Anda di halaman 1dari 22

PROFESI GURU DI BERBAGAI NEGARA

MAKALAH INI DIBUAT DENGAN TUJUAN SEBAGAI TUGAS


MATA KULIAH PENGANTAR PROFESI GURU BIOLOGI

OLEH :
NAILA FIRA ROUDLATUL JANAH (1700008049)

PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
2018

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat hidayah dan
taufiq-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga tugas ini dapat diselesaikan.
Setelah melalui proses yang panjang. Sebagai usaha mengejar ilmu dan
memperoleh nilai yang baik dari mata kuliah ini. Penulisan tugas ini merupakan
suatu gambaran perwujudan dunia kerja sebagai calon guru sehingga dapat
menambah daya imajinasi berfikir mahasiswa serta lebih mantap dan terampil
mengembangkan kemampuan pengetahuan teori yang telah diperoleh.
Tugas ini dapat terselesaikan berkat bantuan dari berbagai pihak. Olehnya
itu pada kesempatan ini, sewajarnyalah penulis menyampaikan banyak terima
kasih kepada semua yang telah membantu dalam penulisan tugas ini sehingga
dapat selesai sesuai dengan waktu yang diharapkan.

Yogyakarta, 20 Juni 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI
SAMPUL ............................................................................................................ i
KATA PENGANTAR ...................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang ..................................................................................... 4
2. Rumusan Masalah ............................................................................... 4
3. Tujuan Penulisan ................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
1. Pengertian Profesional Guru ................................................................ 6
2. Pengembangan Profesi Guru di Finland ……………………..7
3. Pengembangan Profesi Guru di Cina ……………………………..9
4. Pengembangan Profesi Guru di Jepang …………………………….13
5. Pengembangan Profesi Guru di Australia Barat …………….16
BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan ......................................................................................... 20
2. Saran .................................................................................................... 20
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Negara yang maju dapat dilihat dari pendidikan di negara tersebut maju atau tidak.
Pendidikan menjadi sangat penting bagi perkembangan dari suatu negara. Pendidikan
menjadikan sumber daya manusia dapat terberdayakan dengan baik, sehingga dapat
mengelola sumber daya yang ada dalam negara tersebut dengan bijaksana. Perbandingan
pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengetahui berbagai aspek yang
berhubungan dengan sistem pendidikan negara tertentu, terutama yang berhubungan
dengan kelebihan pada suatu negara.
Salah satu komponen penting dalam perbandingan pendidikan adalah guru. Guru
dalam konteks pendidikan mempunyai peranan yang besar. Hal ini disebabkan gurulah
yang berada dibarisan terdepan dalam pelaksanaan pendidikan. Gurulah yang langsung
berhadapan dengan peserta didik untuk mentransfer ilmu pengetahuan dan teknologi
sekaligus mendidik dengan nilai-nilai positif melalui bimbingan dan keteladanan. Maka
untuk menjadi seorang guru harus memiliki keahlian khusus, pengetahuan, kemampuan
dan dituntut untuk dapat melaksanakan peranan-peranannya secara profesional yang
dalam tugasnya guru tidak hanya mengajar, melatih tetapi juga mendidik.
Guru tidak hanya menyampaikan materi kepada peserta didik namun menjadikan
peserta didik berkompeten. Dimana adanya suatu perubahan setelah terjadinya proses
pembelajaran. Guru menggali potensi yang ada dalam diri setiap peserta didik, agar
potensi mereka dapat terberdayakan dengan baik. Untuk dapat melaksanakan perannya
tersebut, guru harus profesional sebagai modal dasar dalam mengemban tugas dan
kewajiban untuk negara nya. Oleh karena itu, akan dipaparkan pengertian profesi guru,
serta profesi guru di berbagai negara.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis merumuskan
permasalahan dalam makalah ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan Profesi Guru ?
2. Bagaimana engembangan Profesi Guru di Finlandia?

3. Bagaimana pengembangan Profesi Guru di Cina?

4. Bagaimana pengembangan Profesi Guru di Jepang?

5. Bagaimana pengembangan Profesi Guru di Australia Barat?

4
3. Tujuan Penulisan
Penulisan makalah ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan profesi guru
2. Mengetahui pengembangan profesi guru di Finlandia

3. Mengetahui Pengembangan profesi guru di Cina

4. Mengetahui pengembangan profesi guru di Jepang

5. Mengetahui pengembangan profesi guru di Australia Barat

5
BAB II
PEMBAHASAN

1. Pengertian Profesi Guru


Beberapa definisi yang telah diberikan oleh beberapa ahli mengenai pengertian
profesi, yaitu:
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi adalah bidang pekerjaan
yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya)
tertentu. Profesional adalah (1) bersangkutan dengan profesi, (2) memerlukan
kepandaian khusus untuk menjalankannya dan (3) mengharuskan adanya
pembayaran untuk melakukannya.
Ahmad Tafsir mengatakan profesionalisme adalah paham yang
mengajarkan bahwa setiap pekerjaan harus dilakukan oleh orang yang
profesional. Profesional adalah orang yang memiliki profesi, sedangkan profesi itu
harus mengandung keahlian. Artinya, suatu program itu mesti ditandai oleh
suatu keahlian yang khusus untuk profesi itu.
Peter Salim mengartikan bahwa profesi merupakan suatu bidang pekerjaan
yang berdasarkan pada pendidikan keahlian tertentu. Profesi menuntut suatu
keahlian yang didasarkan pada latar belakang pendidikan tertentu. Artinya dia
benar-benar berpendidikan yang mengkhususkan pada suatu keahlian
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa profesi
adalah suatu pekerjaan, jabatan atau keahlian yang betul-betul dikuasai baik
secara teori maupun praktek melalui pendidikan dan pelatihan khusus. Suatu
profesi secara teori tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak dilatih
atau disiapkan untuk profesi tersebut.
Pekerjaan yang bersifat profesional memerlukan beberapa bidang ilmu yang
sengaja harus dipelajari dan kemudian diaplikasikan bagi kepentingan umum.
Atas dasar ini, ternyata pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya
karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam
melaksanakan profesinya.

6
Selanjutnya untuk mendapatkan pengertian yang jelas tentang guru, juga penulis
kemukakan beberapa pendapat dari para ahli sebagai berikut:
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, guru adalah orang yang
pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar. Menurut Undang-
undang Republik Indonesia tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidik adalah
tenaga kependidikan yang berkualitas sebagai guru, dosen, konselor, pamong
belajar, widyaiswara, tutor, instruktur,fasilitator dan sebutan lain yang sesuai
dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan
pendidikan.
Sedangkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyatakan bahwa
guru adalah seorang yang mempunyai gagasan yang harus diwujudkan untuk
kepentingan anak didik, sehingga menjunjung tinggi mengembangkan dan
menerapkan keutamaan yang menyangkut agama, kebudayaan dan keilmuan.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa
guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak didik
dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi
efektif, potensi kognitif, maupun potensi psikomotorik.
Berdasarkan pemahaman tentang pengertian profesional dan pengertian guru,
maka dapat ditarik kesimpulan bahwa profesional guru secara utuh yaitu
seperangkat fungsi dan tugas dalam lapangan pendidikan berdasarkan keahlian
yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan khusus di bidang pekerjaannya
dan mampu mengembangkan keahliannya itu secara ilmiah di samping menekuni
bidang profesinya.

2. Pengembangan Profesi Guru di Finlandia


Ada banyak hal yang membuat pendidikan di Finlandia sangat terkenal di
seluruh dunia, beberapa diantaranya adalah pendidikan wajib 9 tahunnya yang
disebut peruskoulu untuk semua anak tanpa terkecuali, kurikulum yang sangat
modern, anak yang membutuhkan perhatian khusus punya sistem perhatian
lebih, pendidikan yang dikelola secara lokal dan tanggung jawab juga dibagi.

7
Diantara berbagai faktor tersebut ada faktor penentu yang paling menentukan
keberhasilan pendidikan di Finlandia adalah guru-gurunya yang sangat bagus.

Guru-guru di Finlandia mengubah sistem dan pandangan pendidikan di


Finlandia sehingga menjadi sangat terkenal di dunia sekarang ini. Sistem
Pendidikan Finlandia sangat baik ternyata di Findlandia, guru-guru bekerja
karena mereka punya rasa tanggung jawab yang besar sebagai guru, dan mereka
bangga menjadi guru, selain itu, profesi sebagai guru ternyata sama dihormati
sama seperti profesi lain yang sangat dicari, seperti dokter, insinyur, ekonom, dan
lain-lain, selain itu, karena profesi guru adalah salah satu profesi paling banyak di
minati di Finlandia. Di Finlandia, juga ditekankan bagaimana guru-guru disana
tidak bekerja sendiri, namun mereka selalu berusaha bekerja sama dengan orang
lain dan orang dari profesi lain yang juga sama-sama professional dalam bidang
pekerjaan mereka selama mereka merancang dan melaksanakan pelajaran di
kelas.

Hal tersebut merupakan salah satu alasan mengapa profesi guru menjadi
pilihan utama anak-anak yang baru saja lulus sekolah. Sistem pendidikan di
Finlandia sangat berbeda dari sistem pendidikan di Amerika, Kanada dan juga
Inggris. Perbedaan besar ini bisa dilihat dari cara guru bekerja. Misalnya didalam
sistem pendidikan Finlndia, tidak ada yang namanya inspeksi atau pengawasan
ketat yang biasa dilakukan di seluruh sistem pendidikan di berbagai negara di
dunia, di Finlandia juga tidak memakai standar nasional dalam menilai siswanya,
dan standar penilaian siswa diserahkan secara absolut kepada guru di sekolah
tanpa ada campur tangan dari pemerintah. Guru di Findlandia juga diberikan
kebebasan sebebasnya untuk membuat kurikulum dan rencana pelajaran mereka
sendiri (guru di sini diberikan otonomi sebebasnya menjalankan tugas mereka
sebagai guru di kelas). Seluruh pendidikan di Finlandia dari sekolah dasar,
bahkan tk dan playgroup sampai ke universitas dibebaskan dari biaya atau gratis.
Namun memang tidak ada bedanya peran guru di Finlandia, di Indonesia, di
Finlandia, ada guru TK dan Playgroup yang memang mengajar guru Tk dan

8
Playgrup, ada guru yang hanya menjadi guru kelas, dan ada guru yang menjadi
guru mata pelajaran, dan juga guru khusus guru SMK (sekolah keterampilan).

Setelah tahun 1970an, setiap orang yang ingin menjadi guru harus
mempunyai pendidikan standar universitas, bahkan sekarang setiap guru harus
punya titel minimal master atau S2, dan master mereka haruslah master by riset.
Di Finlandia, riset dalam bidang pendidikan sangat dijunjung tinggi, dan setiap
guru harus bisa melakukan riset dalam pendidikan dan juga dalam bidang
pekerjaan mereka.Seperti yang disebutkan sebelumnya bahwa syarat minimal
untuk menjadi guru-guru di Finlandia adalah gelar master. Di Finlandia, program
pendidikan guru dikenal dengan program two-tier yang bisa berlangsung selama 5
– 7 tahun, dimana program S1 atau bachelor akan ditempuh dalam waktu 3 tahun,
dan 2 tahun atau lebih berikutnya mereka akan langsung menempuh program
master yang akan langsung mendidik mereka sesuai dengan sasaran atau tujuan
guru apa yang mereka inginkan saat mereka bekerja.

Berbeda dengan di negara lain, pendidikan guru di Finlandia tidak hanya


memfokuskan pada perkembangan kemampuan profesional guru, namun
ternyata juga memfokuskan pada perkembangan kepribadian calon guru tersebut.
Hal yang paling ditekankan dalam pendidikan guru di Finlandia adalah
membangung pedagogical thinking skill atau kemampuan berpikir pedagogis,
sehingga mereka bisa mengajar sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman
yang selalu berubah-ubah. Pendidikan guru di Finlandia (di jenjang universitas)
terbagi menjadi tiga bagian utama yaitu:

a. Teori-teori pendidikan (theory of education)


b. Pengetahuan isi pedagogis (pedagogical content knowledge)
c. Praktek dan didakdik mata pelajaran (subject didactic and practice).

3. Pengembangan Profesi Guru di Cina


Guru adalah kekuatan utama perubahan pendidikan yang signifikan dan
berperan aktif dalam reformasi kurikulum Cina. Dalam memfasilitasi dan
melaksanakan kurikulum yang berpusat pada peserta didik dan proses

