Anda di halaman 1dari 47

 Upload
 Login
 Signup


Submit Search

 Home

 Explore

 Presentation Courses

 PowerPoint Courses

 by LinkedIn Learning
9 of 84

Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan


Kualitas Tidur Ibu Hamil Primigravida
Trimester III
4,591 views

 Share

 Like

 Download

 ...

Bli De Bean
, "Produsen"
Follow

Published on Aug 5, 2015

Skripsi Keperawatan

...
Published in: Healthcare
 0 Comments
 4 Likes
 Statistics
 Notes

Post
 Be the first to comment

Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Ibu Hamil


Primigravida Trimester III
1. 1. HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS TIDUR PADA IBU HAMIL
PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI PUSKESMAS SIDOREJO LAMPUNG TIMUR TAHUN
2015 SKRIPSI Oleh : GEDE ROBIN NPM. 11320022 PROGRAM STUDI ILMU
KEPERAWATAN FK UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG 2015
2. 2. ii HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS TIDUR PADA IBU
HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI PUSKESMAS SIDOREJO LAMPUNG TIMUR
TAHUN 2015 SKRIPSI Oleh : GEDE ROBIN NPM. 11320022 Disusun sebagai salah satu syarat
untuk mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep) PROGRAM STUDI ILMU
KEPERAWATAN FK UNIVERSITAS MALAHAYATI BANDAR LAMPUNG 2015
3. 3. iii LEMBAR PERSETUJUAN HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN
KUALITAS TIDUR PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI PUSKESMAS
SIDOREJO LAMPUNG TIMUR TAHUN 2015 Nama : Gede Robin NPM : 11320022 Telah
diperiksa dan disetujui oleh pembimbing untuk seminar hasil skripsi di Program Studi Ilmu
Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati. Bandar Lampung, Juli 2015
Pembimbing I Pembimbing II (Triyoso, S.Kep., Ns., M.Kes) (Rahma Elliya, S.Kp., M.Kes)
4. 4. iv LEMBAR PENGESAHAN HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN
KUALITAS TIDUR PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III DI PUSKESMAS
SIDOREJO LAMPUNG TIMUR TAHUN 2015 Nama : Gede Robin NPM : 11320022 Diterima
oleh Tim Penguji pada Ujian Sidang Skripsi di Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas
Kedokteran Universitas Malahayati tahun akademik 2011. Penguji I : Triyoso, S.Kep., Ns., M.Kes
____________ Penguji II : Rahma Elliya, S.kp., M.Kes ____________ Penguji III : Aryanti W,
Ns., M.Kep., Sp.Mat ____________ Tanggal Ujian : Juli 2015 Mengetahui Ketua Program Studi
Ilmu Keperawatan FK Universitas Malahayati Bandar Lampung Andoko, S.Kep., Ns., M.Kes
5. 5. v ABSTRAK Hubungan Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur Pada Ibu Hamil
Primigravida Trimester III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur Tahun 2015 Oleh : Gede
Robin Wanita hamil yang telah memasuki usia kandungan trimester III mengalami gangguan tidur
akibat rasa cemas menjelang proses persalinan. Khususnya ketika ibu hamil baru pertamakali
mengalami kehamilan (primigravida). Di Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur jumlah ibu hamil
primigravida mencapai 35 orang, yang mengalami kecemasan sedang-berat sebanyak 24 (68,6 %)
dan yang mengalmi kualitas tidur buruk sejumlah 24 orang (68,6%). 20 orang (83,3%) yang
mengalami kecemasan sedang-berat mengalami kualitas tidur yang buruk. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil
trimester III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur Tahun 2015. Penelitian ini bersifat kuantitatif
dengan desain survey analitik. Rancangan penelitian menggunakan pendekatan cross-sectional.
Total populasi ibu hamil primigravida di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur adalah 75 orang.
Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 35 orang yaitu ibu hamil primigravida trimester III,
dengan menggunakan tekhnik purposive sampling. Instrumen penelitian terdiri dari kuesioner
HARS untuk mengukur tingkat kecemasan dan PSQI untuk mengukur kualitas tidur. Analisa
bivariat yang digunakan yaitu menggunakan rumus chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil penelitian menunjukan bahwa sebanyak 35 ibu hamil primigravida trimester III, 65,7%
menunjukan tingkat kecemasan sedang sampai kecemasan berat dan 68,6% menunjukan kualitas
tidur buruk. Hasil dari penelitian ini diperoleh p-value = 0,015 yang berarti adanya hubungan
antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil primigravida trimester III. Hasil
penelitian didapatkan hasil OR = 8,750. Untuk peneliti selanjutnya disarankan untuk meneliti
tentang gambaran faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas tidur pada ibu hamil trimester
III. Kata Kunci : Tingkat kecemasan; kualitas tidur; primigravida; kehamilan trimester III.
Kepustakaan : 18 (2005 - 2015)
6. 6. vi ABSTRACT The Correlation Between Anxiety Levels and Sleep Quality Maternal
Primigravidae Trimester III In PHC Sidorejo East Lampung 2015 By: Gede Robin Pregnant
women when entering the third trimester of pregnancy will sleep disorders cause‟s anxiety ahead
of the birth process. Especially when pregnant women is first pregnancy (primigravida). The PHC
Sidorejo, East Lampung number of primigravidae pregnant women reached 35 people, who
experience moderate to severe anxiety were 24 (68.6 %) a and those with poor sleep quality a
number of 24 people (68.6 %) . 20 people (83.3 %) who experienced moderate to severe anxiety
experienced poor sleep quality. The purpose of this study was to determine the relationship
between the level of anxiety with sleep quality third trimester pregnant women in health centers
Sidorejo East Lampung 2015. This research was a quantitative analytical survey design. The
design of the study using cross-sectional approach. Total population in PHC Sidorejo, East
Lampung is 75 Primigravidae pregnant women. The number of samples in this study were 35
respondent that‟s primigravidae pregnant women in third trimester, using purposive sampling
techniques. The research instrument consisted of a questionnaire to measure the level of anxiety
Hars and the PSQI to measure sleep quality. Bivariate analysis using the formula used is chi-
square with a significance level of 0.05. The results showed that as many as 35 primigravidae
pregnant women in third trimester, 65.7% showed moderate levels of anxiety to severe anxiety
and 68.6% showed poor sleep quality. Results of this study was obtained p-value = 0.015, which
means there is a correlation between the level of anxiety in primigravidae pregnant women sleep
quality third trimester. Results of the study showed OR = 8.750. Suggested for further research to
examine the description of the factors that can affect the quality of sleep in the third trimester
pregnant women. Keywords: Levels of anxiety; quality of sleep; primigravidae; gestation the third
trimester. Bibliography: 18 (2005 - 2015)
7. 7. vii IODATA PENULIS Nama : GEDE ROBIN TTL : OKU Timur, 20 November 1993 Agama
: Hindu Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Harapan Jaya, Semendawai Timur, OKU Timur, Sum-
Sel RIWAYAT PENDIDIKAN 1. SD : SD N 2 Semendawai Suku III, Lulus tahun 2005 2. SMP :
SMP N 2 Semendawai Timur, Lulus tahun 2008 3. SMA : SMA PGRI 2 Palembang, Lulus tahun
2011 4. PSIK : Universitas Malahayati Bandar Lampung 2011-Sekarang
8. 8. viii MOTTO “ Kita tidak akan pernah tahu hasil dari dari apa yang kita lakukan, tetapi kita
tidak akan mendapatkan hasil jika tidak melakukan apa-apa” (Mahatma Gandhi)
9. 9. ix SURAT PERNYATAAN ORIGINALITAS SKRIPSI Saya yang bertanda tangan dibawah ini
Nama : Gede Robin NPM : 11320022 Fakultas : Kedokteran / Program Studi Ilmu Keperawatan
HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KUALITAS TIDUR IBU HAMIL
TRIMESTER III DI PUSKESMAS SIDOREJO LAMPUNG TIMUR TAHUN 2015 Dengan ini
menyatakan bahwa: Skripsi yang saya buat tidak pernah/belum pernah dibuat oleh orang lain dan
saya menjamin orisinalitas skripsi yang saya buat. Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan
sebenar-benarnya dan dapat dipertanggungjawabkan. Bandar lampung, 30 Juli 2015 Yang
membuat pernyataan Gede Robin
10. 10. x PERSEMBAHAN Om Swastyastu Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang
Widhi Wasa atas Karunia-Nya yang selalu memberikan petunjuk dalam setiap langkahku, izinkan
saya mempersembahkan skripsi ini kepada: - Ibundaku Ni Made Murtini yang selalu memberikan
kasih sayang, memotivasi, mendukung, menginspirasi dan selalu mendoakan aku dalam setiap
doanya. - Ayahku I Gede Pujo yang selalu memberikan semangat, kasih sayang, mendo‟akan dan
bekerja untuk membiayaiku sekolah selama ini. - Triyoso, S.Kep., Ns., M.Kes selaku pemimbing I
dan Rahma Elliya, S.Kp., M.Kes Selaku pembimbing II yang telah banyak memberikan saran dan
motovasi untuk perbaikan skripsi ini. - Aryanti, Ns., M.Kep., Sp.Kep Mat selaku penguji yang
telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini. - Untuk orang spesial Wayan
Hariyati, yang selalu memberikan do‟a, semangat dan dukungan buat penyelesaian skripsi ini. -
Untuk sahabatku I Gede Fredy V.S, Alfen Stefanes, Ida Bagus Kade Likita, Made Laga dan
teman-teman lain yang penulis tidak bisa sebutkan semuanya yang selalu mendukung dan
membantuku dalam segala hal. - Seluruh pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi
ini, baik secara langsung maupun tidak langsung. - Almamater tercinta Universitas Malahayati
yang telah mendewasakanku. Penulis menyadari bahwa skripsi ini belum sempurna, saran dan
kritikan yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan peneliti pada khusunya. Bandar Lampung, Juli 2015 (Peneliti)
11. 11. xi DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...................................................................................... ii
KATA PENGANTAR.................................................................................... iv DAFTAR
ISI................................................................................................... vi DAFTAR TABEL
.......................................................................................... viii DAFTAR
GAMBAR...................................................................................... ix DAFTAR
LAMPIRAN.................................................................................. x BAB I PENDAHULUAN 1.1
Latar Belakang .............................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah
......................................................................... 7 1.3 Tujuan
Penelitian........................................................................... 7 1.4 Manfaat
Penelitian......................................................................... 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1
Tidur ................................................................................................ 9 2.1.1 Konsep
Tidur......................................................................... 9 2.1.2 Gangguan Tidur Ibu Hamil
