Anda di halaman 1dari 7

Strategi Pengembangan Kelembagaan

Menurut Anantanyu (2011), pengembangan kelembagaan merupakan suatu proses


perubahan sosial berencana yang dimaksudkan sebagai sarana pendorong proses perubahan
dan inovasi. Proses pengembangan kelembagaan pada petani melalui pembanguan atau
pengembangan kelembagaan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan usahatani.
Pembangunan lembaga dapat dirumuskan sebagai perencanaan, penataan, dan bimbingan
yang mewujudkan perubahan dalam nilai, fungsi, teknologi, serta menetapkan,
mengembangkan, dan melindungi hubungan normatif dan pola tindakan.
Kapasitas kelembagaan petani dapat dicapai dengan melihat tiga indikator, yaitu:
1. Tujuan kelembagaan kelompok petani tercapai, artinya adanya kesesuaian tujuan
dengan kebutuhan anggota.
2. Fungsi dan peran kelembagaan berjalan, artinya adanya kemampuan memperoleh,
mengatur, memelihara, dan mengerahkan informasi, tenaga kerja, modal, dan
material, serta kemampuan mengelola konflik.
3. Adanya keinovatifan kelembagaan, meliputi adanya peran kepemimpinan dan fungsi
kepemimpinannya dapat berjalan, adanya pembagian peran anggota, adanya pola
kewenangan dalam kelembagaan, adanya komitmen anggota terhadap kelembagaan,
tersedia sumber pendanaan, tersedia fasilitas fisik seperti gedung pertemuan
kelompok tani, dan adanya teknologi – teknologi terkini yang digunakan.
Penyuluhan pertanian termasuk dalam pengembangan kelembagaan. Penyuluhan
pertanian dilaksanakan untuk membantu petani agar mampu memecahkan permasalahan yang
dihadapi sendiri. Penyuluhan pertanian diartikan sebagai proses membantu petani dalam
menganalisis situasi yang sedang dihadapi dan melakukan perkiraan kedepan, meningkatkan
pengetahuan dan mengembangkan wawasan terhadap suatu masalah, memperoleh
pengetahuan khusus yang berkaitan dengan cara pemecahan masalah yang dihadapi dan
akibat yang ditimbulkan, serta memutuskan pilihan yang tepat dalam menghadapi
permasalahan.
Menurut Soetriono dan Suwandari (2016), terdapat tujuh peran dan fungsi penyuluh
pertanian, yaitu:
1. Meningkatkan partisipasi petani dalam setiap kegiatan intensifikasi (perencanaan,
persiapan pelaksanaan, monitoring pemecahan masalah)
2. Menumbuhkan dinamika dan kepemimpinan anggota kelompok melalui musyawarah
dan diskusi.
3. Menyampaikan anjuran teknologi tepat guna kepada petani dan membina
penerapannya dalam rangka peningkatan mutu intensifikasi.
4. Membina dan mendorong berkembangnya organisasi dan kemampuan petani.
5. Mendrong terwujudnya hubungan yang melembaga antara kelompok tani dan KUD
serta hubungan kemitraan usaha antara kelompok tani, KUD dan perusahaan mitra.
6. Membina pelaksanaan/rancang bangun usahatani sesuai dengan kondisi setempat.
7. Menyiapkan bahan penyusunan program penyuluhan pertanian dan menyusun rencana
kerja penyuluhan pertanian.
Berdasarkan kajian Anantanyu (2009), langkah-langkah tindakan strategis dalam
mengembangkan kelembagaan petani dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Peningkatan dukungan penyuluhan pertanian.
a. Meningkatkan kompetensi penyuluh dalam memfasilitasi petani, meliputi:
penguasaan materi, kemampuan berkomunikasi, sikap terhadap sasaran, serta adanya
komitmen terhadap profesi. Penggunaan pendekatan penyuluhan yang tepat sesuai
dengan karakteristik khalayak sasaran, meliputi: kesesuaian informasi, ketepatan
metode, penggunaan berbagai teknik penyuluhan, dan penggunaan media dalam
penyuluhan
b. Penguatan kelembagaan penyuluhan pertanian, meliputi ketersediaan program
penyuluhan, kemudahan akses, dukungan fasilitas yang diperlukan, dan pelaksanaan
program.
2. Peningkatan peran pihak luar
a. Memfasilitasi adanya dukungan kepemimpinan lokal.
b. Menjembatani peran pihak luar (pemerintah, swasta, dan kelembagaan lain).
3. Peningkatan kedinamisan kelompok sebagai kelompok pembelajar, melalui:
a. Peningkatan pemahaman tujuan kelompok.
b. Mengembangkan struktur.
c. Mengembangkan fungsi tugas.
d. Meningkatkan pembinaan dan pengembangan kelompok.
e. Meningkatkan kekompakan kelompok.
f. Mendorong kekondusifan suasana kelompok.
g. Menciptakan ketegangan kelompok.
h. Mendorong keefektifan kelompok.
4. Peningkatan kapasitas petani, dilakukan melalui:
a. Peningkatan pendidikan, baik formal maupun non-formal, bagi petani yang
mendukung bidang usaha atau agribisnis.
b. Memfasilitasi dalam berbagai kegiatan agribisnis.
c. Mendorong kemampuan berusaha untuk meningkatkan pendapatan.
d. Memfasilitasi penyediaan sarana kegiatan agribisnis bagi petani.
e. Menyediakan sumber-sumber belajar termasuk informasi yang diperlukan oleh petani.
5. Peningkatan partisipasi petani dalam kelembagaan petani. Partisipasi anggota dalam
kelembagaan dimaknai sebagai pilihan anggota komunitas secara aktif untuk berperan
mengaktualisasikan diri dalam usaha memperbaiki kualitas hidup. Upaya peningkatan
partisipasi petani dalam kelembagaan dilakukan dengan prosesproses yang bertahap
sesuai dengan tingkat perkembangan kelembagaan petani, meliputi:
a. Penyadaran, antara lain: penumbuhan pemahaman terhadap masalah secara spesifik,
penyediaan sarana sosial, menumbuhkan kepemimpinan lokal, menumbuhkan
kerjasama, membangun wawasan tentang kehidupan bersama, menciptakan komitmen
kebersamaan, dan meningkatkan kemampuan berusahatani dan kemampuan sosial.
b. Pengorganisasian, antara lain peningkatan kemampuan manajemensumberdaya,
peningkatan kemampuan pengambilan keputusan bersama, pengembangan
kepemimpinan, dan penyediaan sarana dan prasarana kelembagaan
c. Pemantapan, antara lain: pemantapan terhadap visi kelembagaan, peningkatan
kemampuan kewirausahaan, dan membangun jaringan dan kerjasama antar
kelembagaan.

Dapus:
Anantanyu, S. 2009. Partisipasi Petani dalam Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan
Kelompok Petani (Kasus di Provinsi Jawa Tengah). Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Anantanyu, S. 2011. Kelembagaan petani: peran dan strategi
Pengembangan kapasitasnya, 7(2): 102-109
Soetriono dan Suwandari A. 2016. Pengantar Ilmu Pertanian. Malang: Intimedia.
Lembaga Pertanian di Indonesia
Awal perkembangan pertanian dimulai dari Kebun Raya Bogor. Pada tahun 1876,
Kebun Raya membangun Kebun Budidaya Tanaman, selain membangun kebun percobaan
juga dibangun kebun percontohan dan sekolah pertanian sebagai bagian dari fungsi
penyuluhan dan pendidikan pertanian.
Departemen Pertanian (Departemen Van Landbouw, 1905) menjadi penyelenggara
pendidikan dan penyuluhan pertanian bagi rakyat pribumi. Secara berturut-turut berkembang
cabang pendidikan pertanian, seperti Sekolah Hortikultura (1900), Sekolah Pertanian (1903),
Culture School (1913), Lanbouw Bedriff School (1922), dan Middlebare Boschbauw School
pada tahun 1938.
Setelah merdeka, pengembangan SDM pertanian diupayakan oleh Kementerian
Kemakmuran (1945-1950). Kementerian Kemakmuran berganti nama menjadi Kementerian
Pertanian (1950-1960) dan kemudian menjadi Departemen Pertanian. Agar penyelenggaraan
pengembangan SDM pertanian memenuhi kebutuhan pembangunan pertanian, maka
Departemen Pertanian membentuk lembaga pendidikan dan penyuluhan pertanian di tingkat
pusat yang langsung bertanggung jawab kepada Menteri Pertanian.
Sejak tahun 1968-1974 terjadi penggabungan departemen atau sebagian departemen
lain menggabungkan kedalam Departemen Pertanian, sehingga susunan organisasi
Departemen Pertanian menjadi:
1. Menteri Pertanian
2. Sekretaris Jenderal
3. Direktorat Jenderal Pertanian
4. Direktorat Jenderal Kehutanan
5. Direktorat Jenderal Peternakan
6. Direktorat Jenderal Perikanan
7. Direktorat Jenderal Perkebunan
8. BIMAS (Bimbingan Massal)
Susunan Organisasi Departemen Pertanian ini berlaku sampai dengan Tahun 1974,
kemudian muncul ketetapan baru yaitu Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1974 tentang
Pokok-pokok Organisasi Departemen dan Keputusan Presiden nomor 45 Tahun 1974 tentang
Susunan Organisasi Departemen. Dalam Keputusan Presiden Nomor 45 Tahun 1974
diputuskan bahwa pada Departemen Pertanian dibentuk dua unit eselon I baru, yaitu :
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian; dan
2. Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian.
Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor OT.210/706/Kpts/9/1983, Badan
Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas membina dan
mengkoordinasikan kegiatan pendidikan, latihan dan penyuluhan pertanian yang berada
dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Pertanian.
Sesuai dengan perubahan struktur organisasi melalui Keputusan Menteri Pertanian
Nomor 560/Kpts/OT.210/8/1990, nama Badan Pendidikan, Latihan dan Penyuluhan
Pertanian berubah menjadi Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian dengan tugas pokok
mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan dan pelatihan pertanian serta
merumuskan metodologi penyuluhan berdasarkan kebijaksanaan Menteri dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Tugas Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian
disempurnakan kembali melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor
96/Kpts/OT.210/2/1994, yaitu mengkoordinasikan, membina dan melaksanakan pendidikan
dan pelatihan pertanian dalam rangka pelaksanaan tugas pokok departemen berdasarkan
kebijaksanaan menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan
Keputusan Menteri tersebut Badan Diklat Pertanian terdiri dari :
1. Sekretariat Badan Diklat Pertanian;
2. Pusat Pembinaan dan Pendidikan Pertanian;
3. Pusat Pendidikan dan Latihan Pegawai;
4. Pusat Pendidikan dan Latihan Penyuluhan Pertanian dan
Operasionalisasi pelaksanaan kegiatan diklat pertanian dilaksanakan oleh jenis Unit
Pelaksana Teknis (UPT) Badan Diklat Pertanian yang terdiri dari :
1. Sekolah Tinggi Perikanan (STP);
2. Akademi Penyuluhan Pertanian (APP);
3. Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP);
4. Balai Penataran dan Latihan Pegawai (BPLP);
5. Balai Latihan Pegawai Pertanian (BLPP);
6. Balai Keterampilan Penangkapan Ikan (BKPI);
7. Balai Pendidikan dan Pelatihan Fungsional Pertanian (BPPFP);
8. Balai Metodologi Informasi Pertanian BMIP), dan
9. Balai Informasi Pertanian (BIP).
Dengan berkembangnya tugas-tugas urusan pemerintah maupun pembangunan pertanian,
maka kelembagaan Badan Diklat Pertanian juga berkembang dan namanya berubah menjadi
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian dan Penyuluhan Pertanian
berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 160/Kpts/OT.210/12/2000. Badan
Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas
melaksanakan pengembangan dan Pendayaan sumber daya manusia dan penyuluhan
pertanian berdasarkan Menteri dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam
melaksanakan tugas tersebut Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan
Pertanian menyelenggarakan fungsi :
1. Perumusan kebijaksanaan dan perencanaan pengembangan sumber daya manusia dan
penyuluhan pertanian;
2. Pengkajian dan penyediaan informasi sumber daya manusia dan penyuluhan
pertanian;
3. Pengelolaan pendidikan dan pelatihan pertanian;
4. Evaluasi kebijaksanaan dan pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia dan
penyuluhan pertanian;
5. Pelaksanaan administrasi badan.
Departemen Pertanian yang didirikan pada tanggal 1 Januari 1905 mempunyai tugas
menyelenggarakan urusan di bidang pertanian dalam pemerintahan untuk membantu Presiden
dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. Dalam melaksanakan tugas, Kementerian
Pertanian menjalankan fungsi, yaitu:
1. Perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang pertanian
2. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab
Kementerian Pertanian
3. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pertanian
4. Pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian
Pertanian di daerah
5. Pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional
Departemen Pertanian juga memiliki struktur organisasi yang terdiri dari:
1. Sekretariat Jenderal
2. Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian
3. Direktorat Jenderal Tanaman Pangan
4. Direktorat Jenderal Hortikultura
5. Direktorat Jenderal Perkebunan
6. Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan
7. Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian
8. Inspektorat Jenderal
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
10. Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian
11. Badan Ketahanan Pangan
12. Badan Karantina Pertanian
13. Staf Ahli Bidang Lingkungan
14. Staf Ahli Bidang Kebijakan Pembangunan Pertanian
15. Staf Ahli Bidang Kerja Sama Internasional
16. Staf Ahli Bidang Inovasi dan Teknologi
17. Staf Ahli Bidang Investasi Pertanian

Dapus:
Anonim. 2018. Kementerian Pertanian Republik Indonesia . Diperoleh 14 November 2018,
dari https://id.wikipedia.org/wiki/Kementerian_Pertanian_Republik_Indonesia
Anonim. 2018. Sejarah Pertanian di Indonesia . Diperoleh 14 November 2018, dari
lib.bppsdmp.pertanian.go.id
Zulfikar. 2012. Lembaga pertanian terhadap pembangunan pertanian. Diperoleh 14
November 2018, dari http://peranlembagapertanian.blogspot.com/2012/01/lembaga-
pertanian-terhadap-pembangunan.html