9
belajar‐mengajar, peran guru tidak berkurang, tetapi diintensifkan dalam bentuk
yang berbeda. Salah satu tujuan dari pelaksanaan kurikulum di Cina adalah
"untuk mengubah implementasi kurikulum dari penekanan berlebihan pada
pembelajaran reseptif, dari menghafal dan pengulangan, ke bentuk yang
berpartisipasi aktif, praktikum mandiri, dan mengembangkan peserta didik dalam
hal mengumpulkan dan mengolah informasi, memperoleh pengetahuan baru,
memecahkan masalah dan melakukan komunikasi".
Sementara itu perubahan dalam "proses belajar mengajar" menjadi fokus dari
kurikulum, di mana guru diberi tugas untuk memfasilitasi pembelajaran aktif dan
mandiri, untuk berinteraksi secara aktif dengan murid dan berkembang bersama
mereka, untuk menghormati kepribadian murid dan perbedaan individu dalam
kebutuhan belajar yang beragam, untuk menciptakan lingkungan pendidikan
dengan partisipasi aktif peserta didik dan kapasitas dalam menerapkan
pengetahuan yang dipelajari, dan akhirnya untuk memfasilitasi setiap peserta
didik untuk mengembangkan potensi sebagai manusia seutuhnya.
Dalam mencapai tujuan kurikulum tersebut, guru diharapkan menjadi peserta
aktif selama proses perubahan kurikulum, menjadi penyambung lidah dari
filosofi dan prinsip‐prinsip kurikulum tersebut, untuk menjadi pelaksana yang
efektif dalam perubahan kurikulum yang direncanakan, dan menjadi evaluator
prestasi peserta didik. Guru juga berkewajiban untuk menggunakan teknologi
informasi sebagai alat pembelajaran dan mengintegrasikan teknologi dengan
pedagogi dalam proses belajar mengajar untuk perubahan dalam isi pengajaran,
gaya belajar dan interaksi guru‐ murid.
Pelatihan dan pengembangan profesionalisme guru dengan demikian telah
menjadi prasyarat dan kata kunci dalam proses pelaksanaan kurikulum.
Praktek‐praktek inovatif yang sukses dalam membangun kapasitas guru untuk
pelaksanaan kurikulum meliputi:
 Pelatihan guru di tingkat lokal dan nasional
Kementerian Pendidikan membuat kebijakan yaitu seorang guru harus melalui
pelatihan sebelum menduduki jabatannya atau pekerjaan. Tanpa melalui

10
pelatihan yang dibutuhkan, guru tidak diperkenankan menduduki jabatannya
atau pekerjaan tersebut.
 Mengembangkan sistem kelembagaan Sekolah Berbasis Proyek Pengajaran‐
Penelitian (School‐based research‐teaching). Sistem kelembagaan ini telah
memainkan peran besar dalam membimbing guru untuk merefleksikan diri
pada praktek pengajaran mereka, untuk memecahkan masalah melalui
penelitian, dan untuk pengembangan guru melalui pembelajaran
profesional.
 Penelitian tindakan berbasis sekolah guru bertujuan untuk membuat
lembaga pusat praktek guru profesional dan perubahan kurikulum.
Melalui upaya individu maupun kolektif, penelitian berbasis sekolah telah
menyebabkan perubahan besar dan perbaikan dalam pelaksanaan
kurikulum, pengembangan profesi guru, dan rekonstruksi budaya sekolah
seperti:
 Mengubah kehidupan profesional guru
 Meningkatkan hubungan guru‐mitra
 Mengubah budaya sekolah dan etos kerja dari berpusat ke guru
menjadi berpusat ke siswa, dan
 Mengubah struktur organisasi sekolah untuk membuat sekolah
sebagai sebuah organisasi yang benar‐benar belajar dan menjadi
komunitas belajar

 Pengorganisasian Jaringan Penelitian Guru berbasis Internet dan Pelatihan


Jarak jauh
Dalam memanfaatkan potensi besar teknologi informasi komunikasi
sebagai alat mengajar, sebagai sumber daya pendidikan, dan sebagai alat
perubahan pendidikan, pemerintah Cina melakukan investasi besar dalam
menerapkan sekolah pedesaan jarak jauh modren dengan total investasi
sebesar satu miliar Yuan RMB untuk melengkapi 6 sekolah pedesaan
dengan CD pembelajaran, pengajaran sistem satelit, dan ruang komputer,
sehingga dapat meningkatkan mutu sumber daya manusia. Selain

11
menggunakan peralatan canggih untuk melakukan pendidikan dan
pelatihan jarak jauh guru berbasis internet Kementerian Pendidikan juga
melalui pusat Kurikulum Pendidikan Dasar mengembangkan buku teks
berbasis web gratis dalam membimbing guru dalam pengembangan
profesional guru.
Lokakarya Pelatihan Jarak Jauh memfasilitasi pendistribusian bahan ajar
sesuai dengan kurikulum, melalui on‐line modul presentasi dan interaksi off‐line
untuk dialog dan diskusi serta tukar menukar rencana pelajaran secara elektronik.
Internet memudahkan pelatihan guru secara online dan memberikan kesempatan
pada guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Hasil dari survei kuesioner
untuk evaluasi pelatihan online tersebut menunjukkan tingkat kepuasan yang
lebih tinggi dari 90%. Selama jangka pelatihan pendek yaitu 15 hari lebih dari
10.000 peserta mempublikasikan 870,000 makalah, tingkat kunjungan halaman
situs web pelatihan dalam sehari melampaui 1 juta pengunjung.

Untuk mengembangkan kompetensinya, guru di Cina dituntut harus


mempunyai beberapa kemampuan yakni:

1. Kemampuan menguasai bahan.


2. Kemampuan mengelola program belajar mengajar.
3. Kemampuan mengelola kelas.
4. Kemampuan menggunakan media.
5. Kemampuan menguasai landasan-landasan pendidikan.
6. Kemampuan menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran.
7. Kemampuan mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan
penyuluhan.
8. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah.
9. Kemampuan memahami prinsip-prinsip guna keperluan pengajaran.
Untuk mencapai kemampuan-kemampuan tersebutut, guru dicina diberikan
kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kompetensinya baik secara
individu maupun secara kelompok. Pemerintah cina sangat merespon jika ada
guru yang berhasil melakukan inovasi dalam bidang pendidikan, pemerintah
12
tidak tanggung-tanggung akan memberikan kesempatan tambahan penghasilan
bagi guru yang berprestasi.

4. Pengembangan Profesi Guru di Jepang


Salah satu agenda reformasi pendidikan di jepang adalah peningkatan
kualitas tenaga pendidik di tingkat pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Dalam rencana reformasi yang di susun National Comission of Edicational
Reform (NCER) yang di tuangkan dalam “The Raibow Plan” Pada tahun 2001,
Poin ke-5 menyatakan bahwa tenaga guru yang profesional dihasilkan melalui
beberapa cara, diantaranya dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian
penghargaan dan bonus kepada guru yang berprestasi, juga suasana kerja ysng
kondusif untuk meningkatkan etos kerja guru, dan pelatihan bagi guru yang
kurag cakap dibidangnya.
Sebagai bentuk pelaksanaan keputusan tersebut, Central Educational
council mengeluarkan kebijakan berupa”shin kyouka seido” (sistem evaluasi guru
yang baru) pada tahun 2002 dan “kyouinmenkyou koushin seido” (pembaharuan
sertifikasi mengajar) Pada tahun 2006. Menteri pendidikan , olahraga, Budaya,
sains dan teknologi (MEXT) Selanjutnya menyusun peraturan pelaksanaannya,
dan pada tahun 2005 sekitar 88% prefektur telah telah menerapkannya (Hayo,
2006).
Ada dua poin yang tersirat dalam kedua kebijakan tersebut yaitu, perlinya
mengembangkan sistem evaluasi guru dan uji kelayakan terhadap sistem
sertifikasi yang selama ini berjalan. Kebijakan ini sekalipun mendapa protes dari
kalangan pendidik terutama yang tergabung dalam Teacher Union, tetapi evaluasi
guru telah diterapkan di hampir semua prefektur. Sedangkan kebijakan
pembaruan lisensi mengajar masih dalam tahap sosialisasi.
Pengaruh dalam bidang pengelolaan tenaga kependidikan utamanya
terlihat dalam kebjakan evaluasi guru, sertifikasi guru, sistem penggajian guru,
dan kualifikasi tenaga pendidikan yang menjadi semakin ketat.
Untuk menjamin bahwa guru-guru memiliki kemampuan dasar yang standar
sebagai tenaga pengajar, dan sebagai bentuk pertanggungjawaban akan kualitas

13
pendidikan yang terjamin kepada pihak konsumen, maka sertifikasi guru di
berlakukan di berbagai negara sejak bebrapa dekade yang lalu.
Pentingnya sertifikasi guru di jepang mencuat pada masameiji saat di
keuarkannya UU tentang tentang tenaga kependidikan pada tahun 1849 (Law for
certifikation of education Personnel). Perundingan ini mengalami revisi beberapa
kali hingga pada tahun 1988. Kobayashi (1993) menjelaskan bahwa perundangan
ini menunjukan bahwa pemerintahan yang bersifat sentralistik masih
berpengaruh kuat di bidang pendidikan. Kebijakan tentang pengembangan guru
diatur secara hukum oleh kemetrian pendidikan dan dilaksanakan secara top-
down oleh lapisan administratur di bawahnya.
Penerapan kebijakan evaluasi guru yang dibebankan kepada Kyouikuiinkai
atau the Board of education yang da disetiap prefektur, dan pemantauan langsung
oleh MEX, menyebakan kebijakan ini di anggap tidak mengakar
Evaluasi guru di perlukan sebagai parameter untuk mengukur pencapauan
prestasi kerja guru, sekaligus sebagai titik tolak pengembangan program
pendidikan guru selanjutnya. Evaluasi guru jua merupakan bagian dari siklis
keprofesionalan seseorang ketika dia memutuskan untuk menerjuni profesi guru.
Terlepas dari tujuan aslinya untuk meningkatkan kualitaspendidikan disekolah,
kebijakan evaluasi guru juga diwarnai unsur politik yang melbatkan birokrat dan
pertikaian patai. Berikut model dan pendekatan Evaluasi guru di jepang
1. Penilaian dalam sistem evaluasi guru yang lama (kinmuhyoutei) dilakukan
berdasarkan hasil penilaian atasan atau kepala sekolah saja, sehingga
keobjektivan dan kebenaran penilaian tidak dapat
diperyanggungjawabkan. Olehnya itu banyak pihak yang menentag
metode ini termasuk teacher union.
2. Sistem evaluasi guru yang baru memilikim karakteristik yaitu penilaian
didasarkan pada dua komponen, Self-evaluation (jikohyouka)atau evaluasi
mandiri dan penilaian dari kepala sekolah.
3. Penilaian mandiri bertujuan untuk mendorong guru untuk memiliki
komitmen terhadap rencana dan tujuan yang di tuliskannya, sekaligus

14
untuk membantu guru memahami letak kekurangan dan kelebihan atau
potensi dirinya yang perlu di perbaiki atau dikembangkan.
Adapun penilaian terhadap kualitas guru oleh kepala sekolah dan wakilnya
berimbas kepada penentuan gaji, pengembangan karir dan jga moral guru. Yaitu
bahwa guru-guru yang mendapatkan penilaian kurang baik akan berusaha untuk
memperbaiki diri dan kualitas kerjanya.
Berdasarkan laporan dari komite pemeriksa sistem evaluasi guru prefektur
nagano, disebutkan bahwa ada beberapa poin yang ditentukan sebagai target
penilaian yaitu:
Penilaian berdasarkan kualifikasi akademik guru, dan kegiatan mengajar di dalam
kelas berdasarkan petunjuk pengajaran yang dikeluarkan MEXT
Pembimbingan dan pembinaan kepada siswa berupa pengarahan tentang
perkebangan siswa dan kebiasaan sehari-hari serta penaganan kelas. Dalam hal ini
setiap guru diharuskan untuk memahami jiwa anak, sikap, prilaku dan
perkembangan jasmani dan rohaninya, serta mampu mengarahkannya kepada
kebiasaan belajar dan semangat hidup.
 Kemampuan mengarahkan siswa berdasarkan kemampuannya, bakat dan
kemampuan akademiknya, baik secara pribadi maupun bekerja sama
dengan keluarga anak.
 Kemampuan membina anak untu bekerja sama dalam kegiata atau event
khusus diluar jam pelajaran disekolah.
 Peran guru dalam menjemen sekolah, kemampuan bekerja sama dengan
teman sejawat, memahami dan berusaha untuk mencapai tujuan sekolah.
 Kemampuan guru untuk membina kerja sama dengan orang tua murid dan
komponen masyarakat.
 Semangat dan motivasi guru untuk mengembangkan diri dan
meningkatkan potensi melalui kegiatan penelitian dan training.
Sertifikasi guru di jepang berbeda dengan diIndonesi, sertifikasi guru di
jepang melalui sistem perkuliahan dengan kurikulum baku dan tes Sedangkan di
Indonesia, Pemerintah dengan maksud menekan anggaran dan memudahkan
para guru untuk memperoleh sertifikat menerapkan sistem portofolio. Berdsarkan

15
peraturan sertfikasi tenaga pendidik tahun 1998, setiap calon guru harus
menjalani pendidikan guru di universitas atau sekolah tinggi yang telah
diakreditas Oleh MEXT.

5. Pengembangan Profesi Guru di Australia Barat


Australia Barat mengembangkan berbagai kerengka berkaitan dengan
kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru bertujuan untuk: 1).
menyediakan struktur dan bahasa dimana pernyataan standar profesional yang
ditetapkan. dengan menetapkan unsur-unsur penting dari pengajaran yang efektif
bertindak sebagai titik acuan umum untuk dialog antara anggota profesi dan
masyarakat; 2). mempromosikan dan mendukung pengajaran berkualitas dengan
membuat eksplisit pengetahuan, keterampilan dan atribut yang menjadi ciri baik
dalam praktik mengajar. Memahami apa yang guru tahu, dan nilai merupakan
langkah penting dalam meningkatkan profil dan posisi profesi; 3).memberikan
guru acuanyang menguraikan sebuah kemampuan dan tanggung jawab utama
untuk keunggulan professional yang terus menerus. Hal ini memungkinkan guru
untuk membuat keputusan tentang arah belajar profesional mereka, karena
mereka bercita-cita untuk meningkatkan kualitas guru; 4).mengidentifikasi
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang dibutuhkan untuk membantu guru
berlatih bergerak sepanjang pilihan jalur karir mereka; 5).meningkatkan kualitas
pendidikan di sekolah-sekolah Australia Barat dengan menyediakan guru dengan
panduan yang mendukung upaya mereka untuk meningkatkan praktek
profesional mereka sehingga meningkatkan hasil siswa; 6). memberikan arahan
untuk perguruan tinggi dan penyedia pengembangan profesional karena mereka
terus mengembangkan program yang memastikan pengembangan kualitas
pengajaran. Prinsip utama proses pembangunan:
1).Kerangka mengartikulasikan pengetahuan profesional , keterampilan , dan
atribut penting untuk semua guru kelas, beroperasi di tiga fase luas kompetensi .
Kompetensi generik dan dapat diterapkan untuk pengajaran khusus dan konteks
pembelajaran seperti yang didefinisikan oleh mahasiswa , tahapan pendidikan
dan bidang pelajaran.

