Anda di halaman 1dari 10

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu persoalan empiris komunikasi massa adalah berkaitan dengan


proses adopsi Inovasi. Hal ini relavan untuk masyarakat yang sedang berkembang
maupun masyarakat maju, kerena terdapat kebutuhan yang terus-terusan dalam
perubahan sosial dan teknologi, untuk mengganti cara-cara lama dengan teknik-
teknik baru. Teori ini berkaitan dengan komunikasi massa. Karena dalam sebagai
situasi di mana efektivitas potensi perubahan yang berawal dari penelitian ilmiah dan
kebijakan publik, dalam pelaksanaannya, sasaran dari upaya difusi inovasi umumnya
petani dan anggota masyarakat pedesaan.1

1
Burhan Bungin, Sosiologi komunikasi (Jakarta : Kencana Prenada Media Mandiri, 2006),
hal. 283
2

BAB II
ISI

A. Teori Disfusi inovasi

Artikel berjudul The People’s Choise yang ditulis oleh Paul Lezarfled,
Bernard Barekson, dan H. Gaudet pada tahun 1994 menjadi titik awal munculnya
teori difusi inovasi. Di dalam teori difusi inovasi dikatakan bahwa komunikator yang
mendapatkan pesan dari media massa sangat kuat untuk mempengaruhi orang-orang.
Dengan demikian, adanya inovasi (penemuan), lalu disebarkan (difusi) memlalui
media massa akan kuat mempengaruhi massa untuk mengikutinya.2
Teori ini di awal perkembangannya mendudukkan peran pemimpin opini
dalam mempengaruhi sikap dan prilaku masyarakat. Artinya, media massa
mempunyai pengaruh yang kuat dalam menyebarkan penemuan baru. Apalagi jika
penemuan baru itu kemudian diteruskan oleh para pemuka masyarakat. Akan tetapi,
difusi inovasi juga bisa langsung mengenai mengenai khalayaknya. Menurut Rogers
dan Shoemaker (1971) difusi adalah proses di mana penemuan disebarkan kemapda
masyarakat yang menjadi anggota sistem sosial. Misalnya, antara sepeda motor
Grand Astrea, Impressa, Legenda, Kharisma, Supra X, Supra Fit mesinnya hampir
sama, tetapi karena bentuknya berbeda satu sama lain dan terus dikembangkan,
tidak sedikit masyarakat yang tetap tertarik untuk membelinya. Ada berbagai alasan
yang mendasarinya, entah alasan gengsi atau karena memang senang dengan hal-hal
yang baru, entah karena mempunyai uang lebih atau uang pas-pasan, tetapi agar
dianggap orang moders.
Lepas dari motif yang melatarbelakangi kepemilikan sepeda motor tersebut,
yang jelas hal itu menggambarkan bahwa setiap inovasi baru akan menimbulkan
keinginan kuat masyarakat untuk mengadopsinya. Adopsi sebuah inovasi baru akan
berjalan secaraa baik atau tidak, dengan kuantitas pemakai yang besar atau tidak,
sangat tergantung dari peran media maas di dalam menyebarkan pesan-pesannya.
Dengan demikian, teori difusi inovasi mendudukkan pedan media massa sebagai
agen perubahan sosial di masyarakat yang tidak bisa dianggap remeh.

2
Nurudin, Pengantar Komunikasi Massa (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2007), hal.
187
3

Jika disimpulkan, menurut teori ini sesuatu yang baru akan menimbulkan
keingintahuan masyarakat untuk mengetahuinya. Seseorang yang menemukan hal
baru cenderung untuk menyosialisasikan dan menyebarkan kepada orang lain. Jadi
sangat cocok, penemu ingin menyebarkan, sementara orang lain ingin
mengetahuinya. Lalu, dipakailah media massa untuk memperkenalkan penemuan
baru tersebut. Jadi antara penemu, pemakai, dan media massa sama-sama
diuntungkan.3
Difusi mengacu pada penyebaran informasi baru, inovasi, atau proses baru ke
seluruh masyarakat. Inovasi yang dimaksud dalam hal ini ada bermacam-macam,
misalnya penemuan lensa kontak, komputer, pengajaran yang lebih baik, pendidikan
terhadap masalah (seperti yang dikemukakan Paulo Freire), pengelolahan bercocok
tanam yang baik;, dan lain-lain. Adopsi pada reaksi positif yang terhadap inovasi dan
pemanfaatannya. Hubungannya dengan proses adopsi, William Mc Ewen seperti;
dikutip Josep A. Devito (1997) mengidentifikasi tiga tahap berikut :
1. Pada tahap akuisi informasi orang memperoleh dan memahami informasi
tentang inovasi. Sekedar contoh, seorang dokter belajar tentang ancaman baru
untuk memberi kuliah di kelas yang jumlahnya besar.
2. Pada tahap evaluasi informasi, orang mengevaluasi tentang informasi. Misalnya,
dosen tersebut menyadari bahwa metode baru itu lebih efektif dari pada metode
yang lama.
3. Pada tahap adopsi atau penolakan orang mengadopsi (melaksanakan) atau
menolak inovasi. Misalnya, dosen tersebut mulai mengajar dengan
menggunakan metode baru tersebut.

