Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH TUGAS KIMIA AIR

PENGOLAHAN AIR PADA EMBUNG

Oleh:

Bela Claudya Pratama 24030114130070


Hartina Ningsih 24030114120042
Nachilatul Latifah 24030114120063
Nita Anggraini 24030114120028
Erni Wulandari

Departemen Kimia
Fakultas Sains Dan Matematika
Universitas Diponegoro Semarang
2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bendung, embung ataupun bendungan merupakan bangunan air yang

banyak dibangun sebagai salah satu solusi dalam berbagai masalah yang

berhubungan dengan sumber daya air, baik pemanfaatan, pengelolaan,

pelestarian maupun penanganan daya rusak dari sumber daya yang terbarukan

tersebut. Pembangunan bendungan memang mempunyai manfaat yang banyak

bagi masyarakat sesuai peruntukannya tetapi juga mempunyai potensi bahaya

yang besar yang jika tidak diperhatikan akan menyebabkan bencana yang

merugikan masyarakat itu sendiri. Untuk itu dalam pembangunan bendungan

harus ada regulasi yang tetap untuk mengatur nilai manfaat dan nilai potensi

bahaya yang harus diperhatikan, berdasarkan hal tersebut dikeluarkan

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2010 tentang

Bendungan, dimana setiap bendungan yang berpotensi menyebabkan bencana

diharuskan untuk mempunyai Rencana Tindak Darurat (RTD) untuk

melakukan tindakan yang diperlukan apabila terdapat gejala kegagalan

bendungan atau terjadi kegagalan bendungan. Banyak bendungan yang

terletak di daerah perkotaan atau permukiman padat, bendungan ini biasanya

berfungsi sebagai konservasi air perkotaan.


Embung merupakan bangunan yang berfungsi menampung air

hujan untuk persediaan suatu desa di musim kering. Selama musim kering, air

akan dimanfaatkan oleh masyarakat desa untuk memenuhi kebutuhannya,

untuk irigasi sawah, kebutuhan air minum, ataupun untuk ternak. Embung

juga akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air minum. Oleh sebab
itu diperlukan pengelolaan embung serta analisisnya sehingga dapat diperoleh

kualitas air yang bersih.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang di atas diperlukan penanganan pengelolaan air dalam

embung serta analisis agar kualitas airnya terjaga baik.

1.3 Tujuan
1. Menentukan pengelolaan air pada embung
2. Menentukan cara analisis air embung

1.4 Manfaat
1. Mengetahui teknik pengolahan air pada embung yang bisa diterapkan pada

masyarakat.
2. Mendapatkan olahan air dari pengolahan air embung sebagai sumber air

bersih.

BAB II

II.1 Pengertian Air Secara Umum

Air adalah suatu senyawa hidrogen dan oksigen dengan rumusan kimia

H2O. Berdasarkan sifat fisiknya (secara fisika) terdapat tiga macam bentuk air,

yaitu air sebagai benda cair, air sebagai benda padat, dan air sebagai benda gas

atau uap.Air berubah dari suatu bentuk kebentuk ang lainnya tergantung pada
waktu dan tempat serta temperaturnya. Berdasarkan jenis wadah yang ditempati,

air dibedakakan atas tiga jenis, yaitu air permukaan, air tanah dan air diudara. Air

permukaan adalah air yang terdapat dipermukaan kulit bumi baik yang berbentuk

cair (air sungai, air danau dan air laut) maupun yang berbentuk padat (es, salju

dan gletser). Air tanah adalah air yang terdapat dibawah permukaan kulit bumi

atau didalam tanah. Adapun air udara adalah air yang terdapat didalam atmosfer

bumi, berupa uap ataupun embun. Air lunak adalah air yang kandungan garam

kapurnya (kalsium karbonat, CaCO3) kecil. Sedangkan air sadah adalah air yang

kandungan garam kapurnya banyak. Pemakaian air secara garis besar dapat

diklasifikasikan menjadi empat golongan berdasarkan tujuan penggunaannya,

yaitu air untuk keperluan irigasi, air untuk keperluan pembangkit energi, air untuk

keperluan industri dan air untuk keperluan publik. Air untuk keperluan publik

dibedakan atas air konsumsi domestik dan air untuk konsumsi sosial dan

komersial (Dumairy, 1992). Saat ini, masalah utama yang dihadapi oleh sumber

daya air meliputi kuantitas air yang sudah tidak mampu memenuhi kebutuhan

yang terus meningkat dan kualitas air untuk keperluan domestik yang semakin

menurun. Kegiatan industi, domestik, dan kegiatan lain yang berdampak negatif

terhadap sumber daya air, antara lain menyebabkan penurunan kualitas air.Kondisi

ini dapat menimbulkan gangguan, kerusakan, dan bahaya bagi semua makhluk

hidup yang bergantung terhadap sumber daya air.Oleh karena itu, diperlukan

pengelolaan dan perlindungan sumber daya air secara seksama. Hingga saat ini,

Indonesia telah memiliki Peraturan Pemerintah No.20 tahun 1990 tentang

Pengendalian Pencemaran Air dan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

No.51 tahun 1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair bagi kegiatan
industri.Pemerintah juga telah mencanangkan program – program penataan

lingkungan yang pada dasarnya berkaitan dengan upaya pengelolaan sumber daya

air dan sumber daya alam lainnya, dalam rangka pengendalian dampak

lingkungan. Program – program tersebut mencakup Program Penilaian Peringkat

Kinerja Perusahaan (PROPER), Program Kali Bersih (PROKASIH), Adipura,

Produksi Bersih, Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), Pantai

Lestari, dan Langit Biru. Pengelolaan sumber daya air sangatlah penting, agar

dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dengan tingkat mutu yang diinginkan.

Salah satu langkah yang pengelolaan yang dilakukan adalah pemantauan dan

interpretasi dalam kualitas air, mencakup kualitas fisika, kimia, dan biologi.

Namun sebelum melangkah pada tahap pengelolaan, diperlukan pemahaman yang

baik tentang terminologi, karakteristik, dan interkoneksi parameter – parameter

kualitas air (Effendi, 2003)

Penggolongan Air Adapun penggolongan Air secara umum adalah sebagai

berikut : 1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara

langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu 2. Golongan B, yaitu air yang dapat

digunakan sebagai air baku air minum 3. Golongan C, yaitu air yang dapat

digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan 4. Golongan D, yaitu air

yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian usaha diperkotaan, industri, dan

pembangkit listrik tenaga air (Effendi,2003). 2.3. Pengolahan Air Metode –

metode yang digunakan dalam pengolahan air untuk membuatnya aman dan

menarik bagi para langganan dibahas dengan ringkas pada ayat – ayat berikut ini.

Informasi ini dimaksudkan sebagai pengantar kepada masalah pengolahan air.

Dalam hal ini, tujuannya adalah memberikan kepada para pembaca suatu
perspektif tentang apa – apa yang tercakup dalam pengolahan air dan memberikan

tuntunan untuk pengelolaan lebih lanjut. Masalah – masalah yang

dipertimbangkan meliputi : 1. Tinjauan tentang metode – metode pengolahan yang

utama dan penerapannya, 2. Metode – metode pengolahan fisik, 3. Metode –

metode pengolahan kimiawi, 4. Beberapa metode pengolahan khusus, 5.

Pembuangan lumpur dari instalansi pengolahan, dan 6. Perencanaan instalansi

pengolahan air. Metode yang digunakan untuk pengolahan air berkaitan dengan

pencemar – pencemar yang ada dalam persediaan air tertentu. Pencemar –

pencemar utama yang harus diperhatikan pada kebanyakan persediaan air adalah

banyaknya bakteri patogen yang terdapat pada air, adanya kekeruhan dan bahan

terapung, perubahan warna, rasa dan bau, terdapat senyawa – senyawa organik

dan kesadahan. Metode – metode yang digunakan untuk pengolahan air berkaitan

dapat digolongkan menurut sifat fenomena yang menghasilkan perubahan yang

diamati. Dengan demikian, istilah operasi satuan fisik dipergunakan untuk

menggambarkan metode – metode yang mendapatkan perubahan – perubahan

melalui penerapan gaya – gaya fisik, misalnya pengendapan gravitasi. Pada proses

– proses satuan kimiawi atau biologis, perubahan diperoleh dengan cara reaksi –

reaksi kimiawi atau biologis.


BAB III
METODE
Metode yang digunakan untuk mengelola air embun menjadi air siap saji diminum

seperti layaknya air payau atau air sungai. Karena air payau ini berasal dari air

embun. Metode yang digunakan adalah


PEMBAHASAN

2.1 Pengolahan Air dengan Embung


Saat ini dilakukan penolahan air dengan membuat penampungan

sebagai sumber air bersih. Seperti penelitian pada Beysens (2017) pada

embung di Paris. Menurut penelitian ini pada embung hal yang paling utama

dilakukan adalah mengamati dan mengevaluasi curah hujan. Setelah itu, hal

yang selanjutnya diperhatikan adalah pH air. Pada musim hujan pH air akan

turun menjadi 6,1 dari pH kondisi tidak hujan yaitu 6,6. Hal ini menandakan

pada musim hujan kondisi perairan akan lebih asam dikarenakan hujan

membawa zat-zat terlarut air hujan yang bersifat asam. Selanjutnya hal yang

diukur adalah konduktivias elektrik dan keberadaan kation anion yang ada

didalam air. Hal ini berguna untuk mendapatkan air yang sehat dengan mineral-

mineral yang baik bagi kesehatan dan terhindar dari logam-logam berbahaya.

Pada kondisi hujan jumlah anion lebih banyak sehingga logam-logam

diperariran akan lebih banyak yang terlarut. Anion-anion tersebut seperti sulfat

dan nitrat. Untuk menetralkan pH tersebut dapat menggunakan Ca. Selain itu

Cl dan Mg juga dapat menaikan massa air sehingga perlu deposisi polutan yang

kemudian perlu perlakuan khusus sesuai WHO sehingga dapat dipastikan air

embung ini dapat diminum.


BAB IV
PENUTUP
IV.I Kesimpulan
Embun di pagi hari pada daun daun dapat digunakan atau di produksi

menjadi air minum yang sehat. Pengolahan air embun bermacam-macama

ada yang menggunkan metode flokulasi,,sedimentasi dan koagulasi.

Namun yang sering digunakan adalah dengan menggunakan metode

koagulasi dengan proses seperti diatas. Sehingga memenuhi klasifikasi

parameter air minum yang siap dikonsumsi.


DAFTAR PUSTAKA