Anda di halaman 1dari 8

Penerapan SAK ETAP pada UMKM serta pemahaman atas penarapan

SAK ETAP (Studi japo coklat kelor di Nganjuk)

PROPOSAL PENELITIAN

Untuk Memenuhi Tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Metode Penelitian
yang dibimbing oleh Drs. Ali Djamhuri , Ak., M.Com., Ph.D

Oleh:

Suci Rahmasari

1550030201111066

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI dan BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2017/2018
A. Latar Belakang

Pemerintah memberi perhatian yang sangat besar terhadap


perkembangan Usaha Mikro Kecil Dan Menengah (UMKM). Dimana UMKM
sangat mempengaruhi perekonomian nasional, karena dapat menyerap
jumlah pengangguran yang sangat tinggi dan merupakan penyumbang
kontribusi tinggi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Apalagi dengan
Adanya MEA (Masyarakat ekonomi Asian) dimana persaingan akan lebih
ketat pbagi UMKM, Apabila UMKM tidak berinovasi dengan
mengembangkan usaha kemungkinan besar UMKM tersebut tidak akan
bisa melanjutkan bisnisnya.

Untuk mengembangkan usahanya UMKM dituntut untuk


berhubungan dengan pihak eksternal perusahaan. Misalnya untuk
meningkatkan pendanaan UMKM harus berhubungan dengan pihak bank/
lembaga keuangan lainnya. Pihak bank/ lembaga keuangan tersebut
biasanya akan mensyaratkan laporan keuangan dalam hal pendaan untuk
menilai kelayakan kredit dari UMKM tersebut. Besarnya potensi UKM yang
ada saat ini ternyata belum sebanding dengan tingkat kemajuan UMKM.
Dalam melakukan kegiatan UMKM masih menghadapi beberapa masalah.
Masalah yang mempunyai bagian yang cukup besar yaitu masalah modal,
teknologi, dan keahlian manajerial (Soetrisno,2015).

Akan tetapi, banyak UMKM yang tidak menyediakan atau menyusun


laporan keuangan dalam usahanya. Penyebabnya yaitu UMKM yang terlalu
fokus pada proses produksi dan operasionalnya, sehingga tidak
memperhatikan pencatatan atau pembukuan (Putra dan Kurniawati, 2012:
43). Dalam menyusunan laporan keuangan sendiri UMKM masih
mengalami beberapa masalah. Dikarenakan Mereka berpikir bahwa cukup
sulit dan perlu diberikan pelatihan atau bantuan dalam penyusunan laporan
keuangan yang sesuai dengan standar. Menurut Krisdiartiwi (2011:1)
selama ini pembukuan sering dianggap sebagai sesuatu yang rumit dan
"kurang begitu penting" dalam membangun bisnis. Padahal, bagi sebuah
perusahaan, pembukuan sangat diperlukan untuk membantu manajemen
dalam mengambil keputusan. Tak hanya bagi perusahaan besar,
pembukuan juga mutlak diperlukan bagi usaha kecil menengah atau
UMKM.

Dengan begitu untuk melindungi UMKM Pemerintah Indonesia


membuat peraturan yang telah ditetapkan yang mana mewajibkan usaha
kecil untuk melakukan pencatatan akuntansi yang baik sesuai dengan
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 tentang
pelaksanaan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil dan Menengah. Meskipun peraturan pencatatan akuntansi telah jelas
adanya, namun terkadang pada kenyataannya masih banyak pelaku
UMKM yang tidak membuat pembukuan akuntansi sesuai dengan standar
yang ada.

Kita tidak bisa menyalahkan UMKM yang selalu enggan melakukan


pembukuan atas transaksi serta bervariasinya pelaporan keuangan UKM,
karena PSAK pada umumnya dipandang terlalu rumit untuk sebuah usaha
dalam skala sektor kecil. Hal ini juga dapat disebabkan oleh rendahnya
tingkat pendidikan serta tidak memilikinya tenga ahli yang mampu membuat
pembukuan sesuai standar dan presepsi yang telah ada mengenai
kerumitan membuat pelaporan sehingga mereka tidak melakukan
pemsahan terhadap dana pribadi dan dana usaha. Sehingga untuk
mengatasi masalah tersebut dewan standar akuntansi mengeluarkan SAK
ETAP yang dimana hal ini akan membantu perusahaan kecil menengah
untuk menyediakan pelaporan keuangan yang tetap relevan dan andal.
SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk UKM dibandingkan
dengan PSAK pada umumnya, jika dilihat dari kompleksitasnya SAK ETAP
dianggap lebih mudah.

Kehadiran SAK ETAP dengan prinsip kesederhanaan dapat


memberikan kemudahan UMKM dalam menyajikan laporan keuangan.
Standar ETAP diharapkan memberi kebebasan berbisnis, kebebasan
berinvestasi dan membangun ekonomi kerakyatan berbasis UMKM bagi
Indonesia. Dengan aplikasi SAK ETAP dalam dunia UMKM membuat
tumbuh suburnya UKM.

Perkembangan UMKM di Indonesia masih dihadapkan pada


berbagai persoalan sehingga menyebabkan lemahnya daya saing terhadap
produk impor. Persoalan utama yang dihadapi UMKM, antara lain
keterbatasan infrastruktur dan akses pemerintah terkait dengan perizinan
dan birokrasi serta tingginya tingkat pungutan. Dengan segala persoalan
yang ada, potensi UMKM yang besar itu menjadi terhambat.

Sehingga diharapkan adanya pelatihan penulisan pembukuan


akuntansi serta pemahaman mengenai standar SAK ETAP ini dengan
adanya SAK ETAP dapat membantu pihak UMKM dalam melaporkan
laporan keuangannya dengan baik dan sesuai standar. Serta dapat
memudahkan pihak UMKM untuk mendapatkan kredit dana dari pihak
eksternal untuk mengembangkan usahanya seperti menambah teknologi
dll, agar mampu bertahan pada era MEA ini serta dapat membantu
tercapainya ekonomi yang merata diindonesia. Serta diharapkan adanya
kebijakan-kebijakan dari pemerintah untuk mengatasi permasalah seperti
infrastruktur serta masalah perizinan agar tidak dipersulit.

Pada UMKM Japo coklat kelor yang berada di Nganjuk setelah


mendapat informasi sekilas bahwa mereka telah menerapkan untuk
membuat laporan keuangan akan transaksi yang mereka keluar akan tetapi
atas laporan tersebut belum bisa dipastikan telah sesuai standar atau tidak
dan juga mereka tidak menerapkan pencatatan menurut SAK ETAP yang
telah diberlakukan untuk diterapkan pada UMKM.Berdasarkan uraian
diatas, peneliti tertarik untuk mengangakat judul “Analisis Penerapan SAK
ETAP pada UMKM serta pemahaman atas penarapan SAK ETAP (Studi
japo coklat kelor di Nganjuk)”
B. Idsentifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, identifikasi masalahnya adalah


sebagai berikut :

1. UMKM menghadapi berbagai permasalahan seperti: kurangnya


Modal Kerja, Minimnya pengetahuan tentang teknologi , serta
rendahnya SDM.
2. Rumitnya persyaratan pemberian kredit oleh perbankan yang
salah satunya terkait dengan laporan keuangan UMKM.
3. Banyak UMKM yang tidak membuat laporan keuangan sesuai
standar karena rumit, sehingga perlu diadakannya pelatihan
untuk membuat pelaporan serta pemahaman akan pentingnya
membuat pelaporan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah sehingga dapat


disimpulkan rumusan masalahnya sebagai berikut:

1. Apakah dalam pelaporan tersebut UMKM Japo coklat kelor di Ngajuk


telah menggunakan SAK ETAP dalam pembuatan pelaporannya?
2. Apa saja faktor-faktor yang menyebabkan tidak terlaksanakannya
pencatatan pelaporan keuangan berbasis SAK ETAP?
3. Apakah ada pengaruh ukuran usaha terhadap pemahaman UMKM
oleh SAK ETAP di UMKM Japo coklat kelor di Nganjuk?

