Anda di halaman 1dari 15

FARMAKOLOGI

Asiklovir [9-(2-hidroksietoksimetilguanin)] merupakan obat sintetik jenis


analog nukleosida purin. Asiklovir memiliki beberapa sinonim, seperti AC 2,
asiklovir, 9- Hydroxyethoxymethylguanine, asiklovir sodium, asikloguanosin
dan welcome-248u. nama produk dagangnya adalah Avirax, Alti-Acyclovir,
Vipral, Virorax, Zovir, Zovirax, Cyclovir, Acivir, Acivirax. Umumnya, asiklovir
mengandung kurang dari 98.5% dan tidak lebih dari 101.0% 2-amino-9-[(2
hydroxyethoxy) methyl]-1,9-dihydro-6H-purin-6-one dihitung terhadap zat
anhidrat. Rumus molekulnya adalah C8H11N5O3. Dan Berat molekulnya
adalah 225.046 gram per mol3. Asiklovir berupa serbuk Kristal putih dan
mempunyai tingkat kelarutan 2.5 mg/ml dalam air pada suhu 24oC. pKa 2.27
dan 9.25. Secara komersial, obat tersedia juga dalam bentuk injeksi dengan
bentuk asiklovir natrium serbuk Kristal putih, larut dalam air. Maksimum
kelarutan obat adalah .100 mg/ml pada air dengan suhu 25oC, tetapi pada pH
psiologis dan suhu normal tubuh 37oC obat hamper tidak mengalami ionisasi
sehingga maksimum kelarutan obat adalah 2.5 mg/ml. Asiklovir natrium
mengandung 4.2 mEq natrium per gram asiklovir. Asiklovir memiliki titik lebur
256.5-257oC.
Acyclovir dapat dianggap prodrug, itu diberikan dalam bentuk yang tidak aktif
(atau kurang aktif) dan dimetabolisme menjadi jenis yang lebih aktif setelah
pemberian. Formulasi Acyclovir tersedia secara komersial dalam bentuk tablet
(200 mg, 400 mg, 800 mg dan 1 gram), krim topikal (5%) salep mata (3%) 1,
bubuk lyophilized yang harus dilarutkan sebelum pemberian parenteral untuk
pasien. Sediaan krim digunakan terutama untuk Herpes simpleks labialis.
Sediaan salep mata hanya digunakan untuk keratitis herpes simpleks. Ketika
konsentrasi tinggi asiklovir diperlukan suntikan intravena. Selain mengobati
HSV dan infeksi VZV, asiklovir juga digunakan dalam pengobatan herpes
simpleks labialis (cold sores), genital herpes simpleks (pengobatan dan
profilaksis), cacar air akut, ensefalitis herpes simpleks, infeksi HSV
mukokutan akut, herpes simpleks dan blepharitis Bell palsy.

B. Efek Farmakologis
Efek farmakologis asiklovir tergantung pada perubahannya menjadi metabolit
aktif oleh enzim timidinkinase didalam Herpes simplek.
Mekanisme kerja asiklovir yaitu:
Asiklovir
↓ Timidinkinase (Herpes simplek)
Monofosfat
↓ Fosforilasi oleh enzim pejamu
Asikloguanosin 3P

Menghambat: – Polimerase DNA virus
– Sintesis DNA virus
Asiklovir memerlukan tiga kali fosforilasi sebelum aktif. Pertama, difosforilasi
menjadi senyawa monofosfat oleh kinase timidin yang spesifik untuk virus,
kemudian diubah menjadi senyawaan di- dan trifosfat oleh enzim kinase yang
berasal dari sel hospes. Asiklovir trifosfat menghambat sintesis DNA melalui
dua mekanisme: menghambat deoxyGTP secara kompetitif untuk selanjutnya
bereaksi lebih lanjut oleh polymerase DNA, dengan cara mengikat diri pada
cetakan DNA membentuk kompleks yang tidak mudah lepas, dan memutus
pembentukan rantai DNA virus.
Asiklovir merupakan obat antivirus yang digunakan untuk mengobati infeksi
akibat virus. Biasanya obat-obatan ini bekerja pada satu jenis atau kelompok
dari infeksi virus. Asiklovir digunakan untuk mengobati gejala-gejala cacar air
(varisela), herpes zoster, infeksi herpes pada genital, kulit, otak, dan
membran mukosa (bibir dan mulut), serta infeksi virus herpes pada neonatus.
Asiklovir juga digunakan untuk mencegah infeksi herpes genital kambuhan
(rekuren). Walaupun asilovir tidak mengobati herpes, tetapi obat ini dapat
mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan dan menghilangkan rasa sakit (jika
ada) dengan cepat.