................................................... 16 2.1.3 Kualitas Tidur Ibu
Hamil....................................................... 17 2.1.4 Pengukuran Kualitas
Tidur.................................................... 18 2.2 Konsep
Kecemasan........................................................................... 22 2.2.1 Definisi
Kecemasan............................................................... 22
12. 12. xii 2.2.2 Tanda Gejala Kecemasan ...................................................... 22 2.2.3 Faktor penyebab
Kecemasan................................................. 24 2.2.4 Tingkat Kecemasan
............................................................... 26 2.2.5 Kecemasan Ibu Hamil
........................................................... 27 2.2.6 Pengukuran Tingkat Kecemasan
........................................... 28 2.3 Penelitian
Terkait............................................................................. 30 2.5 Kerangka
Teori................................................................................ 31 2.6 Kerangka
Konsep............................................................................. 32 2.7 Hipotesis
.......................................................................................... 32 BAB III METODOLOGI
PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian................................................................................... 33 3.2
Waktu dan Tempat Penelitian............................................................ 33 3.3 Rancangan
Penelitian......................................................................... 33 3.4 Subjek Penelitian
............................................................................... 34 3.5 Variabel
Penelitian............................................................................. 34 3.6 Definisi Operasional
.......................................................................... 35 3.7 Pengumpulan
Data............................................................................. 36 3.8 Pengolahan Data
................................................................................ 38 3.9 Analisa
Data....................................................................................... 39
13. 13. xiii BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi
Penelitian ............................................. 40 4.2 Hasil Penelitian
............................................................................. 41 4.3
Pembahasan................................................................................... 44 BAB V SIMPULAN DAN
SARAN 5.1 Simpulan ........................................................................................ 50 5.2
Saran............................................................................................... 51 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Kebutuhan Tidur Manusia
............................................................... 32 Tabel 3.1 Definisi Operasional
........................................................................ 43 Tabel 4.1 Tingkat
Kecemasan.......................................................................... 43 Tabel 3.1 Kualitas Tidur
.................................................................................. 43 Tabel 3.1 Hubungan Kecemasan dan
Kualitas Tidur....................................... 43
14. 14. xiv DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Tahapan Siklus Tidur
Dewasa...................................................... 29 Gambar 2.2 Kerangka
Teori............................................................................. 39 Gambar 2.3 Kerangka
Konsep......................................................................... 39
15. 15. xv DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Lampiran 2 Lembar Kuesioner
HARS Lampiran 3 Lembar Kuesioner PSQI Lampiran 4 Surat Balasan Penelitian Lampiran 5
Lembar Konsultasi Pembimbing Lampiran 6 Dokumentasi Penelitian
16. 16. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan adalah proses bergabung nya
sperma dan ovum (gamet pria dan wanita) untuk menciptakan suatu sel tunggal yang disebut
dengan zigot , yang kemudian menggandakan diri berkali-kali melalui pembelahan sel untuk
menjadi lahir (Papalia, 2008). Pada wanita hamil terdapat tanda dan gejala yaitu amenore (wanita
hamil yang tidak haid lagi), nausea (enek), mengidam (menginginkan makanan atau minuman
tertentu), pingsan, payudara membesar dan tegang, anoreksia (tidak nafsu makan), sering kencing,
obstipasi (sulit buang air besar), pigmentasi kulit (biasanya terjadi pada pipi, hidung dan dahi),
pigmentasi kulit, vasrises (Jannah, 2013). Kehamilan merupakan episode dramatis dari kondisi
biologis maupun psikis yang tentunya memerlukan adaptasi bagi wanita yang sedang
mengalaminya. Perubahan fisik dan emosional yang kompleks memerlukan adaptasi terhadap
penyesuaian pola hidup dengan proses kehamilan yang terjadi. Persoalan dalam kehamilan itu
sendiri dapat menjadi pencetus berbagai reaksi psikologis mulai dari reaksi emosional yang ringan
hingga ke tingkat gangguan jiwa yang berat (Mansur, 2009). Kehamilan berlangsung dalam waktu
280 hari (40 minggu). Kehamilan wanita dibagi menjadi tiga tribulan (triwulan) pertama (0-12
minggu), tribulan (triwulan) kedua (13-28 minggu), tribulan (triwulan) ketiga (20-40 minggu)
(Manuaba, 2009).
17. 17. 2 Selama masa kehamilan dari trimester I, II sampai dengan trimester III terjadi perubahan
pada ibu baik fisik maupun psikis. Perubahan fisik pada ibu hamil trimester pertama biasanya
berupa mual akibat terjadinya peningkatan hormon hCG dalam darah, sakit kepala / pusing,
merasa lelah, sering meludah,dan kram perut akibat pembesaran rahim. Pada trimester kedua
adapun perubahan fisik pada ibu hamil ditandai dengan meningkatnya frekuensi berkemih,
bengkak kaki dan tumit, adanya konstipasi, munculnya varices, sakit pinggang, dan tanda bergaris
pada perut. Sedangkan pada trimester ketiga ciri perubahan fisik ialah kaki bertambah bengkak
dan terasa nyeri, frekuensi buang air kecil semakin meningkat, suhu tubuh ibu meningkat, rahim
yang sering berkontraksi, payudara mengeluarkan kolostrum, nyeri punggung hingga sesak nafas
sehingga kesulitan mendapat posisi nyaman untuk tidur (Janiwanty & Pieter, 2013). Perubahan
psikis pada ibu hamil trimester pertama diantaranya ketidakyakinan/ketidakpastian, ambivalen,
seksual yang menurun, perubahan emosional, guncangan psikologis pada ibu hamil primigravida,
dan stress. Keadaan psikis pada trimester kedua pada ibu hamil akan tampak lebih tenang dan
mulai beradaptasi, namun terkadang ibu akan merasa khawatir dengan janin yang dikandung, dan
mencemaskan akan kondisi janinnya apakah akan dilahirkan sehat atau cacat. Pada trimester III,
perubahan psikologi ibu terkesan lebih kompleks dan meningkat kembali dibanding trimester
sebelumnya, dan ini tidak lain dikarenakan kondisi kehamilan yang semakin membesar dan akan
dilakukannya persalinan dan memikirkan tugas-tugas apa yang akan dilakukan setelah kelahiran
(Janiwanti & Pieter, 2013).
18. 18. 3 Pada trimester III wanita hamil mengalami kecemasan semakin bertambah yang disebabkan
karena munculnya rasa takut untuk melahirkan dan kekhawatiran semakin membesar terhadap
anak yang akan dilahirkan nanti (Detiana, 2010). Tingkat kecemasan ibu akan semakin meningkat.
Banyak calon ibu sering berkhayal atau bermimpi tentang hal-hal negatif akan terjadi pada
bayinya saat melahirkan nanti. Khayalan-khayalan tersebut seperti kelainan letak bayi, tidak dapat
melahirkan, atau bahkan janin akan lahir dengan kecacatan. Calon ibu menjadi sangat merasa
bergantung pada pasangannya. Perasaan bahwa janin merupakan bagian yang terpisah semakin
kuat dan meningkat. Peningkatan keluhan somatik dan ukuran tubuh pada trimester III dapat
menyebabkan kenikmatan dan rasa tertarik terhadap aktivitas seksual menurun ( Bobak, 2005).
Hal ini tidak bisa di biarkan berlarut-larut pada ibu hamil, karena menurut Janiwanty dan Pieter
(2013) kecemasan adalah salah satu faktor penyebab keguguran (abortus). National Institute of
Mental Health (2005) di Amerika Serikat terdapat 40 juta orang berusia < 20 tahun mengalami
gangguan kecemasan menjelang persalinan (Pikirdong, 2008). Penelitian yang berkaitan dengan
kejadian persalinan lama, 65% disebabkan karena kontraksi uterus yang tidak efisien. Menurut
Oldetal (2000), adanya disfungsional kontraksi uterus sebagai respon terhadap kecemasan
sehingga menghambat aktifitas uterus. Respon tersebut adalah bagian dari komponen psikologis,
sehingga dapat dinyatakan bahwa faktor psikologis mempunyai pengaruh terhadap terjadinya
gangguan proses persalinan.
19. 19. 4 Gangguan tidur selalu menyerang ibu hamil tanpa alasan yang jelas. Gangguan tidur lebih
banyak berkaitan dengan masalah psikis, seperti rasa kekhawatiran (cemas). Sulit tidur sering
terjadi pada ibu yang baru pertama kali hamil (primigravida) dan menjelang kelahiran (trimestrer
III) (Janiwanty & Pieter, 2013). Pada trimester III pada umumnya wanita mengalami sulit tidur
adapun penyebabnya yaitu perubahan hormon, stress, pergerakan janin yang berlebihan, posisi
tidur yang tidak nyaman, sering buang air kecil dan sakit pada pinggang karena terjadi peregangan
tulang-tulang terutama di daerah pinggang yang sesuai dengan bertambah besarnya kehamilan
(Huliana, 2007). Menurut Janiwanty dan Pieter (2013), dampak buruk tidur bagi kesehatan adalah
dapat mengakibatkan depresi, kurang konsentrasi dalam beraktivitas, gangguan pembelajaran
verbal, gangguan memori, gangguan artikulasi bicara, gangguan pengindraan, kondisi emosi yang
gampang meledak, stress, denyut jantung cepat (hipertensi), dan gangguan motorik. Dan jika
depresi, stress dan hipertensi terjadi pada wanita hamil, dapat berakibat buruk bagi ibu dan
janinnya. Karena bisa mengakibatkan prematur dan BBLR pada bayi, preeklamsi pada ibu hamil
bahkan bisa mengakibatkan terjadinya abortus pada bayi. Manusia menggunakan sepertiga waktu
dalam hidup untuk tidur. Data hasil polling tidur di Amerika oleh National Sleep Foundation
didapat bahwa ternyata wanita lebih banyak mengalami gangguan tidur dibandingkan dengan laki
– laki, yaitu 63% : 54 % (National Sleep Foundation, 2007).
20. 20. 5 Menurut data hasil survei National sleep Foundation (2007), 78% wanita hamil di Amerika
mengalami gangguan tidur dan 97,3% dan wanita hamil trimester tiga selalu terbangun dimalam
hari. Rata-rata 3-11 kali setiap malam.Penelitian yang dilakukan University of California di San
Francisco menemukan fakta, wanita yang tidur kurang dari 6 jam per malam memiliki
kemungkinan menjalani operasi caesar 4,5 kali lebih besar. Menurut penelitian yang dilakukan
University of Medicine and Dentistry of New jersey, New Brunswick, gangguan tidur ini
meningkatkan risiko meningginya tekanan darah saat hamil menjadi empat kali lipat. Studi yang
dilakukan University of Pittsburgh School of Medicine menunjukkan kualitas dan kuantitas tidur
yang buruk akan mengganggu proses kekebalan tubuh. Pada ibu hamil, hal itu akan memperbesar
risiko berat bayi lahir rendah, pre-eklamsi dan komplikasi kesehatan lain. Badan kesehatan dunia
memperkirakan ada sekitar 145.000.000 wanita hamil diseluruh dunia dan sekitar 289.000 wanita
hamil meninggal saat melakukan persalinan (WHO, 2013). Menurut survey Badan Kependudukan
dan Keluarga Berencana Nasional, data Ibu hamil di Indonesia mencapai 5.192.427 dan khusus
untuk provinsi Lampung 186.372 ibu hamil (BKKBN, 2011). Angka Kematian Ibu (AKI) di
Indonesia sebesar 228/100.000 kelahiran hidup (Depkes, 2007). Namun menurut Depkes RI tahun
2008 angka kematian ibu di Indonesia mencapai 420 kasus. Di Indonesia, sekitar 28% kematian
ibu disebabkan karena perdarahan, 13% ekslampsi atau gangguan akibat tekanan darah tinggi saat
kehamilan, 9% partus lama, 11% komplikasi aborsi dan 10% akibat infeksi (Depkes RI, 2010).
21. 21. 6 Berdasarkan kasus kematian yang ada di Provinsi Lampung tahun 2012 kasus kematian ibu
hamil seluruhnya sebanyak 179 kasus dimana kasus kematian ibu terbesar ( 59,78% ) terjadi pada
saat persalinan dan 70,95% terjadi pada usia 20 – 34 tahun. Penyebab kasus kematian ibu di
Provinsi lampung tahun 2012 disebabkan oleh perdarahan, eklamsi, infeksi dan lain-lain (Depkes
RI, 2012). Dari data yang di peroleh jumlah ibu hamil di puskesmas Sidorejo Lampung Timur
tahun 2014 berjumlah 185 orang. Ibu hamil primigravida mencapai 78 orang, dan jumlah ibu
hamil primigravida trimester III mencapai 38 orang. Berdasarkan studi pendahuluan di Puskesmas
Sidorejo Lampung Timur dengan survey dan wawancara, data yang peneliti peroleh dari 10 orang
ibu hamil primigravida trimester III, 4 orang diantaranya mengeluhkan sulit untuk bernafas dan
merasa tidur nya tidak nyenyak karena posisi tidur yang serba salah karena perut yang besar,
sehingga berpengaruh pada kegiatan ibu keesokan harinya seperti menurunya konsentrasi kegiatan
ibu disiang hari, serta merasa pusing. Sedangkan 5 ibu hamil yang lain sulit tidur karena
mengkhawatiran nasib janin yang sedang dia kandung, mereka mengeluhkan cemas dan takut
pada saat memasuki trimester III jika nanti anaknya dilahirkan tidak normal. Hanya seorang ibu
yang tidak mengalami kecemasan dan gangguan tidur.
22. 22. 7 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan dari uraian latar belakang diatas, peneliti merasa perlu
untuk diadakan penelitian tentang hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada ibu
hamil primigravida trimester ke III di Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur. Karena angka
kejadian abortus di daerah Sidorejo, Lampung Timur cukup tinggi dan juga TD ibu hamil
Trimester III di Puskesmas Sidorejo, Lampung timur cenderung meningkat. 1.3 Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum Diketahui hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur pada ibu hamil
primigravida trimester ke III di Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur. 2. Tujuan Khusus 1.
Diketahui tingkat kecemasan pada ibu hamil primigravida trimester ke III di Puskesmas Sidorejo,
Lampung Timur 2. Diketahui kualitas tidur pada ibu hamil primigravida trimester ke III di
Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur 3. Diketahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan
kualitas tidur pada ibu hamil primigravida trimester ke III di Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur
23. 23. 8 1.4 Manfaat Penelitian 1. Bagi peneliti Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi
kesehatan di komunitas dan dapat menjadi informasi yang mendukung dalam pembuatan
intervensi keperawatan yang tepat dalam memberikan asuhan keperawatan maternitas dan jiwa. 2.
Bagi petugas kesehatan Sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi petugas kesehatan di
Puskesmas Sidorejo Lampung Timur dalam rangka mengatasi kecemasan dan kualitas tidur yang
buruk untuk ibu hamil. 3. Bagi peneliti selanjutnya Hasil penelitian dapat dijadikan referensi
untuk penelitian keperawatan dan untuk dikembangkan pada penelitian berikutnya dalam ruang
lingkup kualitas tidur pada ibu hamil primigravida trimester ke III.
24. 24. 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tidur 2.1.1 Konsep Tidur a. Pengertian Tidur
merupakam suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau s
ensori yang sesuai. Dengan kata lain, tidur merupakan suatu keadaan tidak sadarkan diri yang
relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih kepada urutan siklus
yang berulang (Uliyah & Hidayat, 2008). b. Fisiologi Tidur Fisiologi tidur merupakan pengaturan
kegiatan tidur oleh adanya hubungan mekanisme serebral yang secara bergantian untuk
mengaktifkan dan menekan pusat otak agar dapat tidur dan bangun. Aktivitas tidur ini salah
satunya diatur oleh sistem pengaktivasi retikularis yang merupakan sistem yang mengatur seluruh
tingkatan kegiatan susunan saraf pusat termasuk pengaturan kewaspadaan dan tidur. Letak pusat
pengaturan aktivitas kewaspadaan dan tidur terdapat dalam mesensefalon dan bagian atas pons.
Sedangkan, reticular activating system (RAS) dapat memberikan rangsangan visual, nyeri,
pendengaran, dan perabaan juga dapat menerima stimulasi dari korteks serebri termasuk
rangsangan proses pikir dan emosi. Dalam keadaan
25. 25. 10 sadar, neuron dalam RAS akan melepaskan katekolamin dan noreoineprin. Demikian juga
pada saat tidur, kemungkinan disebabkan adanya perlepasan serum serotonin dari sel khusus yang
berada di pons dan batang otak tengah, yaitu bulbar synchonizing regional (BSR), sedangkan
bangun tergantung dari keseimbangan impuls yang diterima dipusat otak. Dengan demikian,
sistem pada batang otak yang mengatur siklus atau perubahan dalam tidur adalah RAS dan BSR
(Uliyah & Hidayat, 2008). c. Tahapan Tidur Berdasarkan prosesnya, tidur melibatkan dua fase
yaitu tidur non- rapid eye movement (NREM) dan tidur rapid eye movement (REM) BSR (Uliyah
& Hidayat, 2008). 1) Tidur NREM Tidur NREM disebabkan oleh penurunan kegiatan dalam
sistem pengaktifan retikularis. Tahapan tidur ini disebut juga tidur gelombang lambat (slow wave
sleep), karena gelombang otak bergerak dengan sangat lambat. Tidur NREM terbagi menjadi 4
tahap, yaitu sebagai berikut: a) Tahap I Tahap I merupakan tingkat paling dangkal dari tidur dan
merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur. Tahap ini ditandai dengan pengurangan
aktivitas fisiologis dimulai dengan penurunan tanda-tanda vital dan metabolisme secara bertahap,
26. 26. 11 individu yang cenderung rileks, merasa mengantuk serta mudah terbangun oleh stimulus
sensori seperti suara. Tahap I normalnya berlangsung sekitar 5 menit atau sekitar 5% dari total
tidur. b) Tahap II Tahap II merupakan tahapan ketika individu masuk pada tahap tidur, tetapi
masih dapat bangun dengan mudah. Tahap I dan tahap II termasuk dalam tahap tidur ringan (light
sleep). Tahap II normalnya berlangsung selama 10-20 menit dan merupakan 50- 55% dari total
tidur. c) Tahap III Tahap II merupakan awal dari tahap tidur dalam atau tidur nyenyak (deep
sleep). Tahap ini dicirikan dengan relaksasi otot- otot serta perlambatan denyut nadi, frekuensi
nafas dan proses tubuh yang lain. Pada tahap III, individu cenderung sulit dibangunkan. Tahap III
berlangsung selama 15-30 menit dan merupakan 10% dari total tidur. d) Tahap IV Pada tahap IV
merupakan tahap tidur terdalam atau delta sleep. Tahap IV ditandai dengan perubahan fisiologis,
yatu EEG gelombang otak melemah serta penurunan denyut jantung, tekanan darah, tonus otot,
metabolisme, dan suhu tubuh. Pada tahap ini individu jarang bergerak dan sangat sulit untuk
27. 27. 12 dibangunkan. Tahap ini berlangsung selama 15-30 menit dan merupakan 10% dari total
tidur. 2) Tidur REM Tidur REM disebut juga tidur paradoks. Pada tahapan ini biasanya terjadi
rata-rata setiap 90 menit setelah mulai tidur dan berlangsung selama 5-20 menit. Tidur REM tidak
senyenyak tidur NREM, hal ini dicirikan dari pergerakan mata yang cepat, kecepatan respirasi,
fluktuasi jantung dan peningkatan tekanan darah. Pada tidur REM biasanya sebagian besar mimpi
terjadi, tidur REM penting untuk keseimbangan mental dan emosi. Selain itu, tahapan tidur ini
juga berperan dalam proses belajar, memori, dan adaptasi. Tidur REM ditandai dengan: a) Lebih
sulit dibangunkan atau justru dapat bangun tiba-tiba. b) Sekresi lambung meningkat. c) Frekuensi
denyut jantung dan pernapasan sering kali menjadi tidak teratur. d) Terjadi beberapa gerakan otot
yang tidak teratur pada otot perifer. e) Mata cepat tertutup dan terbuka. f) Metabolisme meningkat.
g) Tidur ini penting untuk keseimbangan mental, emosi, juga berperan dalam belajar, memori dan
adaptasi.
28. 28. 13 Gambar 2.1 Tahapan Siklus Tidur Dewasa (Sumber: Potter & Perry, 2010) d. Faktor yang
mempengaruhi tidur Menurut Iliyah & Hidayat (2008) kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi
oleh beberapa faktor. Kualitas tersebut dapat menunjukkan adanya kemampuan individu untuk
tidur dan memperoleh jumlah istirahat sesuai dengan kebutuhannya. Di antara faktor yang dapat
memengaruhinya adalah : 1) Penyakit Sakit dapat memengaruhi kebutuhan tidur seseorang.
Banyak penyakit yang dapat memperbesar kebutuhan tidur seperti penyakit yang disebabkan oleh
infeksi, terutama infeksi limpa. Infeksi limpa berkaitan dengan keletihan, sehingga Kantuk pra-
tidur NREM tahap 1 NREM tahap 2 NREM tahap 3 NREM tahap 4 Tidur REM NREM tahap 3
NREM tahap 2
29. 29. 14 penderitanya membutuhkan lebih banyak waktu tidur untuk mengatasinya. Banyak juga
keadaan sakit yang menjadikan pasien kurang tidur, bahkan tidak bisa tidur. 2) Latihan dan
kelelahan Keletihan akibat aktivitas yang tinggi dapat memerlukan lebih banyak tidur untuk
menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan. Hal tersebut terlihat pada seseorang yang
telah melakukan aktivitas dan mencapai kelelahan. Maka, orang tersebut akan lebih cepat untuk
dapat tidur karena tahap tidur gelombang lambatnya diperpendek. 3) Stress psikologis Kondisi
stres psikologis dapat terjadi pada seseorang akibat ketegangan jiwa. Seseorang yang memiliki
masalah psikologis akan mengalami kecemasan sehingga sulit untuk tidur. 4) Obat Obat dapat
juga memengaruhi proses tidur. Beberapa jenis obat yang mempengaruhi proses tidur jenis
golongan obat diuretik dapat menyebabkan insomnia, antidepresan dapat menekan, kafein dapat
meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur, golongan beta bloker dapat
berefek pada timbulnya insomnia dan golongan narkotik dapat menekan REM sehingga mudah
mengantuk.
30. 30. 15 5) Nutrisi Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur.
Konsumsi protein yang tinggi maka sescorang tersebut akan mempercepat proses tcrjadinya tidur,
karcna dihasilkan triptofan yang merupakan asam amino hasil pencernaan protein yang dicerna
dapat membantu mudah tidur. Demikian sebaliknya, kebutuhan gizi yang kurang dapat juga
memengaruhi proses tidur, bahkan terkadang sulit untuk tidur. 6) Lingkungan Keadaan
lingkungan yang aman dan nyaman bagi seseorang dapat mempercepat proses terjadinya tidur.
Sebaliknya lingkungan yang tidak aman dan nyaman bagi seseorang dapat menyebabkan
hilangnya ketenangan sehingga mempengaruhi proses tidur. 7) Motivasi Motivasi merupakan
suatu dorongan atau keinginan seseorang untuk tidur, dapat memengaruhi proses tidur. Selain itu,
adanya keinginan untuk tidak tidur dapat mcnimbulkan gangguan proses tidur. e. Kebutuhan Tidur
Normal Kebutuhan tidur pada manusia bergantung pada tingkat perkembangan.
31. 31. 16 Tabel 2.1 Kebutuhan Tidur Manusia Usia Tingkat Perkembangan Jumlah Kebutuhan Tidur
0-1 bulan Masa neonatus 14-18 jam/hari 1 bulan- 18 bulan Masa bayi 12-14 jam/hari 18 bulan- 3
tahun Masa anak 11-12 jam/hari 3 tahun- 6 tahun Masa prasekolah 11 jam/hari 6 tahun- 12 tahun
Masa sekolah 10 jam/hari 12 tahun- 18 tahun Masa remaja 8,5 jam/hari 18 tahun- 40 tahun Masa
dewasa muda 7-8 jam/hari 40 tahun- 60 tahun Masa paruh baya 7 jam/hari 60 tahun ke atas Masa
dewasa muda 6 jam/hari (Sumber: Uliyahh & Hidayat, 2008) 2.1.2 Gangguan Tidur Ibu Hamil
Ada beberapa masalah tidur yang biasanya terjadi pada ibu hamil. Menurut sehatfresh.com,
gangguan tidur yang biasanya terjadi pada kehamilan berdasarkan pembagian trimester adalah
sebagai berikut: a. Trimester pertama Pada trimester pertama ini ibu hamil akan sering terbangun
malam karena perubahan sistem perkemihan yang mengharuskan untuk ke kamar mandi untuk
melepaskan hasrat ingin buang air kecil. Keluhan sulit tidur biasanya juga muncul karena stres,
dimana ibu masih kurang siap menerima kehamilan dan perubahan hormon yang menunjukkan
perubahan psikis seperti mudah marah dan sensitif, dan juga mual dan muntah yang
mengakibatkan ibu merasa lelah dan pusing.
32. 32. 17 b. Trimester kedua Umumnya kualitas tidur mulai membaik karena kurangnya frekuensi
berkemih dan juga rasa mual dan muntah, lemas, dan keluhan lainnya pada trimester pertama akan
hilang. Tetapi tetap, masalah stres fisik dan emosional yang terjadi selama masa kehamilan bisa
cukup mengganggu tidur. c. Trimester ketiga Pada trimester ketiga penyebab sulit tidur bukan
karena hormon melainkan perubahan fisik, bobot ibu bertambah mengakibatkan punggung terasa
pegal, posisi tidur yang salah, dan juga gangguan psikis seperti kecemasan. 2.1.3 Kualitas Tidur
Ibu Hamil Kualitas tidur adalah suatu keadaan tidur yang dijalani seorang individu menghasilkan
kesegaran dan kebugaran di saat terbangun. Kepuasan tidur pada masa kehamilan berkurang
khususnya pada trimester ketiga, hal ini diakibatkan kondisi fisik ibu hamil yang menyebabkan
sulitnya mendapatkan tidur yang dalam. Ketidakpuasan tidur disebabkan tidur yang tidak
melewati seluruh tahapan normal baik NREM dan REM (Musbikin, 2005; dikutip Siallagan,
2010). Kesulitan tidur sering terjadi pada masa kehamilan karena pikiran aktif dan merasa tidak
mampu mengendalikan stress bahkan depresi yang dialami berhubungan dengan perubahan fisik
terutama pada trimeter ketiga (Eisenberg, 1996; dikutip Siallagan, 2010).
33. 33. 18 2.1.4 Pengukuran Kualitas Tidur Buysse et al. (1989) melakukan penelitian tetang
pengukuran kualitas tidur. Buysse menggunakan instrumen pengukuran kualitas tidur yang disebut
Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). PSQI adalah instrumen efektif yang digunakan untuk
mengukur kualitas tidur dan pola tidur pada orang dewasa. Kualitas tidur merupakan fenomena
yang kompleks dan melibatkan beberapa komponen yang seluruhnya dapat tercakup dalam PSQI.
Komponen tersebut dinilai dalam bentuk 16 pertanyaan dan memiliki bobot penilaian masing-
masing sesuai dengan standar baku. Dari 4 pilihan jawaban yang bernilai 0 (untuk tidak
pernah/baik sekali), 1 (untuk kurang dari sekali dalam seminggu/baik), 2 (kurang dari dua kali
dalam seminggu/buruk), sampai 3 (untuk tiga kali atau lebih dalam seminggu/buruk sekali)
(Carney & Edinger, 2010). Komponen tersebut antara lain: a. Kualitas Tidur Subjektif Komponen
dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 9 dalam kuesioner PSQI yang berbunyi
“Bagaimana Anda menentukan kualitas tidur Anda secara keseluruhan pada bulan yang lalu?”.
Kriteria penilaian (skor) berdasarkan pilihan jawaban responden sebagai berikut : Sangat baik : 0,
Cukup baik : 1, Kurang baik : 2, Sangat buruk : 3.
34. 34. 19 b. Latensi Tidur Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 2 dalam
PSQI yang berbunyi “Selama 1 bulan terakhir, berapa menit biasanya Anda habiskan waktu di
tempat tidur, sebelum akhirnya Anda tertidur?”, dan pertanyaan nomor 5a yang berbunyi “Selama
1 bulan terakhir, seberapa sering tidur Anda terganggu karena tidak bisa tidur dalam waktu 30
menit”. Kriteria penilaian (subskor) berdasarkan pilihan jawaban responden terhadap pertanyaan
nomor 2 sebagai berikut: ≤ 15 menit : 0, 16-30 menit : 1, 31-60 menit : 2, > 60 menit : 3. Kriteria
penilaian (subskor) berdasarkan pilihan jawaban responden terhadap pertanyaan nomor 5a sebagai
berikut: Tidak ada selama 1 bulan terakhir : 0, Kurang dari 1 kali dalam seminggu : 1, 1 atau 2 kali
dalam seminggu : 2, 3 kali atau lebih dalam seminggu : 3. Jumlah subskor pertanyaan nomor 2
dan nomor 5a (skor komponen latensi tidur) adalah sebagai berikut : 0 : 0, 1-2 : 1, 2-4 : 2, 5-6 : 3.
c. Durasi Tidur Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 4 dalam PSQI
yang berbunyi “Selama 1 bulan terakhir, berapa jam Anda tidur di malam hari? (Jumlah jam pada
tidur malam)”. Kriteria penilaian (skor) berdasarkan pilihan jawaban responden sebagai berikut : >
7 jam : 0, 6-7 jam : 1, 5-6 jam : 2, < 5 jam : 3.
35. 35. 20 d. Efisiensi Kebiasaan Tidur Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan
nomor 1, 3 dan 4 dala,m PSQI mengenai jam tidur malam dan bangun pagi serta durasi tidur.
Jawaban responden dihitung dengan rumus: 𝑑𝑢𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟 (#4) 𝑗𝑎𝑚 𝑏𝑎𝑛𝑔𝑢𝑛 𝑝𝑎𝑔𝑖 #3 − 𝑗𝑎𝑚
𝑡𝑖𝑑𝑢𝑟 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 (#1) 𝑥100% Hasil perhitungan dikelompokan menjadi 4 kategori dengan penilaian
(skor) sebagai berikut: Efesiensi tidur > 85% : 0, Efesiensi tidur 75-84% : 1, Efesiensi tidur 65-
74% : 2, Efesiensi tidur <65% : 3. e. Gangguan Tidur Komponen dari kualitas tidur ini merujuk
pada pertanyaan nomor 5b – 5j dalam PSQI yang terdiri dari hal-hal yang dapat menyebabkan
gangguan tidur. Tiap item memiliki skor 0-3, dengan 0 berarti tidak pernah sama sekali dan 3
berarti sangat sering dalam sebulan. Skor kemudian dijumlahkan sehingga dapat diperoleh skor
gangguan tidur dan di kelompokan sebagai berikut: Skor gangguan tidur 0 : 0, Skor gangguan
tidur 1-9 : 1, Skor gangguan tidur 10-18 : 2, Skor gangguan tidur 19-27 : 3. f. Penggunaan Obat
Tidur Komponen dari kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 6 dalam PSQI yang
berbunyi “Selama 1 bulan terkhir, seberapa sering Anda memakan obat tidur (resep dokter atau
obat bebas)”.
36. 36. 21 Kriteria penilaian (skor) berdasarkan pilihan jawaban responden sebagai berikut: Tidak ada
selama 1 bulan terakhir : 0, Kurang dari 1 kali dalam seminggu : 1, 1 atau 2 kali dalam seminggu :
2, 3 kali atau lebih dalam seminggu : 3. g. Disfungsi Tidur Pada Siang Hari Komponen dari
kualitas tidur ini merujuk pada pertanyaan nomor 7 dalam PSQI yang berbunyi “Selama 1 bulan
terkhir, seberapa sering Anda tertidur ketika Anda mengemudi, makan, atau terlibat dalam
kegiatan sosial?” dan pertanyaan nomor 8 yang berbunyi “Selama 1 bulan terkhir, seberapa
banyak masalah yang Anda hadapi untuk tetap antusias menyelesaikan sesuatu?”. Kriteria
penilaian (subskor) berdasarkan pilihan jawaban responden terhadap pertanyaan nomor 7 sebagai
berikut: Tidak ada selama 1 bulan terakhir : 0, Kurang dari 1 kali dalam seminggu : 1, 1 atau 2 kali
dalam seminggu : 2, 3 kali atau lebih dalam seminggu : 3. Kriteria penilaian (subskor) berdasarkan
pilihan jawaban responden terhadap pertanyaan nomor 7 sebagai berikut: Tidak ada masalah : 0,
Hanya masalah kecil : 1, Ada masalah : 2, Masalah besar : 3. Hasil total skor kuesioner dari 7
komponen tersebut dapat diinterprestasikan menjadi 2 pilihan yaitu: Kualitas tidur baik : ≤ 5,
Kualitas tidur buruk : > 5.
37. 37. 22 2.2 Konsep Kecemasan 2.2.1 Definisi Kecemasan Cemas (ansietas) adalah sebuah emosi
dan pengalaman subjektif dari seseorang, membuat seseorang merasa tidak nyaman, berkaitan
dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart, 2006). Kecemasan (anxiety) berorientasi
pada masa depan dan bersifat umum, mengacu pada kondisi ketika individu merasakan
kekhawatiran, kegelisahan, ketegangan, dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai
akan terjadinya sesuatu yang buruk (Halgin & Whitbourne, 2012). 2.2.2 Tanda dan Gejala
Kecemasan Menurut Stuart (2006) pada orang yang cemas akan muncul beberapa respon, adapun
respon yang ditimbulkan berupa: a. Respon fisiologis individu terhadap kecemasan, yaitu: 1)
Kardiovaskuler Respon dari kardiovaskuler dapat berupa palpitasi, jantung berdebar, peningkatan
tekanan darah atau dapat juga menurun, rasa mau pingsan, dan denyut nadi menurun. 2)
Pernafasan Respon dari pernafasan dapat berupa nafas menjadi cepat dan dangkal, nafas pendek,
tekanan pada dada, pembengkakan pada tenggorokan, sensasi tercekik, dan terengah-engah.
38. 38. 23 3) Neuromuskuler Respon dari neuromuskuler dapat berupa refleks meningkat, reaksi
kejutan, mata berkedip-kedip, tremor, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyang, dan
gerakan yang janggal. 4) Gastrointestinal Respon dari gastrointestinal dapat berupa kehilangan
nafsu makan, menolak makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual, dan diare. 5) Traktus
urinarius Responnya dapat berupa sering berkemih, tidak dapat menahan BAK. 6) Kulit Respon
dari kulit berupa wajah kemerarahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal, rasa panas dan
dingin pada kulit, wajah pucat, dan berkeringat seluruh tubuh. b. Respon perilaku Respon perilaku
berupa gelisah, ketegangan fisik, tremor, gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung
mendapat cidera, menarik diri dari hubungan interpersoanl, menghalangi, dan menghindar dari
masalah. c. Kognitif Responnya berupa konsentrasi terganggu dan pelupa, salah dalam
memberikan penilaian, hambatan berfikir, kreatifitas dan produktifitas menurun, bingung, sangat
waspada, kesadaran diri meningkat,
39. 39. 24 kehilangan objektifitas, takut kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual, takut cidera
atau kematian. d. Afektif Responnya berupa mudah terganggu, tidak sabar, gelisah dan tegang,
ketakutan, gugup, dan gangguan tidur. 2.2.3 Faktor Penyebab Kecemasan a. Faktor Predisposisi
Berikut beberapa teori untuk menjelaskan asal ansietas menurut Stuard & Sudden(2006). 1) Teori
Psikoanalitis Dalam teori psikoanalitis, kecemasan merupakan konflik yang terjadi antara elemen
kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan
superego mencerminkan hati nurani dan dikendalikan oleh norma budaya. 2) Teori interpersonal
Teori interpersonal menjelaskan bahwa kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap
ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal, berhubungan dengan perkembangan trauma seperti
perpisahan dan kehilangan yang menimbulkan kerentanan terutama individu dengan harga diri
rendah.
40. 40. 25 3) Teori Perilaku Teori perilaku mengemukakan bahwa kecemasan merupakan hasil
frustasi, yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang
diinginkan. 4) Teori Keluarga Teori keluarga menjelaskan bahwa gangguan cemas biasanya
terjadi dalam keluarga. 5) Teori Biologis Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung
reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi
asam gama-aminobutirat (GABA), yang berperan dalam mekanisme biologi yang berhubungan
dengan cemas. b. Faktor Presipitasi Stressor pencetus berasal dari sumber internal dan eksternal.
Stressor pencetus dapat dikelompokkan dalam dua kategori yaitu ancaman terhadap integritas fisik
dan terhadap sistem diri (Stuart, 2006). 1. Ancaman terhadap integritas fisik Meliputi menurunnya
kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari. 2. Ancaman terhadap sistem diri Seseorang
dapat membahayakan identitas, harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi.
41. 41. 26 2.2.4 Tingkat Kecemasan Rentang respon kecemasan (Stuart, 2006). Berikut tingkat
kecemasan menurut Stuart (2006). a. Kecemasan Ringan Kecemasan ringan berhubungan dengan
ketegangan dalam kehidupan sehari-hari. Kecemasan menyebabkan individu menjadi waspada dan
meningkatkan lapang persepsinya sehingga meningkatkan motivasi belajar dan kreativitas. b.
Kecemasan Sedang Kecemasan sedang memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain, menyebabkan lapang persepsi individu menyempit. c.
Kecemasan Berat Kecemasan berat sangat mengurangi lapang persepsi individu, cenderung
berfokus pada hal yang rinci dan spesifik, serta tidak bisa berpikir tentang hal lain. d. Kecemasan
Panik Kecemasan panik berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror. Individu
mengalami kehilangan kendali.
42. 42. 27 2.2.5 Kecemasan Ibu Hamil Menurut Prillia Detiana (2010), kecemasan selama kehamilan
adalah: a. Trimester pertama Trimester pertama ini sering dirujuk sebagai masa penentuan.
Penegasan bahwa wanita tersebut sedang mengandung calon manusia. Perubahan dalam harapan-
harapan seperti rancangan karier, kebebasan individu dan seorang ibu akan menghinggapi
perasaan seseorang wanita saat hamil. Perubahan tersebut akan membuat wanita menjadi gusar,
cemas, ketakutan hingga panic. b. Trimester kedua Trimester kedua sering dikatakan sebagai
“periode pancaran kesehatan”. Ini disebabkan karena di trimester ini wanita umumnya merasakan
lebih baik dan terlepas dari ketidak nyamanan biasanya dialami selama kehamilan. Pada masa ini
wanita cenderung untuk memikirkan kesehatan kandungannya, keadaan janin dan berfantasi
angan-angan yang akan dicapainya pada kelahiran nanti. c. Trimester ketiga Trimester ketiga
disebut “periode menunggu, penantian dan waspada”. Karena pada saat trimester ini ibu biasanya
tidak sabar menunggu kelahiran bayinya. Namun pada periode ini sebagian besar wanita hamil
akan merasakan cemas karena sang ibu mengkhawatirkan proses persalinan dan bagaimana anak
yang akan dilahirkannya nanti.
43. 43. 28 2.2.6 Pengukuran Tingkat Kecemasan Max Hamilton pertama kali memperkenalkan skala
pengukuran kecemasan HARS yang telah digunakan secara luas dalam berbagai penelitian tentang
kecemasan (Hamilton Anxiety Rating Scale) (Solehati & Kosasih, 2015), HRS-A terdiri dan
masing-masing kelompok gejala diberikan nilai 0-4 dengan penilaian sebagai berikut: a) Nilai 0 :
tidak ada gejala atau keluhan b) Nilai 1 : gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada). c) Nilai
2 : gejala sedang (separuh dari gejala yang ada). d) Nilai 3 : gejala berat (lebih dari separuh dari
gejala yang ada). e) Nilai 4 : gejala berat sekali (semua gejala yang ada). Nilai dari masing-masing
gejala kecemasan tersebut kemudian dijumlahkan sehingga dapat diketahui derajat kecemasannya.
Hasil penilaian total skor dikelompokkan menjadi lima yaitu sebagai berikut: a) Tidak ada
kecemasan jika < 14 b) Kecemasan ringan jika skor 14-20 c) Kecemasan sedang jika skor 21-27 d)
Kecemasan berat jika skor 28-41 e) Kecemasan berat sekali / panik jika skor 42-56 HRS-A terdiri
dari 14 kelompok gejala dan masing-masing kelompok diantaranya: 1) Perasaan cemas : cemas,
firasat buruk, takut akan pikiran sendiri dan mudah tersinggung.
44. 44. 29 2) Ketegangan : merasa tegang, lesu, tidak dapat beristirahat dengan tenang, mudah
terkejut, mudah menangis, gemetar dan gelisah. 3) Ketakutan : pada gelap, pada orang asing,
ditinggal sendiri, pada binatang besar, pada keramaian lalu lintas dan pada kerumunan orang
banyak. 4) Gangguan tidur : sukar untuk tidur, terbangun pada malam hari, tidur tidak nyenyak,
bangun dengan lesu, banyak mimpi, mimpi buruk dan mimpi yang menakutkan. 5) Gangguan
kecerdasan : sukar berkonsentrasi, daya ingat menurun dan daya ingat buruk. 6) Perasaan depresi
(murung) : hilangnya minat, berkurangnya kesenangan pada hobi, sedih, terbangun pada saat dini
hari dan perasaan berubah-ubah sepanjang hari 7) Gejala somatik/ fisik (otot) : sakit dan nyeri di
otot, kaku, kedutan otot, gigi gemerutuk dan suara tidak stabil. 8) Gejala somatik/ fisik (sensorik) :
tinnitus (telinga berdenging), penglihatan kabur, muka merah atau pucat, merasa lemas dan
perasaan ditusuk-tusuk. 9) Gejala kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) : takikardi (denyut
jantung cepat), berdebar-debar, nyeri di dada, denyut nadi mengeras, rasa lesu/ lemas seperti mau
pingsan dan detak jantung menghilang/ berhenti sekejap. 10) Gejala respiratori (pernafasan) : rasa
tertekan atau sepit di dada, rasa tercekik, sering menarik nafas dan nafas pendek/ sesak.
45. 45. 30 11) Gejala gastrointestinal (pencernaan) : sulit menelan, perut melilit, gangguan
pencernaan, nyeri sebelum dan sesudah makan, perasaan terbakar di perut, rasa penuh atau
kembung, mual, muntah, BAB konsistensinya lembek, sukar BAB (konstipasi) dan kehilangan
berat badan. 12) Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) : sering buang air kecil, tidak dapat
menahan BAK, tidak datang bulan (tidak dapat haid), darah haid berlebihan, darah haid sangat
sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid sangat pendek, haid beberapa kali dalam sebulan,
menjadi dingin (frigid, ejakulasi dini, ereksi melemah, ereksi hilang dan impotensi. 13) Gejala
autonom : mulut kering, muka merah, mudah berkeringat, kepala pusing kepala terasa berat,
kepala terasa sakit dan bulu-bulu berdiri. 14) Tingkah laku/ sikap : gelisah, tidak tenang, jari
gemetar, kening/ dahi berkerut, wajah tegang, otot tegang/ mengeras, nafas pendek dan cepar serta
wajah merah. 2.3 Penelitian Terkait 1. Penelitian Dewi Kusuma Iriana (2013) berjudul “Hubungan
Kecemasan dan kenyamanan fisik dengan kualitas tidur Ibu Hamil di Puskesmas Helvetia
Medan”. Desain penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif korelasional. Sampel
dalam penelitian ini berjumlah 69 orang, dengan menggunakan tekhnik Purposive Sampling. Hasil
penelitian menunjukkan ada hubungan kecemasan dan kenyamanan fisik denga kualitas tidur ibu
hamil, dengan nilai p = 0,01.
46. 46. 31 2.4 Kerangka Teori Kerangka teori adalah ringkasan dari tinjauan pustaka yang digunakan
untuk mengidentifikasi variable-variabel yang akan diteliti (diamati) yang berkaitan dengan
kontek ilmu pengetahuan yang digunakan untuk mengembangkan kerangka konsep penelitian
(Notoatmodjo, 2012). Kerangka Teori Gambar 2.2 Sumber : Uliyah & Hidayat (2008), Stuart
(2006). 2.5 Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam suatu penelitian adalah suatu uraian dan
visualitas hubungan atau kaitan antara konsep-konsep yang akan diteliti atau diukur melalui
penelitian yang akan dilakukan (Notoatmodjo, 2005) Faktor yang mempengaruhi kualitas tidur 1.
Penyakit 2. Latihan dan kelelahan 3. Stress Psikologis  Kecemasan  Tidak cemas  Ringan 
Sedang  Berat  Panik 4. Obat 5. Nutrisi 6. Lingkungan 7. Motivasi Kualitas Tidur  Baik 
Buruk
47. 47. 32 Gambar 2.3 Kerangka Konsep Independen Dependen Berdasarkan kerangka konsep diatas
dapat dijelaskan bahwa peneliti ingin mengetahui “Hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas
tidur ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas Sidorejo, Lampung timur tahun 2015”. 2.7
Hipotesis Hipotesis adalah suatu jawaban sementara dari pertanyaan penelitian (Notoatmodjo,
2010). Hipotesis penelitian ini adalah: Ha: Ada hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur
ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas Sidorejo, Lampung timur tahun 2015. Ho:
Tidak ada hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil primigravida trimester III
di Puskesmas Sidorejo, Lampung timur tahun 2015. Kecemasan Kualitas tidur
48. 48. 33 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian yang
digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain
penelitian survey analitik yaitu penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa
fenomena kesehatan itu terjadi ( Notoatmodjo, 2012). 3.2 Waktu dan Tempat Penelitian Waktu
penelitian dilaksanakan pada tanggal 13 sampai 21 Juni tahun 2015 dan sebagai tempat penelitian
di Puskesmas Sidorejo Sekampung Udik Lampung Timur. 3.3 Rancangan Penelitian Rancangan
penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan survey analitik yaitu metode pengumpulan data
dengan menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data berupa tanggapan atau respon dari
sampel penelitian (Notoatmodjo, 2009). Desain penelitian cross-sectional dalam penelitian ini
digunakan untuk mengetahui hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil
primigravida trimester ke III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur.
49. 49. 34 3.4 Subjek Penelitian 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek
yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien ibu hamil
primigravida di Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur berjumlah 78 orang. 2. Sampel Sampling
adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh
populasi (Notoatmodjo, 2012). Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Purposive
Sampling yaitu tenik pengambilan sampel dari responden atau kasus yang kebetulan ada di suatu
tempat atau keadaan tertentu sesuai persyaratan data yang diinginkan. Sampel penelitian ini adalah
pasien ibu hamil primigravida trimester ke III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur dengan
jumlah 35 orang. Adapun kriteria sampel adalah: a. Bersedia menjadi responden tanpa paksaan b.
Bisa membaca dan menulis c. Responden adalah pasien Ibu Hamil Primigravida Trimester ke III
3.5 Variabel Penelitian Variabel adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian
suatu penelitain (Arikunto, 2010). Penelitian ini mempunyai dua variabel, yaitu: Variabel
independen adalah tingkat kecemasan, Variabel dependen adalah kualitas tidur.
50. 50. 35 3.6 Definisi Operasional Definisi operasional merupakan definisi yang membatasi ruang
lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati atau diteliti (Notoatmodjo, 2012). Tabel
3.1 Definisi Operasional N o Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Cara Ukur Hasil Ukur
Skala Ukur 1 Independen : Tingkat kecemasan ibu hamil primigravida trimester III Respon
emosional yang tidak menentu terhadap suatu objek yang tidak jelas yang dialami oleh sebagian
ibu hami. Meliputi: 1. Perasaan cemas 2. Ketegangan 3. Ketakutan 4. Gangguan tidur 5. Gangguan
kecerdasan 6. Perasaan depresi (murung) 7. Gejala somatik (fisik otot) 8. Gejala sensorik 9. Gejala
kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) 10. Gejala respiratory (pernapasan) 11. Gejala
gastro intestinal (pencernaan) 12. Gejala urogenital (perkemihan dan kelamin) 13. Gejala autonom
14. Tingkah laku dan sikap Kuesoner: Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS). Mengisi
lembar kuesioner HARS. (Hawari, 2007) 0.<14-20: tidak ada kecemasan sampai kecemasan
ringan 1.21-41: kecemasan sedang sampai kecemasan berat Ordinal 2 Kualitas Tidur Ibu hamil
Primigravida trimester III Keadaan dimana tidur yang dijalani ibu hamil trimester III. Yang terdiri
dari tujuh komponen berupa: 1. kualitas tidur subjektif, 2. tidur laten, 3. lama tidur, 4. Kuesoner:
Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) Mengisi Lembar kuesioner PSQI. 0. Baik: jika skor total
<5 1. Buruk : jika skor total ≥5 Ordinal
51. 51. 36 3.7 Pengumpulan Data 1) Alat Pengumpulan Data Alat ukur yang dapat digunakan untuk
mengukur skala kecemasan adalah menggunakan kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale
(HARS) yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci lagi dengan
gejala-gejala yang lebih spesifik. Sedangkan instrumen pengumpulan data nilai kualitas tidur
berupa lembar kuesioner Pittsburg Sleep Quality Index (PSQI) serta alat okumentasi (buku dan
bolpoin). Kuesioner ini terdiri dari 19 poin pertanyaan yang erdiri dari 7 komponen nilai yaitu
kualitas tidur subjektif, tidur laten, lama tidur, efisiensi tidur, gangguan tidur, pemakaian obat
tidur dan disfungsi siang hari. 2) Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data tingkat
kecemasan adalah menggunakan kuesioner yang diberikan kepada responden. Masing-masing
kelompok gejala diberi penilaian angka skor antara 0 – 4, yang artinya adalah sebagai berikut:
efisiensi tidur, 5. gangguan tidur, 6. pemakaian obat tidur 7. disfungsi siang hari
52. 52. 37 a. 0 = tidak ada gejala jika tidak ada gejala b. 1 = gejala ringan jika terdapat 1 dari gejala
yang ada c. 2 = gejala sedang jika terdapat sebagian dari gejala yang ada d. 3 = gejala berat jika
terdapat lebih dari sebagian gejala yang ada e. 4 = gejala berat sekali jika terdapat semua gejala
ada Masing-masing nilai (skor) dari ke 14 kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil
penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang, yaitu : a. 0 = <14-20 : Tidak
ada kecemasan sampai kecemasan ringan b. 1 = 21-41 : Kecemasan sedang sampai kecemasan
berat Sedangkan dalam teknik pengumpulan data kualitas tidur digunakan kuesioner yang
diberikan kepada responden. Kuesioner ini terdiri dari 19 poin pertanyaan yang terdiri dari 7
komponen nilai yaitu kualitas tidur subjektif, tidur laten, lama tidur, efisiensi tidur, gangguan
tidur, pemakaian obat tidur dan disfungsi siang hari. Komponen 1 yaitu kualitas tidur subjektif
terdapat pada pertanyaan nomor 9 dengan pilihan jawaban sangat baik = 0, baik = 1, buruk = 2
dan sangat buruk = 3. Komponen 2 yaitu tidur laten terdapat pada pertanyaan nomor 2 dan 5.a
dengan pilihan jawaban tidak pernah = 0, kurang dari seminggu = 1, sekali atau dua kali dalam
seminggu = 2 dan tiga kali atau lebih dalam seminggu = 3. Komponen 3 yaitu lama tidur terdapat
pada pertanyaan nomor 4 tanpa pilihan jawaban atau jawaban dari responden. Komponen 4 yaitu
efisiensi tidur terdapat pada pertanyaan nomor 1 dan 3
53. 53. 38 dengan jawaban dari responden. Komponen nomor 5 yaitu gangguan tidur terdapat pada
pertanyaan nomer 5.b sampai dengan 5.j dengan pilihan jawaban sama dengan pertanyaan nomor
5. Komponen 6 yaitu pemakaian obat tidur terdapat pada pertanyaan nomor 6 dengan pilihan
jawaban sama dengan pertanyaan nomor 5. Komponen 7 yaitu disfungsi siang hari terdapat pada
pertanyaan nomor 7 dengan pilihan jawaban sama dengan pertanyaan nomor 5 dan pertanyaan
nomor 8 dengan pilihan jawaban sama dengan pertanyaan nomor 9. Ketujuh komponen
dijumlahkan sehingga terdapat skor 0-21. Keterangan penjumlahan total skor dari 7 komponen,
yaitu: a. 0 = < 5 : Baik b. 1 = ≥ 5 : Buruk 3.8 Pengolahan Data Pengolahan data dengan melalui
tahap (Hastono, 2007) yaitu: 1. Editing Kegiatan untuk melakukan pengecekan isian jawaban
responden apakah sudah lengkap, jelas dan relevan. 2. Coding Coding 0 = Tidak ada kecemasan-
kecemasan ringan & kualitas tidur baik, Coding 1 = Kecemasan sedang-kecemasan berat &
kualitas tidur buruk. 3. Processing Proses peng-entryan data dari kuesioner ke program komputer
agar dapat di analisis.
54. 54. 39 4. Cleaning Kegiatan pengecekan kembali data yang di-entry kedalam komputer agar
tidakterdapat kesalahan. 3.9 Analisis Data 1. Analisa univariat Analisa univariat untuk melihat
distribusi frekuensi variabel (Arikunto 2006). Analisa univariat dalam penelitian ini menggunakan
bantuan program komputer. 2. Analisa bivariat Analisa bivariat untuk menguji hubungan antara
variabel independent dan variabel dependen (Arikunto, 2006). Uji statistik yang dilakukan dalam
penelitian adalah chi aquare. Taraf kesalahan yang digunakan adalah 5% untuk melihat hasil
kemaknaan perhitungan statistic digunakan batas kemaknaan 0,05. Berarti jika p ≤ 0,05 maka
hasilnya bermakna yang artinya Ho ditolak dan Ha diterima. Analisa bivariat menggunakan
bantuan program komputer.
55. 55. 40 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi
Penelitian Penelitian ini dilakukan daru tanggal 13 Juni 2015 sampai dengan 21 Juni 2015 di
Puskesmas Sidorejo kecamatan Sekampung Udik Kabupaten Lampung Timur dengan jumlah
responden 35 orang ibu hamil Primigravida trimester III. Puskesmas Sidorejo beralamat di Jalan
Ir. Sutami km 45 desa Sidorejo Sekampung Udik Lampung Timur Kode Pos 34183. Puskesmas
Sidorejo ini membawahi 8 desa dengan wilayah kerja seluas ± 375 ha. Yang mana disebelah barat
berbatasan dengan desa Pugung Raharjo, sebelah timur berbatasan dengan Banjar Agung, sebelah
utara berbatasan dengan desa Purwo Kencono, dan sebelah selatan berbatasan dengan desa
Bandung Jaya. Secara umum jenis pelayanan yang diberikan Puskesmas Sidorejo antara lain
meliputi Rawat Inap, Balai Pengobatan, Poli Gigi, ANC (Ante Natal Care), persalinan, KB,
Imunisasi, KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Tenaga medis yang ada sebanyak 33orang dengan
rincian sebagai berikut; 3Dokter umum, 1 Dokter gigi, 10 Bidan, 15 Perawat, 3 Apoteker dan 1
Ahli gizi. Fasilitas untuk mendukung pelayanan rawat inap khususnya pasien penyakit umum
maupun persalinan sudah cukup memadai, yaitu 4 kamar perawatan 3 ruang nifas dengan masing-
masing kamar kapasitas 2 tempat tidur, 1 ruang bersalin, 1 ruang pemeriksaan KIA, 1 Balai
Pengobatan, 1 ruang KB, 1 Poli Gigi, 1 ruang obat (APOTEK) dan 5 kamar mandi untuk pasien.
56. 56. 41 4.2 Hasil Penelitian 4.2.1 Analisa Univariat (a) Tingkat kecemasan Tabel 4.1 Distribusi
Frekuensi Tingkat Kecemasan Ibu Hamil Primigravida Trimester III di Puskesmas Sidorejo
Lampung Timur Tahun 2015 No Tingkat Kecemasan Frekuensi Persentase (%) 1 Tidak ada
kecemasan sampai kecemasan ringan 12 31,4% 2 Kecemasan sedang sampai kecemasan berat 23
68,6% Total 35 100,0% Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa dari 35 responden yang diteliti,
ternyata sebagian besar dari responden dalam penelitian ini yaitu sebanyak 24 orang (68,6%)
termasuk kepada kecemasan sedang sampai keceamasan berat dan sebanyak 11 orang (31,4%)
tidak mengalami kecemasan sampai kecemasan ringan. (b) Kualitas Tidur Tabel 4.2 Distribusi
Frekuensi Kualitas Tidur Pada Ibu Hamil Primigravida Trimester III Di Puskesmas Sidorejo
Lampung Timur Tahun 2015 No Kualitas Tidur Frekuensi Persentasi 1 Baik 11 31,4% 2 Buruk 24
68,6% Total 35 100,0%
57. 57. 42 Dari tabel 4.2 dapat diketahui mayoritas ibu hamil primigravida trimester III memiliki
kualitas tidur yang buruk (68,6%), dan sebanyak (31,4%) ibu memiliki kualitas tidur yang baik.
4.2.2 Analisa Bivariat Tabel 4.3 Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas Tidur Ibu Hamil
Primigravida Trimester III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur Tahun 2015 Tingkat
Kecemasan Kualitas Tidur Total P Value OR CI Baik Buruk n % N % n % Tidak ada Kecemasan
– Kecemasan Ringan 7 63,5% 4 36,4% 11 100,0% 0,015 8,750 1.712 44.723 Kecemasan Sedang -
kecemasan Berat 4 16,7% 20 83,3% 24 100,0% Total 11 31,4% 24 68,6% 35 100,0% Berdasarkan
tabel 4.3 dapat diketahui bahwa sebanyak 7 responden (63,5%) tidak mengalami kecemasan
sampai kecemasan ringan dengan kualitas tidur yang baik, sedangkan responden dengan
kecemasan sedang sampai kecemasan berat dan memiliki kualitas tidur buruk sebanyak 20 orang
(83,3%), hal ini dikarenakan kehamilan yang baru pertamakali dan semakin dekatnya waktu
persalinannya serta iu
58. 58. 43 hamil akan sering terbangun dimalam hari untuk berkemih. Sedangkan responden dengan
kualitas kecemasan sedang- kecemasan berat dan memiliki kualitas tidur baik sebanyak 4 orang
(16,7), hal ini disebabkan karena pemenuhan nutrisi terckupi, motivasi dan dukungan dari
keluarga, dan pengetahuan yang cukup dari responden. Hal ini menunjukkan semakin tinggi
tingkat kecemasan maka akan semakin buruk kualitas tidur yang dimiliki ibu hamil. Uji statistik
Chi-Square didapatkan nilai p-value = 0,015 (P value < 0,05) yang berarti bahwa ada hubungan
yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan kualitas tidur Ibu hamil primigravida trimester
III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur tahun 2015. Kemudian didapatkan OR = 8,750 yang
berarti bahwa ibu hamil primigravida trimester III yang mengalami tingkat kecemasan sedang-
berat mempunyai peluang mengalami kualitas tidur yang buruk 8,750 kali lebih besar,
dibandingkan ibu hamil primigravida trimester III yang tidak mengalami kecemasan sampai
kecemasan ringan yang mengalami kualitas tidur buruk.
59. 59. 44 4.3 Pembahasan 4.3.1 Pembahasan Univariat 4.3.1.1 Tingkat Kecemasan Ibu Hamil
Primigravida Trimester III Hasil penelitian yang telah dilakukan untuk variabel kecemasan ibu