Rogers mendefisinikan difusi inovasi sebagai proses sosial yang


mengkomunikasikan informasi tentang ide baru yang dipandang secara subjektif.
Makna inovasi dengan demikian perlahan-lahan dikembangkan melalui sebuah
proses konstruksi sosial.
difusi inovasi pada esensinya menjelaskan bagaimana sebuah gagasan dan
ide baru dikomunikasikan pada sebuah kultur atau kebudayaan. Bahwa teori ini

3
Ibid,. 189-190
4

berfokus pada bagaimana sebuah gagsaan atau ide baru dapat dan dimungkinkan
diadopsi oleh suatu kelompok sosial atau kebudayaan tertentu.4

B. Konsep Teori Difusi Inovasi

Tujuan utama dari difusi inovasi yaitu diadopsinya suatu inovasi yakni
gagasan, ilmu pengetahuan dan teknologi baik oleh individu maupun kelompok
sosial tertentu. Oleh karenanya Rogers mengemukakan bahwa terdapat 4
karakteristik inovasi yang yang dapat mempengaruhi tingkat adobsi dari individu
maupun kelompok sosial tertentu.

1. Kuntungan relatif (Relative Advantage)

Keuntungan relatif adalah bagaimana suatu inovasi yang baru ini dapat
dikatakan lebih baik dari inovasi sebelumnya atau justru tidak lebih baik dari inovasi
sebelumnya. Tolak ukuranya adalah bagaimana seorang adopter merasakan langsung
dampak dari inovasi tersebut yang menjadikanya puas ataupun tidak puas pada
sebuah inovasi. Semakin besar keuntungan relatif yang dirasakan oleh adpoter akan
menjadikan inovasi tersebut semakin capat untuk diadopsi oleh suatu kelompok.

2. Kesesuaian (Compatibility)

Kesesuaian berkaitan dengan bagaimana suatu inovasi itu dapat dikatakan


sesuai dengan kondisi masyarakat, kebudayaan dan nilai-nilai dalam masyarakat
tersebut, serta tentu saja apakah sesuai dengan kebutuhan yang ada. Jika sesuai
dengan apa yang disebutkan makan suatu inovasi itu akan mudah diadopsi bilamana
tidak maka sebaliknya akan sulit diadopsi.

4
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_difusi_inovasi, diakses pada tanggal 23 Septermber
2018, pukul 15.04 WIB
5

3. Kerumitan (Complexity)

Kerumitan berkaitan dengan seberapa rumit suatu inovasi dapat dipahami dan
dijalankan oleh adopter. Semakin rumit tentu saja akan semakin sulit untuk diadopsi
begitu pula sebaliknya semakin mudah dipahami maka inovasi tersebut akan
semakin mudah untuk diadopsi.

4. Dapat diuji coba (triability)

Suatu inovasi akan lebih mudah di adopsi manakala inovasi tersebut dapat di
uji cobakan dalam kondisi sebenarnya. Bahwa suatu inovasi tersebut, sesuai atau
tidaknya dapat segera diketahui manakala dapat dilihat melalui suatu uji coba.
Dengan uji coba para adopter dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan dari
inovasi tersebut sebelum diadopsi seluruhnya.

C. Empat Elemen Teori Difusi Inovasi

1. Inovasi

Inovasi dapat diartikan sebagai gagasan, ide atau tindakan untuk


menciptakan sesuatu yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam bahasan ini
inovasi dapat dikatakan sebagai suatu hal yang baru atas dasar bagaimana pandangan
orang mengatakan bawa ide gagasan, atau tindakan itu merupakan hal yang baru.

2. Saluran Komunikasi

Suatu inovasi dapat diadopsi oleh seseorang apabila inovasi tersebut


dikomunikasikan atau di sampaikan kepada orang lain. Saluran komunikasi yang
dimaksud disini juga disesuaikan dengan siapa yang dituju dari inovasi tersebut. Jika
inovasi ditujukkan kepada masyarakat secara luas maka saluran yang digunakan
tentu saja saluran komunikasi masa. Jika yang dituju individu maka saluran yang
digunakan adalah saluran komunikasi personal.
6

3. Jangka waktu

Jangka waktu merupakan suatu dimensi waktu yang dimulai dari proses
inovasi itu dikomunikasikan atau disampaikan kepada seseorang sampai kepada
keputusan untuk mengadopsi inovasi tersebut.

4. Sistem sosial

Sistem sosial merupaka kumpulan unit-unit sosial yang membentuk suatu


ikatan dalam kehidupan sosial. Sistem sosial terdiri atas unit-unit yang memiliki
perbedaan secara fungsional namun terikat atas tujuan yang dikeendaki bersama.
Sistem sosial ini kiranya menjadi sasaran bagi sebuah inovasi dan merekalah yang
menjadi pihak yang menerima maupun menolak suatu inovasi.

