terhadap
bakteri Gram-negatif dan Gram-positif, termasuk kuman intraseluler
seperti Chlamydia dan Legionella.
a. Mekanisme Kerja
Golongan makrolid menghambat sintesis protein kuman dengan jalan
berikatan secara reversibel dengan ribosom subunit 50S dan umumnya
bersifat bakteriostatik, walaupun terkadang dapat bersifat bakterisidal untuk
kuman yang sangat peka.
b. Farmakokinetik
Makrolid terakumulasi secara intraseluler pada leukosit
polimorfonuklear dan makrofag, antara lain beraktivitas untuk melawan
bakteri patogen pada intraseluler. Eritromisin diserap baik oleh usus kecil
bagian proksimal, aktivitasnya menurun karena dirusak oleh asam
lambung, eritromisin diberi selaput yang tahan asam atau digunakan dalam
bentuk ester stearat atau etilsuksinat, adanya makanan juga menghambat
penyerapan eritromisin. Dibandingkan dengan eritromisin, klaritromisin
dan azitromisin lebih asam stabil dan memiliki bioavailabilitas oral yang
lebih besar.
Konsentrasi makrolid umumnya melewati kadar plasma. Konsentrasi
eritromisin dalam ASI sekitar 50% dari kadar serum. Eritromisin dapat
melewati plasenta, kecuali klaritromisin (kategori kehamilan C), secara
umum makrolid adalah Kategori B.
Klaritromisin dimetabolisme di hati oleh sitokrom P450 3A4
(CYP3A4) menjadi bentuk enzim 14-hidroksi aktif dan enam produk
tambahan. Sekitar 30-40% dari dosis oral klaritromisin diekskresikan
dalam urin sebagai 14-hidroksi metabolit yang aktif atau tidak berubah.
Eliminasi Azitromisin terjadi terutama dalam feses sebagai obat yang tidak
mengalami perubahan, dan ekskresi urin minimal.
Tidak seperti klaritromisin, azitromisin tidak berinteraksi dengan sistem
sitokrom P450.
c. Indikasi
a) SSTIs tanpa komplikasi (folikulitis, erysipelas, selulitis)
b) Infeksi Bartonella (kecuali Orroyo fever-Bartonella bacilliformis)
c) Pasteurella multocida, Eikenella corrodens—azithromycin
d) Lyme disease
e) Chlamydia
f) Penyakit kulit mikobakteri nontuberkulosis (klaritromisin)

d. Sediaan dan Dosis

Tabel 9. Sediaan dan dosis antibiotik makrolid.

Oral 500mg per 6 jam atau 12 jam


Eritromisin
IV 1gr per 6jam
Oral 250-500 mg per 12 jam
Makrolid 500 mg hari pertama, lalu 250 mg setiap
Klaritromisin
Oral hari 2-5 kali
untuk klamidian, 1gr dosis tunggal
Azitromisin IV 500 mg per 24jam
e. Peringatan
1) CYP 3A4 inhibition
Meningkatkan toksisitas obat (meningkatkan konsentrasi serum):
warfarin, karbamazepin, buspiron, benzodiazepin, kortikosteroid
(methylprednisolon), HMG CoA reductase inhibitor, kontrasepsi
oral, cyclosporine, tacrolimus, disopyramide, felodipin, ergot
alkaloid.
2) CYP 1A2 inhibition
Meningkatkan toksisitas obat (meningkatkan konsentrasi serum):
theophylline, omeprazol.
3) Lainnya
Digoxin (konsentrasinya meningkat akibat perubahan metabolisme
obat oleh gut flora), Fluconazol (meningkatkan konsentrasi
klaritromisin).
f. Efek samping

Pada eritromisin efek samping berat jarang terjadi, reaksi alergi


mungkin timbul dalam bentuk demam, eosinofilia dan eksantem yang
cepat hilang bila terapi dihentikan. Efek samping klaritromosin adalah
iritasi saluran cerna dan peningkatan sementara enzim hati.

8. Aminoglikosida
Aminoglikosisda dihasilkan oleh jenis - jenis fungi Streptomyces dan
Micromanospora semua senyawa dan turunan semi - sintesisnya
mengandung dua atau tiga gula amino di dalam molekulnya yang saling
terikat secara glukosidis. Dengan adanya gugusan-amino, zat-zat ini bersifat
basa lemah dan garam sulfatnya yang digunakan dalam terapi mudah larut
dalam air. Spektrum aktivitas obat golongan ini menghambat bakteri aerob
Gram negatif. Obat ini mempunyai indeks terapi sempit, dengan toksisitas
serius pada ginjal dan pendengaran, khususnya pada pasien anak dan usia
lanjut.
a. Mekanisme kerjanya
Bakterisid berpenetrasi pada dinding bakteri dan mengikatkan diri pada
ribosom dalam sel. Mekanisme kerja dari streptomisin telah dipelajari jauh
sebelum ditemukannya aminoglikosida yang lain seperti kanamisin,
neomisin, gentamisin, tobramisin, amikasin, dan sebagainya, namun diduga
bahwa semua antibiotik ini mempunyai mekanisme kerja yang sama. Tahap
awal adalah perlekatan aminoglikosida pada reseptor protein spesifik yaitu
subunit 30S pada ribosom bakteri dan selanjutnya aminoglikosida akan
menghambat aktivitas kompleks inisiasi dari pembentukan peptida (mRNA
+ “formyl methionine” + tRNA).
Kemudian pesan mRNA akan dibaca salah oleh “regio pengenal” pada
ribosom, sehingga terjadi insersi asam amino yang salah pada peptida yang
menghasilkan protein nonfungsional. Sebagai akibat terakhir perlekatan
aminoglikosida akan menghasilkan pecahnya polisom menjadi monosom
yang tidak mampu mensintesis protein.
b. Farmakodinamik
Penggunaan Aminoglikosida Streptomisin & kanamisin pro injeksi
pada TBC juga pada endocarditis, gentamisin, amikasin bersama dengan
penisilin pada infeksi dengan Pseudomonas. Gentamisin, tobramisin,
neomisin juga sering diberikan secara topikal sebagai salep atau tetes
mata/telinga. Contoh obatnya adalah streptomisin, kanamisin, gentamisin,
amikasin, neomisin
c. Efek samping
Kerusakan pada organ pendengar dan keseimbangan serta nefrotoksik.
Efek samping yang ditumbulkan adalah toksisitas ginjal, ototoksisitas
(auditorik maupun vestibular), blockade neuromuskular lebih jarang.
d. Resistensi
Resistensi kromosomal mikroba terhadap aminoglikosida tergantung
pada tidak adanya reseptor protein spesifik pada subunit 30S dari ribosom.
Resistensi melalui plasmid tergantung dari pembentukan enzim-enzim
adenilat, fosforilat dan asetilat yang dapat merusak obat. Resistensi lain
terjadi karena defek permeabilitas yaitu perubahan membran luar yang
dapat menurunkan transport aktif aminoglikosida ke dalam sel sehingga
obat tidak dapat mencapai ribosom. Mekanisme ini juga melalui plasmid.
IV. Resistensi Antibiotik

Resistensi didefinisikan sebagai tidak terhambatnya pertumbuhan bakteri


dengan pemberian antibiotik secara sistemik dengan dosis normal yang
seharusnya atau kadar hambat minimalnya. Sedangkan multiple drugs resisten
didefinisikan sebagai resistensi terhadap dua atau lebih obat maupun
klasifikasi obat. Sedangkan cross resistance adalah resistensi suatu obat yang
diikuti dengan obat lain yang belum pernah dipaparkan.
Penyebab utama resistensi antibiotika adalah penggunaannya yang
meluas dan irasional. Lebih dari separuh pasien dalam perawatan rumah sakit
menerima antibiotik sebagai pengobatan ataupun profilaksis. Sekitar 80%
konsumsi antibiotik dipakai untuk kepentingan manusia dan sedikitnya 40%
berdasar indikasi yang kurang tepat, misalnya infeksi virus. Terdapat
beberapa factor yang mendukung terjadinya resistensi, antara lain :
1. Penggunaannya yang kurang tepat (irrasional) terlalu singkat, dalam
dosis yang terlalu rendah, diagnosa awal yang salah, dalam potensi yang
tidak adekuat.
2. Faktor yang berhubungan dengan pasien. Pasien dengan pengetahuan
yang salah akan cenderung menganggap wajib diberikan antibiotik dalam
penanganan penyakit meskipun disebabkan oleh virus, misalnya flu,
batuk-pilek, demam yang banyak dijumpai di masyarakat. Pasien dengan
kemampuan finansial yang baik akan meminta diberikan terapi antibiotic
yang paling baru dan mahal meskipun tidak diperlukan, bahkan pasien
membeli antibiotika sendiri tanpa peresepan dari dokter (self
medication), sedangkan pasien dengan kemampuan finansial yang rendah
seringkali tidak mampu untuk menuntaskan regimen terapi.
3. Peresepan dalam jumlah besar, meningkatkan unnecessary health care
expenditure dan seleksi resistensi terhadap obat obatan baru. Peresepan
meningkat ketika diagnosis awal belum pasti. Klinisi sering kesulitan
dalam menentukan antibiotikyang tepat karena kurangnya pelatihan
dalam hal penyakit infeksi dan tatalaksana antibiotiknya.
4. Penggunaan monoterapi dibandingkan dengan penggunaan terapi
kombinasi, penggunaan monoterapi lebih mudah menimbulkan resistensi.
5. Perilaku hidup sehat terutama bagi tenaga kesehatan, misalnya mencuci
tangan setelah memeriksa pasien atau desinfeksi alat alat yang akan
dipakai untuk memeriksa pasien.
6. Penggunaan di rumah sakit adanya infeksi endemik atau epidemik
memicu penggunaan antibiotika yang lebih massif pada bangsal-bangsal
rawat inap terutama di intensive care unit. Kombinasi antara pemakaian
antibiotik yang lebih intensif dan lebih lama dengan adanya pasien yang
sangat peka terhadap infeksi, memudahkan terjadinya infeksi
nosokomial.
7. Penggunaannya untuk hewan dan binatang ternak, antibiotic juga dipakai
untuk mencegah dan mengobati penyakit infeksi pada hewan ternak.
Dalam jumlah besar antibiotik digunakan sebagai suplemen rutin untuk
profilaksis atau merangsang pertumbuhan hewan ternak. Bila dipakai
dengan dosis subterapeutik, akan meningkatkan terjadinya resistensi.
8. Promosi komersial dan penjualan besar-besaran oleh perusahaan farmasi
serta didukung pengaruh globalisasi, memudahkan terjadinya pertukaran
barang sehingga jumlah antibiotika yang beredar semakin luas.
Memudahkan akses masyarakat luas terhadap antibiotika.
9. Kurangnya penelitian yang dilakukan para ahli untuk menemukan
antibiotika baru.
10. Lemahnya pengawasan yang dilakukan pemerintah dalam distribusi dan
pemakaian antibiotika, sepert pasien dapat dengan mudah mendapatkan
antibiotika meskipun tanpa peresepan dari dokter, selain itu juga
kurangnya komitmen dari instansi terkait baik untuk meningkatkan mutu
obat maupun mengendalikan penyebaran infeksi.
V. Peresepan Rasional
Penggunaan obat secara rasional menurut WHO (1985) adalah jika pasien
menerima obat yang sesuai dengan kebutuhannya untuk periode yang adekuat
dengan harga yang terjangkau untuknya dan masyarakat. Penggunaan obat
yang tidak rasional merupakan masalah penting yang dapat menimbulkan
dampak cukup besar dalam penurunan mutu pelayanan kesehatan, misalnya
peningkatan resistensi akibat penggunaan antibiotik yang tidak rasional.
Penggunaan obat dikatakan tidak rasional jika tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara medik (medically inappropriate), baik
menyangkut ketepatan jenis, dosis, dan cara pemberian obat.
1. Kriteria Penggunaan Obat Rasional
1. Tepat Diagnosis
Penggunaan obat dapat dikatakan rasional apabila diberikan untuk
diagnosis yang tepat. Jika diagnosis tidak ditegakkan secara tepat maka
pemilihan obat tidak sesuai dengan indikasi yang seharusnya.
2. Tepat Indikasi Penyakit
Setiap obat memiliki spektrum terapi yang spesifik, misalnya
Antibiotik yang diindikasikan untuk infeksi bakteri, dengan demikian
pemberian obat ini tidak dianjurkan untuk pasien yang tidak
menunjukkan adanya gejala infeksi bakteri.
3. Tepat Pemilihan Obat
Keputusan untuk melakukan upaya terapi diambil setelah diagnosis
ditegakkan dengan benar, dengan demikian obat yang dipilih haruslah
yang memiliki efek terapi sesuai dengan spektrum penyakit.
4. Tepat Dosis
Agar suatu obat dapat memberikan efek terapi yang maksimal
diperlukan penentuan dosis, cara dan lama pemberian yang tepat. Besar
dosis, cara dan frekuensi pemberian umumnya didasarkan pada umur
dan/atau berat badan pasien.
5. Tepat cara Pemberian Obat
Obat harus digunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan, waktu
dan jangka waktu terapi sesuai anjuran.
6. Tepat Pasien
Mengingat respon individu terhadap efek obat sangat beragam maka
diperlukan pertimbangan yang seksama, mencakupkemungkinan adanya
kontraindikasi, terjadinya efek samping, atau adanya penyakit lain yang
menyertai. Hal ini lebih jelas terlihat pada beberapa jenis obat seperti
teofilin dan aminoglikosida. Pada penderita dengan kelainan ginjal,
pemberian aminoglikosida sebaiknya dihindarkan karena risiko
terjadinya nefrotoksik pada kelompok ini meningkat secara bermakna.
7. Tepat Informasi
Kejelasan informasi tentang obat yang harus diminum atau
digunakan pasien akan sangat mempengaruhi ketaatan pasien dan
keberhasilan pengobatan. Informasi yang diberikan meliputi nama obat,
aturan pakai, lama pemakaian, efek samping yang ditimbulkan oleh obat
tertentu, dan interaksi obat tertentu dengan makanan.
8. Waspada terhadap efek samping
Pemberian obat potensial menimbulkan efek samping, yaitu efek
tidak diinginkan yang timbul pada pemberian obat dengan dosis terapi.
9. Cost effectiviness
Penggunaan obat tanpa indikasi yang jelas, atau pemberian obat
untuk keadaan yang sama sekali tidak memerlukan terapi obat, jelas
merupakan pemborosan dan sangat membebani pasien. Disini termasuk
pula peresepan obat yang mahal padahal alternative obat yang lain
dengan manfaat dan keamanan sama dan harga lebih murah tersedia.
2. Pendekatan Penggunaan Obat yang Rasional
1. Penerapan konsep obat esensial
Obat esensial adalah obat terpilih yang paling dibutuhkan untuk
pelayanan kesehatan, mencakup upaya diagnosis, profilaksis, terapi dan
rehabilitasi yang diupayakan tersedia pada unit pelayanan kesehatan
sesuai dengan fungsi dan tingkatannya, dengan penggunaan obat esensial
akan mencapai penggunaan obat secara rasional.
2. Penggunaan obat generik
Obat generik adalah obat dengan nama resmi International Non
Propietary Names (INN) yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia
atau buku standar lainnya untuk zat berkhasiat yang dikandungnya. Obat
generik merupakan obat yang telah terjamin mutu, keamanan dan khasiat
serta harga yang terjangkau oleh masyarakat. Dengan penggunaan obat
generic akan mencapai penggunaan obat secara rasional.
3. Promosi penggunaan obat rasional
Dengan promosi penggunaan obat rasional akan meningkatkan
pemahaman masyarakat terhadap penggunaan obat secara tepat dan benar.
3. Penggunaan Obat yang Tidak Rasional
Penggunaan obat dikatakan tidak rasional jika kemungkinan dampak
negatif yang diterima oleh pasien lebih besar disbanding manfaatnya.
Dampak negatif dapat berupa :
a. Dampak klinis sepert terjadi efek samping dan resistensi kuman.
b. Dampak ekonomi seperti biaya tak terjangkau karena penggunaan obat
yang tidak rasional dan waktu perawatan yanglebih lama.
c. Dampak sosial seperti ketergantungan pasien terhadap intervensi obat.
Kriteria penggunaan obat yang tidak rasional.
Penggunaan obat yang tidak rasional bila :
a. Peresepan berlebih (over prescribing).
Pemberian obat yang sebenarnya tidak diperlukan untuk penyakit
yang bersangkutan.
Contoh : Pemberian antibiotik pada ISPA non pneumonia (yang
umumnya disebabkan oleh virus).
b. Peresepan kurang (under prescribing).
Pemberian obat kurang dari yang seharusnya diperlukan, baik dalam
hal dosis, jumlah maupun lama pemberian. Tidak diresepkannya obat
yang diperlukan untuk penyakit yang diderita juga termasuk dalam
kategori ini.
c. Peresepan majemuk (multiple percribing).
Pemberian beberapa obat untuk satu indikasi penyakit yang sama.
Dalam kelompok ini juga termasuk pemberian lebih dari satu obat
untuk penyakit yang diketahui dapat disembuhkan dengan satu jenis
obat.
d. Peresepan salah (incorrect prescribing).
Pemberian obat yang tidak sesuai dengan indikasi penyakit,
pemberian obat untuk kondisi yang sebenarnya merupakan
kontraindikasi pada pasien, pemberian obat yang memberikan
kemungkinan risiko efek samping yang lebih besar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Setiabudy. Antimikroba. In: Farmakologi dan Terapi Edisi 4. Jakarta: Bagian