hamil primigravida trimester III diperoleh bahwa sebanyak 11 orang (31,4 %), tidak mengalami
kecemasan sampai kecemasan ringan, dan 24 orang (68,6 %) mengalami kecemasan sedang
sampai kecemasan berat. Penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Detiana
(2010), bahwa kehamilan primigravida trimester III adalah merupakan pengalaman pertama kali,
ibu akan cenderung merasa cemas dengan kehamilannya, merasa gelisah dan mengkhawatirkan
tentang keselamatan dirinya dan nasib anak yang akan dilahirkan nanti. Kecemasan merupakan
respon individu terhadap suatu keadaan yang keadaannya mempengaruhi bawah sadar.
Kecemasan yang sudah memengaruhi atau terwujud pada gejala-gejala fisik, terutama pada fungsi
saraf maka akan terlihat gejala- gejala yang akan ditimbulkan diantaranya tidak dapat tidur,
jantung berdebar-debar, keluar keringat berlebih, sering mual, gemetar, muka merah, dan sukar
bernafas. Selain itu, menurut teori Janiwanty & Pieter (2013) kecemasan akan berdampak buruk
terhadap kesejateraaan janin dan ibu yang akan mengakibatkan bayi lahir kurang dari normal,
prematur dan bahkan bisa terjadi keguguran.
60. 60. 45 Penelitian ini sejalan dengan penelitian Utami dan Lestari (2009) didapatkan primigravida
mayoritas berada pada tingkat kecemasan berat (46,7%). sedangkan multigravida mayoritas
berada pada tingkat kecemasan sedang (72.3%). Terdapat perbedaan tingkat kecemasan
primigravida dengan multigravida dalam menghadapi kehamilan (p value= 0,001). Penelitiannya
juga menyebutkan bahwa pada masa trimester III adalah masa yang kompleks bagi ibu hamil, ibu
akan merasa lebih cemas untuk menghadapi persalinan. Rasa cemas akibat perubahan fisik yang
dialami ibu dan juga kondisi psikologis dan kesiapan emosional calon ibu dalam menghadapi
persalinan turut mempengaruhi kecemasan. Menurut pendapat peneliti bahwa kecemasan ini
disebabkan karena ibu hamil belum pernah mengalami pengalaman bersalin mengingat
kehamilannya adalah kehamilan yang pertama (primigravida). Pada saat melakukan penelitian,
peneliti mendapatkan beberapa ibu hamil yang mengatakan sering merasa jantung berdebar-debar
lebih dari biasanya, hal tersebut terjadi pada saat ibu merasakan atau memikirkan akan bagaimana
tentang kehamilan dan melahirkan anaknya nanti. Selain itu, wawancara peneliti juga
mendapatkan salah satu tanda-tanda kecemasan dimana responden mengeluhkan sering merasa
muka merah. Penelitipun mendapatkan tanda dan gejala kecemasan lainnya yaitu tiga orang ibu
hamil tangannya gemetar saat rasa cemas menghampiri dan tidak bisa berkonsentrasi dengan baik.
61. 61. 46 4.3.1.2 Kualitas Tidur Ibu Hamil Primigravida Trimester III Untuk variabel kualitas tidur
dari hasil penelitian didapatkan data bahwa 24 orang (68,6%) ibu hamil memiliki kualitas tidur
yang buruk, dan hanya 11 orang (34,1 %) ibu hamil yang memiliki kualitas tidur yang baik.
Penelitian ini sesuai dengan teori Bobak dkk. (2005) yang menyatakan bahwa trimester ketiga
adalah tahap tidur yang paling menantang dari kehamilan, dengan meningkatnya frekuensi dari
buang air kecil, ketidak mampuan untuk merasa nyaman dan gangguan psikis seperti kecemasan
dalam menghadapi persalinan. Selain itu terdapat beberapa hal lain yang dapat menyebabkan
kualitas tidur ibu hamil trimester III terganggu yaitu gerakan janin yang mengganggu istirahat ibu,
dispnea, nyeri punggung, konstipasi dan varises. Sesak napas disebabkan karena ekspansi
diafraghma yang terbatas sebagai akibat dari uterus yang membesar. Nyeri pinggang pada ibu
hamil trimester III disebabkan karena membesarnya uterus yang menyebabkan pergeseran pusat
gravitasi dan postur tubuh ibu hamil sehingga tubuh ibu cenderung menjadi lordosis yang akan
meregangkan otot punggung dan menimbulkan rasa sakit atau nyeri. Sering berkemih disebabkan
karena berkurangnya kapasitas kandung kemih akibat pembesaran uterus dan bagian presentasi
janin sehingga kandung kemih menjadi lebih cepat untuk penuh (Hamilton, 2009).
62. 62. 47 Penelitian ini sejalan dengan penelitian Komalasari (2012) tentang kecemasan dengan
kualitas tidur ibu hamil trimester III di Puskesmas Jatinagor Sumedang, yang menyatakan 72,2%
ibu hamil trimester III mengalami kualitas tidur yang buruk dan dari hasil analisa data diketahui
bahwa p-value (0,016) < taraf kekeliruan (α =0,05). Penelitian diatas diperkuat dengan data hasil
survei National Sleep Foundation (2007), bahwa 78% wanita hamil di Amerika mengalami
gangguan tidur. Menurut pendapat peneliti bahwa sebagian besar ibu hamil yang mengalami
gangguan tidur dikarenakan merasakan kecemasan akan mengahadapi persalinan, sering
terbangun untuk berkemih, kontraksi janin dan sukar untuk bernafas. Pada saat peneliti melakukan
penelitian, didapatkan sebagian besar ibu hamil mengatakan bahwa sebelum tidur ia selalu
terbayang-bayang akan persalinan yang akan dihadapinya nanti dan mencemasakan akan nasib
anak dan dirinya kelak ketika dilakukan persalinan sehingga ibu hamil sukar untuk memulai
masuk tidur. Karena perut ibu yang sudah membesar, ada sebagian ibu hamil mengeluhkan
kesukaran untuk menentukan posisi tidur.. Melihat dari hasil penelitian yang telah dilakukan
menunjukkan bahwa ibu hamil memiliki kualitas tidur yang buruk mungkin dapat dipicu oleh
adanya peningkatan frekuensi BAK meningkat, kesulitan untuk bernafas, kecemasan menghadapi
persalinan, nyeri punggung dan kontraksi janin.
63. 63. 48 4.3.2 Pembahasan Bivariat 4.3.2.1 Hubungan Antara Tingkat Kecemasan Dengan Kualitas
Tidur Pada Ibu Hamil Primigravida Trimester III Dari hasil analisa data diketahui bahwa p-value
(0,015) < taraf kekeliruan (α =0,05). Dari hasil perbandingan dalam analisis data, apabila nilai p-
value < α =5%, maka H0 ditolak atau Ha diterima. Sehingga dengan demikian dapat diambil
kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang berarti/bermakna antara tingkat kecemasan dengan
kualitas tidur ibu hamil Primigravida trimsester III. Berdasarkan pendapat Kozier et al. (2010),
yang menyatakan ansietas atau kecemasan seringkali mengganggu tidur. Ansietas meningkatkan
kadar norepinefrin dalam darah melalui sistem saraf simpatis. Sehingga perubahan kimia ini
menyebabkan kurangnya waktu tidur tahap IV NREM dan tidur REM serta lebih banyak
perubahan dalam tahap tidur lain dan lebih sering terbangun. Faktor-faktor yang menyebabkan
adanya hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur yang buruk adalah karena kecemasan
semakin tinggi pada saat mendekati proses melahirkan dan hal itu yang menyebabkan ibu sulit
memulai tidur dan sering terbangun pada malam hari (Janiwanty & Pieter, 2010). Penelitian ini
sejalan dengan penelitian Iriana (2013), yang menyatakan bahwa responden dengan kecemasan
ringan lebih banyak
64. 64. 49 yang memiliki kualitas tidur yang baik yaitu 25 responden (36%), dan 21 responden
(30,4%) mengalami kecemasan sedang dan memiliki kualitas tidur yang buruk, serta responden
dengan kecemasan berat dan memiliki kualitas tidur buruk dua kali lebih banyak dibandingkan
dengan responden yang memiliki kualitas tidur baik yaitu (2,9%). Pada uji analisa data didapatkan
p-value = 0,00 (a=<0,05). Menurut pendapat peneliti, kecemasan dapat mempengaruhi kualitas
tidur karena ibu hamil kerap memikirkan proses persalinan yang semakin dekat. Sehingga hal itu
menyebabkan ibu hamil sulit untuk memulai tidur dan sering terbangun di malam hari. Hal ini
menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kecemasan maka akan semakin buruk kualitas tidur
yang dimiliki ibu hamil. Selain kecemasan menjelang persalinan, bahwa seluruh responden sering
menyatakan sering terbangun dimalam hari karena sering buang air kecil, nyeri punggung, sulit
untuk bernafas (sesak), merasa gerah dan kontraksi janin. Hal ini menunjukkan bahwa bukan
hanya karena kecemasan saja yang mempengaruhi kualitas tidur, namun dipengaruhi juga oleh
faktor-faktor fisik ibu hamil itu sendiri. Masalah ini tidak bisa dibiarkan terjadi, karena kualitas
tidur yang buruk bisa memicu terjadinya depresi dan tekanan darah ibu hamil meningkat,
mengingat depresi dan tekanan darah tinggi dapat menyebabkan preeklamsi pada ibu hamil dan
BBLR, prematur hingga abortus pada bayi
65. 65. 50 BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil primigravida trimester
III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur tahun 2015, maka dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut: 1. Tingkat kecemasan ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas Sidorejo
Lampung Timur dari 35 responden rata-rata mengalami kecemasan sedang sampai berat yaitu
sebanyak 24 orang (68,6%), sedangkan yang tidak mengalami sampai kecemasan ringan sebanyak
11 orang (31,4%). 2. Kualitas tidur pada ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas
Sidorejo Lampung Timur dari 35 responden rata-rata mengalami kualitas tidur yang buruk
sebanyak 24 orang (68,6%), sedangkan yang mengalami kualitas tidur yang baik sebanyak 11
orang (31,4%). 3. Secara statistik ada hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dengan
kualitas tidur Ibu hamil primigravida trimester III di Puskesmas Sidorejo Lampung Timur dengan
P value = 0,015 (P<0,05) dan Odds Ratio(OR) = 8,750.
66. 66. 51 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat diberikan saran-saran sebagai
berikut: 1. Bagi petugas kesehatan Untuk tenaga kesehatan disarankan agar dapat lebih optimal
dalam melakukan asuhan keperawatan mengenai kualitas tidur yang buruk serta melakukan
penyuluhan yang mendalam tentang pentingnya nutrisi, pengetahuan dan dukungan keluarga
untuk memotivasi terhadap ibu hamil agar ibu bisa mengatasi kecemasan serta dapat dengan
mudah untuk melakukan aktifitas tidur pada malam hari. 2. Bagi peneliti selanjutnya Untuk
penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti tentang gambaran faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kualitas tidur pada ibu hamil trisemester III. Karena pada saat melakukan
penelitian bukan hanya kecemasan saja yang peneliti dapatkan mengenai penyebab dari kualitas
tidur yang buruk pada ibu hamil trisemester III, juga pada saat melakukan penelitian sebaiknya
diteliti karakteristik dari responden. 3. Bagi Primigravida Diharapkan dapat menambah informasi
tentang kehamilan khususnya ibu hamil primigravida trimester III dalam menghadapi persalinan
dan agar ibu hamil tidak berpikir negatif tentang persalinan sehingga akan mengurangi kecemasan
menghadapi persalinan nanti.
67. 67. DAFTAR PUSTAKA Arafan, C.T & Aizar, Eliya. 2011. Kecemasan Ibu Primigravida dalam
menghadapi Persalinan di Klinik Hj. Hadijah Medan Setelah Menonton Video Proses Persalinan
(Jurnal Kesehatan). Medan: FK USU Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan
Praktik. Jakarta: Rineka Cipta BKKBN. 2013. Jumlah Ibu Hamil yang Melakukan Pemeriksaan
Kehamilan. http://www.bkkbn.go.id/kependudukan/Pages/DataLainlain/Profil_kesehatan