16
2). Guru kelas mengasumsikan peran di luar kelas dalam berusaha untuk
memaksimalkan belajar siswa mereka .Peran itu diantaranya bekerja bersama-
sama dengan rekan-rekan dan anggota lain dari komunitas sekolah, dan
berkomunikasi dengan orang tua dan pengasuh lainnya.
3).Guru mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan praktek di seluruh
kehidupan profesional mereka.
4). Pengembangan kerangka Kurikulum menjadi panduan guru saat mereka
mengembangkan dan menerapkan pengajaran dan program pembelajaran
mereka.
Memahami Struktur kerangka Kompetensi Guru mengartikulasikan sifat
kompleks pengajaran dengan menggambarkan tiga unsur profesional kerja guru :
atribut , praktek dan pengetahuan.Unsur-unsur ini bekerja dalam cara yang saling
terkait karena mereka dimasukkan ke dalam praktek di kelas.Kerangka ini terdiri
dari beberapa komponen: Kerangka ini menguraikan standar kompetensi untuk
pengajaran yang efektif di tiga fase luas guru dalam bekerja, menggambarkan
pekerjaan guru sepanjang mengajar.
Dimensi kerja guru kerangka ini didasarkan pada konstruk lima dimensi
pengajaran. Setiap dimensi menggambarkan generic karakteristik pekerjaan guru
yang penting bagi pencapaian efektivitas profesional. Standar kompetensi
merujuk pada kombinasi atribut-atribut yang mendasari beberapa aspek dari
sukses kinerja professional. Ada enam kompetensi kerangka guru:
a. Kolaboratif
Guru menunjukkan keterampilan interpersonal yang baik dengan
menciptakan kesempatan untuk berkomunikasi dan berbagi pengetahuan, ide dan
pengalaman dengan orang lain. Mereka meminta bantuan dari rekan-rekan dan
tertarik untuk mempertimbangkan dan bertindak atas saran yang ditawarkan .
Guru mengakui dan mendorong siswa , orang tua dan pengasuh sebagai mitra
dalam pembelajaran.
b. Bertekad
Guru didedikasikan untuk mendidik orang-orang muda dan bertindak dalam
kepentingan terbaik siswa .Mereka menikmati pertemuan tantangan yang

17
dihadapi dalam mendidik orang lain dan terinspirasi untuk membuat perbedaan
.Guru yang dikhususkan untuk pendidikan, personal, sosial, moral dan budaya
siswa dan bertujuan untuk mengajar mereka bagaimana untuk menjadi
pembelajar seumur hidup dan anggota aktif dari masyarakat mereka.
c. Komunikasi yang efektif
Guru memiliki kehadiran yang menciptakan pengaruh positif terhadap
perilaku siswa.Mereka dapat mengartikulasikan pikiran dan ide mereka
sementara memodifikasi bahasa mereka sesuai dengan konteks dan penonton.
d. Etika
Guru menghormati hak orang lain dengan bertindak dengan konsistensi dan
imparsialitas .Mereka memiliki pemahaman tentang prinsip-prinsip keadilan
sosial dan menunjukkan hal ini dengan membuat keputusan yang adil dan adil.
e. Inovatif
Guru adalah pemecah masalah kreatif yang bersedia mengambil risiko untuk
menemukan baru dan giat solusi terhadap isu-isu pendidikan dan inventif ketika
mengembangkan program pendidikan. merekamenyediakan pengalaman yang
melibatkan minat siswa dan meningkatkan pembelajaran siswa belajar.
f. Inklusif
Guru memperlakukan siswa dengan hati-hati dan kepekaan dengan
mengidentifikasi dan mengatasi pendidikan mereka, emosional, kebutuhan sosial
dan budaya fisik. Mereka lihai dalam mengenali dan menanggapi hambatan yang
menghambat hasil siswa.
g. Positif
Guru mendukung dan konstruktif dalam interaksi mereka dengan orang lain
.Mereka menunjukkan fleksibilitas dalam lingkungan kerja yang selalu berubah
dan bersedia untuk mempertimbangkan secara kritis dan menerapkan perubahan
.Guru adalah pendukung profesi mereka.
h. Reflektif
Guru wawasan dalam menganalisis praktek profesional mereka dan dapat
menunjukkan berbasis bukti pengambilan keputusan . Guru memanfaatkan
pengetahuan profesional mereka untuk merencanakan tindakan dan menentukan

18
tujuan yang meningkatkan praktek mereka dan belajar siswa .Mereka adalah para
profesional informasi yang menyediakan sendiri kesempatan belajar profesional
dalam rangka untuk memeriksa baru kritis dan muncul tren pendidikan.
Kompetensi guru yang digunakan sebagai standar untuk guru di negara bagian
Australia Barat. Lima Dimensi Kompetensi Guru di Australia Barat:
1. Facilitating student learning (fasilitator/mengkoordinir belajar siswa)
2. Assessing student learning outcomes(Menilai Hasil Belajar)
3. Engaging student in professional learning(melibatkan siswa dalam proses
belajar)
4. Participating to curriculum and program initiatives in outcome focused
environment(berpartisipasi dalam kurikulum dan inisiasi program yang
difokuskan)
5. Forming partnerships within the school community (membentuk kemitraan
dalam komunitas sekolah)

19
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Manusia modern dihadapkan pada pekerjaan yang dilatar belakangi oleh
pendidikan apa yang dia capai. Lulusan fakultas teknik akan menjalani profesi
sebagai insinyur, lulusan fakultas kedokteran akan menjalani profesi sebagai
dokter, fakultas ekonomi akan menjalani profesi sebagai akuntan, ekonom, atau
lulusan pendidikan keguruan, akhirnya menjadi seorang guru yang dalam Profesi
memiliki konseksi, bukan saja kompetensi akademik, social, atau kompetensi –
kompetensi lainnya. Melainkan juga melekat apa yang disebut sebagai kaum
professional. Guru adalah sebutan akhir yang kita kategorikan sebagai golongan
kaum professional.
Profesi guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas keahlian dan
kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan
pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian. Adapun guru professional
itu sendiri adalah guru yang berkualitas, berkompeten, dan guru yang
dikehendaki untuk mendatangkan prestasi belajar serta mampu mempengaruhi
proses belajar siswa yang nantinya akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang
lebih baik di negara nya.

2. Saran
Guru memegang peranan penting terhadap keberhasilan implementasi
kurikulum, Karena gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum di
dalam kelas. Gurulah gerbang terdepan dalam implementasi kurikulum. Guru
adalah kurikulum berjalan sebaik apapun kurikulum dan sistem pendidikan yang
ada, tanpa didukung mutu guru yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-
sia.

Melalui makalah profesi guru di 4 negara ini saya mengharapkan agar guru-
guru di Indonesia nanti nya dapat mengambil contoh-contoh yang baik berkaitan
dengan profesi guru yang ada di negara tersebut agar terjadi peningkatan kualitas
tenaga pendidik di Indonesia tidak cukup dalam pembenahan di bidang
kurikulum saja, tetapi juga harus diikuti dengan peningkatan mutu guru di
tingkat-tingkat dasar dan menengah melalui perban. Tanpa upaya meningkatkan

20
mutu guru itu sendiri, semangat tersebut tidak akan mencapai harapan yang
diinginkan.

21
DAFTAR PUSTAKA

Competency Framework for Teachers, Department of Education and Training,


Western Australia.

Hamzah B. Uno 2014. Profesi Kependidikan: Problem, solusi dan reformasi pendidikan
di Indonesia. Bumi Aksara. Jakarta.

Kompetensi Guru,
http://www.blogbarabai.com/2014/09/makalah-profesionalisme-guru-
kompetensi.html diakses, 20 Juni 2018

Makalah Profesionalisme Guru,


http://mustanginbuchory89.blogspot.co.id/2015/05/makalah-profesionalisme-
guru.html diakses, 20 Juni 2018

Makalah Profesional Guru ebook,


http://mujarodah.blogspot.co.id/2013/06/makalah-profesionalisme-guru.html
diakses, 20 Juni 2018

Profesi Guru,
http://iwanwakuru.blogspot.co.id/2012/06/makalah-profesionalisme-guru.html
diakses, 20 Juni 2018

Sutarsih, cicih,. 2006. Pengembangan Profesi Guru SD. Bandung: UPI PRESS

22