Farmakologi FKUI; 2001. 571-83 p.
2. Jack L. Antimicrobial Drugs. In: Bolognia: Dermatology, 2nd ed.2008.
3. Liarrul LI, Testero SA, Fisher JF et al. The Future of the β-lactams. Current
Opinion in Microbiology. 2010;13:551-7.
4. Yulinah et al. ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT ISFI; 2008. 774-7 p.
5. Kim MH, Lee MJ. Diagnosis and Management of Immediate
Hypersensitivity Reactions to Cephalosporins. Allergy Asthma Immunol
Res. 2014;6(6):485-95.
6. Priya S, Radha K. Brief Review Of Spectrophotometric Methods For The
Detection Of Tetracycline Antibiotics. International Journal Of Pharmacy
And Pharmaceutical Sciences. 2014;6:48-51.
7. Soni K. Fluoroquinolones: Chemistry & Action – A Review. New
Delhi: Indo Global Journal of Pharmaceutical Sciences. 2012;2(1):43-53.
8. Redgrave. Fluoroquinolone resistance: mechanisms, impact on bacteria,
and role in evolutionary success. Birmingham: Trends in Microbiology.
2014;22(8):438-8.
9. Oliphant C. Quinolones: A Comprehensive Review. USA: American Family
Physician. 2002;65(3):455-64.
10. Brown GR. Cotrimoxazole - optimal dosing in the critically ill.
Brown Annals of Intensive Care. Canada: Springer. 2014;4(13):1-9.
11. Mohanasoundaram KM. The Prevalence of Inducible Clindamycin
Resistence Among Gram Positive Cocci From Various Clinical Spesimens.
Journal of Clinical and Diagnostic Research. 2011;5:38-40.
12. Alzolibani AA, Zedan K. Macrolides In Chronic Inflammatory Skin Disorder.
Hindawi Publishing Corporation. 2012.
13. Zuckerman JM, Qamat F, Bono BR. Review of Macrolide (Azithromycin),
Ketolids (Telithromycin) and Glycycyclines (Tigecycline). Med Clin N Am.
2011:761-791.
14. Stevens DL et al. Practice Guidelines for the Diagnosis and Management
of Skin and Soft Tissue Infections: 2014 Update by the Infectious Diseases
Society of America. USA: IDSA Guidline. 2014;59(2):e10–52.
15. Amiruddin MD. Penyakit Menular Seksual. Jogjakarta: PT. LKiS Pelangi
Aksara. 2004.
16. Holloway K, Dijk LV. The World Medicines Situation 2011: Rational Use of
Medicines. Geneva: WHO. 2011:8.
17. Thong. Update on the Management of Antibiotic Allergy. Korea: Allergy
Asthma Immunol Res. 2010;2(2):77- 86.
18. Bruniera et al. The use of vancomycin with its therapeutic and adverse
effects: a review. European Review for Medical and Pharmacological
Sciences. 2015;19:694-700.
19. Gasbarre C. Antibiotics. In: Fitzpatrick's Dermatology In General Medicine
8th Ed. Goldsmith L, Katz S, Gilchrest B, Paller A, Leffell, Wolff K eds.
USA: McGraw Hill; 2012. 3941-56 p.
20. Rosso JQ. The Scientific Panel on Antibiotic Usage in Dermatology
(PAUD). Extensions Educational Newsletter For Physician and Nurse
Practitioner in Dermatology. 2006.
21. Jones H. Systemic Antibiotic Treatment of Skin, Skin Structure, and Soft
Tissue Infections in the Outpatient Setting. Advances in skin and wound
care 2012;20(3):132-40.