C. Efek Samping

Asiklovir umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Asiklovir topikal dalam


larutan polietilen glikol dapat menyebabkan iritasi mukosa dan rasa terbakar
bila dioleskan pada lesi genital. Penggunaan asiklovir selama 5 tahun untuk
terapi supresi herpes genitalis dinyatakan aman. Tidak terlihat peningkatan
cacat bawaan pada wanita hamil yang menggunakan asiklovir.
Beberapa pasien mengeluhkan mual, muntah, dan pusing, tetapi efek
samping ini jarang memerlukan penghentian pengobatan. Asiklovir dapat
mengendap di tubuli renal bila dosis yang diberikan sangat berlebihan atau
pada pasien dehidrasi. Keadaan ini dapat menyebabkan penurunan bersihan
kreatinin. Pada pasien dengan bersihan ginjal yang kurang, dapat
menimbulkan efek samping yang berilut ini: ensefalopati disertai letargi,
tremor, halusinasi, kejang, dan koma.
Asiklovir juga dapat menimbulkan efek samping diantaranya: kelelahan, nyeri
terutama pada sendi, rambut rontok, perubahan daya lihat. Sedangkan efek
samping yang lebih serius diantaranya:
1) Bintik-bintik merah yang bengkak dan gatal
2) Ruam atau kulit melepuh
3) Gatal
4) Sulit bernafas atau sulit menelan
5) Pembengkakan pada wajah, tenggorokan, lidah, mata, tangan, kaki,
pergelangan kaki atau tungkai bawah
6) Serak
7) Jantung berdebar
8) Kelemahan
9) Kulit pucat
10) Sulit tidur, demam, nyeri tenggorokan, menggigil, batuk dan gejala infeksi
lainnya, memar atau pendarahan yang tidak biasa
11) Hematuria
12) Nyeri atau kram lambung
13) Diare berdarah
14) Penurunan produksi urin
15) Sakit kepala
16) Halusinasi (melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada)
17) Bingung
18) Tingkah laku agresif
19) Sulit bicara
20) Mati rasa, seperti terbakar, atau sensasi gatal pada lengan atau kaki
21) Ketidakmampuan sementara untuk menggerakkan bagian badan
22) Tremor yang tidak dapat dikontrol
23) Kejang
24) Kehilangan kesadaran

Efek samping jika dilihat dari cara pemberian:


Parenteral:
– Toksisitas pada ginjal; pengendapan Kristal Asiklovir dapat terjadi pada
tubulus ginjal jika melebihi daya larut asiklovir bebas atau jika pemberian
injeksi secara bolus. Kreatinin serum dan BUN akan meningkat sedangkan
bersihan kreatinin menurun
– Gejala ensefalopati: rata-rata 1% pasien yang menerima asiklovir intravena
bermanifestasi seperti gejala ensefalopati yaitu letargi, obtundation, tremor,
bingung, halusinasi, agitasi, kejang atau koma
– Lainnya: peningkatan sementara kreatinin serum, ruam atau bintik merah
yang bengkak dan gatal, diaphoresis, hematuria, hipotensi, sakit kepala dan
mual, trombositosis
Oral: efek gastrointestinal berkurang jika diminum bersamaan dengan
makanan
Terapi jangka pendek:
Mual/muntah, diare, sakit kepala, pusing, lelah, ruam kulit, udem, adenopati
inguinal, anoreksia, nyeri tungkai, berkurangnya sensasi perasa, nyeri
tenggorokan
Terapi jangka panjang:
Mual, muntah, diare, sakit kepala, vertigo, insomnia, iritabilitas, depresi, ruam
kulit, jerawat, rambut rontok, nyeri sendi, demam, palpitasi, nyeri tenggorokan,
kram otot, menstruasi yang abnormal, limfadenopati.

