Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH BAHASA INDONESIA

PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA


Yang BAIK DAN BENAR

Disusun oleh:

1. Ahmad Naufal Athaya (21120118110001)


2. Michael Nathan (21120118120016)
3. Khusnul Khotimah (21120118120022)
4. Dewina Putri Firmani (21120118120040)
5. Fathur Rahman Arrasyid (21120118140050)

DEPARTEMEN TEKNIK KOMPUTER


UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
karunia-Nya kepada kami, sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang
alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “Bahasa Indonesia yang Baik dan
Benar”. Makalah ini berisikan tentang penggunaan Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan
saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan
serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.

Penyusun
DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi................................................................................................................

Bab I Pendahuluan..................................................................................................

A. Latar belakang..........................................................................................

B. Rumusan masalah.....................................................................................

Bab II Pembahasan.................................................................................................

Bab III Penutup......................................................................................................

C. Kesimpulan..............................................................................................

Daftar Pustaka.........................................................................................................
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan bangsa indonesia yang digunakan untuk
berkomunikasi dalam berbagai aspek kehidupan. Namun dalam penerapan masih banyak
orang yang jauh dari berbahasa indonesia yang baik dan benar dalam komunikasi sehari-
hari.
Kita sering mendengar ungkapan berbahasa indonesia dengan baik dan benar.
Selain itu juga anjuran pakailah bahasa indonesia yang baik dan benar. Pusat pembinaan
dan pengembangan bahasa secara resmi juga menghimbau agar kita berbahasa indonesia
dengan baik dan benar. Akan tetapi apakah kita telah mengetahui atau memahami apa
yang dimaksud dengan bahasa indonesia yang baik dan benar.
Oleh karena itu makalah ini diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai
bagaimana berbahasa indonesia yang baik dan benar
B. Rumusan masalah

a. Apakah pengertian bahasa indonesia yang baik dan benar?


b. Pengertian bahasa indonesia baku?
c. Apa saja Ciri-ciri ragam bahasa baku?
d. Apa saja Fungsi bahasa baku?
e. Apa saja kesalahan umum penggunaan bahasa indonesia?
BAB 2
PEMBAHASAN

A. Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

1. Pengertian Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Sesungguhnya dalam ungkapan bahasa Indonesia yang baik dan benar terkandung
dua pengertian yang berkaitan satu sama lain. Pengertian pertama berkaitan dengan
ungkapan “bahasa Indonesia yang baik”. Sebutan baik atau tepat di sini berkaitan dengan
soal keserasian atau kesesuaian yaitu serasi atau sesuai dengan situasi pemakai.
Pengertian kedua berkaitan dengan istilah “bahasa Indonesia yang benar”. Sebutan benar
atau betul di sini berhubungan dengan soal keserasian dengan kaidah. Penggunaan bahasa
Indonesia yang benar adalah penggunaan bahasa indonesia yang menaati kaidah tata
bahasa. Sedang maksud kaidah di sini adalah kaidah bahasa Indonesia baku atau yang
dianggap baku. Maksudnya adalah bahasa yang telah distandardisasikan berdasarkan
hukum berupa keputusan pejabat pemerintah atau sudah diterima berdasarkan
kesepakatan umum yang wujudnya ada pada praktik pelajaran bahasa pada khayalak.
Dengan penjelasan ini tampak bahwa bahasa yang kita gunakan, agar mengenai
sasarannya, tidak selalu beragam baku. Dalam tawar-menawar di pasar dan di warung,
misalnya, pemakaian ragam baku akan menimbulkan kegelian, keanehan, keheranan,
bahkan kecurigaan. Jadi pada asasnya, kita menggunakan bahasa yang baik, artinya yang
tepat tetapi tidak termasuk bahasa yang benar. Sebaliknya, kita mungkin berbahasa yang
benar tetapi tidak baik penerapannya karena suasanya mensyaratkan ragam bahasa yang
lain.
Agar lebih jelas mengenai pengertian bahasa yang baik dan benar,sebagai berikut
ini contohnya :
“Dalam rapat kantor, seorang pejabat fakultas memulai rapat resmi dengan pemakaian
bahasa Indonesia seperti kalimat berikut. “Bapak-bapak dan saudara-saudara sekalian,
ayo deh, kite mulai aje rapat kali ini, ntar keburu ujan”. Okey you dah pada siap kan?.
(Apa jadinya apabila pejabat fakultas memulai acara rapat formal dengan kalimat seperti
itu?) tentu saja akan merubah suasana menjadi tidak formal dan berwibawa. Kalimat di
atas merupakan penggunaan bahasa Indonesia yang tidak baik dan benar. Karena kalimat
yang digunakan tidak memenuhi persyaratan kebaikan dan kebenaran.”