_indonesia/kesehatan_ibu/Jumlah_Ibu_Hamil/Nasional.aspx. diakses 15 Januari 2015. Carney,
E.C & Edinger, J.D. 2010. Insomnia and Anxiety.. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. New York:
Springer Detiana, Prillia. 2010. Hamil Aman dan Nyaman diatas Usia 30 Tahun. Jakarta: Media
Pressindo E-Jurnal. 2013. Proses Terjadinya Kehamilan. www.e- jurnal.com/2013/09/proses-
terjadinya-kehamilan.html. diakses 15 Maret 2015 Huliana, Mellyna. 2010. Panduan Menjalani
Kehamilan Sehat. Jakarta: Puspa Swara Iriana, D.K. 2014. Hubungan Kecemasan dan Gangguan
Kenyamanan Fisik dengan Kualitas tidur Ibu Hamil di Puskesmas Helvetia Medan (Skripsi).
Medan: FK USU Janiwanty, B & Pieter H.Z. 2013. Pendidikan Psikologi untuk Bidan.
Yogyakarta: ANDI Jannah, Nurul. 2012. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Yogyakarta: ANDI
Komalasari, Dewi. 2012. Hubungan Antara Tingkat Kecemasan dengan Kualitas Tidur pada Ibu
Hamil Trimester III di Puskesmas Jatinangor Kabupaten Sumedang (Jurnal Universitas
Padjadjaran). Bandung: Unpad
68. 68. Mansur, H. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Jakarta: Salemba Medika
Manuaba, I.B.G. 2009. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi 2. Jakarta: EGC National
Sleep Foundation. 2007. Woman and Sleep 2. http://www.sleepfoundation.org, diakses 17 Januari
2015. Nursalam. 2011. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika Solehati, Tetti & Kosasih, C.E. 2015. Relaksasi dalam Keperawatan
Maternitas. Bandung: PT. Refika Aditma Stuart, G.W. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa, Edisi
5, Penerjemah Ramona P Kapoh, Egi komara Yudha. Jakarta: EGC Prasadja, A.P 2009. Ayo
Bangun dengan Bugar Karena Tidur yang Benar. Jakarta: Hikmah Puri, B.K dkk. 2011. Buku Ajar
Psikiatri, Edisi 2. Jakarta: EGC SehatFresh.com. 2014. Gangguan Tidur pada Masa Kehamilan.
http://www.sehatfresh.com/gangguan-tidur-pada-masa-kehamilan/, diakses 15 Januari 2015
Siallagan, A.M. 2010. Pola Tidur Ibu pada Masa Kehamilan di Poliklinik Ibu Hamil RSUP Haji
Adam Malik Medan (Skripsi). Medan: FK Universitas Sumatera Utara Uliyah, Musrifatul &
Hidayat, A.A.A. Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika
World Health Organisation. 2013. Trend in Maternal Mortality.
http://www.who.int/reproductivehealth/publications/monitoring/maternal- mortality-2013/en/,
diakses 17 Maret 2015
69. 69. FREQUENCIES VARIABLES=Umur Pekerjaan Pendidikan Kecemasan Tidur
/STATISTICS=MEAN MEDIAN SUM /ORDER=ANALYSIS. Frequencies [DataSet1]
C:UsersGEDE ROBINDocumentstest.sav Statistics Umur Ibu Hamil Pekerjaan Ibu Hamil
Pendidikan Ibu Hamil Kecemasan ibu hamil Kualitas tidur N Valid 35 35 35 35 35 Missing 0 0 0
0 0 Mean 1.97 1.40 2.14 .69 .69 Median 2.00 1.00 2.00 1.00 1.00 Sum 69 49 75 24 24 Frequency
Table Umur Ibu Hamil Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid <20 7 20.0
20.0 20.0 21-25 22 62.9 62.9 82.9 >25 6 17.1 17.1 100.0 Total 35 100.0 100.0
70. 70. Pekerjaan Ibu Hamil Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Ibu Rumah
Tangga 23 65.7 65.7 65.7 Pegawai Swasta 10 28.6 28.6 94.3 Pegawai Negeri 2 5.7 5.7 100.0 Total
35 100.0 100.0 Pendidikan Ibu Hamil Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid
Pendidikan Dasar 4 11.4 11.4 11.4 Pendidikan Menengah 22 62.9 62.9 74.3 Pendidikan Tinggi 9
25.7 25.7 100.0 Total 35 100.0 100.0 Kecemasan ibu hamil Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent Valid Tidak ada Kecemasan - Kecemasan Ringan 11 31.4 31.4 31.4
Kecemasan Sedang - Kecemasan Berat 24 68.6 68.6 100.0 Total 35 100.0 100.0
71. 71. Kualitas tidur Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Kualitas Tidur Baik
11 31.4 31.4 31.4 Kualitas Tidur Buruk 24 68.6 68.6 100.0 Total 35 100.0 100.0 CROSSTABS
/TABLES=Kecemasan BY Tidur /FORMAT=AVALUE TABLES /STATISTICS=CHISQ RISK
/CELLS=COUNT ROW /COUNT ROUND CELL. Crosstabs [DataSet1] C:UsersGEDE
ROBINDocumentstest.sav Case Processing Summary Cases Valid Missing Total N Percent N
Percent N Percent Kecemasan ibu hamil * Kualitas tidur 35 100.0% 0 .0% 35 100.0%
72. 72. Kecemasan ibu hamil * Kualitas tidur Crosstabulation Kualitas tidur Total Kualitas Tidur Baik
Kualitas Tidur Buruk Kecemasan ibu hamil Tidak ada Kecemasan - Kecemasan Ringan Count 7 4
11 % within Kecemasan ibu hamil 63.6% 36.4% 100.0% Kecemasan Sedang - Kecemasan Berat
Count 4 20 24 % within Kecemasan ibu hamil 16.7% 83.3% 100.0% Total Count 11 24 35 %
within Kecemasan ibu hamil 31.4% 68.6% 100.0% Chi-Square Tests Value df Asymp. Sig. (2-
sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1- sided) Pearson Chi-Square 7.722a 1 .005 Continuity
Correctionb 5.696 1 .017 Likelihood Ratio 7.527 1 .006 Fisher's Exact Test .015 .009 Linear-by-
Linear Association 7.501 1 .006 N of Valid Casesb 35 a. 1 cells (25.0%) have expected count less
than 5. The minimum expected count is 3.46. b. Computed only for a 2x2 table
73. 73. Risk Estimate Value 95% Confidence Interval Lower Upper Odds Ratio for Kecemasan ibu
hamil (Tidak Cemas – Kecemasan Ringan / Kecemasan Sedang - Kecemasan Berat) 8.750 1.712
44.723 For cohort Kualitas tidur = Kualitas Tidur Baik 3.818 1.405 10.378 For cohort Kualitas
tidur = Kualitas Tidur Buruk .436 .196 .973 N of Valid Cases 35
74. 74. LEMBAR PERSETUJUAN SEBAGAI RESPONDEN PENELITIAN Saya yang bertanda
tangan di bawah ini: Nama : Nama suami : Umur : Menyatakan bersedia menjadi responden dalam
penelitian yang berjudul „Hubungan tingkat kecemasan dengan kualitas tidur ibu hamil
primigravida trimester III di Puskesmas Sidorejo, Lampung Timur‟. Demikian surat pernyataan
ini saya tanda tangani secara sadar tanpa ada unsur paksaan dari pihak mana pun. Sidorejo, Juni,
2015 Responden
75. 75. KUISIONER DATA DEMOGRAFI Nama : Nama Suami : Umur : Usia Kehamilan :
Pekerjaan : Pendidikan : SD / SMP / SMA / Perguruan Tinggi LEMBAR KUISIONER HARS
Petunjuk Pengisian: Berilah tanda checklist () pada setiap kolom yang tersedia di bawah ini
sesuai dengan situasi dan kondisi yang anda alami. Keterangan: f) Nilai 0 : tidak ada gejala atau
keluhan g) Nilai 1 : gejala ringan (satu gejala dari pilihan yang ada). h) Nilai 2 : gejala sedang
(separuh dari gejala yang ada). i) Nilai 3 : gejala berat (lebih dari separuh dari gejala yang ada). j)
Nilai 4 : gejala berat sekali (semua gejala yang ada).
76. 76. No Gejala Kecemasan 0 1 2 3 4 1. Perasaan cemas: - Cemas - Mudah tersinggung - Firasat
buruk - Takut akan pikiran sendiri 2. Ketegangan: - Merasa tegang - Lesu - Tidak bisa istirahat
tenang - Mudah terkejut - Mudah menangis - Gemetar - Gelisah 3. Ketakutan: - Pada gelap - Pada
orang asing - Ditinggal sendiri - Pada binatang besar - Pada keramaian lalu lintas - Pada
kerumunan banyak orang
77. 77. 4. Gangguan tidur: - Sukar masuk tidur - Terbangun malam hari - Tidur tidak nyenyak -
Bangun dengan lesu - Banyak mimpi-mimpi - Mimpi buruk - Mimpi menakutkan 5. Gangguan
kecerdasan: - Sukar konsentrasi - Daya ingat menurun 6. Perasaan depresi (murung): - Hilangnya
minat - Berkurangnya kesenangan pada hobi - Sedih - Bangun dini hari - Perasaan berubah-ubah
sepanjang hari 7. Gejala somatic / fisik (otot) - Sakit dan nyeri otot-otot - Kaku - Kedutan otot -
Gigi gemerutuk - Suara tidak stabil
78. 78. 8. Gejala somatic / fisik (sensorik) - Tinitus (telinga berdenging) - Penglihatan kabur - Muka
merah atau pucat - Merasa lemas - Perasaan ditusuk-tusuk 9. Gejala kardiovaskuler (jantung dan
pembuluh darah) - Takikardia (denyut jantung cepat) - Berdebar-debar - Rasa lesu / lemas seperti
ingin pingsan - Denyut nadi mengeras - Nyeri di dada - Detak jantung menghilang (berhenti
sekejap) 10. Gejala respiratori (pernafasan) - Rasa tertekan atau sempit di dada - Rasa tercekik -
Sering menarik nafas - Nafas pendek / sesak
79. 79. 11. Gejala gastrointenstinal (pencernaan) - Sulit menelan - Perut melilit - Gangguan
pencernaan - Nyeri sebelum dan sesudah makan - Perasaan terbakar di perut - Rasa penuh atau
kembung - Mual muntah - Sukar buang air besar (konstipasi) - Kehilangan berat badan 12. Gejala
urogenital (perkemihan dan kelamin) - Sering buang air kecil - Tidak dapat menahan air kencing -
Menstruasi tidak teratur - Friginitas menjadi dingin (tidak mampu menerima rangsangan untuk
melakukan hubungan seksual / tidak bergairah)
80. 80. 13. Gejala autonom: - Mulut kering - Muka merah - Mudah berkeringat - Kepala pusing,
kepala terasa sakit - Bulu-bulu berdiri 14. Tingkah laku(sikap)pada saat wawancara : - Gelisah -
Tidak tenang - Jadi gemetar - Kerut kening - Muka tegang - Nafas pendek dan cepat - Muka
merah Total
81. 81. KUESIONER KUALITAS TIDUR (PSQI) 1. Jam berapa biasanya anda mulai tidur malam? 2.
Berapa lama anda biasanya baru bisa tertidur tiap malam? 3. Jam berapa anda biasanya bangun
pagi? 4. Berapa lama anda tidur dimalam hari? 5 Seberapa sering masalah-masalah dibawah ini
mengganggu tidur anda? Tidak pernah (0) 1x seming gu (1) 2x seming gu (2) ≥ 3 x seming gu (3)
a) Tidak mampu tertidur selama 30 menit sejak berbaring b) Terbangun ditengah malam atau
terlalu dini c) Terbangun untuk ke kamar mandi d) Tidak mampu bernafas dengan leluasa e)
Batuk atau mengorok f) Kedinginan dimalam hari g) Kepanasan dimalam hari h) Mimpi buruk i)
Terasa nyeri j) Alasan lain ……… 6 Seberapa sering anda menggunakan obat tidur 7 Seberapa
sering anda mengantuk ketika melakukan aktifitas disiang hari Tidak antusias Kecil Sedang Besar
8 Seberapa besar antusias anda ingin menyelesaikan masalah yang anda hadapi Sangat baik Baik
kurang Sangat kurang 9 Bagaimana kualitas tidur anda selama sebulan yang lalu
82. 82. Keterangan Cara Skoring PSQI 7 KOMPONEN KUESIONER PSQI Komponen (K)
Keterangan Skor K1 Skor pertanyaan #9 K2 Skor pertanyaan #2 (<15 menit =0), (16-30 menit=1)
(31-60 menit=2) (>60 menit=3) + skor pertanyaan #5a jika jumlahnya sama dengan 0=0, 1-2=1, 3-
4=2, 5-6=3 K3 Skor pertanyaan #4 >7=0, 6-7=1, 5-6=2,<5=3 K4 Jumlah jam tidur pulas (#4)/
jumlah jam di tempat tidur (kalkulasi #1&#3) x 100, >85%=0,, 75-84%=1, 65- 74%=2, <65%=3
K5 Jumlah skor 5b hingga 5j (0=0, 1-9=1, 10-18=2, 19- 27=3) K6 Skor pertanyaan #6 K7 Skor
pertanyaan #7 + 8 (0=0, 1-2=1,3-4=2, 5-6=3) Total skor Jumlahkan skor komponen 1-7 (≤5:baik,
>5:buruk)
Recommended

How to Use LinkedIn Learning


Online Course - LinkedIn Learning


Gamification of Learning
Online Course - LinkedIn Learning


Educational Technology for Student Success
Online Course - LinkedIn Learning

Cover
Andre Widiatmoko


02. naskah publikasi_2
ary la

Pernikahan dini
Lois Yunike

pengaruh jalan santai terhadap tekanan darah pada pra lansia di posyandu
lans...
nugdwis

Skripsi Uji aktivitas antihiperkolesterol jamur tiram putih (Pleurotus ostrea...


Fajar Santoso

UJI EFEK IMUNOMODULATOR EKSTRAK ETANOL 70% BUAH NAGA


BERDAGING MERAH SUPER ...
febri khairiah

Skripsi kb hormonal bab i


Lois Yunike

 English
 Español
 Português
 Français
 Deutsch
 About

 Dev & API

 Blog

 Terms

 Privacy

 Copyright

 Support




LinkedIn Corporation © 2018