D. QSAR
Sebelum kita membahas tentang QSAR asiklovir, terlebih dahulu kita bahas
tentang absorpsi, distribusi, dan ekskresi asiklovir. Absorpsi asiklovir dalam
saluran gastrointestinal berubah-ubah dan tidak lengkap. 15-30% dosis oral
akan diabsorbsi. Dalam penelitian, asiklovir diberikan secara oral untuk orang
dewasa sehat sebagai kapsul 200 mg, 400 mg tablet, atau 800 mg tablet 6
kali sehari, tingkat absorpsi menurun dengan meningkatnya dosis , sehingga
bioavailabilitasnya masing-masing 20, 15 atau 10%, Penurunan
bioavailabilitas ini tampaknya merupakan fungsi dari meningkatnya dosis,
bukan perbedaan dalam bentuk sediaan.
Asiklovir didistribusikan ke jaringan tubuh dan cairan tubuh meliputi otak,
ginjal, kelenjar air liur, paru-paru, hati, otot, limpa, rahim, vaginal mucosa dan
sekretnya, cairan serebrospinal, dan herpetic vesicular fluid. Obat juga
diditribusikan melalui air mani. mencapai konsentrasi sekitar 1,4 dan 4 kali
lipat pada plasma selama terapi oral kronis pada dosis 400 mg dan 1 g sehari,
masing-masing. Volume yang terlihat dari distribusi acyclovir dilaporkan
menjadi 32,4-61,8 liter/1.73 meter persegi pada orang dewasa dan 28,8, 31,6,
42, atau 51,2-53,6 liter/1.73 meter persegi pada neonatus sampai 3 bulan
usia, anak-anak 1-2 tahun, 2-7 tahun, atau 7-12 tahun, masing-masing.
Acyclovir diekskresikan terutama di urin melalui filtrasi glomerulus dan sekresi
tubular. Sebagian besar asiklovir dosis tunggal IV diekskresikan dalam urin
sebagai obat tidak berubah dalam waktu 24 jam setelah pemberian. Pada
orang dewasa dengan fungsi ginjal normal, sekitar 30-90% dari dosis tunggal
IV diekskresikan tanpa perubahan dalam urin dalam 72 jam, sekitar 8-14%
dan kurang dari 0,2% yang diekskresikan dalam urin sebagai 9-
carboxymethoxymethylguanine dan 8-hidroksi-9 – (2-hydroxyethoxymethyl)
guanin, masing-masing, dalam waktu 72 jam. Dalam sebuah penelitian pada
neonatus sampai usia 2 bulan, 62-72% dari dosis tunggal diekskresikan
dalam urin tidak berubah. Kurang dari 2% dari asiklovir dosis tunggal IV
terdapat dalam tinja. Obat tampaknya tidak terakumulasi dalam jaringan.
QSAR (Quantitative Structure Activity Relationship) merupakan bagian
penting rancangan obat dalam usaha mendapatkan obat baru dengan:
a. Aktivitas lebih besar
b. Lebih selektif
c. Toksisitas atau efek samping lebih rendah
d. Kenyamanan yang lebih besar
e. Lebih ekonomis; faktor coba-coba ditekan sekecil mungkin; jalur sintesis
menjadi lebih pendek.
QSAR, ada berbagai model yang bisa digunakan:
1. Model Free-Wilson
Konsep QSAR obat yang disebur de-novo atau model matematika Free-
Wilson. Pada model ini substituen harus member sumbangan aktivitas
biologis secara aktif. Jika parameter fisika kimia sudah diketahui maka
pendekatan akan lebih mudah dilakukan. Model ini bisa digunakan untuk
senyawa yang sudah diketahui msupun yang belum. Untuk mengetahui
aktivitas biologis secara biologi, fisika, kimia dilihat dari nilai lipofilisitas,
elektronik, dan sterik.
Model de novo ini kurang berkembang karena:
a. Tidak dapat digunakan bila efek substituent bersifat tidak linier
b. Bila ada interaksi antar substituen
c. Memerlukan banyak senyawa dengan kombinasi substituen bervariasi
untuk dapat menarik kesimpulan yang benar
Keuntungan:
a. Dapat menguji QSAR turunan senyawa dengan bermacam-macam gugus
substitusi pada berbagai zona.
b. Digunakan bila tidak ada data tetapan kimia fisika dari senyawa dan uji
aktifitas lebih lambat dibanding dengan sintesis turunan senyawa.
2. Model Hansch
Menggunakan nilai parameter substituen pada aktivitas yang dinyatakaan
sebagai sifat fisika kimia.
Untuk QSAR asiklovir sendiri, dapat menggunakan kedua metode tersebut.
Pada dasarnya, asiklovir yang dalam bentuk obat, belum aktif, sehingga
ketika dikonsumsi, baru diubah menjadi bentuk aktifnya dengan bereaksi
dengan enzim dalam tubuh. Maka dari itu, asiklovir sendiri merupakan
prodrug. Proses farmakokinetik dari prodrug asiklovir sendiri, yaitu:

Valacyclovir (50% absorpsi oral)

Desciclovir ( ̴70% absorpsi oral)


Penggunaan prodrug bertujuan agar asiklovir yang memiliki kemampuan
absorpsi oral rendah, dapat meningkatkan absorpsinya.
Perhatian pemakaian obat:
Terapi asiklovir parenteral dapat menyebabkan tanda-tanda dan gejala
ensefalopati. Acyclovir harus digunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
kelainan neurologis dan pada pasien dengan ginjal yang serius, hati, atau
kelainan elektrolit atau hipoksia substansial. Obat ini juga harus digunakan
dengan hati-hati pada pasien yang telah memanifestasikan reaksi neurologis
terhadap obat sitotoksik atau mereka yang menerima intratekal metotreksat
atau interferon.
Rentang toksisitas:
-Keracunan yang signifikan tdak terjadi setelah konsumsi. Pemakaian
asiklovir secara oral dengan dosis 20 gram masih terselamatkan. Keracunan
dilaporkan pada orang dewasa yang menerima 6 gram asiklovir IV selama 2
hari.

E. Sintesis
Asikovir [9-(2-hidroksietoksimetilguanin)] merupakan obat sintetik jenis analog
nukleosida purin. Sifat antivirus asiklovir terbatas pada kelompok virus
herpes.
Asiklovir merupakan prototip sekelompok obat antivirus yang didalam sel
hospes difosforilasikan terlebih dahulu oleh enzim kinase virus, sebelum
bekerja menghambat sintesis DNA virus herpes. Pada percobaan in vitro,
virus yang paling sensitive terhadap asiklovir adalah virus herpes simplex-1
(HSV-1, 0.02-0.9 ug/ml), diikuti oleh virus herpes simplex-2 (HSV-2, 0.03-2.2
ug/ml), virus varicella-zoster (VZV, 0.8-4.0 ug/ml), virus Epstein-Barr (EBV,
6.0-7.0 ug/ml), dan cytomegalovirus (CMV, >20 ug/ml). sel mamalia yang
tidak terinfeksi umumnya tidak dipengaruhi oleh asiklovir, biarpun dosisnya
tinggi (.50 ug/ml)

F. Kesimpulan
Asiklovir merupakan antivirus yang relative aman digunakan, Penggunaanya
sebagai prodrug menunjang keefektifan aktivitasnya sebagai antivirus.
Prodrug asiklovir, lebih aman, dan meningkatkan efek farmakologisnya.
Memang kemudian banyak antivirus yang lain, yang memiliki kemampuan
sama seperti asiklovir, seperti gancyclovir, tetapi menurut penulis, asiklovir
tetap menjadi pilihan untuk pengobatan herpes simpleks, karena kespesifikan
target operasinya.
FARMASEUTIK

Cara Pembuatan Tablet Acyclovir


Agustus 11, 2017
Zat aktif : Valacyclovir Hidrocloride
Jumlah tablet : 62.700
Dosis dan alasan : Dosis 500 mg dapat digunakan untuk
Pengobatan harpes simpleks.
I. PREFORMULASI
1.1Nama Zat Aktif : Valacyclovir Hidrocloride
- Struktur :C13H20N6O4 · HCl
- Berat Molekul : 324.341 g/mol
- Pemerian : serbuk hablur, putih hingga hampir putih,
- Kelarutan : agak sukar larut dalam air (Kelarutan maks-
imum dalam air (pada 25oC) – 174 mg/ml)
tidak larut dalam etanol
- Titik Leleh : 170-172°C
- pH : 3,5
- Kegunaan : antivirus, untuk pengobatan herpes simpleks
- Stabilitas zat : Mengalami dekomposisi cepat diatas 200oC
- Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup, sejuk (20 –
25OC
1.2. ZAT TAMBAHAN
A. Aerosil
- Rumus Kimia : SiO2
- Pemerian : Serbuk koloid silikondioksida dengan
ukuran partikel 15nm, ringan, warna putih
kebiruan, tidak berbau, tidak berasa, berbent
uk amorf
- Kegunaan : Glidan, alasan penambahan zat dalam
formula yaitu untuk menunjang karakteristi
k aliran granul atau meningkkatkan aliran
granul dari hopper ke dalam die
- Kelarutan : Praktis tidak larut dalam organik solven, air
dan asam kecuali hydrofluride acid, larut
larutan alkali hidroxyde panas membentuk
dispersi koloidal dengan air.
- pH : 3,4 – 4,0
-
Densitas : 0,029 – 0,042 g/ml
-
Aliran : Memberikan daya alir/sifat alir yang baik
dan dapat memenuhi sifat alir serbuk
-
Kelembaban :-
-
Stabilitas : Bersifat higroskopis dan mengapsorbsi
Sebagian besar air tanpa mencair
B. Sodium Strach Glicolat
- Rumus Kimia :

- Pemerian : Putih sampai tidak putih, tidak berbau , hambar , bebas


mengalir bubuk. The Pheur 2005 menyatakan bahwa
terdiri dari butiran oval atau bulat , 30-100 mm , dengan
beberapa butiran kurang bulat mulai 10-35 mm garis
tengah.
- Kegunaan : Tablet dan kapsul disintegrant
- Kelarutan : sedikit larut dalam etanol (95%) ; praktis

- pH : pH = 3.0–5.0 or pH = 5.5–7.5
- Densitas : Density (bulk): 0.756 g/cm3;
as : Stabil dan harus disimpan dalam wadah yang tertutup untuk melindunginya dari variasi
kelembaban dan suhu , yang mungkin menyebabkan penggumpalan.
Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, hal.663-665
C. PVP ( Povidon)
- Rumus struktur : 1-Ethenyl-2-pyrrolidinone homopolymer.
(C6H9NO)n BM = 2500 – 3 juta.
- Pemerian : Serbuk sangat halus, berwarna putih sampai
krem, tidak atau hampir tidak berbau, higros
kopis
- Kegunaan : Pensuspensi, pengikat tablet.
- Alasan : PVP digunakan untuk mempermudah penc-
ampuran saat granulasi basah untk melekat-
kan semua zat atau mencampurkan semua
zat
- Kelarutan : Larut dalam asam, kloroform, etanol, keton,
metanol, dan air. Praktis tidak larut dalam
eter, hidrokarbon dan minyak mineral
- pH : 3,0 – 7,0 untuk larutan 5% b/v
- Densitas : 1,17-1,18 g/cm3
- Kelembaban : Sejumlah lembab yang nyata terabsobsi
pada kelembaban relatif rendah
- Stabilitas : Povidone stabil dalam siklus pemanasan
Yang pendek sekitar 110-130oC
- Penyimpanan : Disimpan dalam wadah tertutup, sejuk (15 –
25oC) dan kering
Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, hal.581.
D. Kalsium Stearat
- Rumus Kimia :-
- Pemerian : Putih kekuningan - putih, bubuk besar memi-
liki bau yang khas sedikit. Hal ini bermanis
manis dan bebas butiran
- Kegunaan : Tablet and capsule lubricant.
- Kelarutan : Praktis tidak larut atau tidak larut dalam etanol ( 95 % )
,eter , kloroform , aseton dan air . Sedikit larut dalam air
panas alkohol , dan sayuran panas dan mineral minyak.
Larut dalam air panas piridin .
- Densitas : Density (bulk and tapped):
Density (true) : 1.064–1.096 g/cm3
- Aliran : 21,2-22,6 % (Carr indeks kompresibilitas)
- Stabilitas : Kalsium stearat stabil dan harus disimpan di
yang sejuk dan kering serta wadah yang ter-
tutup rapat.
Sumber : Handbook of Pharmaceutical Excipient, 6th ed, 2009, hal.105-107
E. Avicel 102
- Rumus Kimia :

- Pemerian : Serbuk kristalin; putih; tidak berbau; tidak


Berasa; tersusun atas pertikel-partikel berpori;higroskopis
- Kegunaan : Pengisi. Alasan penambahan zat tambahan
Dalam formula yaitu mengisi tablet sehingga sesuai dengan bobot yang diinginkan
- Kelarutan : Sukar larut dalam larutan NaOH 5% b/v;
Praktis tidak larut dalam air, asam encer dan sebagian besar pelarut organik
- Densitas : 1,512 – 1,668 g/cm3
- Aliran :-
- Kelembapan : Mempunyai kelembaban tidak lebih dari
5% b/b.
- Stabilitas : Avicel stabil, meskipun higroskopis. Harus
disimpan dalam wadah tertutup baik pada tempat sejuk dan kering.
(Rowe, 2006: 132-135)
F. Alkohol
- Rumus kimia

- Pemerian : Alkohol cairan bening , berwarna , ponsel ,


dan mudah menguap dengan sedikit , bau yang khas dan
rasa terbakar
- Kegunaan :Pengawet antimikroba ; desinfektan ;
Penetran kulit dan pelarut
- Alasan : alkohol yang digunakan pada formula
Untuk melarutkan PVP yang digunakan un-
Tuk mencampurkan semua zat
- Kelarutan : Terlarut campur dengan kloroform , eter
gliserin, dan air (dengan kenaikan suhu
dan kontraksi volume
- Stabilitas :Solusi etanol berair dapat disterilkan dengan
Autoklaf atau filtrasi dan harus disimpan dalam wadah
kedap udara di ttempat yang dingin
II. FORMULASI / TEKNIS PEMBUATAN
a. Formula yang akan dibuat
R/ Valacyclovir hidrocloride 500mg
Aerosil 0,2%
Sodium Strach Glicolat 2%
PVP 5%
Kalsium stearate 2%
Avicel 102 q.s
Alkohol q.s

Valacyclovir HCl zat aktif


Aerosil glidan
Sodium Strach Glicolat penghancur
PVP pengikat
Kalsium stearate lubrikan
Avicel 102 pengisi
Alcohol pembasah
b. Metode yang digunakan: metode granulasi basah.
c. Alasan pemilihan metode:
Pemilihan metode menggunakan metode granulasi basah karena sangat homogenitas dan
granul lebih terjamin serta untuk zat aktif yang bersifat tahan terhadap pemanasan dan juga tahan
terhadap kelembaban sehingga digunakan metode granulasi basah.
d. Alasan pertimbangan konsentrasi yang ditambahkan:
Penggunaan aerosil dengan konsentrasi 0,1-0,5% berfungsi sebagai glidan untuk
meningkatan fluiditas massa dan menunjang karakteristik aliran dari granul atau meningkatkan
aliran granul dari hopper ke dalam die
Penggunaan PVP karena dalam formula ini PVP sebagai bahan pengikat yang berfungsi
untuk membentuk granul. Dalam pembuatannya zat pengikat ini dibuat dalam bentuk cairan maka
PVP ini dilarutkan didalam etanol (alcohol), karena didalam metode granulasi basah zat aktif
ditambahkan dengan cairan pengikat sehingga menjadi massa yang lembab yang dapat
dibuat granul.
Penggunaan Sodium starch glikolat karena dalam formula ini Sodium starch glikolat
digunakan sebagai penghancur dalam yaitu untuk menghancurkan tablet setelah berada didalam
tubuh sehingga zat aktif nya bisa terabsorpsi didalam tubuh. Konsentrasi sebenarnya 2% sampai
8% maka dari itu 2% yang dipakai untuk formula yang dibuat karena apabila konsentrasi terlalu
besar di takutkan tablet yang dibuat mudah rapuh.
Penggunaan Kalsium stearate karena dalam formula ini Kalsium
stearate berfungsi sebagai lubrikan yaitu untuk mengurangi gesekan massa tablet dengan cetakan
pada saat dilakukan pencetakan tablet dan juga untuk mencegah menempelnya tablet pada punch
atau pada dinding die. Konsentrasi yang di tambahkan 2% karena kasium stearate bagus sebagai
lukrikan dan antiadheren maka dari itu dalam formula ini lubrikan yang di pakai yairtu kalsium
stearate.
Penggunaan avicel pH 102 dengan konsentrasi 20-90 % berfungsi sebagai pengisi dan
avice relatif tidak inkompatibel dengan zat aktif
Penggunaan alkohol karena dalam formula ini alcohol berfungsi sebagai pelarut yaitu
untuk melarutkan PVP sebagai zat pengikat yang dibuat dalam bentuk cairan atau larutan yang
dapat membuat massa siap kepal untuk dibuat granul.
III. PERHITUNGAN
a. Setiap tablet mengandung: 500 mg
b. Bobot tablet: 700 mg
c. Jumlah tablet: 62.700 tablet
III.1 UNTUK TIAP TABLET
1. Fase Dalam (96%)
Total fase dalam = 96% x 700 = 672 mg
Terdiri dari:
a. Valacyclovir hidrocloride = 500 mg
b. PVP = 5% x 700 = 35 mg
c. Sodium Starch Stearat = 2% x 700 =14 mg
d. Avicel 102 =672-(500+35+14) = 123 mg

2. Fase Luar
a. Aerosil = 0,2% x 700 =1,4 mg
b. Kalsium stearat = 2% x 700 =14 mg
III.2 BOBOT GRANUL TEORITIS (FASA DALAM DAN FASA LUAR)
Bobot granul teoritis
Fase Dalam =
a. Valacyclovir = 500mg x 62.700 = 31,350,000 mg
b. PVP = 35 mg x 62.700 = 2,194,500 mg
c. Sodium Starch Stearat = 14 mg x 62.700 = 877,800 mg
d. Avicel 102 = 123 mg x 62.700 = 77,121,984 mg

= 111.544.284 mg
Fase Luar
a. Aerosil = 14 mg x 62.700 = 87,800 mg
b. Kalsium Stearat = 14 mg x 62.700 = 877,800 mg
= 965,580 mg
II.3 PENIMBANGAN
1. Valacyclovir = 31,350,000 mg = 31,350 g
2. PVP = 2.194.500 mg = 2,194.5g
3. Sodium starch stearat = 877,800 mg = 877.8g
4. Avicel 102 = 111,544,284 mg =111,544.284g
5. Aerosil = 87,800 mg = 87.8 g
6. Kalsium stearat = 877,800 mg = 877.8 g
IV. ALUR PROSEDUR PEMBUATAN
1. Semua bahan ditimbang
2. Bahan- bahan yang termasuk fasa dalam (Valacyclovir, PVP, Sodium Starch Stearat, Avicel
102) dicampurkandalam suatu wadah sampai homogen
3. PVP dilarutkan dalam etanol sampai larut
4. Fasa dalam dibasahi dengan larutan PVP sampai terbentuk massa yang dapat dikepal
5. Bahan tersebut diayak dengan ayakan nomor 14 dan terbentuk granul
6. Granul tersebut dikeringkan dalam oven pada suhu 55˚ C
7. Diukur kadar air dengan alat moisture analyzer hingga mencapai 2-5%
8. Dilakukan pengayakan kembali dengan pengayak nomor 16 (jika granul yang lewat melebihi 25%
maka dilakukan pembasahan dan penggranulan kembali)
9. Granul tersebut dievaluasi meliputi : kompresibilitas, sifat alir dan sudut istirahat
10. Kemudian dicampurkan dengan fasa luar sampai homogen
11. Dilakukan evaluasi kembali
12. Dilakukan pencetakan tablet
13. Dilakukan evaluasi tablet meliputi keseragaman bobot, keseragaman ukuran, kekerasan,
friabilitas, friksibilitas dan waktu hancur
V. EVALUASI YANG DILAKUKAN
5.1 Granul
5.1.1 Penetapan kadar air
Granul diambil dalam oven kemudian disimpan dalam piring dan ratakan, lalu dimasukkan
kedalam alat moisture analyzer. Didiamkan beberapa waktu hingga skala menunjukkan angka
yang tetap. Kadar air granul dapat dibaca pada skala tetap.
5.1.2 Penetapan bobot jenis, bobot jenis mampat, kadar kemampatan dan porositas.
Sebanyak 20gram, granul dimasukkan kedalam gelas ukur 100 ml. Dicatat volumenya
(Vo), kemudian dilakukan pengetukkan. Volume pada ketukan ke 100 diukur, lalu dilakukan
perhitungan.
5.1.3 Kecepatan Aliran.
a. Set skala pada posisi.
b. Dimasukkan granul ke dalam corong.
c. Alat dihidupkan.
d. Dicatat waktu alir.
e. Dihitung aliran granul.
5.1.4 Sudut istirahat
a. Prosedur pada no.4 dilakukan kembali.
b. Diukur tnggi puncak taburan granul.
c. Diukur diameter lingkaran yang terbentuk dari jatuhan granul.
d. Dihitung sudut yang terbentuk dari jatuhan granul tersebut antara bidang datar dengan tinggi
granul.
5.2 Tablet
5.2.1 Penampilan
a. Tablet diamati secara visual
b. Dilihat dan diamati warna, bentuk dan bau tablet
5.2.2 Keseragaman ukuran
a. Diambil secara acak 20 tablet
b. Lalu diukur diameter dan tebalnya dengan menggunakan jangka sorong
5.2.3 Keseragaman bobot
a. Diambil 20 tablet secara acak
b. Lalu ditimbang masing-masing tablet
c. Dihitung rata-rata dan penyimpangan terhadap tablet.
5.2.4 Kekerasan tablet
a. Diambil 20 tablet secara acak.
b. Kekerasan diukur berdasarkan luas permukaan dengan menggunakan beban yang dinyatakan
dengan Kg dengan menggunakan alat Hardness tester.
c. Dihitung kekerasan rata-rata dan standar deviasinya.
5.2.5 Friabilitas
a. Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator
b. Diambil 20 tablet secara acak
c. Tablet dibersihkan dari debu lalu ditimbang
d. Tablet dimasukan kedalam alat
e. Alat dinyalakan selama 4 menit
f. Tablet dibersihkan dan ditimbang.
g. Dihitung friabilitasnya.
5.2.6 Friksibilitas
a. Diambil 20 tablet secara acak.
b. Dilakukan dengan menggunakan alat friabilator.
c. Tablet dibersihkan dari debu kemudian ditimbang.
d. Tablet dimasukkan ke alat, alat dinyalakan selama 4 menit.
e. Tablet dibersihkan dan ditimbang.
f. Dihitung friksibilitasnya.
5.2.7 Uji waktu hancur
a. Diambil 6 tablet secara acak.
b. Dimasukkan tablet ke masing-masing tabung desintegrasi tester.
c. Dimasukkan cakram pada setiap tabung dan nyalakan alat.
d. Dilihat waktu hancur tablet pertama dan terakhir.