B. Bahasa Indonesia Baku

1. Pengertian

Bahasa Indonesia terdiri atas berbagai ragam, tiap-tiap ragam itu memiliki
kekhasan. Akan tetapi, dari berbagai ragam itu masih dapat dikenali dan dimengerti
sebagai bahasa Indonesia karena masing-masing memiliki ciri umum yang sama, yang
mengacu pada salah satu ragam yang dianggap sebagai patokannya. Ragam yang
dianggap sebagai patokan inilah yang dijadikan tolok bandingan bagi pemakaian
ragam yang lain. Dengan adanya tolok ini orang dapat mengetahui mana pemakaian
bahasa yang benar dan mana yang tidak benar. Ragam bahasa yang mengemban fungsi
sebagai tolok semacam itu disebut dengan bahasa baku atau bahasa standar. Dengan
demikian, bahasa Indonesia baku merupakan salah satu ragam bahasa Indonesia yang
berfungsi sebagai tolok bandingan bagi pemakaian ragam bahasa Indonesia. Bahasa
Indonesia baku disebut juga bahasa Indonesia yang formal, yaitu bahasa Indonesia
yang dituturkan dalam situasi resmi.
Secara lebih rinci, ragam bahasa Indonesia baku dipakai dalam situasi
berbahasa sebagai berikut:

1. Untuk komunikasi resmi, seperti dalam upacara-upacara kenegaraan, rapat-rapat dinas,


surat-menyurat resmi,dan sebagainya.
2. Untuk wacana teknis, seperti laporan kegiatan, usulan proyek, lamaran pekerjaan,
karya ilmiah,dan sebagainya.
3. Pembicaraan di depan umum, misalnya pidato, ceramah, khotbah, pengajaran di
sekolah,dan sebagainya.
4. Berbicara dengan orang yang patut dihormati misalnya guru, pejabat pemerintahan,
atasan, atau orang yang belum atau baru saja dikenal.

a. Ciri-ciri

Ragam bahasa baku atau standar memiliki tiga ciri yaitu :

1. Kemantapan dinamis

Bahwa bahasa baku haruslah memiliki kaidah dan aturan yang tetap. Baku atau
standar tidak dapat berubah setiao saat,jadi kaidah-kaidah haruslah konsisten.

2. Kecendekiaan

Bahwa perwujudannya dalam kalimat, paragraph, dan satuan bahasa lain yang
lebih besar mengungkapkan penalaran atau pemikiran yang teratur, logis, dan masuk akal.

3. Keseragaman

Bahwa bahasa baku mempraanggapkan, adanya keseragaman kaidah.Akan tetapi,


perlu diingat bahwa yang terjadi adalah penyeragaman kaidah, bukan penyamaan ragam
bahasa, atau penyeragaman ragam/variasi bahasa.
b. Fungsi

Selain memiliki ciri-ciri, bahasa baku atau standar memiliki berbagai fungsi.
Fungsi yang dimaksud ada empat yaitu:

a. Fungsi pemersatu,
b. Fungsi pemberian kekhasan,
c. Fungsi pembawa kewibawaan, dan
d. Fungsi sebagai kerangka acuan.

C. Kesalahan Umum Penggunaan Bahasa Indonesia

Pembentukan kata, kelompok kata, dan kalimat bahasa baku selalu mengikuti
kaidah tata bahasa dari bahasa yang bersangkutan. Jadi, bahasa Indonesia baku adalah
bahasa Indonesia yang mengikuti kaidah tata bahasa Indonesia.Pemilihan kata dalam
rangka penyusunan kalimat baku dilakukan secara cermat agar informasi yang hendak
disampaikan dapat diterima secara baik oleh pembaca atau mantra bicara.

Karangan ilmiah, laporan kerja, surat lamaran atau sejenis komunikasi lain,
seluruhnya harus menggunakan kalimat yang baik dan benar. Baik memungkinkan tulisan
itu dapat diterima oleh siapapun dan benar artinya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia
yang telah dibakukan. Kesalahan kalimat dapat berakibat fatal, salah pengertian, maupun
salah tindakan. Untuk membuat atau menyusun kalimat dengan baik dan benar tidaklah
mudah. Dari sejumlah penelitian yang telah dilakukan, ditemukan berbagai kesalahan
umum yang biasa dilakukan oleh para pemakai bahasa Indonesia dalam penyusunan
kalimat dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Kesalahan-kesalahan itu menurut
Widjono (2005:153) dapat dirinci sebagai berikut:
a. Kesalahan struktur

1. Kalimat aktif tanpa subjek.

Contoh:

 Menurut ahli hukum menyatakan bahwa krisis ekonomi di Indonesia segera


berakhir jika hukum ditegakkan. (salah)
 Ahli hukum menyatakan bahwa krisis ekonomi di Indonesia segera berahkhir jika
hukum ditegakkan. (benar)

2. Menempatkan kata depan di depan subjek, dengan kata depan ini subjek berubah
fungsi menjadi keterangan.

Contoh:

 Di Pekalongan memiliki pusat perdagangan batik terbesar di Indonesia. (salah)


 Di Pekalongan terdapat pusat perdagangan batik terbesar di Indonesia. (benar)

3. Tanpa unsur predikat menempatkan kata yang di depan predikat, dengan kata ini
predikat berubah fungsi menjadi perluasan subjek.

Contoh:

 Karyawan yang bekerja di perusahaan. (salah)


 Karyawan bekerja di perusahaan. (benar)

4. Menempatkan kata depan di depan objek, seharusnya kata kerja transitif langsung
diikuti objek dan tidak disisipi kata depan.
Contoh:

 Mereka mendiskusikan tentang keselamatan di jalan. (salah)


 Mereka mendiskusikan keselamatan di jalan. (benar)

5. Menempatkan kata penghubung intrakalimat tunggal pada awal kalimat.

Contoh:

 Ia rajin. Sehingga selalu mendapat juara kelas. (salah)


 Ia rajin belajar sehingga selalu mendapat juara kelas. (benar)

6. Berupa anak kalimat atau klausa, atau penggabungan anak kalimat.

Contoh:

 Meskipun sudah kaya raya, tetapi ia tetap bekerja keras. (salah)


 Meskipun sudah kaya raya, ia tetap bekerja karas. (benar)

7. Salah urutan.

Contoh:

 Majalah itu saya baca. (salah)


 Saya sudah membaca majalah itu. (benar)

b. Kesalahan diksi

1. Diksi kalimat salah jika :

a. Menggunakan dua kata bersinonim dalam satu frasa: agar- supaya,adalah -


merupakam, bagi- untuk, demi- untuk, naik- ke atas, turun- ke bawah, dan lain-
lain.Contoh:

 Ia selalu minum obat agar supaya penyakit yang sedang diderita sembuh. (salah)
 Ia selalu minum obat supaya penyakit yang sedang diderita sembuh. (benar)

b. Menggunakan kata Tanya yang tidak menanyakan sesuatu: di mana, yang mana,
bagaimana, mengapa, dan lain-lain. Contoh:

 Desa di mana kami dilahirkan tiga puluh tahun yang lalu,kini telah menjadi kota.
(salah)
 Desa tempat kami dilahirkan tiga puluh tahun yang lalu,kini telah menjadi kota.
(benar)

c. Menggunakan kata berpasangan yang tidak sepadan: tidak hanya – tetapi


seharusnya tidak … tetapi atau tidak hanya – tetapi juga, bukan hanya – tetapi
juga seharusnya bukan hanya – melaikan juga. Contoh :

 Ia tidak hanya cantik melainkan juga sopan santun. (salah)


 Ia tidak hanya cantik tetapi juga sopan santun. (benar)

d. Menggunakan kata berpasangan (verba berpreposis) secara idiomatic yang tidak


sesuai. Misalnya:

Benar Salah

Bergantung kepada/pada Tergantung dari


Tergantung dari pada
Bergantung dari

Berbeda dengan Berbeda dari/ daripada

Disebabkan oleh Disebabkan karena

Hormat Hormat atas/sama


akan/kepada/terhadap

Berdasar pada/kepada Berdasarkan atas/pada


kepada (berdasarkan)

Terdiri atas (dari) terdiri

Sesuai dengan sesuai

Contoh:

 Model pakaian itu sesuai bagi minat orang tersebut. (salah)


 Model pakaian itu sesuai dengan minat orang tersebuat. (benar)

e. Penempatan numeralia distrubituf

Kata setiap, tiap-tiap, dan masing-masing termasuk numeralia distributif. Kata


setiap atau tiap-tiap memiliki arti yang sangat mirip dengan kata masing-masing.
Perbedaannya adalah kata masing-masing berdiri sendiri tanpa nomina, sedangkan
kata setiap dan tiap-tiap tidak bisa berdiri sendiri tanpa nomina. Contoh:

 Masing-masing mahasiswa dianjurkan memiliki buku ajar. (salah)


 Setiap mahasiswa dianjurkanmemiliki buku ajar. (benar)

2. Diksi atau kalimat kurang baik (kurang santun)

a. Menonjolkan akunya dalam suasana formal, misalnya: aku dan saya.


b. Pilihan kata yang mengekspresikan data secara subjektif, misalnya: menurut
pendapat saya… sebaiknya menggunakan data menunjukkan bahwa… penelitian
membuktikan bahwa…, pengalaman membuktikan bahwa…
c. Menggunakan kata yang tidak jelas maknanya.
d. Diksi tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi.
e. Penolakan dan pembuktian tanpa makna yang pasti (eksak).

c. Kesalahan ejaan

Kesalahan ejaan berpengaruh terhadap kalimat efektif, bukan hanya memperkecil


kualitas kalimat melainkan juga dapat mengakibatkan kesalahan kalimat. Oleh karena itu,
penggunaan ejaan perlu diperhatikan dalam keseluruhan penulisan (lebih lanjut lihat Buku
Ejaan Yang Disempurnakan).
Jenis kesalahan ejaan:

1. Penggunaan huruf capital, huruf kecil, huruf miring, huruf tebal,


2. Pemenggalan kata,
3. Penulisan kata baku,
4. Penulisan unsure serapan
5. Penulisan kata asing tidak dicetak miring,
6. Penggunaan tanda baca: titik, koma, tanda petik, titik dua, titik koma, tanda petik
satu(‘…’), tanda penyngkatan (‘…), dan lain-lain
7. Penulisan kalimat atau paragarf: induk kalimat dan anak kalimat,kutipan langsung,
kutipan tidak langsung,
8. Penulisan keterangan tambahan, penulisan aposisi
9. Penulisan judul buku, judul makalah, skripsi, disertasi, tesis, surat kabar, majalah,
jurnal,
10. Penulisan judul bab, subbab, bagian, subbagian,
11. Penulisan: daftar pustaka dalam teks, catatan kaki, dan bibliografi.
BAB 3

PENUTUP

Kesimpulan
Dalam urainan diatas dapat dismpulkan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan
benar adalah bahasa Indonesia yang dalam penggunaan nya sesuai dengan kaidah tata
bahasa.Kaidah bahasa yaitu kaidah bahasa Indonesia baku atau yang danggap baku.
Oleh karena itu, kita sebagai warga negara Indonesia dianjurkan menggunakan
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam situasi resmi maupun
kehidupan sehari-hari.Namun masih minim nya pengetahuan tentang bagaiman bahsa
Indonesia yang baik dan benar,sehingga masih banyak yang tidak menggunakan nya
secara tidak tepat
DAFTAR PUSTAKA

 Ening Herniti dkk.2005.Bahasa Indonesia.Yogyakarta:Pokja Akademik UIN sunan


kalijaga Yogyakarta.
 http://bagongmendem.blogspot.com/2013/01/makalah-bahasa-indonesia-yang-baik-
dan.html