D. Hipotesa
 Hipotesis 1

Ha: Laporan keuangan yang disusun oleh Japo coklat kelor telah
menggunakan SAK Etap.

Ho: Laporan keuangan yang disusun oleh Japo coklat kelor tidak
menggunakan SAK-Etap.
 Hipotesis 2

Ha: SAK-Etap Berpengaruh positif terhadap ukuran usaha dan pemahaman


pada UMKM japo coklat kelor.

Ho: SAK-Etap tidak Berpengaruh terhadap ukuran usaha dan pemahaman


pada UMKM japo coklat kelor.

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan atas rumusan masalah yang ada diatas penilitian ini


bertujuan untuk mengetahui:

1. Untuk mengetahui apakah pelaporan yang telah dibuat UMKM Japo


coklat kelor di Nganjuk telah sesuai dengan standar akuntansi.
2. Untuk mengetahui apakah dalam pelaporan tersebut UMKM Japo
coklat kelor telah menggunakan SAK ETAP.
3. Untuk mengetahui faktor apa yang menyebabkan tidak
terlaksanakannya pelaporan berbasis SAK ETAP
4. Untuk mengetahui ukuran usaha terhadap pemahaman UMKM oleh
SAK ETAP pada Japo coklat kelor di nganjuk.

F. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Akademi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan referensi
pengembangan teori bagi penelitian selanjutnya, sebagai
sumbangan penelitian bagi yang membutuhkan.

2. UMKM Japo coklat kelor


Hasil Penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam upaya
membenahi laporan keuangan agar sesuai dengan SAK-ETAP.
3. Dinas Koperasi dan UMKM
Memberikan masukan kepada Dinas Koperasi dan UMKM,
untuk mengintensifkan penyelenggaraan sosialisasi SAK ETAP
guna meningkatkan pemahaman bagian akuntansi.

4. Pihak lain atau pelaku UMKM


Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat memberikan
masukan yang bermanfaat dan mendorong pelaku UKM membuat
laporan keuangan yang sesuai standar akuntansi dan menjalankan
usaha yang lebih profesional.

G. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan deskriptif


kualitatif, yaitu suatu metode yang berusaha memberikan gambaran
mengenai data berdasarkan fakta-fakta yang didapat peneliti, proses
penelitian yang dilakukan melalui pengukuran dengan alat yang baku,
menguraikan karakteristik tentang keadaan dan sifat-sifat yang sebenarnya
dari objek penelitian (Patilima: 2013). dan dalam penelitian ini tidak
dilakukan manipulasi, hanya menggambarkan suatu kondisi apa adanya.
Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan bagaimana UMKM
japo coklat kelor menyajikan laporan keuangannya. Dengan cara:

a. Observasi
Yaitu peninjauan langsung pada objek penelitian untuk
mendapatkan informasi mengenai data-data/ laporan keuangan
atas UMKM tersebut yaitu Japo coklat kelor yang berada di
Ngajuk.
b. Wawancara
Yaitu dengan langsung mewawancari orang yang
menyusun/bertanggung jawab pada laporan keuangan atas
UMKM Japo coklat kelor yang berada di Nganjuk.
Daftar Pustaka

Krisdiartiwi. 2011. Pembukuan Sedarhana Untuk UMKM. Yogyakarta:


Media Pressindo.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar akuntansi keuangan entitas
tanpa akuntabilitas publik. Dewan Standar Akuntansi Keuangan.
Jakarta.
Kementrian Koperasi dan UMKM. (2013) “Kadin & LPBD Kemenkop
Bergandeng Tangan demi UMKM” www.depkop.go.id. Diakses
tanggal 27 April 2018.
Sekaran, Uma. 2006. Reseach methods for bussiness. Jakarta:
Salemba Empat
Patilima, Hamid, 2013. Metode Penelitian Kualitatif. cetakan kedua.
Bandung. Penerbit Alfabeta.