D. Tahapan Proses Difusi Inovasi

Everett M. Rogers (1983 : 165) mengatakan, merumuskan kembali teori ini


dengan memberikan asumsi bahwa sedikitnya ada 5 tahap dalam suatu proses difusi
inovasi, yaitu :

1. Tahap munculnya pengetahuan ( knowledge)

Ketika seseorang memahami bagaimana suatu inovasi itu bermanfaat bagi


dirinya dan lingkunganya (masyarakat) maka seseorang tersebut akan lebih mudah
untuk mengadopsi suatu inovasi. Oleh karenanya suatu inovasi disampaikan atau
dikomunikasikan yang pertama adala agar seseorang mengetahui dan memahami
bagaimana manfaat inovasi tersebut.

2. Tahap Persuasi (Persuasion)

Pada tahapan ini individu atau kelompok sosial mulai menunjukan sikap
terhadap suatu inovasi. Dalam hal ini skikap yang ditunjukan oleh individu maupun
kelompok sosial ini dapat berupa sikap baik maupun sikap yang baruk.
7

3. Tahap keputusan (Decisions)

Dalam tahap ini individu maupun kelompok sosial tertentu telah sampai
kepada tahapan pengambilan keputusan terkait sebuah inovasi yang dikenakan
kepadanya. Dalam hal ini inovasi sudah sampai pada tahap diadopsi oleh individu
atau kelompok tertentu maupun ditolak.

4. Tahap implementasi (Implementation)

Pada tahap ini ketika individu atau kelompok memutuskan untuk mengadopsi
suatu inovasi maka ia akan menerapkan inovasi tersebut dalam kehidupanya.
Bilamana inovasi tersebut diterapkan dalam suatu aspek kehidupan maka individu
maupun kelompok tersebut sudah dapat dikatakan sebagai adopter dari suatu inovasi.

5. Tahap konfirmasi (Confirmation)

Dalam tahap ini individu ataupun kelompok sudah sampai pada tahap dimana
ia mulai mencari penguatan-penguatan terhadap keputusanya terkait menolak
maupun menerima suatu inovasi untuk diadopsi.5

E. Kategori Adopter dalam Teori Difusi Inovasi

1. Innovators

Inovator yakni mereka yang pertama mengadopsi suatu inovasi. Hanya ada
sekitar 2,5% individu yang yang berani menjadi seorang inovator. Ciri utama
individu tersebut biasanya menyukai tantangan dan berani mengambil resiko serta
memiliki kemampuan ekonomi yang mendukung untuk menjadi seorang inovator

5
Bungin, Sosiologi komunikasi,. hal. 284
8

2. Early Adopters (Perintis/ Pelopor)

Perintis atau pelopor merupakan orang yang bersedia memulai inovasi dalam
suatu kelompok. Hanya ada 13,5% orang yang memiliki kategori ini. Biasanya
mereka merupakan orang yang terpandng dan memiliki pengikut dalam suatu
kelompok sosial.

3. Early Majority (Pengikut dini)

Mayoritas pengikut awal adalah mereka yang secara mayoritas bersama-sama


menjadi pengikut awal suatu inovasi. Jumlahnya sekitar 34 % dalam suatu kelompok
sosial tertentu. Biasanya mereka yang masuk dalam kategori ini bercirikan memiliki
pertimbangan yang matang dalam mengambil keputusan.

4. Late Mojority (Pengikut akhir)

Mayoritas pengikut akhir adalah mereka yang secara bersama-sama menjadi


pengikut akhir pada suatu inovasi. Jumlahnya 34% dalam suatu kelompok sosial
dimana mereka lebih memiliki pertimbangan pragmatis kepada kebenaran dan
kebermanfaatan suatu inovasi yang akan diadopsi mereka.

5. Laggards (Kelompok Kolot/ Tradisional)

Kelompok ini merupakan kelompok terakhir yang paling sulit menerima


suatu inovasi. Jumlahnya sekitar 16% dari suatu kelompok sosial. Dimana kaum
ini merupakan kaum kolot/tradisional yang sangat sulit menerima perubahan.
9

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Sebagai pembelajar komunikasi, teori difusi inovasi menjadi suatu baasan


yang penting untuk dipelajari. Dengan mempelajari ini seorang pembelajar
komunikasi dapat mengetaui bagaimana sebuah inovasi dan pembaharuan dapat
diterima ataupun ditolak oleh individu maupun kelompok sosial tertentu. Dalam hal
ini menjadi penting manakala hal ini juga mempengaruhi kehidupan manusia baik
secara individu maupun dalam lingkungan kelompok masyarakat. Suatu inovasi tetap
dibutuhkan oleh manusia dalam rakngka mempermudah segala macam aktifitasnya
dalam berbagai aspek kehidupan. Yang mana hal ini tentu menjadi kajian yang
teramat penting seiring dengan perkembangan zaman.
10

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan, 2006, Sosiologi komunikasi (Jakarta : Kencana Prenada Media


Mandiri)

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Teori_difusi_inovasi

Nurudin, 2007, Pengantar Komunikasi Massa (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada)